literacy of information


Informasi Literacy dan Pustakawan-Fakultas

Kolaborasi: Sebuah Model untuk Sukses

Haipeng Li
Oberlin College
Amerika Serikat
haipeng.li @ oberlin.edu

 

ABSTRAK: Pada usia ledakan informasi dan kemajuan teknologi, masalah-masalah penyimpanan informasi, organisasi, akses, dan evaluasi selalu menjadi penting dalam masyarakat kita. Isu-isu melek informasi dan merancang bagaimana mereka dapat diintegrasikan pada siswa terbaik? Proses belajar yang sangat penting. Perpustakaan profesional di Amerika Serikat, terutama di dunia akademis, telah menyadari pentingnya melek informasi dan telah berusaha dengan berbagai cara untuk mengatasi masalah ini. Tujuan utamanya adalah untuk membuat literasi informasi merupakan bagian integral dari kurikulum akademik, sehingga membantu siswa untuk berhasil tidak hanya selama bertahun-tahun di perguruan tinggi tetapi juga bagi pilihan karier seumur hidup mereka. Artikel ini akan melihat cara bagaimana literasi informasi terbaik dapat dimasukkan ke dalam siswa? Akademik pengalaman, dan bagaimana proses ini dapat membuat siswa? Belajar bermakna dan sukses. Secara khusus, penulis akan meneliti model kolaborasi pustakawan-fakultas dalam literasi informasi mengintegrasikan ke dalam kurikulum, seperti yang ditunjukkan dalam Lima Ohio College ‘Program Melek Informasi.

I. Pendahuluan

. Literasi informasi telah menjadi isu panas di dunia perpustakaan selama hampir satu dekade. Dan itu masih sangat relevan saat ini. Di zaman ledakan informasi dan kemajuan teknologi, masalah-masalah penyimpanan informasi, organisasi, akses, dan evaluasi telah menjadi isu penting akan dihadapi oleh masyarakat kita. Perpustakaan profesional di Amerika Serikat, terutama di dunia akademis, menyadari bahwa literasi informasi memainkan peran penting dalam siswa? Proses belajar. Mereka telah berusaha dalam berbagai cara untuk menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan melek informasi dan berusaha keras untuk membuat literasi informasi merupakan bagian integral dari kurikulum perguruan tinggi. Tujuannya adalah untuk membantu siswa berhasil, tidak hanya selama bertahun-tahun di perguruan tinggi, tetapi juga dalam kehidupan mereka selama pilihan karir. “”Jalan menuju literasi informasi adalah menciptakan hubungan antara diri sendiri dan dunia,? Dan pustakawan adalah” tentang memfasilitasi hubungan-hubungan antara mahasiswa dan dunia mereka.? A href = “# 1”> [1] Dengan demikian penting untuk memberi ruang kurikulum tradisional untuk peran literasi informasi dalam proses pembelajaran sehingga siswa akan dapat membangun dasar yang kuat untuk karir masa depan mereka.

Literatur perpustakaan menunjukkan bahwa mahasiswa adalah kebutuhan kritis keterampilan melek informasi. Di era ledakan informasi, sedangkan informasi yang mudah diakses, berlimpahnya informasi juga membuat membingungkan untuk memilih informasi yang paling relevan sehingga dapat mencapai keputusan yang tepat. Seperti banyak informasi yang tersedia adalah kualitas diragukan, [2] kemampuan untuk bertindak dengan penuh percaya diri ketika mencari informasi sangat penting bagi keberhasilan akademis dan perguruan tinggi belajar. Dalam dunia sekarang ini, hanya mereka yang mampu menemukan, mengevaluasi, menganalisis, dan menyampaikan informasi kepada orang lain secara efektif dan efisien adalah orang-orang yang akan berhasil dalam lingkungan informasi ini.

Selain itu, dengan Internet, situs web dan halaman web tumbuh dengan cepat dan mudah diakses, e-learning bidang lain yang layak diskusi. Siswa cenderung google segala sesuatu tanpa menganalisis nilai informasi atau tidak mampu menganalisis. Sebuah studi yang dilakukan oleh Holly Gunn, seorang guru-pustakawan di Kanada, yang diakui oleh NIS (Jaringan Sekolah Inovatif) sebagai Ahli of the Month untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam kurikulum melalui perpustakaan sekolah pada tahun 2002, dan sebagai Canadian Library Association’s Guru-Pustakawan of the Year pada tahun 2000, menunjukkan bahwa kebanyakan siswa bergantung pada internet sambil menyelesaikan pekerjaan rumah. [3] Artikel tersebut mengutip sebuah penelitian yang dilakukan oleh Environics Research Group pada tahun 2001, di mana 5.682 siswa yang berusia 9 sampai 17 tahun di sekolah di Kanada yang disurvei pada isu penggunaan Internet. Temuan penelitian menunjukkan bahwa 99% melaporkan bahwa mereka telah menggunakan internet di beberapa titik, 63% menggunakan internet setidaknya sekali dalam sebulan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, dan 48% menggunakan internet dari rumah minimal satu jam setiap hari. [4 ] Hal ini terbukti dari studi ini bahwa bimbingan yang diperlukan siswa? manuver di Internet untuk sumber daya di lingkungan elektronik hari ini. Kemampuan menemukan, mengevaluasi, dan menganalisis informasi yang tersedia untuk kita dengan demikian menjadi sangat penting dalam dunia informasi ledakan.

II Melek Informasi

Profesi perpustakaan di Amerika Serikat telah merespon dengan baik untuk kebutuhan kritis untuk melek informasi bagi pengguna perpustakaan. Perpustakaan asosiasi di berbagai tingkatan telah berusaha untuk mengatasi kebutuhan ini. The American Library Association (ALA) membentuk komite presiden pada literasi informasi di tahun 1989, yang memimpin upaya untuk menciptakan standar literasi informasi untuk profesi. Asosiasi Sekolah Tinggi dan Penelitian Libraires (ACRL) juga dibuat panduan untuk bagaimana literasi informasi dapat diimplementasikan terbaik. Banyak organisasi perpustakaan lainnya mengikutinya, seperti Orientasi Perpustakaan Exchange (LOEX) dan Asosiasi Perpustakaan Akademik dari Ohio (ALAO), yang telah mengadakan konferensi khusus isu-isu melek informasi.

Forum Nasional Melek Informasi (NFIL) diciptakan pada tahun 1989 sebagai tanggapan atas rekomendasi dari American Library Association’s Presiden Komite Melek Informasi. Dalam Komite Presiden Melek Informasi Laporan, Komite berbicara mengenai masalah pentingnya melek informasi kepada perorangan, bisnis, dan kewarganegaraan. [5] Laporan ini tidak hanya mengangkat perlunya literasi informasi, tetapi juga dijelaskan langkah-langkah untuk sukses melek informasi memasukkan ke dalam program melek budaya. Dalam menanggapi itu, NFIL datang dengan definisi kerja melek informasi.

NFIL informasi yang menggambarkan keaksaraan sebagai: “kemampuan untuk mengetahui kapan ada kebutuhan untuk informasi, untuk dapat mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, dan secara efektif menggunakan informasi untuk isu atau masalah yang dihadapi.? A href =” # 6 “> [6] Selain itu, ACRL menyediakan konteks yang diperlukan literasi informasi di lingkungan pendidikan tinggi:

… Karena meningkatnya kompleksitas lingkungan ini, individu dihadapkan dengan beragam, informasi berlimpah pilihan – dalam studi akademis mereka, di tempat kerja, dan dalam kehidupan pribadi mereka. Informasi yang tersedia melalui perpustakaan, sumber daya masyarakat, organisasi minat khusus, media, dan Internet – dan semakin, informasi datang kepada individu-individu dalam format tanpa filter, mengangkat pertanyaan tentang keasliannya, validitas, dan reliabilitas. Selain itu, informasi yang tersedia melalui berbagai media, termasuk grafis, pendengaran, dan tekstual, dan ini menimbulkan tantangan baru bagi individu dalam mengevaluasi dan memahaminya. Kualitas yang tidak menentu dan memperluas kuantitas informasi berpose tantangan besar bagi masyarakat. Semata-mata informasi berlimpah sendiri tidak akan membuat informasi lebih warga negara tanpa melengkapi kemampuan kelompok yang diperlukan untuk menggunakan informasi secara efektif. [7]

Lebih lanjut ACRL menggambarkan keaksaraan sebagai kemampuan untuk:

  • Menentukan sejauh mana informasi yang dibutuhkan
  • Mengakses informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien
  • Mengevaluasi informasi dan sumber-sumber kritis
  • Memasukkan informasi dipilih menjadi salah satu basis pengetahuan
  • Menggunakan informasi secara efektif untuk mencapai tujuan tertentu
  • Memahami ekonomi, hukum, dan isu-isu sosial seputar penggunaan informasi, dan akses dan menggunakan informasi secara etis dan legal. [8]

III. Pengalaman Belajar

Banyak mahasiswa dan peneliti menggunakan Google untuk mencari informasi yang mereka butuhkan. Sebuah studi yang dilakukan oleh dua peneliti di Manchester Metropolitan University di Inggris menemukan bahwa? 5% dari siswa yang disurvei menggunakan Google sebagai persinggahan pertama saat mencari informasi, dengan perpustakaan universitas katalog yang digunakan oleh hanya 10%.? A href = “# 9”> [9] Di Cina, hampir 80% dari cina peneliti memulai pencarian dengan Google, atau mesin pencari internet lain, menurut survei yang dilakukan pada tahun 2005 oleh penerbit raksasa Elsevier. [10] Sementara itu sah untuk menggunakan beberapa informasi yang tersedia di web, siswa perlu belajar bagaimana mengevaluasi informasi tersebut. Amy Bruckman, profesor Ilmu Komputer di Georgia Institute of Technology, menyatakan bahwa “untuk membantu siswa memahami seni penelitian dan keandalan sumber-sumber di era informasi online, kita harus mengajar mereka tentang sifat ‘kebenaran.? A href = “# 11”> [11] Dan “kebenaran? di sini menunjuk kepada kualitas informasi.

Dalam artikel lain, “Melek Informasi dan Pendidikan Tinggi: Menempatkan Akademik Perpustakaan di Pusat Solusi yang Komprehensif,? Edward K. Owusu-Ansah menyajikan solusi untuk peran apa perpustakaan akademis harus bermain di misi akademis pendidikan tinggi Solusi yang memiliki dua dasar-dasar mendasar: yang pertama adalah bahwa literasi informasi merupakan masalah bagi setiap perguruan tinggi dan universitas; dan yang kedua adalah bahwa pustakawan harus menempati posisi dalam upaya untuk menentukan dan mencapai kampus-lebar melek informasi. [12] Dia melanjutkan untuk mengatakan bahwa “keduanya mengalir dari pengakuan fakta bahwa tujuan menghasilkan anak didik yang berpengetahuan dalam disiplin dan mampu menyesuaikan dan maju di perguruan tinggi dan kehidupan setelah kuliah adalah universal bagi semua lembaga pendidikan tinggi. [13] Jadi, siswa kami ? pengalaman belajar yang menentukan tempat yang sah dalam kurikulum di kampus-kampus.

Continue reading

Strategi Meningkatkan Kreativitas Pustakawan Di Abad 21


Strategi Meningkatkan Kreativitas
Pustakawan Di Abad 21
by Testiani
Mahasiswa Pascasarjarna UGM – Manajemen Informasi Perpustakaan

Pendahuluan
Pustakawan adalah makhluk yang diberi kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai situasi dan tantangan kehidupan. Perubahan yang terus menerus secara global menuntut pustakawan beradaptasi dengan cepat terhadap berbagai situasi dan kondisi yang seringkali tidak dapat diprediksi. Tingkat keragaman dan kedalam permasalahan sangat tinggi karena berada dalam koridor konteks yang kompleks. pustakawan dituntut memikirkan dan bertindak dengan berbagai cara untuk dapat menguraikan kompleksitas tantangan dan memikirkan berbagai alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantatangan, untuk itulah pustakawan membutuhkan kretaivitas. Orientasi memandang suatu persoalan merupakan kunci awal pustakawan memiliki kreativitas.
Sedangkan pendidikan formal adalah salah satu biang keladi pembatas kreativitas manusia sejak dini padahal, hal itu tidak benar. Houtz menekankan bahwa kreativitas bukanlah suatu bakat yang dianugerahkan sejak lahir, melainkan sesuatu yang harus diusahakan dengan kerja keras; Menurutnya, orang-orang kreatif adalah mereka yang memiliki kedisiplinan untuk terus menciptakan ide-ide baru dan ketekunan untuk mewujudkan ide-ide mereka.
Pustakawan di Abad 21 menghadapi masalah semakin kompleks untuk mengatasi masalah ini, pustakawan perlu menghasilkan atau memikir suatu hal yang baru dalam dunia perpustakaan apakah mengkontruksi, inovoasi, presentatif dengan berbagai pendekatan. Pustakawan abad ke-21 harus memiliki keahlian yang memungkinkan pustakawan untuk mengeksplorasi kreativitas, untuk mencari dan mengevaluasi informasi kritis, untuk bekerja produktif sebagai pustakawan, dan untuk secara efektif mengkomunikasikan multi task kepada orang lain.

Kompetensi Pustakawan Abad 21
Kemajuan perpustakaan tidak terlepas dari kualitas sumber daya manusia (SDM). Oleh karenanya kreativitas perlu disalurkan. Dimana di era teknologi tidak lepas dari peran seorang pustakawan untuk kratif dalam berbagai kegiataan (multi Task) yang harus diterapakan dalam kehidupan seorang pustakawan. Pustakawan sebagai gawang peradaban informasi, mediator, fasilator harus mampu meningkat kreativitasnya. Bukan saatnya lagi pustakawan sebagai pelayan perpustakaan atau menunggu pelanggan yang meminjam jasa mereka. Bahwa peran pustakawan semakin berkembang dari waktu ke waktu tidak hanya melayani dan display buku. Namun peran pustakawan adalah MultiTask seperti hard skill yaitu penguasaan teknis dan detail bidang kepustakawanan serta keperpustakaan sedangkan soft skil yakni berkaitan dengan kemampuan berpikir strategis sebagai perumus kebijakan, wawasan masa depan (forward looking), dan kemampuan perencanaan strategis, kemampuan manajerial, kemampuan komunikasi publik, dan lainnya tentang perpustakaan.
Tujuan dari hal tersebut pustakawan mampu berkompetensi sehingga akan memberi citra positif pada pustakawan dan kinerja pustakawan meningkat. Dimana selama ini Stereotipe pustakawan sangat ironis seperti pustakawan adalah bekerja buangan karena anggapan masyarakat dipengaruhi oleh budaya kerja pustakawan misalanya kerja pustakawan hanya sebatas pelayanan dan tidak ramah pada penggunjung. Ini merupakan salah satu indikator pustakawan belum kreatif. Sedangkan kita tahu di Abad 21 diberbagai profesi mengutamakan serta menjunjungi tinggi nama kreativias dan inovatif. Peranan pustakawan turut mendistribusikan kretivitas dalam bidang informasi dan menjaga keterbelakangan masyarakat dari informasi serta teknologi yang berkembang cepat adalah kenyataan yang tidak dipungkiri agar pustakawan dapat melakukan produktifitasnya dalam segala bidang. Peranan ini akan dapat berhasil dan tepat guna apabila fungsi pustakawan menumbuhkan kreativitas dilakukan secara profesional.
Oleh sebab itu bagaimana pustakawan menciptakan suatu hal yang tak pernah terpikir oleh orang lain, sehingga mampu memberi kepuasaan kepada pelanggan serta mengangkat citra pustakawan dikenal maungnya ditengah masyarakat. Namun mencermati perkembangan di Abad 21 manajemen pustakawan dan kaitannya dengan kompetensi pustakawan menurut Hakrisyati Kamil (2005) bahwa pustakawan Indonesia pada umumnya memiliki keterbatasan antara lain:
1. Kurang memiliki pengetahuan bisnis
2. Pustakawan tidak memikili kemampuan untuk bergerak secara bersamaan dalam ruang lingkup informasi, organisasi dan sasaran organisasi
3. Kemampuan kerjasama sebagai dalam kelompok dan juga kepemimpinannya tidak memadai untuk posisi strategis dan
4. Kurang memiliki kemampuan manajerial.
Kemudian secara realitas kebanyakan pustakawan Indonesia tidak bangga berprofesi sebagai pustakawan yang bekerja diperpustakaan. Bagaimana untuk kreatif sedangkan mencintai dan mengatakan pustakawan saja kepada masyarakat luas bahwa “aku adalah pustakawan” saja sudah tidak berani. Sebab salah satu indakator mampu membangkit kreativitas adalah adanya dorongan (motivasi) mencintai profesinya. Melalui kecintai tersebutlah mampu membangkit kreativitas dan keasyikkan dalam bekerja. Pengakuan masyarakat terhadap profesi pustakawan juga dapat diciptakan melalui kepercayaan diri pustakawan baik secara akademis maupun secara profesional. Ada pertanyaan besar dalam masyarakat luas yang masih meragukan apakah pustakawan mampu menghadapi tantangan baru dan menjadi pustakawan kreatif di Abad 21?

Katagori Kreativitas
Dalam hal ini, Rhodes mengategorikan kreativitas menjadi 4 (Dalam Utami, 2002:26) antara lain sebagai berikut:
1. Person (pribadi kreatif), menjadi motor sekaligus pondasi bagi tumbuhnya aktivitas-aktivitas kreatif.
2. Process (proses kreatif) menghasilkan atmosfir kerja untuk selalu menghasilkan ide-ide dalam mendukung aktivitas kreatif.
3. Press (dorongan/ dukungan lingkungan), mempengaruhi variasi/ aneka ragam aktivitas kreatif.
4. Product (produk kreatif), menjadi andalan bagi aktivitas kreatif untuk selalu dimanfaatkan pelanggan perpustakaan.
Kreativtias pustakawan tidak hanya dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan konseptual dan teoritikal mengenai berbagai masalah informasi dan masalah sosial yang terkait dan dengan kemampuan pustakawan analisis untuk menciptakan produk baru diperpustakaan. Hanya dengan berpikir secara teoritis yang berjenjang serta viosioner akan dapat meningkat kreativitas pustakawan. Pustakawan membutuhkan satu lembaga atau komunitas ilmiah maupun nonilmiah bagaimana cara mengkaji masalah-masalah meningkatkan strategi kreativitas pustakawan pada Abad 21. Melalui berbagai kegiatan penelitian, pengkajian, seminar yang dilakukannya oleh komunitas pustakawan mampu merekomendasikan kreatifitas objektif dapat dipertanggungawabkan.
Sund (dalam Munandar 1987: 37) menyatakan bahwa individu dengan potensi kreatif memiliki ciri-ciri berikut:
1. Hasrat ingin tahu yang besar
2. Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru
3. Panjang akal,
4. Keinginan untuk menemukan dan meneliti,
5. Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan sulit,
6. Cenderung mencari jawaban yang luas dan memuaskan
7. Memiliki dedikasi bergairah serta aktif dalam melaksanakan tugas
8. berfikir fleksibel
9. Menanggapi pertanyaan yang diajukan serta cenderung member jawaban lebih banyak
10. Kemampuan membuat analisis dan sintesis
11. Memiliki semangat bertanya serta meneliti
12. Memiliki daya abstraksi yang cukup baik, dan
13. Memiliki latar belakang membaca yang cukup luas.
Secara definitif dapat ditarik sebuah benang merah bahwa kreativitas dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berfikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan. Ciri-ciri kreativitas seperti ini merupakan ciri-ciri yang berhubungan dengan kemampuan berfikir pustakawan dengan kemampuan berfikir kreatif. Sehingga semakin kreatif pustakawan, Ciri-ciri tersebut semakin dimiliki. Tetapi ciri-ciri tersebut belum menjamin perwujudan kreativitas pustakawan. sedangkan cirri lain agar akar kreativitas semakin utuh yakni harus memiliki sikap dan perasaan memotivasikan kreativitas pustakawan.
Menurut Munandar (1987: 36), bahwa ciri-ciri afektif yang sangat esensial dalam menentukan prestasi kreatif seseorang yaitu (a) rasa ingin tahu, (b) tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai tantangan, (c) berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau untuk dikritik orang lain, (d) tidak mudah putus asa, (e) menghargai keindahan, (f) mempunyai rasa humor, (g) ingin mencari pengalaman-pengalaman baru, dan (h) dapat menghargai dirinya sendiri maupun orang lain.
Dari kedua bentuk sikap kreatif baik secara kognitif maupun afektif bagi pustakawan perlu dikembangkan. Hal ini dilatar belakangi pustakawan sebagai pengemas dan penyaji informasi yang bekerja secara aktif dan efektif.
Berdasarkan uraian di atas maka, kreativitas pustakawan yang menjadi fokus adalah bagaimana aplikasi pengembangan berfikir dan bersikap kreatif yang perlu dikembangkan pustakawan dalam mengelola perpustakaan sebagai pusat informasi. Sehingga adanya kreativitas pustakawan mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan.

Pentingya Kreativitas
Kreativitas sangat diperlukan dalam pengembangan profesi. kreativitas harus didukung dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan penguasaan kompetensi, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan memiliki komitmen yang kuat terhadap berbagai hal. Menumbuh dan meningkat kreativitas menurut Robert Epstein memberikan empat cara untuk melatih kreativitas antara lain:
1. Capturing.
Jangan biarkan satupun ide lewat begitu saja, betapapun merasa ide itu tidak terlalu istimewa.

2. Surrounding.
Ide-ide kreatif tidak muncul begitu saja dari dalam otak kita, melainkan hasil dari interaksi kita dengan lingkungan. Karena itu, lingkungan fisik dan sosial pun sebisa mungkin harus penuh dengan kreativitas pula. Perbanyaklah pergaulan dengan orang-orang yang latar belakang, kepribadian, atau minatnya jauh berbeda.
3. Challenging
Kreativitas seringkali muncul mendadak saat menghadapi hambatan atau rintangan.
4. Broadening
Sangat penting bagi seseorang yang kreatif untuk memiliki wawasan yang luas. Jangan sungkan untuk mempelajari hal-hal baru yang mungkin tidak berhubungan dengan pekerjaan atau pendidikan.
Sedangkan merujuk pada pendapat Shakti Gawain dalam “Creative Visualization” (Creating Strategies Inc.: 2002), para kreativitor perlu melewati empat tahapan proses untuk menajamkan visinya, yaitu:
1. Memiliki tujuan yang jelas
2. Memiliki potret mental yang jelas dari sebuah obyek yang diinginkan
3. Memiliki ketahanan konsentrasi terhadap obyek atau tujuan, dan
4. Memiliki energi, pikiran, keyakinan positif.
Jadi, dalam meningkat kreativitas pustakawan sesuai dengan apa yang telah diuraikan oleh para pakar hal harus dilakukan oleh pustakawan percaya diri, komitmen dan berbanyak membangun relasi dengan professional lain seperti psikolog, programmer, penulis dan sebagainya. lewat hal seperti itu pustakawang termotivasi serta mampu menangkap ide-ide baru yang bisa diterapkan dalam dunia perpustakaan.

Strategi Meningkat Kreativitas
Kenapa perlu ada strategi dalam meningkat kreativitas karena kreativitas merupakan kendaraan bagi pustakawan untuk menjadi pemenang dalam segala bidang. seperti yang diungkap dalam milis motivasi menyatakan ada beberapa startegi meningkat kreativitas pustakawan sebagai berikut:

1. Passion
Passion membuat seseorang punya fighting spirit /semangat juang. pustakawan tidak mudah menyerah dan putus asa dalam menghadapi berbagai masalah, sesulit apa pun, termasuk pekerjaan. Masalah justru menjadi pemicu untuk mencari terobosan. Passion akan me-munculkan kreativitas secara spontan. Tanpa passion, prestasi gemilang tidak dapat pustakawan raih.
2. Time Management
Pengaturan waktu yang baik juga akan memunculkan kreativitas. Ada waktu bekerja. Ada waktu beristirahat. Karena itu, kita harus bekerja cerdas. Yaitu dengan memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien untuk memperoleh hasil optimal. Keberhasilan dalam perpustakaan, tidak diukur berdasar lamanya waktu kerja pustakawan. Tetapi pada hasil akhirnya, apakah sesuai harapan atau kriteria yang ditetapkan oleh perpustakaan. Bekerja terus menerus tanpa diimbangi istirahat cukup membuat otak pustakawan overload (kelebihan beban). Dengan mengatur jam kerja serta jam istirahat dengan disiplin, aliran darah ke otak tidak terhambat karena pustakawan memperoleh oksigen dengan sempurna. Saat pustakawan merasa relaks, punya kesempatan untuk mengembang-kan ide baru.
3. Networking
Pustakawan merupakan makhluk sosial yang punya kebutuhan untuk bisa berinteraksi. Sesibuk apa pun pustakawan dalam dunia perpustakaan, pustakawan perlu upayakan tetap menyediakan waktu berkualitas untuk bertemu dengan berbagai kolega. Pertemuan tersebut mendatangkan energi kreativitas pustakawan. Sikap utama yang dibutuhkan dalam membina networking yang positif adalah ”sikap rendah hati”. Mau mendengar pendapat dan dapat menghargai kelebihan orang lain. Sering berdiskusi dengan banyak orang akan menyulut ide yang memunculkan kreativitas yang lebih membumi, sesuai dengan kebutuhan zaman.
4. Sense Of Competition
Banyak pustakawan merasa tidak nyaman dikelilingi pesaingnya. Baik itu secara individu di tempat kerja maupun terhadap lembaga itu sendiri. Padahal, berada di tengah-tengah pesaing, alarm kewaspadaan pustakawan untuk ”selalu siaga” akan terus berbunyi. Pustakawan pada Abad 21 tidak hidup dalam zona kenyamanan. Kreativitas akan lebih mudah diting-katkan saat situasi pustakawan terjepit. Bila perlu carilah obyek yang dapat dipakai untuk membangkitkan ”sense of competition” agar kreativitas pustakawan senantiasa berkembang. Akhirnya pustakawan menjadi pemenang.
5. Humility
Kerendahan hati merupakan sumber kreativitas. Sikap rendah hati membuat pustakawan selalu melakukan introspeksi dan koreksi terhadap semua aktivitasnya. Hanya dengan kerendahan hati pustakawan mau menerima teguran / masukan. Hanya dengan kerendahan hati pula pustakawan tidak merasa superior dalam wawasan tetap ”merasa kurang”, sehingga selalu mencari sumber pengetahuan dengan berbagai cara. Humility sangat berperan dalam meningkatkan kreativitas.

Kesimpulan
Dari semua komponen dan segmen di atas dijelaskan. Maka pustakawan harus pandai-pandai menangkap peluang sekitar perkembangan teknologi informasi, harus selalu melihat perekembangan perpustakaan, harus mampu mengamati perkembangan-perkembangan termasuk convergences dan melihat perkembangan lingkungan local dan nasional. Kemudian pustakawan jangan terkekang dengan lingkungan perpustakaan saja harus mampu berkoneksi dan berjaring dengan profesi-profesi lainnya yang mampu membangkit kreativitas seperti membangun jaringan dengan LSM, komunitas dan bahkan bakti social. Pustakawan jangan takut dengan hal-hal baru yang dihadapi semua tantangan baru pustakawan ada solusinya bahkan komitmen dengan kreativitas yang diciptakan.
Kreativitas juga dapat ditingkatkan dengan cara mencoba hal-hal baru untuk meningkatkan pengalaman. Lakukan setiap proses mencoba hal baru itu sebagai sebuah permainan, sehingga pustakawan merasa senang melakukannya, serta lebih siap menerima kegagalan dan belajar dari kegagalan tersebut. Perasaan senang itu merupakan kunci meningkatkan daya kreativitas. Serta pustakawan hendak selalu mengikuti secara continue pelatihan, pengembangan diri, dan melanjuti pendidikan tingkat tertinggi misal S3. Sebab di Indonesia hanya beberapa guru besar dalam jurusan perpustakaan bahkan ikut serta dalam penelitian ilmiah.

Daftar Pustaka

Epstein, Robert. 1999. Encylopedia of creavity. United Kingdom: Academic Press
Gawain, Shakti. 1995. The Creative Visualization Workbook: Use the Power of Your life. Imagination. USA: Publisher Group West.
Munandar, Utami. 2002. Kreativitas & Keberbakatan : Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
______. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. PetunjuStrategi Meningkatkan Kreativitas
Pustakawan Di Abad 21
by Testiani
Mahasiswa Pascasarjarna UGM – Manajemen Informasi Perpustakaan

Pendahuluan
Pustakawan adalah makhluk yang diberi kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai situasi dan tantangan kehidupan. Perubahan yang terus menerus secara global menuntut pustakawan beradaptasi dengan cepat terhadap berbagai situasi dan kondisi yang seringkali tidak dapat diprediksi. Tingkat keragaman dan kedalam permasalahan sangat tinggi karena berada dalam koridor konteks yang kompleks. pustakawan dituntut memikirkan dan bertindak dengan berbagai cara untuk dapat menguraikan kompleksitas tantangan dan memikirkan berbagai alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantatangan, untuk itulah pustakawan membutuhkan kretaivitas. Orientasi memandang suatu persoalan merupakan kunci awal pustakawan memiliki kreativitas.
Sedangkan pendidikan formal adalah salah satu biang keladi pembatas kreativitas manusia sejak dini padahal, hal itu tidak benar. Houtz menekankan bahwa kreativitas bukanlah suatu bakat yang dianugerahkan sejak lahir, melainkan sesuatu yang harus diusahakan dengan kerja keras; Menurutnya, orang-orang kreatif adalah mereka yang memiliki kedisiplinan untuk terus menciptakan ide-ide baru dan ketekunan untuk mewujudkan ide-ide mereka.
Pustakawan di Abad 21 menghadapi masalah semakin kompleks untuk mengatasi masalah ini, pustakawan perlu menghasilkan atau memikir suatu hal yang baru dalam dunia perpustakaan apakah mengkontruksi, inovoasi, presentatif dengan berbagai pendekatan. Pustakawan abad ke-21 harus memiliki keahlian yang memungkinkan pustakawan untuk mengeksplorasi kreativitas, untuk mencari dan mengevaluasi informasi kritis, untuk bekerja produktif sebagai pustakawan, dan untuk secara efektif mengkomunikasikan multi task kepada orang lain.

Kompetensi Pustakawan Abad 21
Kemajuan perpustakaan tidak terlepas dari kualitas sumber daya manusia (SDM). Oleh karenanya kreativitas perlu disalurkan. Dimana di era teknologi tidak lepas dari peran seorang pustakawan untuk kratif dalam berbagai kegiataan (multi Task) yang harus diterapakan dalam kehidupan seorang pustakawan. Pustakawan sebagai gawang peradaban informasi, mediator, fasilator harus mampu meningkat kreativitasnya. Bukan saatnya lagi pustakawan sebagai pelayan perpustakaan atau menunggu pelanggan yang meminjam jasa mereka. Bahwa peran pustakawan semakin berkembang dari waktu ke waktu tidak hanya melayani dan display buku. Namun peran pustakawan adalah MultiTask seperti hard skill yaitu penguasaan teknis dan detail bidang kepustakawanan serta keperpustakaan sedangkan soft skil yakni berkaitan dengan kemampuan berpikir strategis sebagai perumus kebijakan, wawasan masa depan (forward looking), dan kemampuan perencanaan strategis, kemampuan manajerial, kemampuan komunikasi publik, dan lainnya tentang perpustakaan.
Tujuan dari hal tersebut pustakawan mampu berkompetensi sehingga akan memberi citra positif pada pustakawan dan kinerja pustakawan meningkat. Dimana selama ini Stereotipe pustakawan sangat ironis seperti pustakawan adalah bekerja buangan karena anggapan masyarakat dipengaruhi oleh budaya kerja pustakawan misalanya kerja pustakawan hanya sebatas pelayanan dan tidak ramah pada penggunjung. Ini merupakan salah satu indikator pustakawan belum kreatif. Sedangkan kita tahu di Abad 21 diberbagai profesi mengutamakan serta menjunjungi tinggi nama kreativias dan inovatif. Peranan pustakawan turut mendistribusikan kretivitas dalam bidang informasi dan menjaga keterbelakangan masyarakat dari informasi serta teknologi yang berkembang cepat adalah kenyataan yang tidak dipungkiri agar pustakawan dapat melakukan produktifitasnya dalam segala bidang. Peranan ini akan dapat berhasil dan tepat guna apabila fungsi pustakawan menumbuhkan kreativitas dilakukan secara profesional.
Oleh sebab itu bagaimana pustakawan menciptakan suatu hal yang tak pernah terpikir oleh orang lain, sehingga mampu memberi kepuasaan kepada pelanggan serta mengangkat citra pustakawan dikenal maungnya ditengah masyarakat. Namun mencermati perkembangan di Abad 21 manajemen pustakawan dan kaitannya dengan kompetensi pustakawan menurut Hakrisyati Kamil (2005) bahwa pustakawan Indonesia pada umumnya memiliki keterbatasan antara lain:
1. Kurang memiliki pengetahuan bisnis
2. Pustakawan tidak memikili kemampuan untuk bergerak secara bersamaan dalam ruang lingkup informasi, organisasi dan sasaran organisasi
3. Kemampuan kerjasama sebagai dalam kelompok dan juga kepemimpinannya tidak memadai untuk posisi strategis dan
4. Kurang memiliki kemampuan manajerial.
Kemudian secara realitas kebanyakan pustakawan Indonesia tidak bangga berprofesi sebagai pustakawan yang bekerja diperpustakaan. Bagaimana untuk kreatif sedangkan mencintai dan mengatakan pustakawan saja kepada masyarakat luas bahwa “aku adalah pustakawan” saja sudah tidak berani. Sebab salah satu indakator mampu membangkit kreativitas adalah adanya dorongan (motivasi) mencintai profesinya. Melalui kecintai tersebutlah mampu membangkit kreativitas dan keasyikkan dalam bekerja. Pengakuan masyarakat terhadap profesi pustakawan juga dapat diciptakan melalui kepercayaan diri pustakawan baik secara akademis maupun secara profesional. Ada pertanyaan besar dalam masyarakat luas yang masih meragukan apakah pustakawan mampu menghadapi tantangan baru dan menjadi pustakawan kreatif di Abad 21?

Katagori Kreativitas
Dalam hal ini, Rhodes mengategorikan kreativitas menjadi 4 (Dalam Utami, 2002:26) antara lain sebagai berikut:
1. Person (pribadi kreatif), menjadi motor sekaligus pondasi bagi tumbuhnya aktivitas-aktivitas kreatif.
2. Process (proses kreatif) menghasilkan atmosfir kerja untuk selalu menghasilkan ide-ide dalam mendukung aktivitas kreatif.
3. Press (dorongan/ dukungan lingkungan), mempengaruhi variasi/ aneka ragam aktivitas kreatif.
4. Product (produk kreatif), menjadi andalan bagi aktivitas kreatif untuk selalu dimanfaatkan pelanggan perpustakaan.
Kreativtias pustakawan tidak hanya dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan konseptual dan teoritikal mengenai berbagai masalah informasi dan masalah sosial yang terkait dan dengan kemampuan pustakawan analisis untuk menciptakan produk baru diperpustakaan. Hanya dengan berpikir secara teoritis yang berjenjang serta viosioner akan dapat meningkat kreativitas pustakawan. Pustakawan membutuhkan satu lembaga atau komunitas ilmiah maupun nonilmiah bagaimana cara mengkaji masalah-masalah meningkatkan strategi kreativitas pustakawan pada Abad 21. Melalui berbagai kegiatan penelitian, pengkajian, seminar yang dilakukannya oleh komunitas pustakawan mampu merekomendasikan kreatifitas objektif dapat dipertanggungawabkan.
Sund (dalam Munandar 1987: 37) menyatakan bahwa individu dengan potensi kreatif memiliki ciri-ciri berikut:
1. Hasrat ingin tahu yang besar
2. Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru
3. Panjang akal,
4. Keinginan untuk menemukan dan meneliti,
5. Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan sulit,
6. Cenderung mencari jawaban yang luas dan memuaskan
7. Memiliki dedikasi bergairah serta aktif dalam melaksanakan tugas
8. berfikir fleksibel
9. Menanggapi pertanyaan yang diajukan serta cenderung member jawaban lebih banyak
10. Kemampuan membuat analisis dan sintesis
11. Memiliki semangat bertanya serta meneliti
12. Memiliki daya abstraksi yang cukup baik, dan
13. Memiliki latar belakang membaca yang cukup luas.
Secara definitif dapat ditarik sebuah benang merah bahwa kreativitas dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berfikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan. Ciri-ciri kreativitas seperti ini merupakan ciri-ciri yang berhubungan dengan kemampuan berfikir pustakawan dengan kemampuan berfikir kreatif. Sehingga semakin kreatif pustakawan, Ciri-ciri tersebut semakin dimiliki. Tetapi ciri-ciri tersebut belum menjamin perwujudan kreativitas pustakawan. sedangkan cirri lain agar akar kreativitas semakin utuh yakni harus memiliki sikap dan perasaan memotivasikan kreativitas pustakawan.
Menurut Munandar (1987: 36), bahwa ciri-ciri afektif yang sangat esensial dalam menentukan prestasi kreatif seseorang yaitu (a) rasa ingin tahu, (b) tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai tantangan, (c) berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau untuk dikritik orang lain, (d) tidak mudah putus asa, (e) menghargai keindahan, (f) mempunyai rasa humor, (g) ingin mencari pengalaman-pengalaman baru, dan (h) dapat menghargai dirinya sendiri maupun orang lain.
Dari kedua bentuk sikap kreatif baik secara kognitif maupun afektif bagi pustakawan perlu dikembangkan. Hal ini dilatar belakangi pustakawan sebagai pengemas dan penyaji informasi yang bekerja secara aktif dan efektif.
Berdasarkan uraian di atas maka, kreativitas pustakawan yang menjadi fokus adalah bagaimana aplikasi pengembangan berfikir dan bersikap kreatif yang perlu dikembangkan pustakawan dalam mengelola perpustakaan sebagai pusat informasi. Sehingga adanya kreativitas pustakawan mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan.

Pentingya Kreativitas
Kreativitas sangat diperlukan dalam pengembangan profesi. kreativitas harus didukung dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan penguasaan kompetensi, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan memiliki komitmen yang kuat terhadap berbagai hal. Menumbuh dan meningkat kreativitas menurut Robert Epstein memberikan empat cara untuk melatih kreativitas antara lain:
1. Capturing.
Jangan biarkan satupun ide lewat begitu saja, betapapun merasa ide itu tidak terlalu istimewa.

2. Surrounding.
Ide-ide kreatif tidak muncul begitu saja dari dalam otak kita, melainkan hasil dari interaksi kita dengan lingkungan. Karena itu, lingkungan fisik dan sosial pun sebisa mungkin harus penuh dengan kreativitas pula. Perbanyaklah pergaulan dengan orang-orang yang latar belakang, kepribadian, atau minatnya jauh berbeda.
3. Challenging
Kreativitas seringkali muncul mendadak saat menghadapi hambatan atau rintangan.
4. Broadening
Sangat penting bagi seseorang yang kreatif untuk memiliki wawasan yang luas. Jangan sungkan untuk mempelajari hal-hal baru yang mungkin tidak berhubungan dengan pekerjaan atau pendidikan.
Sedangkan merujuk pada pendapat Shakti Gawain dalam “Creative Visualization” (Creating Strategies Inc.: 2002), para kreativitor perlu melewati empat tahapan proses untuk menajamkan visinya, yaitu:
1. Memiliki tujuan yang jelas
2. Memiliki potret mental yang jelas dari sebuah obyek yang diinginkan
3. Memiliki ketahanan konsentrasi terhadap obyek atau tujuan, dan
4. Memiliki energi, pikiran, keyakinan positif.
Jadi, dalam meningkat kreativitas pustakawan sesuai dengan apa yang telah diuraikan oleh para pakar hal harus dilakukan oleh pustakawan percaya diri, komitmen dan berbanyak membangun relasi dengan professional lain seperti psikolog, programmer, penulis dan sebagainya. lewat hal seperti itu pustakawang termotivasi serta mampu menangkap ide-ide baru yang bisa diterapkan dalam dunia perpustakaan.

Strategi Meningkat Kreativitas
Kenapa perlu ada strategi dalam meningkat kreativitas karena kreativitas merupakan kendaraan bagi pustakawan untuk menjadi pemenang dalam segala bidang. seperti yang diungkap dalam milis motivasi menyatakan ada beberapa startegi meningkat kreativitas pustakawan sebagai berikut:

1. Passion
Passion membuat seseorang punya fighting spirit /semangat juang. pustakawan tidak mudah menyerah dan putus asa dalam menghadapi berbagai masalah, sesulit apa pun, termasuk pekerjaan. Masalah justru menjadi pemicu untuk mencari terobosan. Passion akan me-munculkan kreativitas secara spontan. Tanpa passion, prestasi gemilang tidak dapat pustakawan raih.
2. Time Management
Pengaturan waktu yang baik juga akan memunculkan kreativitas. Ada waktu bekerja. Ada waktu beristirahat. Karena itu, kita harus bekerja cerdas. Yaitu dengan memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien untuk memperoleh hasil optimal. Keberhasilan dalam perpustakaan, tidak diukur berdasar lamanya waktu kerja pustakawan. Tetapi pada hasil akhirnya, apakah sesuai harapan atau kriteria yang ditetapkan oleh perpustakaan. Bekerja terus menerus tanpa diimbangi istirahat cukup membuat otak pustakawan overload (kelebihan beban). Dengan mengatur jam kerja serta jam istirahat dengan disiplin, aliran darah ke otak tidak terhambat karena pustakawan memperoleh oksigen dengan sempurna. Saat pustakawan merasa relaks, punya kesempatan untuk mengembang-kan ide baru.
3. Networking
Pustakawan merupakan makhluk sosial yang punya kebutuhan untuk bisa berinteraksi. Sesibuk apa pun pustakawan dalam dunia perpustakaan, pustakawan perlu upayakan tetap menyediakan waktu berkualitas untuk bertemu dengan berbagai kolega. Pertemuan tersebut mendatangkan energi kreativitas pustakawan. Sikap utama yang dibutuhkan dalam membina networking yang positif adalah ”sikap rendah hati”. Mau mendengar pendapat dan dapat menghargai kelebihan orang lain. Sering berdiskusi dengan banyak orang akan menyulut ide yang memunculkan kreativitas yang lebih membumi, sesuai dengan kebutuhan zaman.
4. Sense Of Competition
Banyak pustakawan merasa tidak nyaman dikelilingi pesaingnya. Baik itu secara individu di tempat kerja maupun terhadap lembaga itu sendiri. Padahal, berada di tengah-tengah pesaing, alarm kewaspadaan pustakawan untuk ”selalu siaga” akan terus berbunyi. Pustakawan pada Abad 21 tidak hidup dalam zona kenyamanan. Kreativitas akan lebih mudah diting-katkan saat situasi pustakawan terjepit. Bila perlu carilah obyek yang dapat dipakai untuk membangkitkan ”sense of competition” agar kreativitas pustakawan senantiasa berkembang. Akhirnya pustakawan menjadi pemenang.
5. Humility
Kerendahan hati merupakan sumber kreativitas. Sikap rendah hati membuat pustakawan selalu melakukan introspeksi dan koreksi terhadap semua aktivitasnya. Hanya dengan kerendahan hati pustakawan mau menerima teguran / masukan. Hanya dengan kerendahan hati pula pustakawan tidak merasa superior dalam wawasan tetap ”merasa kurang”, sehingga selalu mencari sumber pengetahuan dengan berbagai cara. Humility sangat berperan dalam meningkatkan kreativitas.

Kesimpulan
Dari semua komponen dan segmen di atas dijelaskan. Maka pustakawan harus pandai-pandai menangkap peluang sekitar perkembangan teknologi informasi, harus selalu melihat perekembangan perpustakaan, harus mampu mengamati perkembangan-perkembangan termasuk convergences dan melihat perkembangan lingkungan local dan nasional. Kemudian pustakawan jangan terkekang dengan lingkungan perpustakaan saja harus mampu berkoneksi dan berjaring dengan profesi-profesi lainnya yang mampu membangkit kreativitas seperti membangun jaringan dengan LSM, komunitas dan bahkan bakti social. Pustakawan jangan takut dengan hal-hal baru yang dihadapi semua tantangan baru pustakawan ada solusinya bahkan komitmen dengan kreativitas yang diciptakan.
Kreativitas juga dapat ditingkatkan dengan cara mencoba hal-hal baru untuk meningkatkan pengalaman. Lakukan setiap proses mencoba hal baru itu sebagai sebuah permainan, sehingga pustakawan merasa senang melakukannya, serta lebih siap menerima kegagalan dan belajar dari kegagalan tersebut. Perasaan senang itu merupakan kunci meningkatkan daya kreativitas. Serta pustakawan hendak selalu mengikuti secara continue pelatihan, pengembangan diri, dan melanjuti pendidikan tingkat tertinggi misal S3. Sebab di Indonesia hanya beberapa guru besar dalam jurusan perpustakaan bahkan ikut serta dalam penelitian ilmiah.

Daftar Pustaka

Epstein, Robert. 1999. Encylopedia of creavity. United Kingdom: Academic Press
Gawain, Shakti. 1995. The Creative Visualization Workbook: Use the Power of Your life. Imagination. USA: Publisher Group West.
Munandar, Utami. 2002. Kreativitas & Keberbakatan : Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
______. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Petunjuk bagi para guru dan orang tua. Jakarta: PT GramediaWidiaswara Indonesia indonesianschoollibrarian
http://www.khusnuridlo.com/2010/07/mengapa-perlu-mengembangkan-kreativitas.html
http://klinikspirit.multiply.com/journal
.
k bagi para guru dan orang tua. Jakarta: PT GramediaWidiaswara Indonesia indonesianschoollibrarian
http://www.khusnuridlo.com/2010/07/mengapa-perlu-mengembangkan-kreativitas.html
http://klinikspirit.multiply.com/journal
.

MENCIPTAKAN BRAND PERPUSTAKAAN


MENCIPTAKAN BRAND PERPUSTAKAAN

PADA ERA TEKNOLOGI DAN INFORMASI

Oleh: Testiani

Mahasiswa Pascasarjarna UGM – Manajemen Informasi Perpustakaan

Pendahuluan

Pada era Entertainment yang membanjir masyarakat luas ini sangat berdampak pada pencitraan (Brand). Banyak lembaga  yang mulai membangun brand terutama untuk lembaga profit. Hal ini sangat penting sekali pada era teknologi dan informasi menciptakan brand. Dimana masyarakat luas ketika pertama kali menggunakan suatu produk alasan utama dipertimbangakan mereka adalah brand. Sangat mustahil masyarakat tidak mempertimbangan hal tersebut ketika untuk menggunakan produk.  Apabila brand yang tertanam dalam suatu produk baik maka pengunjung akan menggunakan produk tersebut.

Perpustakaan di era teknologi dan informasi  mempunyai peluang untuk dapat membentuk brand suatu perpustakaan. Perpustakaan adalah agent of change yang juga mempunyai kekuasaan. Sekarang bahkan memungkinan perpustakaan dapat menjadikan dirinya suatu lembaga dengan profit oriented dengan perkembangan yang terjadi pada teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini juga dipengaruhi oleh salah satu daya saing perpustakaan dan pustakawan dengan adanya afta (asean trade area) dimana katanya akan berlaku pada  tahun 2020 namun dipercepat menjadi tahun 2015 (sulistio-basuki, 2005). Persaingan tersebut bukan saja diantara perpustakaan kita tetapi termasuk persaingan tingkat asean maupun dunia. Parsaingan  disini diantaranya persaingan dibidang layanan terhadap pengguna  jasa perpustakaan.

Membangun brand adalah bukan suatu pekerjaan yang mudah, tidak seperti membalikkan telapak tangan sekedar berucap simsalabim, untuk kemudian semua brand yang sudah melekat tersebut akan berubah. Saya kemudian teringat beberapa waktu yang lalu pada perkuliahan public relation and promotion disampaikan bahwa brand suatu lembaga sangat dibutuhkan. Brand adalah merupakan arus berkelanjutan.  Brand tersebut berada didalam “marketing plus triangle”. Disini artinya bahwa ada beberapa elemen-elemen terkait seperti shareholders, people and customer, dimana ketiganya tersebut akan menghasilkan suatu total human reward, total quality service, dan long-term profit. Semuanya tersebut tidak berhenti pada arus lingkar tersebut, tetapi kemudian membentuk suatu arus lingkar lebih menciut (srunk), yaitu on going relationship, sense of ownership, dan superior percieved value. Suatu brand akan berada di dalam plus tiangle bersama-sama dengan service dan process dari marketing.

Bahwa saat ini hampir seluruh perpustakaan di Indonesia belum memiliki brand yang melekat di hati masyarakat atau pengunjung. Perpustakaan dalam masalah brand sangat jauh tertinggal dengan lembaga informasi lainnya. Jika melirik brand yang digunakan selama ini oleh perpustakaan hanya terintergrasi dengan lembaga penaung perpustakaan. Misalnya perpustakaan perguruan tinggi brand hanya sebatas Tri Dharma Perguruan Tinggi atau jantungnya pendidikan. Maka dari itu sangat diperlukan bagi seluruh perpustakaan, penaung perpustakaan dan pustakawan di Indonesia mulai berpikir untuk menciptakan branding perpustakaan, karena hal tersebut sangat diperlukan pada era teknologi informasi.

Dimana kita tahu bahwa sekarang begitu banyak perpustakaan yang dikelola oleh masyarakat luas (komunitas maupun perorangan) dengan memberi layanan yang mengguntung dan penuh nuansa pendidikan serta santai. Seperti perpustakaan yang banyak dikembangkan kota Bandung mulai perpustakan Potluck, Tobucil dan sebagainya memiliki brand tersendiri. Oleh karena itu branding menjadi semakin penting untuk bisnis perpustakaan persaingan hari ini. Walaupun perpustakaan bukan lembaga profit, namun branding diperpustakaan lebih kepada agar pengunjung selalu setia, menunjukkan kekuataan perpustakan dan mempengaruhi pikiran pengunjung untuk mengingat perpustakaan tersebut. Misalnya ketika masyarakat luas berbicara tentang sepatu maka terpikir adalah Nike, ketika menyembut minuman otomatis langsung teringat dengan Coco&Cola dan Aqua  Seperti itulah yang diinginkan. Sehingga adanya brand saat masyarakat menginginkan informasi, layanan terbaik, kreativitas, pendidikan, kreasi maka langsung ingat adalah perpustakan Anda.

Hakikat Brand

Brand dapat disebut “pelabelan’. Brand dapat membantu penjualan. Brand berkaitan dengan kepercayaan konsumen terhadap suatu produk atau layanan, yang diyakini tidak saja dapat memenuhi kebutuhan mereka, tetapi dengan memberikan kepuasan yang lebih baik dan terjamin. Istilah brand muncul ketika persaingan produk semakin tajam dan menyebab perlunya penguatan peran label untuk mengelompokkan produk dan layanan yang dimiliki dalam satu kesatuan guna membedakan produk Anda dengan produk pesaing.  Brand perpustakaan adalah tentang misi, proposisi nilai, visi, tujuan perpustakaan dan budaya perpustakaan dalam tindakan  inti kepribadian dan organisasi. Pada prinsipnya hakikat keberadaan perpustakaan di abad 21 dengan Branded harus memiliki fiosofi berdasarkan dengan visi dan misi perpustakaan serta menjunjungi tinggi kreativitas.

Menurut Fandy Tjiptono (2005:49) Brand adalah deskripsi tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu. Sedangkan menurut Freddy Rangkuti (2004:244) Brand adalah sekumpulan assosiasi merek yang terbentuk dan melekat di benak konsumen. Selanjutnya American Marketing Association (AMA) mendefinisikan brand sebagai nama, istilah, tanda, simbol atau desain, atau kombinasi dari semua itu yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang dan jasa dari satu perusahaan atau kelompok perusahaan serta untuk membedakan mereka dari perusahaan lain. Dari beberapa pengertian tersebut dapat diketahui bahwa brand merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan oleh konsumen terhadap merek tertentu.

Kemudian fungsi dasar dari sebuah brand adalah sebagai pembeda antara yang satu dengan yang lainnya. Namun, dengan adanya dinamika didalam derasnya kompetisi dalam perpustakaan, sebuah brand memberikan kekuataan dan energy positif serta nilai tambah pada perpustakaan.  Brand membutuhkan kekuatan dan pengelolaan. Unsur-unsur yang mempengaruhi kekuatan sebuah brand adalah, apa yang terlihat (tangible), apa yang didengar dan yang dirasakan (intangible). Kedua unsur diatas merupakan syarat utama untuk membangun kekuatan sebuah brand dalam berkompitisi. Oleh karena itu saat menciptakan branding tidak hanya sekedar mengejar target (tujuan) perpustakaan dalam persaingan, akan tetapi lebih bagaimana tentang mendapatkan prospek bahwa perpustakaan adalah satu-satunya yang bisa memberikan solusi ketika masyarakat membutuhkan informasi. Namun harus diperhatikan ketika perpustakaan menciptakan brand di era teknologi dan informasi  yakni  “pengunjung harus memiliki gambaran tentang diri perpustakaan dalam hidup mereka, Visi harus mencerminkan realitas dan bagaimana sebenarnya hal ini dibangun  dari kekuatan-kekuatan. Ini adalah merupakan tantangan kedepan perpustakaan untuk mulai menciptakan brand perpustakaan.

Selain itu hal yang harus dipertimbangkan oleh orang-orang yang terlibat dalam perpustakaan ketika menciptakan brand antara lain:

  • “Ready access and excellent service…”
  • “center of intense intellectual inquiry”
  • “is an essential and vital component of campus intellectual life”
  • “embrace change”
  • “best collections, strongest service, state-of-the-art technology”
  • “center for learning and intellectual discovery”
  • “libraries: the university’s competitive advantage” (Priyatno: Materi Perkuliahan MIP-UGM).

Namun yang terpenting dari apa dijelaskan diatas ketika perpustakaan membentuk sebuah brand harus ingat kesepuluh kunci brand yang sukses antara lain sebagai berikut:

1. Mudah diingat.
2. Punya ciri khas yang unik.
3. Selalu promosi: never ending promotion.
4. Selalu tingkatkan kualitas.
5. Punya nicke yang unik.
6. Jaga nama baik brand.
7. Orientasi jangka panjang.
8. Jaringan pasar yang luas.
9. Pelayanan pelanggan yang bagus.
10. Pelihara integritas brand.

Oleh sebab itu perubahan paradigma   perpustakaan pada  dasarnya   mengacu brand perpustakaan dan informasi, dimana layanan perpustakaan tidak terkungkung pada brand layanan informasi seperti peminjaman buku, pengembalian, layanan referensi, layanan penelusuran serta pendaftaran anggota perpustakaan, tetapi   sudah harus  perpustakaan di era teknologi dan informasi bisa menciptaka brand dan berkembang seperti Study Spaces, Information Commons, Classrooms , Gaming Studios dan sebagainya melihat perubahan yang terjadi ditengah masyarakat. Masalah-masalah kebutuhan informasi yang muncul dalam suatu masyarakat membutuhkan informasi yang berbeda.

Continue reading

Information Literacy in the Information Society: A Concept for the Information Age


Melek Informasi dalam Masyarakat Informasi

“Melek Informasi dalam Masyarakat Informasi: Sebuah Konsep untuk Era Informasi”

oleh Christina S. Doyle (ED 372 763).

sumber dari Eric translate by ukhti

Information Literacy adalah kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dari berbagai sumber. Sebagai siswa mempersiapkan abad ke-21, instruksi tradisional dalam membaca, menulis, dan matematika perlu dibarengi dengan praktek dalam komunikasi, pemikiran kritis, dan keterampilan pemecahan masalah (Costa, 1985).

DEFINISI

Orang melek informasi adalah orang yang:

* Mengakui bahwa informasi yang akurat dan lengkap adalah dasar bagi pengambilan keputusan cerdas

* Mengakui perlunya informasi

* Merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang didasarkan pada kebutuhan informasi

* Mengidentifikasi potensi sumber-sumber informasi

* develops successful search strategies * Sukses mengembangkan strategi pencarian

* Mengakses sumber-sumber informasi termasuk berbasis komputer dan teknologi lainnya

* Mengevaluasi informasi

* Mengorganisir informasi untuk aplikasi praktis

* Mengintegrasikan informasi baru ke dalam tubuh yang sudah ada pengetahuan

* Menggunakan informasi dalam pemikiran kritis dan pemecahan masalah (Doyle, 1992)

Continue reading

Essay SOP Library


  1. . a. Siapakah saudara

Di perpustakaan saya adalah seorang Pustakawan Ahli yang menduduki jabatan Kepala Bidang bagian pengembang perpustakaan.

b. Apa yang saudara lakukan

Ketika saya diamanahkan atau dipercayai oleh penangung jawab, atasan dan sesama pustakawan sebagai kepala bidang pengembangan perpustakaan baik dari bentuk fisik maupun non fisik. Maka hal utama yang saya lakukan adalah merubah paradigma perpustakaan terutama pada layanan yakni penyediaan Learning Commons diperpustakaan. Dengan adanya penyediaan Learning Commons bagi pengunjung perpustakaan dapat menumbuh citra perpustakaan dan pustakawan.

c. Mengapa saudara dan yang saudara laukan di perpustakaan itu perlu

Selama ini stereotype of library adalah sebuah tempat/ruangan yang menyeramkan (tidak boleh ini dan itu) kecuali perdiam diri diperpustakaan. Tujuan dari penyediaan Learning Commons yakni untuk menuju sebuah perpustakaan edutaiment dan kreativitas. Seperti dikatakan oleh Laura Bott dan Kata: Librarians and staff can ease anxiety and increase the comfort level of their Immigrant users by providing instruction for new features while also retaining some elements of traditional library services (Botts & Kata, 2006).

Sebab saat ini gaya belajar pelajar atau mahasiswa senang belajar dalam kelompok atau komunitas. Ruangan yang dapat menambung para komunitas atau group belajar ini salah satu solusinya adalah di Learning Commons tersebut. Kemudian tersedianya Layanan Learning Commons diperpustakaan sehingga pemakai perpustakaan dapat belajar bersama-sama secara kolaboratif dan dapat memanfaatkan fasilitas teknologi bersama-sama sementara sumber-sumber infomasi dan ilmu pengetahuan terwadahi secara digital yang memungkinkan space perpustakaan dapat dimanfaatkan untuk pemakai. Serta pengunjung perpustakaan dapat mengekspresikan kreativitas di Learning Commons karena konsep dari layanan tersebut adalah menumbuhkan semangat kreativis dengan nuansa edutaiment.

Oleh karena itu dengan tersedianya  learning commons tersebut mampu mengantisipasi lingkungan dan cara belajar pemakai sekarang yang berbeda—media-rich, content-rich, learner-driven. Learning commons adalah sebuah gambaran perpustakaan secara fisik dimana semua orang yang ada di dalam perpustakaan bisa berbagi untuk memanfaatkan berbagai sumber informasi yang dapat diakses melalui teknologi sehingga menciptakan suasana masyarakat pembelajar yang betul-betul sedang mencari ilmu.

Adapun hal yang saya lakukan ketika saya merencanakan untuk menyediakan Learning Commons diperpustakaan antara lain: Pertama mendesain perpustakaan dengan konsep yang tidak lepas dari misi dan visi perpustakaan sendiri. Akan tetapi dari visi dan misi tersebut dikombinasikan dengan settingan entrepreneur (lebih kepada sytle saja yang diadopsikan) seperti Setting café, kantin, atau rumah-rumah tradisional (edutainment). Hal yang terpenting dari settingan Learning Commons yakni harus sesuai dengan psikologi (behavior) pengunjung generasi Millinial perpustakaan. Kenapa? Jangan sampai apa yang telah direncanakan dan selesai Learning Commons tersebut ternyata tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pengunjung dan kemajuan di Abad 21 baik dari segi informasi serta teknologi. Kedua di ruangan Learning Commons baik tiap bulan, Triwulan dan semesteran melaksanakan suatu event baik bentuk pameran, perlombaan, seminar atau curhat bareng tentang perpustakaan dari pengunjung. Hal ini dilakukan untuk menambah semangat pengunjung untuk selalu memanfaatkan terutama pengunjung potensial. Misalnya perpustakaan menggadakan pameran saat hari ibu dengan Teman wanita teladan Indonesia.  Maka selama satu pekan atau satu bulan di Learning Commons menyediakan informasi tentang Wanita teladan Indonesia dimulai dari Picuture, Bibliografi, maupun informasi lainnya. Ketiga dalam hal ini perpustakaan kemudian menyediakan pula berbagai fasilitas seperti meeting room, practice rooms, video conferencing, collaborative software boardmultimedia center, vending machine.

Continue reading

Networking Di Perpustakaan



Perkembangan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari kerjasama perpustakaan dalam menyebarkan informasi dalam meningkat pemahaman masyarakat tentang literasi informasi. Maka sangat diperlukan sebuah “Networking” pada perpustakaan. Karena  perpustakaan sebagai salah satu lembaga publik yang bertugas mengelola informasi, dengan adanya suatu kerjasama perpustakaan dengan lembaga lain mampu memberikan sautu Add value bagi perpustakaan terutama dalam pencitraan.  Perpustakaan di Indonesia pada saat ini belum mengalami perkembangan yang menggembirakan, terutama dalam mewujudkan perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Adapun Hal menghambat baik dari factor internal maupun eksternal salah satu alasan mengemuka tidak adanya “Networking” diperpustakaan.  Menurut Miller kerjasama perpustakaan (1973) adalah kerjasama yang dilakukan oeh unit-unit perpustakaan atau unit yang menangani informasi yang berhubungan bersama karena masing-masing memiliki sumber daya yang sama atau berada wilayah yang berbeda pada wilayah yang sama atau didasarkan kesamaan. Sedangkan Secara historis kerjasama antar perpustakaan muncul tatkala sebuah perpustakaan meminjamkan koleksinya pada perpustakaan atau kepada pemakai perpustakaan lain (Sulistyo-Basuki, 1992).

Prinsip kerjasama antar perpustakaan dilakukan karena diasumsikan bahwa tidak ada satu perpustakaan pun yang memilki koleksi lengkap, sehingga diperlukan kerjasama dengan perpustakaan lain. Maka, yang dimaksud dengan kerjasama perpustakaan adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh beberapa perpustakaan untuk mencapai tujuan perpustakaan dalam menyediakan dan mendayagunakan koleksinya untuk kepentingan pemakai, pembaca dalam berbagai kepentingan. Suprihati, (2004) berpendapat bahwa kerjasama perpustakaan memiliki dua hal pokok yaitu mewujudkan visi dan misi perpustakaan, dan keduanya sama-sama memperoleh nilai tambah atau manfaat atas terjalinnya kerjasama perpustakaan tersebut. Suprihati mengatakan bahwa kerjasama perpustakaan dapat dilakukan antara lain: 1) Kerjasama dalam pengadaan koleksi baik dengan penerbit, toko buku dan perpustakaan lainnya; 2) Kerjasma dalam pengolahan bahan pustaka; 3) Kerjasama layanan perpustakaan melalui sistem layanan silan layan perpustakaan, dengan adanya kesepakatan maka masing-masing perpustakaan mengetahui kebutuhan, kekurangan atau kelebihan, maka untuk saling melengkapi; 4) Kerjasama dalam promosi dan publikasi (Pameran bersama).

Kemudian salah satu unsur atau isu tentang perpustakaan Abad 21 yakni dihubungkan dengan kerjasama perpustakaan “Networking” antara berbagai komunitas seperti membangun koloborasi sesama perpustakaan (perguruan tinggi, khusus maupun umum) dalam menciptakan masyarakat sadar informasi dengan penuh kreativitas. Sehingga dengan adanya kerjasama diperpustakaan mampu meransang pustakawan untuk selalu creative dalam penyebaran informasi misalnya ada kegiataan pamerena, bedah buku, seni, teater, Researcher dan sebagainya. Hal seperti itu memerlukan kerjasama dengan berbagai pihak tidak mungkin dilakukan sendiri oleh pihak perpustakaan.

Kenyataannya Indonesia tidak semua perpustakaan mampu menghadirkan teknologi dan informasi yang ada diperpustakaan. Perpustakaan pasti memiliki keterbatasan informasi, sumber daya dan sebagainya. Maka dari itu sangat diperlukan adanya konsep kerjasama perpustakaan. Dimana Abad 21 perpustakaan memiliki tantangan sendiri dalam memberi pelayanan dan kepuasaan pada penggunjung perpustakaan terutama pengunjung potensial.

Pada dasarnya tidak ada satupun perpustakaan, betapapun besarnya perpustakaan tersebut, yang mampu mengumpulkan semua informasi yang dihasilkan oleh para ilmuwan di seluruh dunia, bahkan untuk disiplin ilmu yang paling spesifik sekalipun. Menyadari hal tersebut maka setiap perpustakaan atau pusat-pusat informasi selalu berusaha untuk menjalin kerjasama dengan perpustakaan atau pusat-pusat informasi lain yang ada. Pengertian kerjasama antar perpustakaan adalah kerjasama yang melibatkan dua perpustakaan atau lebih. Ada beberapa faktor yang mendorong kerjasama antar perpustakaan yaitu:

Continue reading

Merancang Pengembangan Perpustakaan



.

Setiap perpustakaan PT memiliki strategi pengembangan yang berbeda satu sama lain, tergantung pada kondisi awal masing-masing perpustakaan. Paling tidak sebagai seorang kepala perpustakaan harus mengamati lingkungan tempat berada perpustakaan yang dinaungin karena lingkungan eksternal dan internal akan mempengengaruhi dalam mendesain perpustakaan, teknologi, koleksi dan SDM yang akan ditetapkan diperpustakan. Kemudian harus melihat pesaing diluar seperti apa jika pesaing perpustakaan telah banyak perubahan baik dari koleksi, teknologi dan sarana lain, maka otomatis perpustakaan yang dinaungin juga wajib untuk berubah agar perpustakaan dibawah naungan tidak ditinggal oleh pengunjung atau dikunjungi oleh beberapa orang saja.

Untuk merompak segala perubahan diperpustakaan yang masih jauh tertinggal dengan perpustakaan profit maupun non profit.  Ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam perumusan strategi atau mengambil kebijakan dalam menuju perubahan perpustakaan tersebut antara lain adalah: berapa besar perpustakaan digital yang akan dibangun; muatan apa saja yang menjadi kebutuhan akses di dalam kampus; komponen apa saja yang akan dibutuhkan; siapa saja praktisi yang mempunyai keahlian, pengguna, pengembang, tenaga teknis yang akan disertakan dalam pengembangan; dan fungsi-fungsi apa saja yang dapat didukung secara lokal atau apa saja yang harus dipasok oleh pemasok. Semua hal tersebut tertuang dalam proposal perubahan perpustakaan menuju citra positif dan disampaikan kepada penanggung jawab perguruan tinggi, stekholder dan kolega yang terkait dengan perubahan perpustakaan tersebut.

Dan tak kalah pentingnya dalam pengembangan Scholarly Content perpustakaan yakni:

–          Library Collection (How to link up to their research output tracking system) dan (How to keep informed of new conferences held on campus)

–          Journals (How to keep on harvesting open access publications) dan (How to harvest for new work)

–          Web (How to negotiate with publishers)

–          Researchers (How to increase self submission)

–          Publishers (How to negotiate with publishers)

Mewujudkan kondisi perpustakaan sesuai dengan fungsi dan peranannya maka perpustakaan harus dirubah sistem operasionalnya dari perpustakaan manual/tradisional menjadi perpustakaan yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi (Perpustakaan digital). Dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi diharapkan perpustakaan secara bertahap dapat mengejar ketinggalannya dari perpustakaan-perpustakaan yang lebih maju dan sesuai dengan keinginan pengguna (user frendly) serta dapat mengoptimalkan fungsi perpustakaan bagi mahasiswa dan masyarakat. Selain hal tersebut diperlukan suatu manajemen pengelolaan yang sesuai dengan standar internasional dalam mengelola perpustakaan. Karena tanpa manajemen yang baik pekerjaan tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Dalam pengembangan dan perubahan perpustakaan harus memperioritaskan dalam perubahan tersebut yakni arah konsistensi, inovasi, tindakan efisiensi, kinerja, evaluasi dan perubahan. Maka langkah-langkah pengembangan stategis perencanaan antara lain sebagai berikut:

  1. Membangun “the ground rules” (partisipasi, task force, timeline, dsb)
  2. Mengembangkan “mission statement” Lakukan analisis lingkungan (PETS)
  3. Analisis Sumberdaya (strengths, weaknesses – SWOT) Berarti kemana akan pergi sehingga harus tahu dimana sekarang dan langkah yang ditempuh untuk mencapai tujuan tsb.
  4. Identifikasi isu-isu strategis (masa depan perpustakaan)
  5. Definisikan strategi masa depannya (kemana arah perpustakaan)
  6. Tentukan program (bagaimana caranya – projects)
  7. Implementasi dan rencanakan evaluasi (sukses?)

Continue reading

%d bloggers like this: