Beginilah Desa dan kampung ku


Bismillah…

Beginilah Desa dan kampung ku

Beginilah Desa dan kampung ku

Alhamdulillah sudah seminggu berada di desa ku tapi tetap merasa terasing ditanah kelahiran, sepertinya cocok hidup diperkotaan memberi kebebasan bagi kita untuk berekspresi tanpa ada gossip apalagi mengibah yang ada adalah terus  berkarya dan mengais rezki halal. selama seminggu berada dirumah ada suatu kemirisan ketika melihat anak muda, generasi penerus bangsa, dan para muslimah.

Bagaimana tidak miris melihat anak muda hanya menghabiskan waktu nongkrong dijalan-jalan dengan gendangan gitar, dibumbui sebungkus rokok, ada pula anak muda menghabis waktu muda bermain-main yang tidak bermanfaat misalnya bermain domino, bahkan lebih parahnya lagi ketika menelusuri jalan-jalan perkampungan ku terlihat pula para ibu-ibu bermain kartu Remi. “Nauzubillah Minzaliq”. Padahal kehadiran ibu atau muslimah adalah sebagai madras utama bagi keluarga bukan seperti terlihat hari ini. Ya sudahlah mungkin meraka bersikap seperti itu belum memahami sepenuhnya atau mereka tak ingin mengaplikasi diri sebagai madras.

Berbanding jauh dengan apa terlihat dikota-kota terutama kota yang pernah tinggal bertahun-tahun. Disini lah membuat diri harus bersyukur karena dengan berada dikota banyak hal mempengaruhi sikap, mind and heart. Tidak semua orang bisa merasa dan mengalami kehidupan dibeberapa kota bahkan bisa melihat kehidupan manusia di tiga negara (Malaysia, Hongkong dan SIngapura). Dan Alhamdulillah dikota pula membawa jiwa dan raga ini memiliki mimpi besar harus diwujudkan. Semoga semua tertulis dalam diari kehidupan tersebut Allah wujudkan, Allahuma amin.

Entah sampai kapan anak muda, generasi penerus dan para ibu ditanah kelahiran memiliki culture atau habbit yang positif. Mungkin seperti inilah kehidupan diperdesaan, mungkin perdesaan belum terbiasa menerima perubahan, mungkin jua sikap seperti itu membuat mereka bahagia dan happy fun. “I don’t know”.

Archived

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Menanti SInar Mentari


Bismillah…

Menanti  SInar Mentari

Menanti SInar Mentari

Merasa orang terasing di tanah kelahiran, mungkin keterasingan ini dipengaruhi beberapa hal misalnya sudah hampir setahun meninggal kota ini sejak lebaran 2012 sebab hanya back to village setahun sekali seperti waktu kuliah ketika dijawa, mungkin juga karena tidak ada lagi teman seirama diajak bercerita tentang kehidupan, mungkin juga merasa lain dengan suasana biasanya berangkat pagi pulang sore untuk mengais rezki, mengembang diri, merubah kehidupan, mewujudkan mimpi besar dan cara mengaplikasi ilmu diperoleh selama perkuliahan.

Atau mungkin sudah tak betah lagi tinggal dikota ini, mungkin juga jiwa ini memang takdir hidup diperantauan sehingga membuat keterasingan begitu luar biasa. Padahal dekat dengan keluarga, padahal dikota ini penuh cerita kelucuan, padahal kota ini pula mempengaruhi menjadi orang berbeda baik dari dandanan, sikap, pola pikiran, tujuan, mimpi dan tutur kata.

Dalam keterasingan ini coba menanti sinar mentari seperti menikmati kilauan mentari dikota dipenuhi hedonism, penuh konsumtif, penuh liberalism dan penuh individual. Hampir seharian menanti kilauan tetap belum menampakkan cahayanya. Yang ada awam kelam begitu ganas namun keganasaan tersebut membuat hati terbukau betapa Allah begitu maha besar dan sesekali terlihat angin mengeluarkan kekuataannya sehingga berbunyi desir berbeda.

Menanti cahaya mentari seakan-akan menanti sesuatu memiliki makna dan history tersendiri bagi seorang akhwat yang masih istiqomah menggunakan pakaian taqwa (insyallah). Jika hidup diperkotaan berdomisili sekarang biasa matahari telah mengeluar sinarnya begitu spektatuler yang menimbulkan keringat sangat dahsyat. Tapi kota kelahiran ukhti begitu susah untuk menjumpai kehangatan dari mentari.  Atau sedang musim hujan sehingga matahari tak menampakkan sinarnya atau terjadi anomaly.

Ketika menunggu sinar mentari pagi hingga magrib menghampiri teringat dengan kota-kota panas pernah disinggahi. Bahkan terpikir pula untuk melakukan peneletian untuk melihat bagaimana perilaku, pola pikir, kecerdasan, dan keagamaan orang yang tinggal daerah dingin dan daerah panas!!! (ide konyol). Walaupun konyol bagi ukhti itu sebuah pertanyaan harus dijawabkan.

Apakah selama ini yang pernah diteliti para berkaitan tentang culture tapi menurut ukhti seperti ide diatas belum pernah diteliti atau belum menjumpai pembahasan tersebut.

Heemmmm kok jadi tentang penelitian bukan ingin bercerita tentang penantian hoooo. Pastinya menanti mentari adalah suatu cara mengisi liburan begitu singkat ini. Walaupun mentari tak menampakkan cahayanya paling tidak memberi hikmah luar biasa bahwa setiap suasana akan melahirkan rasa berbeda. Seperti saat ini ketika cuaca agak dingin terbawa pada rasa yang menyentuh hati sedangkan ketika pada cuaca begitu panas juga terbawa pada rasa menyetuh pikiran.

Kalau bukan karena rindu dengan keluarga mungkin sudah enggan untuk pulang kekota ini lagi. Bersyukur Allah masih menumbuhkan rasa rindu dihati ini untuk menjumpai tanah kelahiran. Entah tahun-tahun berikutnya apakah bisa melihat kampung ini atau semakin betah tinggal dikota yang membuat semakin gesit memperbaiki diri, semakin gesit menjadi berbeda dihadapan Allah, semakin bergesit mewujudkan perubahan (impian) dan semakin gesit menjadi orang bermanfaat bagi lingkungan serta keluarga.

Archived

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Melodi Desa


Biarlah desa tempat terindah tak bisa terganti

Walaupun kota begitu mempesona dengan kemegahannya

Namun tetap desa penuh etnik yang membumbui kehidupan

Berawal dari desa

Lahirlah para pengukir sejarah

Sungguh desa memberi kekuataan dan cahaya

Bagi pemuda dan pemudi meraih cita

Tegap dan yakin melangkah kaki

Dengan harapan meraup ilmu dan perubahan

untuk membangun desa nun jaya

Walaupun jauh dari desa…

Bahkan sepenggal

warna-warni, keindahan, keasrian dan kedamaian

Embun pagi, matahari pagi dan suasana petang hari

Di desa

Selalu hadir dalam sanubari anak desa

Yang tak dirasakan di tengah kota

Menjunjungi tinggi individualisme dan matrelisme

Sangat berbeda dengan nuansa desa

masih menjunjung

Gotong royong, kebersamaan, silaturahmi dan kebudayaan.

Kini ku benar-benar rindu dengan desa…

Rindu pada…

 Awan pagi yang menyelimputi puncak gunung dan perbukitan

Rindu pada…

Aktivitas yang terjadi pada masyarakat desa

Yang menyapa dan menolong dengan ketulusan dan cinta

Bahkan tak pernah jeda untuk jatuh cinta dengan desa…

biarlah rindu dan cinta pada desa

melebur menjadi sebuah kekuatan

Dalam bergantian masa

%d bloggers like this: