Information Literacy in the Information Society: A Concept for the Information Age


Melek Informasi dalam Masyarakat Informasi

“Melek Informasi dalam Masyarakat Informasi: Sebuah Konsep untuk Era Informasi”

oleh Christina S. Doyle (ED 372 763).

sumber dari Eric translate by ukhti

Information Literacy adalah kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dari berbagai sumber. Sebagai siswa mempersiapkan abad ke-21, instruksi tradisional dalam membaca, menulis, dan matematika perlu dibarengi dengan praktek dalam komunikasi, pemikiran kritis, dan keterampilan pemecahan masalah (Costa, 1985).

DEFINISI

Orang melek informasi adalah orang yang:

* Mengakui bahwa informasi yang akurat dan lengkap adalah dasar bagi pengambilan keputusan cerdas

* Mengakui perlunya informasi

* Merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang didasarkan pada kebutuhan informasi

* Mengidentifikasi potensi sumber-sumber informasi

* develops successful search strategies * Sukses mengembangkan strategi pencarian

* Mengakses sumber-sumber informasi termasuk berbasis komputer dan teknologi lainnya

* Mengevaluasi informasi

* Mengorganisir informasi untuk aplikasi praktis

* Mengintegrasikan informasi baru ke dalam tubuh yang sudah ada pengetahuan

* Menggunakan informasi dalam pemikiran kritis dan pemecahan masalah (Doyle, 1992)

Continue reading

Work Librarian Trend In the Information Age And Technology


Trend Kerja Pustakawan

Di Era Informasi Dan Teknologi

Akan selalu ada perubahan dalam lingkungan perpustakaan sejak fajar Internet hidup dalam masyarakat informasi membutuhkan keterampilan baru untuk mencari, sebetulnya yang paling memerlukan dan yang harus pertama kali melakukan transformasi di era pengetahuan ini adalah para pustakawan. Seperti Adding value, manajemen pengetahuan, information literacy training, multi-fungsi, dsb. Semuanya ini memerlukan kemampuan yang lebih dari sekedar pengetahuan dan ketrampilan di bidang TI dan bidang-bidang pengetahuan yang digeluti pustakawan. Perubahan di dunia perpustakaan dan  akan mempengaruhi pustakawan dan informasi professional, peran pustakawan, kesempatan kerja, citra diri, motivasi dan bahkan kelangsungan hidup. Karena itu Pustakawan perlu mencari solusi tepat waktu untuk reposisi dan peran dalam era teknologi informasi. Ketika menuju era informasi dan teknologi, pustakawan harus menghadapi setidaknya tiga besar pergeseran paradigma.

  • Pergeseran pertama adalah transisi dari kertas ke media elektronik sebagai bentuk dominan penyimpanan dan pengambilan informasi. Terkait dengan transisi ini adalah konvergensi dari media yang sebelumnya terpisah, seperti teks, grafik, dan suara, ke sumber daya multimedia.
  • Shift kedua berkaitan dengan meningkatnya permintaan untuk pertanggungjawaban, termasuk fokus pada pelanggan, pengukuran kinerja, bangku menandai dan peningkatan berkesinambungan. Semua ini terjadi di era ketika sumber-sumber keuangan yang tersedia untuk menyediakan layanan perpustakaan dan informasi yang menyusut.
  • Pergeseran ketiga berasal dari bentuk-bentuk baru organisasi kerja seperti komputasi pengguna akhir, kerja tim, manajemen delayering, pembagian kerja, telework, outsourcing, perampingan dan re-engineering.

Semua tiga dari pergeseran ini berkaitan dengan kombinasi faktor seperti persaingan global, komputasi baru dan teknologi komunikasi, dan yang dirasakan perlu untuk mengukur produktivitas pekerja pengetahuan dan pelayanan perpustakaan.

Berikut ini adalah kutipan tentang pustakawan yang dibutuhkan di era digital ini:

Holistic librarians with a broad range of competencies and skills are an emerging prerequisite in academic libraries, especially in technology-oriented roles.” (Dupuis &Ryan (2002, h5),

.

New librarians will come from other backgrounds, and the emphasis will be on leadership, connectivity, innovation and creativity – making new and powerful connections increasingly on an individual basis between people and their knowledge needs.” (Kempster, 1999, h.201).

Continue reading

%d bloggers like this: