Hal Terjadi Dengan Manusia Sudah Dijelaskan Dalam Alquran


 

TestianiQoutes64Alquran ini tidak ada keraguan dan merupakan ayat yang nyata. Sesungguhnya Alquran itu adalah kitab yang mulia. Alquran adalah bacaan yang sangat mulia. Alquran adalah pentunjuk bagi orang-orang bertakwa. Alquran penerang bagi seluruh manusia. Alquran adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum meyakini. Sesungguhnya Alquran diturunkan pada malam kemulian. Janganlah ragu menerima alquran. Jika ada manusia tetap dalam keraguan tentang alquran, Allah tantang manusia buat satu surah yang semisal alquran. Jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yangg serupa Alquran, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yg serupa dengan yang lain, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.

Alquran membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Dan apabila dibaca alquran, maka dengarlah baik-baik, dan perhatikan dengan tenang agar mendapat rahmat. Ketika sekumpul jin mendengar Alquran, mereka berkata sesungguhnya kami telah mendengar Alquran yang menakjubkan. Alquran adalah pentunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Alquran itu cahaya, yang ditunjuki kepada hamba-hambaNya.

 

Sesungguhnya dalam alquran itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Alquran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat. Sesungguhnya alquran petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. Alquran petunjuk dan pembeda antara hak dan bathil.

 

Alquran menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman.alquran membawa kebenaran. Sebenarnya alquran itu adalah ayat-ayat yangg nyata didalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Alquran kecuali orang-orang zalim. Dalam Alquran bermacam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari dan saling membantah. Sesungguhnya alquran itu peringatan.sesungguhnya alquran amat banyak mengandung hikmah dan benar-benar tinggi nilainya

 

Menabur Cinta Dan Kebaikan Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

Advertisements

Pendidikan Memuja IQ


Pendidikan Memuja IQPendidikan di Indonesia telah menunjukkan keberhasilan sangat besar secara kuantitas, hampir setiap tahun perguruan tinggi swasta maupun negeri meluluskan para ilmuan muda Indonesia dengan berbagai jurusan dan jenjang pendidikan. Melahirkan generasi yang siap bersaing ditataran nasional maupun global, membentuk generasi memiliki jiwa ledearship berakhlak santun. Kemudian seluruh lapisan masyarakat indonesai dari kota hingga pelosok desa, dari status social terendah hingga tertinggi menyadari betapa pentingnya pendidikan (Education Awareness), hampir setiap keluarga berpendidikan sarjana hingga Doctoral. Hak untuk mendapatkan pendidikan termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang mewajibkan pemerintah menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi warga negara. Ketetapan itu menjadi prioritas kedua setelah mandat untuk mensejahterakan rakyat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan bagi kemajuan bangsa dan pribadi.

Menurut Education For All Global Monitoring Report 2012 yang dikeluarkan oleh UNESCO setiap tahunnya, pendidikan Indonesia berada di peringkat ke-64 untuk pendidikan di seluruh dunia dari 120 negara. Data Education Development Index (EDI) Indonesia, pada 2011 Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 127 negara. Bahkan pemerintah mengalokasi dana pendidikan, setiap tahun mengalami peningkatan seperti baru-baru ini pemerintah memutuskan meningkatkan anggaran sektor pendidikan. Pemerintah berjanji menaikkan anggaran pendidikan sebesar 7,5% untuk tahun 2014.

Sesungguhnya pemerintah sudah memperhatikan serius permasalahan  pendidikan  Indonesia. Namun masih ada kekurangan disana-sini, masih ada penyelewenggan dana, masih ada anak bangsa tidak merasa indahnya bangku sekolah maupun bangku perkuliahan, dan tugas terbesar pemerintah saat ini tidak hanya memperhatikan sisi kecerdasan melainkan bagaimana membentuk karakter atau tatakrama anak bangsa yang berakhlak mulia. Seperti dijelaskan John Dewey tentang pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia

Secara logika jika kualitas otak manusia semakin cerdas maka akhlaknya juga ikut berakhlak mulia. Faktanya menyedihkan, dimana kualitas otak bangsa semakin Excellent tapi tidak mempengaruhi tatakrama (etika), dan karakter diri melainkan semakin menurun. Padahal tujuan pendidikan di dalam UU Nomor 2 tahun 1989 secara jelas disebutkan Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pertanyaan menyetil muncul dalam pikiran kita? mengapa tidak adanya hubungan dan keselarasaan antara kecerdasaan otak dengan akhlak? Seharusnya gelar yang disandang sebagai Problem Solving, pada kenyataannya kaum terdidik malah sebagai Problem Maker dan primitivisme intelektual diranah publik. Senada dengan kultum Quraish Shihab mengatakan bahwa “Iman dan ilmu memiliki hubungan yang sangat erat. Ilmu mempercepat gerakan anda, sedangkan iman berada dijalan Allah SWT”. Artinya, orang yang berkualitas adalah mereka yang memiliki keseimbangan antara iman dan ilmu.

Sebagai kaum terdidik, orang tua tentu tercoreng, tertampar, dipermalukan dengan kasus anak kaum muda dan kaum terpelajar  melakukan asusila ditengah khalayak ramai bahkan menurut penelitian rata-rata pelajar maupun mahasiswa sudah tidak perawan. Terjadi bentrokan antar pelajar yang hampir setiap hari dijumpai bahkan dipertontonkan melalui televisi. Penggunaan narkoba sudah mengalami kritinisasi, penggunaan air keras, dan ngembut dijalan raya seakan-akan sudah menjadi Culture and Habbit. Bukankah itu semua berkaitan dengan tatakrama, kesantunan, karakter diri dan akhlak!!! Seharusnya sebagai kaum terdidik maupun terpelajar “sebuah keteladanan dan tatakrama yang mesti ditangkap dan nyalakan dalam kehidupan”. Namun kelulusan dari sekolah maupun kampus ternama terkadang ironi.

Itu baru sebagian contoh tatakrama anak bangsa yang tertampak. Belum lagi masalah cara anak bangsa menghargai, menghormati, penggunaan bahasa yang tidak berestetika dan pakaian yang tidak mengindikasi sebagai kaum intelektual. Seperti baru-baru ini sekolah bertaraf internasional di Indonesia dengan sengaja menghilangkan pelajaran agama. Semakin hari pendidikan di Indonesia hanya menghasil kecerdasan otak sedangkan kecerdesan emosional maupun  perilaku belum berhasil dibangun bahkan merosot dan terjun payung. Senada dengan ungkap Cak Nur “Bahwa Dia Sukses Mendidik Orang Menjadi Cerdas Tapi Tidak Sukses Mendidik Orang Menjadi Sholeh”. Sangat berbahaya jika pendidikan yang diadopsi bangsa Indonesia lebih focus pada kecerdasan otak belaka maka akan melahirkan regenerasi berpondasi pada konsep Libarlisme dan Hedonisme. Padahal jiwa seperti itu menghancurkan peradaban bangsa. Sedangkan tatakrama berkaitan erat dengan agama dan budaya. Jangan-jangan agama dan adat istiadat yang kita pahami hanya sebatas slogan, sebatas teoritis, sebatas labeling tapi hampa dalam aplikasi baik dilingkungan keluarga, lingkungan akademis, lingkungan komunitas, lingkungan interaksi social dan lingkungan publik. Sedangkan Indonesia dikenal sebagai Negara memiliki kesantunan, menjunjungi nilai agama dan budaya.

Atau bisa jadi kurikulum yang diterapkan oleh bangsa Indonesia lebih memperhatikan sisi kognitif sebab kurikulum di Indonesia selalu berubah-ubah dari tahun ketahun. Mulai dari kurikulum 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, serta 2006. Kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana menerapkan kurikulum 2013, seakan-akan bangsa yang gila terhadap kurikulum. Hitunglah jumlah kurikulum sejak merdeka hingga kini, akan didapati bahwa Indonesia adalah bangsa yang memiliki paling banyak kurikulum, tetapi tingkat mutu pendidikan tetap rendah  sedangkan sisi emosional dan akhlak diabaikan. Seperti dikatakan Bahren Nurdin (2013:25) bahwa pendidikan selama ini terlalu mendewakan IQ (Intelligence quotient) karena desing kurikulum masih menempatkan kecerdasan intelijensia paling penting.  Mungkin sisi emosional dan akhlak tidak begitu penting diterapkan dalam lingkungan pendidikan (Sekolah/kampus), jangan-jangan yang berkaitan tatakarma cukup tugas para da’I maupun da’iah, orang tua, masyarakat bukan urusan pemerintah.

Bisa jadi pendidik juga tidak memiliki tatakrama dan krakteristik sehingga wajar anak didik melakukan seperti itu. Sedangkan Karakteristik yang harus dimiliki pendidik dalam melaksanakan tugasnya dalam mendidik, yaitu (a) kematangan diri yang stabil, memahami diri sendiri, mandiri, dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan. (b) kematangan sosial yang stabil, memiliki pengetahuan yang cukup tentang masyarakat, dan mempunyai kecakapan membina kerjasama dengan orang lain. (c) kematangan profesional (kemampuan mendidik), yaitu menaruh perhatian dan sikap cinta terhadap anak didik serta mempunyai pengetahuan yang cukup tentang latar belakang anak didik dan perkembangannya, memiliki kecakapan dalam menggunkan cara-cara mendidik. Ini adalah tugas bersama bagi kita semua. Hendaknya memiliki ruh sebagai pendidik, ketika mentransfer ilmu dibarengi mentransfer akhlak dan karakter. Dengan tujuan adanya keseimbangan antara otak dan tatakrama. Kualitas manusia bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan dan keahlian. Tdak cukup manusia dinilai dari kepakaran, keterampilan dan professional saja. Oleh karena itu sesungguhnya kualitas manusia ditentukan oleh kompetensi  dan karakter (Erie Sudewo).

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Semangat Terobosan Dan Korupsi


semangat terobosan dan KorupsiBeberapa hari ini membaca opini dan Headline diberbagai media nasional mengangkat isu-isu tentang korupsi. Cerita korupsi tidak akan pernah hilang meskipun korupsi musuh bagi siapapun. Jika menelusuri kebelakangn bahwa Indonesia pernah bermusuhan dengan kolenial, PKI dan sekarang bermusuhan dalam wujud KKN. Lihat saja, betapa banyak pejabat Negara atau penguasa dijebloskan kepenjara karena korupsi. Dari tingkat kecamatan hingga tingkat nasional. Kisah setiap orang tertangkap KPK atau menjadi tersangka korupsi sangat mengelitik dan tentu masyarakat bertanya-tanya apakah mereka yang menjadi tersangka benar-benar korupsi atau kesalahan dalam prosedur.

Jadi teringat dengan penjelasan Pak Mahfud MD di opini yang berjudul “Dosen Hukum Jadi Malu” bahwa pasal-pasal hukum itu bisa saja dicari untuk membenarkan atau menyalahkan satu pihak, tergantung pada apa yang diinginkan hakim”. Kalau ingin memenangkan seseorang bisa memakai pasal ini undang-undang nomor sekian, tapi kalau mau mengalahkan atau menghukumnya bisa memakai pasal dan undang-undang bernomor lain lagi. Pokoknya, semua ada pasalnya. Oleh karena semua alternatif, mau menghukum atau membebaskan itu, selalu bisa dicarikan dan selalu ada dalilnya, dalam memutus perkara.

Disisi lain, tidak jarang orang yang menjadi tersangka karena kesalahan dalam standar operasional presedur (SOP) demi mewujudkan terobosan dan tidak sesederhana itu untuk mewujudkan terobasan di institusi pemerintahan karena sekecil apapun pelanggaran prosedur akan berujung pada sangkaan korupsi. Atau bisa jadi terobasan sama dengan melanggar hukum.  Jika merujuk pada aturan yang berlaku di Indonesia siapapun bisa menjadi tersangka dan atas dasar itu pula membuat siapapun berada posisi strategis pemerintahan jadi takut melakukan terobasan. Padahal birokrasi Indonesia perlu di renovasi karena selama ini aturan yang diterapkan pada insititusi khusus lembaga plat merah begitu kaku. Di lain pihak sering  mendengar kepala Negara mengajak bawahannya untuk melakukan terobosan (Breakthrough). Selaras dengan ungkapan kepala Negara yang dilansirkan salah satu media online bahwa kadang-kadag perlu sebuah loncatan keberanian untuk melakukan pembenahan  untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Menurut Rhenald Khasali bahwa mesin birokrasi dan mindsent semua elemen pemerintah harus berubah dengan melakukan terobosan agar mampu mengejar kemajuan diberbagai sektor. Menurut kamus New World Dictionary karya Webster, terobosan memiliki arti, 1: suatu tindakan atau titik pendobrakan terhadap sebuah rintangan 2: suatu serbuan yang berhasil menembus garis pertahanan musuh dalam peperangan 3: suatu gerakan tiba-tiba yang menunjukkan adanya kemajuan. Sayangnya aturan yang dibuat atau berlaku di Indonesia jika dianalisa ibarat dua mata sisi yang memiliki ion positif maupun negative. Disisi lain membuat siapapun untuk taat dengan aturan lalu di lain sisi secara implisit mematikan langkah untuk percepatan sehingga pekerjaan menjadi lamban atau menyampingkan terobosan.

Mungkin ketakutan melakukan terobasa yaitu  berdampak pada terbengkalainya project, tidak berani mengambil kebijakan atau keputusan karena ada ketakutan gara-gara terobosan akan mengantar mereka menjadi tersangka. Seperti yang dilakukan mantan Menteri BUMN gara-gara semangat terobasan supaya masyarakat tidak berkeluh soal keterbatasan pasokan listrik mengantar beliau menjadi tersangka. Tidak hanya itu ketika project tidak berjalan, celakanya lagi tidak bisa menghabiskan anggaran Negara maka dianggapkan tidak bekerja dan seakan-akan menjadi pejabat Negara serba salah.  Bisa diasumsikan orang-orang berkarakter Out Of Box sepertinya tidak betah menjadi pejabat Negara karena dikekang, terbentur aturan yang baku dan takut menjadi tersangka. Bila boleh jujur posisi strategis pejabat Negara dibutuhkan manusia kreatif agar birokrasi di Indonesia terbenahi dari ulu hingga hilir menuju kesejahteraan masyarakat.

Pada akhirnya kembali pada siapapun sebagai pejabat Negara. Apakah ingin mengikuti aturan yang baku atau ingin melakukan terobasan karena kedua hal tersebut membawa konsenkuensi tersendiri. Minimal ada tiga masalah pokok. (1) mengikuti aturan pekerjaan maka pelaksanaan project menjadi lamban. (2) Bilamana ingin menerapkan terobasan perlu dingatkan bahwa akhirnya disangka korupsi. (3) Atau mungkin aturan yang berlaku di Indonesia perlu dikaji ulang agar tidak mudah menetap seseorang menjadi tersangka,  agar pejabat Negara bisa melakukan terobasan menuju kesejahteraaan dan kemajuan. Jadi Aturan dan posisi pemerintahan bak buah simalakama.

.

.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Didiklah Mereka Dengan Cinta


didiklah mereka dengan cintaSaat melihat berita pelantaraan anak oleh kedua orangtua, pembunahan seorang ayah pada empat anak, membuang bayi diselokan dan kekerasan fisik oleh orang tua. Seketika itu pula merasa hati tersayat-sayat, meskipun belum menjadi seorang ibu masih berstatus sebagai anak rasa tak tega melihat anak-anak diperlakukan seperti itu. Padahal anak adalah harta paling berharga, anak adalah berkah yang indah dari Allah, anak adalah generasi penerus yang akan mengharumkan nama kedua orang tuanya, anak adalah titipan ilahi yang harus diberi kenyamanan, kasih sayang dan ditanam nilai-nilai reiligius agar dalam perjalanan hidup si anak memahami makna hidup dan kemana akhir kehidupan yang sesungguhnya.

Apakah mereka-mereka sebagai orangtua yang memperlakukan anak mereka secara tidak manusiawi tak pernah berpikir bahwa begitu banyak pasang suami-istri menginginkan kehadiran anak bahkan hampir tiap hari dan tiap malam mengadahkan tangan pada Allah serta dengan ikhtiar medis agar dipercayai untuk mendidik seorang anak. Apakah meraka berbuat seperti itu karena takut tidak bisa mendidik anak dengan baik atau dipengaruhi faktor ekonomi?  Apakah saat orang tua melakukan kekarasan fisik tidak terpikir bagaimana capeknya seorang ibu mengandung, sakitnya melahirkan, ribetnya menyusui dan saat susahnya pertarungan antara sperma dengan induk telur untuk membuahkan cabang bayi.

Ketika orang tua sudah mendapat si buah hati itu bertanda Allah percaya orang tua mampu mendidik mereka, saat Allah tiupkan ruh didalam Rahim ibu saat itu pula Allah jaminkan rezki bagi anak-anak. Bayangkan saja burung-burung saja Allah jaminkan rezkinya apalagi manusia yang jelas-jelas setiap hari menyembut namaNya dan bersujud pada Allah tentu sangat dijaminkan rezkinya. Tinggal bagaimana manusiai menyikapi makna rezki.

Jika menyimpulkan dari pengamatan para pakar anak, psikolog dan psikiater bahwa faktor yang membuat orang tua melantarkan anak baik dari sisi financial, sisi fisik dan sisi kasih sayang yaitu disebabkan sisi psikologi orang tua yang tidak normal atau disebabkan trauma masa lalu dan mungkin ada faktor-faktor kedekatan dengan hal-hal dilarang oleh Allah. Misalnya ketika orang tua sudah mengkonsumsi narkoba, mabuk-mabukan dan faktor kehadiran orang ketiga pada akhirnya berdampak pada keluarga atau anak-anak.

Melihat fenomena tersebut, teringat dengan hadist bahwa siapapun hendak menikah hendaklah melihat hal berikut ini (1) keterunan, (2) akhlak/ agamanya, (3) fisiknya, dan (4) harta. Maka pilihlah calon istri atau calon suami yang memiliki akhlak  (agama) yang baik dibekali ilmu pengetahuan. Apalagi mendidik anak dizaman postmodern dibutuhkan ilmu pengetahuan yang luas karena anak-anak masa kini kritis, susah untuk dinasehati dan dipengaruhi banyak hal. Bilamana seorang ibu atau bapak minim ilmu pengetahuan bahkan agama akan mengalami depresi sendiri mengahdapi prilaku anak-anak karena tidak bisa mencari solusi-solusi dan akhirnya selalu menyalahkan si anak. Sehingga berdampak pada pelantara anak dan kehancuran rumah tangga.

Jika bagi laki-laki ingin memilih istri maka lihatlah sisi ke ibu-an, sisi agamanya, sisi kesabaran dan sisi ilmu pengetahuan. Bisa dibayangkan jika anak-anak diasuh atau disentuh oleh ibu yang penuh kelembutan, penuh keibuan, penuh kesabaran dan didukung dengan ilmu pengetahuan. Maka akan mengantar anak-anak yang bijaksana, anak-anak yang penuh cinta kasih sayang bukankah kasih sayang merupakan faktor utama yang dibutuhkan seorang anak. Kasih sayang pula akan membentuk karakter anak yang santun.

Bukankah anak-anak lebih banyak diasuh oleh ibu nya. Sikap dan kecerdasaan anak juga banyak diturunkan dari ibu nya. Dan kita bisa tumbuh seperti saat ini atas kelembutan, kasih sayang, pelukan ibu dan doa ibu. Maka beruntunglah kita yang di didik dengan unsur tersebut sehingga mengerakkan kita menjadi pribadi yang percaya diri, pribadi semangat dan pribadi takut dengan aturanNya. Mari kita sebagai anak membalas cinta mereka dengan selalu berdoa untuk mereka yang sudah ikhlas mendidik kita dengan cinta penuh warna-warni, selalu membuat mereka tersenyum dengan terus berprestasi untuk menghasilkan karya serta dihiasi akhlak baik sesuai dengan norma Ilah, dan terus menanya kabar mereka meskipun berjauhan dari orangtua.

Sedangkan perempuan ingin memilih bedamping hidup maka lihatlah agama, rasa tanggung jawab, karakter laki-laki (apakah bertipikal lembut, pemarah/tempramen dan sabar) kenapa sangat penting hal ini. Ini berpengaruh dengan pola asuh atau pola didik pada anak dan keluarga. Bisa dibayangkan jika calom imam memiliki karakater tempramen dan tidak memiliki rasa tanggung jawab maka setiap ada permasalahan selalu mengandalkan fisik bukan mendahulukan nalar.

Bagi calon ibu-ibu dan akan menikah pelajarilah ilmu-ilmu bagaimana mengrangkai keluarga yang diridho Allah, pelajari cara komunikasi suami istri, dekatkan diri pada sang khalik agar setiap permasalahan yang akan dihadapi dalam rumah tangga bisa diselaikan dengan ketenangan yang menjunjungi pola komunikasi yang terbuka.

Terakhir bagi calon ibu dan sudah menjadi ibu didiklah si buah hati dengan aturan ilah yang dikombinasikan dengan ilmu masa kini. Ingat kepercayaan Allah menitip kalian menjadi ibu dan bapak akan diminta pertanggung jawab di yaumil akhir. Untuk itu didiklah mereka dengan cinta, kasih sayang dan penuhi hak-hak mereka sesuai dengan Ajaran ilah. Perlu diingatkan ketika hendak memarahi atau menyakiti anak pikirkan bagaimana susahnya perjuangan kalian mengandung, melahirkan dan menyusuinya. Malah sudah besar seenak-enaknya kalian memperlakukan dengan tidak wajar. Semoga anak-anak yang didik dengan aturaNya dan cinta mengantar orang tua pada surge firdaus. Allahuma Aamiin.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Kognitif mahasiswa semakin memudar


Kognitif mahasiswa semakin memudarUntuk pertama kali membuat soal UTS tentang analisa yang berpelit-pelit. Padahal tujuan utama dari soal tersebut focus pada satu poin. Sengaja membuat soal seperti itu untuk melihat sejauh mana mahasiswa bisa menganalisa content dan soal yang diberikan persis soal ujian psikotes. Dimana diajak berputar-putar membacanya padahal ending soal itu tetap pada point pertama. Soal UTS disebarkan satu persatu pada mahasiswa dan sebelum mereka menggerjakan tugas tersebut dirumah. Coba menjelaskan sedetail-detail mungkin dan memberi kesempatn mereka untuk bertanya agar tidak ada kebingungan sesampai dikosan karena selama ini setiap dikasih tugas dengan penjelasan yang komplik masih ada yang bertanya melalui SMS. Ketika dikasih kesempatan untuk mengeluarkan pendapat diruangan kelas rata-rata diam seribu bahasa. Itu ciria-ciri mahasiswa masa kini ketika ditanya ada dua kemungkinan (1) senyum-senyum dan (2) diam semari menduduk. Apakah dimasa dulu karakter mahasiswa juga seperti ini!!!

Pada esensinya soal yang diberikan untuk merupakan ruang bereksprimen seluas-luas mungkin, mengeluarkan ide-ide segar dan ingin melihat sejauh mana mereka bisa mengungkapkan ide melalui tulisan. Waktu pengerjaan tugas UTS satu minggu dan  waktu yang normal diberikan oleh dosen manapun.

Waktu pengumpulan tugas pun tiba, mereka mengumpul satu-satu persatu dan memeriksa satu persatu. Sungguh sangat mengecewakan, dari sekian puluhan mahasiswa dalam satu kelas hanya beberapa yang mendekati benar. Sedangkan yang lain asal buat tugas, asal ngumpul, asal selesai dan lebih parahnya lagi tidak ada yang mengumpulkan tugas dengan dalih-dalih klasik para mahasiswa. Strategi apapun dipakai mahasiswa untuk membohongi dosen, sudah bisa ditanggap secara dosen yang mengampu mata kuliah sudah bertahun-tahun kuliah dan paham bagaimana mahasiswa mencari taktik agar dikasihi dosen. Entah nilai apa yang harus diberikan dan apakah mungkin memberi nilai yang sebenarnya secara tidak memenuhi standar penilian. Padahal disisi lain petinggi fakultas selalu memberi peringatan untuk memberi mahasiswa nilai-nilai yang tinggi karena akan terpengaruhi dengan IPK. Ketika nilai mahasiswa rendah dan setelah lulus otomatis sudah kalah dulu dengan lulusan universitas lainnya. Apalagi saat ini untuk memasuki dunia kerja sebelum lulus bahan yang dilihat adalah nilai matakuliah. Dilemma dosen antara idealism dan tuntunan dari pihak petinggi. Bukan kali ini mendengar petinggi tersebut berbicara hal tersebut pada dosen-dosen agar memperhatikan sisi serapan lowongan kerja. Dan pernah juga ketika menguji ujian skripsi mahasiswa sebelum masuk ruangan ujian sudah diingatkan dulu untuk tidak memberi nilai yang tidak layak.

Ketika melihat hasil ujian mahasiswa di atas kertas lembaran jawaban, pikiran melayang entah kemana dan ada rasa kesal seakan-akan tidak mengindahkan penjelasan yang begitu detail diruangan kuliah. Apa yang membuat kognitif mahasiswa semakin mundur. Apakah tidak terbiasa beranalisa. Apakah selama ini belum pernah mendapat soal seperti itu karena kebiasaan dosen masih memberi tugas berkaitan defenisi, fungsi dan manfaat bahkan sangat jarang menemui dosen memberi soal untuk menganalisa (content, analisa gesture, analisa lingkungan). Apakah ini dampak dari mereka tidak terbiasa menulis dan membaca sehingga ide mereka sangat terbatas. Padahal keyword untuk menganalisa apapun adalah banyak membaca dan terbiasa menulis dengan menggunakan unsur 5W+1H. ketika kedua kebiasaan itu sudah menjadi habbit dan kebutuhan dapat menumbuhkan jiwa analitis yang kritis. Apakah ini dampak dari gaya hidup mahasiswa lebih mementingkan gadget (smarphone), fashionable, hedonism dan tidak tahu tujuan utama dari pendidikan. Seperti beberapa opini dibaca yang masih konsisten mengkritik sistim pendidikan Indonesia dari hulu hingga hilir bermasalah semua.  Misalnya problematika kualitas guru, pendidikan berkualitas sebatas wacana dan pendidikan sudah berubah konsep libralisme. Jangan-jangan pendidikan di Indonesia sengaja dibuat rumit begini oleh kaum tertentu agar Indonesia tetap ketinggalan dalam sector apapun dan ketika suatu bangsa masih dalam kebodohan maka siap dijajah oleh Negara maju.

Jika kognitif mahasiswa masih rendah tentu akan berdampak pada masa depan Indonesia. Mahasiswa adalah regenerasi bangsa dan bila regenerasi bangsa hidupnya lebih focus pada hedonism, fasionable dan jauh dari nuansa pendidikan serta spiritual bisa ditebak bagaimana calon pemimpin kedepan yang kosong secara intelektual maupun spiritual. Bilamana terjadi kekosongan dua unsur tersebut maka berdampak pada program Indonesia kedepan. Bukan Indonesia membutuhkan mahasiswa yang prestasi dengan kognitif yang tajam. Bukan kah Indonesia masih kekurangan orang-orang cerdas sesungguhnya yang ada cerdaskan karena sogokan maupun pencitraan media. Bukan kah Indonesia rindu dengan calon pemimpin yang membawa perubahan kebaikan. Bukan kah Indonesia telah memberi ruang inovasi bagi anak muda untuk berkretif agar bisa bersaing nanti di ajang MEA.

Wahai mahasiswa, dimana kalian letak koginitif kalian. Apakah kognitif sudah tergerus oleh postmodern dan kognitif dipergunakan untuk karoke. Jika sudah tergerus mari kembali perbaiki kognitif itu dengan membaca dan menulis seperti kata toko bangsa Indonesia bahwa “calon pemimpin” terdapat dua ciri yaitu (1) jadilah penulis seperti wartawan dan berbicara seperti orator.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Lokalisasi (Bukan) Solusi


lokalisasi (bukan) solusiEkspansi dan bentuk bisnis prositusi di era digital semakin mengikuti perkembangan teknologi seperti saat ini mulai menjamur bisnis esek-esek (prositusi) di sosial media dengan cara yang sangat vulgar yaitu mendisplay picture atau mencantum content person (no Telpn/pin BB) dengan tujuan menarik hidung belang atau lelaki kesepian yang tertarik menggunakan jasa mereka maupun berlangganan. Sedangkan bentuk layanan jasa yang ditawarkan mulai sifat ringgan ( telpon sex) hingga terjadi berhubungan badan bahkan usia yang menjajaki diri di sosial media kisaran usia remaja hingga dewasa (usia produktif).
Lalu tawaran yang diberikan juga variatif tergantung dari level jasa yang diinginkan pelanggan seperti reality show disalah satu televise swasta yang secara langsung investigasi lokasi yang menawarkan jasa tersebut. Darisana terdiskripsikan bahwa harga yang ditawarkan berdasarkan waktu dan kelas yang diambil. Untuk lebih jelas bagaimana kehidupan para kupu-kupu malam bisa baca buku Jakarta Undercover. Seakan-akan prositusi di sosial media menjadi alternative bisnis mengiurkan bagi PSK karena mendapat kemudahan mencari pelanggan dan kemudahan mempromosi diri. Ini sangat membahayakan bagi genarasi bangsa Indonesia sebab penikmat atau pengakses sosial media rata-rata adalah generasi produktif, jika pemerintah tidak memblokir account/situs tersebut dan tidak bijak menggunakan sosial media. Bisa jadi terdorong untuk mengakses account prositusi. Ini pula yang mempersulit bagi pemerintah khusus menteri Kominfo untuk memblokir prositusi online khususnya di sosial media.
Protisitusi di Indonesia dianggap kejahatan terhadap kesusilaan/moral dan melawan hukum. Praktrek protitusi yang tampak yaitu pelacuran. Pelacuran adalah praktik protisitusi yang paling tampak, seringkali diwujudkan dalam kompleks pelacuran Indonesia yang dikenal dengan nama lokalikasi serta dapat ditemukan diseluruh negeri. Jika mempinjam teori dari Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Kehidupan Prostitusi di Indonesia oleh Syamsudin dijelaskan prositusi sebagai pekerja yang bersifat menyerahkan diri atau menjual jasa kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan upah sesuai apa yang diperjanjikan sebelumnya.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu lokalisasi terbesar se Asia Tenggara ada di Indonesia. Sementara mengutip dari Kementerian Sosial pada tahun 2012 mencatat ada 164 lokalisasi di Indonesia, ada 19 provinsi di Indonesia yang memiliki lokalisasi dan lebih 40 ribu lebih pekerja seks komersial (PSK) yang menghuni lokalisasi di seluruh Indonesia. Merupakan jumlah yang sangat mengcegangkan, bukan. Sementara ada beberapa daerah lokasi terkenal di Indonesia misalnya Sunan Kuning (Semarang), Dolly (Surabaya), Pasar Kembang ( Sarkem ) Yogyakarta, Tangerang yang dikenal dengan kota seribu kontrakan, bogor disebut istilah villa, batam dan Jambi sendiri berpusat di daerah pucuk. Tentu berterimakasih pada jajaran pemerintah saat ini, begitu semangat dan mengambil langkah yang tepat untuk menutupi lokalisasi tersebut. Jangan sampai pemerintah berikutnya mengizinkan ada lokalisasi ditanah melayu yang menjunjungi tinggi adat basandi syarak syarakbasandi kitabullah. Seperti yang terjadi dipemerintah Provinsi Jakarta yang coba mewacanakan kembali lokalisasi. Pada akhirnya menimbulkan pro dan kontrak ditengah masyarakat. Menjadi pertanyaan kita bersama, apakah dengan lokalisasi di jamin tidak ada prositusi ditempat yang lain? Padahal melegalalkan lokaliasi sama saja memelihara maksiat dan memberi dampak begitu luas. Apa sesungguhnya yang diharapkan dengan adanya lokalisasi? Untuk meningkat pendapatan suatu daerah, faktor perekonomian, mudah mengkontrol pelaku seks bahkan lebih ironis lagi bakal ada sertifikat bagi pelaku seks. Jika mengutip pendapat Nandang Burhanudin dalam artikel yang berjudul “Islam Indonesia Dihancurkan” bahwa sertifikat halal MUI dipermasalahan sedangkat sertifikat pelacur diperjuangkan, Asrama haji terlantarkan sedangkan asrama penjaja seks dibangungkan. Silahkan merenungi.
Legalisasi lokaliasi sangat kontras dengan hukum yang berlaku di Indonesia sebab bertantang dengan nilai-nilai keagamaan, moral serta melawan hukum. Misalnya bertentangan dengan ratifikasi perundang-undangan RI Nomor 7 Tahun 1984, perdagangan perempuan dan prostitusi dimasukan sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Menjadi dalih klasik kenapa protitusi masih bertahan karena faktor ekonomi dan kemiskinan? Apakah benar ini faktor utama prositusi makin marak? Jika memang protisutisu faktor utama adalah kemiskinan dan ekonomi sepertinya tidak relavan karena jika dikaitkan dengan di Negara-negara maju atau Negara-negara kaya meskipun tidak ada kemiskinan tetap saja prositusi eksis. Terus apa sebenar faktor utama kenapa prositusi susah untuk dibrantaskan dan hapuskan? jangan-jangan masih banyak permintaan atau ada suatu konspirasi yang sengaja ingin merusak bangsa melalui moral?
Jika boleh jujur sebagai wanita, pendidik, orang beragama menolak keras lokalisasi dengan berbagai alasan dan pada dasarnya kehadiran lokalisasi bukan sebagai solusi jangka panjang bahkan menjadi akar permasalahan yang berdampak sistemik baik bagi kesehatan lingkungan, moral, terhadap regenerasi bangsa notabane adalah penerus perabadan bangsa maupun bagi tatanan kehidupan lebih luas lagi. Ini adalah tugas bersama kita sebagai masyarakat Indonesia untuk mencari solusi bersama dengan cara cerdas, bagaimana seluruh lapisan masyarakat sama-sama partisipasi aktif menolak lokalisasi dengan mensosialiasi bahayanya prositusi dari persepktif ilmu apapun, mendesak seluruh pemerintah kota maupun wilayah membuat regulasi yang lebih ketat lagi dan lebih penting lagi menunggu peran media menyuarakan bahayanya prositiusi karena di era demokrasi media memeliki kekuataan yang tak terbantahkan membawa perubahan positif.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Revolusi Sumber Informasi Digital


Penulis             : 1. Depi Suadi, S.Kom, M.Kom dan 2. Testiani Makmur, M.A

Penerbit           : Bulak Sumur Empat

Tahun Terbit    : Mei 2015

ISBN               : 978-602-72593-0-0

Harga              :  @Rp 70.000

cover revolusi informasi digitalBuku ini membahas berbagai macam sumber informasi digital baik berupa teks, gambar, video karena Informasi bukan lagi sebatas kata-kata atau kalimat tetapi informasi sudah bergeser dalam bentuk multimedia. Dilengkapi dengan teknik penelusuran informasi, menyajikan referensi online dalam memenuhi kebutuhan informasi yang semakin kompleks dan berupaya untuk membekali pengguna agar lebih termotivasi memanfaatkan informasi dari sumber-sumber digital.

Disamping itu ketersediaan beragam informasi terkadang menyesatkan, bahkan dampak dari overload informasi tiap hari juga perlu diwaspadai karena mempersulit memilah informasi, memperumit identifikasi atau mengklasifikasi informasi dan mempersulit memperoleh informasi. Padahal ledakan informasi yang terjadi di internet dimana diasumsikan lebih dari 50% informasi di internet adalah informasi “sampah’ dapat mengancam generasi digital atau generasi mellineal yang terkenal intants dalam mengkonsumsi informasi. Cara mengatasi fenomena tersebut diperlukan mengetahui sumber-sumber informasi digital yang memenuhi strandariasi akurat, strategi penelusuran informasi dan mengevaluasi sumber informasi. Kemudian  buku ini terdiri dari empat bab (1) pengantar, (2) Strategi Penelusuran Informasi, (3) Sumber-sumber informasi digital, dan (4) strategi mengetahui tranding topik diberbagai sosial media atau website berita serta dilengkapi glossary.

Buku ini tidak hanya didikasikan bagi jurusan ilmu perpustakaan akan tetapi diperuntukan bagi siapapun yang haus akan informasi terutama bagi mahasiswa, pustakawan, akademisi, dosen, guru, pratikisi dan profesi lainnya yang selalu bersentuhan dengan informasi atau bisa dikatakan bahwa kegiatan saat ini tidak pernah terlepas dari informasi dan setiap aspek kehidupan selalu dihubungkan dengan ketersedian informasi. Sangat Layak dibaca, direkomendasikan bahkan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari agar memperoleh informasi dengan gampang tanpa tersesat dibelataran informasi di internet dan kehadiran buku ini bisa menjadi bekal sebagai literasi informasi, broker information serta salah satu media atau rujukan menuju Lifelong Learning.

Jika boleh meminjam kutipan dari Prof. Dr. Richardus Eko Indrjit bahwa “orang kebanyakan akan mencari data, orang pandai akan mencari informasi dan orang bijaksana akan mencari ilmu pengetahuan”. Itu lah tujuan dari buku ini yaitu ingin mengantar pembaca untuk pandai mencari informasi secara bijak dan pada akhirnya memahami makna informasi dalam hakikat kehidupan.  Ditambah lagi priodenisasi masyarakat informasi seperti sekarang ini, dimana kekuasaan berada ditangan komunitas masyarakat yang menguasai informasi. Apabila informasi dikuasai oleh sekelompok masyarakat, komunitas tertentu dan oleh orang tertentu, mungkin menimbulkan ketidakselarasan sesama masyarakat karena terjadi ketidakseimbangan informasi yang dimiliki antar individu.

Note:

Bagi yang tertarik untuk mengkoleksi buku tersebut bisa hubungi penulis di email sholiatalhanin@yahoo.coid, Whatshaps 0853 2580 3374, Pin 763f9724

Menabur Kebaikan Dan Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

%d bloggers like this: