Strategi Meningkatkan Kreativitas Pustakawan Di Abad 21


Strategi Meningkatkan Kreativitas
Pustakawan Di Abad 21
by Testiani
Mahasiswa Pascasarjarna UGM – Manajemen Informasi Perpustakaan

Pendahuluan
Pustakawan adalah makhluk yang diberi kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai situasi dan tantangan kehidupan. Perubahan yang terus menerus secara global menuntut pustakawan beradaptasi dengan cepat terhadap berbagai situasi dan kondisi yang seringkali tidak dapat diprediksi. Tingkat keragaman dan kedalam permasalahan sangat tinggi karena berada dalam koridor konteks yang kompleks. pustakawan dituntut memikirkan dan bertindak dengan berbagai cara untuk dapat menguraikan kompleksitas tantangan dan memikirkan berbagai alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantatangan, untuk itulah pustakawan membutuhkan kretaivitas. Orientasi memandang suatu persoalan merupakan kunci awal pustakawan memiliki kreativitas.
Sedangkan pendidikan formal adalah salah satu biang keladi pembatas kreativitas manusia sejak dini padahal, hal itu tidak benar. Houtz menekankan bahwa kreativitas bukanlah suatu bakat yang dianugerahkan sejak lahir, melainkan sesuatu yang harus diusahakan dengan kerja keras; Menurutnya, orang-orang kreatif adalah mereka yang memiliki kedisiplinan untuk terus menciptakan ide-ide baru dan ketekunan untuk mewujudkan ide-ide mereka.
Pustakawan di Abad 21 menghadapi masalah semakin kompleks untuk mengatasi masalah ini, pustakawan perlu menghasilkan atau memikir suatu hal yang baru dalam dunia perpustakaan apakah mengkontruksi, inovoasi, presentatif dengan berbagai pendekatan. Pustakawan abad ke-21 harus memiliki keahlian yang memungkinkan pustakawan untuk mengeksplorasi kreativitas, untuk mencari dan mengevaluasi informasi kritis, untuk bekerja produktif sebagai pustakawan, dan untuk secara efektif mengkomunikasikan multi task kepada orang lain.

Kompetensi Pustakawan Abad 21
Kemajuan perpustakaan tidak terlepas dari kualitas sumber daya manusia (SDM). Oleh karenanya kreativitas perlu disalurkan. Dimana di era teknologi tidak lepas dari peran seorang pustakawan untuk kratif dalam berbagai kegiataan (multi Task) yang harus diterapakan dalam kehidupan seorang pustakawan. Pustakawan sebagai gawang peradaban informasi, mediator, fasilator harus mampu meningkat kreativitasnya. Bukan saatnya lagi pustakawan sebagai pelayan perpustakaan atau menunggu pelanggan yang meminjam jasa mereka. Bahwa peran pustakawan semakin berkembang dari waktu ke waktu tidak hanya melayani dan display buku. Namun peran pustakawan adalah MultiTask seperti hard skill yaitu penguasaan teknis dan detail bidang kepustakawanan serta keperpustakaan sedangkan soft skil yakni berkaitan dengan kemampuan berpikir strategis sebagai perumus kebijakan, wawasan masa depan (forward looking), dan kemampuan perencanaan strategis, kemampuan manajerial, kemampuan komunikasi publik, dan lainnya tentang perpustakaan.
Tujuan dari hal tersebut pustakawan mampu berkompetensi sehingga akan memberi citra positif pada pustakawan dan kinerja pustakawan meningkat. Dimana selama ini Stereotipe pustakawan sangat ironis seperti pustakawan adalah bekerja buangan karena anggapan masyarakat dipengaruhi oleh budaya kerja pustakawan misalanya kerja pustakawan hanya sebatas pelayanan dan tidak ramah pada penggunjung. Ini merupakan salah satu indikator pustakawan belum kreatif. Sedangkan kita tahu di Abad 21 diberbagai profesi mengutamakan serta menjunjungi tinggi nama kreativias dan inovatif. Peranan pustakawan turut mendistribusikan kretivitas dalam bidang informasi dan menjaga keterbelakangan masyarakat dari informasi serta teknologi yang berkembang cepat adalah kenyataan yang tidak dipungkiri agar pustakawan dapat melakukan produktifitasnya dalam segala bidang. Peranan ini akan dapat berhasil dan tepat guna apabila fungsi pustakawan menumbuhkan kreativitas dilakukan secara profesional.
Oleh sebab itu bagaimana pustakawan menciptakan suatu hal yang tak pernah terpikir oleh orang lain, sehingga mampu memberi kepuasaan kepada pelanggan serta mengangkat citra pustakawan dikenal maungnya ditengah masyarakat. Namun mencermati perkembangan di Abad 21 manajemen pustakawan dan kaitannya dengan kompetensi pustakawan menurut Hakrisyati Kamil (2005) bahwa pustakawan Indonesia pada umumnya memiliki keterbatasan antara lain:
1. Kurang memiliki pengetahuan bisnis
2. Pustakawan tidak memikili kemampuan untuk bergerak secara bersamaan dalam ruang lingkup informasi, organisasi dan sasaran organisasi
3. Kemampuan kerjasama sebagai dalam kelompok dan juga kepemimpinannya tidak memadai untuk posisi strategis dan
4. Kurang memiliki kemampuan manajerial.
Kemudian secara realitas kebanyakan pustakawan Indonesia tidak bangga berprofesi sebagai pustakawan yang bekerja diperpustakaan. Bagaimana untuk kreatif sedangkan mencintai dan mengatakan pustakawan saja kepada masyarakat luas bahwa “aku adalah pustakawan” saja sudah tidak berani. Sebab salah satu indakator mampu membangkit kreativitas adalah adanya dorongan (motivasi) mencintai profesinya. Melalui kecintai tersebutlah mampu membangkit kreativitas dan keasyikkan dalam bekerja. Pengakuan masyarakat terhadap profesi pustakawan juga dapat diciptakan melalui kepercayaan diri pustakawan baik secara akademis maupun secara profesional. Ada pertanyaan besar dalam masyarakat luas yang masih meragukan apakah pustakawan mampu menghadapi tantangan baru dan menjadi pustakawan kreatif di Abad 21?

Katagori Kreativitas
Dalam hal ini, Rhodes mengategorikan kreativitas menjadi 4 (Dalam Utami, 2002:26) antara lain sebagai berikut:
1. Person (pribadi kreatif), menjadi motor sekaligus pondasi bagi tumbuhnya aktivitas-aktivitas kreatif.
2. Process (proses kreatif) menghasilkan atmosfir kerja untuk selalu menghasilkan ide-ide dalam mendukung aktivitas kreatif.
3. Press (dorongan/ dukungan lingkungan), mempengaruhi variasi/ aneka ragam aktivitas kreatif.
4. Product (produk kreatif), menjadi andalan bagi aktivitas kreatif untuk selalu dimanfaatkan pelanggan perpustakaan.
Kreativtias pustakawan tidak hanya dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan konseptual dan teoritikal mengenai berbagai masalah informasi dan masalah sosial yang terkait dan dengan kemampuan pustakawan analisis untuk menciptakan produk baru diperpustakaan. Hanya dengan berpikir secara teoritis yang berjenjang serta viosioner akan dapat meningkat kreativitas pustakawan. Pustakawan membutuhkan satu lembaga atau komunitas ilmiah maupun nonilmiah bagaimana cara mengkaji masalah-masalah meningkatkan strategi kreativitas pustakawan pada Abad 21. Melalui berbagai kegiatan penelitian, pengkajian, seminar yang dilakukannya oleh komunitas pustakawan mampu merekomendasikan kreatifitas objektif dapat dipertanggungawabkan.
Sund (dalam Munandar 1987: 37) menyatakan bahwa individu dengan potensi kreatif memiliki ciri-ciri berikut:
1. Hasrat ingin tahu yang besar
2. Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru
3. Panjang akal,
4. Keinginan untuk menemukan dan meneliti,
5. Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan sulit,
6. Cenderung mencari jawaban yang luas dan memuaskan
7. Memiliki dedikasi bergairah serta aktif dalam melaksanakan tugas
8. berfikir fleksibel
9. Menanggapi pertanyaan yang diajukan serta cenderung member jawaban lebih banyak
10. Kemampuan membuat analisis dan sintesis
11. Memiliki semangat bertanya serta meneliti
12. Memiliki daya abstraksi yang cukup baik, dan
13. Memiliki latar belakang membaca yang cukup luas.
Secara definitif dapat ditarik sebuah benang merah bahwa kreativitas dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berfikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan. Ciri-ciri kreativitas seperti ini merupakan ciri-ciri yang berhubungan dengan kemampuan berfikir pustakawan dengan kemampuan berfikir kreatif. Sehingga semakin kreatif pustakawan, Ciri-ciri tersebut semakin dimiliki. Tetapi ciri-ciri tersebut belum menjamin perwujudan kreativitas pustakawan. sedangkan cirri lain agar akar kreativitas semakin utuh yakni harus memiliki sikap dan perasaan memotivasikan kreativitas pustakawan.
Menurut Munandar (1987: 36), bahwa ciri-ciri afektif yang sangat esensial dalam menentukan prestasi kreatif seseorang yaitu (a) rasa ingin tahu, (b) tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai tantangan, (c) berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau untuk dikritik orang lain, (d) tidak mudah putus asa, (e) menghargai keindahan, (f) mempunyai rasa humor, (g) ingin mencari pengalaman-pengalaman baru, dan (h) dapat menghargai dirinya sendiri maupun orang lain.
Dari kedua bentuk sikap kreatif baik secara kognitif maupun afektif bagi pustakawan perlu dikembangkan. Hal ini dilatar belakangi pustakawan sebagai pengemas dan penyaji informasi yang bekerja secara aktif dan efektif.
Berdasarkan uraian di atas maka, kreativitas pustakawan yang menjadi fokus adalah bagaimana aplikasi pengembangan berfikir dan bersikap kreatif yang perlu dikembangkan pustakawan dalam mengelola perpustakaan sebagai pusat informasi. Sehingga adanya kreativitas pustakawan mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan.

Pentingya Kreativitas
Kreativitas sangat diperlukan dalam pengembangan profesi. kreativitas harus didukung dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan penguasaan kompetensi, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan memiliki komitmen yang kuat terhadap berbagai hal. Menumbuh dan meningkat kreativitas menurut Robert Epstein memberikan empat cara untuk melatih kreativitas antara lain:
1. Capturing.
Jangan biarkan satupun ide lewat begitu saja, betapapun merasa ide itu tidak terlalu istimewa.

2. Surrounding.
Ide-ide kreatif tidak muncul begitu saja dari dalam otak kita, melainkan hasil dari interaksi kita dengan lingkungan. Karena itu, lingkungan fisik dan sosial pun sebisa mungkin harus penuh dengan kreativitas pula. Perbanyaklah pergaulan dengan orang-orang yang latar belakang, kepribadian, atau minatnya jauh berbeda.
3. Challenging
Kreativitas seringkali muncul mendadak saat menghadapi hambatan atau rintangan.
4. Broadening
Sangat penting bagi seseorang yang kreatif untuk memiliki wawasan yang luas. Jangan sungkan untuk mempelajari hal-hal baru yang mungkin tidak berhubungan dengan pekerjaan atau pendidikan.
Sedangkan merujuk pada pendapat Shakti Gawain dalam “Creative Visualization” (Creating Strategies Inc.: 2002), para kreativitor perlu melewati empat tahapan proses untuk menajamkan visinya, yaitu:
1. Memiliki tujuan yang jelas
2. Memiliki potret mental yang jelas dari sebuah obyek yang diinginkan
3. Memiliki ketahanan konsentrasi terhadap obyek atau tujuan, dan
4. Memiliki energi, pikiran, keyakinan positif.
Jadi, dalam meningkat kreativitas pustakawan sesuai dengan apa yang telah diuraikan oleh para pakar hal harus dilakukan oleh pustakawan percaya diri, komitmen dan berbanyak membangun relasi dengan professional lain seperti psikolog, programmer, penulis dan sebagainya. lewat hal seperti itu pustakawang termotivasi serta mampu menangkap ide-ide baru yang bisa diterapkan dalam dunia perpustakaan.

Strategi Meningkat Kreativitas
Kenapa perlu ada strategi dalam meningkat kreativitas karena kreativitas merupakan kendaraan bagi pustakawan untuk menjadi pemenang dalam segala bidang. seperti yang diungkap dalam milis motivasi menyatakan ada beberapa startegi meningkat kreativitas pustakawan sebagai berikut:

1. Passion
Passion membuat seseorang punya fighting spirit /semangat juang. pustakawan tidak mudah menyerah dan putus asa dalam menghadapi berbagai masalah, sesulit apa pun, termasuk pekerjaan. Masalah justru menjadi pemicu untuk mencari terobosan. Passion akan me-munculkan kreativitas secara spontan. Tanpa passion, prestasi gemilang tidak dapat pustakawan raih.
2. Time Management
Pengaturan waktu yang baik juga akan memunculkan kreativitas. Ada waktu bekerja. Ada waktu beristirahat. Karena itu, kita harus bekerja cerdas. Yaitu dengan memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien untuk memperoleh hasil optimal. Keberhasilan dalam perpustakaan, tidak diukur berdasar lamanya waktu kerja pustakawan. Tetapi pada hasil akhirnya, apakah sesuai harapan atau kriteria yang ditetapkan oleh perpustakaan. Bekerja terus menerus tanpa diimbangi istirahat cukup membuat otak pustakawan overload (kelebihan beban). Dengan mengatur jam kerja serta jam istirahat dengan disiplin, aliran darah ke otak tidak terhambat karena pustakawan memperoleh oksigen dengan sempurna. Saat pustakawan merasa relaks, punya kesempatan untuk mengembang-kan ide baru.
3. Networking
Pustakawan merupakan makhluk sosial yang punya kebutuhan untuk bisa berinteraksi. Sesibuk apa pun pustakawan dalam dunia perpustakaan, pustakawan perlu upayakan tetap menyediakan waktu berkualitas untuk bertemu dengan berbagai kolega. Pertemuan tersebut mendatangkan energi kreativitas pustakawan. Sikap utama yang dibutuhkan dalam membina networking yang positif adalah ”sikap rendah hati”. Mau mendengar pendapat dan dapat menghargai kelebihan orang lain. Sering berdiskusi dengan banyak orang akan menyulut ide yang memunculkan kreativitas yang lebih membumi, sesuai dengan kebutuhan zaman.
4. Sense Of Competition
Banyak pustakawan merasa tidak nyaman dikelilingi pesaingnya. Baik itu secara individu di tempat kerja maupun terhadap lembaga itu sendiri. Padahal, berada di tengah-tengah pesaing, alarm kewaspadaan pustakawan untuk ”selalu siaga” akan terus berbunyi. Pustakawan pada Abad 21 tidak hidup dalam zona kenyamanan. Kreativitas akan lebih mudah diting-katkan saat situasi pustakawan terjepit. Bila perlu carilah obyek yang dapat dipakai untuk membangkitkan ”sense of competition” agar kreativitas pustakawan senantiasa berkembang. Akhirnya pustakawan menjadi pemenang.
5. Humility
Kerendahan hati merupakan sumber kreativitas. Sikap rendah hati membuat pustakawan selalu melakukan introspeksi dan koreksi terhadap semua aktivitasnya. Hanya dengan kerendahan hati pustakawan mau menerima teguran / masukan. Hanya dengan kerendahan hati pula pustakawan tidak merasa superior dalam wawasan tetap ”merasa kurang”, sehingga selalu mencari sumber pengetahuan dengan berbagai cara. Humility sangat berperan dalam meningkatkan kreativitas.

Kesimpulan
Dari semua komponen dan segmen di atas dijelaskan. Maka pustakawan harus pandai-pandai menangkap peluang sekitar perkembangan teknologi informasi, harus selalu melihat perekembangan perpustakaan, harus mampu mengamati perkembangan-perkembangan termasuk convergences dan melihat perkembangan lingkungan local dan nasional. Kemudian pustakawan jangan terkekang dengan lingkungan perpustakaan saja harus mampu berkoneksi dan berjaring dengan profesi-profesi lainnya yang mampu membangkit kreativitas seperti membangun jaringan dengan LSM, komunitas dan bahkan bakti social. Pustakawan jangan takut dengan hal-hal baru yang dihadapi semua tantangan baru pustakawan ada solusinya bahkan komitmen dengan kreativitas yang diciptakan.
Kreativitas juga dapat ditingkatkan dengan cara mencoba hal-hal baru untuk meningkatkan pengalaman. Lakukan setiap proses mencoba hal baru itu sebagai sebuah permainan, sehingga pustakawan merasa senang melakukannya, serta lebih siap menerima kegagalan dan belajar dari kegagalan tersebut. Perasaan senang itu merupakan kunci meningkatkan daya kreativitas. Serta pustakawan hendak selalu mengikuti secara continue pelatihan, pengembangan diri, dan melanjuti pendidikan tingkat tertinggi misal S3. Sebab di Indonesia hanya beberapa guru besar dalam jurusan perpustakaan bahkan ikut serta dalam penelitian ilmiah.

Daftar Pustaka

Epstein, Robert. 1999. Encylopedia of creavity. United Kingdom: Academic Press
Gawain, Shakti. 1995. The Creative Visualization Workbook: Use the Power of Your life. Imagination. USA: Publisher Group West.
Munandar, Utami. 2002. Kreativitas & Keberbakatan : Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
______. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. PetunjuStrategi Meningkatkan Kreativitas
Pustakawan Di Abad 21
by Testiani
Mahasiswa Pascasarjarna UGM – Manajemen Informasi Perpustakaan

Pendahuluan
Pustakawan adalah makhluk yang diberi kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai situasi dan tantangan kehidupan. Perubahan yang terus menerus secara global menuntut pustakawan beradaptasi dengan cepat terhadap berbagai situasi dan kondisi yang seringkali tidak dapat diprediksi. Tingkat keragaman dan kedalam permasalahan sangat tinggi karena berada dalam koridor konteks yang kompleks. pustakawan dituntut memikirkan dan bertindak dengan berbagai cara untuk dapat menguraikan kompleksitas tantangan dan memikirkan berbagai alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantatangan, untuk itulah pustakawan membutuhkan kretaivitas. Orientasi memandang suatu persoalan merupakan kunci awal pustakawan memiliki kreativitas.
Sedangkan pendidikan formal adalah salah satu biang keladi pembatas kreativitas manusia sejak dini padahal, hal itu tidak benar. Houtz menekankan bahwa kreativitas bukanlah suatu bakat yang dianugerahkan sejak lahir, melainkan sesuatu yang harus diusahakan dengan kerja keras; Menurutnya, orang-orang kreatif adalah mereka yang memiliki kedisiplinan untuk terus menciptakan ide-ide baru dan ketekunan untuk mewujudkan ide-ide mereka.
Pustakawan di Abad 21 menghadapi masalah semakin kompleks untuk mengatasi masalah ini, pustakawan perlu menghasilkan atau memikir suatu hal yang baru dalam dunia perpustakaan apakah mengkontruksi, inovoasi, presentatif dengan berbagai pendekatan. Pustakawan abad ke-21 harus memiliki keahlian yang memungkinkan pustakawan untuk mengeksplorasi kreativitas, untuk mencari dan mengevaluasi informasi kritis, untuk bekerja produktif sebagai pustakawan, dan untuk secara efektif mengkomunikasikan multi task kepada orang lain.

Kompetensi Pustakawan Abad 21
Kemajuan perpustakaan tidak terlepas dari kualitas sumber daya manusia (SDM). Oleh karenanya kreativitas perlu disalurkan. Dimana di era teknologi tidak lepas dari peran seorang pustakawan untuk kratif dalam berbagai kegiataan (multi Task) yang harus diterapakan dalam kehidupan seorang pustakawan. Pustakawan sebagai gawang peradaban informasi, mediator, fasilator harus mampu meningkat kreativitasnya. Bukan saatnya lagi pustakawan sebagai pelayan perpustakaan atau menunggu pelanggan yang meminjam jasa mereka. Bahwa peran pustakawan semakin berkembang dari waktu ke waktu tidak hanya melayani dan display buku. Namun peran pustakawan adalah MultiTask seperti hard skill yaitu penguasaan teknis dan detail bidang kepustakawanan serta keperpustakaan sedangkan soft skil yakni berkaitan dengan kemampuan berpikir strategis sebagai perumus kebijakan, wawasan masa depan (forward looking), dan kemampuan perencanaan strategis, kemampuan manajerial, kemampuan komunikasi publik, dan lainnya tentang perpustakaan.
Tujuan dari hal tersebut pustakawan mampu berkompetensi sehingga akan memberi citra positif pada pustakawan dan kinerja pustakawan meningkat. Dimana selama ini Stereotipe pustakawan sangat ironis seperti pustakawan adalah bekerja buangan karena anggapan masyarakat dipengaruhi oleh budaya kerja pustakawan misalanya kerja pustakawan hanya sebatas pelayanan dan tidak ramah pada penggunjung. Ini merupakan salah satu indikator pustakawan belum kreatif. Sedangkan kita tahu di Abad 21 diberbagai profesi mengutamakan serta menjunjungi tinggi nama kreativias dan inovatif. Peranan pustakawan turut mendistribusikan kretivitas dalam bidang informasi dan menjaga keterbelakangan masyarakat dari informasi serta teknologi yang berkembang cepat adalah kenyataan yang tidak dipungkiri agar pustakawan dapat melakukan produktifitasnya dalam segala bidang. Peranan ini akan dapat berhasil dan tepat guna apabila fungsi pustakawan menumbuhkan kreativitas dilakukan secara profesional.
Oleh sebab itu bagaimana pustakawan menciptakan suatu hal yang tak pernah terpikir oleh orang lain, sehingga mampu memberi kepuasaan kepada pelanggan serta mengangkat citra pustakawan dikenal maungnya ditengah masyarakat. Namun mencermati perkembangan di Abad 21 manajemen pustakawan dan kaitannya dengan kompetensi pustakawan menurut Hakrisyati Kamil (2005) bahwa pustakawan Indonesia pada umumnya memiliki keterbatasan antara lain:
1. Kurang memiliki pengetahuan bisnis
2. Pustakawan tidak memikili kemampuan untuk bergerak secara bersamaan dalam ruang lingkup informasi, organisasi dan sasaran organisasi
3. Kemampuan kerjasama sebagai dalam kelompok dan juga kepemimpinannya tidak memadai untuk posisi strategis dan
4. Kurang memiliki kemampuan manajerial.
Kemudian secara realitas kebanyakan pustakawan Indonesia tidak bangga berprofesi sebagai pustakawan yang bekerja diperpustakaan. Bagaimana untuk kreatif sedangkan mencintai dan mengatakan pustakawan saja kepada masyarakat luas bahwa “aku adalah pustakawan” saja sudah tidak berani. Sebab salah satu indakator mampu membangkit kreativitas adalah adanya dorongan (motivasi) mencintai profesinya. Melalui kecintai tersebutlah mampu membangkit kreativitas dan keasyikkan dalam bekerja. Pengakuan masyarakat terhadap profesi pustakawan juga dapat diciptakan melalui kepercayaan diri pustakawan baik secara akademis maupun secara profesional. Ada pertanyaan besar dalam masyarakat luas yang masih meragukan apakah pustakawan mampu menghadapi tantangan baru dan menjadi pustakawan kreatif di Abad 21?

Katagori Kreativitas
Dalam hal ini, Rhodes mengategorikan kreativitas menjadi 4 (Dalam Utami, 2002:26) antara lain sebagai berikut:
1. Person (pribadi kreatif), menjadi motor sekaligus pondasi bagi tumbuhnya aktivitas-aktivitas kreatif.
2. Process (proses kreatif) menghasilkan atmosfir kerja untuk selalu menghasilkan ide-ide dalam mendukung aktivitas kreatif.
3. Press (dorongan/ dukungan lingkungan), mempengaruhi variasi/ aneka ragam aktivitas kreatif.
4. Product (produk kreatif), menjadi andalan bagi aktivitas kreatif untuk selalu dimanfaatkan pelanggan perpustakaan.
Kreativtias pustakawan tidak hanya dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan konseptual dan teoritikal mengenai berbagai masalah informasi dan masalah sosial yang terkait dan dengan kemampuan pustakawan analisis untuk menciptakan produk baru diperpustakaan. Hanya dengan berpikir secara teoritis yang berjenjang serta viosioner akan dapat meningkat kreativitas pustakawan. Pustakawan membutuhkan satu lembaga atau komunitas ilmiah maupun nonilmiah bagaimana cara mengkaji masalah-masalah meningkatkan strategi kreativitas pustakawan pada Abad 21. Melalui berbagai kegiatan penelitian, pengkajian, seminar yang dilakukannya oleh komunitas pustakawan mampu merekomendasikan kreatifitas objektif dapat dipertanggungawabkan.
Sund (dalam Munandar 1987: 37) menyatakan bahwa individu dengan potensi kreatif memiliki ciri-ciri berikut:
1. Hasrat ingin tahu yang besar
2. Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru
3. Panjang akal,
4. Keinginan untuk menemukan dan meneliti,
5. Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan sulit,
6. Cenderung mencari jawaban yang luas dan memuaskan
7. Memiliki dedikasi bergairah serta aktif dalam melaksanakan tugas
8. berfikir fleksibel
9. Menanggapi pertanyaan yang diajukan serta cenderung member jawaban lebih banyak
10. Kemampuan membuat analisis dan sintesis
11. Memiliki semangat bertanya serta meneliti
12. Memiliki daya abstraksi yang cukup baik, dan
13. Memiliki latar belakang membaca yang cukup luas.
Secara definitif dapat ditarik sebuah benang merah bahwa kreativitas dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berfikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan. Ciri-ciri kreativitas seperti ini merupakan ciri-ciri yang berhubungan dengan kemampuan berfikir pustakawan dengan kemampuan berfikir kreatif. Sehingga semakin kreatif pustakawan, Ciri-ciri tersebut semakin dimiliki. Tetapi ciri-ciri tersebut belum menjamin perwujudan kreativitas pustakawan. sedangkan cirri lain agar akar kreativitas semakin utuh yakni harus memiliki sikap dan perasaan memotivasikan kreativitas pustakawan.
Menurut Munandar (1987: 36), bahwa ciri-ciri afektif yang sangat esensial dalam menentukan prestasi kreatif seseorang yaitu (a) rasa ingin tahu, (b) tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai tantangan, (c) berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau untuk dikritik orang lain, (d) tidak mudah putus asa, (e) menghargai keindahan, (f) mempunyai rasa humor, (g) ingin mencari pengalaman-pengalaman baru, dan (h) dapat menghargai dirinya sendiri maupun orang lain.
Dari kedua bentuk sikap kreatif baik secara kognitif maupun afektif bagi pustakawan perlu dikembangkan. Hal ini dilatar belakangi pustakawan sebagai pengemas dan penyaji informasi yang bekerja secara aktif dan efektif.
Berdasarkan uraian di atas maka, kreativitas pustakawan yang menjadi fokus adalah bagaimana aplikasi pengembangan berfikir dan bersikap kreatif yang perlu dikembangkan pustakawan dalam mengelola perpustakaan sebagai pusat informasi. Sehingga adanya kreativitas pustakawan mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan.

Pentingya Kreativitas
Kreativitas sangat diperlukan dalam pengembangan profesi. kreativitas harus didukung dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan penguasaan kompetensi, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan memiliki komitmen yang kuat terhadap berbagai hal. Menumbuh dan meningkat kreativitas menurut Robert Epstein memberikan empat cara untuk melatih kreativitas antara lain:
1. Capturing.
Jangan biarkan satupun ide lewat begitu saja, betapapun merasa ide itu tidak terlalu istimewa.

2. Surrounding.
Ide-ide kreatif tidak muncul begitu saja dari dalam otak kita, melainkan hasil dari interaksi kita dengan lingkungan. Karena itu, lingkungan fisik dan sosial pun sebisa mungkin harus penuh dengan kreativitas pula. Perbanyaklah pergaulan dengan orang-orang yang latar belakang, kepribadian, atau minatnya jauh berbeda.
3. Challenging
Kreativitas seringkali muncul mendadak saat menghadapi hambatan atau rintangan.
4. Broadening
Sangat penting bagi seseorang yang kreatif untuk memiliki wawasan yang luas. Jangan sungkan untuk mempelajari hal-hal baru yang mungkin tidak berhubungan dengan pekerjaan atau pendidikan.
Sedangkan merujuk pada pendapat Shakti Gawain dalam “Creative Visualization” (Creating Strategies Inc.: 2002), para kreativitor perlu melewati empat tahapan proses untuk menajamkan visinya, yaitu:
1. Memiliki tujuan yang jelas
2. Memiliki potret mental yang jelas dari sebuah obyek yang diinginkan
3. Memiliki ketahanan konsentrasi terhadap obyek atau tujuan, dan
4. Memiliki energi, pikiran, keyakinan positif.
Jadi, dalam meningkat kreativitas pustakawan sesuai dengan apa yang telah diuraikan oleh para pakar hal harus dilakukan oleh pustakawan percaya diri, komitmen dan berbanyak membangun relasi dengan professional lain seperti psikolog, programmer, penulis dan sebagainya. lewat hal seperti itu pustakawang termotivasi serta mampu menangkap ide-ide baru yang bisa diterapkan dalam dunia perpustakaan.

Strategi Meningkat Kreativitas
Kenapa perlu ada strategi dalam meningkat kreativitas karena kreativitas merupakan kendaraan bagi pustakawan untuk menjadi pemenang dalam segala bidang. seperti yang diungkap dalam milis motivasi menyatakan ada beberapa startegi meningkat kreativitas pustakawan sebagai berikut:

1. Passion
Passion membuat seseorang punya fighting spirit /semangat juang. pustakawan tidak mudah menyerah dan putus asa dalam menghadapi berbagai masalah, sesulit apa pun, termasuk pekerjaan. Masalah justru menjadi pemicu untuk mencari terobosan. Passion akan me-munculkan kreativitas secara spontan. Tanpa passion, prestasi gemilang tidak dapat pustakawan raih.
2. Time Management
Pengaturan waktu yang baik juga akan memunculkan kreativitas. Ada waktu bekerja. Ada waktu beristirahat. Karena itu, kita harus bekerja cerdas. Yaitu dengan memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien untuk memperoleh hasil optimal. Keberhasilan dalam perpustakaan, tidak diukur berdasar lamanya waktu kerja pustakawan. Tetapi pada hasil akhirnya, apakah sesuai harapan atau kriteria yang ditetapkan oleh perpustakaan. Bekerja terus menerus tanpa diimbangi istirahat cukup membuat otak pustakawan overload (kelebihan beban). Dengan mengatur jam kerja serta jam istirahat dengan disiplin, aliran darah ke otak tidak terhambat karena pustakawan memperoleh oksigen dengan sempurna. Saat pustakawan merasa relaks, punya kesempatan untuk mengembang-kan ide baru.
3. Networking
Pustakawan merupakan makhluk sosial yang punya kebutuhan untuk bisa berinteraksi. Sesibuk apa pun pustakawan dalam dunia perpustakaan, pustakawan perlu upayakan tetap menyediakan waktu berkualitas untuk bertemu dengan berbagai kolega. Pertemuan tersebut mendatangkan energi kreativitas pustakawan. Sikap utama yang dibutuhkan dalam membina networking yang positif adalah ”sikap rendah hati”. Mau mendengar pendapat dan dapat menghargai kelebihan orang lain. Sering berdiskusi dengan banyak orang akan menyulut ide yang memunculkan kreativitas yang lebih membumi, sesuai dengan kebutuhan zaman.
4. Sense Of Competition
Banyak pustakawan merasa tidak nyaman dikelilingi pesaingnya. Baik itu secara individu di tempat kerja maupun terhadap lembaga itu sendiri. Padahal, berada di tengah-tengah pesaing, alarm kewaspadaan pustakawan untuk ”selalu siaga” akan terus berbunyi. Pustakawan pada Abad 21 tidak hidup dalam zona kenyamanan. Kreativitas akan lebih mudah diting-katkan saat situasi pustakawan terjepit. Bila perlu carilah obyek yang dapat dipakai untuk membangkitkan ”sense of competition” agar kreativitas pustakawan senantiasa berkembang. Akhirnya pustakawan menjadi pemenang.
5. Humility
Kerendahan hati merupakan sumber kreativitas. Sikap rendah hati membuat pustakawan selalu melakukan introspeksi dan koreksi terhadap semua aktivitasnya. Hanya dengan kerendahan hati pustakawan mau menerima teguran / masukan. Hanya dengan kerendahan hati pula pustakawan tidak merasa superior dalam wawasan tetap ”merasa kurang”, sehingga selalu mencari sumber pengetahuan dengan berbagai cara. Humility sangat berperan dalam meningkatkan kreativitas.

Kesimpulan
Dari semua komponen dan segmen di atas dijelaskan. Maka pustakawan harus pandai-pandai menangkap peluang sekitar perkembangan teknologi informasi, harus selalu melihat perekembangan perpustakaan, harus mampu mengamati perkembangan-perkembangan termasuk convergences dan melihat perkembangan lingkungan local dan nasional. Kemudian pustakawan jangan terkekang dengan lingkungan perpustakaan saja harus mampu berkoneksi dan berjaring dengan profesi-profesi lainnya yang mampu membangkit kreativitas seperti membangun jaringan dengan LSM, komunitas dan bahkan bakti social. Pustakawan jangan takut dengan hal-hal baru yang dihadapi semua tantangan baru pustakawan ada solusinya bahkan komitmen dengan kreativitas yang diciptakan.
Kreativitas juga dapat ditingkatkan dengan cara mencoba hal-hal baru untuk meningkatkan pengalaman. Lakukan setiap proses mencoba hal baru itu sebagai sebuah permainan, sehingga pustakawan merasa senang melakukannya, serta lebih siap menerima kegagalan dan belajar dari kegagalan tersebut. Perasaan senang itu merupakan kunci meningkatkan daya kreativitas. Serta pustakawan hendak selalu mengikuti secara continue pelatihan, pengembangan diri, dan melanjuti pendidikan tingkat tertinggi misal S3. Sebab di Indonesia hanya beberapa guru besar dalam jurusan perpustakaan bahkan ikut serta dalam penelitian ilmiah.

Daftar Pustaka

Epstein, Robert. 1999. Encylopedia of creavity. United Kingdom: Academic Press
Gawain, Shakti. 1995. The Creative Visualization Workbook: Use the Power of Your life. Imagination. USA: Publisher Group West.
Munandar, Utami. 2002. Kreativitas & Keberbakatan : Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
______. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Petunjuk bagi para guru dan orang tua. Jakarta: PT GramediaWidiaswara Indonesia indonesianschoollibrarian
http://www.khusnuridlo.com/2010/07/mengapa-perlu-mengembangkan-kreativitas.html
http://klinikspirit.multiply.com/journal
.
k bagi para guru dan orang tua. Jakarta: PT GramediaWidiaswara Indonesia indonesianschoollibrarian
http://www.khusnuridlo.com/2010/07/mengapa-perlu-mengembangkan-kreativitas.html
http://klinikspirit.multiply.com/journal
.

Essay SOP Library


  1. . a. Siapakah saudara

Di perpustakaan saya adalah seorang Pustakawan Ahli yang menduduki jabatan Kepala Bidang bagian pengembang perpustakaan.

b. Apa yang saudara lakukan

Ketika saya diamanahkan atau dipercayai oleh penangung jawab, atasan dan sesama pustakawan sebagai kepala bidang pengembangan perpustakaan baik dari bentuk fisik maupun non fisik. Maka hal utama yang saya lakukan adalah merubah paradigma perpustakaan terutama pada layanan yakni penyediaan Learning Commons diperpustakaan. Dengan adanya penyediaan Learning Commons bagi pengunjung perpustakaan dapat menumbuh citra perpustakaan dan pustakawan.

c. Mengapa saudara dan yang saudara laukan di perpustakaan itu perlu

Selama ini stereotype of library adalah sebuah tempat/ruangan yang menyeramkan (tidak boleh ini dan itu) kecuali perdiam diri diperpustakaan. Tujuan dari penyediaan Learning Commons yakni untuk menuju sebuah perpustakaan edutaiment dan kreativitas. Seperti dikatakan oleh Laura Bott dan Kata: Librarians and staff can ease anxiety and increase the comfort level of their Immigrant users by providing instruction for new features while also retaining some elements of traditional library services (Botts & Kata, 2006).

Sebab saat ini gaya belajar pelajar atau mahasiswa senang belajar dalam kelompok atau komunitas. Ruangan yang dapat menambung para komunitas atau group belajar ini salah satu solusinya adalah di Learning Commons tersebut. Kemudian tersedianya Layanan Learning Commons diperpustakaan sehingga pemakai perpustakaan dapat belajar bersama-sama secara kolaboratif dan dapat memanfaatkan fasilitas teknologi bersama-sama sementara sumber-sumber infomasi dan ilmu pengetahuan terwadahi secara digital yang memungkinkan space perpustakaan dapat dimanfaatkan untuk pemakai. Serta pengunjung perpustakaan dapat mengekspresikan kreativitas di Learning Commons karena konsep dari layanan tersebut adalah menumbuhkan semangat kreativis dengan nuansa edutaiment.

Oleh karena itu dengan tersedianya  learning commons tersebut mampu mengantisipasi lingkungan dan cara belajar pemakai sekarang yang berbeda—media-rich, content-rich, learner-driven. Learning commons adalah sebuah gambaran perpustakaan secara fisik dimana semua orang yang ada di dalam perpustakaan bisa berbagi untuk memanfaatkan berbagai sumber informasi yang dapat diakses melalui teknologi sehingga menciptakan suasana masyarakat pembelajar yang betul-betul sedang mencari ilmu.

Adapun hal yang saya lakukan ketika saya merencanakan untuk menyediakan Learning Commons diperpustakaan antara lain: Pertama mendesain perpustakaan dengan konsep yang tidak lepas dari misi dan visi perpustakaan sendiri. Akan tetapi dari visi dan misi tersebut dikombinasikan dengan settingan entrepreneur (lebih kepada sytle saja yang diadopsikan) seperti Setting café, kantin, atau rumah-rumah tradisional (edutainment). Hal yang terpenting dari settingan Learning Commons yakni harus sesuai dengan psikologi (behavior) pengunjung generasi Millinial perpustakaan. Kenapa? Jangan sampai apa yang telah direncanakan dan selesai Learning Commons tersebut ternyata tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pengunjung dan kemajuan di Abad 21 baik dari segi informasi serta teknologi. Kedua di ruangan Learning Commons baik tiap bulan, Triwulan dan semesteran melaksanakan suatu event baik bentuk pameran, perlombaan, seminar atau curhat bareng tentang perpustakaan dari pengunjung. Hal ini dilakukan untuk menambah semangat pengunjung untuk selalu memanfaatkan terutama pengunjung potensial. Misalnya perpustakaan menggadakan pameran saat hari ibu dengan Teman wanita teladan Indonesia.  Maka selama satu pekan atau satu bulan di Learning Commons menyediakan informasi tentang Wanita teladan Indonesia dimulai dari Picuture, Bibliografi, maupun informasi lainnya. Ketiga dalam hal ini perpustakaan kemudian menyediakan pula berbagai fasilitas seperti meeting room, practice rooms, video conferencing, collaborative software boardmultimedia center, vending machine.

Continue reading

Essay SDM Informasi


1. Apa pendapat saudara tentang penyimpanan data yang ada di server yang jauh seperti ini

Cloud computing adalah teknologi yang menggunakan internet dan server remote sentral dalam menjaga data dan aplikasi  Cloud komputasi memungkinkan konsumen dan bisnis untuk menggunakan aplikasi tanpa instalasi dan mengakses file pribadi mereka di setiap komputer dengan akses internet.  Teknologi ini memungkinkan komputasi yang jauh lebih efisien dengan memusatkan penyimpanan, memori, pengolahan dan bandwidth.

Berdasarkan definsi tersebut diatas, maka jelas bahwa manfaat cloud computing sangat memberi kemudahan bagi masyakat dalam pengelohan informasi pribadi mereka (PIM) lewat server yang telah disediakan dengan fitur-fitur lengkap. Dimana bisa menyimpan sebanyak apapun informasi dengan berbagai format dan bisa mengakses dimanapun tanpa ada batas reference waktu. Cloud dapat membuat manejmen dan operasional lebih gampang karena system pribadi atau Organisasi yang terkoneksi dalam satu cloud sehingga dapat dengan mudah untuk memonitor dan mengaturnya. Dapat menyimpan data lebih banyak dibandingkan pada private computer. Seluruh dunia juga akan tahu tentang informasi-informasi apa saya yang dimiliki seseorang (terintegrasi). Selain itu informasi yang dimiiki seseorang juga memberi manfaat pada orang yang lain membutuhkan informasi tersebut.

Dibandingkan informasi tersebut disimpan di Leptop, Personal Computer, Handphone,  atau perpustakaan mereka masing-masing. Otomatis membutuhkan space baik dalam bentuk fisik seperti ruangn dan Chip yakni memory (terbatasnya penyimpanan informasi). Dalam arti kata bahwa Penggunaan teknologi cloud menghemat biaya dan lebih efisien dikarenakan menggunakan anggaran yang rendah  membantu dalam menekan biaya operasi yang dikeluarkan oleh sebuah organisasi/personal dalam rangka meningkatkan reability dan kritikan system yang dibangun. Kemudian lewat Cloud Computing tersebut begitu jelas menunjukkan aktualisasi diri, tidak adanya privacy dan pencitraan diri.

Namun resiko dari Cloud Computing tersebut juga sangat berbahaya seperti dilakukan penelitian Pada Bulan Maret 2010, ISACA (Information Systems Audit and Control Association) melakukan survei terhadap 1.800 profesional dalam bidang IT di Amerika yang merupakan anggota dari Grup ISACA. Salah satu poin dari survei, mempertanyakan tentang kepercayaan profesional IT tersebut terhadap Cloud Computing. Dimana pertanyaan yang dilakukan oleh peneliti: Manakah dari berikut ini yang Anda percaya mengenai cloud computing? Dari hasil penelitian tersebut mendapat hasil antara lain sebagai berikut (1) Manfaat dicapai melebihi resiko. 17%, (2) Resiko melebihi manfaat 45% dan (3) Manfaat dan Resiko Seimbang 38%.

Maka dari hasil survey tersebut dapat disimpulkan bahwa bahwa Resiko yang dihadapi dengan cloud computing lebih besar daripada manfaat yang diperoleh karena masih banyak ditemui kasus-kasus kejahatan yang tak dapat dihindari disebabkan oleh adanya celah pada teknologi internet itu sendiri.  Karena tidak tahu misalnya siapa yang berada di Cloud itu,  siapa yang mengelola para partisipan di Cloud, siapa yang bertanggung jawab untuk masalah liability, bagaimana aturan main di dalam Cloud, yang melibatkan beberapa pihak, bagaimana model pengelolaan database dan informasi di Cloud.  Akan tetapi yang terpenting yakni bagaimana data mereka dilindungi,  bagaimana penyedia jasa mengatasi celah-celah ancaman (vulnerabilities).

Sehingga hal terpenting dalam pertimbangan bagi siapapun yang ingin memanfaatkan Cloud dalam kehidupan sehari-hari apalagi saat ini begitu banyak penyediaan jasa cloud secara gratis. Ada baik mempertimbangkan bagaimana kejaminan data yang tersimpan dan apakah cluod tersebut menyediakan proteksi terhadap ancaman data seseorang sehingga data tersebut memang terjamin dan tidak digunakan oleh pihak lain.

Continue reading

Teori Strukturisasi


Latar belakang dari penulisan buku ini adalah terjadinya inflasi terutama pada ilmu-ilmu social pada dasawarsa terakhir ini. Perkembangan hanya terfokus pada bagian utama teori social dan terutama pada cabang-cabang ilmu social yang paling mengguncang banyak kalangan terutama pada para peneliti sosiologi. Anthony Gidden memulai dari telaah kritis terhadap para pemilik mazhab ilmu sosiologi seperti pemikiran Karl Marx, Emile Durkeim dan Max Weber. Dari ketiga tokoh ini menggatakan refleksi berbagai pemikiran seperti Talcout Person dan sebagainya.

Secara khusus Gidden menaruh perhatian pada masalah Dualisme yang menggejala dalam teori social. Dualisme itu berupa antara subjektivisme dan objektivisme, volontuisme dan determine. Subjektivisme dan valuntarisme merupakan tendensi cara padang yang memprioritaskan tindakan atau pengalaman individu. Adapun objektivisme dan determisme merupakan kecenderungan cara pandang yang memprioritaskan gejala tindakan dan pengalaman individu.

Teori strukturisasi sebagaimana yang akan dijelas oleh Gidden yakni  berhubungan dengan tiga rangkaian isu utama yakni (1) menggunakan suatu pendekatan teori social yang khusus dengan menggabungkan satu versi mapan fungsionalisme dan satu konsepsi narutalistis dalam sosiologi. (2) menekankan karakter aktif dan relative dari perilaku manusia. (menolak aliran-aliran pemikiran itu sama-sama ortodok yang melihat perilaku manusia sebagai hasil dari kekuataan-kekuataan di luar control maupun pemahaman para perilaku tindakan). Dimana aliran pemikiran itu mengakui peran penting bahasa dan kecapan-kecapan kognitif dalam menjelaskan kehidupan social.

Teori social dalam strukturisasi ini mencakup isu-isu berhubungan dengan watak tindakan manusia (human action) dan petindak (the acting self), bagaimana interaksi terkonseptualisasikan dan hubunganya dengan institusi-institusi serta upaya memahami konotasi-konotasi praktis analis social. Serta untuk melihat atau memusat kajian tentang pada masyarakat maju atau modern. Focus pembahasan dari teori strukturisasi adalah upaya memahami agensi manusia dan institusi-institusi social. Kemudian dikaitkan dengan menggunakan teori social dengan tujuan memberikan konsepsi-konsepsi tentang hakikat dari aktivitas social dalam strukturisasi. Sehingga mampu menjelaskan proses-proses kongkret dari kehidupan social.

Unsur-unsur dalam teori strukturisasi antara lain agen, agensi. Agensi dan kekuasaan. Struktur, strukturisasi. ada 2 pendekatan yang digunakan dalam melihat unsur-unsur strukturisasi (1) pendekatan yang berlaku menekanan pada dominasi struktur dan kekuataan social (seperti personalian dan strukturilisme yang cendurung objeyektivisme. (2) pendekatan yang terlalu menekankan berseberangan. Kedua pendekatan bersebarang tersebut Gidden tidak memilih salah satu namun merangkup keduanya lewat teori strukturisasi. lewat strukturisasi menyatakan bahwa kehidupan social lebih sekedar tindakan-tindakan individual. Akan tetapi kehidupan social itu juga tidak semata-mata ditentukan oleh kekuataan social. Human dan agency dari struktur social berhubungan satu sama lain. Tindakan-tindakan yang berhubungan (repetisi) dari agen-agen individualah memproduksi struktur tersebut. Hal ini berarti terdapat struktur social seperti tradisi, insitusi aturan moral serba cara-cara siapa untuk melakukan sesuatu. Jadi, semua struktur itu bisa diubah ketika orang mulai mengubah, menggantikan atau memproduksi secara berbeda pada content ruang dan waktu.

Pada pandangan Gidden terdapat sifat dualitas pada struktur yakni struktur sebagai medium dan sekaligus sebagai hasil (outcome) dari tindakan agen yang diorganisasikan secara berulang-ulang. Maka landasan structural dari suatu system social sebenarnya tidak berada di luar tindakan, namun struktur dan agency tidak bisa dipahami secara terpisah pada tingkatan dasar. Struktur diciptakan, dipertahankan dan diubah melalui tindakan-tindakan agensi. Sedangkan tindakan dipengaruhi atau dimaknai hanya melalui kerangka stuktur. Sebab Jalur sebab akibat berlangsung dua arah. Sehingga membingungkan atau memungkinkan untuk menentukan apa yang menggunakan apa. Struktur seperti ini memiliki sifat membatas atau menggengkang serta membuka  kemungkinan bagi agen dalam bertindak.

Kemudian Gidden membahas kesadaran, diri, dan perjumpaan social tentang sejumlah persoalan konseptual mendasar yang dikatatengahkan dengan menghubungkan konsep-konsep utama teori strukturiasi dengan suatu tafsir terhadap hakikat kesadaran. Kesadaran, diri, dan perjumpaan social terdiri dari refleksivitas, kesadaran diskursif dan praktis. Tidak berkesadaran, waktu dan ingatan. Erikson rasa cemas dan percaya serta rutinisasi dan motivasi. Analisis ini secara langsung akan membawa pada penggujian sejumlah pandangan tentang interaksi antara agen dalam keadaan pertemuan muka. Meliputi tentang tubuh, sebagai lokus diri pertindak dan berada dalam ruang-waktu. Kemduain memusatkan pembahasan pada penentuan sifat-sifat psikologis tertentu dari agen dan analisisi terhadap interaksi-interaksi dalam situasi-situasi pertemukan muka-muka (co-presence) dan integrasi social, perjumpaan dan runitas, serial atau episode, pembicaraan reflevitas dan posisi.

Continue reading

The Third Way (Jalan ketiga)


Gambaran Kapital

Neo–liberalisme dengan 3 prinsip utamanya yaitu Deregulasi, Liberalisasi, dan Privatisasi itu seakan–akan menjadi momok yang menakutkan bagi negara–negara dunia ketiga. sebab dengan semakin maraknya globalisasi maka akan semakin mudah pula Neo-liberalisasi ini “menjajah” kelompok – kelompok miskin yang ada negara – negara dunia ketiga, yang kebanyakan berada di Asia dan Afrika. Kehancuran kelompok miskin dinegara dunia ketiga, dapat terlihat ketika munculnya semacam perjanjian–perjanjian perdagangan bebas, maupun oraganisasi – organisasi perdagangan dunia yang notabene dikuasai oleh negara maju. Seperti WTO, IMF, maupun organisasi lainnya. Munculnya WTO dan semacamnya itu tidak dapat dihindari, sebab mereka adalah aktor – aktor dari globalisasi tersebut, selain perusahaan – perusahaan multinasional yang ada itu tentunya. WTO sebagai aktor globalisasi menjadi semacam senjata utama bagi negara maju untuk dapat menguasai perdagangan dunia, karena bagi setiap negara anggota WTO harus dapat mentaati dan menghormati setiap perjanjian dan aturan yang telah disepakati sebelumnya didalam WTO tersebut. Namun ternyata aturan – aturan yang dibuat dan diberlakukan bagi setiap anggota WTO itu hanya berdampak buruk kepada negara berkembang, karena adanya penerapan standart ganda (double standard). Salah satu contoh nyata adalah adanya aturan Common Agricultural Policy (CAP) yang dikeluarkan oleh Uni Eropa.

Menyadari makin tingginya biaya produksi di sektor pertanian, maka negara – negara Uni Eropa merasa perlu memberikan subsidi kepada para petani mereka untuk menurunkan harga jual produk mereka. Negara – negara anggota Uni Eropa ini berinisiatif untuk mengumpulkan dana khusus yang kemudian didistribusikan kepada para petani di masing – masing negara. Adapun kebijakan subsidi ini merupakan salah satu bentuk standard ganda di sektor pertanian, dimana dalam persepakatan WTO, negara – negara maju telah menyatakan komitmennya untuk mengurangi secara signifikan subsidinya. Tetapi didalam konteks Uni Eropa, yang terjadi justru sebaliknya. Didalam hal pemberlakuan CAP ini, sudah dapat dipastikan petani – petani di negara berkembang akan semakin sengsara.

Gambaran Sosialisme

“Kapitalisme berjaya bersama kembarannya demokrasi liberal. Aliran ini adalah paham Sosialis yang didukung oleh beberapa pemimpin negara di Amerika selatan.  Aliran sosialistik sebagai kritik daripada paham Kapitalistik sebagai mainstream. Adapun secara garis besar prinsip dasar dari pemahaman sosialistik ini adalah lebih menekankan pada kesetaraan ekonomi, serta menempatkan negara didalam peran yang cukup signifikan dibidang perekonomian pada khususnya, sehingga dapat menciptakan kesejahteraan rakyat.

Continue reading

Merancang Pengembangan Perpustakaan



.

Setiap perpustakaan PT memiliki strategi pengembangan yang berbeda satu sama lain, tergantung pada kondisi awal masing-masing perpustakaan. Paling tidak sebagai seorang kepala perpustakaan harus mengamati lingkungan tempat berada perpustakaan yang dinaungin karena lingkungan eksternal dan internal akan mempengengaruhi dalam mendesain perpustakaan, teknologi, koleksi dan SDM yang akan ditetapkan diperpustakan. Kemudian harus melihat pesaing diluar seperti apa jika pesaing perpustakaan telah banyak perubahan baik dari koleksi, teknologi dan sarana lain, maka otomatis perpustakaan yang dinaungin juga wajib untuk berubah agar perpustakaan dibawah naungan tidak ditinggal oleh pengunjung atau dikunjungi oleh beberapa orang saja.

Untuk merompak segala perubahan diperpustakaan yang masih jauh tertinggal dengan perpustakaan profit maupun non profit.  Ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam perumusan strategi atau mengambil kebijakan dalam menuju perubahan perpustakaan tersebut antara lain adalah: berapa besar perpustakaan digital yang akan dibangun; muatan apa saja yang menjadi kebutuhan akses di dalam kampus; komponen apa saja yang akan dibutuhkan; siapa saja praktisi yang mempunyai keahlian, pengguna, pengembang, tenaga teknis yang akan disertakan dalam pengembangan; dan fungsi-fungsi apa saja yang dapat didukung secara lokal atau apa saja yang harus dipasok oleh pemasok. Semua hal tersebut tertuang dalam proposal perubahan perpustakaan menuju citra positif dan disampaikan kepada penanggung jawab perguruan tinggi, stekholder dan kolega yang terkait dengan perubahan perpustakaan tersebut.

Dan tak kalah pentingnya dalam pengembangan Scholarly Content perpustakaan yakni:

–          Library Collection (How to link up to their research output tracking system) dan (How to keep informed of new conferences held on campus)

–          Journals (How to keep on harvesting open access publications) dan (How to harvest for new work)

–          Web (How to negotiate with publishers)

–          Researchers (How to increase self submission)

–          Publishers (How to negotiate with publishers)

Mewujudkan kondisi perpustakaan sesuai dengan fungsi dan peranannya maka perpustakaan harus dirubah sistem operasionalnya dari perpustakaan manual/tradisional menjadi perpustakaan yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi (Perpustakaan digital). Dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi diharapkan perpustakaan secara bertahap dapat mengejar ketinggalannya dari perpustakaan-perpustakaan yang lebih maju dan sesuai dengan keinginan pengguna (user frendly) serta dapat mengoptimalkan fungsi perpustakaan bagi mahasiswa dan masyarakat. Selain hal tersebut diperlukan suatu manajemen pengelolaan yang sesuai dengan standar internasional dalam mengelola perpustakaan. Karena tanpa manajemen yang baik pekerjaan tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Dalam pengembangan dan perubahan perpustakaan harus memperioritaskan dalam perubahan tersebut yakni arah konsistensi, inovasi, tindakan efisiensi, kinerja, evaluasi dan perubahan. Maka langkah-langkah pengembangan stategis perencanaan antara lain sebagai berikut:

  1. Membangun “the ground rules” (partisipasi, task force, timeline, dsb)
  2. Mengembangkan “mission statement” Lakukan analisis lingkungan (PETS)
  3. Analisis Sumberdaya (strengths, weaknesses – SWOT) Berarti kemana akan pergi sehingga harus tahu dimana sekarang dan langkah yang ditempuh untuk mencapai tujuan tsb.
  4. Identifikasi isu-isu strategis (masa depan perpustakaan)
  5. Definisikan strategi masa depannya (kemana arah perpustakaan)
  6. Tentukan program (bagaimana caranya – projects)
  7. Implementasi dan rencanakan evaluasi (sukses?)

Continue reading

Learning Commons di Perpustakaan



Kebutuhan belajar abad ke-21 sangan berbeda sekali dengan generasi Baby Bommery maupu generasi yang lain dibandingkan dengan gernari Milleniall banyak mengalami perubahan. Pelajar abad ke-21 selalu menginginkan pelayanan yang prima, informasi yang terupdate, terkoneksi, dan membutuhkan suatu tempat khusus untuk berkumpul dengan komunitas pelajar maupun komunitas organisasi. Learning Common yang dibutuhkan oleh pelajar atau mahasiswa terutama Strata satu yakni membutuhkan ruang Virtual Learning agar mempermudahkan pelajar untuk berinterakasi dan komunikasi karena itu merupakan salah satu perilaku generasi Milleniall dalam ruangan learning common. Oleh karena itu perpustakaan harus menyediakan Learning Common sangat penting karena memungkinkan pelajar  untuk mengantisipasi lingkungan dan cara belajar pemakai sekarang yang berbeda—media-rich, content-rich, learner-driven. Learning commons menggambarkan space perpustakaan secara fisik dimana semua orang yang ada di dalam perpustakaan bisa berbagi untuk memanfaatkan berbagai sumber informasi yang dapat di akses melalui teknologi sehingga menciptakan suasana masyarakat pembelajar yang betul-betul sedang mencari ilmu.

Perpustakaan bisa menjadi pusat informasi dan pengetahuan yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan individu serta mewadahi kegiatan pemakai secara berkelompok. Itulah sebabnya perpustakaan harus memiliki learning commons sehingga dapat mengakomodasi para digital natives yang secara radikal memang berbeda dengan pembelajar masa lalu. Maka Peran dan fungsi perpustakaan sekolah abad ke-21 telah berkembang dan bertumbuh dengan eksponensial informasi, kemajuan teknologi yang cepat, dan tantangan untuk memberikan kontribusi terhadap prestasi siswa.

Karena Learning Commons bertujuan untuk memperpanjang program sukses dan layanan Perpustakaan untuk memenuhi berevolusi belajar, penelitian, dan pembuatan konten kebutuhan-kebutuhan  pelajar Abad 21. Belajar di Perpustakaan dengan ruangan Learning Commons tidak terpisah dari Perpustakaan, tapi perpanjangan dari nilai-nilai inti, dan representasi dari pendekatan filosofis untuk layanan perpustakaan & program. Berdasarkan prinsip pelajar saat ini perlu perpustakaan untuk tidak hanya menjadi tempat di mana mereka dapat mengakses sumber informasi yang mereka butuhkan untuk melakukan kuliah mereka, tempat berkumpul dengan kolega atau teman, tempat istirahat sambil koneksi internet atau Chanell Televise sehingga akan menarik rasa ingin tahu mereka melalui produksi seorang intelektual akhir-produk dalam bentuk apa pun yang mereka butuhkan untuk mengambil tugas akhir yakni “Learning Commons”.

Continue reading

%d bloggers like this: