Hikmah Mempublish Buku Di Social Media, Blog Dan Web


“Menulis menjalin silaturahmi, menulis mempertajam analisa, menulis menambah teman, menulis memperluas teman dan menulis bisa sebagai pintu meraup pahala”.

20150217_161226Tanggal 17 Februari 2015 Jam 16.00 Wib paket sampai dirumah yang sebelumnya dapat informasi dari expedisi bahwa ada kiriman dari graha Ilmu. Sebelum asar paker sudah dirumah, kaget dikrim buku begitu banyak ternyata royalty dibayar bentuk buku. Setelah mendapat paket tersebut coba cek tetapi belum sempat menghitung berapa eksmplar.

Setelah mendapat langsung publish dissocial media (facebook) dan tag teman-teman yang bersentuhan dengan ilmu perpustakan baik itu dosen, praktisi, pustakawan, mahasiswa dan masyarakat yang bergerak dibidang informasi. Sebelum tag coba ingat-ingat siapa saya harus ditag agar tidak salah mengtag sebab tidak semua orang senang ditag apalagi jika yang akan ditag berkaitan jualan online. Sekitar 69 sudah ditagkan berharap dengan adanya tag tersebut ada respon, tanggapan dan memesan. Untung selama ini memiliki account beberapa sosial media, aktif menulis diweb keroyokan, antusias menulis diblog dan lalulalang diweb pribadi semakin mempermudah untuk promosi karya. Sepertinya bagi penulis harus aktif atau memiliki account sosial media jika bisa harus familier dengan blog maupun web sebab mempermudah pada marketing apalagi sebagai penulis pemula diperlukan ekspos yang ekstra. Maksimal media tersebut dan ketika sudah dipublish diweb, blog dan sosial media maka sudah maju selangkah dalam promosi. Apalagi saat ini seluruh lapisan masyarakat sudah terkoneksi dengan internet dan selalu menjadi internet sebagai referensi utama ketika membutuhkan informasi.

Dua hari buku dipromosi melalui sosial media sudah sekitar 20 orang yang memesan buku terutama pustakawan dan dosen. Belum terlihat mahasiswa perpustakaan yang memesan. Selain itu ada hal yang harus disyukuri dan berdampak positif yaitu bertambah nya teman-teman terutama difacebook. Tidak hanya itu melainkan bisa sharing dengan senior-senior, menambah relasi, bertaruf dan terjalin silaturahmi. Kemudian dengan ada pesanan dari teman-teman harus cepat menanggapi atau merespon pertanyaan mereka sehingga agak terganggu beribadah padaNya karena tidak ingin ketika semakin bertambah nikmat dari Allah membuat melalaikan Rabbi. Bisa membayangkan bagaiman mereka yang jualan online yang harus menjawab pertanyaan satu para pelanggan mereka, punya kesibukan tinggi dan mengisi acara dimana-mana masih adakah waktu untuk beribadah padaNya!!! mungkin ada kesempatan akan tetapi lebih menjalankan perintah yang Wajib sedangkan yang sunnah mungkin jarang kali ya. “itu asumsi saja, apakah realitas juga begitu”.

Pertemanan baru dan silaturahmi baru melahirkan butiran-butiran cerita sekitar penulisan, penerbitan, royalty, pengalaman menulis, saling berbagi informasi dan saling menyemangati untuk menghasilkan karya. Itu adalah pertanyaan yang wajar dilontarkan karena masih banyak orang ingin menulis diluar sana tetapi belum bisa tembus penerbit nasional walaupun tembus terbit akan tetapi harus ada kesepatakan bayar diawal. Itulah pertanyaan rata-rata dipertanyakan. Semua pertanyaan yang dilemparkan pada ia dijawab sesuai pengalaman dan sepengetahuan.

Hal menarik dapat disimpulkan dengan diskusi berbagai tipikal usia, profesi dan wilayah bahwa siapapun penulis baik pemula maupun sudah penulis terkenal selalu mengatakan baru belajar menulis. Ternyata penulis sudah menghasilkan karya masih tersimpan rasa tidak pecaya diri, apakah buku tersebut diterima atau ditolak oleh masyarakat. Atau jangan-jangan rasa seperti itu hanya muncul bagi penulis pemula saja seperti ia!!! Lumrah saja ketika timbul perasaan begitu karena setiap apapun yang dihasilkan manusia akan direspon berbeda. Tetapi perasaan tersebut tidak muncul ketika menulis berbagai opini di majalah online nasional dan Koran lokal.

Lebih menariknya lagi dari hasil sharing dengan beberapa penulis bahwa yang melarbelakangi untuk menulis atas keterpaksaan, ingin meningkatkan jabatan dan menambah angka kredit. Ini bagi meraka yang bekerja sebagai abdi Negara. Semoga dengan keterpaksaan benar-benar membawa mereka untuk menjadi penulis professional. Dengan adanya kewajiban dari pemerintah bagi abdi Negara untuk menghasilkan karya merupakan cara baik untuk mendorong lahirnya tradisi tulis menulis. Ketika seluruh abdi Negara dari Timur hingga Barat sudah punya culture tersebut bisa melahirkan produktivitas keilmuan berbagai bidang. Sebab Indonesia termasuk Negara dengan pertumbuhan penulisan yang sangat rendah jika dibanding dengan Negara ASEAN padahal jumlah penduduk Indonesia dengan penduduk ASEAN lagi sangat jauh perbedaannya. Sayangnya meskipun sudah dipaksa dengan ketentuan tersebut, masih belum terlihat keantusiasan para abdi Negara untuk menghasilkan karya. Padahal angka kredit tinggi nominalnya dibandingkan dengan pekerjaan lainnya. Bagi abdi Negara memiliki jiwa menulis merupakan nilai uplause tersendiri karena banyak membawa keberkahaan.

Lain hal bagi meraka yang suka nulis, hoby nulis dan beranggapan nulis adalah goodculture tentu tujuan menulis tidak sebatas angka kredit melainkan maksud untuk menginspirasi, mencari pahala melalui tulisan, berbagi cinta dengan kalimat motivasi dan bisa menambah relasi. Sudah banyak contoh meraka-mereka yang cinta menulis membawa sebuah kejutaan-kejutaan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Bahkan setiap orang menjadi penulis memiliki tujuan berbeda ada sebatas melepaskan hobby, menjadi sebagai lahan meraih financial, menambah relasi, bertujuan untuk mengisi acara skala Nasional maupun lokal dan famous. Kesemua itu bisa menjadi niat atau tujuan bagi penulis. Ada baiknya menulis tidak hanya tujuan dunia melain menjadi menulis sebagai lahan dakwah, mengajak orang dalam kebaikan, memotivasi untuk menjadi pribadi anggun dan menyadari manusia untuk mengenal pemilik bumi.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Budaya Kerja Pustakawan Era Digital Perspektif Organisasi, Relasi Dan Individu


Penulis: Testiani Makmur

Penerbit: Graha Ilmu

Tahun Terbit: Februari 2015

Cetakan Pertama: 2015

ISBN: 978-602-262-401-1

Harga: Rp. 64.800

 

Budaya Kerja Pustakawan Era Digital Perspektif Organisasi, Relasi dan IndividuBerbicara budaya kerja merupakan suatu hal yang penting di era masyarakat Ekonomi Asia. Budaya kerja bisa ditinjau dari berbagai hal dan setiap unsur yang terdapat dalam lingkungan kerja sangat mempengaruhi atau fluaktuatif budaya kerja. Bilamana mengamati perusahaan swasta atau Badan Usaha Milik Negara ada sebagian sudah memiliki budaya kerja yang inovatif akan tetapi masih menemui bebarapa instansi belum menciptakan budaya kerja. Padahal ketika suatu instansi sudah memiliki budaya kerja maka memberi pengaruh positif bagi instansi, personal maupun relasi. Selain itu ketika instansi telah memiliki budaya kerja maka menambah inovatif yang sangat luar biasa. Budaya kerja merupakan syarat utama, syarat penting dan syarat brilian bagi perkembangan perpustakaan.

Hadirnya buku Budaya kerja Pustakawan Era Digital Perspektif Organisasi, Relasi Dan Individu memberi angina segar dimana selama ini referensi budaya kerja khusus untuk ilmu perpustakaan belum ada. Meskipun ada beberapa akademis perpustakaan yang menulis makalah tentang budaya kerja lebih melihat dari satu sisi misalnya dari sisi budaya perseorangan. Akan tetapi buku yang baru diterbit 16 Februari 2015 menyajikan budaya kerja secara komplit yaitu meninjau dari sisi Organisasi yang berkaitan (struktur organisasi, norma, dominat value, ritual atau ceremonial, dan performance reward), selanjut yang berkaitan sisi Relasi yang dikupas berupa (Risk toleransi dan toleransi konflik) sedangkan disisi individu berhubungan (individual, kompetensi dan komitmen).

DI berbagai sisi tersebut dibahas dengan bahasa yang sangat ringan, sesuai dengan kondisi kekinian dan terdapat pula solusi yang seharus diterapkan ketika akan menerapakan budaya kerja. Sebaiknya kehadiran budaya kerja pustakawan diciptakan tidak hanya sebatas berbeda dengan budaya kerja dengan instansi lain melainkan sebagai mesin penggerak bagi pustakawan untuk menumbuh nilai-nilai kerja yang sesuai dengan standar. Upaya ini penting dilakukan dengan tujuan membangun budaya kerja agar perpustakaan bisa meningkat produktivitas kerja, membentuk perilaku kerja serta membantu anggota-anggota organisasi sense of belonging terhadap organisasi. Kemudian memberi dampak bagi pustakawan atau perpustakaan karena dituntut memiliki keunggulan secara internasional baik melalui perencanaan kerja maupun misi perpsutakaan yang visioner sehingga mampu bersaing ditataran regional maupun internasional.

Hal tersebut harus didukung oleh berbagai eleman yang terdapat pada organisasi, relasi dan individu itu sendiri. Kemudian yang mempengaruhi tercipta budaya kerja pustakawan ketiga sisi tersebut saling mendukung, saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Jadi budaya kerja pustakawan tidak akan tercipta hanya didukung oleh sisi satu belaka. Maka dari itu bagaimana menyatukan tiga sisi tersebut menjadi satu bisa dibaca melalui buku ini.

Jika pembaca tertarik untuk mengkoleksi buku tersebut bisa menghubungi langsung melalui email: sholiatalhanin@yahoo.co.id, whatshpas 0853 2580 3374, pin 763f9724

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Terwujud Jua Menjadi Penulis Pemula: Budaya Kerja Pustakawan Era Digitalisasi Perspektif Organisasi Relasi dan Individu


llahu akbar-Allahu Akbar

Subhanallah-Subhanallah

Alhamdulillah

20150217_161136Hari ini (16 Februari 2015) mimpi beberapa tahun yang lalu (2007) terwujud, ketika kuliah distarta satu dipulau Jawa pernah mimpi untuk memiliki sebuah karya berupa tulisan. Saat itu tidak pernah kepikiran apa yang bisa tulis karena saat itu cara merangkai kalimat sangat tidak enak dibaca, sangat jauh dari pedoman penulisan, sangat tidak masuk katogori sebagai penulis pemula maupun sebagai penulis lepas. Entah kenapa tetap merangkai kalimat tersebut kemudian dipublish diblog. Berjalan waktu, kondisi, dan keinginan secara terus menerus mengasah, meracik dan mengaksesoris tulisan. Bertahun-tahun tulisan hanya berani dipublish diblog, apakah curhatan itu diklik oleh pencari informasi atau tidak. Tak menghirau yang pasti setiap minggu atau bulan bisa mengupdate. Kemudian setelah selesai strata dua coba mengirim tulisan di dakwatuna, saat tulisan diterbit secara nasional bahagia tak terkira, saat itu pula bercerita sama orang tua dan abang-abang tulisan tembus secara nasional. Mendapat apresiasi dari old brothers untuk terus menulis jika bisa tempus opini skala nasional. Ini yang belum dicobakan, entah kenapa terasa ciut langsung secara harus berlomba-lomba dengan mereka yang sudah lihai dan berpengalaman menakluk Koran nasional.

Bingung juga, diawali mana berkeinginan untuk menulis opini. Yang jelas menulis diopini didasari atas kegelisahan melihat lingkungan dan cara gampang  menyatakan pendapat secara massal yaitu dengan tulisan. Tulisan pertama dikrim seputar pemilihan legislative. Berjarak satu hari opini dipublish di Koran lokal ternama di tanah melayu. Disana mulai meyakini bahwa ia mempunyai jiwa menulis walaupun sebelumnya sudah bertenteng beberapa tulisan dihalaman majalah online nasional. Ternyata benar manusia tidak pernah puas apa diperoleh. Coba menantang diri untuk menulis buku dengan mengikuti tips-tips dibagi miss Olive dikegiatan penulisan yang diselenggarakan menteri ekonomi kreatif. Setiap hari selalu menghasilkan tulisan dan coba mengumpul tulisan ternyata menghasilkan dua naskah. Setelah diedit dengan penuh lelah dan krim kebeberapa penerbit nasional. Tiga bulan lamanya menunggu hasilnya sangat sedih yaitu ditolak dengan catatan bahwa naskah buku tidak layak diterbit. Rasa tak memiliki bakat menulis pun muncul, sedih ternyata hasil bergadang belum membuahkan keberkahaan dan ingin menyerah saja untuk bercita-cita menulis buku. Naskah buku tersebut dipublish di web (http:www.transformasiperubahan.com) jika naskah tidak bisa menghasilkan rupiah biarkan naskah itu menghasilkan pahala-pahala yang mengalir setiap klik maupun tersentuh bagi pembaca. Insha allah.

Sejak ditolak sejak itu mempudarkan keinginan untuk menghasilkan karya. Tapi Allah punya cara untuk mewujudkan keinginan dimana bertemu salah seorang yang sudah berhasil menerbitkan tulisan secara nasional. Dipertemukan diorganisasi yang bergerak dalam kepenulisan daerah. Setelah meeting dengan anggota pelanta, coba bertanya secara bertubi-tubi bagaimana bisa tembus nasional. Laki-laki itu berbagi tips dan memberi buku yang sudah diterbitkan. Akhirnya semangat itu kembali pulih, kembali mantap menghasilkan karya dan bergadang-gadang hingga larut malam. Seolah-olah ada harapan yang bersinar dengan menyinari rona wajah yang sempat sedih. Mulai bertekad untuk bisa berhasil, selama bergadang tidak menghiraukan rasa kelaparan, tak menghiraukan rasa perih dimata sehinga minus mata semakin menambah, dan tak menghirau ajakan untuk jalan-jalan. Terpenting focus menyelesaikan naskah.

Setelah naskah selasai, kembali sibuk mencari penerbit dan dari sekian penerbit yang dibaca history maka mantap mengirim naskah ke graha ilmu. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu persetujuan dari penerbit. Lagi-lagi acc tersebut seperti kisah pertama tulisan dipublish majalah online nasional. Tanpa basa-basi dan kebetulan keluarga ngumpul langsung menyatakan bahwa penerbit menerima naksah buku ia.

Kembali lagi dengan pepatah “Manusia tidak pernah puas”. Kini tiga buku sudah di acc penerbit, dua menunggu acc penerbit dan satu sudah diterbitkan. Buku yang sudah beredar yaitu “Budaya Kerja Pustakawan Era Digital Perspektif Organisasi, Relasi dan Individu”. Bagi pembaca tertarik untuk mengkoleksi, membaca dan membedah buku tersebut bisa langusng email (sholiatalhanin@yahoo.co.id), whatshap 0853 2580 3374, pin 763f9724 dan inbox melalui facebook. Sedangkan 2buku menunggu terbit diantaranya “Perpustakaan Era Keterbukaan Informasi Publik”, “Mengenal Kebijakan Sumber Informasi Perpustakaan” dan menungu persetujuan dengan judul “Revolusi Sumber Informasi Digital dan Perpustakaan Dalam Perabadan Islam”.

20150217_161226

Teruslah bermimpi, teruslah melangkah hingga menemu titik focus, ketika titik focus sudah ditemui lompatlah setinggi-tinggi mungkin jangan hirau kritikan yang tidak membangung. Bilamana mendapat kritikan jadi sebagai materi kontemplasi diri untuk terus menjadi sinar yang menyinari. Bila lompat sudah tinggi jangan berhenti lompat akan tetapi cari strategi lain untuk bisa bertahan atau bagaimana bisa eksis karena lingkungan terus berubah. Seandainya tidak mau mengikuti perubahan lingkungan maka siap-siap tinggal landas.

Jangan takut bermimpi, mimpi tidak seharusnya segara terwujud terpenting terus mengikuti proses dengan focus bukan bercabang. Seperti kalimat yang didapat salah satu kafe “bermimpilah biarkanlah bumi dan seisinya berkonspirasi untuk mewujudkannya”. Jangan lupa ikutilah proses yang diridhoi Allah. Terkadang proses dilalui disbanding dengan kebosanan, cobaan, kepongohan dan berhenti. Ikuti proses yang membuat kita semakin dekat padaNya dan jangan sampai mimpi membuat kita menduakan Allah. Balanced-kan mimpi dengan doa padaNya.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Keajaiban perpustakaan


Bismillah…

Tanpa dijelaskan secara detail sudah mengetahui bahwa perpustakaan adalah jantungnya pendidikan bayangkan andaikan jantung pendidikan tidak berfungsi dan dimanfaatkan semaksimal mungkin, apakah masih bisakah pendidikan bernafas, meningkat kreativitas bagi pembelajar?

Seharusnya pendidikan tidak bisa bernafas lagi ibarat tubuh manusia kalau jantung sudah tak berfungsi dipastikan tidak bisa lagi menghirup udara tapi analogi tersebut tidak berlaku dengan jantung pendidikan.

Lihat saja rata-rata jantung pendidikan di sekolah, perguruan tinggi, sekolah tinggi, institute dan universitas masih belum semakismal mungkin memfungsi jantung pendidikan tersebut sebagai sarana central kegiataan pembelajaran.

Bahkan perpustakaan seakan-akan kehilang pesona bagi pembelajaran padahal fungsi perpustakaan tidak hanya sebatas gudang-gudang buku melain perpustakaan sekarang telah memiliki esensial lebih yaitu perpustakaan merupakan tempat sangat ajaib. Kenapa ajaib?

Sebelum kita mengulas keajaiban perpustakaan sebaiknya mengetahui dulu kenapa perpustakaan kehilangan pesona dari setiap genarasi!!! Penyebab hilangnya pesona perpustakaan pertama pustakawan kurang santun dan ramah melayani pengunjung “pustakawan yutek” bahkan hingga sekarang masih diketemukan model pustakawan seperti itu disetiap perpustakaan sedangkan image perpustakaan bisa tercitra dengan baik didukung dengan budaya kerja pustakawan.

Walaupun canggihnya sarana perpustakaan jika pengelola perpustakaan tidak mampu mengaplikasi excellent service dipastikan tidak akan memberi kesan indah bagi pengunjung seperti kita lihat perusahaan bertaraf internasional pelayanan merupakan factor utama harus diperhatikan. Hendaknya perpustakaan juga menerapkan pelayanan excellent bagi pengunjung perpustakaan.

Kedua knowledge pustakawan harus diupgrade sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan namun pada kenyataan masih banyak pustakawan terutama disekolah maupun diperguruan tinggi menduduki profesi pustakawan bukan berlatar pendidikan Ilmu perpustakaan. Hendaknya Profesi pustakawan yang memiliki kompetensi, skill dan knowledge. Jika memungkinkan profesi pustakawan berpendidikan minimal S1 atau S2, bisa dibayangkan jika pustakawan rata-rata tamatan Strata dipastikan dinamisan perpustakaan cemerlang, dan gesit seperti perpustakaan pusat universitas Gadjah rata-rata pustakawan sudah tamatan strata dua.

Ketiga koleksi perpustakaan dari masa transisi hingga postmodern tidak berkembang sedangkan koleksi merupakan salah satu bagian menarik pengunjung untuk hadir dan memanfaat perpustakaan. Jangan sampai koleksi perpustakaan mengalah perpustakaan commercial, dan jangan pula koleksi diperpustakaan tidak memenuhi kebutuhan pengunjung. Kalau bisa koleksi perpustakaan lebih bisa mem-balanced koleksi ilmiah dan nonilmiah.

Terakhir teknologi perpustakaan harus sesuai dengan perkembang teknologi apalagi saat ini banyak open sources software untuk perpustakaan dan kenyataannya  perpustakaan sekolah maupun perguruan tinggi masih memanfaat catalog manual. Hal dipengaruhi dengan pustakawan tidak memiliki kompetensi teknologi dan tidak adanya akomodasi khusus untuk mengembang fasilitas perpustakaan khusus teknologi… Bersambung

BestRegard “Inspirasi BeraniSukses”

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

 

 

the important of librarians autonomy to job


Pentingya autonomi  pustakawan dalam bekerja

Otonomi individu adalah kebebasan untuk melakukan tangensial aktivitas perkerjaan di organisasi sesuai dengan kebijaksanaan pihak pengelola organisasi. Pekerjaan yang berhubungan dengan otonomi  indivudu adalah kebebasan untuk mempraktekkan profesinya sesuai keahlian. Otonomi individu merupakan suatu tingkat dalam pekerjaan yang memberikan pekerja kebebasan, kemandirian dan kebijaksanaan, penjadwalan pekerjaan, dan menentukan pekerjaan yang harus dilakukan. Dengan otonomi berarti seorang pegawai memperoleh kebebasan atau wewenang mengatur jadwal kerja, menetapkan prosedur penyelesaian pekerjaan dan arena keterlibatan kerja yang tinggi. Maka tumbuhlah rasa tanggung jawab terhadap hasil kerjanya (Hackman & Oldham, 1975).

Ketika sebuah kelompok diberikan otonomi seperti itu, umumnya disebut sebagai kelompok kerja otonom atau  mengelola tim kerja (Campion et al, 1993; Goodman et al, 1988). Kemudian Otonom individu didefinisikan sebagai kontrol eksternal kebebasan individu, berkaitan dengan kegiatan pekerja dalam organisasi tidak sepenuhnya dikendalikan oleh organisasi. Dalam pengembangan organisasi berbagai macam pola otonomi individu yang digunakan dengan tujuan mengurangi kebosanan para pekerja, membantu karyawan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya serta sebuah alternatif bagi organisasi untuk meningkat inovatif dan produktivas karyawan.

Pekerjaan otonomi individu sering dikaitkan dengan motivasi yang pada gilirannya menumbuhkan produktivitas lebih tinggi atau efektivitas. Umumnya berpendapat bahwa dengan otonomi individu hal ini memungkinkan partisipasi dalam pengelolaan diri, adanya rasa tanggung jawab anggota terhadap peningkatan kerja, sehingga meningkatkan kualitas keputusan mereka dengan meningkatkan jumlah akses informasi relevan (Barker, 1993; Campion et al, 1993; Langfred, 2000; Pearce & Ravlin, 1987).

Idealnya konseptualisasi otonomi individu dapat dilihat pada dua tingkatan berhubungan yang terpisah: (1) berhubungan dengan profesional individu; dan (2) berhubungan dengan pekerjaan kelompok atau profesi.  Individual autonomy has often been linked with motivation, which in turn leads to higher productivity or effectiveness (Barker, 1993; Campion et al., 1993; Langfred, 2000; Pearce & Ravlin, 1987). It is gen-erally argued that, by allowing participation in self-management, members’ sense of responsibility to, and ownership of, the work increases, thus enhancing the quality of their decisions by increasing the amount of relevant information to which they have access and by locating decisions as near as possible to the point of operational problems and uncertainties.

Otonomi individu tampaknya penting dalam organisasi karena memberikan kebebasan, kemandirian dalam melakukan pekerjaan hal ini memungkinkan berhubungan dengan motivasi individu meningkatkan tanggung jawab terhadap organisasi, meningkat produktivitas serta efektifitas dan berhubungan kecepataan serta akurasi akses informasi dalam melayani klien.

Maka autonomy individu pustakawan dapat diartikan sebagai hak, wewenang dan kewajiban pustakawan dalam mengatur dan mengurus pekerjaannya sendiri sesuai dengan peraturan atau norma yang berlaku dalam organisasi. Sedangkan hakikat individual autonomy di perpustakaan adalah mengembangkan pustakawan yang otonomi, pimpinan memberi keluasan bagi pustakawan untuk melihat potensi-potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal. Karena invidu-individu otonomi menjadi modal dasar bagi berwujudan budaya kerja. Sehingga dengan adanya individual autonomy pada pustakawan terlihat segenap potensi yang dimiliki pustakawan. Selain itu individual autonomy merupakan salah satu strategi memperoleh peluang bagi individu untuk bersaing.

KOnsep Perpustakaan Edu-taiment


Saat perkuliaah tiba-tiba seorang dosen menyatakan sangat susah mengubah Setting perpustakaan dengan gaya Entertainment. Jika kita lihat saat ini hampir seluruh perpustakaan di Indonesia baik dikota besar apalagi daerah perdesaan. Interior sangat tidak menarik penggunjung, perpustakaan selama ini indentik dengan warna yang sangat suram seperti coklat atau krem pasti itu warna cat tembok dan dinding perpustakaan seharusnya perpustakaan saat ini bisa menduplikatkan seperti Play group dengan warna-warna yang cerah.  Bahkan yang sangat menyedihkan yakni ada perpustakaan yang tidak pernah dikunjungi dan tidak ada anggaran dana untuk merenovasi perpustakaan sehingga perpustakaan jauh dari nuasa keindahan dan elegan pastinya.

Sedangkan perpustakaan diluar negeri contoh paling dekat yakni Negara singapura disana hampir perpustakaan dengan menggunakan style perpustakaan seperti Edu-Taiment. Andaikan perpustakaan di Indonesia menerapkan seperti perpustakaan di luar negeri. Di jamin pengunjung perpustakaan akan semakin banyak dan pengunjung perpustakaan akan merasa betah. Dimana perpustakaan tersedia semua mulai dari kantin, ATM, Learning Commons, dan ditambah lagi desain perpustakaan yang bergaya kafe sehingga membuat orang semakin betah diperpustakaan dan ingin selalu berkunjung keperpustakaan.

Adapun beberapa factor kenapa perpustakaan di Indonesia tidak bisa seperti perpustakaan luar negeri  antara lain disebabakan:

  1. Alokasi anggaran dana dari penanggung jawab perpustakaan untuk perpustakaan sangat minim sekali jika dibandingkan dengan alokasi dana untuk kegiataan yang lain. Sehingga begitu susah kepala perpustakaan untuk membagi anggaran dana tersebut serta mengutamakan hal yang penting dulu.
  2. Kepala perpustakaan kebanyakan yang sudah berumuran 50-60 tahun. Dengan kepala perpustakaan sudah tua-tua meraka selalu berpikiran dengan gaya perpustakaan tempo dulu. Akan sangat berbeda jika perpustakaan dipegang oleh orang-orang muda “generasi Miliniall”.

Seperti contoh ada salah satu perpustakaan yang menerapkan kafe diperpustakaan namun hal tersebut ditetang habis oleh kepala perpustakaannya. Dimana kepala perpustakaan tersebut menyatakan akan menggangu pelayanan perpustakaan. Sedangkan kita tahu bahwa perpustakaan sekarang ini yakni bagaimana sebisa mungkin bisa memasuki Area Eduataiment keperpustakaan dan saat ini juga sudah banyak perpustakaan menerapkan adanya pelayanan kafe diperpustakaan.

“saran bagi kepala perpustakaan seluruh indonesia yakni kepala perpustakaan harus sering-seringlah berkunjung keperpustakaan keluar negeri” jangan hanya berkunjung keperpustakaan Nasional Indonesia saja” dengan sering mungkin kepala perpustakaan keluar yang sudah mengadopsi sytle edu-taiment otamatis akan berpikir bagaimana cara untuk merubah konsep perpustakaan tersebut seperti dilihat.

  1. Masih banyak pananggung jawab perpustakaan beranggapan bahwa perpustakaan adalah tempat yang silient “diam” ini masih kita temui diperpustakaan-perpustakaan dilarang ribut, dilarang telpon dan larangan-larangan lainnya. Jika hal masih ada diperpustakaan akan membuat pengunjung perpustakaan beranggapan perpustakaan adalah tempat bersemedi.

Agar hal ini tidak terjadi maka diperpustakaan diperlukan beberapa zona misal adanya zona silent dimana disini berisi orang-orang yang memang lagi serius untuk belajar, kemudian ada zona ribut seperti learning commons. Pada zona ribut tersebut pengunjung perpustakaan melakukan semaunya misal berdiskusi sambil mendengar music. Dan masih banyak lagi zona-zona harus ada diperpustakaan.

Solosinya bagi perpustakaan seluruh di Indonesia yakni, mulai dari saat ini dan mulai hal yang kecil menerapkan konsep perpustakan bernuansa kafe “edu-taiment” tapi tidak lari dari visi dan misi perpustakaan itu sendiri. Kemudian jika perkunjung kemall, kekantor-kantor, dan tempat lainnya. Amatilah mulai dari desain, hingga hal terkecil bisa diadopsikan keperpustakaan. Dan terakhir pustakawa hendak selalu membawa kamera “kamera saku” kemana-mana andaikan ada hal yang unik dan cantik ditemukan bisa diterapkan pada perpustakaan. Karena menjelaskan dengan gambar lebih gampang meyakinkan penanungg jawab perpustakaan dibandingkan dengan kalimat.

“merenunggi kata-kata dosen ditengah perkuliahan, semoga bermanfaat seluruh pustakawan di Indonesia.

%d bloggers like this: