RESENSI BUKU


 

bukukuJudul Buku    :

Budaya Kerja Pustakawan di Era Digitalisasi: Perspektif Organisasi, Relasi dan Individu

Impresum        : Yogyakarta: Graha Ilmu, 2015

Kolasi              : viii, 134 hlm.; 23 cm

ISBN               : 9786022624011

Harga              : Rp. 64.800,-

 

Buku ini ditulis oleh seorang yang menekuni bidang ilmu perpustakaan yang dibuktikan dengan gelar S1 maupun S2 yang disandangnya. Sejumlah opininya telah menghiasi berbagai media khususnya di Jambi, sehingga terlihat reputasinya yang sudah piawai malang melintang di dunia penulisan.

Keberhasilan perpustakaan sangat ditentukan oleh pustakawan sehingga sebutan “agent of change” menjadi keharusan. Pustakawan menjadi figur utama untuk memotivasi masyarakat menjadi lifelong learning untuk mengajak masyarakat mencintai perpustakaan maupun buku.

Semakin mendekati Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, maka dunia perpustakaan mengalami persaingan sangat ketat. Oleh karena itu, dibutuhkan budaya kerja pustakawan yang kondusif untuk meningkatkan kinerja. Tujuannya tiada lain adalah: untuk meningkatkan produktivitas kerja, membentuk perilaku kerja, dan membantu anggota-anggota organisasi sense of belonging terhadap organisasi.

Tanpa budaya kerja yang fundamental untuk membangun sumber daya pustakawan seutuhnya, maka bisa jadi dalam mendukung misi induknya tidak akan tercapai. Perpustakaan membutuhkan budaya kerja yang bisa memberikan kemampuan dan kekuatan untuk meningkatkan kohesivitas pustakawan.

Budaya kerja yang baik akan memberikan dampak baik bagi pustakawan maupun perpustakaan. Harapannya akan memberikan perubahan positif dan perkembangan perpustakaan yang berkualitas statis menuju dinamis serta sebagai andalan daya saing bagi perpustakaan. Dengan demikian pustakawan dituntut untuk memiliki keunggulan secara internasional baik melalui perencanaan kerja maupun misi perpustakaan visioner sehingga mampu bersaing secara regional dan internasional.

Suatu budaya kerja terjadi jika: 1). Adanya dukungan dari organisasi untuk mengkoordinasikan efektifitas dan efisien kerja pustakawan dalam mencapai keberlangsungan visi dan misi perpustakaan; 2). Keberlangsungan budaya kerja yang efektif juga tergantung pada relasi yang terjadi dalam perpustakaan; 3). Untuk mencapai tujuan maka diharapkan pustakawan bersedia untuk bertanggung jawab, komitmen dan berkompetensi (hal. 14).

Budaya kerja merupakan syarat utama bagi perkembangan perpustakaan yang berskala internasional sehingga harus didukung oleh berbagai elemen. Hal ini digunakan untuk memahami isu-isu yang mempengaruhi budaya kerja pustakawan dalam mencapai tujuan organisasi.

Dalam buku ini, penulis mengadopsi karakteristik budaya kerja (hal.15 s.d. 16) dari teorinya Robbins (1998), Luthans (1995), dan Cooley (1999). Namun tidak semua karakteristik budaya kerja dalam ketiga teori tersebut digunakan oleh penulis. Penulis menambahkan konsep karakteristik budaya kerja selain dari ketiga teori tersebut, yaitu kompetensi dan komitmen.

Intisari buku ini mengupas konsep kajian teori budaya kerja dan pengalaman praktis penulis saat menyusun tesis. Jika dirinci secara garis besar studi empirisnya menggunakan 3 (tiga) parameter yaitu: organisasi, relasi, dan individu.

Organisasi meliputi: struktur (structure), norma (norm), nilai yang dominan yang menjadi ciri khas tertentu yang melekat pada organisasi (dominant value), ritual dan serimonial (ritual dan ceremonial), imbalan kerja (performance reward). Kelima indikator ini menurut penulis dianggap mempunyai pengaruh yang cukup signifikan untuk menstimulus ataupun menghambat proses keberhasilan suatu budaya kerja.

Relasi (antara organisasi dan individu), meliputi: toleransi terhadap resiko (risk tolerance), toleransi terhadap konflik (conflict tolerance). Relasi dalam budaya kerja memiliki peran sangat strategis untuk mendorong dan meningkatkan efektivitas budaya kerja dalam suatu periode tertentu. Jadi agar tercipta suatu kerjasama yang baik dalam suatu organisasi diperlukan hubungan budaya kerja yang kondusif.

Individu meliputi: otonomi pegawai untuk melaksanakan tugas organisasi (individual autonomy), kompetensi (competence), komitmen (commitment). Terkait dengan otonomi pustakawan dalam mengatur pekerjaan dengan mandiri itu akan dapat tercapai jika komponen kompetensi dan komitmen dapat terintegrasi dengan baik di dalam pribadi seorang pustakawan.

Budaya kerja pustakawan dapat memberikan identitas kepada para anggota, memfasilitasi komitmen bersama, meningkatkan stabilitas sistem sosial, maupun membentuk perilaku dengan membantu anggota mengerti lingkungan sekitarnya.

Secara tampilan fisik, warna dan disain cover buku ini bagus. Judul buku sekalipun agak panjang tapi justru membuat orang menjadi penasaran kemudian tertarik untuk membaca isi bukunya. Selain itu, kelebihannya juga belum ada buku dengan tema sejenis yang khusus menyoroti tentang budaya kerja pustakawan di dalam organisasi perpustakaan.

Namun ada sedikit kekurangan, seperti halnya yang sudah biasa terjadi pada buku-buku lainnya, yaitu salah ketik. Untuk masukan kepada penulis, misalnya: berpfikir (hlm. 13); suaut (hal. 29); tugasanya (hal. 38); meningkat (hal. 44); conflint (hal. 47); indivudu (hal. 57); mengkhawatir (hal. 59); kedalam (hal. 63); keteranpilan, pmenggunakan (hal. 64); ralasi, lingkung-an (hal. 73); dan mungkin masih ada yang lainnya.

Ada garis-garis (hal. 47) agak sedikit mengganggu pandangan pembaca, walaupun hal ini terjadi secara otomatis karena saat mengkopi kalimat atau kata dari internet. Solusinya diketik ulang agar tidak muncul garis secara otomatis.

Pada Bab VI Penutup, dijelaskan dengan rinci temuan hasil dari penelitian yang menjadi buah pikir penulis tentang budaya kerja pustakawan. Hanya saja akan lebih baik jika di judul buku ditambahkan kata “Perguruan Tinggi” setelah kata “Pustakawan”. Saya rasa biar lebih ada konsistensi, karena bahasan di dalam buku mengenai budaya kerja pustakawan yang dimaksud adalah dalam konteks Universitas dalam rangka mewujudkan Universitas Bertaraf Internasional.

Buku ini dilengkapi pula mengenai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jadi kalau buku ini dibaca oleh pembaca umum (belum tahu sama sekali tentang perpustakaan) bisa langsung membuka dan merujuk pada payung hukum yang penulis lampirkan dalam buku ini.

Pustakawan perlu membaca buku ini agar dapat menjiwai makna budaya kerja yang sesungguhnya dengan membandingkan antara teori dan prakteknya yang dalam keseharian begelut di organisasi. Selain itu, buku ini juga cocok untuk mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan yang sedang mengambil mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM).

Semoga hadirnya buku ini semakin memperkaya literatur tentang perpustakaan dan bermanfaat untuk pustakawan Indonesia. Selamat membaca buku ini.

by: Endang Fatmawati. Mahasiswa S3 Kajian Media dan Budaya. Universitas Gadjah Mada

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

Budaya Kerja Pustakawan Era Digital Perspektif Organisasi, Relasi Dan Individu


Penulis: Testiani Makmur

Penerbit: Graha Ilmu

Tahun Terbit: Februari 2015

Cetakan Pertama: 2015

ISBN: 978-602-262-401-1

Harga: Rp. 64.800

 

Budaya Kerja Pustakawan Era Digital Perspektif Organisasi, Relasi dan IndividuBerbicara budaya kerja merupakan suatu hal yang penting di era masyarakat Ekonomi Asia. Budaya kerja bisa ditinjau dari berbagai hal dan setiap unsur yang terdapat dalam lingkungan kerja sangat mempengaruhi atau fluaktuatif budaya kerja. Bilamana mengamati perusahaan swasta atau Badan Usaha Milik Negara ada sebagian sudah memiliki budaya kerja yang inovatif akan tetapi masih menemui bebarapa instansi belum menciptakan budaya kerja. Padahal ketika suatu instansi sudah memiliki budaya kerja maka memberi pengaruh positif bagi instansi, personal maupun relasi. Selain itu ketika instansi telah memiliki budaya kerja maka menambah inovatif yang sangat luar biasa. Budaya kerja merupakan syarat utama, syarat penting dan syarat brilian bagi perkembangan perpustakaan.

Hadirnya buku Budaya kerja Pustakawan Era Digital Perspektif Organisasi, Relasi Dan Individu memberi angina segar dimana selama ini referensi budaya kerja khusus untuk ilmu perpustakaan belum ada. Meskipun ada beberapa akademis perpustakaan yang menulis makalah tentang budaya kerja lebih melihat dari satu sisi misalnya dari sisi budaya perseorangan. Akan tetapi buku yang baru diterbit 16 Februari 2015 menyajikan budaya kerja secara komplit yaitu meninjau dari sisi Organisasi yang berkaitan (struktur organisasi, norma, dominat value, ritual atau ceremonial, dan performance reward), selanjut yang berkaitan sisi Relasi yang dikupas berupa (Risk toleransi dan toleransi konflik) sedangkan disisi individu berhubungan (individual, kompetensi dan komitmen).

DI berbagai sisi tersebut dibahas dengan bahasa yang sangat ringan, sesuai dengan kondisi kekinian dan terdapat pula solusi yang seharus diterapkan ketika akan menerapakan budaya kerja. Sebaiknya kehadiran budaya kerja pustakawan diciptakan tidak hanya sebatas berbeda dengan budaya kerja dengan instansi lain melainkan sebagai mesin penggerak bagi pustakawan untuk menumbuh nilai-nilai kerja yang sesuai dengan standar. Upaya ini penting dilakukan dengan tujuan membangun budaya kerja agar perpustakaan bisa meningkat produktivitas kerja, membentuk perilaku kerja serta membantu anggota-anggota organisasi sense of belonging terhadap organisasi. Kemudian memberi dampak bagi pustakawan atau perpustakaan karena dituntut memiliki keunggulan secara internasional baik melalui perencanaan kerja maupun misi perpsutakaan yang visioner sehingga mampu bersaing ditataran regional maupun internasional.

Hal tersebut harus didukung oleh berbagai eleman yang terdapat pada organisasi, relasi dan individu itu sendiri. Kemudian yang mempengaruhi tercipta budaya kerja pustakawan ketiga sisi tersebut saling mendukung, saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Jadi budaya kerja pustakawan tidak akan tercipta hanya didukung oleh sisi satu belaka. Maka dari itu bagaimana menyatukan tiga sisi tersebut menjadi satu bisa dibaca melalui buku ini.

Jika pembaca tertarik untuk mengkoleksi buku tersebut bisa menghubungi langsung melalui email: sholiatalhanin@yahoo.co.id, whatshpas 0853 2580 3374, pin 763f9724

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Terwujud Jua Menjadi Penulis Pemula: Budaya Kerja Pustakawan Era Digitalisasi Perspektif Organisasi Relasi dan Individu


llahu akbar-Allahu Akbar

Subhanallah-Subhanallah

Alhamdulillah

20150217_161136Hari ini (16 Februari 2015) mimpi beberapa tahun yang lalu (2007) terwujud, ketika kuliah distarta satu dipulau Jawa pernah mimpi untuk memiliki sebuah karya berupa tulisan. Saat itu tidak pernah kepikiran apa yang bisa tulis karena saat itu cara merangkai kalimat sangat tidak enak dibaca, sangat jauh dari pedoman penulisan, sangat tidak masuk katogori sebagai penulis pemula maupun sebagai penulis lepas. Entah kenapa tetap merangkai kalimat tersebut kemudian dipublish diblog. Berjalan waktu, kondisi, dan keinginan secara terus menerus mengasah, meracik dan mengaksesoris tulisan. Bertahun-tahun tulisan hanya berani dipublish diblog, apakah curhatan itu diklik oleh pencari informasi atau tidak. Tak menghirau yang pasti setiap minggu atau bulan bisa mengupdate. Kemudian setelah selesai strata dua coba mengirim tulisan di dakwatuna, saat tulisan diterbit secara nasional bahagia tak terkira, saat itu pula bercerita sama orang tua dan abang-abang tulisan tembus secara nasional. Mendapat apresiasi dari old brothers untuk terus menulis jika bisa tempus opini skala nasional. Ini yang belum dicobakan, entah kenapa terasa ciut langsung secara harus berlomba-lomba dengan mereka yang sudah lihai dan berpengalaman menakluk Koran nasional.

Bingung juga, diawali mana berkeinginan untuk menulis opini. Yang jelas menulis diopini didasari atas kegelisahan melihat lingkungan dan cara gampang  menyatakan pendapat secara massal yaitu dengan tulisan. Tulisan pertama dikrim seputar pemilihan legislative. Berjarak satu hari opini dipublish di Koran lokal ternama di tanah melayu. Disana mulai meyakini bahwa ia mempunyai jiwa menulis walaupun sebelumnya sudah bertenteng beberapa tulisan dihalaman majalah online nasional. Ternyata benar manusia tidak pernah puas apa diperoleh. Coba menantang diri untuk menulis buku dengan mengikuti tips-tips dibagi miss Olive dikegiatan penulisan yang diselenggarakan menteri ekonomi kreatif. Setiap hari selalu menghasilkan tulisan dan coba mengumpul tulisan ternyata menghasilkan dua naskah. Setelah diedit dengan penuh lelah dan krim kebeberapa penerbit nasional. Tiga bulan lamanya menunggu hasilnya sangat sedih yaitu ditolak dengan catatan bahwa naskah buku tidak layak diterbit. Rasa tak memiliki bakat menulis pun muncul, sedih ternyata hasil bergadang belum membuahkan keberkahaan dan ingin menyerah saja untuk bercita-cita menulis buku. Naskah buku tersebut dipublish di web (http:www.transformasiperubahan.com) jika naskah tidak bisa menghasilkan rupiah biarkan naskah itu menghasilkan pahala-pahala yang mengalir setiap klik maupun tersentuh bagi pembaca. Insha allah.

Sejak ditolak sejak itu mempudarkan keinginan untuk menghasilkan karya. Tapi Allah punya cara untuk mewujudkan keinginan dimana bertemu salah seorang yang sudah berhasil menerbitkan tulisan secara nasional. Dipertemukan diorganisasi yang bergerak dalam kepenulisan daerah. Setelah meeting dengan anggota pelanta, coba bertanya secara bertubi-tubi bagaimana bisa tembus nasional. Laki-laki itu berbagi tips dan memberi buku yang sudah diterbitkan. Akhirnya semangat itu kembali pulih, kembali mantap menghasilkan karya dan bergadang-gadang hingga larut malam. Seolah-olah ada harapan yang bersinar dengan menyinari rona wajah yang sempat sedih. Mulai bertekad untuk bisa berhasil, selama bergadang tidak menghiraukan rasa kelaparan, tak menghiraukan rasa perih dimata sehinga minus mata semakin menambah, dan tak menghirau ajakan untuk jalan-jalan. Terpenting focus menyelesaikan naskah.

Setelah naskah selasai, kembali sibuk mencari penerbit dan dari sekian penerbit yang dibaca history maka mantap mengirim naskah ke graha ilmu. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu persetujuan dari penerbit. Lagi-lagi acc tersebut seperti kisah pertama tulisan dipublish majalah online nasional. Tanpa basa-basi dan kebetulan keluarga ngumpul langsung menyatakan bahwa penerbit menerima naksah buku ia.

Kembali lagi dengan pepatah “Manusia tidak pernah puas”. Kini tiga buku sudah di acc penerbit, dua menunggu acc penerbit dan satu sudah diterbitkan. Buku yang sudah beredar yaitu “Budaya Kerja Pustakawan Era Digital Perspektif Organisasi, Relasi dan Individu”. Bagi pembaca tertarik untuk mengkoleksi, membaca dan membedah buku tersebut bisa langusng email (sholiatalhanin@yahoo.co.id), whatshap 0853 2580 3374, pin 763f9724 dan inbox melalui facebook. Sedangkan 2buku menunggu terbit diantaranya “Perpustakaan Era Keterbukaan Informasi Publik”, “Mengenal Kebijakan Sumber Informasi Perpustakaan” dan menungu persetujuan dengan judul “Revolusi Sumber Informasi Digital dan Perpustakaan Dalam Perabadan Islam”.

20150217_161226

Teruslah bermimpi, teruslah melangkah hingga menemu titik focus, ketika titik focus sudah ditemui lompatlah setinggi-tinggi mungkin jangan hirau kritikan yang tidak membangung. Bilamana mendapat kritikan jadi sebagai materi kontemplasi diri untuk terus menjadi sinar yang menyinari. Bila lompat sudah tinggi jangan berhenti lompat akan tetapi cari strategi lain untuk bisa bertahan atau bagaimana bisa eksis karena lingkungan terus berubah. Seandainya tidak mau mengikuti perubahan lingkungan maka siap-siap tinggal landas.

Jangan takut bermimpi, mimpi tidak seharusnya segara terwujud terpenting terus mengikuti proses dengan focus bukan bercabang. Seperti kalimat yang didapat salah satu kafe “bermimpilah biarkanlah bumi dan seisinya berkonspirasi untuk mewujudkannya”. Jangan lupa ikutilah proses yang diridhoi Allah. Terkadang proses dilalui disbanding dengan kebosanan, cobaan, kepongohan dan berhenti. Ikuti proses yang membuat kita semakin dekat padaNya dan jangan sampai mimpi membuat kita menduakan Allah. Balanced-kan mimpi dengan doa padaNya.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Jurnal Perpustakaan “Library journal”


Bismillah….

Di bawah ini merupakan berbagai macam situs yang memuat jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Semoga bermanfaat… let’s check it out

1. Against the Grain – News about libraries, publishers, book jobbers, and subscription agents.

2. Annual Review of Information Science and Technology – The annual publication of the American Society for Information Science. Focuses on activities and trends in the field of information science and technology. Includes links to the ASIS home page and print version purchase information.

3. Ariadne – Quarterly publication aimed at academic librarians in the United Kingdom. Links to back issues dating from 1996.

4. Biblia’s Warrior Librarian Weekly – Pokes fun at the people who use libraries and the funnier ones who work in them.

5. Cataloging & Classification Quarterly – Editorial information, tables of contents and abstracts.

6. Chinese Librarianship: an International Electronic Journal – A peer-reviewed e-journal with an international outlook focusing on the practical aspect of Chinese librarianship.

7. Christian Library Journal – Reviews of books, videos, cassette tapes, and CDs from a Christian point of view.

8. Cites & Insights: Crawford at Large – Walt Crawford’s commentary and annotated citations of selected articles on library and computer-related issues.

9. Computers in Libraries – Online version of the monthly magazine focusing on library oriented information technology.

10. Cultivate Interactive – E-journal which is funded by the European Commission to disseminate information on digital cultural heritage including projects funded by the EU’s DIGICULT programme.

11. D-Lib Magazine – Monthly publication about research and innovation in digital libraries.

12. E-JASL: The Electronic Journal of Academic and Special Librarianship – Independent, professional, refereed journal dedicated to advancing knowledge and research in the areas of academic and special librarianship.

13. E-LIS – Open access archive of preprints, postprints and other documents in the field of library and information science.

14. Ex Libris – An e-zine for librarians and information junkies.

15. First Monday – Peer-reviewed journal about the Internet and the Global Information Infrastructure.

16. IFLA Journal – Journal of the International Federation of Library Associations and Institutions, an international organization focusing on libraries and library users. Contains tables of contents, abstracts and some full text beginning with 1993. http://www.ifla.org/en/publications/ifla-journal

17. Info To Go – Sample issue and information about the monthly print publication aimed at information professionals. “Dedicated to eliminating aimless surfing.”

18. Information Processing and Management – Bi-monthly peer reviewed print journal published by Elsevier Science.

19. Information Research: an international electronic journal – Presents research papers and working papers from a variety of information-related disciplines, including information science, information management, information systems, information policy and librarianship.

20. Information Retrieval – Subscription e-journal dedicated to theory and experimentation in information retrieval. Sample copy available.

21. Information Today – Product information and news for librarians.

22. Informing Science: International Journal of an Emerging Discipline – Information systems, library science and journalism evolve to form a new discipline. Quarterly journal available in print or online.

23. International Information and Library Review – Progress and research in international and comparative librarianship, documentation, and information retrieval. Published quarterly by Academic Press.

24. International Journal of Information Management – Aimed at “managers charged with the responsibility of designing and managing complex information systems.” From Elsevier Science

25. International Journal on Digital Libraries – Quarterly print journal emphasizing digital information and libraries. Register for email notification of contents.

26. Issues in Science & Technology Librarianship – Electronic journal from the Science and Technology Section of the Association of College and Research Libraries.

27. Issues in Science & Technology Librarianship – Home page for Issues in Science and Technology Librarianship, an electronic journal from the Science and Technology Section of the Association of College and Research Libraries.

28. Journal of Digital Information (JODI) – Includes papers on the management, presentation and uses of information in digital environments. A peer-reviewed Web journal supported by Texas A&M University Libraries.

29. Journal of Electronic Publishing – Articles with archives about electronic publishing.

30. Journal of Information Law and Technology – Published by the Universities of Warwick and Strathclyde in the United Kingdom.

31. LIBRES: Library and Information Science Research Journal – International, peer reviewed, online journal devoted to new research in Library and Information Science.

32. LIBRI: International Journal of Libraries and Information Services – Publishes original articles on all aspects of libraries and information services.

33. LISNews – Blake Carver’s online Library and Information Science News Digest. Apropos articles culled from a variety of sources. Links, polls, submission guidelines and email updates.

34. Law Library Journal – Official journal of the American Association of Law Libraries. Includes subscription information and links to selected articles from 2000 to the present.

35. Libraries and Culture – A print based journal that explores the significance of libraries; their creation, organization and preservation in the context of cultural and social history.

36. Library Hi Tech – A quarterly, peer reviewed, scholarly journal on computing and technology for library scientists. Links to subscription information, submission guidelines and tables of contents for past issues.

37. Library Journal Digital – Library Journal’s online edition. Features current news about libraries and librarians. Includes job opportunities.

38. Library Juice – Rory Litwin’s long-running library news digest. Includes announcements, web resources, calls for papers, and news affecting the library world. Archives available; no new issues will be published.

39. Library Philosophy and Practice – Peer reviewed online journal specializing in applied library science research. Articles available for downloading in PDF form. Links to guidelines for submission.

40. Library Quarterly – Prestigious print journal of scholarly research from The University of Chicago Press. Subscription information, submission guidelines, tables of contents from 1996 to the present and general information.

41. Library and Information Update – Monthly magazine of the Chartered Institute of Library and Information Professionals. Includes selected articles from past issues.

42. MC Journal: The Journal of Academic Media Librarianship – A peer-reviewed online journal for practical and scholarly information concerning academic media librarianship.

43. MLS: Marketing Library Services – A marketing information geared specifically towards librarians. Lists subscription information and contents of previous issues.

44. Marginal Librarian – E-zine features articles and opinions from the McGill Library and Information Studies Student Association. Includes links to past issues.

45. Mississippi Libraries – Official publication of the Mississippi Library Association. Links to full text from 2000 to the present.

46. New Review of Information and Library Research – Annual print review designed for information professionals pertaining to the impact of contemporary information research on information and library services. Subscription information, submission guidelines and current tables of contents.

47. Portal: Libraries and the Academy – Research journal covering technology, publishing, and periodicals.

48. Progressive Librarian – Semi annual print journal of the Progressive Librarians Guild. A forum for critical perspectives in Librarianship, featuring articles, book reviews, bibliographies, reports and documents that explore progressive perspectives on librarianship and information issues. Information on Guild membership, submission guidelines, tables of contents and the cover of the current issue.

49. School Library Journal Online – Online version of the print publication. Features current news about school libraries and librarians. Includes job opportunities.

50. Searcher: The Magazine for Database Professionals – Print based journal with 10 issues annually. Tables of contents and some full text available online along with subscription and submission information.

51. Teacher Librarian: The Journal for School Library Professionals – Offers access to selected past articles, reviews of books and software for resource centers, as well as links to online resources.

52. The Public-Access Computer Systems Review – Online journal about end-user computer systems in libraries from University of Houston Libraries. Full text available from 1990 to present. Includes author/ subject index and submission guidelines.

53. The Unabashed Librarian – A print newsletter featuring advice, reports from the field, and do-it-yourself projects. Current table of contents, submission guidelines and subscription information.

54. The Wired Librarian’s Newsletter – Advice on the implementation of microcomputers in libraries. In publication since 1983.

55. Transactions on Information Systems – The official publication of the Association for Computing Machinery. Available online or in print. Includes links to an digital library and subscription information.

56. World Libraries – An online international journal focusing on libraries and socio-economic development.

57. Simile: Studies in media and information literacy education – A peer reviewed online journal from University of Toronto Press. Features scholarly articles pertaining to bibliographic instruction and information and media literacy.

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Keajaiban perpustakaan


Bismillah…

Tanpa dijelaskan secara detail sudah mengetahui bahwa perpustakaan adalah jantungnya pendidikan bayangkan andaikan jantung pendidikan tidak berfungsi dan dimanfaatkan semaksimal mungkin, apakah masih bisakah pendidikan bernafas, meningkat kreativitas bagi pembelajar?

Seharusnya pendidikan tidak bisa bernafas lagi ibarat tubuh manusia kalau jantung sudah tak berfungsi dipastikan tidak bisa lagi menghirup udara tapi analogi tersebut tidak berlaku dengan jantung pendidikan.

Lihat saja rata-rata jantung pendidikan di sekolah, perguruan tinggi, sekolah tinggi, institute dan universitas masih belum semakismal mungkin memfungsi jantung pendidikan tersebut sebagai sarana central kegiataan pembelajaran.

Bahkan perpustakaan seakan-akan kehilang pesona bagi pembelajaran padahal fungsi perpustakaan tidak hanya sebatas gudang-gudang buku melain perpustakaan sekarang telah memiliki esensial lebih yaitu perpustakaan merupakan tempat sangat ajaib. Kenapa ajaib?

Sebelum kita mengulas keajaiban perpustakaan sebaiknya mengetahui dulu kenapa perpustakaan kehilangan pesona dari setiap genarasi!!! Penyebab hilangnya pesona perpustakaan pertama pustakawan kurang santun dan ramah melayani pengunjung “pustakawan yutek” bahkan hingga sekarang masih diketemukan model pustakawan seperti itu disetiap perpustakaan sedangkan image perpustakaan bisa tercitra dengan baik didukung dengan budaya kerja pustakawan.

Walaupun canggihnya sarana perpustakaan jika pengelola perpustakaan tidak mampu mengaplikasi excellent service dipastikan tidak akan memberi kesan indah bagi pengunjung seperti kita lihat perusahaan bertaraf internasional pelayanan merupakan factor utama harus diperhatikan. Hendaknya perpustakaan juga menerapkan pelayanan excellent bagi pengunjung perpustakaan.

Kedua knowledge pustakawan harus diupgrade sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan namun pada kenyataan masih banyak pustakawan terutama disekolah maupun diperguruan tinggi menduduki profesi pustakawan bukan berlatar pendidikan Ilmu perpustakaan. Hendaknya Profesi pustakawan yang memiliki kompetensi, skill dan knowledge. Jika memungkinkan profesi pustakawan berpendidikan minimal S1 atau S2, bisa dibayangkan jika pustakawan rata-rata tamatan Strata dipastikan dinamisan perpustakaan cemerlang, dan gesit seperti perpustakaan pusat universitas Gadjah rata-rata pustakawan sudah tamatan strata dua.

Ketiga koleksi perpustakaan dari masa transisi hingga postmodern tidak berkembang sedangkan koleksi merupakan salah satu bagian menarik pengunjung untuk hadir dan memanfaat perpustakaan. Jangan sampai koleksi perpustakaan mengalah perpustakaan commercial, dan jangan pula koleksi diperpustakaan tidak memenuhi kebutuhan pengunjung. Kalau bisa koleksi perpustakaan lebih bisa mem-balanced koleksi ilmiah dan nonilmiah.

Terakhir teknologi perpustakaan harus sesuai dengan perkembang teknologi apalagi saat ini banyak open sources software untuk perpustakaan dan kenyataannya  perpustakaan sekolah maupun perguruan tinggi masih memanfaat catalog manual. Hal dipengaruhi dengan pustakawan tidak memiliki kompetensi teknologi dan tidak adanya akomodasi khusus untuk mengembang fasilitas perpustakaan khusus teknologi… Bersambung

BestRegard “Inspirasi BeraniSukses”

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

 

 

Sindrom semester akhir pasti keterpaksaan ke perpustakaan


Tidak mengherankan lagi mahasiswa semester akhir terpaksa untuk hadir di perpustakaan, lihat dan amati saja rata-rata memenuhi kursi perpustakaan adalah mereka yang sedang menyelesaikan skripsi, tesis dan disertasi dengan wajah keterpaksaan J.

Bahkan perpustakaan merupakan tempat kencan favorit dan waktu yang dihabiskan disana juga luar biasa sekitar 4-8 jam perhari kalau bisa dan dibolehkan menginap diperpustakaan mahasiswa semester akhir juga mau tuuuhhh…..”nasib-nasib”

Tujuan menghadiri perpustakaan pastinya mencari referensi, biar keren juga kali ya masak semester akhir kencan dimall wkwkkwkw…. Biar dapat wansit dan biar tenang serta adem mengeluarkan ide-ide segar…”eaaaahhhh”

Sindrom semester akhir sangat berbalik arah dengan mahasiswa tingkat satu, dua atau tiga. Tidak tahu perpustakaan itu dimana, tidak punya kartu mahasiswa bahkan tidak pernah sama sekali memasuki ruangan perpustakaan….”jangan sampe masih ada mahasiswa seperti ini” karena rugi sendiri.

Kenapa bilang rugi? Ya rugi lah, coba pikir, renung dan hayati dengan seksama sudah bayar SPP plus uang pembangunan maksa mahasiswa hari gini tidak tahu perpustakaan. Apa kata dunia dan mahasiswa lain.

Padahal perpustakaan sekarang itu bukan seperti perpustakaan delapan puluhan, kalau tidak percaya coba masuk perpustakaan tempat anda kuliah lihat, amati, analisis dan evaluasi apa beda perpustakaan sekarang. Dipastikan takjub dan kagum ternyata perpustakaan sudah kayak Mall…”semoga aja seperti itu hoooo”.

Berharap sindrom mahasiswa tingkat akhir memberi energy dan dampak positif bagi mahasiswa tingkat awal dan next day or next time untuk mencintai perpustakaan karena service nan excellent, prasana begitu lux dan kenyamanan ruangan nan damai.

Bagi mahasiswa yang mengakui sebagai intelektual membawa pembaharuan yuk-yuk-yuk pergunakan fasilitas dan sarana perpustakaan sebagai wahana learning common “discussion”, searching your information, and add knowledge.

Terakhir salam dari saya teruslah untuk mencintai perpustakaan karena perpustakaan adalah jantung pendidikan. Bayangkan kalau mahasiswa tidak pernah tahu dan manfaat dari jantung pendidikan tersebut betapa kroposnya landasan pendidikan.

Journey At Hongkong


Journey at Hongkong

sampai dihongkong sekitar jam 12 malam waktu hongkong kalau di Indonesia sekitar jam 11 Cuma berbeda satu jam seperti berbedaan Indonesia barat dan timur. via kita lalui menuju hongkong yaitu dari Macau terus naik Very dan jembutin mobil pariwisata. Perjalanan dari Macau menuju Hongkong lebih kurang satu jam perjalanan. Ini untuk pertama kali naik Very mungkin daerah kepulauan seperti batam very merupakan transportasi utama masyarakat batam. Hal dirasakan ketika naik very adalah seperti naik guayan dan pusing sepertinya mabuk laut heeeee….^__^ akhirnya sampai juga di pelabuhan Hongkong subhanallah sesampai disana lihatin pemandangan laut luar biasa tapi sayang tak sempat mengabadikan pemandangannya yang dihiasi Lighting “penerangan” lampu-lampu berkilau dengan berbagai warna pantas si Gayus mau banget liburan ke Macau hooooo kok sampe ke gayus pula…. The Next History  Bayangkan pelabuhan saja sudah seperti apalagi bandara dan kota Hongkong ya???.

lebih kurang setengah jam berjalan menuju kota hongkong dan sempat diceritakan guidenya bahwa kita akan melewati bawah laut, dan melihatin pelabuhan antara dua kota hongkong. walaupun berjalan dibawah laut sepert jalan ditol biasa aja. tetap pemandangan jalan dibawah laut tak bisa diabadkan semakin capeknya^____^ akhirnya sampai juga di hotel. semakin tertakjub sesampainya di hongkong rata-rata gedung disana seperti pencakar langit. ketika dihotel dapat kamar paling atas semakin bebas  atau lepad (freelance) mata memandang gedung bertingkat disekitar Hotel. bahkan bisa dikatakan rata-rata gedung disana tinggi semua dan sangat jarang rumah penduduk seperti Indonesia.

Fhoto di Hongkong

pagi pun datang dan mengawal pagi dengan prepare  serta Basmallah menuju lokasi workshop and tour. Tapi sebelumnya berangkat harus serapan dulu. Hoooooo….ketika sarapan banyak keanehan (1) ruangan makan Hotel sangat minim mungkin lebih minim rok Mini sehingga harus antri kayak antri daging kurban, kemudian disana makan yang laris oleh kita adalah Telur bulat, Roti bakar, dan Teh Hangat sedangkan makan bahan dasar daging pada takut semua menyentuhnya “takut daging babi” gak papalah wanti-wanti dari pada kemakanan makanan haram, padahal pertama makan ambil sosis tapi gara-gara dibilangin teman hati2 jangan daging babi terpaksa dech sosis disingkirkan, Parno bangetkan ckkkkkk….. (2) Ternyata makanan hongkong kebanyakkan bersaus alias tak berbau Pedas seperti orang Sumatra. (3) orang Hongkong Menyeduh Teh tidak menggunakan Gula alias Teh Hijau Karena orang hongkong takut kegemukkan “obesitas”  pokoknya makan dihongkong menghilangkan selera yang ingat Cuma Makanan Indonesia “ I love food Indonesia especially padang foods”.

workshop pertama di Universitas Hongkong, selama dalam perjalanan menuju Universitas Hongkong yang berada di atas Bukit. lagi-lagi takjub melihat Indah kota hongkong yang dihiasi oleh gedung-gedung pencakar Langit matapun tak mau berkedip sedikit pun untuk melihat keindahan Hongkong. lebih kurang 1 jam perjalanan dan Alhamdullah gak kena mancet “Mangnya Jakarta pake macet-macet segala hiiiiii” sampai di Universitas Hongkong ini adalah Mapping Universitas Hongkong

ketika memasuki area universitas Hongkong bertambah takjub ternyata sangat beda universitas yang ada di Indoesia. kesan pertama terlukis dalam benak yaitu gedung-gedung sangat Indah, kokoh, taman-taman kampus begitu asri serta nan Hijau, tertata dengan rapi tanpa ada sampah satupun. setelah berkeliling di area universitas hongkong langsung menuju Perpustakaan ini tujuan kita. sesampai disana langsung disambutin oleh librarians the university of Hongkong sambil mengenalkan “Introduction” tentang history and deveploment of library. Akhirnya dibagi two group “dua cluster” yaitu cluster Technology and Collection or circulation library.  lagi-lagi takjub ternyata jauh berbeda perpustakaan Indonesia dengan Hongkong disana rata-rata sudah berbasis Techonology kemudian tata pelayanan serta display collection juga berbeda. akan tetapi perpustakaan Universitas Hongkong sebelum seberapa jika dibandingkan dengan Perpustakaan Provinsi/kota “Hongkong of central library” seperti Mall banget. Semoga suatu saat perpustakaan Seluruh Indonesia bisa seperti perpustakaan diluar negeri. Amin “tapi Kapan ya hiiiiii”

Dilanjutkan kegiataan berikut adalah mengunjung perpustakaan Hongkong University science and technology dimana universitas tersebut juga berada puncak bukit. luar biasa sesampai disana semakin takjub lagi dengan pemandangan melihat kota Hongkong dari universitas science and technology. jadi kepengen kuliah diluar negeri pula rasanya heeeee….”semoga Allah mempermudahkan langkah walaupun logika bilang mana mungkin tapi ketika Allah berkehendak pasti bisa, I’am believed it”. pastinya hal tidak boleh dilupakan adalah foto-foto. langsung menuju perpustakaan yang berada dilantai the first floor. sebelum mengeliling lokasi perpustakaan tersebut kita memasuki area workshop tujuan adalah untuk mengenal terlebih dahulu lika-liku perpustakaan dan berakhir juga pengantar tentang perpustakaan. Kemudian dilanjuti pada pengenalan satu persatu ruangan dan koleksi perpustakaan tersebut. semakin berjalan dari satu keruangan lain, dari satu tingkatan gedung ketingkat lebih tinggi lagi-lagi mengeleng kepala “luar biasa” perpustakaan diluar Negeri. perpustakaan didesain senyaman mungkin, difasilitasi selengkap mungkin, dan ditambah lagi pemandangan nan indah.  Bagaimana tidak mahasiswa betah dan menjadi perpustakaan menjadi rumah kedua bagi mahasiswa. ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dari mengunjungi perpustakaan Hongkong Science And Technology yaitu  Hendaknya perpustakaan diciptakan senyaman mungkin dengan dekorasi funny, fasilitas serba techonology, dan disuguhi pemandangan. Tapi mungkinkah Indonesia bisa meniru perpustakaan hongkong science and technology????. Insyallah bisa tapi perlu waktu begitu lama dan panjang. Hongkong Science And Technology memang menerapkan filosofi perpustakaan adalah jantung pendidikan. kalau Indonesia benarkah perpustakaan jantung Pendidikan!!!! I don’t knew…

The Next Activity yaitu menuju Hongkong of central library (Mungkin perlu pembahasan secara khusus tentang Hongkong Of Central Library), jadi ditinggalin dulu tentang Hongkong Of central library dimana perpustakaan tersebut berada dipusat kota hongkong dan bersebelah Taman Victoria salah satu tempat berkumpulnya TKI Indonesia dan berdekat Indonesia of Embbassy. Walaupun sepintas melihat Taman Victoria tapi sudah mengambarkan suasana seperti apa!!!!. Taman tersebut umumnya dimanfaat untuk bersantai ria, bermacam olahraga, dan diskusi. Taman Victoria memang bagus tempat menghilangkan lelah tapi lebih nyaman lagi di Hongkong of central library seperti Mall…”amazed” bahkan di hongkong taman kota begitu banyak dan jarak satu taman dengan lain juga tak begitu jauh. Kenapa hongkong menerapkan banyak taman karena rata-rata masyarakat hongkong tinggal apartemen (rumah susun) jadi jarang heran pagi-pagi taman di hongkong dipenuhi masyarakat hongkong.

Pokok seharian penuh tepatnya tanggal 4 Juni 2011 Full of activity,  walaupun padatnya kunjungan tapi tetap happy funny as long as day not annoyed or joy.   ini dia nich yang ditunggu teman semua yaitu shopping time. Namun sebelum kita shopping night day kita mengujungi tempat wisata  Madame Tussaud’s Hong Kong yaitu tempat  patung-patung orang tekenal di dunia seperti Sharul Khan, Eistein, Raja dan ratu Inggris, Jek lie, dan lain-lainnya. Hhoooo….hampir semua patung orang ternama diphotokan ya kapan lagi, karena di Asia Madam Tussaud’s Cuma ada dihongkong,  ticket masuk yaitu 100 dolar Hongkong yaitu sekitar 120 Indonesia. di Gedung Madame Tussaud’s tersebut bisa melihat kota Hongkong dari ketinggian tapi sayang kita kesana siang-siang katanya kota hongkong lebih indah dilihatin Malam hari.

Fhoto bareng di Universitas Science and Technology Hongkong

The Next Journey Is Shopping Time!!! kita tahu bahwa hongkong adalah pusat belanja termurah di asia. Sebenarnya dielnya dari Indoneisa bakal shoping di Ladies Market tapi ada suatu problem yaitu guide curang kita dibawah tempat yang mahal dan menyatakan bahwa ladies market bukan tempat belanja murah dengan terpaksa belanja disekitar  Stanley Market merupakan pasar yang sedikit lebih ‘bergengsi’ dibandingkan dengan pasar-pasar lainnya di Hongkong.

lewat shoping tersebut terbukti bahwa orang Indonesia adalah Konsumtif “geleng-geleng kepala lihatin teman belanja”.  Hampir semua barang ditawar pada lahap alias diborong, lucunya saat shoping yaitu terhambat dengan bahasa terpaksa menggunakan bahasa isyarat^___^. Masih ingat waktu teman nawarin pake bahasa Indonesia dan ketawa ngakak-ngakak hooooooooooo emang disini bringHarjo pho*__*…. waktu yang dihabiskan untuk shopng sekitar 4jam padahal waktu diberikan untuk shoping yaitu 2jam. HHeemmm mana cukup 2jam buat shoping dengan terpaksa pulang ke Hotel naik taksi. Belanja di Hongkong tak ada puas-puas karena perbedaan shoping hongkong dan Indonesia beda tipis. Pantasan kalau jalan-jalan kehongkong rugi kalau gak shoping. selain murah dan kualitas juga lebih bagus dibanding Indonesia bukan berarti barang Indonesia dibawah standar.

The Last Journey not yet last at Hongkong berakhir di Stanley Market and prepare penerbangan selanjutnya yaitu Singapura perjalanan penuh kenangan dan ilmu. I hope someday Godbless to journey another abroad, Amin.

 

%d bloggers like this: