Diskriminasi Informasi antara Negara maju dengan Negara berkembang


Bismillah…

Diskriminasi Informasi antara Negara maju dengan Negara berkembang

Diskriminasi Informasi antara Negara maju dengan Negara berkembang

Setiap hari informasi lahir, membludak dan overloap maka diperlukan keahlian untuk mensortikan informasi, agar informasi diperoleh akurat, relevansi dan tepat waktu. Setiap manusia membutuhkan informasi, biasanya informasi dibutuhkan berdasarkan “what you fill and what is trend today” dan setiap informasi diciptakan tidak satupun yang mampu mengikuti peredaran informasi. Untuk bisa memenuhi informasi maka manusia tidak hanya harus memiliki keahlian melain juga harus melek dengan perangkat informasi seperti melek digital, melek visual, melek computer dan melek jaringan.

Masih banyak masyarakat Indonesia belum familier dengan konsep literasi baik masyarakat berpendidikan, masyarakat awam, masyarakat kota maupun masyarakat desa. Padahal pemerintah sudah mensosialisasi dengan berbagai cara agar masyarakat Indonesia untuk menjadi manusia literasi segala bidang. Banyak alasan kenapa di Negara-negara berkembang belum memahami pentingnya literasi.

Saat masyarakat di negera berkembang ingin meningkatkan pemahaman literacy terkendala dengan tools, terkendala dengan akses memperoleh informasi dan untuk mendapat informasi harus mengeluarkan biaya cukup besar. Seperti terjadi dengan ia disuatu hari, tiba-tiba dapat kiriman artikel dengan format Pdf dengan lampiran bahwa jurnal tersebut bisa diakses secara gratis. Ketika melihat Link dikirim melalui social media begitu senang, bahagia dan semangat karena sudah mempersiapkan diri untuk mensedot (download) artikel tersebut sepuas hati dan sesuai dengan materi yang dipaparkan diruangan perkuliahan serta menambah referensi bagi dosen muda.

Dengan Bismillah membuka artikel dengan judul “Information literacy self effiency: the effect of juggling work and study”. Artikel muncul dengan abstrak, coba mencari tool yang menyediakan untuk download. Tool tersebut tersedia dengan cacatan harus membeli atau masuk keranjang belanja. Itu berarti artikel tersebut tidak bisa dibaca oleh sembarang orang atau dibaca secara Cuma-Cuma dan tidak bisa disave maupun didownload oleh seeking information.

Setelah mengalami tragedy tersebut langsung send message to my friens by facebook. Link yang dikirimkan tidak bisa disedot, padahal steatment awal mengatakan Link tersebut bisa diperoleh secara gratis tapi kenyataan berbeda.

Temanpun menjelaskan bahwa didaratan Amerika tempat kuliah S3 sekarang bisa didownload sepuasnya tanpa harus login atau membayar. Usut punya usut, faktanya artikel atau jurnal ilmiah tersebut hanya berlaku gratis bagi Negara maju sedangkan Negara baru berkembang seperti Indonesia untuk mengakses jurnal tersebut harus menjadi Member, berlangganan dengan harga sudah ditentukan.

Hemm…Segala hal didiskriminasikan. Mengira selama ini diskriminasi hanya berlaku pada sisi tertentu namun kenyatanya dalam memperoleh informasi juga terjadi diskriminasi, maka pantaslah negara berkembang untuk menyemai dalam mengakses informasi tidak bisa diseterakan dengan Negara maju. Atau bisa jadi kenapa Negara maju begitu enteng mengakses informasi karena adanya kerjasama pihak pemerintah dalam mencerdaskan bangsa, atau bisa jadi pemerintahan Negara maju memahami benar bahwa siapa yang menguasi informasi maka akan menguasi dunia.

Pantas di Negara maju perkembangan ilmu pengetahuan begitu cepat berkembang sebab difasilitasi akses informasi sangat memadai dan keterbukaan informasi public benar dirasakan segala lini sedangan di Negara berkembang seperti Indonesia ingin memajukan pendidikan begitu banyak kendala apalagi untuk membiasakan masyarakat untuk mendapat informasi secara gratis dan akuntabel. Seakan-akan di Indonesia informasi hanya diketahui segelintir orang-orang saja. Kemudian diperbara lagi dengan kondisi masyarakat yang tidak terbiasa membaca referensi bahasa inggris, tingkat membaca pun sangat rendah dengan Negara lain, dan referensi tersedia pun tidak update lagi.

Harus ada campur tangan pemerintah untuk menyediakan referensi, akses informasi secara gratis agar bisa menarik, mendorong dan memotivasi untuk terbiasa dengan literasi informasi dalam memperoleh informasi sehingga tidak ada lagi diskriminasi informasi.

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Kenakalan Pengunjung Toko Buku


Bismillah…

Kenakalan Pengunjung Toko Buku

Kenakalan Pengunjung Toko Buku

Subhanallah magrib terasa nikmat dengan ditemani senja kekuningan yang masih tampak diufuk barat, rasa capek pun hilang berguguran dengan air wudhu yang dibasuhi pada tubuh yang seharian bekerja diluar dalam memantas diri sebagai insane berkualitas. Berharap dengan kepantas dan keyakinan terus diloadang mengantar menjadi regenerasi kepimpinan suatu saat nanti, Amin.

Selesai sholat langsung membuka kantong belanja yang terdiri dari buku-buku untuk menemani weekand diakhir tahun kebetulan juga buku yang dibeli diskon. Sebelum membuka sampul buku yang masih rapi dilengkapi dengan plastic bening, teringat dengan kenalan pengunjung toko buku disalah satu toko buku ternama. Sebenar ia juga pernah mengalami hal seperti itu karena sebelum membeli buku tersebut tentu ingin mengetahui secara sepintas nilai informasi yang terkandung agar tidak kecewa membeli atau meyakini diri kita bahwa pantas untuk dibeli buku tersebut. Apakah sahabat juga pernah melakukan hal sama? Kalau pernah mari kita taubah nasubah hoooo… biar besok tidak mengulangi kesalahan yang sama yang sudah jelas dilarang tetap membuka…”bukan kah itu ngeyel tingkat dewa dewi ahaiiii”., Jikaulau tidak pernah secara pribadi mengaperiasi sikap cantik itu. Atau tidak pernah melakukan sikap seperti karena tidak pernah mengunjungi toko buku hihiiii….

Padahal sudah jelas ada informasi dilarang membuka buku sampul, jika membuka berarti membeli. Tetap saja pengunjung toko buku tidak mengindahkan aturan yang ditetapkan dan petugas toko juga tidak memberi sanksi kepada mereka yang melanggar aturan tersebut seperti ia lihat tadi ditoko buku. Sedangkan sudah beberapa sampul buku dibuka. Jadi wajar saja pengunjung berani melanggar. Ini menandakan bahwa orang-orang Indonesia meskipun sudah dibuat pengumanan tetap melanggar.

Seakan-akan orang Indonesia tidak paham dengan aturan, seakan-akan aturan yang ditetapkan untuk dilanggar. Tidak hanya ditoko buku bahkan melihat orang melanggar aturan disegala sector dan line hampir terjadi pelanggaran. Coba aja lihat dijalan raya terjadi banyak pelanggaran disana-sini terkadang membuat kita mengelus dada dan terkadang buat kita kesal sendiri dan terkadang juga terikut untuk melakukan aturan karena setiap pelanggaran dilakukan tidak ada sanksi. Jika terjadi terus menerus maka aturan yang ditetapkan dipastikan banyak melanggaran sebab aturan dari pihak membuat aturan tidak tegas dan sanksi pun sebatas tulisan. Mungkin bisa jadi faktor kenapa banyak orang Indonesia tidak patuh dengan aturan.

Tidak hanya sampai disitu kenakalan dilakukan melainkan setelah membuka sampul buku dan duduk dengan posisi pewe melahab satu persatu buku yang dibuka tadi. Meskipun tidak dilarang untuk membaca buku telah dibuka sampul namun rasa tidak enak aja, kelihatan banget tujuan ketoko buku buat membaca bukan untuk membeli seperti dilakukan teman saya.  Setiap ketoko buku selalu menghabiskan satu buku atau dua buku, setelah itu langsung pulang tanpa membeli…”kreatif bukan!! tapi kreatifan merugikan pihak lain”.


BestRegard Inspirasi BeraniSukes

Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Budaya konsumtif dan budaya baca


 

Bismillah…

Budaya konsumtif dan budaya baca

Budaya konsumtif dan budaya baca

Mengawali tulisan ini teirngat dengan masa-masa pelasiran ke Hongkong, Malaysia dan Singapura tentang perilaku masyarakat Indonesia yang sangat konsumtif. Hampir pula terbawa arus dahsyat konsumtif dinegara orang lain dan Alhamdulillah tidak jadi karena bekal “Money cash” sengaja dibawa pas-pasan. Walaupun waktu itu ada kartu kredit untuk wanti-wanti saja. Tetap tidak dipergunakan karena niat kesana bukan untuk shopping melainkan belajar.

Apa yang dialami, teman-teman pada borong-borong dengan gila-gilaan baik di Malaysia, Hongkong, dan Singapura. Mulai borong barang barending hingga makanan biasa-biasa saja. Mungkin sangat lumrah dan wajar saja karena mereka beralasan kapan lagi bisa kesana!!! It’s okey whatever opinion, right because your life is choice. Dari sanalah berkesimpulan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia sangat konsumtif.

Budaya konsumtif hanya berlaku pada barang-barang tertentu tidak berlaku pada konsumtif membeli buku dan bersedekah. Baik dikalangan pendidikan maupun dikalangan awan, baik dikalangan akademis maupun diarea public, baik dikalangan orang tua, dewasa maupun anak-anak. Budaya baca itu hilang dan tidak terbiasa ditumbuhkan dari kalangan keluarga. Kurangnya budaya baca di Indonesia sekan-akan mencermin dan menegaskan bahwa Indonesia Negara tertinggal. Dan baru-baru ini disalah satu jurnal internasional menjelaskan bahwa Indonesia termasuk Negara minat baca paling rendah yaitu diperingkat ke 29 sangat jauh ketinggalan dengan Negara tetangga “Malaysia dan singapura”.

Jika minat baca rendah otomatis akan susah mengajak masyarakat Indonesia untuk maju, berkompetisi dan bagaimana bisa setara dengan Negara-negara barat yang hampir setiap jam penduduknya menghabiskan waktu untuk membaca dimana dan kapanpun. Padahal kita hidup dunia peradaban ilmu berkompentisi dengan skill dan ilmu. Bahkan agama islam sangat jelas mempaparkan tentang penting membaca “iqro” karena dengan mencintai membaca seakan-akan sedang mempelajari sejarah masa lalu, sekarang dan masa mendatang. Seakan-akan membaca bisa menganalisa apa terjadi dikemudian hari. Termat sering pula kita mendengar bahwa membaca adalah jendela dunia. Kenapa masih banyak rakyat Indonesia tidak tertarik untuk membaca agar bisa bertarung dipentas pemikiran. Seperti dijelaskan seorang ustad bahwa untuk kemajuan bangsa atau agama dengan perang pemikiran bukan dengan senjata.

Atau bisa jadi kenapa kita tidak tertarik membaca karena tidak ingin mengetahui banyak hal, atau bisa jadi terindikasi kita bukan petarung ulung sehinga tidak membutuh bacaan, atau bisa jadi dahulu hingga sekarang kepemimpin bangsa Indonesia tetap sebagai Negara hedonism/konsumtif. Padahal jiwa konsumtif menghancurkan peradaban bangsa. Seperti dijelaskan Prof disuatu pertemuan serahsehan  regenerasi kepemimpinan antara lain (1) berdampak pada etika maupun perilaku atau psikologis, (2) terjangkitnya virus hedonism diseluruh kampus Indonesia sudah level akut, (3) terbentuknya jiwa-jiwa nepotisme dan korupsi. Kesemua itu bermuara dari budaya konsumtif. Lebih bahaya lagi para perilaku komsuntif jauh dari keyakinannya, maka akhir dari segala itu emosionla, hilangnya jiwa toleransi dan pedangkalan pemikiran.

Bagi kita sebagai berpendidikan, akademis, pemimpin bangsa dan orang-orang cerdas terus meningkatkan budaya baca agar tidak terjadi pendangkalan pikiran. Jangan asyik dengan gadget maupun smarphone belaka.

Selamatkan bangsa Indonesia, majukan bangsa Indonesia dan harumkan nama bangsa Indonesia dikencah internasional dengan pemikiran global yang terlahir dari budaya baca bukan sebaliknya mengharumkan bangsa Indonesia dengan prestasi korupsi, konsumtif, pergaulan bebas, anarkis dan narkoba

Secara pribadi mengapresiasi bagi pegiat rumah baca, taman baca masyarakat, perpustakaan keliling, rumah pintar dan sahabat-sahabat penggerak budaya baca dengan terus menerus berkarya tanpa meminta penghargaan dari siapapun, hanya tujuan membangkit anak-anak bangsa untuk literasi informasi.

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Negeri ku sedang terkoyok


Negeri ku sedang terkoyok

Negeri ku sedang terkoyok

Bismillah…

Setiap menonton berita selalu ada pertanyaan, selalu ada hal aneh ditayangkan terutama berita tidak berkualitas selalu dibanjiri kabar tidak memiliki nilai history baik dikolom berita, kolom Koran maupun dikolom social media. Bahkan rame dan makin menghebohkan tentang kebijakan atau program para menteri yang mendukung jalannya pemerintah presiden. Ada yang mendukung program dan tidak sedikit pula menentang program tersebut tentu ada something wrong jika ditinjau dari ilmu maupun teori. Yang ada tidak memberi manfaat dan melahirkan kemaksiatan merajalela.

Mari kita tenggok program pemerintah yang sangat bertentangan agama dan budaya Indonesia. Pertama pelanggaran terhadap polwan untuk menggunakan jilbab padahal undang-undang mengamanahkan setiap masyarakat memiliki hak yang sama dalam beribadah seperti dijelaskan dalam UUD 1945 di pasal 31. Seayang kebebasan tersebut terbentuk dengan atauran kepolisian atau etika profesi. Walaupun ada angin segar memperoleh polwan menggunakan jilbab tapi aturan itu masih menunggu persetujuan oleh pihak terkait…”entah sampai kapan”

Sangat kontras dengan program pemerintah yang satu ini, begitu didukung dan mudah berbagi kondom secara gratis kepada pemuda Indonesia dengan biaya sangat prestesius yaitu sekitar 2,7 Milliar hanya untuk program sia-sia. Bayangkan untuk pembagian kondom dan hari kondom nasional menghabis anggaran Negara luar biasa. Padahal pembagian kondom tersebut secara implicit menganjur maupun memotivasi masyarakat Indonesia melakukan kemaksiatan asal menggunakan kondom. Jika dilihat ilmu kesehatan bahwa kondom tidak dapat mencegah HIV/AIDS. Padahal hubungan kondom dengan HIV tidak da korelasinya??? Sangat tidak wajar

Seakan-akan menteri kesehat tidak memliki program jelas atau nyata. Bagaimana cara mencegah HIV/AIDS di Indonesia sehinga Menkes mengikuti alur kerja swasta seperti dijelaskan melalui personal twitter bahwa program tersebut ada keinginan swasta. Menyakitnya lagi gerakan tersebut diawali didunia akademis “Universitas Gadjah Mada” sebagai Alumni sangat tersayat-sayat. Padahal kampus tersebut merupakan kampus “World class university”, kampus kerakyatan, dan kampus religious. Kok bisa langkah awal disana!!! Jangan-jangan petinggi kampus kongkolikong dengan menkes atau gara-gara wakil menkes dari UGM!!! Atau bisa jadi dikota pendidik salah kota terbanyak terjangkit penyakit HIV/AIDS…”bingung-bingung aaahhhh”.

Sedangkan diluar negeri langkah nyata dan solutif didijalankan pemerintah antara lain dengan memberi contoh pengobatan alternative dan mensarankan bagaimana cara menghindarkan virus tersebut bukan dengan pembagian kodom sepertinya hanya di Indonesia cara menggulangi HIV/AIDS dengan kondom.

Terlihat nyata bukan, bahwa pejabat tinggi Negara belum mempunyai program solutif. Ya beginilah kalau para pemimpin Negara pemikiran sudah dirasukin liberalisasi dan jauh dari aturan Tuhan pada akhirnya program diciptakan penuh kemudaratan. Mungkin menkes mengikuti program swasta atas deal-dela politik, atas kekuasaan dan atas uang apapun diajukan oleh swasta tinggal mengaminkan walaupun bertentangan….”bahaya-bahaya-bahaya”

Tidak hanya itu, beberapa bulan yang juga begitu lantang masyarakat Indonesia mencegah atau memprotes ajeng Miss Universe tapi apa tetap para kapitalis melanjutkan program pamer tersebut meskipun seluruh elemen masyarakat menolak. Walaupun kemesan acara didominan budaya Indonesia tetap ajang tersebut mengandung unsure pelanggaran agama.

Duuuuhhhh…..mengikuti berita, ditelevisi, Koran dan social media jadi capek sendiri melihat negeri ku. Perhatinnya lagi sistim sudah tidak jelas dan pemimpin negeri ku tercinta sudah dikuasai antek liberal maupun yahudi. Seakan-akan dunia tidak ada akhirnya sehinga mereka sedang berkuasa semena-mena menetap program penuh kemaksiatan.

Ya beginilah menjadi masyarakat biasa dan orang kelas teri hanya bisa protes melalui tulisan dan demontrasi menyuarakan kedhaliman di negeri ku. Dan akhirnya yang menang selalu pemilik modal dan pengusa yang sudah berkiblat westenisasi.

Semoga Allah membuka pintu hidayah bagi pejabat-pejabat kami untuk memperhatikan masyarakat bukan memperhatikan golongan tertentu. Untuk benar-benar memikir program kebaikan segala line bukan melahirkan kemaksiatan maupun mudharat social. Dan begitu saja tunduk dengan pihak tertentu.

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Semakin Banyak Analisa Semakin Tercerah Atau Semakin Kebinggungan


 

Bismillah…

Semakin Banyak Analisa Semakin Tercerah Atau Semakin Kebinggungan

Semakin Banyak Analisa Semakin Tercerah Atau Semakin Kebinggungan

Setiap peristiwa, kejadian, fenomena mengiring manusia dengan berbagai profesi, berbagai pekerjaan dan berbagai teori  ingin ikut berbicara dengan persepektif mereka sendiri-sendiri. Apakah analisa tersebut menggunakan teori atau hanya sebatas melihat realitas terjadi atau ikut-ikut tanpa mengetahui kedua-duanya dan atau mereka memahami toeri maupun realita terjadi dilapangan. Bahkan dengan fenomena atau peristiwa tentunya melahirkan informasi dan informasi berkembang tak bisa diikuti oleh siapapun.

Setiap kritikan atau analisa perorangan maupun perkelompok memberi dampak tersendiri bagi setiap orang.  Ada yang merasa tercerahkan dengan steatment para panelis atau pengamat amatir dan sedikit pula yang merasa kebingung dengan semakin banyak analisa diranah public. Apakah dengan analisasa tersebut memberi solusi nyata atau sebalik menimbum masalah baru.

Apalagi diera demokrasi diberi hak yang sama bagi masyarakat untuk berbicara, hak untuk mengeluarkan pendapat dan hak untuk mempercayai informasi berterbangan diranah massa. Namun harus diperhatikan ketika ingin berbicara, mengeluarkan pendapat harus mengikuti aturan, dan didukung teori. Kenapa harus ada teori dan aturan agar analisas dijelaskan tidak hanya tidak sebatas ngomong saja. Dengan melampirkan teori dan fakta berdampak pada kebenaran informasi dan kesahihan informasi!!! Namun sebalik tanpa kedua hal tersebut masyarakat kebinggungan dan bertanya-tanya!!! Mana informasi valid, mana informasi bohongan belaka. Mungkin diantara kita banyak kebinggungan dengan informasi berserakan dissocial media maupun televise.

Sebanarnya sebagai masyarakat, jangan begitu cepat menelan mentah-mentah informasi didengar, sebaiknya ketika analisa dipaparkan oleh siapapun dikonversikan dengan pendapat ahli lainnya. Agar bisa mendapat analisa secara utuh dengan berbagai persepektif. Takutnya bila mempercayai analisa pada satu orang saja menutup kebenaran dari pihak lain.

Jika disimak dari ilmu komunikasi untuk mempercayai kebenaran informasi lihat siapa yang menganalisa, lihat pula teori digunakan kemudian dikombinasikan dengan realita dan pendapat para ahli lainnya. Semakin banyak teori digunakan, semakin banyak para ahli menganalisa maka kesahian semakin mendekati kebanar. Berbeda jika menganalisas tanpa teori hanya akan menghasilkan kebohongan dan penipuan public.

Berbeda pula jika ditinjau dari ilmu agama!!! Ada tatacra menganalisas peristiwa yaitu harus dirujuk dari Al-quran dan Hadist. Ini referencesi yang tak pernah using oleh waktu, tak pernah bisa terkalah dengan teori-teori apapun dan orang barat membenarkan segala kandungan ayat Alquran yang menjelaskan segala hal, mulai terkecil hingga tak terkira, dari tak tampak hingga terlihat, dan dari masa lalu hingga masa depan. Sesungguhnya analisas akurat dan komplikiten yaitu menggunakan teori al-quran serta hadist.

Ingaattt…apapun terjadi dibumi Allah lihatlah dari segala ilmu, lihat segala teori dan segala realitas.  Agar tak salah mengambil keputusan, agar tidak mengkonsumsi informasi yang salah, agar tak menikmati informasi sepotong-potong.

 

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Ruang Public Berubah Menjadi Lahan Uang


Bismillah

Ruang Public Berubah Menjadi Lahan Uang

Ruang Public Berubah Menjadi Lahan Uang

Risih saja hampir setiap area public sudah dipergunakan area parker. Padahal jelas-jelas daerah atau ruang tersebut difungsikan untuk kenyaman layanan public. Apakah ada aturan dari pemerintah daerah tentang parker? Jika belum seharusnya dibentuk karena semakin hari area public hilang dan sudah dikomersial oleh oknum tertentu. Jangan-jangan kemudian hari area pekarang rumah sendiri juga difungsikan sebagai parkir. Terlihat jelas bahwa orang Indonesia dari tingkat bawah hingga teratas semua sudah menganut konsep liberal.

Bahkan tagihan parkir diberbagai area berbeda, yang menetapkan berjam dan berdasarkan jenis kendaraan. Ketika para tukang parker menarik biaya tidak sesuai dengan services diberikan. Sepertinya tak ada lagi ruang public di negeri ini, lihat saja WC sudah dikomersialkan, tempat beribadah juga ada dikomersialkan, parkiran yang jelas itu lahan public juga dikomersialkan, dan jalan-jalan protocol pun dikomersialkan oleh oknum tertentu.

Ada steatment ditengah masyarakat bahwa untuk gampang mencari uang cukup sebagai tukar parkir. Karena tak perlu skill, tak perlu ilmu, tak perlu model dan yang diperlukan adalah kekuatan fisik serta keberanian untuk melawan sistim maupun pihak tertentu. Bayangkan pekerja tukang parkir bisa meraup keuntungan fantastic, mungkin sehari bisa meraih jutaan setiap hari. Mengalahkan pekerjaan dan profesi lainnya.

Lama-lama pekerjaan sebagai tukang parkir banyak diminati oleh genarasi mudah atau mereka-meraka yang memiliki pekerjaan menetap. Disisi lain pekerjaan parkir tidak dilarang sedangkan sisi lain masyarakat terasa dirugikan karena setiap berhenti selalu ditarik pajaknya. Parkir liar seperti ini juga menghambat lalu lintas dan jalan semberaut.

Jangan-jangan suatu saat bisnis parkir merupakan pekerjaan menjanjikan karena semakin hari akumulasi kendaraan semakin meludak. Jika ruang public digunakan sebagai lahan parkir maka siap terjadi kontradiksi ditengah masyarakat. Walaupn permasalahan sepele tapi jangan salah dampaknya luar biasa. Maka perlunya rule yang jelas dari pemerintah untuk menetapkan lahan-lahan diperkenankan untuk dikomersialkan.

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

TaburkanSejutaKebaikanSelagiMasihAdaKesempatanTakPeduliPenilaianYangPentingItuKebenaranYangMemilikiLandasanUntukKebaikkan

Seakan-akan Masyarakat Indonesias bersahabat menolak kebijakan pemerintah melalui demontrasi


Bismillah…

Hampir setiap hari kita disuguhi demontrasi baik melalui tayangan televisi maupun menonton secara langsung dijalan-jalan protocol. Tentu banyak alasan, tujuan dan motif kenapa masyarakat demontrasi. Apalagi dizaman era demokrasi diberi kebebasan pada masyarakat untuk mengeluarkan pendapat, mengluarkan aspirasi, menentang kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan dijamin dalam Konstitusi Indonesia. Seperti dijelaskan dalam

UU No. 9/1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum dan hak untuk melakukan demonstrasi ini dilindungi oleh Konstitusi yaitu UUD 1945 [Pasal 28E ayat (3)]

Hak ini dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk antara lain (1) unjuk rasa atau demonstrasi, (2) pawai, (3 rapat umum, atau (4) mimbar bebas Pelaksanaan bentuk-bentuk penyampaian pendapat di muka umum tersebut dapat dilakukan di tempat-tempat terbuka untuk umum.

Pada umumnya kebiasaan demontrasi dilakukan ketika menentang aturan yang tidak prorakyat. Mungkin masyarakat hanya memiliki kekuataan menentang kebijakan melalui demontrasi dan tak berdaya dalam berdiplomasi.

Dan sayangnya rata-rata demontrasi selalu berakhir tragis, bentrok, merusak fasilitas umum maupun asset negara dan yang dirugikan tetap masyrakat dan Negara indonesias. Ironisnya masyarakat belum memahami aturan demonstrasi, tidak boleh melanggar norma agama, adat, kesopanan, kesusilaan dan sangat demontrasi berakhir dengan damai.

Misalnya ketika berdemontrasi menggunakan kekerasan, terbawa kebengisan, dan terjadi perusakan fasilitas public. Ketika asset Negara rusak tentu menambah APBN, tentunya APBN tersebut menggurangi anggaran lain (anggaran pendidikan, anggaran kesehata, dan pembangunan lainnya).

Padahal masih banyak fasilitas harus dibangun oleh Negara demi kesejahteraan, kemakmuran rakyat dan terbentuknya layanan prima. Mungkin para demontrasi belum terpikir kesana, atau mungkin terbawa puncak kemarahan dengan kebijakan pemerintah tak pernah mendengar aspirasi mereka dan masih pro dengan golongan tertentu.

Atau mungkin cara seperti itu masyarakat bisa menyelesaikan masalah, atau mungkin dengan berdemo para pemerintah mau mendengar keluhkesah rakyat kecil, atau mungkin dengan diplomasi aspirasi rakyat diabaikan. Sehingga terlahir, tergerak, terdorong apapun kebijakan yang tidak memihak masyarakat kecil maka jalan harus ditempuh adalah berdemontrasi.

Dari demontrasi pula kita bisa melihat bahwa karateristik rakyat Indonesia lebih suka menyelesaikan masalah dengan tak cantik “demontrasi atau rusuh”. Terlihat pula masih ada sebagian masyarakat belum mehami hakikat demontrasi atau masyarakat sudah bersahabat dengan demontrasi.

alhninkuning 

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

 

%d bloggers like this: