The Third Way (Jalan ketiga)


Gambaran Kapital

Neo–liberalisme dengan 3 prinsip utamanya yaitu Deregulasi, Liberalisasi, dan Privatisasi itu seakan–akan menjadi momok yang menakutkan bagi negara–negara dunia ketiga. sebab dengan semakin maraknya globalisasi maka akan semakin mudah pula Neo-liberalisasi ini “menjajah” kelompok – kelompok miskin yang ada negara – negara dunia ketiga, yang kebanyakan berada di Asia dan Afrika. Kehancuran kelompok miskin dinegara dunia ketiga, dapat terlihat ketika munculnya semacam perjanjian–perjanjian perdagangan bebas, maupun oraganisasi – organisasi perdagangan dunia yang notabene dikuasai oleh negara maju. Seperti WTO, IMF, maupun organisasi lainnya. Munculnya WTO dan semacamnya itu tidak dapat dihindari, sebab mereka adalah aktor – aktor dari globalisasi tersebut, selain perusahaan – perusahaan multinasional yang ada itu tentunya. WTO sebagai aktor globalisasi menjadi semacam senjata utama bagi negara maju untuk dapat menguasai perdagangan dunia, karena bagi setiap negara anggota WTO harus dapat mentaati dan menghormati setiap perjanjian dan aturan yang telah disepakati sebelumnya didalam WTO tersebut. Namun ternyata aturan – aturan yang dibuat dan diberlakukan bagi setiap anggota WTO itu hanya berdampak buruk kepada negara berkembang, karena adanya penerapan standart ganda (double standard). Salah satu contoh nyata adalah adanya aturan Common Agricultural Policy (CAP) yang dikeluarkan oleh Uni Eropa.

Menyadari makin tingginya biaya produksi di sektor pertanian, maka negara – negara Uni Eropa merasa perlu memberikan subsidi kepada para petani mereka untuk menurunkan harga jual produk mereka. Negara – negara anggota Uni Eropa ini berinisiatif untuk mengumpulkan dana khusus yang kemudian didistribusikan kepada para petani di masing – masing negara. Adapun kebijakan subsidi ini merupakan salah satu bentuk standard ganda di sektor pertanian, dimana dalam persepakatan WTO, negara – negara maju telah menyatakan komitmennya untuk mengurangi secara signifikan subsidinya. Tetapi didalam konteks Uni Eropa, yang terjadi justru sebaliknya. Didalam hal pemberlakuan CAP ini, sudah dapat dipastikan petani – petani di negara berkembang akan semakin sengsara.

Gambaran Sosialisme

“Kapitalisme berjaya bersama kembarannya demokrasi liberal. Aliran ini adalah paham Sosialis yang didukung oleh beberapa pemimpin negara di Amerika selatan.  Aliran sosialistik sebagai kritik daripada paham Kapitalistik sebagai mainstream. Adapun secara garis besar prinsip dasar dari pemahaman sosialistik ini adalah lebih menekankan pada kesetaraan ekonomi, serta menempatkan negara didalam peran yang cukup signifikan dibidang perekonomian pada khususnya, sehingga dapat menciptakan kesejahteraan rakyat.

Continue reading

Advertisements

Salam Koin Rakyat Indonesia



Tak pernah terpikir oleh siapapun sebelum tentang makna koin, namun saat ada permasalahan terhadap keadilan pada masyarakat kecil seperti kasus prita maka makna dari sebuah koin berwarna silver and gold tersebut sanga luar baisa seperti gumpalan awan dilangit membentuk suatu gambaran keindahan bagi orang memandang gumpalan tersebut secara penuh penghayatan dimana disana bisa melihat lukisan samudra, binatang, bunga, dan pelanggi.

Satu koin untuk rakyat Indonesia menunjukkan bahwa rakyat Indonesia memiliki solidaritas yang bergitu tinggi dan persuadaraan yang luar baik dari berbagai cultural, religions, pekerjaan, strata semua melebur menjadi satu saat satu koin untuk rakyat Indonesia.  Subhannallah pencentus ide tersebut perlu diberikan penghargaan (reward), karena merupakan good ide yang luar biasa dimana dengan ide kecil ini mampu menyatukan yang besar dari berbagai lapisan masyarakat.

Sejak koin untuk prita, bermunculan kumpulan koin-koin lain seperti koin cinta balqis mungkin hal seperti ini untuk kedepan semakin mejamur dimasyarakat Indonesia. Dimana ini merupakan salah satu dampak dari globalisasi sebab globalisasi tidak bisa dipisahkan dengan media “teknologi dan media massa”.  Kedua tool tersebut semakin mendukung efek dari globalisasi pada masyarakat luas tanpa peran indicator tersebut globalisasi tidak bisa berjalan secara sempurna. Walaupun berjalan namun langkah sangat lambat tidak seperti saat ini.

Jika kita menyimak hal seperti ini merupakan transisi gotong masyarakat Indonesia, dimana masyakarat Indonesia sebelum maraknya teknologi sebagai kebutuhan hidup primer memberi sumbangan atau relawan  pasti dalam bentuk tatap muka (face to face), bersama-sama dilingkungan membahas permasalahan yang terjadi lebih dikenal musyarawah mufakat.  Tetapi saat ini yang nama gotong royong, musyawarah, diskusi dan sebagainya bisa dikatakan hampir tenggelam terbawah harus teknologi seperti sekarang masyarakat sadar informasi dan teknologi lebih bergabung dalam suatu group baik dalam Yahoogroup, facebook group, blogger lembaga, wordpress organiasi  dan chat.

Hal seperti ini tidak bisa dipungkiri lagi dalam kehidupan sehari-hari, dari berbagai lapisan masyarakat sekarang lebih senang dan asyik berkomunikasi “gotong royong” dalam bentuk dunia koneksi baik melalui telepon, confrencen, dan chatting. Kenapa hal ini disukai dan digemari oleh lapisan masyakat sebab merasa diberi kemudahan dan murah tidak dibatas lagi ruang dan waktu.  Walaupun jarak dan belum tahu orangnya seperti  apa jika telah memiliki kesamaan “hoby” atau bakat dalam bidang tersebut akan merasa nyambung dan saling membantu.

Akan tetapi dampak teknologi ibarat pepatah seperti dua sisi mata pedang, antara manfaat dan mudarat. Tapi jika ambil positifk dari teknologi informasi sangat luar biasa dimana bisa menggumbul solidaratas Indonesia dalam bentuk koin demi sebuah keadilan, kebenaran dan social.  Dimana dampak tersebut bisa dikatakan fifty:fifty.

Semoga lapisan rakyat Indonesia selalu bersemangat untuk menyatukan koin-koin demi Indonesia lebih baik terutama masalah social, karena kita tahu bahwa Indonesia mengalami berbagai macan permasalahan dalam konteks social. Bermula dari yang kecil lah akan menjadi yang luar biasa. Dari luar biasa akan membentuk keajaiban dan keselamatan untuk Indonesia raya.

Salam koin Indonesia

Work Librarian Trend In the Information Age And Technology


Trend Kerja Pustakawan

Di Era Informasi Dan Teknologi

Akan selalu ada perubahan dalam lingkungan perpustakaan sejak fajar Internet hidup dalam masyarakat informasi membutuhkan keterampilan baru untuk mencari, sebetulnya yang paling memerlukan dan yang harus pertama kali melakukan transformasi di era pengetahuan ini adalah para pustakawan. Seperti Adding value, manajemen pengetahuan, information literacy training, multi-fungsi, dsb. Semuanya ini memerlukan kemampuan yang lebih dari sekedar pengetahuan dan ketrampilan di bidang TI dan bidang-bidang pengetahuan yang digeluti pustakawan. Perubahan di dunia perpustakaan dan  akan mempengaruhi pustakawan dan informasi professional, peran pustakawan, kesempatan kerja, citra diri, motivasi dan bahkan kelangsungan hidup. Karena itu Pustakawan perlu mencari solusi tepat waktu untuk reposisi dan peran dalam era teknologi informasi. Ketika menuju era informasi dan teknologi, pustakawan harus menghadapi setidaknya tiga besar pergeseran paradigma.

  • Pergeseran pertama adalah transisi dari kertas ke media elektronik sebagai bentuk dominan penyimpanan dan pengambilan informasi. Terkait dengan transisi ini adalah konvergensi dari media yang sebelumnya terpisah, seperti teks, grafik, dan suara, ke sumber daya multimedia.
  • Shift kedua berkaitan dengan meningkatnya permintaan untuk pertanggungjawaban, termasuk fokus pada pelanggan, pengukuran kinerja, bangku menandai dan peningkatan berkesinambungan. Semua ini terjadi di era ketika sumber-sumber keuangan yang tersedia untuk menyediakan layanan perpustakaan dan informasi yang menyusut.
  • Pergeseran ketiga berasal dari bentuk-bentuk baru organisasi kerja seperti komputasi pengguna akhir, kerja tim, manajemen delayering, pembagian kerja, telework, outsourcing, perampingan dan re-engineering.

Semua tiga dari pergeseran ini berkaitan dengan kombinasi faktor seperti persaingan global, komputasi baru dan teknologi komunikasi, dan yang dirasakan perlu untuk mengukur produktivitas pekerja pengetahuan dan pelayanan perpustakaan.

Berikut ini adalah kutipan tentang pustakawan yang dibutuhkan di era digital ini:

Holistic librarians with a broad range of competencies and skills are an emerging prerequisite in academic libraries, especially in technology-oriented roles.” (Dupuis &Ryan (2002, h5),

.

New librarians will come from other backgrounds, and the emphasis will be on leadership, connectivity, innovation and creativity – making new and powerful connections increasingly on an individual basis between people and their knowledge needs.” (Kempster, 1999, h.201).

Continue reading

GLOBALISASI DAN TENAGA KERJA LOKAL


Pendahuluan

Hampir di semua negara saat ini, problema ketenagakerjaan atau perburuhan selalu tumbuh dan berkembang, baik di negara maju maupun berkembang, baik yang menerapkan ideologi kapitalisme maupun sosialisme. Hal itu terlihat dari selalu adanya departemen yang mengurusi ketenagakerjaan pada setiap kabinet yang dibentuk. Hanya saja realitas tiap negara memberikan beragam problem riil sehingga terkadang memunculkan berbagai alternatif solusi. Umumnya, negara maju berkutat pada problem ketenagakerjaan yang berkait dengan ‘mahalnya’ gaji tenaga kerja, bertambahnya pengangguran karena mekanisasi (robotisasi), tenaga kerja ilegal, serta tuntutan penyempurnaan status ekonomi, sosial bahkan politis. Sementara di negara berkembang umumnya problem ketenagakerjaan berkait dengan sempitnya peluang kerja, tingginya angka penganguran, rendahnya kemampuan SDM tenaga kerja, tingkat gaji yang rendah, jaminan sosial nyaris tidak ada.

Meski terlihat adanya ‘niat baik’ dari setiap pemerintahan untuk menyelesaikan berbagai problema ketenagakerjaan ini, namun dalam kenyataannya seluruh kebijakan tersebut tidak menyentuh problema mendasar. Tidak heran kalau solusi yang diberikan nyaris hanya sebagai upaya tambal sulam, yang tidak menyelesaikan persoalan secara mendasar, menyeluruh dan tuntas.

Walhasil, berbagai problem yang menyangkut hak-hak kaum Tenaga kerja lokal tidak terselesaikan dengan baik. Lebih ironis lagi, pemerintah dengan aparat keamannya bertindak represif menekan gerakan buruh untuk meraih hak-haknya.

Memang persoalan tenaga kerja lokal merupakan problem multidimensional. Banyak faktor yang mempengaruhi munculnya problem ini, seperti globalisasi, ekonomi, politik, keamanan nasional bahkan intervensi negara-negara besar. Karena itu penyelesaiannya membutuhkan kebijakan komprehensif dan mendasar.

  1. A. Definisi Globalisasi Dan Tenaga Kerja Lokal

Globalisasi sebenarnya bukanlah suatu fenomena baru dalam sejarah peradaban dunia. Sebelum kemunculan negara-bangsa (nation-state),perdagangan dan migrasi lintas benua telah sejak lama berlangsung.Jauh sebelumnya, perdagangan regional telah membuat interaksi antarsuku bangsa terjadi secara alamiah. Globalisasi sebagai sebuah fenomena multi dimensi pada titik tertentu melahirkan berbagai perspektif. Pada satu sisi para ilmuwan menganggap bahwa globalisasi adalah sebuah paradigrma ilmu (grand theory) dalam keilmuan sosial saja, padahal jika kita melihat aspek yang lebih luas dari pada globalisasi maka implikasi yang ditimbulkan globalisasi juga mengarah pada perubahan yang signifikan terhadap pola perkembangan sains dan teknologi dunia.

Sebagai sebuah konsep Globalisasi selalu identik dengan konsep pengurangan kedaulatan sebuah negara, penghilangan batas wilayah sebuah negara, kecanggihan teknologi, penyempitan ruang dunia dan pengembangan transaksi perdagangan berdasarkan kepada pemikiran perdagangan bebas.

Kata ‘globalisasi’ berasal dari kata ‘global’, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti secara keseluruhan. Kemudian dalam pandangan sosiolog Jepang, Kenichi Ohmae misalnya globalisasi bukan saja membawa ideologi yang bersifat global dalam hal ini demokrasi liberal, tetapi juga turut mengancam proses pembentukan negara bangsa, karena globalisasi pada intinya ingin mewujudkan negara tanpa batas (Borderless). Maka globalisasi telah menjadikan dunia ini sebagai suatu area tanpa batas yang tidak tersekat-sekat lagi oleh batas wilayah dan daerah. Banyak para ahli yang mengartikan kata globalisasi. Berikut ini beberapa defenisi globalisasi antar lain :

  1. Menurut Malcolm Waters, globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting yang terjelma dalam kesadaran seseorang.
  2. Menurut Emmanuel Ritcher, globalisasi merupakan jaringan kerja global yang secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar dan terisolasi ke dalam saling ketergantungan dan persatuan dunia.
  3. Menurut Selo Soemardjan, globalisasi adalah terbentuknya system organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti system dan kaidah yang sama.
  4. Menurut Thomas L. Friedman, globalisasi telah mengubah dunia menjadi “datar” dan “terbuka”. Perdagangan global, out-sourching, jaringan distribusi dan kekuatan-kekuatan politik telah membawa perubahan bagi dunia, baik perubahaan yang berdampak positif maupun yang negatif. Globalisasi berlangsung cepat dan tidak dibisa dicegah; dan membawa pengaruh yang besar terhadap organisasi dan praktek-praktek perusahaan. Dalam The World Flat, Friedman (2006) menggambarkan globalisasi sebagai jalin-menjalin pasar, teknologi, sistem informasi dan sistem telekomunikasi dengan cara yang menyusut dan meratakan dunia. Globalisasi memungkinkan kita untuk mencapai seluruh dunia lebih jauh, lebih cepat, lebih dalam, dan lebih murah daripada sebelumnya, dan ragum versa.
  5. Menurut Edison A. Jamli, globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia.
  6. Menurut The American Heritage Dictionary, globalisasi adalah suatu tindakan/proses menjadikan sesuatu yang mendunia (inuversal)baik dalam lingkup/aplikasinya.
  7. Menurut Wikipedia, globalisasi merupakan istilah untuk menjelaskan perubahan dalam masyarakat dan perekonomian dunia yang dihasilkan oleh meningkat pesatnya perdagangan dan pertukaran kebudayaan.
  8. Rikowski (2005) menguraikan empat dimensi yang bertentangan mewujudkan globalisasi. Dimensi pertama adalah dimensi budaya. Dalam globalisasi, keragaman berbagai kebudayaan di dunia serta tantangan homogenisasi kebudayaan yang berbeda harus diakui. Alamat dimensi yang kedua hilangnya kekuasaan nasional dalam ekonomi global, dengan munculnya begitu banyak organisasi transnasional, seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional. Organisasi transnasional ini menetapkan standar lapangan di dunia dan sangat mempengaruhi organisasi-organisasi nasional.. Dimensi ketiga adalah ekspansi modal, yang menggambarkan kehidupan individu di pasar global. Yang terakhir tapi yang paling penting adalah dimensi nilai tenaga kerja global. Dengan globalisasi, perusahaan dapat mempekerjakan tenaga kerja nilai terbaik di seluruh dunia untuk memaksimalkan keuntungan. Keempat dimensi kontradiktif menunjukkan bahwa globalisasi membawa peluang serta tantangan bagi kita.

Dari beberapa pengertian di atas, bisa disimpulkan bahwa globalisasi adalah suatu proses, suatu perubahan, suatu fenomena yang mendunia (mengglobal). Masyarakat tidak lagi terkotak-kotak dalam kelompoknya sendiri, tetapi telah berubah menjadi suatu masyarakat global atau masyarakat dunia. Globalisasi berlangsung sangat cepat dan serentak di seluruh belahan dunia. Globalisasi, merupakan proses transformasi dalam aspek kehidupan manusia, sosial, budaya dan politik sebagai dampak dari modernisasi yang secara sistimatik terjadi akibat berkembangnya secara cepat teknologi komunikasi. Globalisasi adalah proses menyatunya geo politik ekonomi dan sosial negara-negara di seantero dunia. Globalisasi mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, seperti bidang ekonomi, politik, tekhnoogi, sosial budaya, ketenagakerjaan, dan sebagainya.

Berbagai dimensi globalisasi juga dialami Indonesia. Salah satu implikasi terkait adalah dimensi ekonomi dimana perdagangan barang dan jasa, perpindahan modal, jaringan transportasi serta pertukaran informasi dan kebudayaan bergerak secara bebas ke seluruh dunia seiring dengan meleburnya batas-batas negara. Dampak globalisasi terhadap tenaga kerja, terutama tenaga kerja lokal. Untuk itu, kita harus memahami dulu apa yang disebut dengan ketenagakerjaan. Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja. Sedangkan tenaga kerja adalah setiap orang laki-laki atau wanita yang sedang dalam dan/atau akan melakukan pekerjaan, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pekerja atau buruh adalah tenaga kerja yang bekerja di dalam hubungan kerja pada pengusaha dengan menerima upah. Tenaga kerja lokal adalah tenaga kerja yang bekerja masih di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik sebagai karyawan biasa maupun sebagai buruh.

Kemudian masalah yang sering timbul dalam ketenagakerjaan adalah terjadinya ketidakseimbangan antara penawaran tenaga kerja (supply of labor) dan permintaan akan tenaga kerja (demand for labor) pada tingkat upah tertentu. Ketidakseimbangan ini dapat berupa exess supply of labor, yaitu apabila penawaran lebih besar daripada permintaan akan tenaga kerja, atau terjadi exess demand for labor, yaitu apabila terjadi permintaan akan tenaga kerja lebih besar daripada penawaran akan tenaga kerja.

Kemudian menurut Lewis, A dalam Todaro (1985: 66) mengemukakan teorinya mengenai ketenagakerjaan, yaitu; kelebihan pekerja merupakan kesempatan dan bukan masalah. Kelebihan pekerja satu sektor akan memberikan andil terhadap pertumbuhan output dan penyediaan pekerja di sektor lain. Selanjutnya Lewis mengemukakan bahwa ada dua sektor di dalam perekonomian negara sedang berkembang, yaitu sektor modern dan sektor tradisional.. Sektor tradisional tidak hanya berupa sektor pertanian di pedesaan, melainkan juga termasuk sector informal di perkotaan (pedagang kaki lima, pengecer, pedagang angkringan). Sektor informal mampu menyerap kelebihan tenaga kerja yang ada selama berlangsungnya proses industrialisasi, sehingga disebut katub pengaman ketenagakerjaan. Dengan terserapnya kelebihan tenaga kerja disektor industry (sektor modern) oleh sektor informal, maka pada suatu saat tingkat upah di pedesaan akan meningkat. Peningkatan upah ini akan menggurangi perbedaan tingkat pendapatan antara pedesaan dan perkotaan, sehingga kelebihan penawaran pekerja tidak menimbulkan masalah pada pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya kelebihan pekerja justru merupakan modal untuk mengakumulasi pendapatan, dengan asumsi perpindahan tenaga kerja dari sektor tradisional ke sektor modern berjalan lancar dan perpindahan tersebut tidak pernah menjadi terlalu banyak. (Todaro, 2004: 132)

  1. B. Bentuk Kepihakan Pemerintah Pada Tenaga Kerja Lokal

Menghadapi masalah ketenagakerjaan yang semakin kompleks, pembinaan hubungan industrial harus lebih ditingkatkan, artinya masing-masing pihak, pekerja, pengusaha, serikat pekerja maupun pemerintah dapat memahami fungsi dan tugas masing-masing demi kelancaran usaha. Untuk itu perlu terus dikembangkan sarana komunikasi dan konsultasi yang sedini mungkin secara maksimal dalam menyelesaikan masalah yang akan terjadi.

Dalam kaitannya dengan pekerja/buruh, Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999 – 2004 mengamanatkan bahwa pengembangan ketenagakerjaan secara menyeluruh dan terpadu diarahkan pada peningkatan kompetensi dan kemandirian tenaga kerja, peningkatan pengupahan, penjaminan kesejahteraan, perlindungan tenaga kerja dan kebebasan berserikat. Kemudian Ketenagakerjaan juga sudah di atur dalam Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa Pembangunan ketenagakerjaan berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pembangunan ketenagakerjaan diselenggarakan atas asas keterpaduan dengan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah. Pembangunan ketenagakerjaan bertujuan untuk:

  1. Memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi,
  2. Mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah,
  3. Memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan, dan
  4. Meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya.

Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan. Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha. Dalam rangka pembangunan ketenagakerjaan, pemerintah menetapkan kebijakan dan menyusun perencanaan tenaga kerja. Perencanaan tenaga kerja meliputi perencanaan tenaga kerja makro dan perencanaan tenaga kerja mikro. Dalam penyusunan kebijakan, strategi, dan pelaksanaan program pembangunan ketenagakerjaan harus berpedoman pada perencanaan tenaga kerja.

Kemudian pelatihan kerja diselenggarakan dan diarahkan untuk membekali, meningkatkan, dan mengembangkan kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktivitas, dan kesejahteraan. Pelatihan kerja dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan pasar kerja dan dunia usaha, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja. Pelatihan kerja diselenggarakan berdasarkan program pelatihan yang mengacu pada standar kompetensi kerja. Pelatihan kerja dapat dilakukan secara berjenjang. Ketentuan mengenai tata cara penetapan standar kompetensi kerja. Setiap tenaga kerja berhak untuk memperoleh dan/atau meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi kerja sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya melalui pelatihan kerja. Pemerintah menetapkan kebijakan ketenagakerjaan dan perluasan kesempatan kerja.

  1. C. Dampak globalisasi terhadap tenaga kerja lokal

Dampak yang dihasilkan dari era globalisasi yang berkembang saat ini di bidang ketenagakerjaan, terutama tenaga kerja lokal, menghasilkan dampak yang positif dan negatif.

Dampak positif yakni sebagai berikut:

  1. Dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat
  2. Dapat memenuhi kekurangan tenaga kerja di daerah-daerah
  3. Dapat mempercepat pemerataan persebaran penduduk
  4. Globalisasi menyebabkan negara maju membangun banyak pabrik di negara dunia ketiga/ negara berkembang, pabrik tersebut membutuhkan banyak tenaga kerja atau buruh, hal ini dapat mengurangi pengangguran di Indonesia serta dapat mengurangi pengangguran bagi daerah yang padat penduduknya

Dampak negatif yakni sebagai berikut:

  1. Adanya kecemburuan sosial antara masyarakat setempat dengan para pendatang.
  2. Terbengkalainya tanah pertanian di daerah ditinggalka karena masyarakat berbondong-bondong kedaerah lain.
  3. Globalisasi menyebabkan hubungan antar budaya yang menyebabkan Negara berkembang/ Negara dunia ketiga menjadi ketergantungan ekonomi dengan Negara maju. Korporat atau perusahaan yang produknya menjadi trend seperti Mc Donald, Nike, dan lain-lain, sangat berkuasa di pasar, sehingga mereka memonopoli pasar dan berbuat semena-mena. Mereka mendirikan pabrik di Negara berkembang atau Negara dunia ketiga agar bisa membayar atau menggaji para tenaga kerja local/ buruh pabrik dengan upah yang seminim mungkin. Perusahaan atau korporat tersebut berdalih bahwa mereka yang membuat pabriknya, kemudian mereka juga sudah membayar pajak terhadap Negara berkembang, hal itu berarti mereka sudah membayar devisa terhadap Negara, jadi para tenaga kerja local tidak perlu dibayar sesuai upah minimum regional (UMR). Apabila negara berkembang atau Negara dunia ketiga tidak mau menerima ketentuan tersebut, mereka akan mencari Negara lain dan membangun pabrik di Negara lain. Hal itu membuat Negara berkembang tidak berdaya menghadapi Negara maju. Contoh kasus yang terjadi di Indonesia adalah kasus pabrik SONY yang saat ini sudah pindah ke Vietnam. Mereka pindah karena dipaksa membayar buruh sesuai upah minimum regional (UMR). Intinya adalah tenaga kerja dibayar semurah mungkin dan  hidup di bawah garis kemiskinan sehingga mereka tidak sejahtera.
  4. Expatriate terlalu dianggap sebagai superior. Padahal untuk beberapa jenis produk, dibutuhkan marketer yang tahu nilai local, karena tenaga kerja lokal lebih mengerti tentang nilai-nilai budaya negaranya.
  5. Globalisasi juga menyebabkan terjadinya perpindahan penduduk secara besar-besaran. Penduduk bergerak meninggalkan tanah kelahirannya menuju kota lain yang menawarkan pekerjaan dengan jaminan upah yang lebih baik. perpindahan tenaga kerja ini terus meningkat setiap tahunnya akibat adanya percepatan pembangunan ekonomi di kota-kota besar. Sementara itu, kesulitan ekonomi dan sempitnya lapangan pekerjaan serta rendahnya upah di daerah asal, mendorong penduduknya untuk mengadu nasib ke kota-kota besar meskipun tanpa bekal keahlian, dokumen dan persiapan yang memadai.
  1. D. Solusi Mengatasi Dampak Negatif Globalisasi Pada Tenaga Kerja Lokal

Usaha-usaha untuk menanggulangi permasalahan dampak negatif tenaga kerja lokal adalah sebagai berikut:

  1. Persebaran pembangunan industri sampai ke daerah-daerah,
  2. Peningkatan pendapatan masyarakat desa melalui intensifikasi dan Koperasi Unit Desa,
  3. Pembangunan fasilitas yang lebih lengkap seperti pendidikan dan kesehatan,
  4. Pendidikan bukan saja akan melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, memiliki pengetahuan dan keterampilan serta menguasai teknologi, tetapi juga dapat menumbuhkan iklim bisnis yang sehat dan kondusif bagi pertumbuhan ekonomi,
  5. Pemerintah harus membuat lapangan kerja baru bagi tenaga kerja local, apalagi tenaga kerja yang di PHK (pemtusan hubungan kerja) dan bagi tenaga kerja local yang pabriknya telah dipindahkan ke Negara lain.
  6. Tenaga kerja lokal harus mempunyai kemampuan untuk berwiraswasta.
  7. Pemerintah daerah harus berusaha memajukan dan meningkatkan perekonomian daerahnya. Sehingga dapat menyerap tenaga kerja yang banyak dan tidak terjadi perpindahan penduduk dari daerah yang berkembang ke kota-kota besar.
  8. Pemerintah daerah juga harus memberikan bekal keahlian, dokumen dan persiapan yang memadai kepada warganya yang akan melakukan migrasi. Masyarakat yang akan bermigrasi juga harus memahami resiko-resiko apa saja yang akan mereka temukan kalau mereka nekat melakukan perpindahan tanpa bekal yang memadai.

Kemudian selain solusi di atas ada beberapa juga solusi yang bisa diterapkan untuk mengurangi dampak negatif tenaga kerja lokal antara lain sebagai berikut: (1). Perluasan kesempatan berusaha yang sebanyak-banyaknya didukung oleh berbagai fasilitas kredit UMKM, perpajakan, serta bimbingan produksi dan pemasaran di bidang-bidang pertanian dan perkebunan, nelayan, inudstri kecil dan menengah, serta perdagangan. (2) Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan dengan pola gotong royong disertai dukungan regulasi sistim administrasi keuangan yang menunjang, tertuama untuk mendukung peningkatan kemampuan transportasi darat, baik dengan mobil maupun kereta api. (3) Peningkatan penyelenggaraan pelatihan kerja dan pendidikan/pelatihan kembali (remedial education and remedial training) untuk para sarjana, dan penyelenggaraan program sarjana masuk desa. (4) Revitalisasi pendidikan menengah kejuruan (SMK) dan politeknik serta peningkatan relevansi kurikulum dan program belajar mengajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.

Maka dengan program tersebut di atas mampu mengurangi dan melindungi pekerja dari dampak negatif baik dari masalah gaji, penyeyaian, seksual dan bunuh diri.

  1. E. Hubungan globalisasi pada perpustakaan

Globalisasi, yang paling progresif gerakan global sejak Revolusi Industri, telah membawa dampak yang sangat besar untuk setiap benua dan setiap industri. Seperti perpustakaan semakin mendapatkan sumber daya dari dan memberikan pelayanan kepada pengguna di seluruh dunia, sebuah model baru dan operasi layanan perpustakaan muncul, yang disebut sebagai Perpustakaan Global (GL). Perpustakaan Global dapat didefinisikan dengan karakteristik kunci berikut: 1) secara global dapat diakses baik di perpustakaan virtual atau fisik lingkungan; 2) memberikan pengguna global layanan 24×7; 3) host global yang berfokus pada koleksi perpustakaan dan sumber daya; 4) menggunakan talenta global ; 5) beroperasi secara global, meskipun kantor pusat berada di negara asal; 6) secara aktif terlibat dalam kegiatan yang berhubungan dengan perpustakaan bagi masyarakat global.

Manfaat dari Global Perpustakaan:

  • Integrasi sumber
  • Akses setara terhadap sumber daya lokal dan global
  • Dimaksimalkan produktivitas dan meminimalkan biaya operasional
  • Leverage lokal dan bakat khusus
  • Promosi perpustakaan internasional standar dan pelestarian peradaban dan budaya lokal serta
  • Melatih staf dan pelanggan di bidang melek
  • Bertukar pengalaman dengan perpustakaan dunia informasi
  • Menyediakan akses ke informasi dunia
  • Memperkuat peran perpustakaan

Tantangan Global Perpustakaan:

  • Pelestarian budaya lokal
  • Saldo dari berbagai budaya dalam manajemen
  • Pemahaman agama lokal, ideologi, sistem politik, dll
  • Kebutuhan keterampilan manajerial baru set di global dan lintas-budaya lingkungan manajemen
  1. F. Kesimpulan

Globalisasi adalah suatu proses, suatu perubahan, suatu fenomena yang mendunia (mengglobal). Masyarakat tidak lagi terkotak-kotak dalam kelompoknya sendiri, tetapi telah berubah menjadi suatu masyarakat global atau masyarakat dunia. Globalisasi berlangsung sangat cepat dan serentak di seluruh belahan dunia. Maka diperlukan sosialisasi Undang-Undang Nomor. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan peraturan-peraturan pendukungnya harus terus dilaksanakan, agar semua pihak, terutama di daerah-daerah terpencil dapat mengetahui dan memahami maksud dari ketentuan tersebut. Pelaksanaan sosialisasi Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003, akan lebih mengena apabila didukung dengan sarana dan kelengkapan yang memudahkan para pengguna untuk memahami, seperti brosur, alat peraga dan menjangkau unit-unit di daerah-daerah terpencil.

DAFTAR PUSTAKA

Dampak Krisis Global, Problem, Dan Tantangan Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Keluar Negeri. http://jimly.myblogrepublika.com/2009/02/05/dampak-krisis-global-problem-dan-tantangan-penempatan-dan-perlindungan-tenaga-kerja-indonesia-keluar-negeri/. Diakses tanggal 8 november 2009 jam 14.00wib

Dampak Globalisasi Dan Peran IFLA. http://www.ifla.Org. diakses tanggal 6 November 2009 Jam 09.00 wib

Kajian Analisa Dan Evaluasi Perlindungan Ham Bagi Tenaga Kerja
Berdasarkan Undang-Undang No.13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan.  http://www.balitbangham.go.id/detail4.php?ses=&id=39

Mengembangkan Pemimpin Masa Depan Perpustakaan Dengan Global Melek Dalam Konteks Budaya Intelijen Perpustakaan Global Initiative.  (http://www.globallibrary.org/en/index.php)

Menyoroti Problem Ketenagakerjaan Oleh: Adi Abu Fatih. http://www.hayatulislam.net/menyoroti-problem-ketenagakerjaan.html.  diakses tanggal 04 NOvember 2009. jam 11.30wib

Pola Dan Arus Migrasi Di Indonesia httplibrary.usu.ac.iddownloadfpsosek-emalisa.pdf

Pustakawan di Era Globalisasi. http://riah-uns.blogspot.com/2008/05/pustakawan-di-era-globalisasi.html.

Sulistyo, Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia   Pustaka Utama

Tegakkan Keadilan bagi Buruh Migran Indonesia. http://indies.my-php.net/index.php?option=com_content&view=article&id=17:bmi&catid=14:siaran-pers&Itemid=55

Teori  Ekonomi Pembangunan. httpwww.damandiri.or.idfilesitiumajahmasjkuriunairbab2.pdf

OPEN SOURCES TOOL : UNTUK LAYANAN GRATIS PERPUSTAKAAN


Globalisasi mempengaruhi berbagai aspek dan tuntunan hidup masyarakat informasi maka dampak dari globalisasi juga berhimpas pada tataran (manajemen) perpustakaan dinama perpustakaan dituntut mengikut perkembangan postmodern atau pascamodern. Sebelum kita menguraikan Perpustakaan postmodern maka ada baiknya melihat apa saja unsur dari postmodern atau cirri-ciri dari postmodern antara lain:

  1. Pergeseran dari ekonomi barang dan jasa
  2. Pertumbuhan jumlah dan pengaruh kelas professional dan pekerja teknis
  3. Organisasi masyarakat berdasarkan pengetahuan teoritas, yakni penggabungan sains, teknologi dan bisnis.
  4. Titik beratnya pada perkembangan metode-metode teknologi intelektual.

Dari point diatas maka dapat dijelaskan bahwa perpustakaan postmodern yakni ditandai adanya pergesaran koleksi perpustakaan yang sebelum dalam bentuk monograp, namun saat ini perpustakaan harus dan merupakan kewajiban menyediakan layanan atau koleksi yang bersifat eletronik seperti e-journal. Selanjutnya diperpustakaan sangat dibutuhkan orang yang memiliki Multi Skill Of Personal tidak hanya mengerti dan paham satu bidang lebih berbagai bidang misalnya pustakawan harus memiliki keahlian menulis, menyampaikan informasi, teknologi dan psikologi.

Oleh sebab itu perpustakaan harus mengkombinasikan berbagai layanan yang memungkin untuk mendukung perkembangan perpustakaan tidak hanya terfokus pada layanan perpustakaan saja melainkan penggabungan sains, teknologi dan bisnis maksudnya adalah perpustakaan mampu mendesain ruangan semanarik mungkin untuk meningkatkan pengunjung perpustakaan, layanan yang digunakan harus menggunakan network society (jaringan masyarakat) seperti facebook, twiter serta setiap pustakawan harus memiliki one librarian one blog sehingga mempermudahkan dalam share of information to user, selain itu pustakawan memiliki jiwa enteperneship (jiwa kerusahaan) yakni informasi yang tersedia diperpustakaan dikemas sebaik mungkin baik dalam bentuk resume, abstrak karena diperpustakaan terdapat berbagai koleksi buku dan informasi, jangan sampai informasi  hanya dipajang (display) diruang buku. Maka disini yang sangat dibutuhkan pustakawan yang memiliki krativitas. kemudian seorang pustakawan harus imajinasi dan kreativitas tinggi yang tak pernah terpikir orang lain, jangan hanya terfokus dengan melayani pengunjung. Jika perkerjaan pustakawan hanya melakukan atau mengejarkan hari-harinya melayani pengunjung yakinlah pustakawan tersebut tidak memiliki nilai tambah karena anak kecil juga bisa seperti itu. Mulai dari sekarang pustakawan harus berpikir dan menciptakan kreativitas (kombinasi) apa yang harus ada diperpustakaan serta layanan apa saja harus ada diperpustakan tersebut.

Dibawah ini ada beberapa tool open sources gratis, informasi ini sangat mempermudah dan membantu perpustakaan digunakan pustakawan dalam promosi perpustakaan, share information, dan feedback apalagi sekarang pengunjung ingin informasi cepat, tepat dan akurat.

1. Meebo (http://wwwe.meebo.com)

Meebo adalah gratis aplikasi berbasis web yang memungkinkan pengguna untuk mengakses Instant Messaging (IM) account (s) dalam satu lokasi sentral Sama seperti yang lain aplikasi berbasis web, tidak perlu untuk men-download atau menginstal aplikasi.

2. Pipa (http://pipes.yahoo.com/pipes)

Pipa adalah salah satu layanan gratis yang disediakan oleh Yahoo. Pipa memungkinkan pengguna untuk agregat, memanipulasi, dan remix populer RSS feed jenis dan menciptakan mashup data melalui penggunaan editor visual.

3.  JAlbum (http://jalbum.net)

JAlbum adalah gratis album-pencipta perangkat lunak yang berbasis web menghasilkan album foto. Beberapa fitur-fitur khusus yang ditawarkan oleh JAlbum termasuk foto thumbnail, otomatis mengubah ukuran gambar dan foto slideshow.

4. MapQuest OpenAPI (http://www.mapquest.com/openapi)

MapQuest OpenAPI adalah layanan gratis yang memungkinkan integrasi yang mudah routing, geocoding dan pemetaan ke dalam sebuah website.

5. Del.icio.us (http://del.icio.us)

Del.icio.us adalah sebuah situs bookmark sosial yang memungkinkan pengguna untuk menyimpan dan berbagi bookmark di web.

6. Conduit Connect (http://www.conduit.com)

Saluran adalah sebuah komunitas berbasis web penyedia layanan toolbar. Dan layanan yang mereka tawarkan adalah gratis. Setelah pengguna sign up ke account, mereka dapat memulai pengaturan toolbar customized mereka. Untuk memperkuat loyalitas merek, pengguna memiliki pilihan untuk meng-upload logo perusahaan atau organisasi.

7. Audacity (http://audacity.sourceforge.net)

Audacity adalah bebas dan perangkat lunak sumber terbuka untuk rekaman dan menyunting suara (lihat Gambar 9). Fitur utamanya adalah kemampuan untuk merekam audio, mengedit berbagai jenis file audio, dan untuk memanipulasi audio dengan berbagai jenis efek. Ini adalah alat yang hebat untuk membuat perpustakaan audio tur, perpustakaan merekam peristiwa, atau membuat podcast.

8. SlideShare (http://www.slideshare.net)

Banyak orang mendengar tentang YouTube, sebuah situs web yang menyediakan video online gratis layanan streaming yang memungkinkan pengguna untuk melihat dan berbagi video. Seperti YouTube, SlideShare adalah sebuah situs web untuk berbagi. Namun, target di berbagi dan tampilan slide presentasi (lihat Gambar 10). Format file yang didukung oleh SlideShare termasuk Microsoft PowerPoint, OpenOffice, Keynote dan PDF.

Jadi mulai dari sekarang dan seterusnya tidak ada satupun pustakawan yang gagap teknologi bahkan tidak mengerti dengan networking. Karena Pustakawan adalah circle of information yang utama dalam masyarakat. Jangan sampai public (masyarakat luar sana) image seorang pustakawan orang yang sadis serem, orang buangan dan hanya bisa menata buku dirak-rak yang berdebu. Mari kita pustakawan-pustakawan muda harus ada discovery yakni pustakawan trend of technology. Serta biasakan pustakawan dengan dunia teknologi, writing, story telling about information pada user (pengunjung).

GLOBALIASI DAN MIGRASI ANTARA NEGARA



Arus migrasi globalisasi di Indonesia tidak jelas kapannya tetapi pastinya globalisasi telah tertanam dan dirasakan dalam kurun waktu dua dasarwarsa dinegara di Indonesia serta tidak begitu banyak pula penelitian tentang globasisi Indonesia. kemudian meningkatnya isu globalisasi yaitu dibarengi dengan Repelita II dimana semakin bertambah dan banyak minat masyarakat Indonesia berkerja diluar Negara. Perpindahan penduduk (tenaga kerja) merupakan factor demografis ketiga yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk suatu negara, selain kelahiran dan kematian. Bagi Indonesia, mobilitas penduduk mempunyai andil yang sangat besar bagi proses petumbuhan ekonomi. Di samping itu, pembangunan nasional yang telah dilakukan Indonesia selama ini telah memberikan kontrubusi kepada perkembangan pola dan arus migrasi penduduk..

Migrasi adalah perubahan tempat tinggal secara permanen atau semi permanen. Tidak ada pembatas, baik pada jarak perpindahan maupun sifatnya, yaitu apakah tindakan itu bersifat suka rela atau terpaksa serta tidak diadakan perbedaan antara migrasi dalam negeri dan migrasi luar negeri (Lee, 1991).

Laju perpindahan penduduk antarnegara menjadi suatu menjadi efinomena yang tidak terelakakan lagi. Ada beberapa factor yang mendorong penduduk suatu Negara meninggalakan kampong halaman (migrasi) antara lain (1) Factor tanah, (2) Factor bahan mentah, (3) Factor ketenagakerjaan, (4) factor barang yang dihasilkan, (5) factor hubungan material, dan factor ideology.  Selain factor tersebut ada factor lain yang menyebabkan alasan migran untuk mencari pekerjaan dimancanegara atau daerah lain (1) sukar mendapat perkerjaan ditempat tinggal mereka (kampong halaman) karena perkerjaan biasa lebih dominan atau tertumpuh suatu Negara atau kota tertentu. (2) ingin memperoleh penghaslan lebih tinggi dimana upah kerja dikampung halaman belum bisa memenuhi kebutuhan sekunder atau primer hanya bisa memenuhi sekunder. (3) ikut keluarga yakni melihat salah satu anggota keluarga atau kerabat dekat berhasil pekerja disuatu tempat maka ikut termotivasi ingin seperti itu. (4) mencari pengalaman yaitu ingin mencoba atau mengetahui system pekerjaan yang diterapkan suatu Negara atau daerah. Kemudian terjadi migrasi yakni dipengaruhi oleh factor ekonomi, social dan lingkungan baik pada tataran individu maupun masyarakat. Namun banyak migrasi menunjukkan bahwa alasan migrasi terutama karena alasan ekonomi yaitu adanya kesempatan untuk memperoleh pendapatan, pekerjaan dan alasan lainnya. Dengan migrasi masyarakat beranggapan bahwa cara untuk meningkatkan kualiatas kehidupannya semakin membaik.

Secara umum migrasi tenaga kerja keluar negeri atau migrasi internasioanl sangat berhubungan erat dengan pertumbuhan ekonomi dan transisi demografi dalam suatu Negara.  Dimana saat perekonomian Negara masih tergolong terbelakang dan pertumbuhan penduduk masih tinggi kelebihan tenaga kerja umumnya tidak dapat diserapkan oleh kegiataan ekonomi di dalam negeri. Oleh karena itu pengiriman tenaga kerja ke luar negeri menjadi salah satu alternative pemecahan masalah ketenagakerjaan disamping factor pemasukan devisa Negara dari kegiataan migrasi penduduk ke luar negeri tersebut. Kemudian seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan penuruan jumlah dan laju pertumbuhan penduduk akan terjadi kekurangan tenaga kerja di dalam negeri untuk itu kebijakan mendatangkan (impor) tenaga kerja menjadi alternative untuk mengatasi kekurangan tersebut. Maka dikenal dengan istilah transisi migrasi tenaga kerja internasional.

Masalah migrasi antarnegara di tengah-tengah globalisasi ekonomi ini banyak dialami oleh Negara-negara dunia ketiga, yang kaya akan sumber daya manusia dan alam. Para investor dari Negara-negara kaya banyak berlomba-lomba untuk mencari kawasan industry yang strategis untuk menanamkan modalnya. Fenomena seperti ini secara tidak langsung telah melahirkan ketidaksamaratan dalam pencapaian pembangunan dan kemamkuran di antara Negara-negara yang terlibat. Indonesia juga mengalami fenomena perpindahan antarnegara seperti banyak tenaga kerja Indonesia pekerja dimancanegara seperti Malaysia dan singapura.

Dengan adanya globalisasi makan terjadi beberapa fenomena pada masalah perkerjaan antara lain (1) fenomena migrasi internasional, (2) migrasi spontan, (3) migrasi tenaga kerja Indonesia, (4) tenaga kerja kontrak, (5) tenaga kerja illegal, dan (6) tenaga kerja asing. Namun dari beberapa fenomena terjadi pada ketenagakerjaan isu terpenting yakin keberadaan tenaga kerja asing di Indonesia berkaitan dengan pasar kerja, alih pengetahuan dan teknologi, dan adaptasi. Maka dengan hadirnya globalisasi di Indonesia yang harus diperhatikan berbagai lapisan masyarakat terutama pemerintah (government) yaitu masalah bagaimana kesiapaan masyarakat dalam ikut menigkatkan skill (keahlian) tenaga kerja Indonesia agar tidak kalah saing dalam masalah mencari perkerjaan.

Globalisasi otomatis akan berdampak pada pasar bebas (liberalisasi ekonomi) dengan adanya liberalism maka akan meningkatkan daya saing komoditi Negara-neraga berkembang.

  1. Keterbukaan pasar bebas maka akan menyebabkan angkatan kerja Negara-negara maju akan leluasa memasuki pasar kerja Negara-negara berkembang. Sehingga menghambatkan dan menghalangi proses transformasi social dan ekonomi  pada Negara baru berkembang.
  2. Peluang kerja domestic dan pekerja asing sangat terlihat dari berbagai sector terutama sector industry (pertambangan, manufaktur, listrik, gas dan air serta bangunanan). Sedangkan disektor pertanian lebih banyak masyarakat domestic namun kemungkinan besar sekotr tersebut akan dikuasi oleh pekerja asing karena mereka menawarkan kemudahaan seperti alat-alat industry untuk mempermudahkan dalam perkerjaan. Sehingga jika semua sector telah dikuasi pekerja asing maka pengganguran Indonesia semakin meningkat.
  3. Peluang kerja dan pekerja Indonesia di mancanegara belum begitu meluas diberbagai sector kebanyakan pekerja Indonesia di mancanegara pada umum sebagai pembantu rumah tangga atau petani serta tenaga kerja hanya tertumpu pada beberapa Negara seperti Malaysia dan timur tengah.  Agar proporsi pekerja Indonesia lebih banyak memasuki sector formal bila tenaga kerja Indonesia dibekali dengan keterampilan sesuai dengan permintaan pasar di luar negeri.

Kemudian disadari atau tidak, bahwa dengan berkembangnya industry-industri besar yang didukung system ekonomi liberal telah melahirkan bentuk-bentuk persaingan begitu ketat di antara berbagai Negara yang terlibat. Negara dunia ketiga yang kaya dengan sumber daya manusia dan alam tetapi kurang memiliki modal dan teknologi canggih berusaha keras mengajak Negara-negara maju agar mau menanmkan modalnya. Sebaliknya, para investor dari Negara maju yang ingin mencari keuntungan lebih besar melalui penguasaan modal dan teknologi modern berusaha mencari kawasan-kawasan baru untuk mengembangkan usahannya. Dengan demikian, Negara-negara yang kaya dengan sumber alam dan manusainya biasanya menjadi sasaran utama Negara maju tadi karena Negara tersebut menjanjikan lokasi pengembangan usaha yang strategis dan menguntungkan.

Implikasi globaliasi terhadap imigrasi internasional tidak hanya dapat menciptakan peluag kerja, tetapi mengurangi kemiskinan keluarga Negara serta menambah devisa. Kemudian adanya implikasi pada peningkatan keahlian dan keterampilan para pekerja terutama para pekerja yang bekerja pad sector-sektor yang membutuhkan keterampilan. Sedangkan implikasi migra pekerja dari Indonesia tampaknya implikasi pada peningkatan keterampilan pekerja relative kecil dan belum berarti. Karena pekerja imigran dari Indonesia banyak bekerja yang tidak membutuhkan keahlian seperti burur bangunan, buruh perkebunan, dan pembantu rumah tangga. Selain itu dampak globaliasi migrasi berpengaruh pada implikasi social. Ada beberapa kasus yang terjadi pada pekerja Indonesia antara lain pelecahan, penyiksaan, dan kematian para pekerja. Kasus seperti ini menunjukkan betah lemahnya dan perhatian pemerintah dalam melindungi pekerja Indonesia dimancanegara.

Seiring dengan datangnya era globaliasi dan liberalisme, sebagai konsekuensinya selain terjadinya migrasi tenaga kerja keluar negeri, akan diwarnai pula adanya fenomena tenaga kerja asing yang datang ke Indonesia. Berkaitan dengan hal ini, diperlukan kebijaksanaan dari pemerintah untuk dapat mengantisipasi berbaga perkembangan tersebut. Agar pekerja indonesai dimancanegara bisa seperti pekerja dari Negara lain maka yang harus diperhatikan oleh pekerja yakni harus ada strategi yang menguntungkan dan dipikirkan oleh tenaga kerja Indonesia dalam menghadapi pasar bebas antara lain:

  1. Meningkatkan daya saing pekerja di dalam negeri sehingga mampu bersaing dengan perkerja asing. Untuk mencapai tujuan itu perlu ada persiapaan dengan cara meningkatkan profesionalisme dan kemampuan pekerja sesuai dengan kualifikasi dan sertifikasi internasional.
  2. Meningkatkan daya saing pekerja untuk merebut peluang kerja dipasar kerja internasional. Maka perlu adanya pelatihan (demang driven) agar pekerja Indonesia memperoleh informasi kerja internasional.

Jadi, Proses pengglobalan ekonomi tersebut telah melahirkan ketidaksamataan dalam pencapaian pembangunan dan kemakmuran diantara Negara-negara yang terlibat. Dan selanjutnya hal itu pula mendorong terciptanya fenomena perpindahan penduruk dari suatu Negara ke Negara lainnya. kemduian perlindungan hukum bagi migran pekerja Indonesia perlu diperhatikan. Karena adanya undang-undang dapat memberi kenyamaan dan kepastian hukum bagi tenaga kerja indoneisa yang migra kemancanegara. Lebih dari itu perlindungan hukum dapat mengingkatkan harkat dan martabat para pekerja dan sekaligus bangsa.

%d bloggers like this: