Allah Memiliki Cara Cantik Untuk Mempertemukan Dua Hati Manusia


dakwa3Semari menunggu kehadiran mahasiswa, duduk diruagan tunggu mahasiswa semari menikmati tayangan yang bergejolak di Indonesia kebetulan tayangan ditonton pagi menjelang siang yaitu seputar Budi. Tidak sekarang aja budi terkenal melainkan sejak SD kita sering diajar tentang Budi dan budi benar-benar memberi pesona berbeda bagi siapapun yang pernah menggenal budi. Ketika asyiknya menonton tayang yang bergejolak tiba-tiba salah satu dosen menghampiri, bercerita dan tertawa. Dari sekian banyak teman mengajar disalah satu kampus negeri tempat mengabdi, dosen berinsial M merupakan teman yang sering ngombrol dari berbagai perspektif.

Tiba-tiba bertanya tentang seorang akhwat dan ikhwah yang baru menikah. Baru menjalankan Sunnah Rasullah SAW dan semoga selalu terbingkai keluarga SAMARA serta mereka berdua saling berlompa meraih surge firdaus, Allahuma amin. Dari mana mereka dipertemukan, apakah sebelumnya sudah mengenal, apakah dijodohkan oleh guru ngaji atau ada scenario lain. Itu pertanyaan yang dilontarkan kepada ummahat yang menemani ia bercerita. Akhirnya diceritakan bagaimana pertemuan tersebut. Akhwat tersebut sedang menyelesaikan pascasarjana di Negeri Erdogan, negeri kejayaan islam pernah berjaya dan di negeri tersebut akan kembali mengagung kejayaan islam. Hal ini sudah terlihat bagaimana pemimpin negeri turki saat ini begitu gentlaman dan menantang negera Eropa tanpa takut dikucil. Ini ciri-ciri pemimpin yang idamakan oleh rakyat, begini pemimpin memiliki kewibawaan, ini pemimpin memiliki kedekatan padaNya, ini pemimpin memiliki visi sangat berbeda dengan pemimpin di beberapa didaratan arab.  Sedangkan suaminya sedang berpendidikan riyad bahkan akhwat maupun ikhwan belum pernah kenal sama sekali.

Ya begitulah jika Allah berkendak begitu mudah untuk mempertemukan dua manusia ingin membina rumah tangga. Walaupun belum pernah menggenal satu sama lain. Awalnya akhwat tersebut hanya menggenal bunda (sekarang menjadi mertua, red) sebagai anggota legislative pusat dari salah satu partai islam. Saat itu tujuan anggota dewan untuk study banding kenegara yang berbatas dengan Eropa maupun Asia. Selama anggota dewan disana selalu menamani untuk adventure dan akhwat menggunakan kesempatan untuk bertanyak segala hal. Dari diskusi dan pertemuan singkat itu melahirkan rasa kekaguman atas sikap seorang ibu yang luar biasa.

Memiliki kesibukan luar biasa diparlemen, dakwa dan menata keluarga islam mampu menciptakan anak-anak menyintai qurani yaitu kesemua anaknya menjadi hafizh al-quran. Itulah yang melatarbelakangi akhwat menggagumi. Bahkan pertemuan singkat dengan anggota dewan tersebut sempat dirangkai dalam pragraf-pragraf inspirasi dan dari puluhan kalimat terangkai, terdapat harapan, doa atau keinginan ingin memiliki seorang ibu berkarakter seperti itu.

Tulisan bersifat inspirasi dirangkai seindah mungkin dipublish blog pribadi. subhanallah hanya sebatas keinginan untuk memiliki ibu berkepribadian seperti itu yang ditemani beberapa hari dinegeri orang. Akhirnya Allah mengambulkan keinginan tersebut beberapa tahun kemudian menjadi ibu mertua. Padahal awalnya menulis hanya sebatas menginspirasi tetapi dibalik kalimat inspirasi itu, Allah menganggap itu adalah doa. Ini adalah kebiasaan yang sangat elegan bagi jiwa-jiwan mempunyai bakat menulis dimana setiap kisah, cerita, ide, opini dan keinginan selalu diwujudkan bentuk tulisan. Hikmah bagi ia yang suka menulis yaitu mendorong untuk menulis segala keinginan dalam uraian kalimat. Selain mengekalkan keinginan dan mampu melahirkan hikmah cinta bagi pembaca.

Begitu luas hikmah yang bisa dipetik dari  pertemuan akhwat dan ikhwan. Yang mula tak pernah bertegur sapa, semula tidak mengenal, awal berjauhan dimana akhwat dilahir ditanah Sumatra sedangkan ikhwan dipulau jawa. Akhwat menempuh pendidikan disumtra kemudian melanjutkan kuliah di Negeri yang memiliki masjid yang indah. Sedangkan ikhwah kuliah di negeri yang dijanji kemakmuran atau ketenangan (arab-saudi).  Selama mendengar kisah tersebut, selama itu pula bertasbih, saat itu pula menambah keyakinan bahwa janji Allah itu benar tinggal bagaimana manusia percaya atau tidak atas janji ilah.

Bagi akhwat tetaplah menjaga kesucian hati, tetaplah menutup pandangan, tetap optimis meskipun usia sudah layak untuk menikah tetapi belum juga bertanda-tanda ikhwan yang menghampiri. Yakinlah cara Allah mempertemukan dua manusia begitu rumit untuk diterka, percayalah cara Allah menyatukan dua insan secepat kilat yang menyambar, pahamilah belum datangnya laki-laki menyatakan rasa untuk meminang bukan berarti dirimu tak laku melainkan Allah sedang melihat sejauh man para akhwat percaya dengan janji Allah, sejauh mana bisa menjaga nafsu, sejauh mana bisa menjaga pandang dan merupakan bentuk Allah memberi kesempatan bagi akhwat untuk menambah skill maupun keilmuan sebanyak mungkin. Seperti kisah-kisah para ummahat atau umi-umi kita dipertemukan dengan cari yang sangat unik dan mengesankan.

Jika kisah dua hati ini, didokumentasikan dalam bentuk novel mungkin semakin kaya hikmah. Tentu memberi inspirasi tersendiri bagi ikhwah untuk menjaga hati dan pandangan. Betapa reward yang Allah berikan pada mereka yang mampu menjaga dan hati yaitu memperoleh pasangan yang didasari cinta karena Allah serta disatukan juga atas kecintaan padaNya. Inilah cinta yang terlahir dari mencintai perintah Allah, inilah cinta yang terlahir yang mengaplikasi segala tuntunan dari Rasullah sehingga membawa lapis-lapis keberkahaan serta meninggi ketauhidan.

Rasanya cerita singkat itu, menjadi pelanggi yang indah disiang hari. Tidak sia-sia menghabiskan waktu sejam mendengar romansa cinta yang diikat dalam sebuah ikatan yang diberkahai Allah. Ikatan yang sangat dianjurkan dalam islam dan ikatan itu ibarat telah menyempurnakan setengah dien. Selama perjalan masih tersenyum-senyum mengingat kisah inspirasi berakhir pada labuhan cinta karena Allah.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Kalau dia Sholeha, Pasti Diterima


 

Bismillah…

Kalau dia Sholeha, Pasti Diterima

Kalau dia Sholeha, Pasti Diterima

Ketika membuka account blog keroyokan (kompasiana) yang sudah lama ditinggal penghuninya, tiba-tiba terbaca keromantisan pasang yang baru menyempurnakan dien. Tentu saat membaca artikel tersebut tertawa sendiri bagaimana ilustrasi Allah mempertemukan mereka yang tidak pernah terbayangkan, ternyata pasangan sedang berbahagia berproses menuju keluarga sakinah, mawadah, dan waramah sama-sama anggota kompasiana. Dari banyaknya bacaan yang terangkai, ada satu kata mengelitik jiwa terdalam dan penuh makna begitu dalam untuk direnungi.

Kalimat tersebut langsung dicatat ditablet untuk dirangkai ketika ada waktu luang akan menulis dalam bersepektif wanita, dibagi pada pembaca dan tentu kalimat itu juga akan direnungi penuh cinta maupun makna bagi ia sedang berproses terus menerus untuk menjadi wanita sholeha. Insyallah.

Akhwat yang menerima laki-laki yang diceritakan dikompasiana tersebut benar-benar wanita sholeha karena ia begitu ikhlas menerima laki-laki yang meminta pada orangtuanya. Mungkin ia bisa mendapat laki-laki yang cakep dari tampan, cakep dari finansial, dan cakep dari style. Padahal laki-laki yang datang memiliki kekurangan fisik sedang wanita tersebut dari sisi fisik cantik, anggun dan sholeha tapi begitu ikhlas mengatakan siap menerima sebagai teman hidup. Tanpa mempermasalahkan kondisi laki-laki tersebut. Bahkan laki-laki itu pun yakin bahwa wanita sholeha yang akan mau menerimanya dengan kondisi tubuh yang tidak sempurna. Subhanallah, Allah sudah mempertemukan mereka dengan cinta, keberkahaan dan dilindungi dengan cintaNya. Allahu Akbar, Engkau begitu adil, penyayang, dan meletak sesuatu pada tempat yang indah. Semoga kalian berdua bahagia dunai dan akhirat serta sebagai tauladan bagi akhwat lainnya. Keshalihan mu benar teruji dan memberi keniscayaan bagi akhwat lain terutama yang membaca kisah kalian disiang-siang hari, langsung terhentak dan menanya pada jiwa. Mungkinkah ia bisa seperti wanita sholeha itu! Apakah ia sudah sholeha! Jangan-jangan sholeha hanya sebatas ucapan tapi miskin aplikasi!. Rabbi, tuntun hati, pikiran dan sikap ini untuk menjadi wanita shaliha.

Ya Allah ia cemburu dengan wanita sholeha tersebut begitu ikhlas menerima tanpa banyak mempertimbangkan, tanpa banyak syarat, tanpa banyak standar dan diperhatikan hanya keimanan. Sungguh ia cemburu dengan sikap, keikhlasan dan ketawadukan mu menerima laki-laki itu. Hanya wanita istimewa, wanita sholeha dan wanita anggun menerima laki-laki seperti itu. Allah sungguh indah scenario pertemuan Mu pada pasang itu yang membuat ia terharu dan berzikir padaMu. Kekalkan cinta mereka hingga maut memisah, tumbuhkan selalu rasa cinta, saling mengerti dan selalu merindui agar mereka mudah berlayar dibahtera rumah tangga yang Engkau ridhoi. Semoga terlahir anak sholeh/a yang meneruskan dakwah penuh tantangan ini dan menghiburkan hati mereka ketika ada gelombang menghampiri.

Bagi kita yang mengakui sebagai wanita sholeha! Benarkah kita menilai atau menerima laki-laki dari keimanan? Benarkah kita menilai atau menerima laki-laki dari akhlaktukhorima? Benarkah kita menilai atau menerima laki-laki dengan sikap yang santun dan bijak? Benarkah kita menilai atau menerima laki-laki dari kesederhanaan? Benarkah kita menilai atau menerima laki-laki dari amal sholehnya? Atau jangan-jangan kita menilai atau menerima laki-laki bukan dari factor tersebut melainkan dari sisi yang lain.

Jika kita mengakui wanita sholeha tapi menilai atau menerima laki-laki lebih menonjolkan sisi ketampanan, kemampanan dan keterunannya sesungguhnya kesholehan kita perlu dipertanyakan!!! Semoga yang sedang menanti ditemui dengan seseorang yang pantas menemani dunia akhirat, orang bisa menerima kekurangan untuk diperbaiki sama-sama, orang yang selalu mencintai dengan segala kondisi, dan terus mengajak jiwa mendekati padaNya.

Pada akhirnya, wanita sholeha maupun laki-laki sholeha akan bisa menerima kekurangan itu.

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Agar surga berada ditelapak kaki mu akhwat maka menikahlah


Bismillah…

Agar surga berada ditelapak kaki mu akhwat maka menikahlah...

Agar surga berada ditelapak kaki mu akhwat maka menikahlah…

Dua jam sudah berada di toko buku ternama di indonesia, mondar-mandir melihat buku-buku yang terjejer tetap tak satupun buku tertarik untuk dibeli karena niat awal menuju toko ingin mencari buku referensi untuk mengajar. Secara setahun belum sempat mengupgrade references karena seorang pendidik yang profesional dan kredibilitas harus selalu upgrade keilmuan baik melalui referensi tercetak maupun elektronik.

Entah kenapa bebarapa bulan ini tertarik untuk membaca novel bernafas islam sebab dengan membaca bisa merangsang otak untuk mengeluarkan ide-ide cemerlang khusus ide untuk menulis. Bagi ia membaca novel adalah faktor utama membangkit daya imajinasi menulis, bahkan dengan membaca novel tersadari bahwa benda-benda disekitar kita bisa menjadi referensi untuk menulis, hanya tinggal bagaimana kita berusaha keras untuk terus menulis.

Satu persatu telah dilihat maupun dipegang, tapi tetap belum ada tersentuh untuk membeli sekian banyak buku bestseller dipajang. Daripada ketoko buku tak menghasilkan apa-apa mendingan membaca buku yang telah dibuka sampul. Jiwa dan pikiran pun terbawa untuk melangkah kerak nomor tiga didepan kasir, tepat disana dijejerkan novel ternama yang ditulis anak bangsa misalnya hasil karya Asma Nadia dengan berbagai macam judul, ada karya kang abik dan lainnya.

Sangat pas banget disana ada karya kang apik yang merupakan favorit ia, bahkan setiap karya dikeluarkan kang apik harus dimiliki,  tanpa basa basi dan malu-malu langsung menyentuh novel tersebut dengan judul cinta zahrani. Sebenarnya sudah pernah dengar cerita teman tentang kisah hidup dan cinta zahrani namun tetap tertarik untuk membaca. Ia tahu bahwa ada magnetik sendiri ketika membaca hasil karya kang abik.

Heeemmm langsung cari posisi enak untuk dibaca mumpung sore tersebut tidak ada jadwal apapun jadi bisa bebas untuk menikmati suasa luar. Kebetulan juga ada kursi kosong dekat komputer pencarian informasi buku.

Lembar berlembar sudah lahap dibaca ibarat menikmati makan lezat di restoran termahal menikmati huruf yang terjejer dalam novel tersebut. Subhanallah ternyata novel tersebut sangat menyentil hati seorang akhwat yang selama ini lebih fokus dengan pendidikan dan karier sangat jarang banget membahas tentang sebuah pernikahan. Walaupun membahas pernikahan itu hanya pada momentum ketika teman seperjuangan atau teman tarbiyah menikah setelah itu sangat jarang membahas. Hari-hari lebih banyak membahas tentang bigdream dan membahas tentang materi kuliah.

 Bahkan dalam keluarga pun ia tak mengatakan bahwa ia siap untuk menikah walaupun dalam hati terdalam sudah siap menikah heeemmm…”curhatandlebay”. jangan-jangan diam tersebut masih ada mimpi lain ingin diwujudkan sehingga kewajiban sesungguh terlupakan….”Ya Allah semoga hati tidak keras dan semoga tidak mencuekin perasaan”. “cieeeee cerita mulai tingkat dewa sedang bergalau sambil teriak diatas gunung hooooo”

Setiap lembaran, setiap bab hingga kesimpulan ada satu makna tertanggap yaitu bagaimana mendapat surga dikaki bu. Syarat utama untuk mendapat predikat atau kandidat surga ditelapak kaki ibu maka wanita atau akhwat harus menikah dulu. Jadi bagaimanapun sholeh seorang wanita, bagaimanpun cerdasnya seorang wanita, bagaimanapun hormatnya pada orang tua tetap tak pernah bisa mendapat gelar begitu mulia tersebut.

Wanita mana sich tak rindu dengan gelar tersebut, wanita mana sich tak ingin mendapat gelar tersebut, wanita mana sich tak iri melihat wanita lain mendapat gelar tersebut. Tentu untuk mendapat tersebut sangat mudah yaitu dengan menikah. Walaupun syarat sangat gampang tapi tidak semua wanita siap memenuhi syarat tersebut karena begitu banyak pertimbangan dan permasalahan harus dihadapi.

Apakah dengan menikah kita sudah mendapat gelar tersebut tentu jawaban belum karena harus memenuhi dan menjalankan syarat tersebut dengan amanah, cinta dan sesuai dengan aturan Allah.

Rabbi, Hamba ingin memperoleh predikat tersebut tapi terkadang keinginan tersebut terbentur dengan keinginan yang lain yang begitu embisus. Ia tahu bahwa hakikat kehadiran wanita di bumi yaitu diwujudkan menjadi ibu sholeha yang dibawah telapak kakinya terdapat surga. Walaupun ia tahu bahkan sering mendengar kajian ditambah lagi dengan sentilan novel yang dibaca dibuku tersebut semakin merasa iri sangat egois dan beranggapan hal itu remeh.

Tujuan menikah tidak hanya meraih predikat mulia tapi ada hal lain yang tak mungkin dirasakan oleh mereka-mereka yang masih lajang.”Ayo segara menikah ukhti…” heeemm.

Coba bayangkan ketika pulang kerumah saat bekerja disambut dengan senyum anak-anak yang sholeh maupun sholeha, coba bayangkan ketika direbutkan dengan kesibukan mempersiapkan pakaian maupun makanan mereka ketika berangkat kesekolah, coba bayangkan bagaimana indahnya ketika mereka bisa berbicara dengan memanggil dengan sebutan bunda, coba bayangkan betapa harmoninya dunia ketika melepaskan anak untuk melanjutkan kuliah keperantauan, coba bayangkan betapa bersyukurnya ada yang mendoakan ketika tak ada nanti, coba bayangkan betapa sedapnya bisa menggengam tangan anak semari bercerita dengan bundanya dan coba bayangkan betapa besarnya pahala yang diperoleh bunda saat memiliki anak.

Jadi sudah dibayangkan betapa nikmatnya menjadi ibu kemudian meraih gelar sangat mulia yaitu sangat pantas surga berada ditelapak kaki ibu. Ayooooo segera sempurnakan dien terkhusus bagi penulis sendiri hooooooo….”smile and happy”.

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Teruntuk ukhti yang masih istiqomah dijalan yang indah


Bismillah….

Teruntuk ukhti yang masih istiqomah dijalan yang IndahUKhti…Ana tahu kalian susah untuk menjaga keistoqomahan dijalan yang indah ini. Ana juga tahu kalian terkadang berperang dengan perasaan sendiri antara istiqomah dan berhenti. Ana juga paham sering pula lingkungan sekitar belum bisa menerima kalian terutama dengan dandanan dipakain setiap hari diidentika tidak modern dan seksi.  Ana juga merasakan ada pihak lain melabelkan kalian nyeleh gara-gara kalian tidak mau bersalam dengan lawan jenis, kemana-mana menggunakan kaos kaki, manset tangan, pakaian ukuran dauble, kerudung harus menutup dada bahkan menutupi seluruh badan. Tapi jangan bersedih ukhti sesungguh kalian kelihat anggun dan wanita sesungguhnya yang menjaga Ijah dan martabat.

Teruntuk ukhti yang masih istiqomah dijalna yang indah. Ana tahu sangat berat bagi ukhti menjalankan syariat tersebut, tapi tetaplah dijalan yang indah ini walaupun begitu banyak godaan yang menerpa kalian. Ingat ukhti dijalan yang indah ini, insyallah akan memperoleh wanita sholeha dan ganjaran bidadari surge, Allahuma amin jika dibanding bumi dan seisinya itu semua tak berarti.

Ukhti, jangan pernah puas dengan hadiah tersebut hendaknya kita selalu mengupgrade kedekatan hati kita padaNya agar kita termasuk hambaNya meraih cinta, keberkahaan dan mahfirohNya.

Ukhti, jika istiqomah dijalan yang indah karena ikhlas dan niat toyyib bukan factor lain, Insyallah Allah akan memperindah akhlak kita dengan cahayaNya, membuat kita anggun dengan kesempurnaanNya.

Ukhti yang masih istiqomah dijalan yang indah hingga batas waktu. Ana ucapkan selamat-selamat-selamat atas kebetahan ini dan harus ana katakana kalian adalah orang-orang terpilih menurut Allah dan seleksi Alam. Terbukti kalian masih istiqomah dimana sebagian wanita lain bergitu gemar mengeskplotasi aurat mereka dengan berbagai bentuk penyimpangan.

Mari ukhti yang masih istiqomah dijalan indah dan rindu cinta Allah, kita doa saudara kita (Muslimah) belum terbuka hati untuk menggunakan pakaian taqwa seperti penjelasa Al-quran. Sehingga mereka tertarik dan ikhlas menggunakan karena Allah bukan atas desakan orang lain atau ikut trend.

Terimakasih Allah, Engkau kuatkan hati, kuat niat, kuat perjuangan kami dijalan indah ini. Tanpa cinta dan keberkahaan tentu belum bisa bertahan dijalan yang indah ini. Kami tetap akan bersyukur dan mensyukuri atas hidayah Engkau mempertemukan kami dengan orang-orang sholeha yang selalu mengingati kami untuk terus bertahan dan memperharui keimanan kami.

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Mau tahu kenapa banyak Ikhwah melankolis


Bismillah…

Ukhti bakal cerita bagi pengunjung blog “simfonikehidupan” kenapa semakin banyak ikhwah berkarakter melankolis lihat saja distatus Facebook, twiit, maupun blog mereka selalu nuansa melo “cinta”.

Tidak dipungkiri nuasa cinta dalam kehidupan ikhwah tidak akan habis jika dibahas dalam berbagai sisi. Sungguh cinta dalam kehidupan para ikhwah sangat misterius, uniq, dan elegan…”setujukan dengan pendapat ukhti”

Apakah ikhwa bermelo disebabkan falling in love, bahagia, menyemangati diri sendiri, sedang galau tingkat tinggi atau hanya sebatas status palsu, “silahkan dipilih aja ya mana cocok bagi ikhwah hohohoooo”.

Sedangkan islam menuntut hambanNya berkepribadian militan seperti dijelaskan seorang ustad dalam acara training ADK bahwa Allah mencintai hambaNya yang kuat seperti kehidupan Rasullah selalu mengasah kemilitan beliau melalui Olah raga Memanah, berkuda, dan berenang bukan arti Rasullah dalam kehidupan beliau tidak romantic bahkan romatisnya Rasullah tidak bisa ditandingi siapapun seperti pernah dikupas dalam buku Muhammad Saw the inspiring romance. Jadi sangat diharuskan para ikhwah untuk memiliki jiwa militan dan romance. “asyiikkkk”

Baiklah ukhti kasih tahu buat antuna semua ternyata penyebab dan korelasi meningkatnya ikhwan melo. Pertama dipengaruhi bacaan, lihat aja ikhwah lebih banyak membaca novel berbau cinta “mulai ayat-ayat cinta, ketika cinta bertasbih, bumi cinta, dll. Dibandingkan membaca siroh Nabawiyah dan coba Tanya sama teman kita sudah khatam siroh atau sudah berkali-kali baca novel, dipastikan jawabannya belum khatam siroh termasuk ukhti huakkkssss…”moga kedepan ukhti lebih banyak siroh dari Novel”

Kedua dipengaruhi tontonan apalagi saat boomingnya film ayat-ayat cinta sejak itu dibanjiri film cinta bernuansa islam. Sebaik dan seharusnya ikhwah hendak lebih selektif menonton jangan sampai terlena dengan konsep islamnya tapi tidak memberi pengaruh pada pemahaman kita. Yukk ikhwah keren kita berbanyak menonton yang dapat meningkatkan knowledge, skill, emosional and attitude. Bukan berarti kita tidak boleh nonton seperti itu, sangat diperboleh namun ada baiknya coba mengimbangi tontonan kita agar tidak terlalu melo bangetlah!!!

Ketiga dipengaruh music “Nasyid”, rata-rata nasyid diciptakan para ikhwah lebih dominan berkarakter cinta bahkan jarang nasyid perjuangan dijalan Allah. Walaupun nasyid berkarakter perjuangan masih sedikit tapi tetap kehadiran para nasyider Shotul Haraqah, Izzis mampu membakar gairah para pejuang…”Allahu Akbar”

Jadi itu loohhh factor mendorong ikhwah melo apalagi dengarin Nasyid Maidany “jangan jatuh cinta”, Edcoustic “nantikan ku dibatas waktu”, Sigma “istikarah cinta”, Tasiru “maaf untuk berpisah”, Seismic “ketika dua hati menyatu” terus menerus yakinlah ikhwah makin melo “LOL” plus galau. Mulai dari sekarang imbangin “balanced” segala kehidupan baik dari bacaan, music, tontonan kita antara militan dan melankolis biar tidak kelihatan ikhwah cemeeen!!!

Setujukan sama ukhti…

Best Regard

Inspirasi BeraniSukses

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

 

 

Untuk kalian ingin menyempurnakan dien


Bismillah…

Menikah adalah harapan setiap ikhwan dan akhwat, untuk menuju sebuah pernikahan penuh keberkah, cinta, kasih dan kedamaian serta lahirnya jundi-jundi Allah mentakbirkan “Allahu Akbar dibelahan bumi manapun mereka berada”. Maka sangat diperlukan bekal sangat luar biasa seperti bekal kita menuju sebuah objek wisata nan paling tinggi didunia. Jika perjalanan kita tempuh kehabisan bekal akan terjadi kehausan, kelaparan, ketidaknyaman, pusing, menyerah dan cepat tersingung.

Nah seperti itu pula perjalanan menuju pernikahan butuh bekal super extraordinary terutama nan harus kita siap adalah ketaqwaan dan kesabaran. Kenapa kunci utama ketaqwaan “iman pada Allah” inilah kunci dari segala kunci utama membangun keluarga harmonis, inilah solusi dari selaga solusi terjadi cekcok, inilah aturan terindah dari segala aturan didunia dalam membentuk keluarga samara, inilah cinta diatas cinta dalam merajut cinta.

Untuk itu ikwan dan akhwat harus selalu ditingkatkan kecinta pada Allah jangan pernah berhenti untuk mencinta Allah beserta dengan ketentuan yang telah Allah tetapkan.  Bermula cinta pada Allah maka tumbuh kesabaran karena tidak mungkin orang yang sabar tidak mencintai Allah.

Dan cinta pada Allah pula membuat kita tegar dan ikhlas menerima cobaan baik dikala berniat menikah maupuun real area sesungguhnya “rumah tangga” karena disana akan menyatu dua pribadi yang memiliki sisi pandang berbeda, dua pribadi dengan didikan yang berbeda, dua pribadi memiliki latar pendidikan yang berbeda, dua pribadi memiliki impian berbeda, dua pribadi memiliki behavior yang berbeda.

Dari dua hal yang berbeda menimbulkan onak, kerikil, hambatan, hempasan, gelombang, petir, teriakan, kesalah pahaman, ketidak sukaan, ketidak enakan, pahit.

Untuk itu berbanyak-banyaklah mendengar ceremah tentang rumah sakinah mawadah waromah, mintalah nasehat kepada ikhwan atau akhwat terlebih dahulu membina rumah tangga dan bagaimana cara mereka mencari solusi jika terjadi riak-riak kecil, berbanyak mengingat diri pada Allah “selalu positif thiking dengan cobaan tersebut”, bangun komunikasi dengan seindah mungkin, seberat apapun tetap tersenyum sembari berzikir”.

Namun bagaimanapun cobaan akan hadir datang menghampiri pasti selalu ada jalan keluar bukan Allah menyatakan bahwa setiap sesuatu ada obatnya. Dan sangat tidak mungkin pula Allah memberi cobaan, memberi azab tanpa penawar seperti Allah mencintai bumi dan seisisnya dengan keseimbangan.

Kemudian satu hal perlu ikhwan dan akhwat yang ingin segera menikah tetap jaga niat karena Allahu ta’ala. Jika diawal dengan niat baik insyallah berakhir sebuah keberkahaan. Walaupun dalam proses menuju keberkahaan dilanda padai begitu luar maka ikutilah harus badai tersebut karena melalui padai Allah sedang mentraning, melatih, menyeleksi, memberi pemahaman “Level” sejauh mana tawakal dan kesabaran kita pada Allah.

Menikah sesungguhnya bukan seperti buku sering ikhwan dan akhwat baca rata-rata mencerita keindahan rumah tangga, bahkan jauh dari narasi buku yang pernah kita baca mungkin bisa terkaget-kaget ternyata gini toh pernikahan itu.

Terakhir teruntuk ikhwan dan ukhti fillah…tauti hati selalu dengan Ilah, tetap positif thiking dan berbanyak doa pada Allah. Sesungguh dibalik cobaan Allah sedangkan membentuk karakter hambaNya yang menang dalam segala hal.

Regard

Simfonis “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

 

 

Pujian mereka salah besar, Ukhti


Bismillah…

Hati-hati teruntuk ukhti fillah yang cintai dan dibanggai Allah betapa banyak kasus terjadi disekitar kita terutama dalam dunia maya “FB, Twit, YM, Blog” terlena dengan pujian dari lawan jenis.

Seharusnya pujian tersebut membuat kita malu bukan sebaliknya bangga dan merasa melayang sampai langit ketujuh “untung saja gak sempe terbang, ya gak mungkinlah bisa sampe terbang apalagi sampe langit ketujuh kalau aja iya dipastikan masuk MURI ckckckckkc”.

Jangan sampai pujian dari lawan jenis membuat Allah cemburu dan sedih apalagi sampai menyalahkan atau mengabaikan aturan Allah. Anggap saja pujian tersebut angin lalu. Jika bisa benteng sekuat mungkin atau sekeras mungkin pujian tersebut dengan hati dan pikiran yang cuek.

Apalagi akhwat begitu cepat ke-geer-an!!! Kalau gak bercaya coba sesekali ikhwan bilang aje mereka cantik, sholeha, statusnya bagus dan always like status mereka dipastika mereka ke-geer-an ditambah lagi dengan ungkapkan ukhti cantik, ukhti cerdas, ukhti sholeha banget dan blaaaaaaaaaa makin buat berdesir dech hati.

Tapi tidak bisa universelkan kasus tersebut dan rata-rata seperti itu terutama akhwat belum menyempurnakan diennya. “bukan maksud memojok akhwat tapi itu lah realitanya”

Padahal para ikhwa fillah belum tahu aib kita, kejelekakan kita, kebodohan kita mereka hanya tahu kita front stage ya pantas mereka memuji. Andai mereka tahu bagaimana kelakuan kita di backstage tidak akan mau memuji seperti itu lagi dan mereka salah besar

Saya yakin pula ketika ikhwan berani menguyon akhwat melalui comment status atau message personal tidak hanya berlaku pada seorang akhwat pasti di beberapa akhwat juga diperlakukan dengan hal yang sama. Jadi kita jangan terlalu cepat kegeeraaaaaaaaaaaaaaaaaaaan

Jangan sampai akhwat kita tergoda, terayu, terbujuk, terbawa perasaan dan kegeeran, berdesir, degdegan dengan hal seperti itu.  Ingat Allah maha melihat, maha mengetahui, maha teliti, maha mendengar baik terbesit maupun terungkap.

Jika kita pernah bahkan sering mari akhwat dan ikhwan kita sama-sama perbaiki diri. Yakin tak ada asap tanpa api, tak ada hujan tanpa air, tak ada panas tanpa mentari, tak pedas tanpa cabe, tak ada manis tanpa gula.

Andai sudah terlanjur anggap saja itu kekhilafan dan bergegas memperbaiki diri. Allah rindu air mata kekhilafan tersebut dan Allah sayang dengan kita maka kita diberi cobaan berupa pujian lawan jenis, agar kita tahu sejauh mana level kita menjaga hati nan bersih itu.

Ingat….cukup keluarga, anak dan suami kita memuji seperti itu karena mereka tahu lebih bagaimana pola kehidupan kita di backstage.

Renungan ini ana didikasi untuk diri sendiri agar hati-hati menjaga hati^__^

Regard

Simfonis “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

%d bloggers like this: