Puaskah


 

Puaskah engkau membuat koe manangis

Setiap butiran kata dan sikap mu

Yang begitu egois yang tak pernah ingin mengalah

Namun coba untuk memahami itu semua

Tapi kepahaman koe sia-sia saja

Malah engkau ulang-ulangi lagi tangisan ini

 

Puaskah engkau membuat koe merana

Dengan wangia janji mu yang begitu berlapis-lapis

Tapi janji itu semua pupus, gugur, dan hancur

Karena engkau tinggalkan ku

dengan ala tak pernah ku sangka dan duga

 

puaskah engkau membuat koe kekagalauan

tanpa mempertimbangkan benih cinta yang berbunga

engkau hanya mampu mengnyajikan kemisterius

dalam logika, perasaan dan langkah ku.

 

HARI PERTAMA DIYOGYA


Hari pertama diyogya telah mengoncang batin dan niat koe untuk mundur dari pertemburan yang membutuh kurang lebih 2 tahun bertahan disini (yogya). Dimana sebelumnya penuh semangat, harapan, dan Edensor kehidupan. Tapi semua itu hampir lenyap sampai di yogya mungkin yang membuat seperti ini antara lain (1) kosan yang sepi Cuma hanya ada beberapa teman kosan itupun pada sibuk dengan kegiataan kampus, (2) kosannya bagus, bersih, luas tapi satu hal yang tidak disukai yakni pengap beda dengan kosan dibandung langsung bertatap dengan sinar mentari dan bisa memandang indahnya awan, embun, dan galaksi matahari, (3) interntetan otomatis tidak ada sama sekali, walaupun pake modem sungguh keterlaluan tidak ada sinyal satupun cukup sudah penderitaan ini, (4) mungkin karena baru diyogya jadi tidak tahu titik akses kemana-mana (rute jalan), (5) belum dapat teman (ketemu teman kuliah).

Saat itu berpikir dan melamun hampir begitu lama seakan-akan lagi bertarung di medan perang melawan musuh-musuh yang siap menembak jembakan dan gugur dipedang perang. Saat itupula membuat ingat kampong yang jauh dimata (seberang sana: Sumatra), ingin kerja cepat untuk meninggal kuliah S2 ini, rasa rindu mulai menampakkan putik bunga yang nan harum dengan sosok seorang yang selama ini telah mengelitik perasaan ini walaupun telah berusaha untuk melupakan semua. Tetapi  perasaan masih meninggalkan jejak walaupun jejak hanya sebiji buah kurma namun tetap rasa cinta, sayang, rindun dengan dia masih ada.

Saat itu pula ingin calling (menghubungi) tapi coba bertahan dan komitmen dengan ucapan dan pikiran yang telah terucap serta terangkai agar tidak akan terulang lagi dengan keadaan yang menjebak. Hingga waktu telah menunjuk sekitar 9.00wib rasa ingin pulang masih kuat menguncang, tapi cari aktivitas lain seperti bersih-bersih pakaian yang sangat kusut dan berantakan secara baru pindah dari bandung ke yogya. Hampir 2jam melaksanakan aktivitas belum mampu juga untuk merubah dan memblokir perasaan itu.  Tak terasa kegiataan selesai juga namun tetap qolbu itu belum juga bisa menerima keadaan dan situasi yogya. Akhirnya ketiduran karena begitu lelah dan capeknya menempuh berjalanan bandung –yogya (10 jam) dan juga masih merasa sedih dengan kondisi ini.

Setelah magrib coba menenangkan diri lagi untuk bertanya pada ibu kosan “ummi” tentang yogya terutama jalan utama dan arah kekampus. Maklum maba (mahasiswa baru) jadi perlu banyak hal baru yang harus diketehui jadi mulai yang terkecil hingga yang tak pantas dipertanyakan hehee…

Untung teman kosan yang baik hati mau menjeleskan dan menanyakkan sesuautu dimana sebelumnya paling malas menenayakkan hal seperti ini, demi kebetahan dan survive dengan niat baik ini. setalah magrib akhirnya keluar juga dari sarang perpaduan (alias kamar) untuk mencari makan dan mengikuti jalan-jalan setapak sambil menghapal rute tersebut, takutnya nyasar dan tidak tahu jalan pulang kekosan kebetulan termasuk orang yang cepat hapal dengan jalan2 apalagi jalan protocol (utama). Setelah keluar cari makan kembali rasa rindu memuncak lagi sungguh begitu susah dan rumit untuk menghilangkan rasa rindu dengan orang rumah.

Dengan basmallah harus bisa dan bertahan disini demi masa depan nan cerah dan membahagiakan orang-orang terdekat (ibu-bapak) rela terhampar dan terhempas dari kampong tercinta. Malam bergitu sunyi dan malam semakin larut dengan keheningan yang ditaburi rembulan yang bersinar, bintang yang berkedip-kedip yang semakin menampakkan begitu agungnya kekuasaan Rabbi.

Keesokkan harinya bangun pagi seperti biasanya dimana tak bisa bangun kesiangan karena sengaja menerapkan dalam hidup (always bangun jam3 dini hari :subuh) adapun alasan agar habbit seperti ini agar bisa bermunajat pada sang illahi (qiyamuallai, tadarus, almatsurat dan the power of life) alhamdullah kebiasaan ini bisa dijalaninin. Setelah kebangun lasung siap-siap untuk berangkat kekampus UGM walaupun belum tahu jalannya tapi sudah berjanji kemaren untuk berekelana dikampus sambil melihat keadaan-keadaan UGM. Pasti sangat berbeda dengan kampus sebelumnya, akhirnya berangkat dari kosan melisir jalan-jalan sambil menghapal satu-satu bersimpangan agar balik kekosan tak salah alias nyasar heheee….sambil menikmati indah embun dan hawa pagi dikota yogya (kaliruang km5)

Lebih kurang 20 menit perjalan akhirnya sampe juga kampus UGM walaupun dengan rute yang salah namun tetap berhasil bisa ke MIP UGM dan lansung keruangan tata usaha untuk melengkapi persyaratan dan sebagainya. alhamdullah belum banyak yang datang untuk daftar ulang sambil bercengkrama dengan staff. Setelah selesai keluar dari rungan dan melanjutkan untuk mengkoneksi dengan dunia luas (internetan) biasalah kalau sehari tidak internetan seakan-akan ada yang hilang memang merupakan salah satu hoby.

Yakin mampu bertahan disini (yogya), yakin rasa ini hanya sesaat saja setaleh mengetahui rute dan medan perang ini yakin tak akan pernah menyerah bahkan bakal bertahan bertahun-tahun disini. Seperti dulu kenal dengan kota kembang setelah beberapa bulan disana jadi essay goin enjoy, happy fun dan always smile.

Ya rabbi jangan pernah bolak balik hati ini lagi, tak ingin mengecewakan orang rumah gara-gara “rindu mereka”. Kokoh dan kuat harapan dan asa ini hingga waktu berakhir. Jangan pernah kalah dengan detik yang berjalan. Buat hati ini selalu merasa nyaman dan indah dimana dan kapan berada. Sehingga kemenangan selalu untuk diri ini.

SAKIT DI RANTAU URANG


Tidak ada satupun orang ingin sakit, kenapa? mungkin beribu-ribu alasan tak ingin merasa sakit apalagi sakit hati hehee…. Terkadang sakit juga membawa berkah dan rizki buat yang lagi merasakan (mang iya, masak sichh ^_^hehhee ya udh klw gak percaya) serta dengan sakit pula membuat orang berpikir dan mensyukuri begitu nikmat hidup sehat dan senyum. Tapi tak ada satu orang pun bisa  menolak karena semua telah ketetapan sang Illahi dalam menjalani scenario Nya seandai bisa nego  “tentang sakit” mungkin diatas bumi semua pada sehat walfiat, rumah sakit pada kosong tak ada penghuninya “pasien”, dan dokter tak berfungsi sebagai ahli medis.

Sakit itu datang lagi menghampiri walaupun tidak sampai berbulan seperti beberapa tahun yang silam pernah merasakan sakit seperti ini, bersyukur Rabbi menegur lewat sakit seandainya tidak ditegur melalui sakit tak akan pernah sadar begitu mahal dan indah kesehatan, begitu agungnya pribadi yang kuat dan tangguh. Dimana hampir mengsepelekan kesehatan gara-gara bergadang larut malam, tak tidur semalam tanpa tujuan yang jelas dan menjaga makan yang tak beraturan serta tak mengkonsumsi vitamin sebagi suplmen penguat otot dan pikiran dalam menggerakkan sendi-sendi dinamis kreatifitas. Semua habbit terhenti sejenak walapun Discard sesaat merasa begitu sedih dan sedih apalagi sakit dirantau uhang duuuuuuh bikin tambah sembilu deccchhh hati (seakan-seakan tertusuk duri durian hehheee…lebai pisan euyyy) habis apa yang diinginkan gak ada bantuin kalau minta tolong teman begitu segan dan berat mulut untuk mengatakan minta tolong seakan-akan menyuruh (duuuuhh sedih…seandainya sakit dirumah enak, siapa bilang? sakit gak ada yang enak hahaa….) tapi apa boleh buat bahagia, sedih, dan sakit harus dijalanin dengan ikhlas, jangan hanya ketika gembira “happy fun” hidup dijalanin dengan ikhlas tapi setiap moment harus disambut dengan ikhlas dan senyum. Jika setiap detik, jam, hari-hari disambut dan ditunggu dengan ikhlas sungguh betapa indahnya dunia yang dirasa dan begitu luar biasanya nikmat Rabbi yang dikaruniakan.

Sakit sepekan membuat harus istiharat total disini berjuang dan bertarung untuk sembuh dan sembuh dari sakit walaupun butuh beberapa minggu untuk pulih secara normal tak pernah berhenti untuk terus ikhtiar agar cepat dan berdiri dari kasur yang membuat berangan-angan serta malas berbuat apa-apa. Sungguh luar biasa bertarung dan bergulatan jiwa dengan sakit, dimana disini harus bertarung untuk melawan sebotol sirup dimana selama sakit tidak suka dengan sirup untuk minum sesendok sirup perlu beberapa trik, cara agar sirup bisa ketelan lebih baik  dikasih pil-pil seukuran apapun bakal dilahap kayak lalapan (yang benar aje hehee…) dan disuntik beberapa kali asal jangan namanya “sirup” nyerah dan angkat tangan, aneh juga kok bisa gak suka sirup!!! mungkin sejak kecil saat sakit tak pernah dikasih sirup atau….gak tahulah?? Namun dipaksa walaupun butuh waktu beberapa menit untuk menyatap sirup tersebut karena tak ingin sakit ini berlarut-larut seperti dahulu kalanya apalagi sakit dirantau orang. Alhamdullah dan bersyukur dengan sakit dikampung orang sungguh diuji sejauh mana kesabaran menghadapi sakit, sejauh mana kedewasaan ini, sejauh mana ikhtiar menghadapi sakit, dan sejauh mana bisa mensyukuri karunia Rabbi. Karena ini adalah  pertama kali sakit dikampung orang sejak jauh dari keluarga tercinta karena Allah Swt, jangan sampai terulang lagi jika boleh memilih namun jika itu telah ditetapkan Rabbi untuk merasakan sakit dikampung orang apa boleh buat harus diterima bagaimanapun keadaannya.

Begitu banyak hikmah saat merasa sakit dirantau orang antara lain

  1. Jangan pernah mensepele atau cuek dengan teman/tetangga yang lagi sakit, kenapa karena jika suatu saat giliran kita sakit ada yang menolong dan mengulurkan tangan pertolongan dan alhamdullah sejenak sakit banyak uluran tangan teman walaupun hanya menanya itu sungguh sangat berarti apalagi ditemanin subhanallah nikmat yang luar biasa. Sungguh hidup ini saling mengisi, saling berbagi dan melengkapi tak akan bermakna hidup jika tak saling menutupi satu sama lain (menolong).
  2. Kesabaran disini sangat diuji dimana selama ini “kita bilang koe orang sabar dan tabah” apa iya? saat kita diuji dengan sakit apakah sabar atau malah mengeluh kenapa ya kok sakit sebentar lagi ujian atau apalah nama kegiataannya dan apalagi dikampung orang. Seandainya masih ngomong seperti itu berarti belum sabar secara kaffah (total) saat sakit ini mengukur statistic kesabaran kita sudah mencapai one hundred percent (100%) atau sangat jauh dari itu. Semakin sering melanda sakit semakin terasah kesabaran dan semakin bisa mensyukuri nikmatNYa.
  3. Saat dirundung sakit atau demam, saatnya kita merenung (muhasabbah) tentang diri kita apa yang kita berbuat life forever selalu mentabur kebaikan atau dosa, kehadiran kita memberi manfaat khususnya orang tercinta (keluarga) dan lingkungan sekitar atau sebaliknya malah hadirnya kita membuat bummerang na’uzubilamin zaliq. Sungguh saat sakit times perenungan paling sacral kenapa? Karena saat itu kita merasa lemah dan tak berdaya dihadapin sangkhalik sehingga begitu mudah untuk menetes air mata kesucian. Kalau gak percaya coba aja kalau belum berhasil coba sekali lagi hehhee….garing banget
  4. Berusaha sendiri tanpa bantuan berarti dari lingkungan sekitar, dimana saat sakit memang niat atau egois kita untuk sehat harus ditanam apalagi sakit diidapi kronis jangan pernah menyerah karena setiap usaha pasti akan membuahkan hasil walaupun tak seperti diingikan. Sedangkan Orang hanya bisa ngomong cepat sehat dan bisa menolong lewat doa karena memang hanya bisa lakukan seperti itu. Memang setiap apapun kita peroleh dan inginkan tidak ada diperoleh secara instant (memant mie instant ya hhehee…) perlu pengorbanan luar biasa tidak ada kesuksesaan diraih secara hura-hura semua digapai dengan kegigihan (usaha).
  5. Hikmah paling berkesan dari sakit ini adalah akhirnya bertahun-tahun tak mau namanya “sirup” akhirnya finally “bisa menerima kehadiran sirup hahaaa…”. Jadi teringat kata-kata pepetah apa yang tak diinginkan dan ditakutin harus ditaklukkan karena ketakutan hanya hilu sinasih atau bayang-bayangan sesaat.  Maka untuk kedepannya tidak ada kata takut dan tak ingin menghadapi permasalahan jika itu positif dan baik, kenapa takut? jika niat kita baik insyallah Rabbi selalu menyertai hambaNya.

Walaupun sudah pulih dari sakit tapi belum bisa seperti awalnya perlu waktu pemulih secara perlahan-lahan, makanan yang dikonsumsi harus bervitamin dan berkalori untuk meningkat daya tahan otot, setiap hari harus drink juice untuk menambah serat dan sebagainya. Repot juga dengan menu makan harus diatur biasakan anak kosan makan apa adanya “heheehee” tapi semua dijalanin keep smile ukhti demi satu kata sehat dan sehat, rela ribet dengan pola dan menu makanan. Rabbi sangat mencintai hambanya yang kuat karena dengan pribadi yang kuat bisa menjalankan syariatNya, mengsyiar nilai-nilai islam walaupun satu ayat dan dengan jiwa yang kuat akan dijauh dari godaan setan serta sekutunya.

Endingnya hanya mengatakan selamat tinggal sakit, sorry koe tinggal dan lempar dikau sakit kelaut jangan pernah hadir dan datang lagi dalam kehidupan koe. Memang penyakit orang apa? kok sampai bilang selamat tinggal hahaha…..byeeeebyeeee sakiiitttttt

BUAT SAHABAT KOE



Berawal dari mana koe kenal dengan dia sungguh tak ingat bahkan mengetahui, sehingga koe bisa dekat dengan orang tersebut. Berjalan dengan detik, menit, jam, hari dan bulan kita semakin dekat atau bisa ada merasakan kecocokkan satu sama lain walaupun kita berkomunikasi hanya dengan menggunakan media yang sudah booming dinegara kita yaitu internetan dan HP (hati perasaan kalau mengartikan hehehee….). berbulan kita tetap berhubungan sebagai teman yang saling berbagi dan memotivasi satu sama lain.

Ternyata dengan berlalunya hari dan bulan telah menoreh cerita dia antara kita, walaupun cerita tidak seromantis sinetron dan ekstrem film tapi cerita itu lah mampu mengikat dan menyatukan dengan jarak yang berjauhan.  Itulah persahabatan tak mengenal gerak dan ruangan serta getakulasi, sungguh persahabatan yang kita jalin membuat kita semangat meraih dan mengapai hari esok yang gemilang didepan bola mata.  Persahabatan ini pula membawa koe kejalan kebenaran yang selama ini koe tinggalkan, membawa koe semakin ingin lebih menggali dan mengapalikasi ajaran tauhid ini hingga Rabbi mencabut izin koe berjalan dan tinggal di ar’sy ini. serta dengan perkenalan itupul ingin survive dan istiqomah dalam genggaman sangmaha mengetahui dan sangmaha setia. Sungguh persahabatan itu telah membawa keberkahan dan kesadaran pada koe mengevaluasi dan mengceklist serta memriview ketahuid-tahuidan yang sempat dikesampingan serta dikesampingkan.

Sehingga suatu ketika Rabbi yang maha menyatukan mempertemukan kita disuatu tempat yang sebelumnya tak pernah terpikir bahkan membayangkan dimana bisa tersenyum bareng, jalan bareng, dan makan bareng. Saat itu pula persahabatan kita bina dengan fondasi keikhlasan itu semakin erat dan menyatukan ibarat menyatukan lidi-lidi untuk membersihkan debu dan sampah yang berserakan dalam jiwa dan raga agar mendapat keniscayaah  dalam setiap sentuhan dan helaian napas yang kita keluar dan berdengus.

Walaupun pertemuan tidak lama tak itu sangat berarti dan terkenang hingga tak tahu sampai kapan koe kenangan manis dan haru itu. Dimana begitu banyak hikmah yang terpetik dan terkutip dari pertemuan yang sesingkat mungkin, itulah Rabbi maha mempertemukan hamba-hamba walaupun dengan waktu yang tidak tertentu, menjalin silaturhami, dan persaudaraan (ukhuwah). Saat dan detik perpisahan itu pula ada rasa yang hilang dalam dengusan napas, dentak jantung, dan kaki begitu susah untuk dilangkah serta tak mampu untuk diungkapkan dengan sejuta kalimat dan seebrek pragraf karena semua telah terwakili dari tetesan air mata walaupun genangan air kesucian itu tak sempat menetes. Tapi semua telah mengambarkan bahwa rasa yang tertanam dalam benak dan qolbu telah percampuran antara bahagia dan sedih. Tapi tak mampu untuk menghalang kepergian sahabat, andaikan mulut sanggup melontar sepatah kata mungkin akan menghalang langkah itu pergi dari wajah dan tubuh ini. namun pertemuan itu membuat semakin merasa sungguh dunia berwarna seperti sinaran  pelanggi mungkin melebih dari terang pelanggi dilangit.

Saat perpisahan itu berpikir mungkinkah kita dipertemukan ditempat itu atau dengan scenario yang lain, sungguh tak mampu memicahkan segala perasaan itu yang telah bertumpuk di otak, perpisahan itu terjadi juga hanya di lepas dengan lambaian tangan dan tatapan mata yang menahan genangan tetesan air mata.  Perpisahan yang tak diinginkan, tapi apalah daya setiap pertemuan pasti ada akhirnya karena dimuka bumi tidak ada yang abadi bahkan kekal. Walaupun secara raga terpisahan tapi jauh dalam lubuk hati paling dasar kita belum terpisah karena begitu kuatnya rasa persahabatan yang terbangun dan tak pernah memutuskan komunikasi walaupun hanya sesaat tapi hakikat komunikasi itu sangat terasa.

Koe berharap persahabatan ini selamanya tapi harapan dan impian yang koe anggan-anggan tidak seperti terpikirkan, dimana tak ada tanda sesuatu hal yang aneh dan ganjalan diantara persahabatan kita. Malah dia memberi sederat kata yang membuat koe kaget dan langsung menetes air mata karena semakin tak tertahan lagi. Dunia seakaan tak berarti, hancur, yang diinjak hanyalah lumpur dan bara telah membakar sekujur tubuh, pikiran tak menentu, tanggisan dan isak semakin beritme. Bahkan mata tak mampu dipejam dengan cara apapun semakin begitu terpikir dengan sahabat koe. Disini membuat koe tak mampu berpikir secara rasional dimana telah terpengaruhi dengan perasaan sedih dan bergebu-gebu.

selama ini Sahabat koe sebagai alramt untuk terus istiqomah dijalan kebenaran yang penuh dengan onak, lembah dan jalan berliku-liku,  hilang begitu cepat ibarat petir menyambar batang pohon lagi bertunas. Sungguh dengan perpisahan terpukul dan terhembas tak sanggup melupakan itu semua, namun coba menyerahkan pada Rabbi tetap hasil belum maksimal menenangkan jiwa yang terselumuti sedih.

Sejak perpisahan itu koe coba menutup rapat  helai dami helai kenangan dan menguburkan dalam semua rasa, kenangan, kata yang pernah terukir di galaksi cinta agar tak kembali diperbaduan koe. Sahabat koe hanya bisa mengatakan terimakasih engkau telah mewarnai hari-hari koe walaupun ending kau meninggal koe secapat itu, sahabat terimakasih kau goresan luka nan begitu perih dan galau telah tertancap diulu hati koe paling suci, sahabat maaf  koe andaikan selama ini setiap kata dan kalimat terungkap berlebihan dan membuat kesal dihati mu, sahabat hanya bisa mengucapakan selamat atas perjuangan mu dalam mencari teman sejati semoga kepersamaan engkau dan dia sampai akhir ayat. Amin.

Terakhir biarlah sekujur tubuh ini koe bawa entah kemana dan mengikutu gelombang ombak yang begitu kejam dan kini biarkanlah koe mengemis pada orang-orang yang ingin mengluarkan koin kasihan pada koe untuk menghilang dan mekikis seonggok kesedihan yang telah berakar dan Koe akui kalah dengan pertarungan ini.

for u MIH

%d bloggers like this: