Imingkan rakyat dengan ide bukan dengan uang


Bismillah…

Menarik mencermati para pejabat atau timsukses pejabat datang kerumah-rumah penduduk baik dalam rangka mencari suara, sebatas bulusukan untuk melihat kondisi masyarakat atau diundang sebagai tamu hajatan. Dalam kunjungan tersebut terdapat hal penting yang tidak patut dilakukan bahkan ditiru sebagai pejabat karena selalu diiringi dengan amplop yang berisi uang yang disuguhi kepada masyarakat, isi amploppun beragam mulai ratusan, jutaan, barang berharga hingga menjanjikan suatu hal sangat pretesius.

Padahal ketika pejabat publik memberi wejengan seperti itu, sesungguhnya melatih masyarakat selalu meminta, bahkan ada anggapan masyarakat untuk memanfaatkan pejabat publik ketika mencari dukungan karena daya tawar masyarakat bisa bergaung saat pejabat mencari dukungan, dan melatih masyarakat tidak berpikir kritis maupun logis. Terlepas dari tujuan baik atau tidak, tentu ini harus dilihat dari sisi positif bahwa apa yang mereka lakukan tidak memberi kesan positif dan mencerdaskan.

Ini juga tidak bagus bagi pencitraan pejabat sendiri, seakan-akan pejabat tidak memiliki ide cemerlang dan hanya sanggup memberi uang tapi miskin ide. Berbeda jauh dari gelar yang disandang berderet-deret. Padahal ketika pejabat menyandang suatu jabatan dan gelar. Itu mengindikasikan kaya ide, kaya solusi dan siap mencerdaskan sebab demokrasi saat ini sangat dangkal ide menuju perubahan bahkan perubahan yang diusungpun tidak dipaparkan bagaimana strategi menuju perubahan tersebut.

Secara etika kepemimpinan Menurut Wahjosumidjo (1987:11) pada hakikatnya adalah suatu yang melekat pada diri seorang pemimpin yang berupa sifat-sifat tertentu seperti: kepribadian (personality), kemampuan (ability) dan kesanggupan  (capability). Tapi saat ini para pejabat atau calon pejabat kehilangan ide karena lebih mengusungkan uang dari pada menawarkan ide besar, bukan seperti ini merupakan kedangkalan demokrasi yang sangat berbahaya dan merusak moral demokrasi.

Akan tetapi ada pertanyaan yang harus kita lontarkan pada pejabat publik, kenapa meraka begitu suka iming-imingkan uang dari pada mengimingkan ide pada masyarakat? Lantas apa yang salah? Secara sepintas tidak ada yang salah. Sebab santunan yang diberikan bisa membahagiakan penduduk sesaat. Namun jika melihat fenomena tersebut dari sudut pandang kepemimpinan atau dikaji dari teori kepimimpinan tentu sudah tergambar bahwa pemimpin saat ini tidak sehat dan tidak kredebelitas. Padahal  karakteristik harus dimiliki sebagai pemimpin atau calon pemimpin (1) memiliki kecerdasan cukup tinggi, (2) memiliiki kecakapan mendidik, dan (3) kecakapan memotivasi.

Sebaiknya pejabat tidak hanya dilarang menerima parsel tapi ada regulasi mengatur bahwa tidak diperkenaankan memberi parsel, amplop, hadiah, dan janji pada masyarakat. Sebab terkesan apa yang diberikan pejabat, dianggap umpan untuk mendukung meraka dalam rangka meraih posisi strategis kembali. Sedangkan praktek serah-terima amplop sudah terjadi terang-terangan di kalangan pemimpin, menunjukkan tipisnya komitmen moral dan rendahnya rasa malu calon pemimpin bangsa. Jika pejabat publik kredebilitas, kapasitas dan memahami fungsi sebagai leadership tentu akan memainkan peran sebagai pemimpin yaitu menggerakkan masyarakat untuk cerdas dan berpikir kritis seperti fungsi kepemimpinan, yaitu Kemampuan untuk menimbulkan semangat menuju perubahan.

Tulisan ini hanya memberi pandangan lain dari sebuah realitas di tengah minimnya ide dan etika kepimpinan di era gelombang ketiga, tanpa bermaksud pemimpin tidak boleh memberi bantuan. Tapi lihatlah kondisi kapan pemimpin memberi uang dan kapan memberi ide!!! Akhirnya kembali kepada pemimpin bangsa apakah mereka ingin terus mengimingkan uang atau terus menularkan ide cerdas. Saat masyarkat disuguhi ide mahal dan ide cerdas mampu menumbuhkan jiwa kemandirian, jiwa cerdas dan jiwa yang siap berasing dalam beradaban globalisasi.

Mudah-mudahan tulisan ini turut mencerahkan elemen bangsa dalam menghadapi era persaingan global nyaris tidak terkendali dalam upaya  mendukung atau memilih pemimpin menuju perubahan lebih baik.

 Tulisan sudah diterbitkan di Koran Jambi Independent, edisi senin, 17 Maret 2014

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Seakan-akan Masyarakat Indonesias bersahabat menolak kebijakan pemerintah melalui demontrasi


Bismillah…

Hampir setiap hari kita disuguhi demontrasi baik melalui tayangan televisi maupun menonton secara langsung dijalan-jalan protocol. Tentu banyak alasan, tujuan dan motif kenapa masyarakat demontrasi. Apalagi dizaman era demokrasi diberi kebebasan pada masyarakat untuk mengeluarkan pendapat, mengluarkan aspirasi, menentang kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan dijamin dalam Konstitusi Indonesia. Seperti dijelaskan dalam

UU No. 9/1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum dan hak untuk melakukan demonstrasi ini dilindungi oleh Konstitusi yaitu UUD 1945 [Pasal 28E ayat (3)]

Hak ini dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk antara lain (1) unjuk rasa atau demonstrasi, (2) pawai, (3 rapat umum, atau (4) mimbar bebas Pelaksanaan bentuk-bentuk penyampaian pendapat di muka umum tersebut dapat dilakukan di tempat-tempat terbuka untuk umum.

Pada umumnya kebiasaan demontrasi dilakukan ketika menentang aturan yang tidak prorakyat. Mungkin masyarakat hanya memiliki kekuataan menentang kebijakan melalui demontrasi dan tak berdaya dalam berdiplomasi.

Dan sayangnya rata-rata demontrasi selalu berakhir tragis, bentrok, merusak fasilitas umum maupun asset negara dan yang dirugikan tetap masyrakat dan Negara indonesias. Ironisnya masyarakat belum memahami aturan demonstrasi, tidak boleh melanggar norma agama, adat, kesopanan, kesusilaan dan sangat demontrasi berakhir dengan damai.

Misalnya ketika berdemontrasi menggunakan kekerasan, terbawa kebengisan, dan terjadi perusakan fasilitas public. Ketika asset Negara rusak tentu menambah APBN, tentunya APBN tersebut menggurangi anggaran lain (anggaran pendidikan, anggaran kesehata, dan pembangunan lainnya).

Padahal masih banyak fasilitas harus dibangun oleh Negara demi kesejahteraan, kemakmuran rakyat dan terbentuknya layanan prima. Mungkin para demontrasi belum terpikir kesana, atau mungkin terbawa puncak kemarahan dengan kebijakan pemerintah tak pernah mendengar aspirasi mereka dan masih pro dengan golongan tertentu.

Atau mungkin cara seperti itu masyarakat bisa menyelesaikan masalah, atau mungkin dengan berdemo para pemerintah mau mendengar keluhkesah rakyat kecil, atau mungkin dengan diplomasi aspirasi rakyat diabaikan. Sehingga terlahir, tergerak, terdorong apapun kebijakan yang tidak memihak masyarakat kecil maka jalan harus ditempuh adalah berdemontrasi.

Dari demontrasi pula kita bisa melihat bahwa karateristik rakyat Indonesia lebih suka menyelesaikan masalah dengan tak cantik “demontrasi atau rusuh”. Terlihat pula masih ada sebagian masyarakat belum mehami hakikat demontrasi atau masyarakat sudah bersahabat dengan demontrasi.

alhninkuning 

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

 

Ngeri sedap-ngeri sedap kalimat politisi


 

Ternyata tidak hanya selebritis dan masyakarat umum saja yang memiliki kalimat unik yang sering dilontarkan. Dimana sekarang ada beberapa politisi memiliki ungkap unik sehingga kalimat tersebut sering digunakan pula oleh masyarakat kalangan bawa. Maka benarlah kata pepatah hendaklah untuk menyampai kalimat indah dan santun. Nah berikut ini ada beberapa politis memiliki ungkap unik hooo….^__^ ini mungkin bisa dipakai entitas atau brand tersendiri

 

Versi Politisi

Ngeri-ngeri sedap itu barang….”__*

Yang mulia saya tidak pernah bertemu

Tidak tahu yang mulia

Saya lupa yang mulia

Saya tidak di beri tahu

Ketua besar

Bos besar

Apel washiton

Apel malang

Pembina kami yang sangat santun

Banggalah pada beliau

Cicak dan buaya

Main itu barang

Versi artis

No coment

Asyik-asyik-asyik

Ada dech

Sesuatu banget

 

Mungkin masih ada lagi jargon unik para artis atau politis namun yang masih on/update dikalangan masyarakat di tahun 2011 dan 2012 seperti kata-kata diatas. Menurut penilaian penulis kalimat sangat unik yaitu “ngeri-ngeri sedap itu barang”. Setuju atau setuju para pembaca dengan perspektif penulis…”semoga setuju” wkwkwkwkwk ngeri-ngeri sedap itu barang hohohohoooooooooooo ^__^

Tetapi ada beberapa tangkapan rakyat Indonesia sangat ngeri-ngeri sedap pula. Berikut tanggapan sedap masyarakat…

–          Kalau pejabat banyak lupa kenapa masih jadi pejabat, takutnya semua pekerjaan yang akan dilakukan sudah lupa….ckkkkk ngeri-ngeri sedap itu barang hooooo

–          Jika tidak tahu apa yang diketahui  jangan-jangan hanya mengetahui kekuasaan sedangkan  kejujuran gak kenal tuuuuhhhhhhhh wkwkkkk

–          Yang mulia benar saya tidak benar ketemu rakyat tapi ketemu penguasa-penguasa sering yang mulia…….ciaaaaaaaaahhhhhh makin ngaco dech

–          Yang mulia saya tidak pernah dikasih tahu tentang kasus tersebut tapi benar yang mulia saya dikasih tahu untuk berbohong….”main itu barang hiiiiiiiii”

–          Asyik-asyik-asyik sekarang dagangan gw laris oleh pejabat terutama apel washiton dan apel malang….”jadi perlu buka lapak baru lagi nich buat jual buah yang lain” hhheeemmmm

Wah cukup aja dach komentar ajaib masyarakat indonesia takutnya makin ngeri-ngeri sedap Negara ini gara-gara banyak yang tidak tahu dan tidak diberi tahu….

%d bloggers like this: