Allah Telah menulis calon terbaik untuk kita


Bismillah…

Allah Telah menulis calon terbaik untuk kita

Allah Telah menulis calon terbaik untuk kita

Hampir seminggu tak berinteraksi dengan leptop tua, ada rasa yang berbeda jika sehari atau seminggu tak bersentuhan dengan keyboard. Bukan tidak ada ide untuk dirangkai bahkan sangat banyak gagasan liar akan dituangkan baik bersifat opini atau bernuansa melankolis. Akan tetapi seminggu ini harus menyelesaikan bacaan tentang benua biru berharap dengan membaca sejarah benua biru ada harapan untuk menginjak daratan tersebut,  dan harus merampung pertemuan kuliah dengan mahasiswa karena dua minggu pertemuan lagi mahasiswa akan ujian akhir yang akan menentukan IPK atau berapa kontrak kuliah yang bisa diambilkan disemeter berikut serta sedang mempersiapkan data-data untuk perancanaan buku.

Mengawali kencan dengan leptop tua dimalam minggu ada gejolak jiwa, yaitu gejolak jiwa seseorang yang ditemui suatu tempat. Rasanya merangkai kalimat tidak lengkap tanpa ditemani keripik pisang, kopi hangat, dan ini yang tidak boleh ketinggaln yaitu syair-syair nasyid dari irfan Makki semakin romansa rindu semakin menarik diuraikan.

Sahabat maupun ikhwafillah izinkan alhanin menulis tentang calon!!! Apakah calon menantu, calon suami, calon istri, calon mobil, calon rumah, calon kampus dan calon sahabat dan seterunsya hoooo…

Mungkin ada diantara kita yang tahun lalu dan tahun ini berosolusi “Calon” namun ikhtiar belum bisa mewujudkan resolusi tersebut. Jangan sedih, jangan galau, jangan marah, jangan nangis, jangan putus asa, jangan cemperut, jangan salahin orang, jangan pula bernarsisan dengan gaya lebay tetap slow motion dan tetap semangat dengan doa serta terus tingkat strategi ikhtiar.

Melihat photo teman-teman, rata-rata dengan pendamping, dengan segala angel, background begitu harmoni, tentu ada rasa iri??? Makan itu iri huakksssss. Tapi itu sangat lumrah sebagai manusia, setiap manusia pasti punya rasa seperti itu. Terkadang kita tidak bisa menata kekecewaan maupun keirian dan terkadang kalah dengan perasaan sendiri. Padahal ketika kita tidak bisa menakluk gejolak jiwa sesungguhnya musibah luar biasa bagi meraka tak bisa menata keindahan hati.

Yakinlah sahabat,,, bahwa Allah telah menulis calon terbaik buat kita!!! Yakinlah calon sedang mempersiapkan bekal agar dalam pertemuan nanti bisa membuat mu tersenyum bahkan bahagia. Yakinlah orang itu sedang berjalan menuju tempat yang telah Allah sediakan untuk kalian bertemu. Yakinlah setiap kehidupan selalu diciptakan dengan berpasangan-pasangan dan pasangan itu tidak akan pernah tertukar karena yang menciptakan atau menentukan adalah penguasa bumi langit yang sangat teliti yang tidak mungkin terjadi kesalahan apalagi kekiliruan. Untuk itu terus pahami dan ketauhidan padaNya.

Tidak perlu melihat kiri kanan bahwa Allah sudah sediakan “dia” yang siap menemani mu dengan segala kondisi. Yang perlu diragukan adalah ketika dirimu dalam penantian banyak menduakanNya atau melakukan hal-hal yang menjauhi mu dari rahmatNya. Tauti hati mu padaNya, jangan biarkan waktu mu tanpa meraih pahalaNya dan yakinlah waktu sudah semakin mendekati mu, maka bersiap-siagalah.

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Kalau dia Sholeha, Pasti Diterima


 

Bismillah…

Kalau dia Sholeha, Pasti Diterima

Kalau dia Sholeha, Pasti Diterima

Ketika membuka account blog keroyokan (kompasiana) yang sudah lama ditinggal penghuninya, tiba-tiba terbaca keromantisan pasang yang baru menyempurnakan dien. Tentu saat membaca artikel tersebut tertawa sendiri bagaimana ilustrasi Allah mempertemukan mereka yang tidak pernah terbayangkan, ternyata pasangan sedang berbahagia berproses menuju keluarga sakinah, mawadah, dan waramah sama-sama anggota kompasiana. Dari banyaknya bacaan yang terangkai, ada satu kata mengelitik jiwa terdalam dan penuh makna begitu dalam untuk direnungi.

Kalimat tersebut langsung dicatat ditablet untuk dirangkai ketika ada waktu luang akan menulis dalam bersepektif wanita, dibagi pada pembaca dan tentu kalimat itu juga akan direnungi penuh cinta maupun makna bagi ia sedang berproses terus menerus untuk menjadi wanita sholeha. Insyallah.

Akhwat yang menerima laki-laki yang diceritakan dikompasiana tersebut benar-benar wanita sholeha karena ia begitu ikhlas menerima laki-laki yang meminta pada orangtuanya. Mungkin ia bisa mendapat laki-laki yang cakep dari tampan, cakep dari finansial, dan cakep dari style. Padahal laki-laki yang datang memiliki kekurangan fisik sedang wanita tersebut dari sisi fisik cantik, anggun dan sholeha tapi begitu ikhlas mengatakan siap menerima sebagai teman hidup. Tanpa mempermasalahkan kondisi laki-laki tersebut. Bahkan laki-laki itu pun yakin bahwa wanita sholeha yang akan mau menerimanya dengan kondisi tubuh yang tidak sempurna. Subhanallah, Allah sudah mempertemukan mereka dengan cinta, keberkahaan dan dilindungi dengan cintaNya. Allahu Akbar, Engkau begitu adil, penyayang, dan meletak sesuatu pada tempat yang indah. Semoga kalian berdua bahagia dunai dan akhirat serta sebagai tauladan bagi akhwat lainnya. Keshalihan mu benar teruji dan memberi keniscayaan bagi akhwat lain terutama yang membaca kisah kalian disiang-siang hari, langsung terhentak dan menanya pada jiwa. Mungkinkah ia bisa seperti wanita sholeha itu! Apakah ia sudah sholeha! Jangan-jangan sholeha hanya sebatas ucapan tapi miskin aplikasi!. Rabbi, tuntun hati, pikiran dan sikap ini untuk menjadi wanita shaliha.

Ya Allah ia cemburu dengan wanita sholeha tersebut begitu ikhlas menerima tanpa banyak mempertimbangkan, tanpa banyak syarat, tanpa banyak standar dan diperhatikan hanya keimanan. Sungguh ia cemburu dengan sikap, keikhlasan dan ketawadukan mu menerima laki-laki itu. Hanya wanita istimewa, wanita sholeha dan wanita anggun menerima laki-laki seperti itu. Allah sungguh indah scenario pertemuan Mu pada pasang itu yang membuat ia terharu dan berzikir padaMu. Kekalkan cinta mereka hingga maut memisah, tumbuhkan selalu rasa cinta, saling mengerti dan selalu merindui agar mereka mudah berlayar dibahtera rumah tangga yang Engkau ridhoi. Semoga terlahir anak sholeh/a yang meneruskan dakwah penuh tantangan ini dan menghiburkan hati mereka ketika ada gelombang menghampiri.

Bagi kita yang mengakui sebagai wanita sholeha! Benarkah kita menilai atau menerima laki-laki dari keimanan? Benarkah kita menilai atau menerima laki-laki dari akhlaktukhorima? Benarkah kita menilai atau menerima laki-laki dengan sikap yang santun dan bijak? Benarkah kita menilai atau menerima laki-laki dari kesederhanaan? Benarkah kita menilai atau menerima laki-laki dari amal sholehnya? Atau jangan-jangan kita menilai atau menerima laki-laki bukan dari factor tersebut melainkan dari sisi yang lain.

Jika kita mengakui wanita sholeha tapi menilai atau menerima laki-laki lebih menonjolkan sisi ketampanan, kemampanan dan keterunannya sesungguhnya kesholehan kita perlu dipertanyakan!!! Semoga yang sedang menanti ditemui dengan seseorang yang pantas menemani dunia akhirat, orang bisa menerima kekurangan untuk diperbaiki sama-sama, orang yang selalu mencintai dengan segala kondisi, dan terus mengajak jiwa mendekati padaNya.

Pada akhirnya, wanita sholeha maupun laki-laki sholeha akan bisa menerima kekurangan itu.

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Menikah Satu Paket


Bismillah…

Menikah satu paket

Menikah satu paket

Berbicara pernikahan tentu banyak hal yang seru akan dibahas, banyak hal tak pernah terduga akan terjadi, pernikahan adalah penyatuan dua hati manusia, pernikahan pengikatan dua rasa maupun nada, pernikahan merupakan pengabungan dua keluarga, culture, kebiasaan, keunikan dan keindahan menuju keberkahaan.

Sayangnya tidak semua orang yang menikah memahami makna dari ikatan pernikahan. Ada mengatakan pernikahan hanya mencintai suami atau istri. sedang keluarga dari pihak istri maupun suami tak seharusnya dicintai karena dinikahi adalah istri atau suami. Teramat sering kita mendengar ungkap sepreti itu bahkan terkadang kalimat tersebut pula membuat pernikahan hancur lebur seperti gelas pecah dilantai.

Ketika kita hendak menikah maka perlu kita sadari dan tanamkan dalam hati dan pikiran bahwa kita menikah adalah sepaket. Sepaket dengan keluarganya “ayah mertua, ibu mertua dan adik maupun kakaknya serta keluarga besarnya”. Sepaket dengan kekurangan dan kelebihannya. Sepaket dengan kebiasaan dan keunikan. Sepaket dengan kekayaan dan kemiskinannya. Sepaket dengan kegagahan/kecantikan dan kejelekannya.

Jangan pernah kita menikah hanya mencintai dia saja tapi keluarganya dibencikan, jangan pernah menikah hanya menyukai kelebihannya saja sedangkan kekurangan diceritakan pada orang lain, jangan pernah menikah Cuma suka ketika ia masih kaya saja setelah miskin ditinggal begitu saja.

Jika menikah tidak sepaket maka siap-siap terjadi kontradiksi dalam rumah tangga, siap-siap pernikahan hanya bertahan sekedip saja, dan siap-siap pernikahan akan mengalami penolakkan dari keluarganya.

Eehhhh….Eehhh kok gitu sich menikah harus satu paket. Agar keharmonisan, selau hadir dalam rumah tangga dan lakukan usaha terus menerus dengan berkomunikasi dan agar kepaketan semakin harmonis penuh cinta.

 

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

Cara Indah tuhan menghadirkan cinta


Bismillah…

Cara Indah tuhan menghadirkan cinta

Cara Indah tuhan menghadirkan cinta

Mendengar cerita mereka-meraka yang telah menemui cinta hati tertawa-tawa karena ekspresi mereka menceritakan penuh semangat bagaimana saat Allah menghadirkan cinta, cara Allah menemui pendamping dan cara Allah menyatukan cinta dengan cara beragam serta unik. Penuh keromantisan, penuh kekagetan, penuh teka teki dan penuh lelucon…”Apakah kisah itu akan ia alami seperti cerita mereka”!!!

Terkesema mendengar cerita indah mereka, ketika Allah menghadirkan cinta. Terkadang terpesit ingin menanya alur cerita secara detail. Tapi keinginan itu tak tersampai karena ia tahu sangat privacy dan takut saja dianggap pengen tahu segala hal berkaitan orang lain.

Bukan sekali ini mendengar cerita indah tentang Allah menghadirkan cinta pada dua anak manusia. Seakan-akan kisah cinta meraka lakoni hingga menjadi pasangan yang hal bak melakoni serial senetron, bak fillm bollywood penuh nyanyian maupun air mata dan novel bestseller yang menginspirasi siapapun yang mendengar untuk menyudahi kesenderian…”huuuhuuuuu”.

Selalu ada hikmah, selalu ada motivasi, selalu ada pelajaran termahal didapati, dan selalu harapan setiap kali mendengar curahan cinta mereka. Sepertinya semua pertemuan dua manusia tak pernah terduga dan penuh keterkejutaan….”Amazing bangetttttttt”

Eheehhmmmm….begitulah cara indah Tuhan menghadirkan cinta penuh kemisteriusan dan kenangan indah tak bisa terlupakan oleh waktu. Terlena dengan kisah indah meraka lalui saat dipersatukan dalam ikatan halal. Enggan rasanya untuk bangkit dari sekumpulan ibu-ibu sedang bernostalgia dengan awal cara Tuhan menghadirkan cinta. Padahal mahasiswa sudah menunggi ia diruangan perkuliaha dan untung masih pertemuan awal.

Mungkinkah cinta baru didengar adalah Alaram, mungkin sindirian halus, mungkin mendorong pada ia untuk lebih serius lagi meminta pada Allah agar menghadirkan cinta dengan caraNya bukan dengan cara anak mudah sekarang ini tak bisa dinalar secara logika manusia karena telah menyelimpang dari aturan Allah.

Lalalaaaa…. semakin mengimak dan ketawa, teringat dengan kisah cinta teman yang telah mengikat cinta baik dengan cara Allah maupun dengan cara mereka sendiri. Sebut saja anin menemui cinta melalui kegiataan organisasi dan rata-rata teman mendapat melalui ruangan tersebut. Begitu pula juga ukhti Anisa diahadirkan cinta melalui campur tangan murabbi tapi Alhamdullah cinta mereka bangun membuat iri saja sebab tujuan pernikahan tidaknya menyatukan perasaan manusia melainkan ada unsur dakwah. Kemudian ukhti Wafa menemui cinta keseringan ketemu ditempat kerja.

Semoga cinta mereka bingkai dan berjanji pada Allah tak pernah pudar oleh warni-warni perjalanan hidup serta berbekal abadi hingga perhitungan amal dihadapan Rabbi nanti…”harapan setiap manusia yang telah berjanji pada Allah”.

Bagaimanapun cara indah Tuhan menghadirkan cinta yang harus diperhatikan adalah proses cinta itu hadir? Jika cinta atas izin Allah, Insyallah membawa keberkahaan yang terlahirnya Sakinah, Mawadah dan Maromah (SAMARA). Memang begitulah adanya cara Tuhan menghadirkan cinta…”percayalah dengan cara Tuhan”.

Jika boleh meminta dan jika boleh di-setting dengan rencana ia. Berharap pada Tuhan menghadirkan cinta pada tempat tak pernah terbayang, pada orang tak pernah dikenal tapi dikenal oleh penduduk langit. Dengan seperti itu banyak waktu untuk saling mengenal dalam setiap langkah perjalanan dan akan banyak kisah-kisah indah terukir…”Sengaja meminta seperti itu”. Tapi itu tak mungkin karena Allah memiliki hak veto bagaimana cara indah Allah untuk menghadirkan cinta pada manusia.

Setidaknya dengan mendengar kisah cinta mereka menambah referensi tentang konsep pertemuan dan perpisahan. Terkadang pertemuan diawali senyum tapi akhirnya menyakitkan. Ada pula pertemuan diawal dipenuhi adegan-adegan tak mengenakkan namun akhirnya ditaburi aroma-aroma cinta bahkan ada juga diawal maupun diakhir tak pernah merasa manisnya kehadiran cinta.

Itu semua tergantung bagaimana menata, bagaimana mengelola, meracik, mempupuk dan membingkai pertemuan dengan mengikut sertakan Allah. Insyallah jika sudah melibat Allah disetiap rasa akan membuat mudah segala terjadi…”adeeemmm bukaann”.

Bagi kita sedang berupaya untuk menghadirkan cinta, jangan pernah mencari cara tak pernah Allah ridhoi. Jika cara ditempuh telah serasi dengan pedomaNya maka akan mencicip manis cara Allah. Jangan pernah menempu untuk mencampurbaukan cara syari dengan cara rayuan nafsu sebab akan menyesal sepanjang hayat.

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Cinta & Pernikahan Tanpa Dakwah


Bismillah….

Cinta & Pernikahan Tanpa Dakwah

Cinta & Pernikahan Tanpa Dakwah

Suatu ketika putriku bertanya, “ Ummi nggak pernah berantem sama Abah?”
Bohong kalau kukatakan ,” nggak pernah sama sekali!”
Bagaimana mungkin dua orang yang tak pernah saling mengenal sebelumnya, hidup seatap, mencoba senasib sepenanggungan, menghadapi aral melintang menghadang, satu demi satu anak lahir dan besar melalui tahap demi tahap perkembangan ; semua dihadapi adem ayem penuh senyum tawa tanpa sekalipun duka, marah, jengkel, gundah gulana?
Tentu pernah kami saling tersinggung, diam seribu bahasa, mencoba menjaga jarak, sebelum salah satu bersikap rendah hati meminta maaf terlebih dahulu. Tapi apa yang membuat sebuah pernikahan melewati tahun demi tahun, membentur tembok kesukaran, sesaat kapal oleng, dan kami tetap saling berpegangan tangan mencoba bertahan dalam badai?

Tujuan pernikahan

Kalau tujuan berpasangan hanya semata urusan biologis semata, sampai kapan bertahan? Terlebih secara fisik, baik lelaki dan perempuan tak akan mampu terus menerus memiliki hasrat besar. Lebih dari sekedar biologis, fisiologis; maka pernikahan tak hanya didasarkan urusan fisik semata. Wajah boleh ayu tampan setahun lima tahun ke depan, sesudah punya anak satu dua tiga dan seterusnya, digerus permasalahan hidup dan ekonomi; rupawan tak lagi bertahan.
Yang bertahan adalah brain , behavior.
Kemampuan otak mencerna sesuatu, mencoba cari jalan keluar dari setiap masalah; dan bagaimana berperilaku. Akan semakin lengkap dengan egostrength , kekokohan mental yang didasarkan pada prinsip-prinsip Robbani.
Maka, pernikahan yang bertahan adalah yang dimulai, dijalani dan insyaAllah kelak diakhiri dalam rangka pengabdian padaNya.

Obat pernikahan
Berantem?
Berselisih?
Marah? Jengkel?
Jika bukan dalam landasan dakwah, entah bagaimana kami menjalani kehidupan rumahtangga yang selalu menghadapi satu demi satu aral menghadang. Suatu saat, kami berselisih, saya menangis. Cari-cari suami tidak ketemu, hingga ia pulang ke rumah dalam kondisi tenang. Ternyata,
“…aku seharian di masjid. Tilawah Quran.”
Oalaaaaah.
Mangkel, hehe…tapi bersyukur luarbiasa. Lha kalau suami lagi jengkel malah jalan-jalan ke mall, cucimata, nonton bioskop sendirian, ke café? Bisa-bisa pulang ke rumah tambah tak terkendali.
Maka, kebiasaan ibadah bisa menjadi obat pernikahan. Terbiasa baca Quran bersama, saling mengingatkan puasa sunnah, sholat malam bersama. Suatu saat, kalau sedang berselisih dan saling mendiamkan, masa’ melalui malam dengan sholat qiyamul lail sendiri-sendiri? Malu laaah…apalagi sholat shubuh masing –masing nggak saling menyapa. Rasanya gak oke!
Biasanya, amarah luntur saat menghadapi waktu ibadah yang berikut, seperti harus makan sahur; atau mengingatkan anak-anak untuk baca Quran. Alhasil, kekakuan reda, saling menyapa dan berbincang lagi.
Tak terbayangkan, bila tak terbiasa beribadah bersama-sama, berapa lama kemarahan mengeras dan bahkan tak mampu cair kembali?

Dakwah adalah obat

“Apa sih yang menjadi bahan berantem Abah Ummi?” anakku bertanya lagi.
Apa ya…? Aku mencoba mengingat-ingat. Sepertinya, kami nyaris tak pernah bertengkar untuk urusan ekonomi, bahkan bila terpaksa harus bersabar kami saling mengingatkan untuk tetap banyak berdzikir, sedekah, memperbanyak ibadah. Toh, masih banyak orang yang lebih sederhana dan sepanjang usia harus bersabar.
Seingatku, kami berselisih untuk permasalahan-permasalahan dakwah, terkadang kami berbeda menyikapi. Seperti misalnya suami menegur, tamu-tamu yang datang ke rumah, terkadang kalau curhat bisa berlama-lama. Aku mau bilang apa?
“Lama amat ngobrolnya,” suami keberatan, sebab ia sering kelelahan usai beraktivitas, dan harap maklum ingin gantian dilayani makan, minum dll.
“Lha gimana lagi,” aku menjelaskan,” masa’ harus Ummi usir? Mending mereka curhat kemari kan Mas, timbang curhat ke lain tempat, ke teman-teman mereka yang malah gak ngasih solusi baik.”

Untuk hal ini, akhirnya kami mencapai kata sepakat, bahwa harus ada waktu yang dibagi untuk curhat-curhatan dengan waktu untuk keluarga. Sebab mau tak mau, kami harus memantau hafalan Quran anak-anak, memberikan diskusi kepada anak-anak terkait kisah ulama, tafisr, salafus sholih maupun iptek terkini. Dan biasanya, aku mengiyakan agenda curhat-curhatan saat suami tidak berada di rumah (khusus cewek), supaya ketika ia kembali pulang kami bisa saling memperhatikan.

Begitupun waktu yang tersisa bersama suami, berisi pembicaraan berharga.
“Ada agenda apa malam ini, Mas?”
“Ada rapat nih.”
“Sampai jam berapa?”
“Malam, gak tau jam berapa pulangnya.”
“Ohya udah, berarti aku siapkan kopi panas dan camilan, aku tunggu mas pulang sambil ngetik ya.”
“Oke.”
Di waktu lain,
“Ummi ada acara hari ini?”
Biasanya Jumat, Sabtu, Minggu agendaku malah padat. Maklum ibu-ibu hehe…
“Pagi aku ngisi di sini, siang di situ, malam juga ada. Besok minggu ke luar kota.”
“Ya ampuuuun,” kata suamiku. “Sibuk benerrrr!”
Aku nyengir.
“Ya udah, ntar tak antar jemput ya,” kata suamiku.
Itu artinya pulang ngisi acara kami berdua bisa bercanda di atas sepeda motor sambil menuju…wisata kuliner! Sekedar yang murah tak apa, makan soto dan es teh bersama.
Agenda dakwah kami nikmati bersama, kami syukuri, dan ternyata agenda –agenda dakwah itu yang menjadi obat pernikahan kami.
Aku bercerita pada putri sulungku, Inayah,
“…nggak kebayang ya mbak In, kalau Abah Ummi nggak dijalan dakwah. Paling berantemnya masalah duit, mobil, belum lagi kalau masing-masing jatuh cinta lagi sama orang lain, ada WIL/PIL, naudzubillah.”

Aura di rumah pun berbeda.
Ketika sibuk pilkada dan pemilu, anak-anak menyetel televisi, membaca koran, masing-masing memberikan argumennya terkait berita. Anak-anak punya pendapat tersendiri terkait Palestina, Mesir, dunia Islam, Amerika, Yahudi, harga bawang putih dan politik dagang sapi; juga siapa-siapa saja terkait kasus korupsi. Aku geli sendiri, merasakan aura dakwah berada di tengah pembicaraan kami.
“Ya, bayangkan saja, kalau Mesir kabinetnya 140 orang penghafal Quran, gimana gak tangguh?” kataku.
“Wah, coba kabinet kita kayak gitu,” sahut Inayah.
“Amiiin.”

Hari Sabtu, yang ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional melengkapi hari Minggu, sama sekali bukan hari libur bagi keluarga-keluarga dakwah.
“Ummi, aku pengajian jam 7!” Ahmad berseru.
“Aku jam 8!” Inayah menambahkan.
“Jam 9 , Mi,” Nisrina si kecil tak mau kalah.
“Masku lagi nggak bisa ngisi,” kata Ayyasy.
“Gimana ini? Ummi mau ngisi acara! Abah ada acara?”
“Nggak ada,” jawab suami, kalau pas nggak ada rapat. Maka Sabtu bukan hari libur bagi suami sebab ia mengantar jemput anak-anak pengajian, menggawangi rumah bila aku harus pulang sore hari, suami memasak makanan istimewa sehingga anak-anak merasa tetap menjadi bagian special bagi kami sekalipun bergantian Abah dan Ummi nya sering tidak di rumah.

Sepanjang jalan , rasanya aku bersyukur atas ritme ini, merasakan karuniaNya atas hari demi hari yang penuh gairah bersama dakwah.
Bila, ada perselisihan terkait dakwah, saat aku sebagai perempuan terkadang cemberut, rewel, ingin perhatian lebih, ingin dimanja, tak mau kompromi dengan agenda suami yang padat dan ia pulang ke rumah lelah. Suamiku –tipe lelaki rasional dan easy going- berkata,
“…aku ingin Ummi mendukung dakwahku. Bukankah itu juga yang kulakukan untukmu?”
Tak terbayangkan, bila dakwah tak menjadi bagian dari perjalanan cinta kami, juga pernikahan dan keluarga kami.

Sumber:  http://sintayudisia.wordpress.com/

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Mungkin harus ia kubur keinginan untuk menikah


Bismillah…

Mungkin harus ia kubur keinginan untuk menikah

Mungkin harus ia kubur keinginan untuk menikah

Ditengah keramaian jiwa merasa tak menentu antara mengharap atau menghapuskan, diluar  sana mentari sangat terik seperti dikatakan ukhti R setelah pulang dari kegiatan diperkampusan dan ia juga merasa panas walaupun berada dibawah AC tapi tetap begitu gerah, mungkin gerahnya diperbarahi suasana hati…”Heeemmmm galau anak PAUD hoooo”.

Walaupun hati sangat gerah tetap harus menyelesaikan amanah dibulan syahwal dan saat kegalauan tiba-tiba ukhti R serta ukhti T menyahut ia untuk membahas segala topic yang bisa diskusikan. Begitulah indahnya ketika bertemu kedua akhwat tersebut selalu ada isu segar dibahaskan mulai dari teman pendidikan, parenting, ekonomi, politik dan selalu endingnya tentang pernikahan…”dasar waatt-waaatttt”.

 seminggu tak bersua kedua akhwat tersebut rasanya ketinggalan informasi sebab kedua akhwat tersebut adalah seorang akhwat yang berdidikasi dirinya untuk intelektualitas dan bisa membangun rumah tangga yang dilandasi ilmu serta agama…#serius nich ceritanya

Tema dibahas dihari yang panas, dihari kegalauan, dihari kesibukan dan dihari penantian. Sangat seru tema dibahas jika di SKS-kan mungkin 12 Sks tak selesai karena tema ditinjau dari segala aspek mulai aspek financial, aspek keagamaan, aspek psikologi dan aspek sosiologi… alah-alah waat-waat seperti peneliatian sampai menggunakan teori ilmiah waeee. ”jika seperti ini tentunya banyak pertimbangan” dan pada akhirnya niat untuk menikah sebaiknya dikubur saja kali ya!!!

Jika ada akhwat mengubur niat untuk menikah karena factor diatas sungguh begitu rugi. Bagaimana tidak rugi? Bukankah dengan pernikahan agama seseorang akan sempurna! Bukankan dengan pernikahan setiap  dilakukan menjadi pahala? Bukankah dengan pernikahan ketenangan akan diraih? Bukankah dengan pernikahan seorang wanita mendapat predikat surge ditelapak kaki ibu? Bukankah dengan pernikahan akan mengarugi pada cahaya tak bisa dijelaskan? Bukankah dengan pernikahan akan merubah sikap dan menjadi pribadi penuh ketauladan bagi si anak?…”itulah keindahan pernikahan”….#ya Rabbi betapa mulia kedudukan seoranga wanita dalam rumah tangga#

Jangan sampai factor sepele mengurungi niat mulia, jangan sampai factor dunia menghalangi meraih pahala, jangan sampai satu factor tak ada pada si orang lain sehingga buat kita buta makna pernikahan dan membiarkan diri hidup dalam kesendirian ditengah hiruk pikuk dunia yang semakin hari jauh dari ajaran Ilahi.

Bagi akhwat atau ikhwan yang belum dipertemukan cinta, belum dipertemukan sahabat hidup, belum dipertemukan teman seperjungan tetap jaga kesucian hati, tetap jaga niat baik itu, tetap tingkatkan doa, tetap terus berusaha menjadi layak dipilih bagi dari segi ilmu maupun akhlak, dan tetap terus yakin bahwa pernikahan itu akan segara terjadi. Seperti ungkapan indah Tere Leye pernikahan yang pantas itu tidak dilihat dari cepat atau lambatnya seseorang menuju pelaminan TAPI KELAYAKAN PERNIKAHAN DITENTUKAN OLEH ALLAH…”heeeemmm arum banget kalimat tersebut sehingga mengademkan hati”.

Nikah itu bukan cepat2an. Kalau mau meneladani Rasul, yang cowok bisa nikah di usia 25. Tapi kalaupun lebih lambat, bukan masalah. Pun kalaupun mau cepat, juga tidak masalah.

Karena di atas segalanya, yang paling penting adalah: menjaga diri dari hal2 merusak dan melanggar kaidah agama.

Pastikan kita bersedia menempuh perjalanan berumah tangga. Paham ilmu2nya, mengerti hak dan kewajiban. Tidak perlu siap 100%, cukup bersedia saja. Apapun resikonya.

Bukankah Allah sudah janjikan dengan indah pada bumi dan seisisnya setiap apa diciptakan berpasang-pasangan…# MAHA SUCI TUHAN YANG TELAH MENCIPTAKAN PASANGAN-PASANGAN SEMUANYA, BAIK DARI APA YANG DITUMBUHKAN OLEH BUMI DAN DARI DIRI MEREKA MAUPUN DARI APA YANG TIDAK MEREKA KETAHUI (Yasin:36).

Sekali lagi petuah buat ikhwah yang membaca, tetap jaga hati dari hal-hal yang mampu menghilangkan kepesonan jiwa, tetap tunjukkan performa terbaik dihadapan Allah dan jangan lupa selalu control dalam kondisi positif. Agar ketika waktu itu tiba dalam kondisi penuh kepesonaan baik dihadapan Allah maupun manusia…”jlep-jlep-jleeppp”.

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Buat kita yang belum bergelar suami atau istri, bersabarlah


Bismillah…

Semua kita pasti ingin mendapat gelar tersebut apalagi teman seangkatan, teman perjuangan, teman sepermainan, teman curhat sudah melampuhkan hati dan meraih gelar sangat mulia.

Dengan pernikahan kita merasa perempuan sejati dan lelaki nan gagah serta adanya generasi penerus bahkan lebih sempurnanya lagi ada yang mendoa kita kelak. Bagi kita belum meraih gelar tersebut tetap bersabar, selalu berpikir positif thiking dan jangan pernah nampakkan kegalauan kita baik melalui status, sikap dan perkataan. orang-orang beriman dan hati meraka menjadi tentram mengingat Allah. Dengan mengingat Allah hati menjadi tentram”

Jangan sampai melihat teman sudah memiliki pasangan membuat hati kita galau, jangan gara-gara teman sudah memiliki generasi penerus membuat kita putus semangat, jangan pula pesimis dengan steatment lingkungan yang selalu menanya kapan dan kapan.

Kembalikan rasa, niat dan usaha kita pada Allah karena Ia yang maha tahu, maha melihat, maha memutus kapan memoment yang tepat tersebut. “Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di langit dan di bumi, melainkan (tercatat) dalam Kitab yang jelas (Lauhul Mahfuz)” (QS: An-Naml (27) :75)

Tetaplah bersabar untuk menanti, tentu kesabaran kita tidak hanya pasrah begitu saja tetapi kesabaran juga dibarengi dengan ikhtiar, doa, tetap berbaiki diri kita dan tetap simpankan niat baik tersebut dengan melakukan kebaikan yang dicintai Allah. Bukan janji Allah itu benar, nyata apa adanya bahwa lelaki baik untuk perempuan yang baik karena Allah meletakkan sesuatu dengan keserasian dan kesempurnaan.

Ketika dalam hati sudah terbesit untuk meraih gelar tersebut maka langkah indah, metode terbaik dan taktik terelok adalah berbanyak kita curhat pada Allah, berbanyak ibadah kita, berbanyak silaturahmi, berbanyak menabur mafiroh bukan curhat melalui status, curhat pada manusia dan murung kepanjangan. Jika sikap kita seperti itu maka yakinlah kita akan galau dan tak meraih solusi nan konkrit.

Pokoknya kita harus yakin, semangat, selalu perbaiki kualitas keimanan kita pada Allah, perbaiki sikap kita dalam bertutur kata.  “Yakinlah wahai ikhwan dan akhwat Allah maha tahu waktu pantas kita meraih gelar tersebut, yakinlah Allah masih mengingikan kita untuk memperbaiki diri dalam segala hal, yakinlah Allah masih memberi kesempatan pada kita untuk menikmati kehidupan kesendirian sehingga bebas untuk mengeksplorasi atau mengupgrade skill tanpa ada hambatan sebab ketika sudah menikah tentunya kita harus ada izin keluar rumah dan yakinlah bahwa Allah menciptakan berpasang-pasangan “Maha suci Allah yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari mereka yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS Yasin (36) :36)

Wahai ikhwa dan akhwat jangan pernah ragu janji Allah bukan sebelum kita terlahir ke dunia, telah berjanji padaNya bahwa rezki, jodoh, dan ajal, Allah yang menentukan dan tentunya kita ikuti saja takdir serta skenario Allah. “Katakanlah (Muhammad) “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” katakanlah “Allah” dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik) pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (QS. Saba’(34): 24)

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

%d bloggers like this: