Keajaiban perpustakaan


Bismillah…

Tanpa dijelaskan secara detail sudah mengetahui bahwa perpustakaan adalah jantungnya pendidikan bayangkan andaikan jantung pendidikan tidak berfungsi dan dimanfaatkan semaksimal mungkin, apakah masih bisakah pendidikan bernafas, meningkat kreativitas bagi pembelajar?

Seharusnya pendidikan tidak bisa bernafas lagi ibarat tubuh manusia kalau jantung sudah tak berfungsi dipastikan tidak bisa lagi menghirup udara tapi analogi tersebut tidak berlaku dengan jantung pendidikan.

Lihat saja rata-rata jantung pendidikan di sekolah, perguruan tinggi, sekolah tinggi, institute dan universitas masih belum semakismal mungkin memfungsi jantung pendidikan tersebut sebagai sarana central kegiataan pembelajaran.

Bahkan perpustakaan seakan-akan kehilang pesona bagi pembelajaran padahal fungsi perpustakaan tidak hanya sebatas gudang-gudang buku melain perpustakaan sekarang telah memiliki esensial lebih yaitu perpustakaan merupakan tempat sangat ajaib. Kenapa ajaib?

Sebelum kita mengulas keajaiban perpustakaan sebaiknya mengetahui dulu kenapa perpustakaan kehilangan pesona dari setiap genarasi!!! Penyebab hilangnya pesona perpustakaan pertama pustakawan kurang santun dan ramah melayani pengunjung “pustakawan yutek” bahkan hingga sekarang masih diketemukan model pustakawan seperti itu disetiap perpustakaan sedangkan image perpustakaan bisa tercitra dengan baik didukung dengan budaya kerja pustakawan.

Walaupun canggihnya sarana perpustakaan jika pengelola perpustakaan tidak mampu mengaplikasi excellent service dipastikan tidak akan memberi kesan indah bagi pengunjung seperti kita lihat perusahaan bertaraf internasional pelayanan merupakan factor utama harus diperhatikan. Hendaknya perpustakaan juga menerapkan pelayanan excellent bagi pengunjung perpustakaan.

Kedua knowledge pustakawan harus diupgrade sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan namun pada kenyataan masih banyak pustakawan terutama disekolah maupun diperguruan tinggi menduduki profesi pustakawan bukan berlatar pendidikan Ilmu perpustakaan. Hendaknya Profesi pustakawan yang memiliki kompetensi, skill dan knowledge. Jika memungkinkan profesi pustakawan berpendidikan minimal S1 atau S2, bisa dibayangkan jika pustakawan rata-rata tamatan Strata dipastikan dinamisan perpustakaan cemerlang, dan gesit seperti perpustakaan pusat universitas Gadjah rata-rata pustakawan sudah tamatan strata dua.

Ketiga koleksi perpustakaan dari masa transisi hingga postmodern tidak berkembang sedangkan koleksi merupakan salah satu bagian menarik pengunjung untuk hadir dan memanfaat perpustakaan. Jangan sampai koleksi perpustakaan mengalah perpustakaan commercial, dan jangan pula koleksi diperpustakaan tidak memenuhi kebutuhan pengunjung. Kalau bisa koleksi perpustakaan lebih bisa mem-balanced koleksi ilmiah dan nonilmiah.

Terakhir teknologi perpustakaan harus sesuai dengan perkembang teknologi apalagi saat ini banyak open sources software untuk perpustakaan dan kenyataannya  perpustakaan sekolah maupun perguruan tinggi masih memanfaat catalog manual. Hal dipengaruhi dengan pustakawan tidak memiliki kompetensi teknologi dan tidak adanya akomodasi khusus untuk mengembang fasilitas perpustakaan khusus teknologi… Bersambung

BestRegard “Inspirasi BeraniSukses”

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

 

 

Advertisements

impact of techonology and education style


abstrac
Teknologi komputer telah meresap kain masyarakat Amerika. Teknologi komputer mempengaruhi cara orang berkomunikasi, cara mereka belajar, dan cara mereka melakukan bisnis. Kemampuan untuk menggunakan teknologi komputer secara efektif telah menjadi keuntungan nyata di sekolah dan bekerja. Sebagai teknologi komputer telah menjadi elemen penting dalam kemajuan pendidikan dan kejuruan, telah tumbuh kekhawatiran bahwa kesenjangan dalam akses teknologi tersebut membatasi kesempatan bagi banyak orang. Makalah ini terutama berfokus pada isu-isu mengenai komputer
teknologi dan dampaknya terhadap siswa di California Community College System. Makalah diawali dengan tinjauan umum dari berbagai keprihatinan dibesarkan dalam pendidikan. Makalah berlanjut dengan pemeriksaan dari investasi California Community College Sistem telah dibuat dalam teknologi dan bagaimana investasi tersebut mempengaruhi akses dan keberhasilan siswa. Makalah ini diakhiri dengan rekomendasi untuk Senat di kedua negara bagian dan lokal mengenai teknologi dan komputer.

PENDAHULUAN
Bekerja di segmen yang paling beragam pendidikan tinggi di negara bagian California, staf pengajar perguruan tinggi yang sangat menyadari masalah-masalah potensi bahwa penggunaan teknologi komputer pose bagi keberhasilan dan pembelajaran siswa kami. Pada musim semi tahun 2001, Senat Akademik California Community College melewati resolusi berikut: 11,01 S01 Digital Divide Diselesaikan, Bahwa Senat Akademik California Community College melakukan riset untuk menyelidiki dampak teknologi akses siswa dan keberhasilan dalam Community College California System, terutama yang berhubungan dengan etnis dan keragaman sosial-ekonomi dan siswa penyandang cacat, dan Diselesaikan, Itu Senat Akademik California Community College melaporkan kembali dalam kertas temuan penelitian dan merekomendasikan solusi untuk masalah diidentifikasi. Resolusi ini menunjukkan dua pertanyaan. Pertama, bagaimana teknologi peningkatan atau penurunan akses bagi mahasiswa di perguruan tinggi? Tersirat dalam pertanyaan ini adalah isu-isu mahasiswa akses ke teknologi dan apakah pengeluaran Sistem telah dibuat pada teknologi komputer telah menghasilkan peningkatan akses untuk siswa. Pertanyaan kedua bertanya bagaimana teknologi telah berkontribusi terhadap keberhasilan siswa di perguruan tinggi. Meskipun resolusi di atas menyebutkan “teknologi” secara umum, fokus dari makalah ini adalah pada teknologi komputer, yang tersirat dalam judul resolusi, “Digital Divide.” Dalam makalah ini, kita membahas masalah akses terhadap teknologi komputer. Konsep Digital Divide telah berubah selama bertahun-tahun, dan pemeriksaan kami masalah ini mencerminkan pada bagaimana
yang berkembang perubahan definisi evaluasi kami respons Sistem tantangan ini. Selanjutnya, kita mengkaji bagaimana Sistem telah menggunakan teknologi komputer untuk meningkatkan akses siswa untuk layanan siswa dan pengajaran. Menanggapi pertanyaan kedua kami, kami meninjau sejauh mana investasi dalam teknologi dapat dikorelasikan dengan keberhasilan siswa. Kami menyimpulkan makalah ini dengan rekomendasi di seluruh negara bagian dan tingkat lokal untuk menangani isu-isu yang dibesarkan dalam perjalanan
diskusi.

AKSES TEKNOLOGI: kesenjangan digital
Ketika membahas perbedaan antara mereka yang memiliki akses ke teknologi dan mereka yang
yang tidak, yang biasa digunakan label untuk dampak ini adalah “Digital Divide.” Secara umum, mereka yang tidak memiliki akses milik etnis tertentu, sosial ekonomi, dan kelompok-kelompok cacat. Pada bagian ini, kita meninjau bagaimana konsep Digital Divide telah berubah sejak diciptakan pada awal 1990-an dan melihat bagaimana California Community College Sistem telah menanggapi tantangan menutup Digital Divide. Laporan pemerintah pertama yang dilakukan oleh US Department of Commerce, National Telekomunikasi dan Informasi Administrasi (NTIA), Jatuh melalui Net: A Survey dari
‘Yang miskin’ di Pedesaan dan Perkotaan Amerika (Nasional Telekomunikasi dan Informasi Administrasi [NTIA], 1995), mengungkapkan bahwa informasi bangsa “Yang miskin” yang tidak seimbang ditemukan di pedesaan daerah dan pusat kota. Selanjutnya, laporan menunjukkan bahwa secara umum, semakin rendah tingkat seseorang pendidikan, semakin kecil kemungkinan harus ada komputer di rumah dan jika ada komputer itu mungkin tidak terhubung ke Internet. Oleh karena itu, negara ini pedesaan minoritas dan kaum minoritas kota batin sedang dikecualikan dari partisipasi penuh dalam informasi usia. Pada tahun 1998, Telekomunikasi Nasional dan Administrasi Informasi diterbitkan digital lain Membagi scorecard, Jatuh melalui Net II: Baru Data Digital Divide (NTIA, 1998). Laporan menemukan bahwa sementara penetrasi komputer meningkat bangsa-lebar, masih ada yang signifikan Digital Divide
berdasarkan etnis, pendapatan, dan demografi karakteristik. Data lebih lanjut menunjukkan bahwa ada
adalah melebarnya jurang antara orang-orang di atas dan bawah tingkat pendapatan. Selain itu, meskipun semua etnis dimiliki kelompok lebih komputer, Amerika dan Afrika Hispanik yang tertinggal lebih jauh di belakang kulit putih dalam tingkat mereka PC-kepemilikan dan akses online. Terbaru dan Telekomunikasi Nasional Informasi laporan Administrasi, A Nation online: Bagaimana Amerika memperluas penggunaan Internet (NTIA, 2002), menunjukkan bahwa komputer di sekolah kita telah secara substansial mempersempit kesenjangan tingkat penggunaan komputer untuk anak-anak dari tinggi dan keluarga berpenghasilan rendah. Siswa sering aktif pengguna dari teknologi berbasis web. Kehadiran diperluas komputer dan teknologi internet di sekolah kami membuat sumber daya ini tersedia bagi para siswa yang kurangnya mereka di rumah atau yang memiliki sumber daya yang terbatas mengenai konektivitas internet lainnya. Selain, lebih komputer yang terkoneksi internet di sekolah kami
dan perpustakaan umum telah mengakibatkan lebih banyak sekolah tinggi lulusan dengan keterampilan dan keakraban dengan yang baru teknologi, sehingga memungkinkan mereka untuk menjadi aktif
peserta dalam digital kita didorong sosial dan ekonomi struktur.

AKSES: MASYARAKAT
COLLEGE UPAYA
California Community College Sistem telah memainkan peran dalam meningkatkan mahasiswa umum
akses ke teknologi komputer. Sistem mengambil keuntungan dari U. S. 1994-96 Departemen Perencanaan commerce hibah untuk mengembangkan Teknologi aku Rencana Strategis, yang mendanai Telekomunikasi Program Infrastruktur dan Teknologi (TTIP), sebuah upaya untuk memberikan dukungan jaringan dan lain sumber daya untuk secara efektif memenuhi kebutuhan staf pengajar, siswa, dan staf di bidang teknologi komputer. Pertama kali TTIP didanai 1996-97 (California Community College Chancellor’s Office [CCCCO], 2001b, hal 53). Para Teknologi II Rencana Strategis 2000 —

Continue reading

Merancang Pengembangan Perpustakaan



.

Setiap perpustakaan PT memiliki strategi pengembangan yang berbeda satu sama lain, tergantung pada kondisi awal masing-masing perpustakaan. Paling tidak sebagai seorang kepala perpustakaan harus mengamati lingkungan tempat berada perpustakaan yang dinaungin karena lingkungan eksternal dan internal akan mempengengaruhi dalam mendesain perpustakaan, teknologi, koleksi dan SDM yang akan ditetapkan diperpustakan. Kemudian harus melihat pesaing diluar seperti apa jika pesaing perpustakaan telah banyak perubahan baik dari koleksi, teknologi dan sarana lain, maka otomatis perpustakaan yang dinaungin juga wajib untuk berubah agar perpustakaan dibawah naungan tidak ditinggal oleh pengunjung atau dikunjungi oleh beberapa orang saja.

Untuk merompak segala perubahan diperpustakaan yang masih jauh tertinggal dengan perpustakaan profit maupun non profit.  Ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam perumusan strategi atau mengambil kebijakan dalam menuju perubahan perpustakaan tersebut antara lain adalah: berapa besar perpustakaan digital yang akan dibangun; muatan apa saja yang menjadi kebutuhan akses di dalam kampus; komponen apa saja yang akan dibutuhkan; siapa saja praktisi yang mempunyai keahlian, pengguna, pengembang, tenaga teknis yang akan disertakan dalam pengembangan; dan fungsi-fungsi apa saja yang dapat didukung secara lokal atau apa saja yang harus dipasok oleh pemasok. Semua hal tersebut tertuang dalam proposal perubahan perpustakaan menuju citra positif dan disampaikan kepada penanggung jawab perguruan tinggi, stekholder dan kolega yang terkait dengan perubahan perpustakaan tersebut.

Dan tak kalah pentingnya dalam pengembangan Scholarly Content perpustakaan yakni:

–          Library Collection (How to link up to their research output tracking system) dan (How to keep informed of new conferences held on campus)

–          Journals (How to keep on harvesting open access publications) dan (How to harvest for new work)

–          Web (How to negotiate with publishers)

–          Researchers (How to increase self submission)

–          Publishers (How to negotiate with publishers)

Mewujudkan kondisi perpustakaan sesuai dengan fungsi dan peranannya maka perpustakaan harus dirubah sistem operasionalnya dari perpustakaan manual/tradisional menjadi perpustakaan yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi (Perpustakaan digital). Dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi diharapkan perpustakaan secara bertahap dapat mengejar ketinggalannya dari perpustakaan-perpustakaan yang lebih maju dan sesuai dengan keinginan pengguna (user frendly) serta dapat mengoptimalkan fungsi perpustakaan bagi mahasiswa dan masyarakat. Selain hal tersebut diperlukan suatu manajemen pengelolaan yang sesuai dengan standar internasional dalam mengelola perpustakaan. Karena tanpa manajemen yang baik pekerjaan tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Dalam pengembangan dan perubahan perpustakaan harus memperioritaskan dalam perubahan tersebut yakni arah konsistensi, inovasi, tindakan efisiensi, kinerja, evaluasi dan perubahan. Maka langkah-langkah pengembangan stategis perencanaan antara lain sebagai berikut:

  1. Membangun “the ground rules” (partisipasi, task force, timeline, dsb)
  2. Mengembangkan “mission statement” Lakukan analisis lingkungan (PETS)
  3. Analisis Sumberdaya (strengths, weaknesses – SWOT) Berarti kemana akan pergi sehingga harus tahu dimana sekarang dan langkah yang ditempuh untuk mencapai tujuan tsb.
  4. Identifikasi isu-isu strategis (masa depan perpustakaan)
  5. Definisikan strategi masa depannya (kemana arah perpustakaan)
  6. Tentukan program (bagaimana caranya – projects)
  7. Implementasi dan rencanakan evaluasi (sukses?)

Continue reading

network system


PERPUSTAKAAN IKOPIN

JATINANGOR-BANDUN


1. Profil Perpustakaan IKOPIN

Perpustakaan IKOPIN erat kaitannya dengan sejarah berdirinya dan perkembangan IKOPIN sendiri, yaitu pada tanggal 12 Juli 1964 di Bandung. Pada saat ini IKOPIN masih bernama Akademi Koperasi 12 Juli  dimana IKOPIN berada di bawah bagian akademik, koleksi sangat terbatas dan pengguna hanya diberi kesempatan untuk membaca ditempat. Sumber pengadaan koleksi diperoleh dari Asian Foundation, Departemen Koperasi, Badan Usaha Logistik (Bulog), Pemda Jabar, Dewan Koperasi, Mahasiswa dan bantuan lainnya yang tidak mengikat.

Pada bulan Maret 1983, struktur organisasi perpustakaan berada di bawah Unit Pelaksaan Teknis (UPT) yang dipimpin oleh seorang kepala UPT, yaitu Ir.Charmadai.M dengan staf tiga orang yaitu: staf administrasi, staf teknis, dan staf peminjaman bahan pustaka. Mulai saat itu dilakukan pemisahan antara koleksi referensi, skripsi, buku teks, majalah dan surat kabar serta mulai mamasukkan anggaran pembelian serta ditandai peminjaman buku kepada civitas akademik..

Pada agustus 1984 Direktur seorang pustakawan lulus IKIP Bandung, dan pada September 1984 perpustakaan masih di bawah unit UPT. Pada tahun 1984 ini juga didatangkan konsultan perpustakaan berlatar belakang pendidikan ilmu perpustakaan Amerika. Dimana terjadi perubahan sistem klasifikasi dari Dewey Decimal Classification (DDC) menjadi LC (Library of Congress), perbaiki sistem peminjaman, penambahan koleksi dan saran lainnya. Dengan adanya perubahan sistem klasifikasi ini seluruh koleksi harus diolah kembali. Keadaan ini menyebabkan perpustakaan mengalami peminjaman dan tutup selama kurang lebih empat bulan. Selain pengolahan  buku-buku yang sama, perpustakaan  mengolah koleksi baru hasil penambahan sehingga beban kerja meningkat. Kebutuhan akan tambahan tenaga baru ini terlisasi pada bulan Januari 1985 dengan direkturnya dua orang staf dan tahun berikutnya ditambah lagi dengan dua orang lulus SLTA.

Sejalan perkembangan stafnya, jumlah koleksipun meningkat. Pada tahun 1982/1983  terdiri dari 270 judul dan 825 eksemplar, meningkat menjadi 523 judul dan 1976 eksemplar pada tahun 1983/1984. Kemudian jumlah meningkat lagi pada tahun 1984/1985 menjadi 1724 judul dan 7658 eksemplar. Pada tanggal 10 Oktober 1987 diresmikan gedung perpustakaan dan laboratorium, dan terjadi peningkatan eselonisasi ditingkat UPT dimana Sub Unit perpustakaan menjadi unit. Untuk peningkatan sumber daya manusianya, pada tahun 1987 direkrut tiga orang lulusan Diploma II ilmu perpustakaan Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada tahun 1993 dibentuk dua seksi dalam UPT perpustakaan yaitu: seksi administrasi dan teknis dan seksi peminjaman dan koleksi. Pada bulan April 1993 direkrut lagi seorang lulusan Diploma II IPB.

Continue reading

literasi informasi


silahkan klik disini informasi lengkapnya Wasit rekan yang secara akademis jurnal Science Menginformasikan upaya untuk memberikan pemahaman tentang kompleksitas dalam memberitahukan kepada pelanggan. Fields dari sistem informasi, perpustakaan ilmu, jurnalistik dalam segala bentuk untuk pendidikan semua berkontribusi terhadap ilmu ini.

Bidang tersebut, yang dikembangkan secara mandiri dan telah diteliti dalam disiplin ilmu yang terpisah, yang berkembang untuk membentuk transdiscipline baru, Menginformasikan Science. Menginformasikan Science menerbitkan artikel yang memberikan wawasan ke dalam sifat, fungsi dan desain sistem yang menginformasikan klien. Penulis dapat menggunakan epistemologi dari rekayasa, ilmu komputer, pendidikan, psikologi, bisnis, antropologi, dan semacamnya. Kertas yang ideal akan berfungsi untuk menginformasikan sesama peneliti, mungkin dari bidang lain, kontribusi ke wilayah ini.

Teknologi… Persehabatan, Cinta dan Jodoh


Setiap insan diciptakan dan dilahirkan kebumi oleh sang maha mencintai pasti memiliki perasaan cinta, ingin dicintai dan mencintai serta ingin memiliki itulah “fitra manusia” tidak dapat dipungkiri lagi. Cinta sangat susah untuk didefenisikan hanya orang yang merasakan cinta dan jatuh cinta dapat mengungkapkan dan paham dengan kata “cinta”. Cinta mampu memberi semangat, kekuatan dan inspirasi seseorang dalam mencapai impian, sungguh kekuatan cinta begitu dahsyat mungkin lebih dahsyat dari getar gempa meguncang bumi. Begitu banyak cerita cinta bahkan setiap Negara mungkin memiliki sejarah cinta seperti Romeo dan Juliet, Tristan dan Isolde.

Beberapa tahun silam orang menjalin cinta hanya dengan orang yang dikenal seperti teman kerja, sekolah atau kampus maupun dijodoh orang tua atau lewat teman. Namun, sekarang orang manjalin hubungan atau cinta tidak dalam batas demografi tetapi sudah antar Negara bahkan benua ini merupakan efek teknolgi, mungkin beberapa tahun kedepan hubungan persahabatan dan cinta entah bagaimana lagi. Biasanya orang memanfaat internet untuk mencari data atau informasi yang dibutuhkan, ketika mencari data tersebut mungkin ada yang sambil buka E-mail, Chatting (yahoomesengger atau liveconnegtor) dan buka Friendster atau Facebook. Karena kita tahu bahwa loading atau koneksi (Speed) internet di indonesia lambat jika dibanding dengan Negara barat, makanya pemakai menyesiati cara pemanfaatan internet seperti itu.

Di dunia informasi dan teknologi cinta bisa dijalin begitu gampang sehingga cinta tidak mungkin dibatasi ruang dan waktu maupun jarak, mungkin masih ingat dengan pepatah “Tak Kenal Maka Tak Sayang” mungkin pepatah tersebut dapat ditinggal dalam era teknologi, kenapa pepatah tersebut bakal ditinggal dan tidak dipakai lagi. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari kita begitu banyak orang maupun diri kita sendiri memanfaatkan atau mengkonsumi Internet maupun Handphone sebagai kebutuhan pokok (primer), selanjutnya media tersebut merupakan awal menjalin hubungan, relasi atau ukhuwah. Lewat dunia maya tersebut pula orang bisa berteman, pacar, dan mencari jodoh.  Sungguh dampak teknologi tidak hanya mempengaruhi aspek pendidikan (education), bisnis (marketing), mencari informasi (reseach information) tetapi sampai mempengaruhi masalah perasaan (cinta). Kita ketahui dunia maya (Internet) banyak menyediakan fasilitas bagi pemakai seperti google, yahoo, yahoomessenger, yahoogroups, facebook, blogger, myyearbook dan sebagainya. Fasilitas tersebut merupakan awal sesorang untuk memperkanal diri dan mengenal orang.

Contoh nyata dampak teknologi terhadap persahabatan, cinta, dan jodoh. Pertama, aku memiliki seorang teman tetapi aku kenal teman tersebut melalui dunia maya (yahoomessenger), karena kita memiliki karakteristik sama sehingga merasa cocok serta sering cerita (share) baik dalam masalah pendidikan, lowongan kerja maupun masalah cinta. Karena sudah merasakan sebagai teman dan saudara dia sering cerita tentang pacarnya yaitu, tentang perkenalan dengan seorang wanita lewat Friendster kemudian cerita terus berlanjut sampai mereka saling tukar alamat yahoomesengger (YM) sampai minta nomor handphone, cowok tersebut cuma iseng saja katakan cinta ternyata keisengan dia tersebut disambut dengan keserius tapi dia juga sempat kaget dengan pernyataan seorang cewek tersebut. Tetapi dia coba untuk jalin hubungan tersebut berlanjut sampai berbulan-bulan ternyata jalinan cinta mereka masih bertahan sampai sekarang, walaupun mereka belum pernah ketemu hanya kenal lewat suara dan gambar (picture) tetapi mereka berkomitmen untuk melanjutkan hubungan tersebut dalam ikatan pernikahan.

Kedua jika kita pernah nonton entertainment seperti cek&ricek, kiss, kasak kusuk dan sebagainya pernah menyiarkan tentang kisah cinta artist dengan cowok bule (belanda) sekarang sudah resmi menjadi pacar artist tersebut gara-gara kenal lewat dunia maya (chatting).

Ketiga lewat dunia maya juga teman cewek kakak aku  telah menjadi suami-istri  hingga saat ini rumah  tangga mereka tetap langgang. Sungguh teknologi juga memiliki peran serta mempengaruhi orang dalam menjalin cinta, untuk itu para remaja, dewasa dan orang tua hati-hati dan tetap waspada dengan perkembangan teknologi karena teknologi informasi tidak kenal usia, ras, agama dan golongan. Bagaimana kita masih tetap menggunakan pepatah tersebut sedangkan kita sudah tahu bahwa didunia maya hal mungkin tidak terjadi bisa terjadi.

WEB 2.0



PENDAHULUAN

Perkembang teknologi dan informasi mengharuskan perpustakaan untuk mengadopsi dan mengalirkan aliran teknologi dalam dunai perpustakaan. Perpustakaan tidak bisa dipisahkan dengan teknologi informasi karena akan banyak memberi kemudahan baik dalam sirkulasi, development, cataloging, public relation of librarians, promotion etc.

Belakangan ini ada satu istilah yang sedang naik daun, yaitu Web 2.0. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan aplikasi-aplikasi Internet generasi baru yang merevolusi cara kita menggunakan Internet. Semua aplikasi ini membawa kita masuk ke babak baru penggunaan Internet yang berbeda dengan generasi sebelumnya pada pertengahan tahun 1990-an.

Era Web 2.0 sekarang ini punya ciri yang menarik yaitu kolaborasi. memungkinkan para pengguna untuk ikut berpartisipasi secara aktif. Kemudian ‘Web 2.0’ adalah cerita panas di blogosphere saat ini, dengan pasukan pendukung berhadapan orang-orang yang berpendapat bahwa itu bukan hal yang baru, dan sekutu mereka dengan kenangan menyakitkan Dot Com histeria pada 1990-an. Bahkan media terhormat seperti Business Week yang semakin bersemangat, dan konferensi yang mahal di San Francisco pada awal Oktober harus membuat orang menjauh saat melintas lebih dari 800 pendaftaran. Sepereti diungkapkan oleh Tim O’Reilly, web 2.0 merupakan revolusi bisnis dalam industri komputer akibat dari berkembangnya internet sebagai platform, and an attempt to understand the rules for success on that new platform. Chief among those rules is this: membangun aplikasi yang harness network efek untuk mendapatkan yang terbaik dan lebih banyak orang yang menggunakan.

Dimana perpustakan di Amerika, Australia atau di Negara-Negara Eropa telah menjadi perpustakaan satu kesatuan dan bagian dari teknologi. Karena perpustakaan di Negara-Negara maju tidak lagi (meninggalkan) menggunakan layanan manual melainkan telah menggunakan layanan interaktif atau feedback lebih dikenal dengan web 2.o. Sedangkan kenyataannya di Indonesia masih menerpakan system digitalisasi itupun belum seleruhnya perpustakaan menerapkannya serta system itupun terpusat (sentralisasi) dikota besar (Jawa), sangat jauh sekali berbanding perpustakaan Negara maju dengan Negar baru perkembang (negara ketiga) dimana hampir setiap perpustakaan telah mengaplikasi web 2.0 mulai perpustakaan sekolah hingga perpustakaan perguruan tinggi.

Adapun isu-isu mutakhir informasi perpustakaan yakni tentang masalah web 2.0. Namun ada beberapa edisi atau tingkat (version) web perpustakan yaitu mulai dari web 1.0, web 2.0, web 3.0 dan web 4.0 kesemua web tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing tetapi yang lebih popular dari keempat web tersebut yakni web 2.0,  sebelum kita membahas secara mendalam apa itu web 2.0

  1. A. SEJARAH WEB 2.0

Istilah “Web 2.0” diciptakan oleh Darcy DiNucci pada tahun 1999. Dalam artikelnya “Fragmented Masa Depan,” dia menulis.

“Web kita tahu sekarang, yang banyak menjadi jendela browser pada dasarnya screenfuls statis, hanya merupakan embrio dari Web yang akan datang. Glimmerings pertama Web 2.0 yang mulai muncul, dan kami hanya mulai melihat bagaimana hal itu bisa mengembangkan embrio Web akan screenfuls dipahami bukan sebagai teks dan grafis tetapi sebagai mekanisme transportasi, udara yang melaluinya interaktivitas terjadi. Akan muncul di layar komputer Anda, […] di TV Anda […] dashboard mobil Anda […] […] ponsel Anda dipegang tangan mesin-mesin permainan [. ..] mungkin bahkan microwave oven.”

Penggunaan istilah terutama berkaitan dengan Web desain dan estetika, ia berpendapat bahwa Web adalah “memecah-belah” karena penggunaan luas portabel Web-perangkat siap. Artikelnya ditujukan untuk desainer, mengingatkan mereka untuk kode untuk yang semakin beragam perangkat keras. Dengan demikian, dia menggunakan istilah petunjuk di – tetapi tidak secara langsung berhubungan dengan – saat ini menggunakan istilah. Istilah itu tidak muncul lagi sampai 2003. Para penulis ini berfokus pada konsep-konsep yang saat ini terkait dengan istilah tempat, seperti dikatakan Scott Dietzen, “Web menjadi universal, standar berbasis platform integrasi.”  Melainkan Pada tahun 2004, istilah memulai kenaikan popularitas ketika O’Reilly Media dan MediaLive host Web 2.0 pertama konferensi. Dalam sambutannya, John Batelle dan Tim O’Reilly diuraikan definisi mereka tentang “Web sebagai Platform,” di mana aplikasi perangkat lunak yang dibangun di atas Web sebagai lawan dari atas desktop. Aspek unik migrasi ini, menurut mereka, adalah bahwa “pelanggan sedang membangun bisnis bagi Anda.” Mereka berpendapat bahwa kegiatan pengguna menghasilkan konten (dalam bentuk ide-ide, teks, video, atau gambar) dapat “dimanfaatkan” untuk menciptakan nilai.

Kemudian diciptakan pada tahun 2004 oleh O’Reilly Media dan digunakan untuk menggambarkan “pengembangan dan jasa alat-alat baru yang sedang mengubah cara orang menggunakan Internet, sehingga lebih mudah untuk berkolaborasi, berkomunikasi dan berbagi informasi “(Secker 3).  Web 2.0 juga disebut perangkat lunak sosial. Secker menunjukkan bahwa perangkat lunak sosial adalah “tidak benar-benar perangkat lunak seperti itu, tapi layanan Internet yang pada akhirnya bisa menggantikan perangkat lunak desktop, ini tentang menggunakan Internet sebagai platform untuk menjalankan software dan layanan daripada PC desktop Anda, sehingga sebagian besar perangkat lunak-host dari jarak jauh dan dapat diakses dari mana saja dengan koneksi Internet “(Secker 4). Dipanaskan perdebatan mengenai istilah Web 2.0 muncul dan orang-orang mendefinisikannya dalam berbagai cara.

Istilah “Perpustakaan 2.0” diciptakan pada tahun 2005 oleh Michael Casey, yang melihat Perpustakaan 2,0 sebagai “user-perubahan berpusat” di dalam hatinya (Casey dan Savastinuk). Istilah menyiratkan bahwa kita dapat meningkatkan layanan perpustakaan dengan menggunakan Web 2.0 tools dan jasa. Sama seperti Web 2.0, istilah Perpustakaan 2.0 telah terbukti sebagai kontroversial. 62 terdaftar Crawford pandangan yang berbeda dan tujuh definisi yang berbeda dari istilah “Perpustakaan 2.0” dalam artikelnya dalam CITES dan Pemahaman.

  1. B. DEFENISI WEB 2.0
  2. 1. ‘Web 2.0 adalah jaringan sebagai platform, menjangkau seluruh perangkat tersambung; Web 2.0 adalah mereka yang membuat sebagian besar keuntungan intrinsik platform: memberikan software sebagai diperbarui terus-pelayanan yang semakin baik semakin banyak orang yang menggunakannya, menyita dan remixing data dari berbagai sumber, termasuk pengguna individu, sementara menyediakan data mereka sendiri dan jasa dalam bentuk yang memungkinkan remixing oleh orang lain, menciptakan efek jaringan melalui sebuah “arsitektur partisipasi”, dan akan melampaui halaman metafora Web 1.0 ke pengguna kaya memberikan pengalaman. “.
  3. Web 2.0: mencampur layanan dari berbagai penyedia dan pengguna di dikendalikan pengguna jalan. Seorang pengguna dapat menemukan informasi dalam satu tempat dan mungkin menemukan algoritma untuk menggunakan informasi di negara lain. Cerdas kombinasi keduanya mungkin menawarkan fungsionalitas tambahan pengguna, lebih nyaman atau hanya lebih menyenangkan.
  4. Menghubungkannya dengan istilah-istilah seperti blog, wiki, podcast, RSS feed, web sosial, dll dan menegaskan bahwa Web 2.0 adalah tempat di mana semua orang dapat menambahkan atau mengedit informasi. Ini adalah web di mana perangkat digital memungkinkan pengguna untuk membuat, mengubah dan mempublikasikan konten dinamis

  1. C. CIRI-CIRI WEB 2.0

Secara singkat, berikut ini ciri-ciri aplikasi Web 2.0 antara lain sebagai berikut:

–          The Web as Platform

Aplikasi Web 2.0 menggunakan Web (atau Internet) sebagai platformnya. Apa sih yang dimaksud dengan platform ? Platform di sini adalah tempat suatu aplikasi dijalankan. Contoh platform yang terkenal adalah Windows, di mana ada aplikasi-aplikasi seperti Microsoft Office dan Adobe Photoshop. Menggunakan Internet sebagai platform berarti aplikasi-aplikasi tersebut dijalankan langsung di atas Internet dan bukan di atas satu sistem operasi tertentu. Contohnya adalah Google yang bisa diakses dari sistem operasi mana pun. Contoh lainnya adalah Flickr yang juga bisa diakses dari sistem operasi mana pun. Kelebihannya jelas, aplikasi-aplikasi Web 2.0 ini tidak lagi dibatasi sistem operasi seperti pada Windows. Dan kita bahkan tidak perlu menginstall apapun untuk menggunakan aplikasi-aplikasi ini.

–          Harnessing Collective Intelligence

Aplikasi Web 2.0 memiliki sifat yang unik, yaitu memanfaatkan kepandaian dari banyak orang secara kolektif. Sebagai hasilnya muncullah basis pengetahuan yang sangat besar hasil gabungan dari pengetahuan banyak orang. Contoh yang jelas adalah Wikipedia. Wikipedia adalah ensiklopedi online yang memperbolehkan semua orang untuk membuat dan mengedit artikel. Hasilnya adalah ensiklopedi online besar yang sangat lengkap artikelnya, bahkan lebih lengkap daripada ensiklopedi komersial seperti Encarta ! Contoh lainnya lagi adalah del.icio.us di mana semua orang saling berbagi link-link menarik yang mereka temukan. Akibatnya kita bisa menemukan “permata-permata” di Web gabungan hasil browsing dari ribuan orang. Blogosphere juga merupakan contoh kepandaian kolektif karena setiap orang bisa menulis blog-nya sendiri-sendiri lalu saling link satu sama lain untuk membentuk jaringan pengetahuan, mirip seperti sel-sel otak yang saling terkait satu sama lain di dalam otak kita.

–          Data is the Next Intel Inside

Kekuatan aplikasi Web 2.0 terletak pada data. Aplikasi-aplikasi Internet yang berhasil selalu didukung oleh basis data yang kuat dan unik. Contohnya adalah Google, yang kekuatannya terletak pada pengumpulan dan manajemen data halaman-halaman Web di Internet. Contoh lainnya lagi adalah Amazon yang memiliki data buku yang bukan hanya lengkap, tapi juga sangat kaya dengan hal-hal seperti review, rating pengguna, link ke buku-buku lain, dan sebagainya. Ini berarti perusahaan yang unggul adalah perusahaan yang menguasai data.

–          End of the Software Release Cycle

Aplikasi Web 2.0 memiliki sifat yang berbeda dengan aplikasi pada platform “lama” seperti Windows. Suatu aplikasi Windows biasanya dirilis setiap dua atau tiga tahun sekali, misalnya saja Microsoft Office yang memiliki versi 97, 2000, XP, dan 2003. Di lain pihak, aplikasi Web 2.0 selalu di-update terus-menerus karena sifatnya yang bukan lagi produk melainkan layanan. Google misalnya, selalu di-update data dan programnya tanpa perlu menunggu waktu-waktu tertentu.

–          Lightweight Programming Models

Aplikasi Web 2.0 menggunakan teknik-teknik pemrograman yang “ringan” seperti AJAX dan RSS. Ini memudahkan orang lain untuk memakai ulang layanan suatu aplikasi Web 2.0 guna membentuk layanan baru. Contohnya adalah Google Maps yang dengan mudah dapat digunakan orang lain untuk membentuk layanan baru. Sebagai hasilnya muncullah layanan-layanan seperti HousingMaps yang menggabungkan layanan Google Maps dengan Craigslist. Layanan seperti ini, yang menggabungkan layanan dari aplikasi-aplikasi lainnya, dikenal dengan istilah mashup.

–          Software Above the Level of a Single Device

Aplikasi Web 2.0 bisa berjalan secara terintegrasi melalui berbagai device. Contohnya adalah iTunes dari Apple yang berjalan secara terintegrasi mulai dari server Internet (dalam bentuk toko musik online), ke komputer pengguna (dalam bentuk program iTunes), sampai ke mobile device (dalam bentuk iPod). Di masa depan diperkirakan akan makin banyak aplikasi-aplikasi yang memiliki sifat ini, misalnya saja demo Bill Gates di CES 2006 menunjukkan integrasi antar device yang luar biasa (lihat post Consumer Electronic Show 2006).

–          Rich User Experiences

Aplikasi Web 2.0 memiliki user interface yang kaya meskipun berjalan di dalam browser. Teknologi seperti AJAX memungkinkan aplikasi Internet memiliki waktu respons yang cepat dan user interface yang intuitif mirip seperti aplikasi Windows yang di-install di komputer kita. Contohnya adalah Gmail, aplikasi email dari Google yang memiliki user interface revolusioner. Contoh lainnya lagi adalah Google Maps yang meskipun berjalan dalam browser namun bisa memberikan respons yang cepat saat pengguna menjelajahi peta.

Kemudian selain ciri diatas web 2.0 juga memiliki cirri karaterisktik yang lain antara lain: (1) Karakteristik utama Web 2.0 adalah produksi individu dan user-generated content (UGC). UGC merujuk kepada diri-penerbitan, penerbitan pribadi dan ekspresi diri (2). Karakteristik kedua adalah kapasitas untuk ‘memanfaatkan kekuatan orang banyak. ” (3). Karakteristik selanjutnya adalah bahwa arsitektur dari partisipasi dan berarti bahwa penunjukan layanan dapat meningkatkan dan memfasilitasi partisipasi pengguna. (4). Karakteristik lain adalah efek jaringan, istilah ekonomi yang digunakan untuk menggambarkan peningkatan nilai yang ada layanan pengguna, karena lebih banyak orang mulai menggunakannya (5). Karakteristik akhir adalah keterbukaan. Ini menunjukkan bekerja dengan standar terbuka, dengan menggunakan perangkat lunak open source, dengan menggunakan data bebas, menggunakan kembali data, dan bekerja dalam semangat inovasi terbuka

Jadi dapat disimpulkan bahwa ciri kareteristik web 2.0 yakni adanya komunitas jaringan. Di dalam komunitas jaringan, kita bisa berpartisipasi. Dan yang paling mencolok adalah penggunaan antar muka yang user friendly, persis dengan desktop komputer kita saat ini.

  1. D. Manfaat web 2.0

Web 2.0 memiliki dampak pada perpustakaan dan layanan perpustakaan antara lain sebagai berikut:

  1. Peningkatan relevansi perpustakaan kepada pengguna;
  2. Meningkatkan citra perpustakaan (misalnya, pengunjung akan melihat bahwa perpustakaan yang up to date dengan teknologi);
  3. Allowed kaya, interaktif, tepat waktu, layanan nyaman sehingga dapat meningkatkan tingkat pelayanan dan kualitas, dan memperluas jangkauan layanan (misalnya, menyebarkan informasi melalui RSS feed, menyediakan beraneka ragam layanan, dan menawarkan lebih banyak pilihan untuk melayani pengguna);
  4. Peningkatan partisipasi pengguna, dan meningkatkan interaksi dan komunikasi dengan pengguna;
  5. Pustakawan memperluas perspektif, dan memfasilitasi pengguna memperoleh ‘umpan balik dan pembaca berikut’ bunga tren;
  6. Drew pada pengetahuan kolektif untuk lebih melayani pengguna;
  7. Peningkatan pustakawan ‘antar-departemen komunikasi dan penyebaran informasi yang dipercepat bagi para pengguna;
  8. Memfasilitasi pemecahan masalah instan dengan manfaat dari layanan ditelusuri;
  9. Peningkatan pengetahuan berbagi dan kolaborasi.

  1. E. Perbedaan Web 1.0 Dan Web 2.0
WEB 1.0 WEB 2.0
DoubleClick -> Google AdSense
Akamai -> BitTorrent
mp3.com -> Napster
Britannica Online -> Wikipedia
personal websites -> blogging
Evite -> upcoming.org dan EVDB
spekulasi nama domain -> search engine optimization
page views -> biaya per klik
screen scraping -> web services
penerbitan -> partisipasi
sistem manajemen konten -> wiki
direktori (taksonomi) -> tagging ( “folksonomy”)
kekakuan -> sindikasi

  1. F. Hubungan Web 2.0 Dengan perpustakaan

Pertanyaan yang pasti muncul bagi kita adalah: bagaimana konsep Web 2.0 berhubungan dengan dunia perpustakaan? Notess mengklaim bahwa untuk beberapa istilah Perpustakaan 2,0 berarti penggabungan blog, wiki, instant messaging, RSS, dan jaringan sosial ke dalam layanan perpustakaan Bagi orang lain itu menunjukkan melibatkan pengguna melalui interaktif dan kegiatan bersama seperti menambahkan tag, kontribusi komentar dan rating perpustakaan yang berbeda item. Maness menegaskan bahwa Perpustakaan 2.0 adalah user-berpusat komunitas virtua, dan Farkas mengatakan bahwa 2,0 Perpustakaan meningkatkan layanan kepada pengguna. Abram menggambarkan citra pustakawan yang baru, Pustakawan 2.0. Pustakawan ini memahami kekuatan Web 2.0 kesempatan, dan menyelidiki dan akhirnya mengadopsi alat-alat mereka. Mereka menggunakan katalog yang non-tradisional dan klasifikasi dan mengakui gagasan tentang ‘ekor panjang’ Pustakawan 2,0 menghubungkan pengguna ke ahli ‘diskusi dan latihan kepada masyarakat; mereka mengembangkan jaringan sosial dan mendorong pengguna untuk mengembangkan konten dan metadata. Pustakawan 2,0 memahami ‘kebijaksanaan orang banyak’ dan peran baru dan wikisphere blogosphere. Maness menambahkan bahwa Pustakawan 2,0 bertindak sebagai fasilitator.

  1. G. Conclusion (kesimpulan)

Jadi, Web 2.0 sangat penting dan menjadi topik sentral di dunia informasi  dan perpustakaan sekarang ini, dan semakin banyak perpustakaan di seluruh indonesia menggunakan aplikasi ini akan mempermudahkan dalam intergrasi informasi antar perpustakaan. Menggunakan blog yang berfungsi sebagai sumber dan pilar informasi karena sebagai sebuah tempat di mana pustakawan dapat mengekspresikan pendapat mereka tentang masalah yang dihadapi. Selain itu, perpustakaan dapat memasarkan perpustakaan untuk berbagai pengguna potensial. Selain itu, pustakawan dapat menggunakan wiki atau YouTube untuk tujuan instruksi perpustakaan. pustakawan juga dapat menggunakan wiki sebagai platform untuk rekomendasi buku, katalog dan penandaan, semua diciptakan oleh pengguna perpustakaan.

Daftar Pustaka

Abram, S. (2006), “Web 2.0, dan pustakawan 2.0: Menyiapkan 2.0.”, Dunia SirsiDynix OneSource, Vol. 2 No. 1 2 http://www.imakenews.com/sirsi/e_article000505688.cfm

Dongmei Cao. Cina Perpustakaan 2.0: Status dan Pengembangan .  College of Charleston United States Amerika Serikat .CaoD@cofc.edu

Maness, JM (2006), 2,0 Perpustakaan Teori: Web 2.0 dan Implikasi untuk Perpustakaan
http://www.webology.ir/2006/v3n2/a25.html

What is Web 2.0 Desain Pola dan Business Model untuk Generasi Berikutnya Perangkat Lunak. http://oreilly.com/pub/a/web2/archive/what-is-web-20.html?page=5

%d bloggers like this: