Betapa Baik Allah Pada Kita


dakwah38

Selesai melaksanakan sholat zuhur suka membawa pikiran melayang menembus batas, terkadang sempat ide aneh-aneh muncul dan menggerak mulut tersenyum sendiri.  Tak jarang pula kelamunan pikiran menyadari betapa Allah begitu baik dengan manusia.  Kendatipun manusia suka menjauhi atau melabrak aturanNya. Jika boleh jujur sesungguhnya Allah tak membutuhkan manusia taat atau tunduk padaNya karena tanpa manusia tunduk padaNya Allah sudah mulia bahkan Agung serta tak bisa ditandingi oleh siapapun. Melainkan Allah memberi manusia tunduk padaNya agar manusia selamat di dunia dan akhirat. Selaras dengan ungkapan indah syekh Muhammad al-Ghazali dimana perjalanan hidup manusia menunjukkan bahwa Allah menciptakannya untuk memuliakannya, bukan untuk merendahkannya, untuk menuntutnya di dunia bukan untuk menghinakannya.

Bahkan bertanya dengan hati sendiri kenapa pikiran terbawa pada renungan ini. Apakah mungkin ia termasuk manusia yang tidak mensyukuri nikmat dari Allah selama ini. Atau sengaja Allah sisipkan dalam pikiran agar menulis tentang kebaikan Allah dari perspektif  ia. Coba meyakini bahwa kehadiran pikiran ini dalam benak adalah atas izin Allah agar terus merenungi kebaikan Allah tiada batas dan luas. Meskipun dibalik kebaikan Allah sisipkan jua ujian-ujian. Sadar dibalik ujian Allah sedang meng-traning ia dan melihat sejauh mana mampu bertahan hidup yang bersandar padaNya.

Jika boleh jujur apabila manusia jauh dengan Allah akan melahirkan manusia yang tamak, manusia yang rakus, manusia suka menyebarkan fitnah, manusia suka menghalalkan segala cara, manusia yang suka menghambil hak orang lain, manusia yang kurang bersyukur dan menjadi manusia tak sabar. Itu sebagian alasan kenapa manusia membutuh Allah setiap detik kehidupan. Supaya terjauhi dari sifat-sifat tercela dan hadirnya hati yang bersyukur serta diperolehnya ketenangan.

Sayangnya masih ada sebagian manusia tak menyadari bahwa mereka membutuhkan Allah dan begitu berani menentang keESAannya dengan kehebatan yang baru memiliki setetes ilmu pengatahuan saja. Bahkan manusia lebih sadar yang mereka butuh adalah jabatan, harta, penghormatan dan kebahagian. Sementara Allah dibutuhkan ketika ada ujian dan ketika ingin mewujudkan keinginan. Setelah ujian itu tak ada lagi dan keinginan telah terwujud maka mulai secara pelan-pelan menjauhi Allah. Jangan-jangan manusia memiliki sifat rakus, tamak, suka menyebar fitnah, menghalalkan segala cara, suka mengambil hak orang lain, tak bersyukur dan tak sabar. Mungkin mereka-mereka adalah orang yang jauh dari Tuhan atau tak paham dengan aturanNya? Entahlah tak berani mengambilkan kesimpulan.  Padahal bila merujuk dari buku Al-Hikam yang ditulis oleh Ibnu Atha’illah Al-Iskandari bahwa jabatan, harta, penghormatan hanya bisa memenuhi kebutuhan lahiriah akan tetapi kebutuhan batin tak bisa terpenuhi. Apa yang bisa membuat batiniah tenang yaitu dengan cara selalu dekat dengan Tuhan melalui amalan-amalan harian.

Kendati pun manusia suka menjauhi Allah, melabrak aturanNya dan meragukan kebesaranNya.  Tapi Allah tak pernah henti-henti mencurahkan nikmat kepada manusia. Dari nikmat terkecil hingga nikmat tak terhitungkan dan dari nikmat terlihat hingga tak tertampak. Bahkan nikmat diminta maupun tak diminta. Semua Allah penuhi agar manusia hidup tenang penuh kedamaian. Mulai dari nikmat kesehatan, nikmat jabatan yang pretesius, nikmat keluarga yang bahagia, nikmat penghormatan dari masyarakat umum, nikmat kelancaran rezki, nikmat ditutup aib, nikmat memiliki anak yang sholeh/shaliha, nikmat mempunyai orang tua yang penyayang, nikmat bisa menghirup udara segar, nikmat bisa tidur, nikmat bisa berjalan dan nikmat ketenangan jiwa. Jika dilistkan betapa banyak Allah mencurahkan nikmat pada manusia. Karena Dia lah yang maha kuasa. Ini terlampir jelas dalam Al-quran. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui (QS. Al-An’am: 18). Tapi ironisnya itu sangat jarang dikatagori sebagai nikmat. Dianggap kenikmatan bila mempunyai harta mengunung, istri yang cantik, jabatan bergengsi dan mobil yang mewah-mewah. Jangan sampai hal-hal duniawi membuat kita memalingkan hati dan penglihatan buta pada Allah sehingga dengan bergelimang harta, tahta serta penghormatan menjadi hamba yang tersesat.

Kemudian coba bandingkan dengan perlakuan manusia ketika disakiti sedikit saja manusia sudah marah dan tidak mau menyapa lagi bahkan dendam hingga maut memisah. Tapi Allah tak melakukan hal seperti itu pada manusia, walaupun dijauhi hambaNya. Allah tetap menjaminkan rezki hambaNya dan menabur keberkahaan pada penduduk bumi. Ini perbedaan Allah dengan manusia walaupun ayatNya dilecehkan dan diaragukan kebesaranNya oleh manusia. Allah tak pernah marah dan tetap memberi keberkahaan pada manusia dengan mementangkan berbagai kebutuhakan manusia dengan memberi izin matahari untuk bersinar dengan terang, memberi izin pada langit agar bumi dicurahkan hujan sehingga tanaman, binatang dan manusia bisa hidup dengan tenang maupun dengan kenyamanan. Allah tumbuhkan berbagai pohon dan tanaman agar manusia bisa memenuhi kebutuhan hidup serta bisa menghirupkan oksigen. Allah gerakan awan agar bisa memberi kesejukan pada ciptaannya. Itu semua diberikan pada manusia agar bisa bersujud dengan tenang dan penuh kedamaian.

Sebagaiman dijelaskan secara terang dan nyata dalam surah Al-Araf (10-11) “Dan sungguh, kami telah menempatkan di bumi dan disana Kami sediakan sumber penghidupan untukmu. Tapi, sedikit sekali kamu yang bersyukur…”. Tapi kenyataannya semakin banyak Allah memberikan atau mencukupi keinginan manusia bukan semakin mendekati diri padaNya, bukan semakin mensyukuri, bukan semakin suka berbagi malah semakin berani menjauhi Allah dengan melakukan  zina tak terhitung, syirik yang tak henti hingga melakukan berbagai dosa yang mungkin masih melumuri diri serta tergoda dengan rayuan-rayuan setan. Mungkin mereka yang tak mau menjalankan perintah Allah karena tak mendengar ayat-ayatNya atau sudah mendengar perintah tapi pura-pura tidak memahami peringatanNya. Hanya mereka yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepadaNyalah mereka dikembalikan.

Bahkan dengan teterangan tak mau membagi rezki diperoleh dengan menimbun harta. Hingga dengan berani meninggalkan shalat wajib. Apakah tidak malu? tak mau dekat dengan Allah padahal dengan segala kebutuhan dan kenikmatan telah dipenuhi. Lalu Allah kembali tegaskan bagaimana manusia yang berpaling dariNya “Dan, (begitu pula) kami memalingkan dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah berimana kepadanya (Al-Quran pada permulaannya, dan kami biar mereka bergelimang dalam kesesatan yang sangat sesat” (QS.Al-An’am: 110). Hampir setiap doa dilafazkan dikehadiraNya diwujudkan dan segala hal dipermudahkan. Perlu diingatkan manusia ketika Allah menabur kebaikan dan harta pada hambaNya jangan menjauhiNya apalagi terlena dengan dunia. Bisa jadi keberlimpahan nikmat dan rezki tak henti-hentinya adalah awal dari bencana. Hal ini sangat jelas Allah peringati manusia di QS Al An’aam: 44 “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”

Ini pula membuat pikiran suka geleng-geleng dengan sikap manusia tak pernah mau mensyukuri dan tidak pernah merasa cukup dengan segala kenikmatan yang diperoleh. Apaka begini sifat manusia sesungguhnya? Apakah manusia sudah terbawa nafsu jelek atau terikuti dengan godaan syetan? Hal ini dijelaskan dalam QS.Al Faathir: 6 “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagi mu, maka anggaplah ia musuh bagi(mu) karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni nereka yang nyala-nyala”. Apakah manusia lupa bahwa kenikmatan atau harta dimiliki akan diminta pertanggungjawabannya diyaumil akhir? Betapa banyak orang-orang sebelum kita mendustai ayatNya yang berakhir pada kehancuran.  Lagi pula hal seperti itu telah  diterangkan dalam Al-Quran agar manusia memperhatikan bagaimana kehidupan orang-orang yang jauh dari Allah, orang-orang mendustai ayatNya dan orang-orang tidak mendengar firmanNya. Hanya mereka yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepadaNyalah mereka dikembalikan.

Mari instropeksi diri agar kebaikan Allah berikan dengan penuh keberkahaan membuat kita segara mendatangi Allah dengan sayap-sayap cinta dan kerinduan. Lalu meluapkan rasa syukur padaNya karena Allah begitu baik hingga kita masih diberi kesempatan untuk menikmati segala hal didunia dengan sempurna.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

 

Ketika Allah mewajibkan wanita menggunakan jilbab


Perempuan itu adalah aurat, maka apabila ia keluar dari rumahnya maka setanpun berdiri tegak (dirangsang olehnya) (HR. Tarmidzi)

Semoga ini Panggilan HidayahSeumur hidup dan ini untuk pertama kalinya mengujungi Lapas. Sebelum mengunjungi lapas sudah persepsi negative dengan tempat tersebut. Seakan-akan lapas adalah tempat yang seram, petugasnya yang tidak ramah dan penghuni yang sangat sadis. Jika boleh jujur tempat yang tidak disukai dan tidak ingin dikunjungi diantaranya lapas karena beranggapan orang-orang disana pasti tidak ramah setelah berkunjung dan berbagi taujih untuk ibu-ibu penghuni lapas. Persepsi itu runtuh seketika ternyata penghuni terlihat cantik, segar, tidak ada wajah surah bahkan petugas Lapas begitu akrab sehingga mampu membangun kedekatan yang begitu nyoossss. Kemudian terminal adalah tempat kedua yang tidak ingin dikunjungi sebab merasa orang-orang disekitar terminal adalah preman semua secara sudah rahasia umum bagaimana ganas preman secara pernah melihat secara langsung bagaimana gesekan antar preman terminal bahkan beranggapan orang duduk sekitar terminal adalah calo semua akan tetapi setelah menonton preman pensiunan persepsi tentang terminal mulai agak berbeda. Terakhir tempat tak ingin dikunjungi yaitu rumah sakit, padahal begitu banyak hikmah diperoleh dengan mengunjungi rumah sakit diantaranya mensyukuri betapa mahal sehat, dan disana tersadari untuk menjaga kesehatan. Entah kenapa ketiga tempat selalu diupayakan untuk dihindari.

Ternyata tempat yang dibenci, akhirnya berkunjungan kesana dalam rangka berbagi ilmu atau berbagi pengalaman sekitar jilbab untuk ibu-ibu penghuni lapas. Ini adalah scenario Allah yang sangat indah, pada akhirnya bisa bertemu ibu-ibu penghuni lapas dengan berbagai masalah Sedangkan faktor  utama membuat mereka hadir dilapas karena masalah narkoba. Nauzubillah minzaliq. Seperti data yang dipaparkan oleh pro Indonesia cabang Jambi bahwa hampir setiap hari sekitar 80 orang meninggal dunia gara-gara narkoba. Bahkan secara nasional dikatakan Narkoba adalah musuh nyata bagi masyarakat Indonesia. Selain masalah narkoba yang menjadi faktor ibu-ibu menjadi penghuni lapas masalah pembunuhan. Sungguh sadis bukan!!!

Kehadiran dilapas bukan membahas tentang narkoba melain berbagi pengalaman tentang hijab. Saat itu panitia mengangkat teman “cantik dengan jilbab”.  Dan pertama bertemu dengan ibu-ibu penghuni lapas sempat terkaget juga ternyata ada ibu-ibu sudah tua mendekam disana. Tidak hanya  itu membuat hati tersentak akan tetapi ibu penghuni lapas juga modis-modis dan cantik akan tetapi rata-rata mereka belum menggunakan hijab (kerudung, jilbab) dan masih kurang pemahaman agama.

Terlihat panitia dari Lapas mempersiapkan segala kebutuhan acara mulai mengemaskan kerudung dari donator untuk dibagikan kepada ibu-ibu penghuni, menyediakan snack, dan soundsytim lainnya. Acarapun dimulai sekitar 10.30 wib yang dimulai pembukaan dari mc, kata sambutan dari panitia pelaksana yaitu B+ be positif yang merupakan komunitas sosial yang bergerak mencari plus individu-individu terutama penghuni lapas, kemudian kata sambutan dari kepala Lapas yang sangat cool berawakan jawa dan tibalah waktu ia untuk berbagi cinta tentang jilbab.

Kehadiran ia dilapas bukan sebagai ustad, bukan sebagai guru dan sebagai anak muda yang ingin berbagi cinta melalui ilmu. Awal sempat pesimis mungkinkah ib-ibu akan menjimak apa akan disampaikan. Dengan bismillah dan meminta sama Allah semoga apa disampaikan menusuk hati ibu-ibu dan menggerakan meraka untuk segara menggunakan jilbab. Rata-rata ibu-ibu belum menggunakan jilbab, hanya sekitar 4 atau lima ibu-ibu yang sudah menggunakan jilbab selebih aduhai begitu santai menampakan aurat. Apakah mereka belum memakai jilbab dikarena tidak mengetahui hukumnya, apakah belum ada niat, apakah sudah tahu tapi tidak ingin mengaplikasikan atau ada faktor lain?

“Dari Khalid bin Duraik, dari Aisyah r.A. Asma binti Abu Bakar R.A pernah berkunjung kepada Rasullah S.A.W memakain pakaian tipis. Maka Rasullah S.A.W berpaling dari padanya seraya bersabda: Wahai Asma, sesungguhnya wanita apabila telah baligh, tidak benar terlihat dari padanya kecuali ini…dan ini… “Beliau memberi isyarat kepada wajah dan kedua tangannya.

Sekitar satu jam paparan tentang penting jilbab dalam islam, hukum berjilab, keuntungan yang diraih dengan jilbab dan pasti dengan berjilbab adalah bentuk cinta pada Allah, bentuk ketaatan pada Allah dan bentuk menjalan perintahNya. Saat mempapar ada yang menjimak dengan antutisias, ada asyik mengombrol dan mungkin ada wajah sinis karena yang memberi taujih kok usia sangat muda. Walaupun suasana begitu, ibu-ibu antusias bertanya mulai masalah bagaimana kerudung dalam islam, sejak kapan kerudung dipakai, sudah ada niat berkerudung tapi tunggu yang tepat, berkerudung hanya dipakai hari tertentu saja, berkerudung tapi jarang sholat dan kok yang berkerudung masih suka melakukan hal yang dilarang Allah. Ini adalah fenomena yang sering temui disekitar kita dan fenemona tersebut mungkin dialami kita juga. “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosam. Dan barangsiap mentaati dan Rasulnya, maka sungguh ia menang dengan kemenangan yang besar: (Al-Ahzaab: 70-71)

Semoga jawaban yang diberikan mampu menjadi panggilan hidayah bagi mereka, mau menggunakan jilbab dan istiqomah menggunakan jilbab. “Dan jangalah kamu lemah (minder, rendah diri, dll) dan jangalah bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kami beriman. (Ali-Imran: 139). Satu persatu pertanyaan dijawab dengan analogi, hadist dan ayat al-quran. Pada dasarnya pertanyaan dilontarkan sangat basic, dari sana bisa disimpulkan bahwa para ibu-ibu yang sudah memasuki usia 40 atau usia senja masih kurang pemahaman agamanya. Mungkin komunitas keagamaan (Salimah) perlu bekerjasama dengan pihak lapas untuk menjalan dakwah dilapas karena lahan dakwah dilapas harus disentuh. Meskipun pihak lapas mempunyai program kerohanian sepertinya tidak cukup hanya dilakukan sebulan sekali. Suasana semakin hangat didukungi aura sekitar lapas terlihat melo dimana sinar matahari belum menampakkan cahaya pada penduduk melayu mungkin kenapa sinar matahari belum menampakan karena sebentar lagi akan hujan lebat sebab dibulan pebruari tidak hanya identik bulan cinta malainkan bulan hujan seperti diamali masyarakat kota (Jakarta, red) kebanjiran.

Jika diamati dan realitas  masih banyak menemui yang berjilbab tapi tidak menunjuki sikap yang santun, baik yang muda maupun yang tua, jangan sampai beranggapan jilbabnya yang salah akan tetapi yang salah adalah orangnya. Mungkin kenapa bisa seperti itu dikarenakan kurang ilmu dimiliki, mungkin belum tahu dan mungkin sudah tahu tetapi tidak mau mengaplikasikannya. Masih ditemui yang memakai jilbab niat awalnya bukan atas dasar menjalan perintah Allah melainkan mengikuti trands apalagi saat trands jilbab dikalangan wanita lagi dahsyatnya meskipun awal mula menggunakan jilbab atas dasar itu dan insha allah berjalan waktu niat akan berubah ketaqwaan. Amiin. Lebih parah lagi juga menjumpai pakai jilbab tapi kewajiban melaksana sholat diabaikan. Ini adalah konsep yang salah seharusnya ketika sudah berjilbab maka sholat, tilawah, zikir dan akhlak semakin cantik dihadapan Allah jangan sampai cantik jilbab tapi tidak cantik amalannya.

Mumpung masih ada waktu atau kesempatan Allah berikan untuk memperbaiki diri terutama bagi wanita-wanita yang masih menampakkan aurat untuk segera menutup aurat dengan pakaian syari jangan terlena dengan rayuan fashion mengajak wanita untuk menampakan lekuk-lekuk tubuh atau mempertontonkan aurat. Ketika Allah mewajibkan wanita menggunakan jilbab pada dasarnya adalah demi kebaikan dan kemulian wanita. Andailah yang belum menutup aurat mengetahui bagaimana dahsyatnya pahala menutup aurat, betapa beruntung menutup aurat dan tentu akan bersegera. Jangan sampai kita termasuk manusia yang disentilkan Allah melalui ayat berikut ini

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman (Al Baqarah:6)

Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. (Yaasiin: 10)

Terakhir jilbab adalah identitas kemulian seorang wanita, jilbab adalah bentuk mencintai Allah, jilbab adalah satu cara bagaimana Allah mencintai kita dan bergegaslah untuk menutup aurat tersebut karena manfaat bukan buat siapa-siapa melainkan untuk kalian. Berharap pertemuan dengan ibu-ibu penghuni lapas adalah momentum menyembut hidayah. Semoga dengan jilbab mengantarkan kita bertemu Rasullah disurga firdaus.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Allah Memiliki Cara Cantik Untuk Mempertemukan Dua Hati Manusia


dakwa3Semari menunggu kehadiran mahasiswa, duduk diruagan tunggu mahasiswa semari menikmati tayangan yang bergejolak di Indonesia kebetulan tayangan ditonton pagi menjelang siang yaitu seputar Budi. Tidak sekarang aja budi terkenal melainkan sejak SD kita sering diajar tentang Budi dan budi benar-benar memberi pesona berbeda bagi siapapun yang pernah menggenal budi. Ketika asyiknya menonton tayang yang bergejolak tiba-tiba salah satu dosen menghampiri, bercerita dan tertawa. Dari sekian banyak teman mengajar disalah satu kampus negeri tempat mengabdi, dosen berinsial M merupakan teman yang sering ngombrol dari berbagai perspektif.

Tiba-tiba bertanya tentang seorang akhwat dan ikhwah yang baru menikah. Baru menjalankan Sunnah Rasullah SAW dan semoga selalu terbingkai keluarga SAMARA serta mereka berdua saling berlompa meraih surge firdaus, Allahuma amin. Dari mana mereka dipertemukan, apakah sebelumnya sudah mengenal, apakah dijodohkan oleh guru ngaji atau ada scenario lain. Itu pertanyaan yang dilontarkan kepada ummahat yang menemani ia bercerita. Akhirnya diceritakan bagaimana pertemuan tersebut. Akhwat tersebut sedang menyelesaikan pascasarjana di Negeri Erdogan, negeri kejayaan islam pernah berjaya dan di negeri tersebut akan kembali mengagung kejayaan islam. Hal ini sudah terlihat bagaimana pemimpin negeri turki saat ini begitu gentlaman dan menantang negera Eropa tanpa takut dikucil. Ini ciri-ciri pemimpin yang idamakan oleh rakyat, begini pemimpin memiliki kewibawaan, ini pemimpin memiliki kedekatan padaNya, ini pemimpin memiliki visi sangat berbeda dengan pemimpin di beberapa didaratan arab.  Sedangkan suaminya sedang berpendidikan riyad bahkan akhwat maupun ikhwan belum pernah kenal sama sekali.

Ya begitulah jika Allah berkendak begitu mudah untuk mempertemukan dua manusia ingin membina rumah tangga. Walaupun belum pernah menggenal satu sama lain. Awalnya akhwat tersebut hanya menggenal bunda (sekarang menjadi mertua, red) sebagai anggota legislative pusat dari salah satu partai islam. Saat itu tujuan anggota dewan untuk study banding kenegara yang berbatas dengan Eropa maupun Asia. Selama anggota dewan disana selalu menamani untuk adventure dan akhwat menggunakan kesempatan untuk bertanyak segala hal. Dari diskusi dan pertemuan singkat itu melahirkan rasa kekaguman atas sikap seorang ibu yang luar biasa.

Memiliki kesibukan luar biasa diparlemen, dakwa dan menata keluarga islam mampu menciptakan anak-anak menyintai qurani yaitu kesemua anaknya menjadi hafizh al-quran. Itulah yang melatarbelakangi akhwat menggagumi. Bahkan pertemuan singkat dengan anggota dewan tersebut sempat dirangkai dalam pragraf-pragraf inspirasi dan dari puluhan kalimat terangkai, terdapat harapan, doa atau keinginan ingin memiliki seorang ibu berkarakter seperti itu.

Tulisan bersifat inspirasi dirangkai seindah mungkin dipublish blog pribadi. subhanallah hanya sebatas keinginan untuk memiliki ibu berkepribadian seperti itu yang ditemani beberapa hari dinegeri orang. Akhirnya Allah mengambulkan keinginan tersebut beberapa tahun kemudian menjadi ibu mertua. Padahal awalnya menulis hanya sebatas menginspirasi tetapi dibalik kalimat inspirasi itu, Allah menganggap itu adalah doa. Ini adalah kebiasaan yang sangat elegan bagi jiwa-jiwan mempunyai bakat menulis dimana setiap kisah, cerita, ide, opini dan keinginan selalu diwujudkan bentuk tulisan. Hikmah bagi ia yang suka menulis yaitu mendorong untuk menulis segala keinginan dalam uraian kalimat. Selain mengekalkan keinginan dan mampu melahirkan hikmah cinta bagi pembaca.

Begitu luas hikmah yang bisa dipetik dari  pertemuan akhwat dan ikhwan. Yang mula tak pernah bertegur sapa, semula tidak mengenal, awal berjauhan dimana akhwat dilahir ditanah Sumatra sedangkan ikhwan dipulau jawa. Akhwat menempuh pendidikan disumtra kemudian melanjutkan kuliah di Negeri yang memiliki masjid yang indah. Sedangkan ikhwah kuliah di negeri yang dijanji kemakmuran atau ketenangan (arab-saudi).  Selama mendengar kisah tersebut, selama itu pula bertasbih, saat itu pula menambah keyakinan bahwa janji Allah itu benar tinggal bagaimana manusia percaya atau tidak atas janji ilah.

Bagi akhwat tetaplah menjaga kesucian hati, tetaplah menutup pandangan, tetap optimis meskipun usia sudah layak untuk menikah tetapi belum juga bertanda-tanda ikhwan yang menghampiri. Yakinlah cara Allah mempertemukan dua manusia begitu rumit untuk diterka, percayalah cara Allah menyatukan dua insan secepat kilat yang menyambar, pahamilah belum datangnya laki-laki menyatakan rasa untuk meminang bukan berarti dirimu tak laku melainkan Allah sedang melihat sejauh man para akhwat percaya dengan janji Allah, sejauh mana bisa menjaga nafsu, sejauh mana bisa menjaga pandang dan merupakan bentuk Allah memberi kesempatan bagi akhwat untuk menambah skill maupun keilmuan sebanyak mungkin. Seperti kisah-kisah para ummahat atau umi-umi kita dipertemukan dengan cari yang sangat unik dan mengesankan.

Jika kisah dua hati ini, didokumentasikan dalam bentuk novel mungkin semakin kaya hikmah. Tentu memberi inspirasi tersendiri bagi ikhwah untuk menjaga hati dan pandangan. Betapa reward yang Allah berikan pada mereka yang mampu menjaga dan hati yaitu memperoleh pasangan yang didasari cinta karena Allah serta disatukan juga atas kecintaan padaNya. Inilah cinta yang terlahir dari mencintai perintah Allah, inilah cinta yang terlahir yang mengaplikasi segala tuntunan dari Rasullah sehingga membawa lapis-lapis keberkahaan serta meninggi ketauhidan.

Rasanya cerita singkat itu, menjadi pelanggi yang indah disiang hari. Tidak sia-sia menghabiskan waktu sejam mendengar romansa cinta yang diikat dalam sebuah ikatan yang diberkahai Allah. Ikatan yang sangat dianjurkan dalam islam dan ikatan itu ibarat telah menyempurnakan setengah dien. Selama perjalan masih tersenyum-senyum mengingat kisah inspirasi berakhir pada labuhan cinta karena Allah.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Mau Sampai Kapan Kita Jauh Dari Allah


Bismillah…

Tuhanmu berfirman, “Wahai anak Adam! Sempatkanlah beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan rasa cukup dan Aku akan memenuhi tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam! Janganlah menjauh dari-Ku. Jika demikian, Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku akan memenuhi tangan-Mu dengan kesibukan.” (HR. Hakim, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)

Mau Sampai Kapan Kita Jauh Dari Allah

Mau Sampai Kapan Kita Jauh Dari Allah

Masih banyak disekitar kita menemui orang-orang yang jauh dari Allah, hidup mereka dipenuhi dengan hal-hal tidak bermanfaat bahkan membuat hati semakin keras dan tidak bercahaya Seperti ia temui dijalan raya menuju kampus melihat segerombolan Bapak-Bapak yang berusia 40-60 Tahun dengan asyik menikmati domino, asyik menyambung ayam. Seharusnya usia menedekati detik-detik kehidupan harus dihabiskan dengan kebaikan. Tidak hanya itu, pernah pula menemui para wanita-wanita yang begitu seksi menjual kecantikan dengan berbagai dalil terkadang kecantikan dipergunakan sebagai modal untuk mengait mata laki-laki bermata keranjang atau atas nama kebebasan…#miris dan jauhkan kami dari hal-hal yang tidak Engkau cintai Rabbi.  

Mungkin pertemuan dengan para Bapak-bapak dan cewek-cewek cantik adalah cara Allah mengiring ia untuk berpikir, berkontaplasi serta mengambil hikmah. Senada dengan ungkapan Ibnu Qayyim berbahagialah manusia yang dianugrahi Agama, pikiran dan akhlak yang selalu bertautan dengan Rabbi.

Bagi kita yang masih merasa jauh, terutama bagi penulis sendiri!!! Sampai kapan mau jauh dari Allah. Apakah sampai kaya, sampai sukses, sampai terkenal, sampai bahagia, sampai punya anak, sampai punya istri/suami, sampai bumi dan seisinya milik kita, sampai mendepat musibah, sampai tua, sampai dapat bencana, sampai ada waktu luang atau sampai titik akhir kehidupan!!! Sesungguhnya kita tidak pernah puas dengan apa dicari maupun diperoleh.

Sejujurnya dengan dekat padaNya akan meraih posisi yang begitu indah, akan dipermudahkan segala urusan, disuguhi solusi yang tiada tara dan dicukupi persis seperti dialami Muhammad Alfatih mentakluk kota Konstenipol begitu memukai khalayak ramai bahkan menjadi pondasi bagi siapapun untuk meraih kesuksesaan harus didasari mencintai aturan Rabbi dan menjalankan perintahNya dengan penuh cinta serta istiqomah. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS. Ath Thalaq: 3). “Kalau sekiranya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tentu kamu akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, berangkat pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.”(HR. Tirmidzi, ia mengatakan, “Hadits hasan shahih.”)

Atau kita merasa bahagia, merasa tenang, merasa gagah, merasa kampiun, merasa tercukupi dengan menjauhi Allah!!! Atau dengan menjauhi Allah kita diberkahi keberlimpahaan seperti realitas sering dijumpai bahwa mereka jauh dari Allah, kok berkelimpahan kenikmatan bahkan penghormatan dari lingkungan sedangkan mereka yang dekat dengan Allah dicibiri bahkan dianggap sok suci. Mungkin juga dengan menjauhi Allah merasa sebebasnya tanpa batas. Kenapa kita yang terus bersujud, berdoa, memperbaiki diri dan berdakwah sepertinya hidup begitu saja. Mungkin pernyataan tersebut terbesit dihati. Mari kita istiqfar terus menerus agar bisa mengusir persepsi tersebut dalam pikiran.

Dari ‘Uqbah bin Amir, dari Rasulullah SAW: “Apabila engkau melihat Allah mengaruniakan dunia kepada seorang hamba sesuai dengan yang ia inginkan, sementara ia tenggelam dalam kemaksiatan, maka ketahuilah itu hanya istidraj darinya”, kemudian Rasulullah SAW membaca firman: “ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”.

Ibnu Abbas menjelaskan firman Allah ‘Azza wajallah: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Setiap kali mereka melakukan satu kesalahan kami beri mereka nikmat yang baru dan kami lupakan mereka untuk beristighfar.

Sesungguhnya kita tahu bahwa kematian selalu mengintai . Sanggupkah kita bertemu Allah dalam keadaan berlumur dosa, sanggupkah kita bersua Rabbi saat dipenuhi kerakusan dunia, sanggupkah kita berjumpa Ilah ketika dipenuhi dengan jiwa-jiwa yang tidak disinari cahaya ilahi. Tentu tidak sanggup dan tidak berdaya??? Tetapi Kenapa kita masih tetap menjauhiNya baik dari sisi Akhlak, sisi Iman,  tujuan dan sisi lainnya.

Entah apa yang mendorong dan memotivasi mereka masih menjauhi Allah pemilik segalanya serta menentukan kehidupan. Padahal segala kenikmatan sudah diberikan, hanya saja tidak pernah merasa nikmat tersebut. Apakah tidak menyadari bahwa Allah itu selalu memantau? Apakah tidak butuh Allah? Apa kita berpikir bahwa hidup akan kekal selamanya, apaka kita berpikir bahwa Allah tidak akan meminta pertanggungjawab atas perilaku kita, apakah beranggapan Allah akan meyelamati kita api neraka meskipun penuh dengan dosa-dosa sehingga kita masih tetap menjauhi Allah.

Pada akhirnya, buka hati dan pikiran kita untuk merenung. Apa melatarbelakingi kita masih betah, bertahan untuk menjauhi Allah dan menikmati hidup tanpa aturanNya. Bukankah hidup tidak kekal dan sejauh-jauhnya berjalan akan ada akhirnya dan sebebas-bebasnya akan rindu untuk menggadu padaNya.

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Semua Sisa untukNya


 

Bismillah…

Tadi sore mendapat taujih dari group ODOJ (One Day One Juz), padahal dikirim setelah asar dan baru bisa kebaca setelah magrib sebab sesampainya dirumah tiba-tiba seluruh tubuh mengigil. Mungkin rendahnya suhu tubuh dipengaruhi seharian diruangan ber-AC, selama dalam ruangan sangat adem tanpa menggunakan jaket, dan biasanya berada disuhu dingin harus menggunakan baju tebal. Taujih terse

Semua sisa untukNya

but diperoleh dari ustad kondang dari tanah pasundan (KH.Abdullah Gymnastiar) yang menjelaskan mengapa manusia banyak memberi “SISA” pada pemilik jiwa manusia.

Sholat hanya sisa kesibukan, sedekah sisa belanja dan jajan, zikir sisa ngobrol, membaca Al-quran sisa SMS/BBMan, mencari ilmu sisa main dan jalan-jalan, pokoknya serba sisa-sisa-sisa…!!! Sungguh kita terlalu bersikap seperti itu.

Perlu kita bertanya dengan dirisendiri, perlu komunikasi dengan dirisendiri dan ada apa dengan kita sehingga teruntuk Allah selalu kebagian sisa. Sedangkan yang berkaitan dengan dunia selalu diutamakan, diprioritaskan dan selalu tepat waktu. Apakah benar jiwa kita sudah dipenuhi tujuan dunia, apakah benar uang adalah segalanya, apakah benar jabatan dan pekerjaan membuat kita lupa untuk memujiNya. Tanyalah dengan penuh kekhusyukkan, ketenangan dan rasa menyesal “Mengapa hanya memberi SISA teruntukNya”!!!

Padahal Allah mengaruniakan segala yang terbaik untuk kita siang dan malam. Padahal kebahagiaan, keselamatan, dan kemulian sepenuhnya ada dalam genggamanNya. Jika Allah sudah berkehendak begitu mudah mengatakan Kun Fayakun, bukankah bumi dan seisinya adalah tentara Allah. Padahal musibah dan kematian kian dekat. Padahal segalanya pasti diperhitungkan apa yang telah kita kerjakan dan pasti ada balasannya yang setimpal.

Apakah kita tidak rindu mendapat keberkahaan dariNya, apakah kita tidak ingin dimuliakan oleh Allah dunia dan akhirat, apakah kita tidak menginginkan surgaNya yang berlimpah kenikmatan tidak sebanding dengan kenikmatan dunia, apakah kita tidak  ingin ketenang jiwa dengan berbanyak mengingatNya, apakah kita tidak berharap menjadi golongan yang diselamatkan nanti di yaumil akhir dan apakah tidak rindu untuk bertemu dengan Rasullah SAW.

Mumpung masih ada waktu, mumpung masih ada kesempatan, dan mumpung badan masih sehat kita perbaiki itu semua. Utamakan waktu untuk beribadah padaNya, utamakan waktu untuk terus menambah ilmu pengetahuan, dan utamakan waktu untuk membantu sesama.

Ya Rabbi…Jangan jauh dari hamba yang sangat membutuhMu disetiap detak jantung, disetiap kaki melangkah, dan disetiap mata memandang.

Ya Rabbi…Maafkan ana begitu terlena dengan dunia, terlalu sibuk hal tidak berkepentingan, terlalu sibuk menghabis waktu yang membuat ana semakin jauh dariMu.

Ya Rabbi, jika ana terlalu jauh dari Mu berikan ujian padaNya agar bisa dekat dengan Mu, agar bisa khusyuk bersujud pada Engkau, Agar ketika berdoa padaMu mampu meneteskan air mata taubat. Agar mulut selalu melantunkan namaMu dan agar kaki ini melangkah pada tempat Engkau Ridahoi.

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki  

Sesungguhnya makhluk di bumi dan di langit bertasbih


Bismillah…

” Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Qs. An-Nur:41)

Sesungguhnya makhluk di bumi dan di langit bertasbih

Sesungguhnya makhluk di bumi dan di langit bertasbih

Memadang alam dikala malam, pagi, dan senja memberi ketenangan dalam jiwa. Terkadang untuk menulis ia harus ditemani keindahan alam, alam selalu memberi ide-ide segar untuk dirangkai.  “Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata” (QS. Qaaf:7). Ketika melihat fenoma alam yang elagan ingin berteriak, terkadang muncul perasaan ketakjuban bahwa Allah begitu cinta pada hambaNya yang menghadir keindahan itu semua secara Cuma-Cuma. “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin” (QS. Adz Dzaariyaat:20). Setiap melihat keindahan alam ingin tetap menatap, mendokumentasi dan tiba-tiba bertanya pada jiwa mungkin seperti itu alam bertasbih pada Allah.

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS. Al Israa’:44)

Keindahan Alam itu tidak mungkin jadi begitu saja  seperti dikatakan Sayyid Qutb memberikan kiat, janganlah kita menganggap bahwa fenomena alam yang terjadi di sekeliling kita ini adalah suatu rutinitas yang terjadi begitu saja. Tetapi, cobalah memikirkan bahwa sesungguhnya ada sentuhan dari sebuah kekuasaan yang sangat besar, yang tidak bisa digapai manusia yaitu kekuasaan Allah swt yang menyebabkan terjadinya fenomena alam yang begitu ajaib, unik, aneh, dan teratur.

Semua keindahan yang diciptakan dengan ukuran yang sangat sempurna, Allah lengkapi senja dengan kekilauan, Allah cipta pelangi dengan warna-warninya tidak pernah pelangi menampakan diri dengan satu warna, Allah ciptakan angin sepoi-sepoi yang sangat sejuk tidak pernah Allah ciptakan angin dengan suhu sangat dingin seperti es, Allah ciptakan matahari dengan cahaya yang sangat menghangat tidak pernah Allah ciptakan kekilauan cahaya seperti panasnya api, dan Allah ciptakan salju dengan kelembutannya tidak pernah Allah ciptakan salju seperti batu. Kesemua itu sudah Allah lunakkan untuk manusia dan semua Allah ciptakan dengan berpasang-pasangan. “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran” (QS. Al Hijr: 19). “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya” (QS. Saba’:10). “Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia” (QS. Al Hajj:65)

Terkadang keindahan alam tersebut dirusakkan oleh manusia, beranggapan bahwa bumi yang dihadirkan adalah untuk dirusak, untuk dieksplotasi semaunya-maunya sehinga menciptakan bencana dimana. “Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS. Al Baqarah:11)

Semua yang ciptakan hanya untuk manusia bukan untuk siapapun, agar manusia mendapat pentunjuk, mendapat memakan agar survival dibumiNya, agar bisa menyampaikan ayatNya pada mereka belum tersentuh dengan agama kasih, dan bisa mengambil hikmah dari proses keindahan alam. “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk” (QS. An Nahl:15). “Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam” (QS. Thaahaa:53)

Subhanallah…alam saja tidak pernah henti-henti bertasbih pada Rabbi tapi bagaimana dengan kita apakah hidup kita dipenuh dengan bertasbih padaNya atau disibukkan mengejar dunia??? Atau sibuk dengan amanah yang kita inginkan? Padahal Alam ketika Allah berikan amanah meraka tidak sanggup mengemban amanah tersebut tapi berbeda dengan manusia dengan amanah atau jabatan begitu senang, demi jabatan menghalalkan segala cara, berani memfitnah agar mendapat jabatan tersebut dan ketika jabatan sudah diperoleh manusia sibuk dengan dunia bahkan sombong minta ampun, mengeluh dan sangat jarang kita mensyukuri nikmat Allah. “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur” (QS. Al A’raaf:10).

 

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Pemuda Zaman Sekarang Lebih Sering ke Rumah Pacar Dibandingkan ke Rumah Allah


Bismillah…

Pemuda Zaman Sekarang Lebih Sering ke Rumah Pacar Dibandingkan ke Rumah Allah

Pemuda Zaman Sekarang Lebih Sering ke Rumah Pacar Dibandingkan ke Rumah Allah

Dari judulnya saja kita sudah tahu bagaigamana kelakuan pemuda zaman sekarang. begitu miris sekali membacanya mengapa demikian karena Rumah Allah yakni Masjid yang wajib kita kunjungi setiap saat
justru para pemuda malah enggan sekali mendatanginya. Saya berani menyebutkan hal demikian karena saya sudah beberapa kali ke mesjid dan berbeda – beda masjid namun yang saya lihat penduduk masjidnya yakni para Manusia yang sudah lanjut usia.

Hari yang mereka tunggupun hari Minggu bukannya hari Jum’at, pasalnya ketika malam minggu datang para Pemuda mempersiapkan diri untuk mengunjungi rumah pacarnya, bahkan ada juga yang mendatangi rumah pacarnya tidak malam minggu saja melainkan setiap hari. Huh sangat miris sekali.

Untuk para pemuda coba anda pikirkan lagi mengapa anda sering sekali mengunjungi rumah pacar anda dibandingkan masjid

Apakah keuntungannya mengunjungi rumah pacar ?? Bila anda menjawab PERHATIAN, kamu lebih memperhatikan pacarmu yang belum tentu itu pendampingmu dimasa nanti dibandingkan kamu memperhatikan ibadahmu untuk bekal hidup dialam nanti

Coba anda bayangkan jika pacarmu itu yang sering kamu kunjungi rumahnya dan selalu membawa bingkisan dengan modal yang sangat banyak akan memputuskan jalinan hubunganmu !! Pati kamu akan merasa rugi dan kesal jika menerima itu semua, Tetapi anda bayangkan jika setiap saat yang kamu kunjungi itu rumah Allah yakni masjid dan selalu melaksanakan perintahnya !! Tidak ada kata rugi boy jika itu dilakukan karena Allah tidak akan memutuskanmu meskipun engkau berbuat yang tidak baik kepadanya.

So mulai dari sekarang rubahlah dirimu, rubahlah sikapmu, rubahlah kebiasaanmu wahai Pemuda untuk selalu menuruti apa yang Pencipta kita mau mulai dari yang kecil misalnya memberi Kratindaeng kepada beberapa orang supaya spirit sehari-harinya bisa bertambah sampai yang besar yaitu Selalu mengunjungi Rumah Allah setiap saat untuk beribadah dihadapannya

sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/27/pemuda-zaman-sekarang-lebih-sering-ke-rumah-pacar-dibandingkan-ke-rumah-allah-620135.html

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

%d bloggers like this: