Mengantar Mahasiswa Bimbingan Ujian: Kombinasi Bahagia dan Sedih


20160519_131001Hampir empat tahun menjadi pemimbing skirpsi mahasiswa. Awal mulanya Cuma diberi bimbingan dua orang, bergulir waktu semakin bertambah mahasiswa bimbingan. Secara tidak langsung ter-mapping dan terpola mahasiswa bimbingan yang diberikan pada Anim. Umumnya berkaitan dengan literasi, perilaku pencari informasi, teknologi informasi dan ada juga berhubungan dengan layanan, Manajemen, serta ketesedian koleksi.

Bahkan bukan saja mahasiswa bimbingan saja meminta diarahkan tentang arah penelitian mereka. Ada juga mahasiswa terasa dekat dengan Anim tak sukan-sukan minta diberi arahan. Apalagi ada mahasiswa dengan berani dan terus terang meminta judul skripsi. InsyaAllah selalu memberi saran dan solusi judul skripsi untuk meraka seperti yang baru lulus, Anim berikan judul skripsi bertemakan “Literasi informasi organisasi bagi mahasiswa”, Ketertarikan Alumni ilmu perpustakaan bekerja dibidang perpustakaan dan kesenjangan digital. Sayangnya kesenjangan digital tidak pernah di acc oleh pihak jurusan HOhohoho….”padahal itu tema trends sangat”. Namun apa boleh buat, selalu dapat penolakan!!!

Membimbing mahasiswa melatih diri semakin memahami makna penelitian dan metode penelitian. Memimbing juga semakin mengkaya diri memahami teori atau konsep ilmu perpustakaan. Pada intinya dengan memberi bimbingan tersadari bahwasanya penelitian itu gampang dan mengasyikkan. Gampang asal menemukan teori yang pas. Mengasyikkan bila mendapat data detail dan kompleksitas, sehingga mempermudahkan melakukan analisa. Sementara metodologi tinggalkan disesuaikan saja.

Ada hal menarik berkaitan dengan bimbingan dikampus tempat Anim mengabdi saat ini. Misalnya pemimbing pertama cukup meng-Acc saja, asal sudah dibaca secara teliti oleh pemimbing ke-2, bahkan ada juga pemimbing pertama mengatakan begini “cukup bimbingan saja dengan pembimbing kedua saja, kemudian ada pula pemimbing tak mau hadir ujian proposal ataupun ujian skripsi. Herannya….!!! Fee bimbingan tak pernah ditolak dan selalu mengambilnya. Padahal bila mau jujur dan bertanya dengan diri paling kecil. Sudahkan memimbing secara baik dan benar??? Namun bagi Anim cukup tahu dan sikap seperti itu tidak terbawa pada Anim. Apakah masalah begini juga terjadi pada kampus-kampus lain di Indonesia??? Ya sudahlah itu pilihan apakah ingin membimbing dengan baik dan benar atau cukup sebatas ambil fee sementara memimbing kasih pemimbing kedua!!! Toooh…segala akan dipertanggung jawabkan diyaumil akhir….”Ngerilah kalau bicara akhirat hihihihii”

Namun ketelitian dan kebenaran dalam memimbing akan diuji saat mahasiswa ujian skripsi. Setiap mahasiswa ujian selalu menyembatkan hadir karena secara tidak langsung kehadiran pemimbing akan memberi support dan kekuataan bagi mahasiswa akan ujian. Diruang sidang beragam tingkah ditunjukkan mahasiswa sedang ujian. Ada menjawab asal padahal semakin menjawab mengada-ada semakin banyak pertanyaan dilontar oleh penguji, ada mahasiswa tergiring dengan pertanyaan penguji sehingga hilang dari fokus dari penelitian, ada mahasiswa begitu percaya diri mempertahankan pendapatnya kendatipun tidak didiskripsikan dalam lembaran-lembaran skripsi, ada mahasiswa terdiam tanpa bahasa karena tidak mampu menjawab pertanyaan penguji dan lebih seru lagi anak bimbingan setiap menjawab pertanyaan pengujia selalu melirik pemimbingnya hohohoho….”itu mungkin menandakan meminta bantuan tolong saya ibu/pak”

Bahagia jadi pemimbing, tatkala mahasiswa akhirnya bisa menyelesaikan penelitian, yang dibuktikan dengan ujian skripsi. Lalu mampu mempertahankan hasil penelitian dihadapan penguji. Apalagi mendapat hasil yang memuaskan. Rasanya terbayar sudah coleteh-coleteh berbentuk saran yang diutarakan selama bimbingan. Akan tetapi mengecewakan apabila mahasiswa bimbingan mendapat nilai sangat rendah. Padahal bila dilihat dari isi, metodologi, mempertahankan pendapat dan pembahasannya sesuai dengan teori. Namun karena salah beberapa kata, langsung dapat nilai rendah. Kenapa nilai rendah? Karena memang tidak ada standar nilai yang layak dapat A, B, C dan seterusnya. Jadi sesuai dengan selera penguji. Kalau penguji lagi mood diberikan nilai memuaskan. Seandainya penguji lagi bahagia bisa jadi istimewa. Situasi begini? Membuat hati sedih sebagai pemimbing karena nilai diberikan sesuai keinginan penguji bahkan menjadi bingung sendiri. Kenapa penguji tega memberi nilai C sementara teori, latar belakang, isi dan pembahasan sangatlah baik. Lagi-lagi karena tidak ada standar peniliai!!! Selama tidak ada standar penilaian ujian skripsi, selama itu pula anak bimbingan mendapat nilai berdasarkan kehendak hati penguji.

Namun pada akhirnya, senang dan bahagia bisa memimbing mahasiswa dengan total serta berkesempatan mengarahkan mereka supaya paham bagaimana melakukan penelitian. Terlebih lagi saat memimbing mahasiswa, jiwa ini selalu teringat masa-masa kuliah bagaimana duka mengejar dosen pemimbing hingga ketiduran demi konsultasi skripsi. Bela-bela berjam-jam duduk diruang perpustakaan dan terkadang tidak memuaskan hasil seperti tidak menemukan teori yang mendukung penelitian. Itu lah bagian-bagian perjuangan sebagai mahasiswa demi meraih gelar dan menambah ilmu pengetahuan.

Jadi bagi mahasiswa sedang penelitian, seseringlah melakukan bimbingan dan jangan takut menemui dosen pemimbing. Jika dosen pemimbing galak….”banyak baca ayat-ayat kursi atau yasin” agar tidak kena shock terapi ketika bimbingan hohoho. Tapi percayalah dan bersyukur dapat pemimbing killer, suka coret-coret skripsi karena sangat membantu membentang hasil penelitian dihadapan penguji serta insyaAllah sedikit revisi. Dibandingkan tidak pernah dicoret dan langsung di Acc bertanda akan banyak kesalahan dan melakukan revisi cukup banyak

Menabur Cinta Dan Kebaikan Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang

Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Sang Pendiam


DiamSemester ganjil akan usai. Berada ditengah-tengah mahasiswa merasa berada dalam pusaran penuh semangat, terutama saat berdiri dihadapan regenerasi bangsa berbagi pengalaman dan teori. Melahirkan kesan yang sangat mengasyikkan sehingga tak terasa sudah menghabiskan waktu berjam-jam dalam mempaparkan segala hal. Tak jarang pula sering  keluar terlambat karena keasyikkan menjelaskan materi dan menyimak gesture mahasiswa. Entah kenapa setiap berada diruangan perkuliahan selalu antusias agar mahasiswa bisa menjadi orang cerdas, pintar dan meraih nilai istimewa. Berbagai macam makna dan sinyal diperoleh ketika berhadapan dengan mahasiswa. Bahkan ada yang beranggap terlalu rajin, terlalu semangat, terlalu sering memberi tugas dan terlalu sering melempar pertanyaan. Memberi pertanyaan pada mereka yang sering ngombrol merupakan bagian dari taktik agar mereka tak banyak ngombrol melainkan banyak menyimak dan bertanya. Ternyata cara ini ampuh membuat mereka menyimak kendati pun sedikit menimbulkan pertanyaan mengelitik. Padahal berharap dari hasil paparan dan penjelasan melahirkan berbagai pertanyaan. Dengan banyak pertanyaan maka bisa menjelaskan banyak hal dalam kelas.

Tak jarang pula terbawa pada kenangan sebagai mahasiswa beberapa tahun yang lalu, hampir setiap hari ada tugas dan makalah untuk dipresentasikan. Sekarang baru menyadari bahwa pemberian tugas, paparan dosen itu sangat penting. Sementara tujuan memberi tugas supaya mahasiswa aktif membaca dan mencari informasi. Dimana menurut analisa penulis sendiri dari survey kecil dibeberapa mahasiswa, bahwa yang membuat mahasiswa aktif mengakses informasi dan membaca buku salah satu alasan termotivasi karena tugas dari dosen. Jika tak ada tugas dari dosen dijaminkan mahasiswa jarang mengakses informasi apalagi membaca. Untuk itu keseringan memberi tugas setiap pertemuan, walaupun ada sebagian mahasiswa tak senang dengan sikap itu.

Berbagai karakter atau tipikal mahasiswa ditemui. Ada yang agresif, proaktif, senyum dan diam seribu bahasa. Mahasiswa yang diam membuat sulit untuk mengenal dan teramat sering pula memancing sang pendiam agar mau bersuara ataupun bertanya dengan paparan materi. Tapi tak pernah berhasil tetap bungkam tanpa alasan. Ngeri saja jika ada banyak mahasiswa bertipikal pendiam dikelas, padahal dikelas bukan tempat berdiam diri atau apalagi sampai mengaplikasi pepatah bahwa diam adalah emas. Ruang kelas tempat bertanya, proaktif menyagah dan berdiskusi. Melalui sikap seperti itu memudahkan dosen mengenal, menimbulkan kesan bahwa yang aktif adalah orang yang semangat kuliah dan dianggap cerdas. Atau tipikal mahasiswa sekarang lebih banyak mendengar dengan seribu bahasa dan senyum?

Kadang kehabisan cara agar sang pendiam mau bicara, tapi hingga pertemuan akhir tetap saja belum berhasil. Yang menjadi pertanyaan, apakah sang pendiam tak mengerti bahwa proaktif memiliki effect domino terhadap nilai dan persepsi dosen padanya. Mungkin juga sang pendiam tidak butuh nilai hanya sebatas ingin hadir saja diruangan perkuliahan. Bayangkan saja diruangan perkuliahan saja mahasiswa diam tak karuan apalagi diruang public, mungkin juga tak berani bersuara. Atau sebaliknya diruang public lebih vocal, lalu diruangan perkuliahan menjadi orang pendiam? Entahlah jadi bingung saja menganalisa mahasiswa pendiam dan tak mau bersuara.

Bagi siapapun yang merasa diri sebagai mahasiswa. Proaktif, sigap dan antusias bertanya diruangan perkuliahan. Yakinlah keaktifan diruangan perkuliahan diartikan positif oleh dosen. Tentu keaktifan tertuju pada hal-hal positif bukan sebatas aktif untuk berguyon atau membuat ruangan kuliah jadi riuh. Karena masih menemui mahasiswa aktif diruangan kuliah akan tetapi keaktifan hanya sebatas melahirkan banyolan-banyolan aneh belaka. Sehingga dosen menjadi tidak respect jika ada mahasiswa berani bersuara dan antusias seperti itu.

Terakhirnya manfaat waktu diruangan kuliah banyak bertanya dan proaktif mengkritis hal-hal yang disampaikan oleh dosen. Jangan hanya sebatas mendengar dengan khusyuk tanpa ada komentar. Untung mendengar khusyuk memberi pencerahan, takutnya diam membuat kebingunggan apalagi sampai ngantuk-ngantuk dikelas. Kan jadi aneh bin ajaib!!!

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Kognitif mahasiswa semakin memudar


Kognitif mahasiswa semakin memudarUntuk pertama kali membuat soal UTS tentang analisa yang berpelit-pelit. Padahal tujuan utama dari soal tersebut focus pada satu poin. Sengaja membuat soal seperti itu untuk melihat sejauh mana mahasiswa bisa menganalisa content dan soal yang diberikan persis soal ujian psikotes. Dimana diajak berputar-putar membacanya padahal ending soal itu tetap pada point pertama. Soal UTS disebarkan satu persatu pada mahasiswa dan sebelum mereka menggerjakan tugas tersebut dirumah. Coba menjelaskan sedetail-detail mungkin dan memberi kesempatn mereka untuk bertanya agar tidak ada kebingungan sesampai dikosan karena selama ini setiap dikasih tugas dengan penjelasan yang komplik masih ada yang bertanya melalui SMS. Ketika dikasih kesempatan untuk mengeluarkan pendapat diruangan kelas rata-rata diam seribu bahasa. Itu ciria-ciri mahasiswa masa kini ketika ditanya ada dua kemungkinan (1) senyum-senyum dan (2) diam semari menduduk. Apakah dimasa dulu karakter mahasiswa juga seperti ini!!!

Pada esensinya soal yang diberikan untuk merupakan ruang bereksprimen seluas-luas mungkin, mengeluarkan ide-ide segar dan ingin melihat sejauh mana mereka bisa mengungkapkan ide melalui tulisan. Waktu pengerjaan tugas UTS satu minggu dan  waktu yang normal diberikan oleh dosen manapun.

Waktu pengumpulan tugas pun tiba, mereka mengumpul satu-satu persatu dan memeriksa satu persatu. Sungguh sangat mengecewakan, dari sekian puluhan mahasiswa dalam satu kelas hanya beberapa yang mendekati benar. Sedangkan yang lain asal buat tugas, asal ngumpul, asal selesai dan lebih parahnya lagi tidak ada yang mengumpulkan tugas dengan dalih-dalih klasik para mahasiswa. Strategi apapun dipakai mahasiswa untuk membohongi dosen, sudah bisa ditanggap secara dosen yang mengampu mata kuliah sudah bertahun-tahun kuliah dan paham bagaimana mahasiswa mencari taktik agar dikasihi dosen. Entah nilai apa yang harus diberikan dan apakah mungkin memberi nilai yang sebenarnya secara tidak memenuhi standar penilian. Padahal disisi lain petinggi fakultas selalu memberi peringatan untuk memberi mahasiswa nilai-nilai yang tinggi karena akan terpengaruhi dengan IPK. Ketika nilai mahasiswa rendah dan setelah lulus otomatis sudah kalah dulu dengan lulusan universitas lainnya. Apalagi saat ini untuk memasuki dunia kerja sebelum lulus bahan yang dilihat adalah nilai matakuliah. Dilemma dosen antara idealism dan tuntunan dari pihak petinggi. Bukan kali ini mendengar petinggi tersebut berbicara hal tersebut pada dosen-dosen agar memperhatikan sisi serapan lowongan kerja. Dan pernah juga ketika menguji ujian skripsi mahasiswa sebelum masuk ruangan ujian sudah diingatkan dulu untuk tidak memberi nilai yang tidak layak.

Ketika melihat hasil ujian mahasiswa di atas kertas lembaran jawaban, pikiran melayang entah kemana dan ada rasa kesal seakan-akan tidak mengindahkan penjelasan yang begitu detail diruangan kuliah. Apa yang membuat kognitif mahasiswa semakin mundur. Apakah tidak terbiasa beranalisa. Apakah selama ini belum pernah mendapat soal seperti itu karena kebiasaan dosen masih memberi tugas berkaitan defenisi, fungsi dan manfaat bahkan sangat jarang menemui dosen memberi soal untuk menganalisa (content, analisa gesture, analisa lingkungan). Apakah ini dampak dari mereka tidak terbiasa menulis dan membaca sehingga ide mereka sangat terbatas. Padahal keyword untuk menganalisa apapun adalah banyak membaca dan terbiasa menulis dengan menggunakan unsur 5W+1H. ketika kedua kebiasaan itu sudah menjadi habbit dan kebutuhan dapat menumbuhkan jiwa analitis yang kritis. Apakah ini dampak dari gaya hidup mahasiswa lebih mementingkan gadget (smarphone), fashionable, hedonism dan tidak tahu tujuan utama dari pendidikan. Seperti beberapa opini dibaca yang masih konsisten mengkritik sistim pendidikan Indonesia dari hulu hingga hilir bermasalah semua.  Misalnya problematika kualitas guru, pendidikan berkualitas sebatas wacana dan pendidikan sudah berubah konsep libralisme. Jangan-jangan pendidikan di Indonesia sengaja dibuat rumit begini oleh kaum tertentu agar Indonesia tetap ketinggalan dalam sector apapun dan ketika suatu bangsa masih dalam kebodohan maka siap dijajah oleh Negara maju.

Jika kognitif mahasiswa masih rendah tentu akan berdampak pada masa depan Indonesia. Mahasiswa adalah regenerasi bangsa dan bila regenerasi bangsa hidupnya lebih focus pada hedonism, fasionable dan jauh dari nuansa pendidikan serta spiritual bisa ditebak bagaimana calon pemimpin kedepan yang kosong secara intelektual maupun spiritual. Bilamana terjadi kekosongan dua unsur tersebut maka berdampak pada program Indonesia kedepan. Bukan Indonesia membutuhkan mahasiswa yang prestasi dengan kognitif yang tajam. Bukan kah Indonesia masih kekurangan orang-orang cerdas sesungguhnya yang ada cerdaskan karena sogokan maupun pencitraan media. Bukan kah Indonesia rindu dengan calon pemimpin yang membawa perubahan kebaikan. Bukan kah Indonesia telah memberi ruang inovasi bagi anak muda untuk berkretif agar bisa bersaing nanti di ajang MEA.

Wahai mahasiswa, dimana kalian letak koginitif kalian. Apakah kognitif sudah tergerus oleh postmodern dan kognitif dipergunakan untuk karoke. Jika sudah tergerus mari kembali perbaiki kognitif itu dengan membaca dan menulis seperti kata toko bangsa Indonesia bahwa “calon pemimpin” terdapat dua ciri yaitu (1) jadilah penulis seperti wartawan dan berbicara seperti orator.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Mahasiswa Kopi Paste, Sinetron Dan keroyokan


Bismillah…

Mahasiswa Kopi Paste, Sinetron Dan kelompok

Mahasiswa Kopi Paste, Sinetron Dan kelompok

Setahun lebih berprofesi sebagai dosen, awal mula kuliah tidak terpikir untuk menjadi seorang pendidik dan ketika melanjutkan strata dua mulai membelok arah kehidupan untuk berdidikasi sebagai insan berbagi ilmu maupun pengalaman. Menjadi pendidik sangat maknyus dan chocolate meskipun ada duka yang harus dinikmati. Namun duka menjadi motivasi tersendiri untuk setia berbagi apapun kepada mahasiswa, cara mendekati mahasiswa juga berdasarkan karakter nextgenaration dan beberapa target belum tercapai.

Berada didepan kelas, menjelaskan materi, ditambah dengan guyonan, slide interaktif dan terkadang harus berperan pratagonis agar mereka tidak beranggapan sebagai dosen biasa-biasa saja. Sebagai pendidik di era teknologi harus memiliki selera standup comedy agar suasana perkuliahan membahan, harus mempunyai jiwa psikologi agar mudah memahami setiap karakter peserta didik, harus paham dengan teknologi agar mudah men-create materi presentation jika pendidik gaptek terasa hampar saja sebab generation now tertarik untuk menyimak materi jika ada kombinasi audiovisual dan harus pandai-pandai berdandan jika dandan tidak menarik mengurangi keinginan mahasiswa untuk menyimak…”harus eye cathing”

Hadir diruangan perkuliahan ada roh yang menarik mulut untuk tersenyum dan berbunga-bunga. Tidak pernah beranggapan sebagai dosen ketika interkasi dengan mereka melain sebagai teman atau kakak mereka seperti dialami ketika kuliah. Ada nilai lebih ketika bisa dekat dengan mahasiswa, tapi sayang dosen sekarang banyak cuek bebek bahkan cuek lele hoooo…mungkin dosen lain beranggapan bahwa interaksi cukup diruangan perkuliahan selebih itu tidak perlu dibangun komunikasi

Semari mengajar juga sering mengamati perilaku mahasiswa mulai cara mereka buat tugas. Rata-rata tugas dibuat adalah hasil kopipaste, terlihat dari cara menguraikan kata, terkadang satu tugas hampir semua jawabannya sama mungkin meraka seperti itu dilatarbelakangi rasa solidratis yang solit, terkadang tugas dibuat dikampus, ketika presentasi bingung sendiri dan dikasih kesempatan bertanya diam seribu bahasa…”cermin mahasiswa masa kini”. Kalau bertanya keroyok baru berani dan expression berlebihan.

Terkadang bingung sendiri apakah benar-benar sudah mengerti atau malu bertanya, atau kebinggung dengan materi disampai atau mahasiswa sekarang kekritisan sudah memudar. Jika permasalahan seperti ini terjadi terus menerus bagaimana bisa mahasiswa bertarung padahal untuk maju, berhasil dan sukses harus berani kompetisi serta kritis bukan manut. Dari sekian banyak mahasiswa yang hadir dikampus hanya beberapa orang yang benar-benar cerdas dan memahami paparan dijelaskan sedangkan yang lain sibuk ngombrol, ketawa tidak menentu, menang fisik aja dan sibuk smartphone. Dengan banyak bertanya maka semakin membuka wawasan dan terbentuk pola pikir cemerlang.

Mahasiswa Kopi Paste, Sinetron Dan kelompok

Mahasiswa Kopi Paste, Sinetron Dan kelompok

Tidak hanya itu terjadi dengan mahasiswa masa kini, melainkan hidup meraka bak sinetron hidup dengan kemewahan, hidup dengan fashionable, hidup dengan kecantikan dan kisah cinta mereka pun dibuat-buat seperti kisah sinetron…”Parah.com” Lebih banyak menghabiskan waktu mengikuti perkembangan sinetron-sinetron terupdate maupun terlaris. Padahal sebagai mahasiswa tontonan bukan berkaitan sinetron melainkan menonton bernuansa sciene update, journal, dan berita-berita berkaitan dengan background pendidikan.

Pantas setiap memberi tugas terlalu sering geleng-geleng kepala melihat cara berpikir, cara menguraikan kata, cara menganalisa, cara berbicara, cara bersikap dan cara membuat paperpun masih salah padahal sudah semester terakhir. Maka pantas pula hasil skripsi banyak minim sebab tidak terbiasa menulis, membaca dan terbiasa dibangun adalah menonton sinetron serta program music tidak mendukung pola pikir visioner yang ada kedangkalan pikiran. Jika pikiran dangkal maka siap-siaplah menjadi pembantu dirumah sendiri sudah terjadi dibeberapa sector pekerjaan dan Negara.

Terakhir pengamatan selama mengajar yaitu mahasiswa hidup dengan berkelompok seperti zaman purbakala hooooo. Berkelompok berdasarkan kecantikan, hoby, kepintaran, dan kedaerahan. Ketika berada dunia kampus kehidupan gang-gang tidak ada lagi karena kehidupan dikampus harus mendiri tidak terpaku dengan beberapa orang bukan berarti tidak butuh teman maupun sahabat. Hidup berkelompok dikampus merepot diri sendiri, tidak mandiri karena tidak bisa berkarya, berekspresi bebas dan ikut komunitas lain sebab banyak tidak enak dan tenggang rasa. Lihatin saja meraka-meraka aktif dikomunitas atau organisasi kampus adalah mereka tidak terikat dengan gang kelas dan manusia netral.

Bukan berarti bergang-gang dikampus tidak diperoleh, sah-sah saja tapi lebih elok didunia perkampusan tidak memihak pada gang karena selain menyulitkan tentu dampaknya harus mengikuti apa kata ketua gang. Padahal kebisaan seperti itu sudah tidak masanya lagi karena sudah dirasakan ketika disekolah menengah atas. Disekolah wajar berkumpul dengan gang-gang karena masih mencari jati diri dan pengakuan sedangkan dikampus bukan lagi mencari jati diri melainkan berpikir jauh kedepan dan membentuk pola pikir semakin cerdas, mengelitik dan analitis bukan membeo begitu saja.

Bagi mahasiswa belum aktif dikampus segara ikut semua fasilitas kampus untuk mengekspolarasi talent and hoby. Bagi mahasiswa belum terbiasa menulis mulai dari sekarang bangun kepekaan untuk membaca dan menulis. Perilaku seperti itu memudahkan untuk menghasilkan karya berupa skripsi dan menghasilkan jurnal tingkat nasional maupun internasional. Bagi mahasiswa tinggal tontonan tidak mencerdaskan yang hampir tiap hari disuguhi sinteron tidak mendidk otak, mendidik perasaan dan mendidik sikap. Berawal kampus untuk melihat siapa kita dan mau kemana kita. Nanti ketiak telah selesai akan menyesal dan marah pada diri sendiri.

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Kebinggungan memberi nilai


Bismillah…

Kebinggungan memberi nilai

Kebinggungan memberi nilai

Setelah melihat hasil koreksi ujian mahasiswa baik ujian tengah semester maupun ujian akhir jadi geleng-geleng ternyata hasilnya jauh dari harapan yang diinginkan. Apakah tidak berhasil dalam mendidik, tidak berhasil dalam mempaparkan, tidak berhasil membuat mereka tertarik dengan materi disajikan, tidak berhasil mempengaruhi meraka semua sehingga hasil seperti ini atau ada factor lain…”itu semua bisa menjadi salah satu factor”

Kebijaksanaan, kedewasaan dan pertaruhan antara idealism maupun kacian sedang mempengaruhi jiwa seorang pendidik. Padahal termasuk dosen rajin masuk, rajin memberi tugas, rajin menjelaskan satu persatu, mempapar secara sistimatis, padahal selalu menggunakan media audio dan video agar mereka paham serta bisa memahami apa tujuan dari mata kuliah yang diamanahkan serta termasuk dosen yang banyak dipensasi….”Puji diri sendiri hoooooo”

Jika diberi nilai rendah maka akan banyak yang kecewa, jika diberi nilai bagus tentu tak memenuhi syarat untuk meraih excellent value, atau harus memberi nilai tengah-tengah saja agar lebih adil.

Seandainya salah memberi nilai tentu di Yaumil Akhir nanti akan diminta pertanggung jawab tersebut, tapi memberi nilai jelek tentu jurusan mempertanyakan kenapa bisa nilai jauh dari rata-rata…”oh mygod” benar binggung membuat keputusan memberi nilai mahasiswa ku.

Bila diberi nilai bagus tentu meraka akan beranggapan remeh dengan kualitas penilai saya, tentu beranggapan bahwa saya termasuk orang tak tegaan, tentu akan bercerita pada teman mereka yang akan kuliah di semester berikut bahwa saya tak begitu pelit memberi nilai.

Ibarat kata seperti itu maka mereka tidak akan bersungguh untuk belajar, tidak bersungguh untuk membuat tugas, tidak bersungguh mempresentasikan tugas mereka, dan tidak bersungguh untuk menjawab pertanyaan baik di UTS maupun UAS. Terlihat rata-rata mereka menjawab pertanyaan saat UTS maupun UAS asal sudah, asal cepat keluar, asal terisi. Apalagi dengan tugas harian semua dipastikan dikutip dari internetan tanpa dianalisis atau dibaca dulu apakah references tersebut sesuai dengan tugas atau tidak! Tak pernah mengamati seperti itu sehingga wajar tugas dikumpul juga membuat ketawa sendiri.

Dari tugas, presentasi, diskusi dan ujian terlihat bahwa rata-rata kualitas mahasiswa dikampus mengabdikan diri jauh dibawah rata-rata. Tentu ada factor penyebab terjadi kualitas seperti missal dari factor internal, kesungguhan mahasiswa untuk kuliah belum memahami sebenar tujuan dari perkuliahan tersebut sedangkan factor eksternal mungkin bisa dipengaruhi fasilitas, SDM (dosen) dan lingkungan.

Pesan moral bagi kalian sebagai mahasiswa….”Heemmm” ketika ujian dan perkuliahan maka pergunakan untuk belajar dengan sungguh jangan sampai belajar sambil bermain, kalian menyesal sendiri nantinya. Apalagi ketika telah selesai kuliah kalian hanya membawa lembaran nilai tapi tanpa membawa keahlian atau ilmu diperoleh, apa arti sebuah nilai jika tak memahami teorinya.

Sungguh sangat memperhatinkan, coba lihatin bagaimana dosen dengan penuh semangat untuk berbagi ilmu, membuat kalian menjadi cerdas, dan terkadang dibumbui motivasi bahkan taujih dengan tujuan kalian menjadi agent of change dimasa mendatang. Namun kalian tak pernah berpikir hingga kesana yang ada dalam pikiran kalian adalah sebatas mendapat nilai bagus dan title.

Terakhir pergunakan waktu bertanya karena saat itulah kalian bisa mencuri ilmu mereka sebanyak mungkin terkadang tidak semua ilmu mereka peroleh melalui pendidikan maupun pengalaman dituangkan dalam handout pembalajaran. Lewat diskusi salah satu strategi mendapat ilmu spektaktuler, terdahsyat dan mengagumkan. Kalau tidak percaya coba dari sekarang pergunakan semaksimal mungkin waktu diskusi atau bertanya ketika ada dosen mempersilahkan kalian untuk bertanya.

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Pengalaman pertama: sebagai penguji sidang skripsi


Bismillah…

Pengalaman pertama: sebagai penguji sidang skripsi

Pengalaman pertama: sebagai penguji sidang skripsi

Setelah empat bulan menyimbuk diri mengajar akhirnya selesai juga perkuliahan  dan pada akhirnya memimiliki waktu panjang (longtime)  untuk bercerita, meluap rasa dan berbagi inspirasi bagi pembaca semua. Ingin berbagi tentang pengalaman pertama, setelah diklasifikasi ternyata banyak pengalaman pertama yang membuat ketawa sendiri jika dikenang, banyak pengalaman pertama yang error, banyak pengalaman pertama menjadi jumping stone (batu lombatan) untuk menjalani aktivitas tersebut, banyak pengalaman pertama membuat jiwa ini nerveous (gugup), dan banyak pengalaman pertama memberi informasi bermakna.

Pengalaman pertama akan diceritakan dalam essay ini berkaitan pengalaman pertama menjadi penguji ujian skripsi mahasiswa disalah satu Universitas Islam Negeri. Sesungguhnya informasi atau pemberitahuan sangat mendadak karena tiba-tiba dapat telphon dari pihak akedemik bahwa diamanah untuk menguji. Tentunya kaget, tak percaya dan seakan-akan sebagai penguji dipaksa atau mengganti penguji yang lain…”apapun alasannya I’m enjoying and happy fun”

Kebetulan saat mendapat informasi akan berangkat kekampus, bayangkan jika saat mendapat informasi tidak berada dikampus tentu berburu dengan waktu, tentu tidak sempat untuk membaca skripsi tersebut, tentunya tidak bisa mengkoreksi secara totalitas content dari penelitian mahasiswa. Merasa aneh saja sebab mahasiswa sidang selasa dan baru diinformasikan sebagai penguji senin. Anggap saja itu merupakan kesalahan dalam berkomunikasi.

Setelah semalaman membaca dengan teliti dari kata ke kata, dari kalimat ke kalimat, dari paragraph ke paragraph hingga kesimpulan. Sesudah membaca kebinggungan sendiri dengan hasil penelitian mahasiswa karena masih banyak dalam paragraph terdapat berbagai tema dibahas, masih terdapat pragraf tidak menyambung dan terlihat dalam latar belakang masalah belum menggena atau alasan kuat kenapa judul skripsi seharusnya diteliti.  Ini terbukti pada draf skripsi banyak coret mencoret, banyak libatan halaman, banyak tanda Tanya dan itu bertanda bahwa terdapat kesalahan skrispi mulai penggunaan bahasa, cara penulisan dan cara menyimpulkan dari hasil penelitian.

Kemudian ketika memasuki ruangan sidang seakan-akan jiwa dan pikiran dibawa beberapa tahun yang lalu yaitu saat ujian Laporan akhir, ujian skripsi dan ujian thesis. Merasakan bagaimana gugup, takut, dan menenang hati agar bisa menpapar atau menjelaskan hasil penelitian. Terlihat pula peserta sidang tegang, memotivasi diri melalui anatomi tubuh, gesture dan cara berbicara seperti saya ketika masih dibangku perkuliahan.

Banyak cacatan, koreksi dan saran untuk peserta ujian skripsi. Sayangnya waktu dikasih untuk menguji Cuma 10 menit karena waktu banyak dipergunakan penguji pertama padahal banyak hal ingin dikritik, ditanya dan diskusikan. Dengan terpaksa pertanyaan dilontarkan yang urgent saja, terpaksa diskusi sesingkat mungkin dan terpaksa tak bisa memberi saran secara full melalui face to face.

Heeemmmm… pengalaman pertama menguji memberi sensasi, spektakuler, dahsyat bagi jiwa ini. Ternyata penguji itu tak seseram kita bayangkan selama ini, ternyata penguji lebih banyak memberi saran membangun, ternyata penguji hanya akan lebih focus pertanyaan sekitar latarbelakang dan kesimpulan.

Jadi bagi kalian akan ujian skripsi, thesis maupun disertasi anggap saja ujian adalah FGD (focus group discussion) jangan anggap ujian sebagai penentu kalian untuk meraih gelar.  Jika kalian sudah serius bimbingan, sudah sungguh-sungguh menjalani proses akademik (skripsi) insyallah akan gampang menjawab pertanyaan dari penguji, sudah mengikuti saran pemimbing maka akan dapat pembelaan dari pemimbing, dan jika sudah berkali-kali revisi atau edit hasil penelitian maka akan memetik hasil (nilai) excellent.

Namun sayang banyak mahasiswa tak menyadari betapa penting kehati-hatian atau tidak tergesak-gesak menyelesaikan skripsi bahkan rata-rata mahasiswa memaksa pada pemimbing untuk segara ujian. Padahal jika dilihat dari content, teori yang mendukung, penggunaan kata dan penulisan belum layak diuji. Untuk itu bagi kalian lagi menggarap skripsi jangan memaksa pada pemimbing karena pemimbing tahu apakah sudah siap disidangkan atau tidak.

Pastinya pengalaman pertama menjadi penguji ujian skripsi memberi kesan tersendiri, memberi pengalaman tersendiri, mendapat pengetahuan yang selama belum pernah didapatkan dari bangku perkuliahan maupun dari bacaan, dan dengan menguji akhirnya jadi tahu bahwa penguji itu tidak sesaram kalian bayangkan dalam your mind. Berharap masih ada kesempatan berikutnya untuk menguji atau menjadi pemimbing agar bisa diskusi dengan mahasiswa.

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

harus ukhti bilang Woowww gitu ketika dicium tangan


Bismillah…

Terasa aneh saja bagi ukhti jika ketemu mahasiswa dijalan, dipasar, dikampus, atau ditempat keramaian lainnya karena ketika bertemu meraka mencium tangan ukhti. Bagi ukhti hal seperti itu sangat berlebihan secara dari penampilan ukhti dengan mahasiswa tidak jauh berbeda hanya berbeda beberapa tahun kemudian jika diukur dari tingkatan generation ukhti dan peserta didik masih dalam lingkup generation 2.0 apalagi cara ukhti presentasi diruangan perkuliahan masih lebay banget alias ikut keinginan mereka. jadi sangat wajar banget ukhti merasa aneh, kikuk, dan tidak selayak mereka seperti itu pada ukhti.

teringat untuk pertama kali ukhti dicium tangan oleh mahasiswa ketika menghadiri acara sebagai narasumber disalah satu kampus, langsung salah tingkah dan merasa sudah tua saja. padahal selama ini yang mencium tangan ukhti hanya pona’an selebihnya malah ukhti yang mencium tangan orangtua.

ukhti merasa aneh bukan karena tak mau mereka bersikap seperti itu tapi ukhti aja belum terbiasa, insyallah the next time, the next years and the next day akan menjadi biasa juga. suatu hal buat ukhti risih jika disalami mahasiswa berkelamin laki-laki karena susah memposisikan diri sehingga dengan terpaksa ukhti salam seperti orang sunda hanya menyentuh ujung jari wae berharap kedepan bagi mahasiswa laki-laki tidak menyalami lagi cukup senyum saja …”asyik, I’am need your smile to me”. kalau mahasiswi sich sangat oke  bahkan tidak apa-apa.

Bahkan berkali-kali salam dari mahasiswa laki-laki dengan terpaksa ukhti tolak karena dalam islam yang bukan mahrom tidak dibenarkan untuk bersentuhan, so harus mengaplikasi ketetapan yang telah ditetapkan para pemilik bumi. teruntuk mahasiswa ku bergender male jangan beranggapan negative ya jikalau ukhti tidak respon salam tangan kalian.

tapi ukhti bangga dengan kalian karena you all begitu santun, hormat dan menghargai your teacher…^__^ sehingga ukhti semakin meresapi, asyik, dan enjoy menjadi seorang pendidik melihat kesantunan kalian serta respon kalian.

Heemmmm jadi pendidik memiliki pesona berbeda, memiliki sense yang unik, memiliki keakraban luar biasa dan menumbuh canda begitu hangat. I love u full myprofesi. moga profesi sebagai pendidik mampu menginspirasi peserta didik, memotivasi mereka tetap semangat menuntutu ilmu dan mampu menjadi tauladan bagi mereka juga. Amin

Best Regard

Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

 

 

%d bloggers like this: