Semangat Terobosan Dan Korupsi


semangat terobosan dan KorupsiBeberapa hari ini membaca opini dan Headline diberbagai media nasional mengangkat isu-isu tentang korupsi. Cerita korupsi tidak akan pernah hilang meskipun korupsi musuh bagi siapapun. Jika menelusuri kebelakangn bahwa Indonesia pernah bermusuhan dengan kolenial, PKI dan sekarang bermusuhan dalam wujud KKN. Lihat saja, betapa banyak pejabat Negara atau penguasa dijebloskan kepenjara karena korupsi. Dari tingkat kecamatan hingga tingkat nasional. Kisah setiap orang tertangkap KPK atau menjadi tersangka korupsi sangat mengelitik dan tentu masyarakat bertanya-tanya apakah mereka yang menjadi tersangka benar-benar korupsi atau kesalahan dalam prosedur.

Jadi teringat dengan penjelasan Pak Mahfud MD di opini yang berjudul “Dosen Hukum Jadi Malu” bahwa pasal-pasal hukum itu bisa saja dicari untuk membenarkan atau menyalahkan satu pihak, tergantung pada apa yang diinginkan hakim”. Kalau ingin memenangkan seseorang bisa memakai pasal ini undang-undang nomor sekian, tapi kalau mau mengalahkan atau menghukumnya bisa memakai pasal dan undang-undang bernomor lain lagi. Pokoknya, semua ada pasalnya. Oleh karena semua alternatif, mau menghukum atau membebaskan itu, selalu bisa dicarikan dan selalu ada dalilnya, dalam memutus perkara.

Disisi lain, tidak jarang orang yang menjadi tersangka karena kesalahan dalam standar operasional presedur (SOP) demi mewujudkan terobosan dan tidak sesederhana itu untuk mewujudkan terobasan di institusi pemerintahan karena sekecil apapun pelanggaran prosedur akan berujung pada sangkaan korupsi. Atau bisa jadi terobasan sama dengan melanggar hukum.  Jika merujuk pada aturan yang berlaku di Indonesia siapapun bisa menjadi tersangka dan atas dasar itu pula membuat siapapun berada posisi strategis pemerintahan jadi takut melakukan terobasan. Padahal birokrasi Indonesia perlu di renovasi karena selama ini aturan yang diterapkan pada insititusi khusus lembaga plat merah begitu kaku. Di lain pihak sering  mendengar kepala Negara mengajak bawahannya untuk melakukan terobosan (Breakthrough). Selaras dengan ungkapan kepala Negara yang dilansirkan salah satu media online bahwa kadang-kadag perlu sebuah loncatan keberanian untuk melakukan pembenahan  untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Menurut Rhenald Khasali bahwa mesin birokrasi dan mindsent semua elemen pemerintah harus berubah dengan melakukan terobosan agar mampu mengejar kemajuan diberbagai sektor. Menurut kamus New World Dictionary karya Webster, terobosan memiliki arti, 1: suatu tindakan atau titik pendobrakan terhadap sebuah rintangan 2: suatu serbuan yang berhasil menembus garis pertahanan musuh dalam peperangan 3: suatu gerakan tiba-tiba yang menunjukkan adanya kemajuan. Sayangnya aturan yang dibuat atau berlaku di Indonesia jika dianalisa ibarat dua mata sisi yang memiliki ion positif maupun negative. Disisi lain membuat siapapun untuk taat dengan aturan lalu di lain sisi secara implisit mematikan langkah untuk percepatan sehingga pekerjaan menjadi lamban atau menyampingkan terobosan.

Mungkin ketakutan melakukan terobasa yaitu  berdampak pada terbengkalainya project, tidak berani mengambil kebijakan atau keputusan karena ada ketakutan gara-gara terobosan akan mengantar mereka menjadi tersangka. Seperti yang dilakukan mantan Menteri BUMN gara-gara semangat terobasan supaya masyarakat tidak berkeluh soal keterbatasan pasokan listrik mengantar beliau menjadi tersangka. Tidak hanya itu ketika project tidak berjalan, celakanya lagi tidak bisa menghabiskan anggaran Negara maka dianggapkan tidak bekerja dan seakan-akan menjadi pejabat Negara serba salah.  Bisa diasumsikan orang-orang berkarakter Out Of Box sepertinya tidak betah menjadi pejabat Negara karena dikekang, terbentur aturan yang baku dan takut menjadi tersangka. Bila boleh jujur posisi strategis pejabat Negara dibutuhkan manusia kreatif agar birokrasi di Indonesia terbenahi dari ulu hingga hilir menuju kesejahteraan masyarakat.

Pada akhirnya kembali pada siapapun sebagai pejabat Negara. Apakah ingin mengikuti aturan yang baku atau ingin melakukan terobasan karena kedua hal tersebut membawa konsenkuensi tersendiri. Minimal ada tiga masalah pokok. (1) mengikuti aturan pekerjaan maka pelaksanaan project menjadi lamban. (2) Bilamana ingin menerapkan terobasan perlu dingatkan bahwa akhirnya disangka korupsi. (3) Atau mungkin aturan yang berlaku di Indonesia perlu dikaji ulang agar tidak mudah menetap seseorang menjadi tersangka,  agar pejabat Negara bisa melakukan terobasan menuju kesejahteraaan dan kemajuan. Jadi Aturan dan posisi pemerintahan bak buah simalakama.

.

.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Benci korupsi tapi tetap memilih dan membela partai ter-korupsi


Bismillah…

Teramat sering kita mendengar masyarakat yang mengatakan benci dan tidak suka dengan korupsi tapi perkataan mereka tidak sesuai dengan tindakan karena dalam kehidupan sehari-hari meraka tetap atau masih membela mati-matian bahkan hari-hari mereka sibuk membela partai yang ter-korupsi dengan berbagai cara, meraka begitu percaya diri menggunakan kostum partai terkorupsi diranah publik, lebih gergetan lagi meraka dengan lantang mengatakan partai diusung adalah paling bersih padahal menurut KPK Watch_RI yang mempaparkan data bahwa partai paling terkorup dari 2002-2014 seperti grafik dibawah, tapi sayang masyarakat belum mengetahui data valid tersebut.

 Benci korupsi tapi tetap memilih dan membela partai korupsi

Bagi kita yang sudah mengetahui data tersebut, ada baik menyebar data keberbagai kalangan masyarakat agar pemilih tidak salah coblos atau salah mengusung caleg yang akan membawa Indonesia lebih maju, benar-benar mewakili apsirasi masyarakat, dan lucunya partai yang paling minim melakukan korupsi digemar-gembor habis oleh media serta masyarakat. Sedangkan partai terkorupsi tidak pernah dibedah oleh media, walaupun ada ditayangkan itu pun yang bagus-bagusnya aja. Dapat disimpulkan bahwa media tidak netral, secara media juga dikuasi oleh partai terkorupsi juga. Padahal media memiliki fungsi sangat mulia dan agung untuk mengawasi government.

Beberapa minggu lagi kita akan merayakan pesta demokrasi, maka dari itu coba simak data yang dikeluargkan oleh KPK Watch RI sebagai patokan maupun panduan bagi kita untuk memilih partai paling minim korupsi dan bisa mengajak kita pada kebaikan dunia maupun akhirat.

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami” (QS. As Sajdah:24).

“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah” (QS. Al Anbiyaa’:73)

Jangan sampai kita memilih gara-gara mendapat amplop, wejengan dan serangan pajar belaka. Padahal ketika memilih orang yang bertipikal seperti itu ada ciri-ciri pemimpin hanya bisa memberi uang tapi minim ide. Bukankah pemimpin dizaman era teknologi dan era gelombang ketiga dibutuhkan pemimpin (caleg) kaya ide dan action nyata ditengah masyarakat.

Sedangkan action juga tidak hanya terlihat pada momentum tertentu tapi pilih partai atau caleg yang benar melayani. Lebih penting lagi adalah lihat trackrecord dari pemimpin tersebut apakah mereka pantas menjadi pemimpin, apakah mereka dekat dengan Tuhan mereka seperti dijelaskan dalam (QS. Al Maa’idah:51) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

 

 Benci korupsi tapi tetap memilih dan membela partai korupsi

Jika tanggal 9 April 2014 anda masih memilih partai yang terkorupsi, itu bertanda anda tidak membenci korupsi melainkan mendukung korupsi. Jika kita masih mendukung partai tersebut itu bertanda kita tidak konsisten terhadap prinsip hidup. Bukankah dengan mengajak masyarakat dan tidak memilih partai terkorup adalah salah satu cara kita meminilisir kemungkaran di bumi Nusantara, senada dengan penjelasan (HR. Muslim) “Barangsiapa melihat suatu kemungkaran hendalah ia merobah dengan tanggannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya (ucapan), dan apabila tidak mampu juga hendaklah dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah.

Selamat memilih.    5 Menit memilih menentukan pelayanan 5 Tahun kedepan.

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

%d bloggers like this: