Mungkin harus ia kubur keinginan untuk menikah


Bismillah…

Mungkin harus ia kubur keinginan untuk menikah

Mungkin harus ia kubur keinginan untuk menikah

Ditengah keramaian jiwa merasa tak menentu antara mengharap atau menghapuskan, diluar  sana mentari sangat terik seperti dikatakan ukhti R setelah pulang dari kegiatan diperkampusan dan ia juga merasa panas walaupun berada dibawah AC tapi tetap begitu gerah, mungkin gerahnya diperbarahi suasana hati…”Heeemmmm galau anak PAUD hoooo”.

Walaupun hati sangat gerah tetap harus menyelesaikan amanah dibulan syahwal dan saat kegalauan tiba-tiba ukhti R serta ukhti T menyahut ia untuk membahas segala topic yang bisa diskusikan. Begitulah indahnya ketika bertemu kedua akhwat tersebut selalu ada isu segar dibahaskan mulai dari teman pendidikan, parenting, ekonomi, politik dan selalu endingnya tentang pernikahan…”dasar waatt-waaatttt”.

 seminggu tak bersua kedua akhwat tersebut rasanya ketinggalan informasi sebab kedua akhwat tersebut adalah seorang akhwat yang berdidikasi dirinya untuk intelektualitas dan bisa membangun rumah tangga yang dilandasi ilmu serta agama…#serius nich ceritanya

Tema dibahas dihari yang panas, dihari kegalauan, dihari kesibukan dan dihari penantian. Sangat seru tema dibahas jika di SKS-kan mungkin 12 Sks tak selesai karena tema ditinjau dari segala aspek mulai aspek financial, aspek keagamaan, aspek psikologi dan aspek sosiologi… alah-alah waat-waat seperti peneliatian sampai menggunakan teori ilmiah waeee. ”jika seperti ini tentunya banyak pertimbangan” dan pada akhirnya niat untuk menikah sebaiknya dikubur saja kali ya!!!

Jika ada akhwat mengubur niat untuk menikah karena factor diatas sungguh begitu rugi. Bagaimana tidak rugi? Bukankah dengan pernikahan agama seseorang akan sempurna! Bukankan dengan pernikahan setiap  dilakukan menjadi pahala? Bukankah dengan pernikahan ketenangan akan diraih? Bukankah dengan pernikahan seorang wanita mendapat predikat surge ditelapak kaki ibu? Bukankah dengan pernikahan akan mengarugi pada cahaya tak bisa dijelaskan? Bukankah dengan pernikahan akan merubah sikap dan menjadi pribadi penuh ketauladan bagi si anak?…”itulah keindahan pernikahan”….#ya Rabbi betapa mulia kedudukan seoranga wanita dalam rumah tangga#

Jangan sampai factor sepele mengurungi niat mulia, jangan sampai factor dunia menghalangi meraih pahala, jangan sampai satu factor tak ada pada si orang lain sehingga buat kita buta makna pernikahan dan membiarkan diri hidup dalam kesendirian ditengah hiruk pikuk dunia yang semakin hari jauh dari ajaran Ilahi.

Bagi akhwat atau ikhwan yang belum dipertemukan cinta, belum dipertemukan sahabat hidup, belum dipertemukan teman seperjungan tetap jaga kesucian hati, tetap jaga niat baik itu, tetap tingkatkan doa, tetap terus berusaha menjadi layak dipilih bagi dari segi ilmu maupun akhlak, dan tetap terus yakin bahwa pernikahan itu akan segara terjadi. Seperti ungkapan indah Tere Leye pernikahan yang pantas itu tidak dilihat dari cepat atau lambatnya seseorang menuju pelaminan TAPI KELAYAKAN PERNIKAHAN DITENTUKAN OLEH ALLAH…”heeeemmm arum banget kalimat tersebut sehingga mengademkan hati”.

Nikah itu bukan cepat2an. Kalau mau meneladani Rasul, yang cowok bisa nikah di usia 25. Tapi kalaupun lebih lambat, bukan masalah. Pun kalaupun mau cepat, juga tidak masalah.

Karena di atas segalanya, yang paling penting adalah: menjaga diri dari hal2 merusak dan melanggar kaidah agama.

Pastikan kita bersedia menempuh perjalanan berumah tangga. Paham ilmu2nya, mengerti hak dan kewajiban. Tidak perlu siap 100%, cukup bersedia saja. Apapun resikonya.

Bukankah Allah sudah janjikan dengan indah pada bumi dan seisisnya setiap apa diciptakan berpasang-pasangan…# MAHA SUCI TUHAN YANG TELAH MENCIPTAKAN PASANGAN-PASANGAN SEMUANYA, BAIK DARI APA YANG DITUMBUHKAN OLEH BUMI DAN DARI DIRI MEREKA MAUPUN DARI APA YANG TIDAK MEREKA KETAHUI (Yasin:36).

Sekali lagi petuah buat ikhwah yang membaca, tetap jaga hati dari hal-hal yang mampu menghilangkan kepesonan jiwa, tetap tunjukkan performa terbaik dihadapan Allah dan jangan lupa selalu control dalam kondisi positif. Agar ketika waktu itu tiba dalam kondisi penuh kepesonaan baik dihadapan Allah maupun manusia…”jlep-jlep-jleeppp”.

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Buat kita yang belum bergelar suami atau istri, bersabarlah


Bismillah…

Semua kita pasti ingin mendapat gelar tersebut apalagi teman seangkatan, teman perjuangan, teman sepermainan, teman curhat sudah melampuhkan hati dan meraih gelar sangat mulia.

Dengan pernikahan kita merasa perempuan sejati dan lelaki nan gagah serta adanya generasi penerus bahkan lebih sempurnanya lagi ada yang mendoa kita kelak. Bagi kita belum meraih gelar tersebut tetap bersabar, selalu berpikir positif thiking dan jangan pernah nampakkan kegalauan kita baik melalui status, sikap dan perkataan. orang-orang beriman dan hati meraka menjadi tentram mengingat Allah. Dengan mengingat Allah hati menjadi tentram”

Jangan sampai melihat teman sudah memiliki pasangan membuat hati kita galau, jangan gara-gara teman sudah memiliki generasi penerus membuat kita putus semangat, jangan pula pesimis dengan steatment lingkungan yang selalu menanya kapan dan kapan.

Kembalikan rasa, niat dan usaha kita pada Allah karena Ia yang maha tahu, maha melihat, maha memutus kapan memoment yang tepat tersebut. “Dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di langit dan di bumi, melainkan (tercatat) dalam Kitab yang jelas (Lauhul Mahfuz)” (QS: An-Naml (27) :75)

Tetaplah bersabar untuk menanti, tentu kesabaran kita tidak hanya pasrah begitu saja tetapi kesabaran juga dibarengi dengan ikhtiar, doa, tetap berbaiki diri kita dan tetap simpankan niat baik tersebut dengan melakukan kebaikan yang dicintai Allah. Bukan janji Allah itu benar, nyata apa adanya bahwa lelaki baik untuk perempuan yang baik karena Allah meletakkan sesuatu dengan keserasian dan kesempurnaan.

Ketika dalam hati sudah terbesit untuk meraih gelar tersebut maka langkah indah, metode terbaik dan taktik terelok adalah berbanyak kita curhat pada Allah, berbanyak ibadah kita, berbanyak silaturahmi, berbanyak menabur mafiroh bukan curhat melalui status, curhat pada manusia dan murung kepanjangan. Jika sikap kita seperti itu maka yakinlah kita akan galau dan tak meraih solusi nan konkrit.

Pokoknya kita harus yakin, semangat, selalu perbaiki kualitas keimanan kita pada Allah, perbaiki sikap kita dalam bertutur kata.  “Yakinlah wahai ikhwan dan akhwat Allah maha tahu waktu pantas kita meraih gelar tersebut, yakinlah Allah masih mengingikan kita untuk memperbaiki diri dalam segala hal, yakinlah Allah masih memberi kesempatan pada kita untuk menikmati kehidupan kesendirian sehingga bebas untuk mengeksplorasi atau mengupgrade skill tanpa ada hambatan sebab ketika sudah menikah tentunya kita harus ada izin keluar rumah dan yakinlah bahwa Allah menciptakan berpasang-pasangan “Maha suci Allah yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari mereka yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS Yasin (36) :36)

Wahai ikhwa dan akhwat jangan pernah ragu janji Allah bukan sebelum kita terlahir ke dunia, telah berjanji padaNya bahwa rezki, jodoh, dan ajal, Allah yang menentukan dan tentunya kita ikuti saja takdir serta skenario Allah. “Katakanlah (Muhammad) “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” katakanlah “Allah” dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik) pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (QS. Saba’(34): 24)

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Semua kita sedang menunggu


Bismillah.. J

Frend fillah izin ana untuk menulis dan berbagi tentang sebuah penantian dan betapa banyak yang bilang bahwa hidup ini adalah penantian. Pernahkah kita merasakan pase-pase penantian dan bagaimana rasa penantian?

Hampir disetiap manusia sedang menanti jodoh, menanti kelahiran, menanti interview, menanti menjadi orang sukes, menanti menjadi orang kaya, menanti menjadi orang terkenal, menanti lulus sekolah atau kuliah, menanti menjadi pejabat, menanti menjadi ibu, menanti menjadi bapak, menanti menjadi kakek/nenek,  dan sedikit orang tersadar kalau kita begitu dekat dengan kematian.

Wah ternyata hampir setiap episode kehidupan selalu dipenuhi masa penantian dan sudah kita mempersiap, membekal, menguat jiwa dan hati dalam penantian?

Yakinlah selama masa penantian betapa banyak hambatan-hambatan akan mengoyang, mengoleng pendirian kita. Ketahuilah menunggu tanpa konsep dan rumus akan membuat kita stress dan betapa banyak realita dilingkungan kita yang sedang menunggu berakibat kesia-siaan.

Mari  kita berdoa pada Allah semoga Allah memampukan kita untuk menikmati penantian kehidupan dengan kemampuan yang besar, bukan hanya menghabiskan umur untuk penantian dengan hasil yang kecil dan kurang.

Saudara izinkan ana untuk berbagi bagaimana cara kita menunggu dengan konsep kecerdesan terinspirasi dari acara Golden way bahwa just one way menunggu hebat yaitu “sibuk”.

Sibukkan diri kita dengan kegiatan bermanfaat dengan kesibukkan tersebut. Insyallah kita begitu menikmati proses penantian bahkan tanpa ada perasaan menunggu lama sedangkan penantian tanpa kesibukkan akan menimbulkan bosan, resah, stress dan terasa pula waktu begitu lama.

 Apakah kita termasuk orang menanti tanpa kesibukan? Atau kah kita termasuk katagori menunggu begitu saja?

Jika kita bagian orang menunggu begitu saja! Mari kita ubah kebiasan menunggu kita dengan menyibukkan dengan kegiatan lain “bermanfaat untuk sesama”. Sesungguhnya, bukan waktu penantian membuat terasa lama, tapi cara kita menunggu yang salah.

Semoga saja kita dapat melewati disetiap masa penantian dan Allah bimbing langkah kami dalam masa-masa penantian ini.

Regard

Simfonis “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Renungan teruntuk Ukhti Semua…


Salam Simfoni Kehidupan
Salam Simfoni Kehidupan

Salam Simfoni Kehidupan

Mari kita semua ukhti…selalu merenung kalimat nan singkat itu. walaupun kalimat tersebut sederhana tapi memiliki energi positif nan luar biasa dalam cara kita memperbaiki diri dan perspektif pada sebuah penantian….

Sholiatalhanin…^__^

Salam Simfoni Kehidupan

Senja penantian


kenapa senja ini begitu tahu

tentang rasa dan cinta yang hadir dipermukaan jiwa

begitupun embun berubah berwarna kehijauan diatas langit

apakah pertanda penantian berakhir sebuah senyum atau tangisan….!!!!!!!

 

pelan-pelan senja terganti oleh kegelapan malam

perasaan tetap tak berubah untuk menanti

coba mengusap jari kemuka agar tampak bayangnya

tapi apa hasilnya hanya blur-blur tak berwarna…

 

suara azan telah berkumandang di rumah Allah

semua makhluk Allah dibumi telah kembali keperpaduan

tapi aku tetap tak mau beranjak di sebuah penantian

karena meyakini bahwa dia diciptakan untuk ku

walaupun bayangnya tak tampak

namun bisa merasakan kehadirannya melalui warna-warna senja

 

haruskah aku menghentikan penantian ini

sedangkan suasana semakin menyeram

tapi aku tak ingin dikatakan dia

bahwa aku orang tak sabar dalam penantian

sebab selama ini selalu berusaha sabar menanti

walaupun senja telah berubah kegelapan….!!!1

Dimensi pelabuhan hati


Entah dengan siapa

Hati ini akan berlabuh

Sungguh tak sanggup memecahkan dengan sains

Terlalu rumit untuk membuka aura ini

Entah dengan siapa

Jiwa ini bersandar

Begitu dini untuk melumpuh mimpi itu

Pada makhluk yang memiliki cinta dan perasaan

Entah sampai kapan mata ini

Tak memandang tiga dimensi oase

Demi menjajaki rupa-rupa mempesona

Entah kapan kesunyian ini

Tersulap menjadi keramaian yang bersorak-sorak

Dimana disana ada aku dan dia

Dalam mengukir cinta

Sungguh tak bisa melepuh ini

Biarlah benteran dan labirin

Menjelma dan metafora menjadi tetrologi

Oleh: Testiani_makmur@yahoo.co.id

Belajar sesuatu dengan cinta, ikhlas dan sabar

Ooo Kesetiaan


Ooo Kesetiaan

Oooh…bantal begitu setianya
Engkau menemani ketika “dia” terdampar dipulau kapuk
Seandainya engkau tidak ada
Sungguh kesunyian tidak akan musnah dan lenyap
Ketika senja telah menghampiri magrib

Ooo…selimut begitu setianya
Engkau melapiskan kulit ari dan tubuh “dia”
Seandainya engkau tidak ada
Sungguh kehangatan tidak akan terasa
Ketika hendak melelapkan kelopak mata

Ooo…kasur begitu setianya
Engkau memberi kenyaman pada raga “dia”
Seandainya engkau tidak ada
Sungguh jiwa tidak bisa menghilangkan lelah
Ketika keheningan mendekati suara azan subuh

Andaikan Bantal, selimut, dan kasur bisa berkicau
seperti burung yang menebarkan sayapnya
di awan-awan yang indah sambil berkedip-kedip

Pasti akan mengatakan…
bahwa dia merindukan orang yang jauh disana
bahwa dia menunggu orang dipulau sana
bahwa dia selalu bermimpi orang didaratan sana

Pasti akan mengatakan…
bahwa dia begitu banyak beban yang dipikul
bahwa dia begitu banyak dikecewakan
bahwa dia begitu banyak dibohongin
bahwa dia begitu banyak dikhianati

namun dengan beban itu
dia tetap kokoh menatapi kekrikil menusuk
namun dengan kekecewaan itu
dia tetap opitimis menerjang sengatan api
namun dengan kebohongan itu
dia tetap percaya percikan air yang mendengung
namun dengan pengkhianatan itu
dia tetap menjalin rajukkan seperti jaring laba-laba

oleh: testiani_makmur@yahoo.co.id
belajar sesuatu dengan cinta, ikhlas dan sabar

%d bloggers like this: