Revolusi Sumber Informasi Digital


Penulis             : 1. Depi Suadi, S.Kom, M.Kom dan 2. Testiani Makmur, M.A

Penerbit           : Bulak Sumur Empat

Tahun Terbit    : Mei 2015

ISBN               : 978-602-72593-0-0

Harga              :  @Rp 70.000

cover revolusi informasi digitalBuku ini membahas berbagai macam sumber informasi digital baik berupa teks, gambar, video karena Informasi bukan lagi sebatas kata-kata atau kalimat tetapi informasi sudah bergeser dalam bentuk multimedia. Dilengkapi dengan teknik penelusuran informasi, menyajikan referensi online dalam memenuhi kebutuhan informasi yang semakin kompleks dan berupaya untuk membekali pengguna agar lebih termotivasi memanfaatkan informasi dari sumber-sumber digital.

Disamping itu ketersediaan beragam informasi terkadang menyesatkan, bahkan dampak dari overload informasi tiap hari juga perlu diwaspadai karena mempersulit memilah informasi, memperumit identifikasi atau mengklasifikasi informasi dan mempersulit memperoleh informasi. Padahal ledakan informasi yang terjadi di internet dimana diasumsikan lebih dari 50% informasi di internet adalah informasi “sampah’ dapat mengancam generasi digital atau generasi mellineal yang terkenal intants dalam mengkonsumsi informasi. Cara mengatasi fenomena tersebut diperlukan mengetahui sumber-sumber informasi digital yang memenuhi strandariasi akurat, strategi penelusuran informasi dan mengevaluasi sumber informasi. Kemudian  buku ini terdiri dari empat bab (1) pengantar, (2) Strategi Penelusuran Informasi, (3) Sumber-sumber informasi digital, dan (4) strategi mengetahui tranding topik diberbagai sosial media atau website berita serta dilengkapi glossary.

Buku ini tidak hanya didikasikan bagi jurusan ilmu perpustakaan akan tetapi diperuntukan bagi siapapun yang haus akan informasi terutama bagi mahasiswa, pustakawan, akademisi, dosen, guru, pratikisi dan profesi lainnya yang selalu bersentuhan dengan informasi atau bisa dikatakan bahwa kegiatan saat ini tidak pernah terlepas dari informasi dan setiap aspek kehidupan selalu dihubungkan dengan ketersedian informasi. Sangat Layak dibaca, direkomendasikan bahkan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari agar memperoleh informasi dengan gampang tanpa tersesat dibelataran informasi di internet dan kehadiran buku ini bisa menjadi bekal sebagai literasi informasi, broker information serta salah satu media atau rujukan menuju Lifelong Learning.

Jika boleh meminjam kutipan dari Prof. Dr. Richardus Eko Indrjit bahwa “orang kebanyakan akan mencari data, orang pandai akan mencari informasi dan orang bijaksana akan mencari ilmu pengetahuan”. Itu lah tujuan dari buku ini yaitu ingin mengantar pembaca untuk pandai mencari informasi secara bijak dan pada akhirnya memahami makna informasi dalam hakikat kehidupan.  Ditambah lagi priodenisasi masyarakat informasi seperti sekarang ini, dimana kekuasaan berada ditangan komunitas masyarakat yang menguasai informasi. Apabila informasi dikuasai oleh sekelompok masyarakat, komunitas tertentu dan oleh orang tertentu, mungkin menimbulkan ketidakselarasan sesama masyarakat karena terjadi ketidakseimbangan informasi yang dimiliki antar individu.

Note:

Bagi yang tertarik untuk mengkoleksi buku tersebut bisa hubungi penulis di email sholiatalhanin@yahoo.coid, Whatshaps 0853 2580 3374, Pin 763f9724

Menabur Kebaikan Dan Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Diskriminasi Informasi antara Negara maju dengan Negara berkembang


Bismillah…

Diskriminasi Informasi antara Negara maju dengan Negara berkembang

Diskriminasi Informasi antara Negara maju dengan Negara berkembang

Setiap hari informasi lahir, membludak dan overloap maka diperlukan keahlian untuk mensortikan informasi, agar informasi diperoleh akurat, relevansi dan tepat waktu. Setiap manusia membutuhkan informasi, biasanya informasi dibutuhkan berdasarkan “what you fill and what is trend today” dan setiap informasi diciptakan tidak satupun yang mampu mengikuti peredaran informasi. Untuk bisa memenuhi informasi maka manusia tidak hanya harus memiliki keahlian melain juga harus melek dengan perangkat informasi seperti melek digital, melek visual, melek computer dan melek jaringan.

Masih banyak masyarakat Indonesia belum familier dengan konsep literasi baik masyarakat berpendidikan, masyarakat awam, masyarakat kota maupun masyarakat desa. Padahal pemerintah sudah mensosialisasi dengan berbagai cara agar masyarakat Indonesia untuk menjadi manusia literasi segala bidang. Banyak alasan kenapa di Negara-negara berkembang belum memahami pentingnya literasi.

Saat masyarakat di negera berkembang ingin meningkatkan pemahaman literacy terkendala dengan tools, terkendala dengan akses memperoleh informasi dan untuk mendapat informasi harus mengeluarkan biaya cukup besar. Seperti terjadi dengan ia disuatu hari, tiba-tiba dapat kiriman artikel dengan format Pdf dengan lampiran bahwa jurnal tersebut bisa diakses secara gratis. Ketika melihat Link dikirim melalui social media begitu senang, bahagia dan semangat karena sudah mempersiapkan diri untuk mensedot (download) artikel tersebut sepuas hati dan sesuai dengan materi yang dipaparkan diruangan perkuliahan serta menambah referensi bagi dosen muda.

Dengan Bismillah membuka artikel dengan judul “Information literacy self effiency: the effect of juggling work and study”. Artikel muncul dengan abstrak, coba mencari tool yang menyediakan untuk download. Tool tersebut tersedia dengan cacatan harus membeli atau masuk keranjang belanja. Itu berarti artikel tersebut tidak bisa dibaca oleh sembarang orang atau dibaca secara Cuma-Cuma dan tidak bisa disave maupun didownload oleh seeking information.

Setelah mengalami tragedy tersebut langsung send message to my friens by facebook. Link yang dikirimkan tidak bisa disedot, padahal steatment awal mengatakan Link tersebut bisa diperoleh secara gratis tapi kenyataan berbeda.

Temanpun menjelaskan bahwa didaratan Amerika tempat kuliah S3 sekarang bisa didownload sepuasnya tanpa harus login atau membayar. Usut punya usut, faktanya artikel atau jurnal ilmiah tersebut hanya berlaku gratis bagi Negara maju sedangkan Negara baru berkembang seperti Indonesia untuk mengakses jurnal tersebut harus menjadi Member, berlangganan dengan harga sudah ditentukan.

Hemm…Segala hal didiskriminasikan. Mengira selama ini diskriminasi hanya berlaku pada sisi tertentu namun kenyatanya dalam memperoleh informasi juga terjadi diskriminasi, maka pantaslah negara berkembang untuk menyemai dalam mengakses informasi tidak bisa diseterakan dengan Negara maju. Atau bisa jadi kenapa Negara maju begitu enteng mengakses informasi karena adanya kerjasama pihak pemerintah dalam mencerdaskan bangsa, atau bisa jadi pemerintahan Negara maju memahami benar bahwa siapa yang menguasi informasi maka akan menguasi dunia.

Pantas di Negara maju perkembangan ilmu pengetahuan begitu cepat berkembang sebab difasilitasi akses informasi sangat memadai dan keterbukaan informasi public benar dirasakan segala lini sedangan di Negara berkembang seperti Indonesia ingin memajukan pendidikan begitu banyak kendala apalagi untuk membiasakan masyarakat untuk mendapat informasi secara gratis dan akuntabel. Seakan-akan di Indonesia informasi hanya diketahui segelintir orang-orang saja. Kemudian diperbara lagi dengan kondisi masyarakat yang tidak terbiasa membaca referensi bahasa inggris, tingkat membaca pun sangat rendah dengan Negara lain, dan referensi tersedia pun tidak update lagi.

Harus ada campur tangan pemerintah untuk menyediakan referensi, akses informasi secara gratis agar bisa menarik, mendorong dan memotivasi untuk terbiasa dengan literasi informasi dalam memperoleh informasi sehingga tidak ada lagi diskriminasi informasi.

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

impact of techonology and education style


abstrac
Teknologi komputer telah meresap kain masyarakat Amerika. Teknologi komputer mempengaruhi cara orang berkomunikasi, cara mereka belajar, dan cara mereka melakukan bisnis. Kemampuan untuk menggunakan teknologi komputer secara efektif telah menjadi keuntungan nyata di sekolah dan bekerja. Sebagai teknologi komputer telah menjadi elemen penting dalam kemajuan pendidikan dan kejuruan, telah tumbuh kekhawatiran bahwa kesenjangan dalam akses teknologi tersebut membatasi kesempatan bagi banyak orang. Makalah ini terutama berfokus pada isu-isu mengenai komputer
teknologi dan dampaknya terhadap siswa di California Community College System. Makalah diawali dengan tinjauan umum dari berbagai keprihatinan dibesarkan dalam pendidikan. Makalah berlanjut dengan pemeriksaan dari investasi California Community College Sistem telah dibuat dalam teknologi dan bagaimana investasi tersebut mempengaruhi akses dan keberhasilan siswa. Makalah ini diakhiri dengan rekomendasi untuk Senat di kedua negara bagian dan lokal mengenai teknologi dan komputer.

PENDAHULUAN
Bekerja di segmen yang paling beragam pendidikan tinggi di negara bagian California, staf pengajar perguruan tinggi yang sangat menyadari masalah-masalah potensi bahwa penggunaan teknologi komputer pose bagi keberhasilan dan pembelajaran siswa kami. Pada musim semi tahun 2001, Senat Akademik California Community College melewati resolusi berikut: 11,01 S01 Digital Divide Diselesaikan, Bahwa Senat Akademik California Community College melakukan riset untuk menyelidiki dampak teknologi akses siswa dan keberhasilan dalam Community College California System, terutama yang berhubungan dengan etnis dan keragaman sosial-ekonomi dan siswa penyandang cacat, dan Diselesaikan, Itu Senat Akademik California Community College melaporkan kembali dalam kertas temuan penelitian dan merekomendasikan solusi untuk masalah diidentifikasi. Resolusi ini menunjukkan dua pertanyaan. Pertama, bagaimana teknologi peningkatan atau penurunan akses bagi mahasiswa di perguruan tinggi? Tersirat dalam pertanyaan ini adalah isu-isu mahasiswa akses ke teknologi dan apakah pengeluaran Sistem telah dibuat pada teknologi komputer telah menghasilkan peningkatan akses untuk siswa. Pertanyaan kedua bertanya bagaimana teknologi telah berkontribusi terhadap keberhasilan siswa di perguruan tinggi. Meskipun resolusi di atas menyebutkan “teknologi” secara umum, fokus dari makalah ini adalah pada teknologi komputer, yang tersirat dalam judul resolusi, “Digital Divide.” Dalam makalah ini, kita membahas masalah akses terhadap teknologi komputer. Konsep Digital Divide telah berubah selama bertahun-tahun, dan pemeriksaan kami masalah ini mencerminkan pada bagaimana
yang berkembang perubahan definisi evaluasi kami respons Sistem tantangan ini. Selanjutnya, kita mengkaji bagaimana Sistem telah menggunakan teknologi komputer untuk meningkatkan akses siswa untuk layanan siswa dan pengajaran. Menanggapi pertanyaan kedua kami, kami meninjau sejauh mana investasi dalam teknologi dapat dikorelasikan dengan keberhasilan siswa. Kami menyimpulkan makalah ini dengan rekomendasi di seluruh negara bagian dan tingkat lokal untuk menangani isu-isu yang dibesarkan dalam perjalanan
diskusi.

AKSES TEKNOLOGI: kesenjangan digital
Ketika membahas perbedaan antara mereka yang memiliki akses ke teknologi dan mereka yang
yang tidak, yang biasa digunakan label untuk dampak ini adalah “Digital Divide.” Secara umum, mereka yang tidak memiliki akses milik etnis tertentu, sosial ekonomi, dan kelompok-kelompok cacat. Pada bagian ini, kita meninjau bagaimana konsep Digital Divide telah berubah sejak diciptakan pada awal 1990-an dan melihat bagaimana California Community College Sistem telah menanggapi tantangan menutup Digital Divide. Laporan pemerintah pertama yang dilakukan oleh US Department of Commerce, National Telekomunikasi dan Informasi Administrasi (NTIA), Jatuh melalui Net: A Survey dari
‘Yang miskin’ di Pedesaan dan Perkotaan Amerika (Nasional Telekomunikasi dan Informasi Administrasi [NTIA], 1995), mengungkapkan bahwa informasi bangsa “Yang miskin” yang tidak seimbang ditemukan di pedesaan daerah dan pusat kota. Selanjutnya, laporan menunjukkan bahwa secara umum, semakin rendah tingkat seseorang pendidikan, semakin kecil kemungkinan harus ada komputer di rumah dan jika ada komputer itu mungkin tidak terhubung ke Internet. Oleh karena itu, negara ini pedesaan minoritas dan kaum minoritas kota batin sedang dikecualikan dari partisipasi penuh dalam informasi usia. Pada tahun 1998, Telekomunikasi Nasional dan Administrasi Informasi diterbitkan digital lain Membagi scorecard, Jatuh melalui Net II: Baru Data Digital Divide (NTIA, 1998). Laporan menemukan bahwa sementara penetrasi komputer meningkat bangsa-lebar, masih ada yang signifikan Digital Divide
berdasarkan etnis, pendapatan, dan demografi karakteristik. Data lebih lanjut menunjukkan bahwa ada
adalah melebarnya jurang antara orang-orang di atas dan bawah tingkat pendapatan. Selain itu, meskipun semua etnis dimiliki kelompok lebih komputer, Amerika dan Afrika Hispanik yang tertinggal lebih jauh di belakang kulit putih dalam tingkat mereka PC-kepemilikan dan akses online. Terbaru dan Telekomunikasi Nasional Informasi laporan Administrasi, A Nation online: Bagaimana Amerika memperluas penggunaan Internet (NTIA, 2002), menunjukkan bahwa komputer di sekolah kita telah secara substansial mempersempit kesenjangan tingkat penggunaan komputer untuk anak-anak dari tinggi dan keluarga berpenghasilan rendah. Siswa sering aktif pengguna dari teknologi berbasis web. Kehadiran diperluas komputer dan teknologi internet di sekolah kami membuat sumber daya ini tersedia bagi para siswa yang kurangnya mereka di rumah atau yang memiliki sumber daya yang terbatas mengenai konektivitas internet lainnya. Selain, lebih komputer yang terkoneksi internet di sekolah kami
dan perpustakaan umum telah mengakibatkan lebih banyak sekolah tinggi lulusan dengan keterampilan dan keakraban dengan yang baru teknologi, sehingga memungkinkan mereka untuk menjadi aktif
peserta dalam digital kita didorong sosial dan ekonomi struktur.

AKSES: MASYARAKAT
COLLEGE UPAYA
California Community College Sistem telah memainkan peran dalam meningkatkan mahasiswa umum
akses ke teknologi komputer. Sistem mengambil keuntungan dari U. S. 1994-96 Departemen Perencanaan commerce hibah untuk mengembangkan Teknologi aku Rencana Strategis, yang mendanai Telekomunikasi Program Infrastruktur dan Teknologi (TTIP), sebuah upaya untuk memberikan dukungan jaringan dan lain sumber daya untuk secara efektif memenuhi kebutuhan staf pengajar, siswa, dan staf di bidang teknologi komputer. Pertama kali TTIP didanai 1996-97 (California Community College Chancellor’s Office [CCCCO], 2001b, hal 53). Para Teknologi II Rencana Strategis 2000 —

Continue reading

Perubahan Paradigma Dalam Masyarakat


Baru & Evolving Ideas

Menempatkan Aset Pembangunan Berbasis Masyarakat dalam Konteks Pembangunan Internasional

Megan Foster
Fellow, Coady International Institute, St Francis Xavier University

Dr Alison Mathie


Staf program, Coady International Institute, St Francis Xavier University

Menurut Robinson (1995), menulis dari perspektif Kanada, dua tren utama yang memunculkan paradigma baru pengembangan masyarakat. Yang pertama adalah melemahnya kontrak sosial yang memberi tanggung jawab pemerintah untuk program yang menyediakan solusi masalah masyarakat. Yang kedua adalah munculnya aspirasi terhadap tatanan sosial baru dalam masyarakat yang didasarkan pada “face-to-face asosiasi dalam merawat lingkungan yang mempertahankan kebebasan individu untuk bertindak, membuka akses untuk pengetahuan, dan interkoneksi global” (hal. 22) bahwa khusus mendukung usaha kecil.

Jika tren ini menandakan sebuah perubahan paradigma dalam cara pengembangan masyarakat dibayangkan, ada kebutuhan untuk transformasi yang sesuai dalam praktek pembangunan masyarakat sehingga masyarakat dapat membangun kapasitas untuk bertahan hidup dan berkembang dalam tatanan sosial yang baru ini. Dalam makalah ini, kita akan mengeksplorasi Asset-Based Community Development sebagai suatu pendekatan yang konsisten dengan pergeseran paradigma ini. Kami memeriksa bagaimana membangun aset masyarakat dan kekuatan, terutama kekuatan hubungan dalam asosiasi formal dan informal. Kami memeriksanya juga dalam terang dengan inisiatif lain yang tumpang tindih-bahwa dari Appreciative Inquiry dan identifikasi dan mobilisasi modal sosial bagi pembangunan masyarakat. Tujuan dari makalah adalah untuk menempatkan Asset-Based Community Development (ABCD) dan meningkatkan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut mengenai peran potensial dalam pengembangan masyarakat, khususnya dalam konteks pembangunan internasional.

Seperti di Kanada, pengembangan masyarakat di Selatan telah lama fokus pada layanan pemerintah, menggunakan berdasarkan kebutuhan atau pendekatan pemecahan masalah. Sementara ada logika dalam ini, mengingat kondisi kemiskinan absolut dan relatif dan merugikan di Selatan, fokus pada kebutuhan dan kekurangan bisa membuat orang kehilangan pandangan dari apa yang telah mereka capai dan apa yang mereka memiliki kemampuan untuk melakukannya. Salah satu fitur menarik ABCD adalah bahwa tantangan yang melemahkan “pola pikir defisit.”

Dengan demikian, sangat cocok untuk saat ini penekanan pada pembangunan kapasitas lokal untuk pemberdayaan. Seperti ditangkap ringkas oleh Booy dan Sena (Nov. 2000), pendekatan pemberdayaan dalam pekerjaan pembangunan internasional menandakan perubahan nyata dari pendekatan sebelumnya:

1950-60 Apakah pembangunan kepada masyarakat
1960-70 Apakah pembangunan untuk rakyat
1970-8 Apakah pembangunan melalui orang-orang
1980-9 Melakukan pembangunan dengan orang-orang
1990-2000 Memberdayakan masyarakat untuk pembangunan-kini fokus pada pengembangan kapasitas lokal untuk pengembangan diri. Untuk pertama kalinya, orang-orang yang dipandang sebagai fokus utama dan pemilik dari proses pembangunan.

 

Continue reading

network system


PERPUSTAKAAN IKOPIN

JATINANGOR-BANDUN


1. Profil Perpustakaan IKOPIN

Perpustakaan IKOPIN erat kaitannya dengan sejarah berdirinya dan perkembangan IKOPIN sendiri, yaitu pada tanggal 12 Juli 1964 di Bandung. Pada saat ini IKOPIN masih bernama Akademi Koperasi 12 Juli  dimana IKOPIN berada di bawah bagian akademik, koleksi sangat terbatas dan pengguna hanya diberi kesempatan untuk membaca ditempat. Sumber pengadaan koleksi diperoleh dari Asian Foundation, Departemen Koperasi, Badan Usaha Logistik (Bulog), Pemda Jabar, Dewan Koperasi, Mahasiswa dan bantuan lainnya yang tidak mengikat.

Pada bulan Maret 1983, struktur organisasi perpustakaan berada di bawah Unit Pelaksaan Teknis (UPT) yang dipimpin oleh seorang kepala UPT, yaitu Ir.Charmadai.M dengan staf tiga orang yaitu: staf administrasi, staf teknis, dan staf peminjaman bahan pustaka. Mulai saat itu dilakukan pemisahan antara koleksi referensi, skripsi, buku teks, majalah dan surat kabar serta mulai mamasukkan anggaran pembelian serta ditandai peminjaman buku kepada civitas akademik..

Pada agustus 1984 Direktur seorang pustakawan lulus IKIP Bandung, dan pada September 1984 perpustakaan masih di bawah unit UPT. Pada tahun 1984 ini juga didatangkan konsultan perpustakaan berlatar belakang pendidikan ilmu perpustakaan Amerika. Dimana terjadi perubahan sistem klasifikasi dari Dewey Decimal Classification (DDC) menjadi LC (Library of Congress), perbaiki sistem peminjaman, penambahan koleksi dan saran lainnya. Dengan adanya perubahan sistem klasifikasi ini seluruh koleksi harus diolah kembali. Keadaan ini menyebabkan perpustakaan mengalami peminjaman dan tutup selama kurang lebih empat bulan. Selain pengolahan  buku-buku yang sama, perpustakaan  mengolah koleksi baru hasil penambahan sehingga beban kerja meningkat. Kebutuhan akan tambahan tenaga baru ini terlisasi pada bulan Januari 1985 dengan direkturnya dua orang staf dan tahun berikutnya ditambah lagi dengan dua orang lulus SLTA.

Sejalan perkembangan stafnya, jumlah koleksipun meningkat. Pada tahun 1982/1983  terdiri dari 270 judul dan 825 eksemplar, meningkat menjadi 523 judul dan 1976 eksemplar pada tahun 1983/1984. Kemudian jumlah meningkat lagi pada tahun 1984/1985 menjadi 1724 judul dan 7658 eksemplar. Pada tanggal 10 Oktober 1987 diresmikan gedung perpustakaan dan laboratorium, dan terjadi peningkatan eselonisasi ditingkat UPT dimana Sub Unit perpustakaan menjadi unit. Untuk peningkatan sumber daya manusianya, pada tahun 1987 direkrut tiga orang lulusan Diploma II ilmu perpustakaan Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada tahun 1993 dibentuk dua seksi dalam UPT perpustakaan yaitu: seksi administrasi dan teknis dan seksi peminjaman dan koleksi. Pada bulan April 1993 direkrut lagi seorang lulusan Diploma II IPB.

Continue reading

Kesiapan Lembaga informasi “Plaza informasi” dalam Menghadapi keterbukaan Informasi


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Akses terhadap informasi merupakan salah satu faktor dominan dalam hidup masyarakat luas. Pada dasarnya kebebasan informasi publik mempunyai tiga sumbu utama yaitu transparansi, partisipasi dan akuntabilitas publik. Informasi publik yang efektif oleh badan publik ditentukan oleh kemampuan institusi untuk melahirkan suatu petunjuk teknis standar layanan yang operasional agar penyediaan informasi publik dilakukan dengan jelas, cepat, mudah, dan terjangkau oleh masyarakat. Kualitas petunjuk teknis akan mempengaruhi derajat transparansi badan publik. Kebanyakan badan publik (pemerintah maupun nonpemeritah) relatif terbuka jika dokumen yang diperlukan baru sebatas aspek prosedur lembaga

Kemudian Kebebasan untuk memperoleh informasi merupakan hak publik. Undang-undang tentang kebebasan informasi (freedom of expression act) mengatur pemenuhan kebutuhan informasi yang terkait dengan kepentingan publik. Undang-undang tersebut juga mengatur sejauh mana kewenangan individu untuk mengakses informasi publik, terutama yang berada atau disimpan oleh pemerintah dan badan-badan publik. Pada prinsipnya, kebebasan memperoleh informasi merupakan salah satu Hak Asasi Manusia. Prinsip ini dinyatakan pada Pasal 19 Deklarasi Universal HAM, bahwa “Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hal ini termasuk kebebasan mengikuti pendapat tanpa mendapat gangguan, dan untuk mencari, menerima, menyampaikan keterangan-keterangan, pendapat dengan cara apapun serta dengan tidak memandang batas-batas negara”.

Kemudian kebebesan juga di jelas juga Dalam UUD RI 1945 pasal 28 F dinyatakan bahwa:

“Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi yang diperlukan untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis sarana yang tersedia”.

Selanjutnya dengan adanya pengesehan undang-undang keterbukaan informasi maka tren yang terjadi pada reformasi layanan antara lain: (1) Pemerintah adalah pelayan masyarakat, (2) Layanan berkualitas prima sesuai yang diperlukan masyarakat. (3) Pada umumnya, masyarakat makin membutuhkan informasi seperti sadar informasi, dan kaya informasi_berbasis pengetahuan (masyarakat berdaya saing tinggi). (4) Layanan satu tempat (one stop services) akan memudahkan masyarakat mendapatkan layanan (yang terintegrasi). Misal: SAMSAT, Pusat Pelayanan Perijinan, Gerai Investasi.

Jadi intinya adalah bagaimana Kemauan pemerintah untuk berubah (reformasi birokrasi) dalam keterbukaan dalam menyediakan informasi kepada masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut  diatas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang dapat dibahaskan berbagai berikut: Bagaimana Kesiapaan Lembaga Publik “Plaza Informasi” dalam menghadapi keterbukaan informasi di DIY.

1.3 Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana manajemen plaza informasi menyediakan informasi terhadap keterbukaan informasi?
  2. Bagaimana peran plaza informasi dalam menyediakan informasi terhadap keterbukaan informasi?
  3. Bagaimana cara plaza informasi menyediakan informasi terhadap keterbukaan informasi?
  4. Bagaimana hubungan teknologi dan sumber daya manusia terhadp keberhasilan dalam menyediakan keterbukaan informasi?

Continue reading

literasi informasi


silahkan klik disini informasi lengkapnya Wasit rekan yang secara akademis jurnal Science Menginformasikan upaya untuk memberikan pemahaman tentang kompleksitas dalam memberitahukan kepada pelanggan. Fields dari sistem informasi, perpustakaan ilmu, jurnalistik dalam segala bentuk untuk pendidikan semua berkontribusi terhadap ilmu ini.

Bidang tersebut, yang dikembangkan secara mandiri dan telah diteliti dalam disiplin ilmu yang terpisah, yang berkembang untuk membentuk transdiscipline baru, Menginformasikan Science. Menginformasikan Science menerbitkan artikel yang memberikan wawasan ke dalam sifat, fungsi dan desain sistem yang menginformasikan klien. Penulis dapat menggunakan epistemologi dari rekayasa, ilmu komputer, pendidikan, psikologi, bisnis, antropologi, dan semacamnya. Kertas yang ideal akan berfungsi untuk menginformasikan sesama peneliti, mungkin dari bidang lain, kontribusi ke wilayah ini.

%d bloggers like this: