Pendidikan Memuja IQ


Pendidikan Memuja IQPendidikan di Indonesia telah menunjukkan keberhasilan sangat besar secara kuantitas, hampir setiap tahun perguruan tinggi swasta maupun negeri meluluskan para ilmuan muda Indonesia dengan berbagai jurusan dan jenjang pendidikan. Melahirkan generasi yang siap bersaing ditataran nasional maupun global, membentuk generasi memiliki jiwa ledearship berakhlak santun. Kemudian seluruh lapisan masyarakat indonesai dari kota hingga pelosok desa, dari status social terendah hingga tertinggi menyadari betapa pentingnya pendidikan (Education Awareness), hampir setiap keluarga berpendidikan sarjana hingga Doctoral. Hak untuk mendapatkan pendidikan termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang mewajibkan pemerintah menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi warga negara. Ketetapan itu menjadi prioritas kedua setelah mandat untuk mensejahterakan rakyat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan bagi kemajuan bangsa dan pribadi.

Menurut Education For All Global Monitoring Report 2012 yang dikeluarkan oleh UNESCO setiap tahunnya, pendidikan Indonesia berada di peringkat ke-64 untuk pendidikan di seluruh dunia dari 120 negara. Data Education Development Index (EDI) Indonesia, pada 2011 Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 127 negara. Bahkan pemerintah mengalokasi dana pendidikan, setiap tahun mengalami peningkatan seperti baru-baru ini pemerintah memutuskan meningkatkan anggaran sektor pendidikan. Pemerintah berjanji menaikkan anggaran pendidikan sebesar 7,5% untuk tahun 2014.

Sesungguhnya pemerintah sudah memperhatikan serius permasalahan  pendidikan  Indonesia. Namun masih ada kekurangan disana-sini, masih ada penyelewenggan dana, masih ada anak bangsa tidak merasa indahnya bangku sekolah maupun bangku perkuliahan, dan tugas terbesar pemerintah saat ini tidak hanya memperhatikan sisi kecerdasan melainkan bagaimana membentuk karakter atau tatakrama anak bangsa yang berakhlak mulia. Seperti dijelaskan John Dewey tentang pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia

Secara logika jika kualitas otak manusia semakin cerdas maka akhlaknya juga ikut berakhlak mulia. Faktanya menyedihkan, dimana kualitas otak bangsa semakin Excellent tapi tidak mempengaruhi tatakrama (etika), dan karakter diri melainkan semakin menurun. Padahal tujuan pendidikan di dalam UU Nomor 2 tahun 1989 secara jelas disebutkan Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pertanyaan menyetil muncul dalam pikiran kita? mengapa tidak adanya hubungan dan keselarasaan antara kecerdasaan otak dengan akhlak? Seharusnya gelar yang disandang sebagai Problem Solving, pada kenyataannya kaum terdidik malah sebagai Problem Maker dan primitivisme intelektual diranah publik. Senada dengan kultum Quraish Shihab mengatakan bahwa “Iman dan ilmu memiliki hubungan yang sangat erat. Ilmu mempercepat gerakan anda, sedangkan iman berada dijalan Allah SWT”. Artinya, orang yang berkualitas adalah mereka yang memiliki keseimbangan antara iman dan ilmu.

Sebagai kaum terdidik, orang tua tentu tercoreng, tertampar, dipermalukan dengan kasus anak kaum muda dan kaum terpelajar  melakukan asusila ditengah khalayak ramai bahkan menurut penelitian rata-rata pelajar maupun mahasiswa sudah tidak perawan. Terjadi bentrokan antar pelajar yang hampir setiap hari dijumpai bahkan dipertontonkan melalui televisi. Penggunaan narkoba sudah mengalami kritinisasi, penggunaan air keras, dan ngembut dijalan raya seakan-akan sudah menjadi Culture and Habbit. Bukankah itu semua berkaitan dengan tatakrama, kesantunan, karakter diri dan akhlak!!! Seharusnya sebagai kaum terdidik maupun terpelajar “sebuah keteladanan dan tatakrama yang mesti ditangkap dan nyalakan dalam kehidupan”. Namun kelulusan dari sekolah maupun kampus ternama terkadang ironi.

Itu baru sebagian contoh tatakrama anak bangsa yang tertampak. Belum lagi masalah cara anak bangsa menghargai, menghormati, penggunaan bahasa yang tidak berestetika dan pakaian yang tidak mengindikasi sebagai kaum intelektual. Seperti baru-baru ini sekolah bertaraf internasional di Indonesia dengan sengaja menghilangkan pelajaran agama. Semakin hari pendidikan di Indonesia hanya menghasil kecerdasan otak sedangkan kecerdesan emosional maupun  perilaku belum berhasil dibangun bahkan merosot dan terjun payung. Senada dengan ungkap Cak Nur “Bahwa Dia Sukses Mendidik Orang Menjadi Cerdas Tapi Tidak Sukses Mendidik Orang Menjadi Sholeh”. Sangat berbahaya jika pendidikan yang diadopsi bangsa Indonesia lebih focus pada kecerdasan otak belaka maka akan melahirkan regenerasi berpondasi pada konsep Libarlisme dan Hedonisme. Padahal jiwa seperti itu menghancurkan peradaban bangsa. Sedangkan tatakrama berkaitan erat dengan agama dan budaya. Jangan-jangan agama dan adat istiadat yang kita pahami hanya sebatas slogan, sebatas teoritis, sebatas labeling tapi hampa dalam aplikasi baik dilingkungan keluarga, lingkungan akademis, lingkungan komunitas, lingkungan interaksi social dan lingkungan publik. Sedangkan Indonesia dikenal sebagai Negara memiliki kesantunan, menjunjungi nilai agama dan budaya.

Atau bisa jadi kurikulum yang diterapkan oleh bangsa Indonesia lebih memperhatikan sisi kognitif sebab kurikulum di Indonesia selalu berubah-ubah dari tahun ketahun. Mulai dari kurikulum 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, serta 2006. Kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana menerapkan kurikulum 2013, seakan-akan bangsa yang gila terhadap kurikulum. Hitunglah jumlah kurikulum sejak merdeka hingga kini, akan didapati bahwa Indonesia adalah bangsa yang memiliki paling banyak kurikulum, tetapi tingkat mutu pendidikan tetap rendah  sedangkan sisi emosional dan akhlak diabaikan. Seperti dikatakan Bahren Nurdin (2013:25) bahwa pendidikan selama ini terlalu mendewakan IQ (Intelligence quotient) karena desing kurikulum masih menempatkan kecerdasan intelijensia paling penting.  Mungkin sisi emosional dan akhlak tidak begitu penting diterapkan dalam lingkungan pendidikan (Sekolah/kampus), jangan-jangan yang berkaitan tatakarma cukup tugas para da’I maupun da’iah, orang tua, masyarakat bukan urusan pemerintah.

Bisa jadi pendidik juga tidak memiliki tatakrama dan krakteristik sehingga wajar anak didik melakukan seperti itu. Sedangkan Karakteristik yang harus dimiliki pendidik dalam melaksanakan tugasnya dalam mendidik, yaitu (a) kematangan diri yang stabil, memahami diri sendiri, mandiri, dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan. (b) kematangan sosial yang stabil, memiliki pengetahuan yang cukup tentang masyarakat, dan mempunyai kecakapan membina kerjasama dengan orang lain. (c) kematangan profesional (kemampuan mendidik), yaitu menaruh perhatian dan sikap cinta terhadap anak didik serta mempunyai pengetahuan yang cukup tentang latar belakang anak didik dan perkembangannya, memiliki kecakapan dalam menggunkan cara-cara mendidik. Ini adalah tugas bersama bagi kita semua. Hendaknya memiliki ruh sebagai pendidik, ketika mentransfer ilmu dibarengi mentransfer akhlak dan karakter. Dengan tujuan adanya keseimbangan antara otak dan tatakrama. Kualitas manusia bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan dan keahlian. Tdak cukup manusia dinilai dari kepakaran, keterampilan dan professional saja. Oleh karena itu sesungguhnya kualitas manusia ditentukan oleh kompetensi  dan karakter (Erie Sudewo).

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Workshop Nasion dan Lomba Menulis


Bismillah…

Mendidik Karkater dengan karakterLembaga Indonesia Berkilau (IBi) akan menyelenggarakan kegiatan berskala Nasional dan pembicaranya pun tak kalah seru, terdiri professional terkenal antara lain Ida S Widayanti (Penulis Buku BestSeller Mendidik karakter dengan Karakter, Dosen dan Motivator ESQ Center Jakarta), Cecep Perdianto (Hypnotherapy Terkenal di Jambi), dan Luthfy Chalisa (Ketua Gabungan Organisasi Wanita Jambi-Gow).

Acara akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 12 Januari 2013 merupakan acara terdahsyat harus diikuti diawal tahun, bertempat di Pola Gubenur Jambi. Tema yang diangkat yaitu Mendidik Karakter Dengan Karakter, adapun target peserta yaitu Akademis, Orang tua, Pendidik, Calon Guru, pemberhati pendidikan, dan masyarakat umum. Sponsor acara terdiri dari Jambi FM, SR28Jambi.News.com, T&T Photografi Club, Tihama Entertaiment, Teklom, Jakoz, K’Smart, British Institute, IBH, Duku Anjabi and etc.

Selain itu ikuti juga lomba menulis dengan tema “Pengalaman Menulis Mendidik Anak” boleh diikuti siapapun tanpa dipungut biaya. Kemudia peserta akan mendapat doorprize yang sangat menarik, memperoleh sertifikat, konsultasi gratis selama satu bulan dan hadiah lain tak terduga.

Alhamdulillah kegiatan digagasi oleh tiga akhwat cantik yang berlatar pendidikan strata Dua yaitu Testiani Makmur, S.Sos, M.A (Ketua Lembaga Indonesia Berkilau), Triday Sapitri, S.Pdi (Sekretaris) ukhti tersebut sedang menyelesaikan Thesis dan Aisyah Yazid, M.Pd (Bendhara). Ketiga akhwat smart tersebut juga terintergrasi sebagai panitia inti. Metode tersebut diadopsi dari pola pikir yahudi yaitu cukup tiga penggas utama tapi pelaksana atau pengadopsi pola pikir mereka akan luar biasa.

Mohon doanya ya pembaca www.//http:simfonikehidupan.wordpress.com semoga acaranya lancer, diberi kemudahan oleh Allah, mencerahkan bagi peserta, dan mampu memberi perubahan pendidikan khususnya bagi kota Jambi.

Persiapan menyelenggarakan Workshop Nasional sangat memeras pikiran dan tenaga karena berharap lembaga kita dirikan bisa sebagai lembaga penuh keberkahaan baik teruntuk pribadi pendidir maupun bagi eksternal (masyarakat umum). Apalagi saat ini dibutuhkan lembaga yang konsen terhadap perkembangan pendidikan dan pola pengasuhan (Parenting) sebab saat ini rata-rata pendidikan sudah tidak berkarakter atau reduce esensi pendidikan.

Untuk itu dengan berdirinya Lembaga Indonesia Berkilau (IBi)-Kemilau Indonesiaku merupakan wadah yang tepat dan terpecaya untuk berkonsulatasi, bermitra. Indonesia Berkilau tidak hanya focus ada parenting tapi juga memiliki devisi lainnya.

Sambung ke Profil Lembaga Indonesia Berkilau (IBi)-Kemilau IndonesiaKu….

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Tantangan baru bagi ukhti…


Bismillah…

Biasanya ukhti mengajar mahasiswa imut-imut “kelahiran Sembilan puluhan” dan sekarang ukhti dapat tantangan baru yaitu mengajar atau sharing diruang perkuliahan dengan orang tua “sudah kerja dengan kelahiran rata-rata tujuh puluhan” ibarat mereka adalah kakak, abang, orang tua sendiri dan timbul pula perasaan tidak nyaman dengan mereka secara berbeda usia karena yang duduk didepan mereka adalah anak kecil baru bisa merangkak, baru bisa berlari, baru bisa mengambar dan baru bisa tersenyum.

Terasa pula sedang mengajar mahasiswa pascasarjana jika dilihat dari face, profesi dan pengalaman mereka seharusnya mereka termasuk katagori mahasiswa pascasarjana tapi pada kenyataannya bukan seperti itu yakni mahasiswa strata satu yang melanjuti dari D2 atau D3.

Ditambah lagi ketika mengajar selalu dapat guyonan dan lawakan segar, disatu sisi merasa nuansa keindahan disatu sisi guyonan mereka berlebihan secara guyon mereka dilontarkan adalah guyonan tidak masuk diakal..”yang penting enjoy”.

Walaupun ukhti berbagi atau sharing ilmu dengan usia lebih tua dari ukhti merasa terkesan dan kagum aja ternyata ukhti mampu menghadapi mereka semua dengan style mengajar ukhti bak motivator “asyiikkkkk”. Bahkan mereka menikmati banget guyonan ukhti walaupun kelihatan pendiam tapi jangan salah sekali gokil, gokil terus “eaahhh”.

Bersyukurlah semester ini kebagian jatah ngajar kelas ekstensi jadi makin tahu sejauh mana kualitas keberanian, kenekatan dan ilmu ukhti.

Berharap mahasiswa ekstensi menjadi teman baru, keluarga baru dan sahabat baru sebab ukhti sedang mencari sebanyak mungkin persaudaraan, silaturahami karena ketika ukhti merantau prinsip awal harus dibangun adalah connection, networking, familier.

Intinya Mengajar mahasiswa ekstensi dapat tantangan tersendiri, lelucon tersendiri, dan kesan tersendiri. “I’m believe and trust can do it” menuju Indonesia cerdas&ceria.

Best Regard

Inspirasi BeraniSukses

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

 

 

Ijazah Dulu Atau Ijabsah Dulu


 Bismillah…

Terinspirasi dari  curhatan, dan guyonan sesama aktivis “Akhwat berbadan tipis”, teman dan mahasiswa lainnya. Meyakini banyak mahasiswa baik ditingkat awal, pertengahan dan akhir bingung memutuskan berijazah atau berijabsah dulu apalagi dalam qolbu sudah ada keinginan menuju jenjang lebih berkah. Jangan-jangan kita juga pernah mengalami sindrom seperti itu.

ANTARA IJAZAH ATAU IJABSAH”

Kedua pilihan memiliki konsekuensi tersendiri dan setiap pilihan harus diputuskan! Gara-gara konsekuensi tersebut banyak yang bingung untuk melangkah, memutus dan memilih. Terkadang ada pula aktivis sudah yakin untuk ijabzah namun terganjal  syarat dari orang tua agar memperoleh ijazah dahulu atau si calon menginginkan syarat lamaran dilampirkan ijazah persis seperti  melamar pekerjaan harus ada legalisir ijazah hooooo,..”ayak-ayak waeee”.

Mana tahu aje ada seperti itu karena zaman sudah berubah fren fillah kalau emang ada sungguh terlalu “seperti lagu bang rhoma irama”.

Ada pula aktivis telah direstui tanpa harus ada syarat ijazah masih tetap bingung juga untuk memutuskan.  ANTARA KERJA, MEMBAHAGIA ORANG ATAU IJABSAH. Kan binggun lagi padahal sudah dapat ijazah, kirain setelah dapat ijazah bakal langsung dilensensikan ijabsahnya.

Seperti itulah Manusia selalu dalam naungan kebingungan, apalagi disodori engan dua pilihan atau lebih semakin bingung, ragu, tak menentu bahkan terombang-ambing dalam dekapan pilihan.

Persis seperti dijelaskan Ustadz Annis Mata Lc. dalam bukunya “Sebelum Mengambil Keputusan Besar itu”: untuk merencanakan dulu hidupmu dengan matang… Nah biar frend fillah gak bingung antara ijazah dan ijabsah lebih baik buat dulu nich analisis SWOT cileee sudah pake analisis segala. Kalau pake analisis seperti gini jadi keingat mata kuliah Management, again.

Emang analisis SWOT itu opo yooo!!! Biar tidak bingung dengan senang hati saya paparkan secara singkat tapi bermakna heeeemmm.,,,Huakkk dan rencana tersebut bisa dijalankan secara matang-matang.

S= siap memikul tanggung jawab, W= wanitanya sudah ada apa belum, O=ongkos ijabsahnya sudah punya apa belum “ma’isyah” T= tujuan ijabsah hendak memiliki visi dan misi dakwah.

Jadi sudah tahukan SWOT itu apa yang pasti bukan SWOT dalam ilmu management “Eaaahhh plesetan banget”. Kalau sudah melaksanakan SWOT apalagi diragukan padahal secara lahariah&batiniah sudah oke, Wanitanya apalagi sudah setuju banget tanpa dilampirkan Ijazah “naahh kok masih bingung”, heeemmm mungkin ongkosnya masih ragu btw cukup apa gak ya kalau sudah begini masalahnya ayo bismillah karena tujuan ijabsah udh jelas, terang menerang untuk membangun keluarga dakwah.

Truz kenapa pentingnya kita pake analisis SWOT dalam memutuskan pilihan. Sangat penting dan mantap sekali, karena dengan analisis tersebut membuat kita berani memutus dan melangkah menuju tangga keabsahan. Jangan sampai masa muda dilalui selalu kegamangan dalam menentukan, seperti lirik brothers

Masa muda dilalui
Hanya sekali
Pergunakannya agar kau
Tidak sesali diesok hari

Ketenangan ada di sini
Tak jumpa karena kau tak mencari
Kebahgiaan tersirat dihati
Tak rasa kerana kau tak menghayati

Ayoooooo segera dan wujudkan niat tersebut menuju keabsahan nan berkahaan. Namun jika masih ragu disarankan ambil wudhu dan sholatlah istikarah luapkan segala kebingungan tersebut pada pemilik Keabsahan.

Insyallah akan terjawab sudah, apakah melangkah menuju ijazah atau matang meraih ke ijabsah. saya yakin jawabannya pasti segera mungkin Ijabsah karena sudah dapat ijabsah ijazah bakal dapat juga. Kok bisa seperti itu karena sudah ada yang memotivasi agar segera dapat ijazah…”Kalau gak percaya coba aja sendiri”

Selamat perjuang frend Fillah

Regard Simfonikehidupan(simfoni)

Keramahan dan kelucuan dosen kami


Tiap Dosen pasti memiliki kharismatik tersendiri, kelebihan masing-masing dan memiliki cara mengajar sendiri pula tentunya. Bagi saya dosen yang mengajar di Ruang MIP semua asyik-asyik, mudah dipahami, memberi pengarahan yang jelas, dan pastinya memberi tugas yang berat juga. Tapi itu semua tidak membuat kita-kita (Anak MIP)  resah dan gelisah.  Malah membuat semakin semangat untuk tampil lebih bagus dalam diskusi atau presentasi, untuk menjawab pertanyaan dengan kebenaran sesuai dengan teori dan penglaman, dan pastinya membuat kita terpacu selalu membaca. Dari sekian banyak dosen yang mengajar di ruang MIP ada satu dosen membuat kita merasa gemetaran dan juga dosen membuat kita selalu tertawa diruangan perkuliahan. Misalnya pak IP adalah dosen yang selalu membumbui perkuliahan dengan tawa-tawa kecil, lewat tertawa kecil ini lah, suasana perkuliahan begitu mengalir dan tak merasa ngatuk. Walaupun terkadang lelucon beliau tidak masuk akal tapi kita-kita tetap saja tertawa hohohoho….”ternyata mengajar perlu dibumbui guyonan segar biar ruangan perkuliahan refresh and santai”.

Di lingkungan perpustakaan Universitas Gadjah Mada beliau sangat familier (bersahabat) apalagi dengan mahasiswa, selalu menyapa dengan sapaan Generation MIlleniall, gaya beliau yang begitu mudah di dikenal misalnya selalu menggunakan kemeja panjang dan kota-kotak. Barang beliau sering bawakan adalah computer kecil yang ajaib dimana memiliki Function Multi  (multi fungsi) seperti bisa Handphone, Kamera dan sebagainya. Beliau selalu menjelaskan materi perkuliah dikelas menggunakan Power Point dijelaskan secara rinci dan mengerti pastinya. Kemudian di semester 2 (dua) beliau menarapkan tugas tiap minggu, hal ini sangat bagus sekali menambah pemahaman kita-kita tentang penjelasan dikelas dan membiasakan kita untuk terus belajar serta membaca. Ini berbanding terbalik waktu semester awal beliau sangat jarang memberi tugas pada kita-kita hanya pada Ujian tengah semester dan Ujian semester. Semoga hal ini selalu diterapkan pada mahasiswa lain karena ini menurut saya sangat bagus sekali.  Oya…hampir lupa beliau selalu mengajar duduk dikursi biru, tidak pernah mondar mandir, mungkin kursi Ruangan MIP terlalu empuk jadi beliau jarang berdiri hohohoho….dan tidak pernah oret-oretan di Papan Tulis seperti dosen lain. Mungkin karena beliau orang Teknologi terbiasa menulis di Paperless (Leptor or computer, HHHMmmm).

Selanjutnya materi perkuliah yang disajikan dalam ruangan MIP selalu hal baru misalnya isu trends perpustakaan dan berkaitan dengan teknologi. Tugas yang diberikan pada kita selalu dikumpul lewat email. Dari kebiasaan mengajar beliau saja kita sudah menyimpulkan bahwa belaiu orang ikut trends dengan teknologi khususnya pada teknologi yang berkaitan dengan perkembangan perpustakaan. Selain itu tugas yang diberikan pada kita di kumpul melalui email memberi keuntungan tersendiri bagi mahasiswa MIP pertama tidak mubasir dengan kertas, tidak perlu printout tinggal klik langsung ke raga beliau.

Ada hal menarik membuat saya untuk menulis cerita singkat ini.  Kata-kata yang saya teroreh dalam bentuk kertas ini karena merupakan apresiasi saya pada beliau. Karena dalam pikiran saya beliau ada orang yang homoris ini terlihat dalam keseharian beliau mengajarkan kami MIP (manajemen informasi dan perpustakaan) sejak semester awal saya mengejak kaki diruang kelas MIP, mengajar selalu ada humoris. Walaupun humoris kecil tapi sangat lucu sekali, apalagi teman-teman duduk bangku bagian depan dan orang dikenal, selalu kena lelucon. Untung nama saya tidak kenal jadi tidak kena lelucon beliau. Tapi waktu semester pertama saya duduk bagian depan, kena sekali humoris beliau terpaksa saya ngomong iya…iya hehehehe…

Pemikiran beliau terhadap perkembangan perpustakaan khususnya di perpustakaan sangat visioner, sangat terlihat dari arsitektur dan desain perpustakaan tidak kaku (konvensional). Dan di ruangan MIP beliau juga sering menceritakan tentang kehidupan beliau menjadi narasumber seminar atau menjadi anggota baik diluar negerimaupun secara nasional. Ini menjadi nilau plus yang luar biasa (Track Record). Juga membangkitkan semangat anak MIP ingin seperti beliau bisa keluar negeri, biasa menjadi pembicara dan ikut partisipasi dalam perkembangan perpustakaan di Indonesia,,,(kapan bisa seperti itu, Amin). Beliau juga sering menceritakan, jika ada tamu yang ingin bertemu beliau sering orang beranggapan beliau sebagai karyawan biasa bukan sebagai Kepala Perpustakaan, mungkin “karena wajah bukan wajah orang birokrasi” “kata beliau”. Saya juga berpikir sendiri memang wajah birokrasi seperti apa ya….”hanya Pak IP yang tahu wajah birokrasi seperti apa”

Terimakasih pak telah begitu ikhlas memberi materi di Ruangan MIP, ilmu sangat bermanfaat. Apalagi berkaitan dengan perkembangan teknologi perpustakaan.

Teruntuk dosen-dosen ku yang telah ikhlas sharing ilmu pengetahuan dan motivasi selama kuliah…^__^

lecture in memory of the land of Java


Ketika melihat mahasiswa baru memasuki gerbangan kampus/universitas teringat dengan masa-masa pertama kuliah. Jika Maba (mahasiswa baru) di antarin orang tua mereka tetapi saya bukan diantarin orang tua malah diantarin kakak (mybrother). Mengurus segala berkas yang berkaitan mahasiswa baru mulai registrasi, isi KRS, minta tanda tangan, mencari kos dan transfer uang. Sungguh luar biasa jasa-jasa mybrother dalam meraih gelar sarjana maupun master. Terimakasih Allah Engkau anugrahkan kakak “abang” yang bertanggung jawab dalam membimbing adiknya hingga selesai meraih gelar master.

Kenangan sangat aroik “lucu” yaitu setelah pendaftaran selesai semua dan hari pertama perkuliah nangis minta pulang kampong…”hoohohoo” sungguh lucu bahkan diingat-ingat jadi ketawa sendiri dengan adegan menangis tersebut. Tepat pada tahun 2003 sekitar 9 tahun yang silam  dimana telepon kerumah minta dijemput dan tidak mau jauh dari orang tua. Hal itu terjadi lebih kurang seminggu dan Alhamdulillah berjalan waktu mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan baik dari segi bahasa, makanan, dan budaya. Walaupun sudah bisa beradaptasi akan tetapi keinginan pulang masih membekas….ckckckck…

Jika waktu itu benar-benar pulang dan dijemput orang tua gak tahu bagaimana nasib kuliah waktu itu. Tapi untung orang tua dan kakak selalu memberi semangat dengan mangatakan bahwa pertama kali emang seperti itu. Ntar juga merasa indahnya suasana perantauan…

Tapi benar kata mybrother, akhirnya lebih kurang 9 tahun diperantuan merasa indah masa-masa perkuliahan, persaudaraan dan pertemanan. Selama 9 tahun itu pula semua dilakukan sendiri (mandiri) karena jauh dengan orang tua, hidup layaknya dalam kotak yaitu kamar 3×3 yang berisi kasur, lemari baju, meja belajar, televise, tempat sepatu, dapur mini dsb, kebersamaan dengan teman baik teman kuliah, organisasi dan kajian. Dengan itu semua menambah keindahan dan semangat untuk terus kuliah-kuliah. Bahkan kehidupan perantauan membuat jarang pulang yakni setahun sekali….”pengematan biaya” wkwkkwkkk….

Nah yang lebih parah lagi yakni ketika dapat jatah sakit…”uupppsss” pilunya. Apalagi mahasiswa sangat renta terjangkit sakit. Karena kita tahu pola hidup mahasiswa apa adanya hehehehe….”makan seadanya, tidur larut malam, banyak berpikir” maka hal seperti itu sangat mempengaruhi terjadi sakit pada mahasiswa.

Keadaan seperti itu pula mahasiswa di uji kesabaran, keikhlasan, dan kemandirian  apalagi jarak begitu jauh. Sangat bersyukur selama 9 tahun diperantaun Alhamdulillah hanya dapat tiga kali jatah di opname. Tapi yang lebih bersyukur lagi ketika sakit dirawat teman-teman yang baik hati dan ikhlas. Semoga kebaikan teman itu Allah ganti dengan kenikmatan dunia dan akhirat, amiien.

Setelah selesai meraih gelar master, tiba-tiba rindu dengan pola kehidupan mahasiswa. Apalagi saat melintas dipasar melihat sekumpulan mahasiswa yang berjilbab panjang dan memakai tas rancel sehingga teringat dengan suasana ngumpul-ngumpul dimesjid sambil membaca al-quran serta tawa-tawa kecil ketika bercerita tentang masa depan, rindu menentang tas rancel yang isinya sangat lengkap mulai dari leptop, air minum, al-quran, mukenah, buku, dan kabel-kabel. Rindu tidur larut malam sambil mengerjakan tugas-tugas kuliah sambil ditemanin kopi panas dan gorengan atau mie instan. Rindu dengan suasana kamar 3×3 yang sempit dan penggap ^_^. Rindu berangkat pagi pulang pas magrib. Tapi itu tak mungkin lagi dirindukan suasana seperti itu kecuali kuliah lagi… walaupun suatu saat kuliah lagi suasana pasti akan berbeda karena berada di daerah, budaya dan system yang berbeda.

Kenangan sejak pertama kuliah hingga meraih gelar master sungguh luar biasa memberi pengaruh pada kualitas berpikir, kualitas bekerja, meningkatkan kualitas berkarya dan meningkatkan kualitas iman dan taqwa. Seperti dijelaskan prof habibie bahwa

“Persaingan antara para ilmuwan sangat berat dan ketat. Saya harus bekerja lebih keras menghadapi para kolega ilmuwan lain yang berbakat dan berpendidikan tinggi. Persaingan keras seperti ini berpengaruh positif pada prilaku dan pengetahuan pribadi saya. Akibatnya proses keunggulan pada diri saya cepat berkembang.

Kenangan kuliah ini merupakan bagian lembaran kehidupan yang harus disyukuri, karena masih banyak lagi kedepan perjuangan harus diperjuangkan agar teruntai kenangan lebih indah dari kenangan masa-masa pendidikan.

From graduate students UGM to Indonesia


Dari Mahasiswa Pascasarjana UGM Untuk Indonesia

by sholiatalhanin


Pada kajian ketiga di bulan oktober tepatnya tanggal 20 Oktober 2011 bertempat di mesjid Apung UGM membahas tema tentang kontrubusi mahasiswa pascasarjana UGM untuk Indonesia. Tujuan diangkatnya tema tersebut adalah bagaimana mahasiswa pascasrajan “pemuda” membawa agent of change dalam segala aspek sebab tidak bisa dipungkiri bahwa UGM adalah gerbangan serta lahirnya para pakar dalam segala keilmuan.

Nara sumber kajian tersebut “KAMSO=Kajian kamis sore” adalah UST DR. Rahman Dosen Teknik Kimia UGM dan sesuai dengan CV yang di baca oleh moderator merupakan alumni UGM dan pernah menempuh pendidikan di benua Eropa “swedia” muali S2-S3 yakni antara tahun 2000-2008. Sangat Prade And Amazing paparan materi, terlihat rata-rata ikhwatifillah pada terhanjut dan begitu focus. Kemudian materi yang dibahas mix (campuran) antara agama islam, bagaimana pendidikan di Eropa, dan perbandingan perkembangan teknologi serta discovery dunia. Tujuan ustad mempaparkan kesemua itu adalah agar mahasiswa pascasarjana UGM mengetahui bagaimana kehidupan beragama dan pendidikan di Eropa serta perbandingan kehidupan di negara maju. Dari cerita ustad kelihatan beliau adalah orang sangat mencintai ilmu, gembar membaca dan jenius. Tapi ada satu kalimat yang mengkritik hati saya, kalimat seperti berikut ini adalah “Saya bukanlah orang yang cerdas dibanding dengan teman-teman saya, tapi Allah selalu memberi pertolongan dan kemudahan saya dalam mencapai harapan dan cita saya hingga bisa merasa pendidikan hingga Negara Eropa, itu karena saya selalu mencoba mendekat diri pada Allah”.

Berikut ini adalah point-point yang dibahas oleh ustad pada kajian KAMSO:

Tugas Seorang Muslim?

Pertanyaan yang dilontarkan ustad pada ikhwatifillah yaitu apa tujuan hidup seorang muslim dan  bagaimana tugas seorang muslim?. Kemudian ustad menjelaskan bahwa tujuan muslim di muka bumi ini adalah menyebar rahmatan Lil Alamin pada semua ciptaanNya, dimanapun muslim berada hendaklah mengarahkan mukanya pada Allah, dan menyerah diri pada Allah “tawakal” dengan aturan yang ditentukan Allah. kesemua itu akan Allah minta pertanggung jawaban di yamul Akhir.

kemudian kewajiban muslim dimanapun dan apapun profesi muslim tugasnya adalah mencegah nahi munkar di bumi Allah hal itu harus selalu melekat pada muslim.

seorang muslim jika dianalogikan seperti bangunan mesjid yaitu (1) pondasinya adalah rukun iman dan islam, (2) tiangnya adalah muamalah, mencegah nahi munkan dan (3) atapnya adalah dakwah dan jihad fisabilillah.

“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dan perbuatan yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” (Al Hajj: 41)

Kesejahteraan

Negara atau dunia akan makmur ( sejahtera) yaitu ketika dipimpinn oleh peradaban atau generasi islam. seperti kita tahu dan sejarah telah membuktikan bahwa peradaban yang bertahan di bumi ini adalah peradaban islam.  seperti dijelaskan oleh  Dr. Yusuf Qardhawi dalam Malaamihu Mujtama’ Muslim Alladzi Nansuduh ini merupakan karya kontemporer dengan mengungkapkan fakta-fakta dan analisa sistematis, yang pada akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa alternatif peradaban manusia di masa kini dan masa yang akan datang hanyalah Islam, sebagaimana terlihat dalam lintasan sejarah serta firman Allah dalam Al Qur’an.

Demikianlah, Kami jadikan kalian sebagai ummat yang adil untuk menyadi saksi bagiseluruh manusia, dan Dia jadikan seorang Rasul sebagai saksi atas kalian.” (Al Baqarah 143)

Dr. Yusuf Qardhawi d memaparkan gambaran utuh masyarakat yang tegak di atas pijakan yang kokoh serta dibangun di atasnya sistem kehidupan yang sempurna sebagaimana janji Allah bahwa ummat Islam adalah khairu ummah yang pantas memimpin peradaban

 Bahkan Discovery banyak dilahirkan oleh pemuda-pemuda islam seperti Berkembang pesatnya ilmu pengetahuan di Cordoba pada era kejayaan Islam telah melahirkan sejumlah ilmuwan dan ulama termasyhur. Cordoba merupakan pusat intelektual di Eropa dengan perguruan-perguruan yang amat terkenal dalam bidang kedokteran, matematika, filsafat, kesusateraan bahkan musik. Kontribusi para intelektual dan ulama yang lahir dari Cordoba sangat diakui dan memberi pengaruh bagi peradaban manusia. Di antara para ilmuwan yang muncul pada masa keemasan Islam antara lain Abul al Walid Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Rusydi, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ibnu Rusydi atau Averrous. Ibnu Rusydi merupakan seorang ilmuwan muslim yang sangat berpengaruh pada abad ke- 12 dan beberapa abad berikutnya. Ia adalah seorang filosof yang telah berjasa mengintegrasikan Islam dengan tradisi pemikiran Yunani. Itulah masa  kejayaannya peradaban islam banyak menginspirasi penulis barat yang banyak digambarkan oleh para ahli sejarah maupun politik sebagai cikal bakal pembawa kemajuan bagi Barat di masa sekarang.

Allah menjanjikan akan selalu mengirim wali-walinya di bumi untuk menyampai pesan (wahyu-wahyu) Allah pada manusia seluruh dunia. Seperti ungkapan bahwa untuk mengesuai discovery haruslah menguasi language Arabic. Ini bertanda bahwa ilmu science banyak dijelaskan dalam Al-quran, dan Al-quran telah menceritakan semua apa yang terjadi masa lampau, sekarang dan besok. Sesungguhnya apa yang terjadi atau kejadian pada zaman-zaman nabi akan selalu terulang pada masa sekarang hingga akhir zaman.  lewat Al-quran pula banyak pembuktian-pembuktian kebenaran terungkap yang tidak dapat dijelaskan oleh teori lain.  Untuk itu hendaklah kita belajar dari umat terdahulu, sedang media mempelajari umat terdahulu yaitu banyak diceritkan dalam Al-quran. Mari kita renungkan kembali bahwa islam adalah peradaban yang abadi tak akan pernah terganti dan step by step kembali menata perubahan dengan meningkat keilmuan dari sejarah peradaban islam dengan landasan Al-quran dan Sunnah.

Pemuda muslim harus memiliki people building atau karateristik (skill) tentunya identitas yang islami.

Terpenting sekarang ini adalah pemuda muslim wajib memiliki kelempok kajian atau kelompok belajar yang membahas segala aspek mulai aspek agama, social, politik, dan energy sumber daya manusia.  Salah satu sarana yang mudah yaitu hadirilah majelis ilmu karena merupakan salah bentuk pengembangan diri dalam berpikir kreatif, dan kritis. serta tempat tumbuhnya motivasi dalam membiasakan diri untuk kontribusi dakwah, menulis dan baca. sesuai dengan wahyu pertama yang diturunkan pada Nabi Muhammad Saw adalah Iqro “baca-bacalah”.

Bumi dan seisinya harus kita baca dan pahami. seperti penemu-penemu dunia yang mereka lakukan adalah baca, renungkan dan lakukan “jangan takut gagal”. Agar mampu seperti para ilmuan islam mulai dari sekarang untuk membaca ciptaan Ilah, karena Allah menciptakan makhluk hidup maupun mati semua ada manfaatnya.   Sehingga bermula dari iqro insyallah kita akan menjadi ilmuan dan peneliti, ini adalah salah satu identitas atau karakterk pemuda muslim harus ditumbuhkan.

Bagaimana Pendidikan Eropa Dan Indonesia

Tidak pantas sebagai perbandingan sunguh jauh ketinggalan dalam berbagai sisi baik dari teknologi, kesadaran untuk belajar, attitude, dan SDM. Namun perbandingan disini lebih memotivasi mahasiswa pascsarjana agar mampu meniru dan mengadopsi bagaiman keseriusan dan kesungguhan mahasiswa di Eropa untuk belajar.  Pendidikan di Eropa kegembaran belajar memang ditumbuhkan dari Taman Kanak-kanak hingga mahasiswa, hal  ini juga didukung oleh sarana yang sangat memadai seperti perpustakaan yang menyediakan koleksi best seller, Internet dengan kecepatan tinggi, dan subsidi pendidikan (anggaran) lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia dan biaya pendidikan yang murah.

Namun memperhatinkan adalah gaya kehidupan Masyarakat Eropa pada umumnya atheis, akhir pekan antrian di bar sangat luar biasa bisa bisa dikatakan mengadopsi kehidupan Hedonisme.   apa yang membuat mereka seperti itu? Hal ini terjadi karena peradaban yang dibangun oleh Barat –sebagaimana kita saksikan kerapuhannya pada saat ini — menafikan aspek-aspek fundamental yang seharusnya ada dan mengesampingkan nilai-nilai moralitas yang melingkupinya. Bahkan secara tragis menghancurkan nilai fitrah kemanusiaan manusia. Mereka tidak meyakani adanya Tuhan hanya mengikuti aturan-aturan yang buat sendiri tanpa ada kosenkuensi.

Fenomena lain kita saksikan lahirnya ‘tuhan-tuhan’ baru berupa sepakbola, televisi dan berbagai sarana pemuas nafsu syahwat. Juga kita saksikan mereka melontarkan gagasan untuk”Back to Nature” meski dalam prakteknya justru semakin parah, yaitu lahirnya kaum nudis.

Peradaban barat benar-benar telah mencapai puncak ‘kemajuannya’ sekaligus sedang menggapai kehancurannya. Karena sesungguhnya sistem nilai yang ditegakkannya berada di luar fitrah kemanusiaan, sebagaimana dipaparkan oleh Abul Hasan Ali An-Nadwi dalam Madza Khasiral ‘Aalam Binhithathil Muslimin bahwa, “Sesungguhnya agama yang dipeluk bangsa Barat dewasa ini adalah materialisme.”

Kembali pembahasan pendidikan bahwa pendidikan Indonesia seperti apa dan bagaimana?  Sangat menyedihkan mulai dari  kesadaran belajar yang sangat rendah, minat baca jauh dibawa rata-rata, biaya pendidikan mahal, perpustakaan yang jauh nuansa nyaman, dsb. Namun itu semua bukanlah kendala bagi pemuda muslim untuk pesimis belajar dan perubahan. Yang terpenting dari sekarang bagaimana mahasiswa pascasarjana UGM bertekad menuju perubahan Indonesia.  Mahasiswa pascasarjana UGM harus mampu menyentuh masyarakat dari segala lini, aspek, dan pendidikan dengan landasan keimanan karena bangsa Indonesia hanya membutuh orang berilmu dan baik (Muslim Sejati).   kita tahu bahwa di Indonesia banyak orang pintar tapi apa yang terjadi kepintarannya dijadikan sebagai alat untuk merampas kekayaan masyarakat, menindas rakyat miskin, dan menjabat semena-mena seperti terjadi korupsi, mafia, dan sebagainya itu semua dilakukan oleh orang-orang pintar di Republik Indoenesi.

Jadi, yang dibutuhkan bangsa Indonesia adalah orang pintar tapi baik “sholeh dan sholeha”. Ketika semua aspek kehidupan publik mulai dari pemerintah hingga swasta telah diduduki pemuda muslim yang pintar dan sholeh/sholeha insyallah peruban untuk Indonesia akan cepat terwujud. kenapa perlunya pemuda muslim sholeh/sholeha karena mereka tahu mana yang haq dan bathil, mana tidak boleh dan boleh prinsip tersebut selalu menjadi landasan utama dalam mengambil keputusan, kebijakan atau aturan demi fitrah kemanusian. sungguh indah bukan menjadi orang pintar tapi sholeh/sholeha. Dan berbahagia dan beruntunglah kita dilahirkan dalam keyakinan Rahman Lil Alamin, Dimana aturan ditetapkan dengan keseimbangan, tiap pilihan yang ditetapkan oleh Allah ada konsekuensi dan ganjaran. “sungguh indah bukan^_^”

“ Ingat Keberadaan  mahasiswa pascasarjana UGM  dalam masyarakat bagaikan batu bata dalam sebuah bangunan, dan sebuah bangunan tidak akan baik apabila batu batanya rapuh”.

Dan tidaklah hijrah Nabi SAW ke Madinah kecuali dalam kerangka usaha untuk membangun masyarakat yang mandiri yang terpancang di dalamnya aqidah Islam, nilai-nilai, syi’ar-syi’ar dan aturan-aturannya.

%d bloggers like this: