Gedung perpustakaan: Tak seindah koleksinya


Bismillah…

Gedung perpustakaan: Tak seindah koleksinya

Gedung perpustakaan: Tak seindah koleksinya

Beberapa hari yang lalu dihubungi teman (Red: direktur YPPI) bahwa ia sedang berada dikota Jambi untuk melaksanakan tugas literasi Indonesia, tapi sayang seribu tiga hooo..tak bisa bertemu dengan beliau padahal sudah lama tak bersua sejak selesai kuliah di Universitas Gadjah Mada. Mungkin Allah belum menginginkan untuk ketemu dan berharap bisa kembali bertemu lagi dalam kegiatan lainnya.

Ketika online, berselancar dunia penuh kenarsisan dan kepalsuan (Red:Fecebook) ternyata direktur YPPI mengupload photo berobjekkan gedung perpustakaan yang sangat waah atau spektakuler jika dilihat dari luar. Apakah gedung perpustakaan tersebut serasi dengan koleksi yang ada di perpustakaan tersebut? Seperti kita bisa menjawab bahwa rata-rata perpustakaan diseluruh Indonesia hanya indah pada arsitek (Gedung) tapi menyedihkan pada koleksi.

Menjadi pertanyaan kita semua, apakah pemerintah hanya sanggup mendidirikan gedung mewah saja dan tak sanggup mengisi gedung perpustakaan dengan koleksi terupdate? Jika perpustakaan gedung sangat indah dan dibarengi isi koleksi juga sangat memukai hanya ada beberapa perpustakaan ssaja!!! “masih asumsi belaka tapi bisa jadi kenyataan”

Atau pemerintah lebih suka gedung perpustakaan yang bagus dari pada koleksi yang terupdate yang ikut cabinet sekarang lebih suka pencitraan “hooooo sok tahu”, atau pemerintah hanya punya anggaran untuk mendirikan gedung perpustakaan waah tapi tak sanggup mengalokasi dana untuk update koleksi perpustakaan, atau bisa jadi pemerintah sudah menganggarkan dana untuk koleksi dan gedung perpustakaan tapi oknum tertentu menyalahkan anggaran tersebut!!!

Bahkan  lebih kritis lagi pernah menemui gedung perpustakaan sudah tak layak disebut perpustakaan, ditambah koleksi sudah usang-usang dan tak ada pula petugas perpustakaan yang berlatarbelakang ilmu perpustakaan. Jiki ini terjadi bagaimana bisa menyuarakan literasi Informasi pada public sedang jantungnya literasi tak pernah diperhatikan. …”Miris banget”.

Berbeda dengan perpustakaan di luar Negeri misalnya  perpustakaan kota Hongkong yang masih dalam lingkup Asia, akan terkaget-kaget, tak percaya jika gedung tersebut adalah perpustakaan. Kesan pertama ketika memasuki area perpustakaan kota Hongkong sungguh menawankan hati bagaimana tidak menawan karena antara gedung dan koleksi sangat selaras. Setip tingkatan gedung memiliki area khusus baik dari katagori koleksi, katagori usia, katagori profesi dan katagori manfaat.  

Tak heran kalau masyarakat diluar negeri ketika week and atau holiday menghabiskan waktu di perpustakaan karena diperpustakaan sudah disediakan semua bahkan melebihi fasilitas dirumah sendiri. Jadi iri untuk bisa kembali merasakan nikmatnya kehidupan diperpustakaan luar negeri…^__^

Bagaimana kita melihat masyarakat Indoensia betah atau tidak berada diperpustakaan??? Kita sudah bisa menjawab sendiiri  dan pantas pula masyarakat lebih betah searching atau membaca buku lewat Google.

Mungkinkah perpustakaan Indonesia akan menyerupai perpustakaan di luar Negeri? Ini lah menjadi PR bagi pemerintah dan pengiat literasi informasi untuk selalu memperhatikan jantung informasi, jantung pendidikan, dan jantung litarasi.

 

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Merancang Pengembangan Perpustakaan



.

Setiap perpustakaan PT memiliki strategi pengembangan yang berbeda satu sama lain, tergantung pada kondisi awal masing-masing perpustakaan. Paling tidak sebagai seorang kepala perpustakaan harus mengamati lingkungan tempat berada perpustakaan yang dinaungin karena lingkungan eksternal dan internal akan mempengengaruhi dalam mendesain perpustakaan, teknologi, koleksi dan SDM yang akan ditetapkan diperpustakan. Kemudian harus melihat pesaing diluar seperti apa jika pesaing perpustakaan telah banyak perubahan baik dari koleksi, teknologi dan sarana lain, maka otomatis perpustakaan yang dinaungin juga wajib untuk berubah agar perpustakaan dibawah naungan tidak ditinggal oleh pengunjung atau dikunjungi oleh beberapa orang saja.

Untuk merompak segala perubahan diperpustakaan yang masih jauh tertinggal dengan perpustakaan profit maupun non profit.  Ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam perumusan strategi atau mengambil kebijakan dalam menuju perubahan perpustakaan tersebut antara lain adalah: berapa besar perpustakaan digital yang akan dibangun; muatan apa saja yang menjadi kebutuhan akses di dalam kampus; komponen apa saja yang akan dibutuhkan; siapa saja praktisi yang mempunyai keahlian, pengguna, pengembang, tenaga teknis yang akan disertakan dalam pengembangan; dan fungsi-fungsi apa saja yang dapat didukung secara lokal atau apa saja yang harus dipasok oleh pemasok. Semua hal tersebut tertuang dalam proposal perubahan perpustakaan menuju citra positif dan disampaikan kepada penanggung jawab perguruan tinggi, stekholder dan kolega yang terkait dengan perubahan perpustakaan tersebut.

Dan tak kalah pentingnya dalam pengembangan Scholarly Content perpustakaan yakni:

–          Library Collection (How to link up to their research output tracking system) dan (How to keep informed of new conferences held on campus)

–          Journals (How to keep on harvesting open access publications) dan (How to harvest for new work)

–          Web (How to negotiate with publishers)

–          Researchers (How to increase self submission)

–          Publishers (How to negotiate with publishers)

Mewujudkan kondisi perpustakaan sesuai dengan fungsi dan peranannya maka perpustakaan harus dirubah sistem operasionalnya dari perpustakaan manual/tradisional menjadi perpustakaan yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi (Perpustakaan digital). Dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi diharapkan perpustakaan secara bertahap dapat mengejar ketinggalannya dari perpustakaan-perpustakaan yang lebih maju dan sesuai dengan keinginan pengguna (user frendly) serta dapat mengoptimalkan fungsi perpustakaan bagi mahasiswa dan masyarakat. Selain hal tersebut diperlukan suatu manajemen pengelolaan yang sesuai dengan standar internasional dalam mengelola perpustakaan. Karena tanpa manajemen yang baik pekerjaan tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Dalam pengembangan dan perubahan perpustakaan harus memperioritaskan dalam perubahan tersebut yakni arah konsistensi, inovasi, tindakan efisiensi, kinerja, evaluasi dan perubahan. Maka langkah-langkah pengembangan stategis perencanaan antara lain sebagai berikut:

  1. Membangun “the ground rules” (partisipasi, task force, timeline, dsb)
  2. Mengembangkan “mission statement” Lakukan analisis lingkungan (PETS)
  3. Analisis Sumberdaya (strengths, weaknesses – SWOT) Berarti kemana akan pergi sehingga harus tahu dimana sekarang dan langkah yang ditempuh untuk mencapai tujuan tsb.
  4. Identifikasi isu-isu strategis (masa depan perpustakaan)
  5. Definisikan strategi masa depannya (kemana arah perpustakaan)
  6. Tentukan program (bagaimana caranya – projects)
  7. Implementasi dan rencanakan evaluasi (sukses?)

Continue reading

%d bloggers like this: