Merangkul Bukan Memukul


rangkulan qoutes testiani

#TestianiPedia

Kata toleran/si adalah kata yang sedang hangat diperbincangan dijagat sosial media, kata itu bomming sejak agama islam dinistakan oleh oknum yang tak mampu menahan lisan dan tak pandai mengelola emosi. Sehingga ketidak mampuan itu, berakhir dipersidangan dengan episode cukup panjang. Melalui persidangan pula melahirkan beberapa kegaduhan baru antara yang pro dan kontra. Tidaknya sebatas pro kontra melainkan terbentuk kubu kotak-kota dan poros putih. Belum selesai kasus penistaaan agama episode pertama, lahir pula oknum penistaan agama melalui lelucon yang tak cerdas dan tak beretika. Bila episode pertama yang melakukan penistaan agama pelayan rakyat, maka sekarang adalah oknum artis. Tunggu saja bagaimana nasib sipenista agama baru apakah serupa seperti nasib sang pengdahulunya.

Dengan penistaan itu pula, lahir spirit 212 yang telah menggembar dunia dengan kekuataan yang tak pernah terpikir. Bahkan mampu mengumpulkan jutaan orang demi menyuarakan kebenaran serta izzah islam.

Tua, muda, dari pelosok desa hingga dari luar negeri tak mau tinggal serta ingin menghadir spirit 212, karena ada pesan ingin disampaikan kepada penguasa dan mereka yang telah menista atau berpotensi untuk menistakan agama islam. Jangan sampai islam jangan diperolok begitu saja dan jangan mengajari islam tentang toleransi. Toleransi bukan lah kata yang sangat asing bagi umat islam karena dalam surah Al-kafiruun secara jelas dan terang menerangkan “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. Bila dikaji kalimat tersebut hanya sebatas pada agama semata melainkan melingkup pada aspek lainnya.

Semakin tolerannya, sehingga ada ormas-ormas islam ketika ada peribadatan suatu agama lain begitu gagahnya menjaga gereja-gereja. Bisa jadi itu bukti ini menunjukkan bahwa islam adalah agama sangat toleran bukan agama radikal atau kata-kata keras lainnya yang distempelkan oleh musuh. Benar-benar tak layak kata radikal itu disatukan bahkan disandingkan dengan islam. Bila dicek satu persatu ayat-ayat al-quran tidak satupun ayat mengajari kekerasan. Melainkan mengajari cinta, kasih, menyanyangi, kelembutan dan berbagi sesuai dengan asma Allah.

Namun ada yang aneh baru-baru ini, secara kasat mata ada sebagian umat islam tidak toleran dengan sesama islam dan toleran hanya diperuntuk bagi yang berbeda agama. Salah satu contoh, seperti apa yang terjadi saat berlangsungnya pengajian akbar disuatu daerah di jawa timur terjadi penggusiran ustad. Membubarkan!! tak lain dan tak bukan umat islam yang berada pada ormas pernah menjaga gereja ketika natalan. Ini benar-benar ajaib. Kok bisa-bisa bersikap seperti itu. Sebenarnya kisah pengusiran ustad telah pada zaman nabi dan penolakan tertuangkan juga dalam al-quran. Coba cek surah al-baqarah ayat 170

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Lalu dipertegaskan kembali dalam surah Al-Maidah ayat 104 “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?”

Sesungguhnya apa yang disampaikan oleh ustad diaccount youtube pribada, menurungant beliau telah sesuai dengan al-quran dan sunnah yang mengikuti Rasul. Apa yang disampaikan de referensi yang jelas. Alasan utama kenapa harus dihentikan kajian akbar tersebut diantaranya berbeda mahzab semata dan konon apa yang disampaikan ustad selama ini gara-gara materi ceramah bertentangan dengan tradisi yang dilakukan oleh organisasi tersebut.

Seharusnya tidak terjadi begitu, apalagi sampai berteriak, mengancam, memungkul, mengusir supaya kajian tidak dilanjutkan. Padahal mengaji dan menuntut ilmu begitu ditekanan dalam islam. Dan mereka yang berkumpul untuk mendengar nasehat bukan sedangkan melakukan hal-hal dilarang agama.  Apa salahnya merangkul sesama umat islam bukan sebaliknya memungkul. Sementara berbeda keyakinan dirangkul dengan erat penuh cinta. Kenapa sama-sama bersyahdatan pada Rabbi yang sama tidak dikencangi ikatan rangkulan.  Jangan terulang kembali penolakan pada ustad-ustad gara-gara perbedaan mazhab. Dengan rangkulan abu-abu menjadi terang, melalui rangkulan berjarak menjadi ukhuwah yang kokoh, rangkulan menyelesaikan masalah bukan menambahkan beban, dan rangkulan bentuk nyatakan bahwa islam adalah rahmatan maupun rahman. Mari apapun permasalahan diselelaikan dengan rangkulan, lalu budayakan rangkulan dalam menyelesaikan masalah.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Pudarnya Rasa cita Islam


“Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan (Al A’raaf: 181)

Pudarnya rasa cita IslamSudah lama rasanya untuk menulis tema ini tetapi selalu tidak terealisasi, kebetulan tema ini juga marak dirasakan ditengah atau disekitar kita dan bahkan ustad kondang (YM) serta account Jonru juga meluapkan keluh kesahnya terhadap orang-orang islam yang begitu anti dengan aturan yang ditetapkan. Entah apa alasan seakan-akan simbolis agama Rabbi tersebut menjadi anti, padahal ketika pemilihan legistlatif dan pemilihan presiden berlomba-lomba elit politik, kaum intelektual mengambil hati rakyat dengan simbolis agama mayoritas di tanah pusaka.

Tetapi kini simbolis itu seakan-akan tidak akan berguna lagi, seolah-olah simbolis hanya berlaku, diminati dan dielus-elus lima tahun sekali bahkan sekarang simbolis agama tiba-tiba dilarang oleh sang penguasa. Kini ramai-ramai orang mengakui beragama anti dengan aturanNya dengan alasan simbolis tersebut merupakan pemaksaan agama, melanggar HAM atau jangan-jangan tujuan mereka sudah tercapai sehingga begitu berani anti ajaran ilahiah. Coba renungi ayat ini dan seakan-akan menyindiri mereka-mereka yang menentang aturanNya “Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya (Al Hajj: 8)

Lihat saja segala simbolis agama dilarang mulai ingin penghapusan terhadap kolom agama hingga terjadi perdepatan yang begitu elegan antara yang pro dan antri. Entah apa salah kolom agama tercantum KTP, toh selama ini juga tidak ada permasalahan hanya saja media yang begitu kencang mengepus isu-isu tersebut. Padahal begitu banyak permasalah besar yang belum dituntaskan demi kesejahteraan rakyat, tetapi kenapa lebih focus hal tersebut. Pelaranggan kurban disekolah-sekolah dengan alasan yang sangat konyol sebab dengan kurban disekolah akan menggangu psikis atau mengandung unsur kekerasan. Pengontrol khutbah jumat seakan-akan kembali pada orde lama padahal sudah dititik demokrasi, jangan-jangan demokrasi berlaku dalam kemaksiatan sedangkan sisi kebaikan tidak berlaku makna demokrasi. Coba kita bertanya apakah selama diskotik-diskotik atau tempat-tempat dugem sudah dikontrol oleh pihak berwewenang!!! Dan terbaru disekolah-sekolah tidak ada lagi doa berdasarkan agama islam. Terjadi kontradiktif dengan tujuan pendidikan yang ditanamkan selama ini yaitu menumbuhkan jiwa berakhlak mulia. Sudah jelas jam belajar agama sedikit dan sekarang malah berdoa disekolah malah diatur atau dilarang pula. Kemudia ada suatu provinsi yang merencanakan penglegalan pemakaian miras atau penjulan miras, padahal sudah melihat bagaimana dampak perderan miras ditengah masyarakat, bayangkan jika generasi bangsa sudah menikmati itu semua! akan kemana dibawa generasi bangsa kedepan, bukan perabadan bangsa kedepan sangat dipengaruhi oleh generasi muda. Bilama generasi muda disibukan hal-hal seperti itu sungguh tak bisa membayangkan bagaimana nanti Indonesia. Jangan biarkan Indonesia hanya dengan pada sisi negative dan jangan biarkan Indonesia hanya tinggal nama belaka.

Lebih anehnya lagi yang beragama malah mendukung juga rencana-rencana tersebut. Ibarat kata orang menggunakan simbolis agama adalah mereka yang tidak toleran dan mereka yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Ironisnya demi mencari pembenaran akhirnya lahir gerakan-gerakan yang memproteskan kebenaran Tuhan sehingga kebenaran menjadi relative dan kebenaran menjadi standar manusia bukan standar aturan Tuhan. Apakah ini bernama negeri bertuhan, padahal jelas-jelas dalam falsafah dan landasaran negera menyatakan bahwa Indonesia adalah Negara yang menganut Ke-Tuhanan Yang maha Esa!!! Kita tunggu saja maneuver apa lagi yang akan dilarang berkaitan agama?

#Huuffff….Hufffff…Hufffff…Huffff…Huffff…Hufffff… diperbarah lagi  peran media  streaming begitu kencang membuat opini negative terhadap mereka yang taat beragama sehingga negeri ini menjadi anti agama, mendorong orang islam anti islam dan ramai-ramai beranggapan lebih baik pemimpin kafir tetapi amanah dari pada pemimpin islam tetapi tidak amanah…#sepertinya media dan mereka yang anti islam mulai berhasil menyebar opini atau desas desus tersebut ditengah masyarakat.

Atau kami yang salah memilih pemimpin negeri ini, atau kami terlena dengan gombalan mereka yang mengatakan akan membawa perubahan ternyata perubahan yang dibawa adalah perubahan anti agama, perubahan pencitraan, perubahan pemobodohan, perubahan kezaliman, perubahan haus kekuasaan, perubahan memberi maksiat bertaburan dimana-mana dan perubahan tipu sana-sini. Jangan-jangan kami tidak mengenal calon pemimpin dulu karena mereka banyak menggunakan topeng simbolis agama demi kekuasaan dan kini merasa dampaknya.  Bahkan demi kekuasaan begitu elegan elit negeri mempertontonkan pada seluruh rakyat dengan melakukan gerakan tandingan-tandingan. Ingin rasa cepat pemilihan kembali agar kaum mayoritas tidak minoritaskan.

Andailah boleh mengatakan ini bukan urusan kami rasanya tidak enak, rasa tidak tega, rasa membiarkan pembodohan menyalar kemana-mana, dan tidak ingin negeri ini mengadopsi pemikiran barat karena sudah jelas bagaimana muaranya dan berakhir dengan kesadisan. Entah kenapa dinegeri begitu antusias dan euporia menyabut pemikiran barat dalam kehidupan mereka sehingga mengantar pada anti islam, sebab tidak semua pemikiran barat membawa keniscayaan andailah pemikiran barat itu brilian tentu akan abadi, nyata apa!!! Pemikiran barat kandas satu persatu dan berganti-ganti.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Ali ‘Imran: 8)

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Allah Memiliki Cara Cantik Untuk Mempertemukan Dua Hati Manusia


dakwa3Semari menunggu kehadiran mahasiswa, duduk diruagan tunggu mahasiswa semari menikmati tayangan yang bergejolak di Indonesia kebetulan tayangan ditonton pagi menjelang siang yaitu seputar Budi. Tidak sekarang aja budi terkenal melainkan sejak SD kita sering diajar tentang Budi dan budi benar-benar memberi pesona berbeda bagi siapapun yang pernah menggenal budi. Ketika asyiknya menonton tayang yang bergejolak tiba-tiba salah satu dosen menghampiri, bercerita dan tertawa. Dari sekian banyak teman mengajar disalah satu kampus negeri tempat mengabdi, dosen berinsial M merupakan teman yang sering ngombrol dari berbagai perspektif.

Tiba-tiba bertanya tentang seorang akhwat dan ikhwah yang baru menikah. Baru menjalankan Sunnah Rasullah SAW dan semoga selalu terbingkai keluarga SAMARA serta mereka berdua saling berlompa meraih surge firdaus, Allahuma amin. Dari mana mereka dipertemukan, apakah sebelumnya sudah mengenal, apakah dijodohkan oleh guru ngaji atau ada scenario lain. Itu pertanyaan yang dilontarkan kepada ummahat yang menemani ia bercerita. Akhirnya diceritakan bagaimana pertemuan tersebut. Akhwat tersebut sedang menyelesaikan pascasarjana di Negeri Erdogan, negeri kejayaan islam pernah berjaya dan di negeri tersebut akan kembali mengagung kejayaan islam. Hal ini sudah terlihat bagaimana pemimpin negeri turki saat ini begitu gentlaman dan menantang negera Eropa tanpa takut dikucil. Ini ciri-ciri pemimpin yang idamakan oleh rakyat, begini pemimpin memiliki kewibawaan, ini pemimpin memiliki kedekatan padaNya, ini pemimpin memiliki visi sangat berbeda dengan pemimpin di beberapa didaratan arab.  Sedangkan suaminya sedang berpendidikan riyad bahkan akhwat maupun ikhwan belum pernah kenal sama sekali.

Ya begitulah jika Allah berkendak begitu mudah untuk mempertemukan dua manusia ingin membina rumah tangga. Walaupun belum pernah menggenal satu sama lain. Awalnya akhwat tersebut hanya menggenal bunda (sekarang menjadi mertua, red) sebagai anggota legislative pusat dari salah satu partai islam. Saat itu tujuan anggota dewan untuk study banding kenegara yang berbatas dengan Eropa maupun Asia. Selama anggota dewan disana selalu menamani untuk adventure dan akhwat menggunakan kesempatan untuk bertanyak segala hal. Dari diskusi dan pertemuan singkat itu melahirkan rasa kekaguman atas sikap seorang ibu yang luar biasa.

Memiliki kesibukan luar biasa diparlemen, dakwa dan menata keluarga islam mampu menciptakan anak-anak menyintai qurani yaitu kesemua anaknya menjadi hafizh al-quran. Itulah yang melatarbelakangi akhwat menggagumi. Bahkan pertemuan singkat dengan anggota dewan tersebut sempat dirangkai dalam pragraf-pragraf inspirasi dan dari puluhan kalimat terangkai, terdapat harapan, doa atau keinginan ingin memiliki seorang ibu berkarakter seperti itu.

Tulisan bersifat inspirasi dirangkai seindah mungkin dipublish blog pribadi. subhanallah hanya sebatas keinginan untuk memiliki ibu berkepribadian seperti itu yang ditemani beberapa hari dinegeri orang. Akhirnya Allah mengambulkan keinginan tersebut beberapa tahun kemudian menjadi ibu mertua. Padahal awalnya menulis hanya sebatas menginspirasi tetapi dibalik kalimat inspirasi itu, Allah menganggap itu adalah doa. Ini adalah kebiasaan yang sangat elegan bagi jiwa-jiwan mempunyai bakat menulis dimana setiap kisah, cerita, ide, opini dan keinginan selalu diwujudkan bentuk tulisan. Hikmah bagi ia yang suka menulis yaitu mendorong untuk menulis segala keinginan dalam uraian kalimat. Selain mengekalkan keinginan dan mampu melahirkan hikmah cinta bagi pembaca.

Begitu luas hikmah yang bisa dipetik dari  pertemuan akhwat dan ikhwan. Yang mula tak pernah bertegur sapa, semula tidak mengenal, awal berjauhan dimana akhwat dilahir ditanah Sumatra sedangkan ikhwan dipulau jawa. Akhwat menempuh pendidikan disumtra kemudian melanjutkan kuliah di Negeri yang memiliki masjid yang indah. Sedangkan ikhwah kuliah di negeri yang dijanji kemakmuran atau ketenangan (arab-saudi).  Selama mendengar kisah tersebut, selama itu pula bertasbih, saat itu pula menambah keyakinan bahwa janji Allah itu benar tinggal bagaimana manusia percaya atau tidak atas janji ilah.

Bagi akhwat tetaplah menjaga kesucian hati, tetaplah menutup pandangan, tetap optimis meskipun usia sudah layak untuk menikah tetapi belum juga bertanda-tanda ikhwan yang menghampiri. Yakinlah cara Allah mempertemukan dua manusia begitu rumit untuk diterka, percayalah cara Allah menyatukan dua insan secepat kilat yang menyambar, pahamilah belum datangnya laki-laki menyatakan rasa untuk meminang bukan berarti dirimu tak laku melainkan Allah sedang melihat sejauh man para akhwat percaya dengan janji Allah, sejauh mana bisa menjaga nafsu, sejauh mana bisa menjaga pandang dan merupakan bentuk Allah memberi kesempatan bagi akhwat untuk menambah skill maupun keilmuan sebanyak mungkin. Seperti kisah-kisah para ummahat atau umi-umi kita dipertemukan dengan cari yang sangat unik dan mengesankan.

Jika kisah dua hati ini, didokumentasikan dalam bentuk novel mungkin semakin kaya hikmah. Tentu memberi inspirasi tersendiri bagi ikhwah untuk menjaga hati dan pandangan. Betapa reward yang Allah berikan pada mereka yang mampu menjaga dan hati yaitu memperoleh pasangan yang didasari cinta karena Allah serta disatukan juga atas kecintaan padaNya. Inilah cinta yang terlahir dari mencintai perintah Allah, inilah cinta yang terlahir yang mengaplikasi segala tuntunan dari Rasullah sehingga membawa lapis-lapis keberkahaan serta meninggi ketauhidan.

Rasanya cerita singkat itu, menjadi pelanggi yang indah disiang hari. Tidak sia-sia menghabiskan waktu sejam mendengar romansa cinta yang diikat dalam sebuah ikatan yang diberkahai Allah. Ikatan yang sangat dianjurkan dalam islam dan ikatan itu ibarat telah menyempurnakan setengah dien. Selama perjalan masih tersenyum-senyum mengingat kisah inspirasi berakhir pada labuhan cinta karena Allah.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Kemewahan Bukan Garansi Pernikahan Langgeng


Bismillah…

Kemewahan bukan geransi pernikahan langgeng

Kemewahan bukan geransi pernikahan langgeng

Hampir dua minggu infotaiment mengupas persiapan pernikahan artis ternama di negeri ini, penanyangan tidak disatu station televise melainkan dibeberapa TV swasta, waktu penanyangan juga hampir disetiap waktu dan cara menyanyinyapun berbeda-beda mulai dari kisah sang mantan, sisi Undangan, tamu, baju pengantin, konsep yang dipakai, rumah baru, kado yang diberikan oleh sahabat maupun keluarga dan hingga nyekar. Apa yang ditayangkan semua dipenuhi kemewahan dan kegelamoran. Siapapun yang menonton tentu terpana dan terpesona dengan konsep pernikahan para artis yang ditaburi bunga-bunga yang penuh dengan kesempurnaan. Dan bukan untuk kali ini saja para pesohor diliput oleh media saat akan menikah dan sudah teramat sering. Mungkin bagi Event Organizer pernikahan dengan paridigma mewah merupakan peluang bagi mereka sedangkan yang melaksana pernikahan tentu ini sangat merugikan.

Jika ditinjau dari sisi positif tentu sangat menginspirasi sebagian masyarakat yang akan mendesain pernikahan, bagi sisi media tentu memberi nilai kemanfaatan karena dibanjari berita, tidak perlu mencari-cari berita, dan kebanjiran iklan-iklan. Tetapi ditinjau dari perspektif sisi negative tentu sangat tidak mendidik karena mengajari masyarakat untuk melaksanakan pernikahan dengan kemerlang dunia. Bagi yang punya uang tentu hal seperti tidak masalah, wajar dan lumrah saja sedengkan bagi masyarakat tidak mampu ingin mengikuti pernikahan para artis tentu tidak masuk akal. Mendorong masyarakat untuk mendesai pesta bak para ratu dan raja. Meskipun pernikahan sekali seumur hidup, tidak juga dibenarkan menikah seperti itu yang seolah-olah membanggakan, seolah menceritakan bahwa mereka orang terpandang, seolah merupakan hal yang wajib dan seolah jika tidak melaksanakan pesta dengan tidak mewah akan mendapat kritikan jelek dari lingkungan.

Sangat terasa pengaruh media atau artis yang menikah diekspos oleh media sebab secara tidak langsung mendorong masyarakat untuk berpesta seperti itu jua dan tidak hanya itu bahkan masyarakat sekarang sudah terbiasa melakukan photo prewedding, menggunakan pakaian seragam dan konsep sudah liberalisasi. Jika boleh melihat masa lalu, sangat jarang masyarakat memakai konsep itu ketika pernikahan. Mungkin inilah nama perubahan, lain dulu lain sekarang karena saat ini sudah modern sehingga menikah harus bak artis seperti ditonton oleh mereka.

Padahal dalam islam pernikahan cukup disederhanakan tidak perlu berlebihan-lebihan yang penting rukun nikah terpenuhi, apalagi sampai memaksa diri dengan mengadai harta, meminjam kesana-kesini dan rela ambil bank demi sebuah pencitraan ditengah masyarakat. Sebab apa? Andailah ditengah masyarakat tidak melaksana pesta penuh euporia, bisa-bisa mendapat  labeling, merasa tidak enak dari masyarakat atuapun dari keluarga. Inilah bentuk kesalah pahaman masyarakat yang harus diluruskan oleh manusia beriman. Diperparah lagi pernikahan dizaman sekarang dibutuhkan financial yang mapan sebab segala barang serba mahal. Bukan tidak dibenarkan melaksanakan syukuran pernikahan, sangat diperbolehkan akan lebih elok bentuk syukuran itu di sederhanakan. Toh tujuan resepsi bukan untuk menunjuk diri bahwa kita mampu melaksana pesta pernikahan dengan kemergelapan, membeda sikaya dengan simisikin, membeda keluarga terpandang dengan keluarga biasa melainkan tujuan resepsi adalah meminta doa dari para tamu agar diberkahai keluarga sakinah mawadah waramah.

Nyatanya, begitu banyak mereka-mereka yang melaksana pernikahan dengan kemewahan dengan konsep yang sangat spektakuler tetapi apa yang terjadi? Melainkan perceraian, terjadi berselinggukan dan siap-siap membayar utang setelah menikmati pesta pora. Bahwa kemewahan tidak menjamin pernikah itu langgeng, bahagia dan sakinah. Sangat menyedihkan bukan!!! Sudah melaksana pernikahan dengan penuh kemewahan tetapi akhirnya menyedihkan. Ada pula disekitar kita menikah Cuma ijab Kabul saja tidak dimeriahkan dengan resepsi pernikahan, tetapi sungguh pernikahan mereka penuh nuansa cinta dan romansa sakinah mamawada waramah.

Apa yang membuat pernikahan penuh kebarkahaan karena dilatarbelakangi niat yang suci ingin menjaga hati agar tidak terkotori, tidak perlu dengan pesta yang wooow yang penting bagaimana memahami makna ijab Kabul, bagaimana meresapi janji-janji dilontarkan pada Allah langsung dan  tetap setia menjadi sepasang kekasih hingga maut memisah. Sebab Allah tidak melihat dan mengukur kebahagian dalam pernikahan dari pesta melainkan dari niat yang suci untuk menikah dalam rangka untuk beribadah padaNya.

Mungkin ini ada pilihan bagi yang akan menikah atau akan resepsi!!! Silahkan memilih yang sesuai dengan kesanggupan dan selera jangan memaksa apalagi sampai membebani keluarga. Akan lebih elegan pernikahan dilaksanakan diatas konsep kesederhanaan walaupun mampu berpesta pora. Tapi itu jarang ditemui diabad sekarang karena dizaman digitalisasi lebih mementing pencitraa dibanding niat yang suci.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Islam Keilmuan Terintragasi Dan Terkoneksi


Keilmuan islam terkoneksi dan terintegrasi

Keilmuan islam terkoneksi dan terintegrasi

Semangat luar biasa menuju Auditorium Universitas Islam di tanah melayu, walaupun datang telat ternyata acaranya belum dimulai dikarenakan Native Speaker (Narasumber) masih terkendala kondisi alam tidak bersahabat (kabut asap) yang lumayan tebal sehingga penerbangan flat Merah (Garuda) tidak berani terbang menuju daratan melayu. Secara selama ini Garuda selalu menjaga kredebilitas, akuntabilitas dan profesional skala nasional maupun Internasiona. Padahal suasana Auditorium sudah dipenuhi oleh mahasiswa, dosen, guru besar, para undangan dan panitia. Hingga acara selesai Native Speaker tidak ada kabar, itu bertanda bahwa Garuda tidak berani mengambil resiko dan otomatis narasumber diwakili pihak penyelenggara.

Walaupun para panetia sudah prepare penuh totalitas untuk mensukseskan kuliah umum, hal tidak diduga dan rencana Allah yang berlaku. Diawali serangkaian muqadimah, dilanjutin prolog dari Rektor dan penyampaian pointer sesuai dengan tema. Sebelum mempaparkan esensial dari kuliah umum, para audien disuguhi video berkaitan bersahabatan Monyet With Dog dan bagaimana binatang begitu mudah meniru perilaku manusia. Melalui video tersebut sesungguhnya ada hikmah bagi yang berpikir terutama taktik diplomasi. Meskipun video yang diputar tidak berhubungan dengan tema diangkat paling tidak menghibur audiensi, menghilang rasa kantuk, menghadirkan tawa dan menambah kahasanah berbeda bagi haus ilmu pengetahuan.

Ada beberapa pointer disampaikan selama 2 Jam, meskipun tidak dinaratifkan secara komplit tentu tidak mengurangi esensi perkuliahan. Kesimpulan dari kuliah umum bahwa tidak adalagi dikotomi ilmu pengetahuan islam dan umum. Bagaimana menyatukan dua akar yang berbeda dalam satu wadah berupa World Class University. Apakah mungkin semua akademisi maupun intelektual islam menyetujui pemikiran tersebut karena setiap orang yang menafsiran berbeda-beda.

Lihat saja selama ini sudah banyak para pemikir islam yang mengkaji akhirnya selalu bermuara (1) corak neo-modernisme yang memiliki asumsi bahwa ilmu pengetehuan islam harus dilibatkan dalam perdebatan-debatan modernitas, (2) corak sosialisme-demokrasi yakni pemikiran yang mimiliki bahwa islam pada dasarnya membawa misi sosialisme sehingga islam harus mampu memberi makna pada kehidupan sosial. Dengan pijakan semacam ini proses islamisasi dapat dilakukan dengan jalan melakukan karya-karya produktif yang berorientasi pada perubahan sosial, ekonomi dan politik menuju masyakarat yang adil dan makmur (3) corak Universalime yaitu pemikiran yang memiliki asumsi bahwa islam tidak mengenal dikotomi antara nasionalisme dan islamisasi karena islam bersifat universial, dan (4) corak modernisme merupakan pemikiran yang memiliki asumsi dasar bahwa islam sesuai dengan kondisi modern. Pijikan pemekiran modernism adalah rasional dan pembaruan pemikiran islam. Jika merujuk pada (QS. Al Mu’min: 35) Yaitu orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.

Ada pertanyaan kritis ingin diajukan disini sesuai dengan Tema kuliah umum. Persoalannya apakah benar ilmu pengetahuan islam telah dan akan mendunia? Berapa persen umat islam telah mengaplikasi dan mengkaji ilmu pengetahuan islam berakhir pada ketaqwaan maupun inovasi? Betulkah ilmu pengetahuan islam selalu sebagai referensi utama? Nyatanya selama ini, akademisi lebih menarik dan percaya diri jika rujukan dipakai adalah teori barat. Tanda-tanda sudah terlihat, baik dalam pribadi sendiri maupun dalam komunal dan seakan-akan teori barat sudah ending (final), pemikiran barat terbaik, nyatanya berapa banyak pemikiran barat tumbang, kontradiksi dengan perkembangan zaman serta tertinggal hanya ilmu pengetahuan dibawah panci Al-Quran serta Sunnah yang dikaji tiada henti. Sabda Rasullah saw: Kamu sekalian akan dikerumuni (dijarah ramai-ramai) oleh umat manusia seperti halnya santapan dikerumuni orang-orang lapar karena kamu semua ibarat buih jumlah banyak tetapi tidak memiliki kualitas.

Betapa banyak kalangan islam sendiri menolak atau meragukan ilmu pengetahuan islam berdalih ijtihad? Jangan-jangan ilmu pengetahuan islam tidak akan berkembang atau stagnan, sebenarnya islam memiliki pondasi keilmuan yang sangat terintergrasi maupun terkoneksi dalam Al-Quran dan Hadist yang bisa dipergunakan berbagai ilmu pengetahuan bahkan tujuannyapun bermuara rahmatan lil alami.  Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang dengannya, yaitu kitabullah (Al-Quran) dan sunnah Rasulllah Saw” (HR. Muslim)

Bayangkan jika pengetahuan islam hilang? Jika seperti itu kapan ilmu pengetahuan islam mendunia? Lalu bagaimana cara ilmu pengetahuan islam mendunia? Saat ini terjadi perang pemikiran antara islam dan barat. Mungkin ilmu pengetahuan islam mendunia ketika Roma ditaklukan, setelah tertakluknya Roma dan kembali berjaya ke masa awal islam (impresium islam) tetapi bukan kenabian karena kenabian telah berakhir namun kembali pada periode “Khilafah ‘ala manhaj Nubuwwah”. “Taklukkan negeri mana saja yang kalian inginkan, karena demi Dzat Abu Hurairah berada ditanganNya, tidaklah kalian menaklukkan salah satu kota hingga hari kiamat, melainkan Allah telah memberikan kunci-kuncinya kepada Muhammad Saw sebelum itu (Abu Hurairah ra.). Maka saat itu lah ilmu pengetahuan islam dipergunakan maksimal maupun dimanfaatkan segala sisi.

Jadi ingat perkataan Abdullah bin Amru bin Ash: “Bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulllah Saw untuk menulis, lalu Rasullah Saw ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, konstantinopel atau roma. Maka Rasulullah saw menjawab “kota Heraklius terlebih dahulu”, yakni konstantinopel”. (HR. Ahmad).  Rasullah kemudian membuat pernyataan berupa visi jangka panjangnya dalam sebuah hadist, “kalian pasti akan membebaskan konstantinopel. Pemimpin yang menaklukannya adalah sebaik-baik pemimpin, dan pasukan yang berada dibawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” Mungkin makna implisit dari hadist tersebut juga berkorelasi, berlaku dengan ilmu pengetahuan islam mendunia!!! Sebaik-baiknya yang mengaplikasi ilmu pengetahuan islam adalah sebaik-baiknya umat islam yang mengaplikasi, mengkaji dan menjadi Al-quran maupun sunnah menjadi rujukan ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu secara pribadi berpendapat inti sari al-quran dan sunnah adalah ilmu pengetahuan yang sangat luas (terintragasi dan terkoneksi ) yaitu  berupa menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri-cirinya. Itu sebabnya dunia islam tidak mengenal benturan antara sains dan agama sebagaimana yang pernah terjadi di Eropa. Kesemuanya dapat dikembalikan kepada hakikat menghimpun (informasi). Jadi mari mempelajari tentang  apa yang terkandung  dalam agama islam, lalu kembangkan dengan  memakai hati nurani karena sesungguhnya apa yang terdapat di dalamnya terdapat semua petunjuk segala ilmu.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Menyisih Rezki Untuk Haji


Bismillah…

“Jihad yang paling afdol ialah haji yang mabrur. (HR.Bukhari)

Menyisih Pendapatan Untuk Berhaji

Menyisih Pendapatan Untuk Berhaji

Indonesia merupakan Negara islam terbesar didunia, Negara yang banyak mendapat jatah Haji, untuk berangkat Haji harus menunggu bertahun-tahun bahkan bisa menunggu hingga 10 Tahun, dan umat islam seluruh dunia tentu ingin menunaikan Ibadah haji meskipun hukumnya bukan wajib.

Berbagai cara dilakukan untuk bisa berangkat haji. Bahkan setiap keberangkatan Haji, ada cerita sangat mengelitik perasaan, menampar jiwa, dan sampai tidak percaya dengan mereka yang memiliki tekad yang tinggi. Ada yang menabung bertahun-tahun dengan menyisih penghasilannya sedikit demi sedikit, ada yang rela menjadi buruh agar bisa berangkat haji, ada menjadi tukang sayur dan cara apapun dilakukan. Secara matematika manusia mungkin tidak mungkin bisa hadir ditanah suci, untuk hidup sehari-hari saja dengan pas-pasan, bagaimana mungkin bisa berangkat haji. Namun atas kekuasaan Allah, kebulatan tekad, terus berdoa padaNya secara istiqomah menyisih pendapatan rupiah demi rupiah dan Allah permudahkan untuk kesana meskipun harus menunggu bertahun-tahun.

Sedangkan orang memiliki harta yang banyak, gampang memperoleh uang, dilimpahkan rezki, tidak memiliki beban hidup, bisa berjalan-jalan hingga keluar negeri, bisa mengkredit mobil berunit-unit, bisa menghabiskan uang untuk facial hingga berjuta-juta, punya rumah dimana-mana, mampu mengkredit barang-barang mewah dengan bunga yang fantastis dan karir sedang cemerlang. Tetapi kenapa belum ada keinginan untuk menyisihkan pendapatan atau menabung haji. Begitulah kehidupan, begitu rumit dicernai dengan nalar. “Seorang hamba Aku sehatkan tubuhnya dan Aku perluas baginya mata pencahariannya dan berlalu lima tahu tidak berhaji kepada rumahKu maka dia akan kehilangan (pemberianKu). (HR.Al-Baihaqi).

Seperti cerita didengar dari salah satu keluarga yang sudah menjalan ibadah haji semari meneteskan air mata mengenang betapa syukur bisa menjalankan ibadah, menyesalnya kenapa sejak dari dulu berniat untuk berhaji dan kenapa saudara perempuannya selalu menunda-nunda untuk berangkat haji. Padahal punya keberlimpahaan rezki, badan yang sehat cuma ingin menyekolah anak sampai kuliah tinggi baru akan berhaji tetapi Allah berkehendak lain yakni mengambil hak untuk hidup dibumiNya. “Barangsiapa memiliki bekal dan kendaraan (biaya perjalan) yang dapat menyampaikan ke Baitalilahil haram dan tidak menunaikan (ibadah) haji maka tidak mengapa baginya wafat sebagai orang yahudi dan orang nasrani. (HR.Tirmidzi dan Ahmad).

Mungkin ada dilingkungan kita mengalami scenario yang sama. Janganlah menunda-nunda untuk berangkat haji, jangan berpikir lain bahwa menyisihkan harta untuk berhaji menjadi kendala untuk membeli yang lain, atau sampai hati yakin atau sudah tua baru berhaji. Jika boleh jujur hati manusia mana memiliki kemantapan niat untuk melakukan kebaikan selalu ada rayuan setan yang membisik ketakutan atau pikiran negative agar manusia tidak melakukan ketakwaan padaNya. Bahkan mereka yang berniat dan telah menyetor haji Allah berikan kemudahan rezki yang tidak disangka-sangka. Ada pula sudah berazam menjalankan haji ketika karir bagus tanpi tidak menunaikan malah sebaliknya semakin terhambat rezki.

Melalui cerita itu pula menetes air mata, termotivasi dan ingin melakukan hal yang sama agar bisa berada ditanah suci. Apakah sudah berniat untuk berhaji? Apakah sudah pernah melafazkan melalui doa padaNya ingin berhaji?  Apakah sudah menyisihkan penghasilan kita untuk kesana? usaha apa saja telah dilakukan bisa mewujudkan keinginan untuk rukun islam kelima? Benar kata ustad, bahwa tidak semua orang terpanggil untuk melakukan ibadah. Hanya orang-orang terpilih dan dekat dengan Allah ingin bersegera menjalan perintah Allah. Antara umroh yang pertama dengan umroh kedua (terdapat) penghapusan dosa-dosa (yang dilakukan antara keduanya) dan haji mabrur tiada pahala kecuali surge. (HR.Bukhari).

Tanamkan terus niat untuk menjalan rukun islam kelima terutama saat berdoa pada Rabbi agar diberi kemudahan rezki, diberi kemantapan untuk berhaji, dipanjangkan umur dan disegarakan menunaikannya meskipun kesulitan dengan keuangan, meskipun dipikir dengan nalar tidak mungkin bisa. Rasullah Saw menyambut orang yang pergi haji “semoga Allah menerima hajimu, mengampuni dosamu dan menganti ongkosmu (biaya-biayamu)” (HR.Ad-Dainuri). Dengan bismillah untuk menyisihkan rupiah kita demi mengunjugi tempat-tempat mustajab karena untuk berhaji dibutuh waktu bertahun-tahun maka dari sekarang untuk Action (tabungan Haji) dan tempat yang dijanjikan doa diijabah. Senada dengan pepatah sering didengar bahwa kekuataan atau energi di Tanah suci itu teras lebih dahsyat dibandingkan dengan tempat lain.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Apakah ana sudah Islam?


Bismillah…

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” (QS. Al Baqarah: 25)

Apakah ana sudah Islam?

Apakah ana sudah Islam?

Setiap hari minggu biasanya disibukkan untuk mengisi acara, mulai mengisi kajian ibu-ibu, coach penulisan dan terkadang ada rapat organisasi. Subhanallah, bisa berbagi, diskusi dan saling tersenyum dengan banyak orang merupakan suatu anugrah sangat luar biasa sebab melalui diskusi akan lahir ide penulisan serta bagian dari sadakoh. Ilmu akan bermanfaat ketika semakin banyak berbagi pada siapapun dan ilmu bermanfaat pula akan membawa manusia pada sebuah posisi nilai tawar baik dihadapan manusia maupun Allah.

Setelah mengisi kajian ibu-ibu langsung menuju secretariat coach writing, meskipun sempat menempuh perjalan yang jauh, kesasar dan akhirnya tanjap gas. Padahal ingin lewat jalan tikus yang ada ketemu jalan tol, ya terima, nikmati aja, toh dapat lagi jalan baru. Sedangkan tujuan lewat jalan tikus agar hemat bensin secara BBM lagi langkah disebabkan pengurangan kuata subsidi dan ingin segara sampai tempat pelatihan. Sesampai sana ternyata acaranya belum dimulai dan terlihat pula ada wajah baru datang. Langsung sapa penuh senyum, genggam tangan yang kokoh dan diiringi salam karena sebagai orang islam harus membiasakan salam dengan wajah ceria.

Semari menunggu yang lain datang, coba berdiskusi dengan segala bidang dan ditinjau dari perseptif islam. Walaupun diawal sempat understeamt dengan orang baru tersebut. Semakin lama berdiskusi semakin menjerumus pada fiqih tasawuf. Walaupun dari face maupun dandan terdiskripsi orang tersebut tidak begitu memahami aturan Islam. Ternyata asumsi itu salah, malah ia lebih vocal membahas islam. Kevokal tersebut terdiam menyimak semari mencatat hal penting. Entah apa membuat kami membahas tentang qodha-qadhar, keikhlasan, zikirullah, dan takdir.  Keasyikan diskusi melupakan waktu, tidak terasa diskusi telah meninak bobo kami untuk bercerita hingga jam 2 sore dan akhirnya coach writing ditiadakan.  Ternyata diskusi tersebut banyak persamaan dengan taujih yang disampaikan pada kajian ibu-ibu tadi pagi hanya saja ilustrasi digunakan sederhana dan diaplikatif dengan realitas.

Melalui diskusi membathin diri. Apakah benar ana sudah islam? Apakah benar sudah mengenal Allah? Jika benar Allah tentu sudah paham mana yang dicintai Allah manapula yang dilarangNya. Apakah amalan yang dilakukan selama ini sudah ikhlas? Jangan amalan diperbuat begitu banyak riak-riak ria. Apakah dalam sholat sudah bisa menghadirkan wajah Rabbi? Apakah sholat sudah menjadi pondasi kehidupan? Apakah syadatan diucapkan setiap sholat benar-benar mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah? Apakah benar sholat dan hidup ku hanya untuk Allah? “Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (QS. Al Kahfi:14). Seberapa banyak zikrullah dilafazkan mulut ini? Apakah benar wudhu sudah bersih? Apakah benar tadwij sudah sesuai dengan makro huruf? Itu baru berkaitan dengan shalat (Vertikal) belum hal lainnya (muamallah) karena aturan islam mengajar manusia untuk keseimbang antara dunia dan akhirat dan sepertinya keislamanan ana belum apa-apa.

Jujur tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut? Bayangkan saja pertanyaan ana sendiri belum bisa dijawabkan! Apalagi pertanyaan dari Allah. Jadi malu sendiri bahwa ana belum mencintai islam secara kaffah? Harus banyak belajar, harus mengakui bahwa kecintaan padaNya belum sempurna dan bisakah mencintai islam secara kaffah? Apakah bisa memahami islam secara kaffah?  Seakan-akan islam melekat dalam diri hanya aksesoris belaka. Jangan-jangan islam ana hanya sebatas ucapan, jangan islam ana sebatas dandanan, jangan ana islam keterunan, dan jangan-jangan ana islam KTP.

Jika kualitas keislaman hanya begitu, layakkah ana untuk mendapat surge? Surga tidak diperoleh begitu gampang dan sepertinya tidak termasuk calon penghuni surge? Diperkuat dengan sebuah hadist “bahwa penghuni surge sebagian besar adalah umat terdahulu dan sebagian kecil umat sekarang? Meskipun surge tidak diperoleh, akan tetap terus berupaya sejalan dengan ungkapan hadist bahwa kalian masuk surge atas kebaikan dan kebarkahaan Allah kepada hambaNya. Meskipun belum sukses menjadi islam secara kaffah. Tapi bersyukur diskusi tadi siang menghadirkan jiwa untuk berkontemplasi begitu deep (dalam), berpikir begitu detail dan mendorong qolbu untuk terus mempelajari islam.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

%d bloggers like this: