Caleg Menjual Diri


 

BIsmillah…

Caleg Menjual Diri

Caleg Menjual Diri

Kemanapun mata menatap yang terlihat jelas reklame atau baliho-baliho calon Legislatif mulai dari jalan protocol, perumahan, hingga memasuki hutan belantara.  Dari tiang listrik hingga atap rumah maupun dinding rumah. Dari ukuran besar sampai bisa disimpan disaku. Dari berwarna hingga buram, dari harga mahal sampai harga biasa-biasa saja. Dan gaya caleg berphotopun lucu-lucu, dari photo sendirian maupun kolektif dan dari sadis hingga bak selebritis.

Kata-kata tertempel dibaliho caleg juga menawar program-program sangat mengiurkan, dari program biasa hingga tidak masuk akal. Ya rata-rata tawaran diberikan sangat manis semanis coklat yang mengiurkan ketika ditatap bagi yang membaca maupun melihat baliho tersebut.  Lumrah saja para caleg-caleg menjualkan diri dengan slogan atau cara apapun. Apa salahnya cara menjual diri memperhatikan keindahan public, mana area advertising dan area wisata. Terkadang membosankan menikmati baliho-baliho berjejer dijalan-jalan dan seakan-akan keindahan kota tercemar dengan baliho tersebut. Meskipun ada aturan dari KPU membataskan pemasang baliho dan area-arean diperboleh memasang baliho tapi tetap para caleg ngejel menjual diri.

Posisi photo berbeda-beda, ada yang tersenyum, ketawa, mengucapkan salam, dan menggempalkan tangan. Dilengakpi dengan kostum partai, baju batik, atau menggunakan identitas religiusitas. Tentu para caleg punya alasan tersendiri dengan gaya berphoto maupun pakaian yang digunakan. Lebih serunya lagi semua gelar yang dimiliki dipampang dengan bangganya kemudian dipoles dengan keterunan atau nama keluarga lain. Mungkin untuk menyakinkan masyarakat bahw mereka layak untuk dipilih, orang berpengaruh, orang beragama dan intelektualitas. Tersirat jika caleg tanpa gelar sepertinya tidak bergengsi ditengah masyarakat dan tidak menarik bagi pemilih.

Ada pertanyaan ingin ditanyakan pada caleg ketika melihat photo cantik dan gagah mereka dijalan-jalan? Kenapa baliho ditampang selalu bergandengan dengan toko-toko besar partai mereka, sangat jarang menemui baliho caleg dengan sendirian? Mungkin salah satu cara penghematan dana maklum untuk menjadi caleg harus financial besar, mungkin caleg belum percaya diri atau ada aturan partai menghendaki setiap baliho diiklankan  harus ada toko besar partai atau ada tujuan lain dari itu semua.

Baliho-baliho berterbangan dimana-mana, menurut ia carat tersebut bukan cara efektif untuk sosialisasi atau menjual diri mereka pada masyarakat. Sebagai akademisi sebaiknya para caleg menjual diri secara direct selling  baik secara door to door atau mengumpul massa disuatu tempat. Agar para caleg mengetahui aspirasi raykat dengan jelas maupun nyata dan masyarakatpun tahu secara detail misi maupun visi akan dikerjakan selama menjadi anggota Legislatif. Bayangkan selama menjual diri atau mengenal diri sebagai kandidat caleg saja, sudah malas turun atau mendengar suara masyarakat secara langsung apalagi nanti setelah terpilih…!!! Mungkin tidak akan pernah terjun langsung mendengar keluh kelah masyarakat bawah yang ada keasyikan pelasiran keluar negeri.

Bagi kita sebagai pemilih, pilih mereka-mereka yang dekat dengan Tuhan dan memiliki kredebilitas, track record dunia maupun akhirat. Jangan memilih celeg dalam karung takut diterkam dan memilih atas serangan fajar karena siap-siap akan dibantai. Sebab orang-orang yang dekat Tuhan Insyallah ketika ingin berbuat salah atau melenceng dari TUPOKSI berpikir panjang untuk mengambil hak orang lain.

Heemmmmm cara unik para caleg menjual diri buat ketawa sendiri, dan bisa melahirkan tulisan inspirasi. Dan untuk meraih kursi panas di tempat elegan diperlukan nyali dan biaya mahal.

 

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Tanya Kenapa: Rata-rata Celeg Pensiunan PNS!!!


Bismillah…

Tanya Kenapa: Rata-rata Celeg Pensiunan PNS!!!

Tanya Kenapa: Rata-rata Celeg Pensiunan PNS!!!

Sebentar lagi Republik Indonesia akan menyelenggarakan pentas Demokrasi yang ke tiga setelah tumpangkan rezim Orde Baru. Tentunya pentas demokrasi akan dimeriahkan calon anggota dewan dengan berbagai factor pendidikan, berbagai profesi, dan berbagai tujuan.

Partai yang lolos verifikasi dari Komisi Pemilihan Umum pusat hanya 10 Partai Politik dari sekian banyaknya partai politik di Indonesia. Bahkan pentas demokrasi tidak hanya dibanjari caleg, namun juga dibanjir baliho dengan ukuran luar biasa dengan tujuan untuk mengenal caleg pada masyarakat. Sedangkan disisi lain tujuan para caleg tersebut merusak keindahan public karena penempatan baliho tidak beraturan sehingga public dirugikan.

Tiba-tiba saat duduk membaca buku tentang dasar politik teringat dengan salah satu baliho tertampang dijalan raya begitu woowww dan rata-rata gambar baliho tersebut pensiunan PNS sangat jarang menemui baliho politisi Muda.

Tentunya bertanya dengan sendiri kenapa rata-rata baliho ditemui dijalan dan caleg ditanah kelahiran pensiunan Pegawai Negeri Sipil? apakah dikota lain juga seperti itu? Jangan-jangan diseluruh Tanah Air Indonesia Rata-rata celeg pensiunan?

Kemudian yang menjadi pertanyaan kita semua, apakah mereka benar-benar ingin menyuarakan suara rakyat atau tak tahu mau mengerja apalagi setelah pensiuanan atau merupakan lahan empuk untuk mengais rezki, atau tak ada lagi generasi muda yang tertarik dengan politik karena lebih tertarik menjadi Enterpreneur maupun Pegawai Negeri Sipil, atau partai tertentu mengingikan caleg pensiunan Pegawai Negeri Sipil, atau partai politik kekurangan kader sehingga mengambil jalan pintas, atau para pensiunan punya modal besar untuk berpesta demokrasi dibanding anak muda,  atau anak muda belum dipercayai untuk maju,!!

padahal kerja wakil rakyat lebih banyak rapat, kunjungan daerah baik siang maupun malam. padahal kita tahu usia pensiunan di atas lima puluh lebih. jika melihat usia mereka apakah bisa mereka bekerja produktif dan storange??? Dan takutnya ketika mereka terpelih susah menyesuaikan diri untuk berkerja lebih gesit sebab selama ini kita tahu bagaimana cara kerja pegawai Negeri sipil…”Senyum-senyum penuh tandatanya”.

Emang undang-undang pemilu memberi kesempatan pada Rakyat untuk mengikuti pentas demokrasi, akan lebih elok para caleg berusia lanjut berada dimesjid waeee, bukannya meragu kredilitas maupun kapitas dari caleg Pensiunan tapi masih meragukan tujuan mereka terjun kedunia politik hanya sebatas sensasi doank^__^ dan sebaik para caleg tua-tua memberi jalan maupun doa bagi anak muda untuk maju agar mereka menujukkan identitas pada publik….

Ya, kita kembalikan kesemua pada public mereka ingin memilih siapa? Pilihan yang mereka pilih tentunya akan memberi pengaruh signifikan terhadap Indonesia maupun daerah mereka masing-masing.

Note: “Ini hanya sebatas pendapat, basic analysis dan semoga bermanfaat bagi pembaca yang sedang merenung nanti sebaiknya memilih siapa….^__^

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

%d bloggers like this: