Jangan Tertipu Kehidupan Dunia


Hari ini, Anim memutuskan makan di kafe banyak digemari generasi millineal. Teramat sering melihat photo kafe ini diruang social media.  Wajar generasi millineal tertarik dan betah berada dikafe ini, karena setiap sudut kafe terdesain dengan kekinian. Hal kekinian merupakan hal sangat disukai dan dipuja-puja oleh generasi millineal. Meskipun tidak sesuai dengan konsep kearifan lokal. Siapapun berada dikafe ini tentu akan akan terpesona dan terlena keindahan dari konsep yang diusung. Kedatangan Anim dikafe ini, bukan terprovokasi oleh photo-photo millineal di ruang sosial media yang bertaburan, melainkan sudah lama berniatkan kesini namun momentum belum tepat dan tidak alasan kenapa harus berada dikafe ini.

Sampai dikafe bernuansa westten klasik, sekitar jam tiga lewat 15 waktu Indonesia bagian barat. Selama perjalanan menuju kafe, pikiran Anim terbang entah kemana-mana. Sesekali terpikir dengan bundo kandung dikampung, kemudian muncul pula dengan cita-cita besar masih berusah untuk diwujudkan. Kendatipun pikiran jauh kemana, tapi masih fokus melihat jalan yang dipadati oleh kendaraan.  Kehadiran Anim dikafe ini tak lain tak bukan untuk memenuhi janji pada dirinya, telah menyelesaikan proposal penelitian dengan nilai sangat pretesius. Mengarap proposal penelitian ketika jiwa tergoncang begitu dahsyat oleh perasaan dan saat harus bertarung dengan rasa sendiri dalam mencari solusi demi ketenangan batin.

Setelah Anim menghabiskan menu dipesan dan Satu jam kemudian…

Tiba-tiba ada tamu Kafe berombongan dan membuat mata Anim tertuju pada mereka. Sejak turun dari mobil hingga duduk ditempat yang telah mereka pesan, tak berhenti mengalih pandangan.  Bagaimana tidak Anim menoleh pandangan pada mereka, karena kehadiran mereka sangat boombastis. Apalagi yang melekat atau dibawa mereka semua membuat mata perempuan lapar mata secara serba indah dan branding. Tas lagi trands, sepatu dengan highhell begitu tipis, warna baju nan cerah, dan dihiasi kacamata. Syukurnya tak pakai celena ketat tapi kompak pakai rok levis.  Wanita mana tak suka dengan bawaan ibu-ibu couple tersebut.

Sepertinya bukan Anim saja yang melirik mereka. Akan tetapi meja nomor enam dan meja nomor satu ikut melirik. Kedua meja tersebut berjarak tiga meja dari Anim duduk. Semari menyentuh tab Anim, diam-diam menyimak pembicaraan mereka yang serba duniawi, yang tak jauh dari dunia wanita dan terdengar juga sesekali mereka membicarakan anak-anak mereka sekolah favorit.  Pembicaraan hangat mereka ditemani dengan makanan bertumpukan dimeja. Sepertinya rombongan ibu copule itu sengaja pesan makanan dengan porsi banyak. Satu orang ibu memesan 1 hingga 3 jenis makanan. Namun tak bisa terlihat jelas menu apa yang dipesan oleh ibu-ibu couple. Saat menu telah terhidang ada beberapa ibu-ibu couple minta diphotokan dengan latar menu makanan yang telah dipesan. Bahkan sampe tiga kali ketawa mereka pecah dan membuat sebagian tamu yang lain melirik pada mereka. Ntah apa yang mereka ketawakan.

Tiba-tiba hati kecil mengeluarkan pertanyaan. Beginikah ibu-ibu masa kini!!! Dan ibu-ibu hidup diperkotaan. Jujur dan sungguh Anim belum bisa memahami apalagi mengerti tingkah para rombongan ibu-ibu berbaju couple tersebut. Entahlaahhhh….mungkin dunia Anim dan Ibu-ibu couple tersebut terlalu berbeda jauh ibarat kota dengan desa. Ibarat samudra dengan sungai. Ibarat pesawat dengan bejak. Sehingga membuat Anim geleng kepala berulang-ulang.

Seusai Anim memberi pertanyaan pada diri sendiri dan belum terjawab pertanyaan sendiri. Tercenggang dan menarif nafas “uuppssss” secara pelan-pelan.

Melihat ibu-ibu rombongan tersebut berphoto gruoppi  |photo bareng| tak kalah dengan anak-anak remaja atau para gadis kekinian. Suasana kafe semakin menjadi-jadi saling lirik-melirik. Walaupun rombonga ibu-ibu diamati oleh tamu yang lain. Mereka tak hirau dan malah cuek saja dengan terus tertawa dan seolah-olah kafe ini sudah dibooking mereka semua. Terkejut saja mengamati tingkah seorang ibu. Ibu yang menjadi madrash dan tauladan bagi generasi millineal.  Tapi diruang public mempertontonkan sikap seperti anak gadis dan generasi millienal. Tidak hanya itu, ada salah satu ibu dari rombongan ibu-ibu couple tersebut, cetus minta di”tag”kan. Berarti photo mereka sudah dipublish disosial media…. MasyaAllah…Anim mengerinyik dahi sesaat dan sambil meminjamkan mata. Tak tahu mau bilang apa lagi!!! Dunia emang telah berubah dan berbeda.

Betapa bersahabat dan update nya para ibu-ibu couple dengan jejaring. Sesunggunya perilaku begini jika ditinjau tingkat generasi dalam perspektif infomrasi adalah efek dari teknologi. Hampir semua para generasi silent sudah mengikuti perilaku generasi digital native, dimanapun berada dan apapun kegiataan sepertinya wajib dipublish kesosial media. Emang benar kata teman, sangat susah mencari orang tak mau mempulish kegiataan atau photo disosial media. Mereka-mereka masih mempertahankan prinsip untuk tidak mempublish photo atau memanjang photo diruang sosial media adalah orang istimewa.  Seketika itu juga, teringat dengan mahasiswa Anim, karena gaya photo dan tingkah para ibu-ibu couple tersebut tak jauh beda dengan mahasiswa…”lagi-lagi Anim geleng kepala pelan-pelan dan terus menunduk kepala”. Ya Allah, jauhkan kami dan siapapun ingin berbaiki diri dari bersikap seperti itu, bukan kah kami adalah sebagai calon ibu dan tauladan bagi generasi Millineal.

Sehingga Anim kembali bertanya dengan diri sendiri. Siapa mereka dan apa profesi meraka? Begitu pedenya dan tak menghirau dengan lirikan mata tamu kafe yang lain. Mungkin mereka ini adalah komunitas arisan, rombongan pengajian, istri para pejabat atau meraka adalah kaum sosialita KW….|Anim berspekulasi dengan diri Sendiri|

Sebetulnya bukan kali ini saja, Anim menyumpai para ibu-ibu modern bergelayat begitu dan ini untuk kesian kali berjumpa. Apalagi Anim sudah hidup didua kota besar. Hanya saja dengan orang yang berbeda-beda dan lokasi yang berlainan. Namun kesamaan tetap saja mengedepankan keindahan dunia. Selama satu jam kurang,  Anim menyuri pembicaraan mereka dan tak ada satupun keluar kalimat atau pembicaraan bernuansa keagamaan. Semua pembahasan seputar tas branding, pakaian serba lux, dan pembicaraan seputara harta maupun jabatan. Seketika mulut Anin langsung berujar apakah ini lah dunia…. Penuh dengan permainan dan senda gurau???

Oh Tuhan, kenapa hari ini Engkau bersuakan dengan ibu-ibu modern ini!!! Hikmah apa hendak Engkau berikan pada Anim. Atau ada maksud yang lain Rabbi. Sesungguhnya ini adalah fenomena sosial. Bila Anim melihat ini dari sudut teori sosial adalah hal lumrah. Jika Anim mengamati dari sudut agama, etika dan budaya. Ini sungguh tak biasa. Setidaknya pertemuan para-para ibu-ibu couple mengingat Anim tentang dunia penuh dengan sendau gurau dan membuat manusia terlena atas keindahan-keindahan yang semu sehingga lupa kehidupan sesungguhnya. Sebagai Engkau jelaskan dalam Surah Ankabut ayat 64 “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”.

Sungguh benar Rabbi, apa yang Engkau jelaskan dalam Al-quran terjadi pada kehidupan manusia. Seperti Anim jumpai hari ini tentang dunia penuh permainan, sendau gurau dan penuh tipuan belaka. Hari ini, Anim paham bahwasanya tidak hanya ayat-ayat dalam Alquran saja harus ditaburi. Melainkan perjalanan kehidupan disekitar kita, begitu banyak mengandung pelajaran yang mengantar manusia menjadi bijak dan berpikir. Bahkan meyakini setiap perjumpaan dan pertemuan dengan siapapun selalu terkandung hikmah bagi mereka yang berpikir serta mau mengambil hikmah dari setiap perjalanan hidup.

Menabur Cinta Dan Kebaikan Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Balut diri ku dengan doa mu “Mak dan Pak”


doa ibu

#TestianiPedia

Terbangun dipertigaan malam, ini adalah waktu sebagian manusia sedang lelap dan menikmati  mimpi-mimpi indah. Tapi ku berbeda dengan sebagain yang lain, dipertigaan malam keseringan terbangun seakan-akan ada  saja yang membangun. Ketika terbangun, tatapan kosong hanya bisa memandang tumpukan buku, lemari, loteng, bantal guling, selimut, alat-alat kosmetik  dan sesekali mengusap wajah. Langsung terhubung dengan raut wajah sudah tidak muda lagi. Rindu dengan suara ngaji pak dikala magrib dan subuh. Suaranya bagaimana nada-nada yang tak bisa teruntaikan, hanya bisa dirasakan semari meminjamkan mata. Lantunan ayat al-quran yang keluar dari suaranya bagaikan angin menyentuh  sukma. Terkadang kangen mereka membuat tersiksa sendiri dan tak jarang pula rasa itu membuat khusyuk berdoa padaNya untuk mereka. Bukan untuk kali saja terbangun teringat mereka dikehening malam, sudah teramat sering. Ini adalah bentuk kedekatan dan kedalaman emosional begitu kokoh antara ku dan mereka.

Jujur, tersiksa bila tak bisa menatap wajah tembem sudah berganti kerutan dan tubuh kekar sudah mulai kerobos termakan usia. Wajah tak pernah takut disengati matahari dan tangan tak berhenti mengenggam tanah demi menggais rezki untuk dia supaya bisa meraih mimpi menjadi orang terbaik dihadapan Allah. Sehingga wajah nan teduh itu diinggap oleh bintik hitam tersenggat oleh sinar violet. Wajah yang selalu melemparkan senyum terbaiknya, baik ketika dia bahagia maupun mendapat ujian. Bahkan telah memberikan segala hal padanya. Pemberian engkau begitu tulus tak pernah meminta balasan. Kendati sudah bisa mencari rezki secara kecil-kecilan, tak pernah putus memberi uang jajan untuk diri ini. Engkau begitu paham dan mengerti apa saja kebutuhannya. Ketika mengatakan ingin melanjutkan pendidikan engkau murung, paham kenapa engkau terdiam karena tak mau jauh darinya. Secara hampir sepuluh tahun kita berpisah bersua hanya moment tertentu.

Meskipun wajahnya dipenuhi kerutan tetap rindu tidur diatas pangkuannya semari mendengar coletahnya dan ingin menatap lama, terutama menetap mereka ketika terlelap tidur. Menatap wajah telah lelah membesari ku dari tak bisa apa-apa hingga bisa mengores tinta inspirasi, mengajari ku tentang arti kerasanya kehidupan. Mungkin begitu jua mereka menatap diri ku tatkala bayi. Mereka begitu senang menikmati proses perkembangan ku. Kini anak kecil yang terus engkau timang-timang, engkau elus-elus dengan doa, engkau genggam erat-erat tangannya kemana-mana telah beranjak dewasa. Walaupun sudah dewasa, tapi ku dihadapan kalian tetap dianggap anak kecil yang terus diarah, dituntut dan dingatkan. Bahkan jika Allah Kabul doa dengan rahmanNya dan biarkan waktu membuktikan bahwa dia juga ingin menjadi seorang ibu seperti engkau. Ibu tak pernah putus henti berdoa, ibu selalu tiap pagi menyisir rambut putrinya sebelum berangkat sekola lalu diikat dengan warna_warni pita. Sehingga begitu bertumpukkan bando dan bermacam ragam warna pita dimiliki.

Mengarahi ku pada jalan yang dicintai Allah dan setia menunggu dari perantauan. Teringat, pernah pada suatu ketika balik dari perantauan tanpa membawa apapun, terutama tidak membawa jinjingan yang berisi oleh-oleh seperti biasa dibawa ketika mudik. Ku akui salah, entah kenapa bisa tak membawa jinjingan. Sesampainya dirumah betapa hati sedih dan tersentil begitu dalam, terkhusus saat ponaan-ponaan imut menanya mana jajanan yang sering dibawa saat mudik. Padahal waktu itu ponaan-ponaan kritis, berlari-lari, memanggil dan memberi salim pada dia, tapi tak satupun mereka dapat kecuali pelukan hangat. Allahu Akbar… seketika itu jua, bola mata langsung dipenuhi genangan air mata bergelombang. Entah air mata apa namanya, mungkin ini nama air mata penyeselan dan air mata menyalahkan diri. Sejak peristiwa itu, berazam ketika mudik kekampung harus membawa jinjingan terutama membeli jajanan kesukaan  mereka dan Plus yang lain.

Tatkala usia semakin bertambah, semakin jauh kaki mengelilingi bumi Allah, bertambah kepahaman terhadap agama dan dunia. Semakin ku sadar dan paham bahwa sesungguhnya dibutuhkan adalah ridho dan doa engkau. Tanpa ridho dan doa engkau betapa susahnya ku menakluknya dunia. Tanpa ridho dan doa engkau sungguh rumit tak mendapat berkah ilmu dipelajari. Tanpa ridho dan doa engkau mana mungkin ku meraih surgaNya nanti. Tanpa ridho dan doa engkau tak mungkin sanggup bersemangat meraih mimpi yang terucap dalam doa ku. Tanpa ridho dan doa engkau tak mungkin tegar menghadapi warna-warni ujian yang membuat air mata deras menetes. Sepanjang waktu tetap butuh ridho dan doa mu karena masih banyak hal ingin dicapainya.

Oleh karena itu mak dan pak balut diri ku dengan doa mu disetiap waktu. Dengan itu semua akan mempermudahkan ku dalam menjalani kehidupan dalam rangka mengumpul pundi-pundi kebaikan dan pahala sebelum berjumpa dengan sang Rabbi yang maha cinta serta menghitungkan segala ucapan bahkan tindakan diperbuat. Allah terimakasih engkau masih panjang umur mereka sehingga ku masih mendapat balutan doa-doa mustajab mereka disetiap waktu. Kalian adalah harta begitu berharga bagi ia. Hingga kapanpun nama, senyum, nasehat, dan lemah lembut menambah energi tersendiri bagi ku untuk terus melangkah serta berangkat mengampai belum tercapai.

Semoga berjalan waktu, pergantian gelap menuju terang  penuh kilauan bisa terus memberi terbaik buat mereka dan tak berhenti mengabdi. Terutama doa terbaik buat mereka dikala dpertigaan malam. InsyaAllalh tiap doa, tilawah dan zikirnya selalu terselip nama  maka dan pak. Sebagaimana kata ustad berikan hal terbaik untuk orang tua. Berharap doa dilantunkan menambah point pahala bagi mak dan pak sebagai syarat menuju surgaNya karena memasuki surgaNya memerlukan banyak point-point kebaikan.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

Sangat Pantas surga di telapak kaki ibu


Bismillah…

Sangat Pantas surga di telapak kaki ibu

Sangat Pantas surga di telapak kaki ibu

Baru kali ini melihat ibu melahirkan, sungguh penuh pengorbanan, sungguh penuh keharuan, sungguh penuh degdekan dan penuh rasa syukur. Maka sangat pantas surga dikaki ibu. Tidak hanya itu pengorbanan seorang ibu, melainkan pengorbanan seorang ibu jika satu persatu didaftarkan tak sanggup di list.

Mulai awal mengandung hingga menyempurnakan setengah dien seorang ibu selalu mencurahkan rasa cinta pada anak dengan cinta berlandaskan syariah, tak pernah ia membencikan anak terlahir dari kandungannya walaupun terkadang anak tak merespon cinta tersebut dengan cinta.

Kemudian sang ibu begitu pasrah aurat terlihat demi penyelamatan bagi bayi padahal bertahun-tahun aurat ditutup dengan rapat bahkan menutup aurat tersebut dengan kerudung yang panjang dan baju tak pernah menampakkan liku-liku tubuh…”itu semua demi si buah hati”

Terkadang perjuangan seorang ibu sering kali kita lupakan, sering pula dibalas dengan rasa kebencian, sering pula kita mencaci dengan kata tak memiliki rasa, sering pula kita mengecewakan mereka, sering pula membuat kita menjauhi mereka, sering pula sibuk menghabiskan waktu dengan karier tanpa menanyakan mereka.

Sungguh tersadari, sungguh mengantamkan jiwa, sungguh mengelitik pemikiran ia sebagai seorang wanita yang insyallah jika suatu saat akan diamanahkan untuk menjadi ibu yang dibawah kakinya terdapat surga….”Allahuma amin” akan ia jalani dengan cinta dan keikhlasan agar disuatu masa nanti ia mampu menjawab pertayaan dari Allah tentang amanah yang berat diembankan pada ia.

Ya Allah bagaimana perasaan meraka ketika mendengar tangis pertama anak mereka tentu penuh kegembiraan, tentu tangisan anak terlahir dari kandungan mereka adalah harta berharga bagi mereka, tentu tangisan itu juga merupakan obat yang menghilangkan rasa sedih, rasa duka dan rasa sakit saat meraka mengandung bayi selama sembilan bulan.

 Ketika melihat ibu muda itu melahirkan saat itu pula bertanya dengan jiwa ini, apakah mungkin mampu meraihkan predikat surga ditelapkan kaki ibu? untuk menjadi ibu yang dicap surga dikaki ibu butuh sebuah pengorbanan keikhlasan, butuh kesabaran, butuh kedekatan diri pada Allah, dan butuh ilmu sangat banyak karena dari tahun ketahun tantang untuk menjadi seorang ibu sholeha plus surga dikaki ibu begitu dahsyat

.Mari bagi kita masih Allah karuniakan ibu mengelus kita, masih Allah beri kesempatan untuk merasa indahnya pelukan ibu, masih Allah karuniakan ibu yang begitu sholeha, masih Allah beri kenikmatan untuk bercerita indah dengan ibu dan masih Allah berikan bersua dengan senyum ibu yang begitu tulus menyambut kita ketika pulang dari sekolah, pulang dari kerja, pulang dari perantauan dan pulang dari berjalan.

Kita bahagiakan mereka, kita hubungi dia untuk menanya kabar mereka, kita berikan hadiah special teruntuk mereka seperti mereka mencintai kita dengan penuh kespesialan dan tak henti-hentinya kita berdoa buat mereka agar Allah panjangkan umur mereka supaya kita bisa membahagiakan mereka dunia dan akhirat. Allahuma amin^__^

Bagi ibu muda dan ibu-ibu diseluruh dunia berbahagialah kalian sesungguhnya pengorbanan siang dan malam kalian sesungguhnya sudah Allah catat sebagai amal yang sangat mulia, insyallah semua itu dibalas dengan surga seperti kita dengar bahwa surga ada ditelapak kaki ibu. Tidak hanya itu yang akan peroleh sesungguhnya pengorbanan itu pula akan mengantar kalian untuk bertemu dengan Rabbi, Rasullah dan para sahabat di surga firdaus.

Jika melihat balas seperti itu tentu kita ingin menjadi ibu yang dibawah kaki terdapat surga yang begitu harum.

Note: special ana persembahkan bagi bunda muda dan bagi anak belum mencintai bunda sepenuh hatinya.

BestRegard Inspirasi BeraniSukses

Postingan Terbaru Lain-nya :

belajari menjadi Ibu


Ibu…

satu kata ini sedang ingin dipelajari

mempelajari bagaimana tulusnya cinta seorang ibu

seperti cinta ibu pada ia

Tuhan…

ia teringat dengan  pesan Rasullah pada umatnya

Ummi…Ummi…Ummi

berikan kekuataan pada ia

setiap hari untuk memuliakan ibu

dan jadikan pula ia

bisa seperti ibu-ibu mulia

yang mengasuh sibuah hati

hingga batas waktu

hingga menjadi mujahid di bumi Allah

selalu mencoba memahami arti penting

kehadiran ibu, doa dan senyum seorang ibu

semoga kelak

ketika Allah memberi posisi ia sebagai ibu

bisa dan sanggup menjadi ibu

ibu yang menjadi idola dan tauladan anak-anaknya

Ya Tuhan…

ia yakin tidaklah mudah menjadi seorang ibu

untuk itu iringin selalu jiwa dan qolbunya

dan

Tumbuhkan cinta nan luar biasa dalam helaian napas ia

jika suatu saat nanti

ia dipercayai menjadi ibu

ibu yang tahan dengan romantisan ribuan godaan

ibu yang ikhlas menyilumuti jiwa-jiwa hatinya

ibu yang selalu ada dan menemani

________0000______

cerita Indah bersama bunda…


ku tatap wajah itu penuh dengan cinta dan kasih melebihi dari segala yang ada di bumi. wajah yang selalu membimbing dan mengasuh dari segumpal darah hingga menjadi manusia berakhlak serta berpendidikan. wajah tempat berkeluh kesah, meregek, bahkan mecurahkan harapan dan cinta. wajah itu tak berhenti-henti ku lupakan senyumnya, wajah yang memberi kehangatan bagi ku, wajah membuat semangat untuk mencapai segala niat yang terpatri dalam Qolbu. wajah membuat ku selalu menangis ketika mendoakan, wajah yang tak pernah henti-henti ku rindukan.

malam ini terasa seperti bulan purnama ketika melihat wajahnya. wajah separuh tua ini adalah seorang ibu selalu memperhatikan ku hingga bisa menjadi wanita mampu mengerti sebuah konsep dinul islam. Kemudian berkat kasih dan cinta yang tercurah memberi metamerfosis dari seorang anak yang tidak mengerti tentang benda di permukaan bumi secara berlahan mulai paham dengan ciptaan Tuhan. sungguh ibu tanggung jawab mu pada ku sangat luar biasa yang tak bisa diuraikan itupula membuat ku selalu kontemplasi tentang  begitu tingginya serta agungnya menjadi seorang ibu.

ibu…

sungguh sangat senang hingga detik ini masih bisa mendengar suara nan bergetar menasehati dan menanya kabar ku. sungguh senang masih bisa mengantar ibu kesana kemari walaupun terkadang menolak ajakan ibu tapi itu bukan bentuk tak mau. sungguh senang masih bisa tidur disamping bu seperti ketika masih taman kanak-kanak walaupun sudah saat ku untuk berrumah tangga. sungguh senang masih bisa jalan beriringan dengan ibu walaupun teman-teman ku telah banyak berjalan dengan pendamping hidup meraka. sungguh senang masih bisa ketawa terbahak-bahak dengan bu walaupun terkadang sering juga menangis dengan sikap bu. sungguh senang bu engkau membeli baju baru untuk ku teringat pula masa-masa masih sekolah seharusnya saatnya ku membeli dan memberi untuk bu. sungguh ibu engkau adalah anugrah yang terindah bagi ku. entah dari apa terbuat hati bu sehingga cinta dan kasih bu selalu ku rindu…

ibu…

ku bahagia dilahirkan dari rahim mu walaupun terkadang orang lain persepsi tidak-tidak tentang ibu. tapi biarlah mereka meremehkan bahkan mencaci ibu. namun ku tetap bersyukur pada Allah ku dilahirkan dari seorang ibu yang sederhana, pendiam, punyai pendirian yang kuat, pekerja, dan penuh cinta tentunya. lewat rahim ibu terlahirlah anak-anak yang mempunyai harapan begitu agung…”bu always love U”

ibu…

separuh jiwa dan tubuh mu bu dibawa untuk bekerja demi cari nafkah untuk ku. terlihat dari urat-urat jari bu yang kasar bukan seperti tangan bu teman ku yang halus, lembut dan cemerlang. itu adalah bentuk tanggung jawab bu ku untuk memberi bekal kasih dan pendidikan.  bu, tak pernah kenal dengan kata mengeluh. bu, maaf selama ini ku jarang memenuhi kehendak bu bahkan terkadang ku membuat menangis dengan sikap yang tak wajar. tapi itu semua bukan koe tak sayang bu…

ibu…terimakasih telah mau dengari cerita ku dan begitupula bu telah mau bercerita tentang apapun pada ku.  lewat cerita bu, koe paham keinginan dan harapan bu. sungguh terkadang membuat ku sembilu mendengar bagaimana pahitnya hidup bu ketika berumah tangga hingga menyekolah kami semua hingga meraih gelar master. Entah dengan apa bisa ku balas semua kebaikan dan kasih bu pada kami. Namun hanya bisa membalas kasih bu dengan doa dan perhatian. ku yakin itu semua tak akan terbalas dengan belain kasih bu selama ini.

ibu…

I love u

I need u

I hope for u always prayer to me.

just will always happineis… “bu”

Ibu Yang Di Rindu


Ibu…!!! Pha Khabar,,, Nak Ibu sangat merindukan Ibu

Do’a kan KOe tiap sholat mu

Restuilah Koe dalam setiap keputusan diambil

Insyallah berujung penuh berkah

 

Ibu…!!! Ingin mencurah segala terasa

Dan menegur ibu dengan salam

Semoga Allah selalu melindungi Ibu

Ibu bukan hal mudah bagi koe

Melepaskan rasa rindu yang selalu hadir tiap bangun koe

Padahal hampir 10 tahun diperantauan menuntut ilmu

Tapi kebangkitan rindu selalu mengunung menghampiri

Begitu dalam dan dekat telapati diantara kita Ibu…!!!

 

Ibu…!!! Malam ini ingin berada disisi mu

Bercanda, tertawa dan diskusi tentang makna cinta dan perjuangan seorang anak

Namun tak mungkin karena kita terpisah oleh jarak

Emosi rindu semakin Kristal ketiak perpisahan semakin lama

Dan kondisi batiniah pun dikepung oleh perasaan cinta mu

 

Ibu…!!!koe sangat membutuhkan kilap perhatian mu penuh cinta

Cinta yang menemani dan mengarah koe dalam menggali dan meraih

Cinta dunia dan akhirat

Koe tak mau tenggelam dengan rindu yang hadir

 

Ibu…!!! Melalui zikir mu yang tertuang disetiap waktu

Insyallah mampu menyembuhkan rasa rindu mengepung seluruh jiwa

Sungguh rasa rindu selalu hadir

Diakibat ketak berdayaan koe jauh dari mu

Tapi dibalik rindu itu pula menguatkan koe untuk terus perjuang disini

Dibalik rindu itu pula membuat koe menjadi Hamba Allah yang sabar dan ikhlas

Dalam meraih pencarahan harapan rindu hari esok nan elok

 

Yogyakarta, Malam penuh hening ketika perasaan rindu meruak jiwa pada Ibu..!!!

 

WAJAH PENUH CINTA



Tak bisa untuk menahan wajah cinta itu

Di sepanjang perjalanan dari kampong

Hingga perjalanan pulau Sumatra dan jawa

Coba menganalisis setiap pohon yang tertamapak

Dari kursi mobil yang nyaman

Dimana sang Ilahi itu mahaberi manfaat

Mulai dari rumput yang menjalar, akar yang member kekokoh batang

Daun yang menghiaskan pohon, ranting yang membiakkan buah-buah

Getah yang member i  kelembatan pada kulit pohon

Walaupun pengamatan begitu tajam

Namun rasa sedih itu tetap hadir dihati

Dimana jiwa ini telah disarangi cinta

Karena takut wajah cinta itu

Tak akan hadir lagi dipelopak mata koe

Tapi yakin wajah cinta itu…

Akan dan pasti selalu hadir

Di setiap aliran darah yang mengalir  dan denyut nadi

Seperti embun yang sejuk  memasahi helaian daun

Seperti buah nyiur yang kuat menahan sari santan kelapa

Seperti bunga melati menebar keharuman disepanjang hari

Dan seperti music klasik yang melodi

Menemani koe saat menulis puisi

Di atas bis menuju perjuangan harapan (yogya).

Wajah cinta itu yakni Ibu…Ibu…Ibu Koe

%d bloggers like this: