Mengantar Mahasiswa Bimbingan Ujian: Kombinasi Bahagia dan Sedih


20160519_131001Hampir empat tahun menjadi pemimbing skirpsi mahasiswa. Awal mulanya Cuma diberi bimbingan dua orang, bergulir waktu semakin bertambah mahasiswa bimbingan. Secara tidak langsung ter-mapping dan terpola mahasiswa bimbingan yang diberikan pada Anim. Umumnya berkaitan dengan literasi, perilaku pencari informasi, teknologi informasi dan ada juga berhubungan dengan layanan, Manajemen, serta ketesedian koleksi.

Bahkan bukan saja mahasiswa bimbingan saja meminta diarahkan tentang arah penelitian mereka. Ada juga mahasiswa terasa dekat dengan Anim tak sukan-sukan minta diberi arahan. Apalagi ada mahasiswa dengan berani dan terus terang meminta judul skripsi. InsyaAllah selalu memberi saran dan solusi judul skripsi untuk meraka seperti yang baru lulus, Anim berikan judul skripsi bertemakan “Literasi informasi organisasi bagi mahasiswa”, Ketertarikan Alumni ilmu perpustakaan bekerja dibidang perpustakaan dan kesenjangan digital. Sayangnya kesenjangan digital tidak pernah di acc oleh pihak jurusan HOhohoho….”padahal itu tema trends sangat”. Namun apa boleh buat, selalu dapat penolakan!!!

Membimbing mahasiswa melatih diri semakin memahami makna penelitian dan metode penelitian. Memimbing juga semakin mengkaya diri memahami teori atau konsep ilmu perpustakaan. Pada intinya dengan memberi bimbingan tersadari bahwasanya penelitian itu gampang dan mengasyikkan. Gampang asal menemukan teori yang pas. Mengasyikkan bila mendapat data detail dan kompleksitas, sehingga mempermudahkan melakukan analisa. Sementara metodologi tinggalkan disesuaikan saja.

Ada hal menarik berkaitan dengan bimbingan dikampus tempat Anim mengabdi saat ini. Misalnya pemimbing pertama cukup meng-Acc saja, asal sudah dibaca secara teliti oleh pemimbing ke-2, bahkan ada juga pemimbing pertama mengatakan begini “cukup bimbingan saja dengan pembimbing kedua saja, kemudian ada pula pemimbing tak mau hadir ujian proposal ataupun ujian skripsi. Herannya….!!! Fee bimbingan tak pernah ditolak dan selalu mengambilnya. Padahal bila mau jujur dan bertanya dengan diri paling kecil. Sudahkan memimbing secara baik dan benar??? Namun bagi Anim cukup tahu dan sikap seperti itu tidak terbawa pada Anim. Apakah masalah begini juga terjadi pada kampus-kampus lain di Indonesia??? Ya sudahlah itu pilihan apakah ingin membimbing dengan baik dan benar atau cukup sebatas ambil fee sementara memimbing kasih pemimbing kedua!!! Toooh…segala akan dipertanggung jawabkan diyaumil akhir….”Ngerilah kalau bicara akhirat hihihihii”

Namun ketelitian dan kebenaran dalam memimbing akan diuji saat mahasiswa ujian skripsi. Setiap mahasiswa ujian selalu menyembatkan hadir karena secara tidak langsung kehadiran pemimbing akan memberi support dan kekuataan bagi mahasiswa akan ujian. Diruang sidang beragam tingkah ditunjukkan mahasiswa sedang ujian. Ada menjawab asal padahal semakin menjawab mengada-ada semakin banyak pertanyaan dilontar oleh penguji, ada mahasiswa tergiring dengan pertanyaan penguji sehingga hilang dari fokus dari penelitian, ada mahasiswa begitu percaya diri mempertahankan pendapatnya kendatipun tidak didiskripsikan dalam lembaran-lembaran skripsi, ada mahasiswa terdiam tanpa bahasa karena tidak mampu menjawab pertanyaan penguji dan lebih seru lagi anak bimbingan setiap menjawab pertanyaan pengujia selalu melirik pemimbingnya hohohoho….”itu mungkin menandakan meminta bantuan tolong saya ibu/pak”

Bahagia jadi pemimbing, tatkala mahasiswa akhirnya bisa menyelesaikan penelitian, yang dibuktikan dengan ujian skripsi. Lalu mampu mempertahankan hasil penelitian dihadapan penguji. Apalagi mendapat hasil yang memuaskan. Rasanya terbayar sudah coleteh-coleteh berbentuk saran yang diutarakan selama bimbingan. Akan tetapi mengecewakan apabila mahasiswa bimbingan mendapat nilai sangat rendah. Padahal bila dilihat dari isi, metodologi, mempertahankan pendapat dan pembahasannya sesuai dengan teori. Namun karena salah beberapa kata, langsung dapat nilai rendah. Kenapa nilai rendah? Karena memang tidak ada standar nilai yang layak dapat A, B, C dan seterusnya. Jadi sesuai dengan selera penguji. Kalau penguji lagi mood diberikan nilai memuaskan. Seandainya penguji lagi bahagia bisa jadi istimewa. Situasi begini? Membuat hati sedih sebagai pemimbing karena nilai diberikan sesuai keinginan penguji bahkan menjadi bingung sendiri. Kenapa penguji tega memberi nilai C sementara teori, latar belakang, isi dan pembahasan sangatlah baik. Lagi-lagi karena tidak ada standar peniliai!!! Selama tidak ada standar penilaian ujian skripsi, selama itu pula anak bimbingan mendapat nilai berdasarkan kehendak hati penguji.

Namun pada akhirnya, senang dan bahagia bisa memimbing mahasiswa dengan total serta berkesempatan mengarahkan mereka supaya paham bagaimana melakukan penelitian. Terlebih lagi saat memimbing mahasiswa, jiwa ini selalu teringat masa-masa kuliah bagaimana duka mengejar dosen pemimbing hingga ketiduran demi konsultasi skripsi. Bela-bela berjam-jam duduk diruang perpustakaan dan terkadang tidak memuaskan hasil seperti tidak menemukan teori yang mendukung penelitian. Itu lah bagian-bagian perjuangan sebagai mahasiswa demi meraih gelar dan menambah ilmu pengetahuan.

Jadi bagi mahasiswa sedang penelitian, seseringlah melakukan bimbingan dan jangan takut menemui dosen pemimbing. Jika dosen pemimbing galak….”banyak baca ayat-ayat kursi atau yasin” agar tidak kena shock terapi ketika bimbingan hohoho. Tapi percayalah dan bersyukur dapat pemimbing killer, suka coret-coret skripsi karena sangat membantu membentang hasil penelitian dihadapan penguji serta insyaAllah sedikit revisi. Dibandingkan tidak pernah dicoret dan langsung di Acc bertanda akan banyak kesalahan dan melakukan revisi cukup banyak

Menabur Cinta Dan Kebaikan Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang

Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

72 Tahun RI, Indonesia Kerja Bersama


Ku melirik kesisi ruangan super dingin, ruangan yang dihiasi ornament putih dan berpadu kecoklatan. Selaras dengan pakaian peserta blogging dominan hitam putih. Tampak sebagian menduduk bak sedang bertasbih pada sang maha cinta”Eemmmm”. Ku tahu mereka menduduk, merenung apa akan diluapkan satu bersatu dinotebook.  Sesekali terdengar suara bisik dan tawa demi menghasilkan kalimat menggugah jiwa. Ada jua keseriusan terlihat dari salah satu peserta berpakaian kotak-kotak berkacamata memacukan otak dan tangan dikeyword. Tawa dan keseriusan berbadu menjadi satu, intinya berlomba mendapat prediket tulisan terbaik menurut panitai KOMINFO flash blogging.

Berlahan-lahan berimajinasi mencari ide, agar bisa mendapat hadiah menarik. Semoga dapat umroh gratis ‘hehehe’ Sepertinya tak mungkin, secara Negara sibuk mengurus first travel yang melantarkan jamaah. Aaahh sudahlah apapun hadiahnya, fokus dengan samudra ide diperoleh dari flash blogging untuk dituangkan diruang kebaikan “blog”.

Melalui kegiataan flash blogging KOMINFO bertepatan 72 tahun usia Republik Indonesia bertekad untuk menjadi salah satu generasi menillineal bersama-sama untuk memerangi hoax dan bersama-sama menabur inspiratif. Sebagaimana kata ustad sesungguhnya setiap kebaikan ditaburkan akan mendapat kebaikan. Kebaikan tidak sebatas  di ruang realitas, tetapi kebaikan itu juga bisa terjadi diruang internet. Bahkan apapun yang diupload disosial media akan dihisab dijaumil akhir. Naaah, agar tidak dihisab diyaumil akhirnya. Lebih baik menulis voice dari pada noise.

Sementara cara memerangi hoax diantarnya tidak ikut menyebarkan hoax. Semoga waktu terdekat bisa menghasilkan modul singkat berkaitan literasi hoax, terkhusus untuk mahasiswa. Kenapa mahasiswa? Karena mahasiswa paling banyak interaksi dengan ku, dominan berselancaran disosial media, rata-rata mahasiswa memiliiki beberapa account sosial media dan mudah terprovakasi untuk ikut share berita mestipun belum jelas keakuratan serta kebermanfaatannya.

Sehingga secara tidak langsung membantu pemerintah dan ikut berkerjasama memerangi hoax telah overload diruang maya. Padahal hoax dibiarkan bak virus mematikan, bagaikan jamur menggerogot NKRI. Akhirnya terpelah, pecah dan terberai-berai. Sementara NKRI adalah jiwa dan raga.

Jalan Rabbi Tetap Dirindukan


Bismillah….

Sehari setelah putaran kedua PILKADA DKI, diruang dosen penuh dengan diskusi dunia politik.  Bukan saja diruang dosen bahkan dunia sosial media dipenuhi pembicaraan atau tagar pilkada. Hingga saat ini masih dibahas aroma pilkada misalnya tagar move on atau gagal move on hihihihi^__^. Semua dosen yang ada dimeja petak ingin ikut berbicara dan ingin ikut mendengar. Seolah-olah sudah menjadi pengamatan politik. Tak jauh berbeda dengan analisis yang dipaparkan oleh pengamat politik dan konsultan politik, memenangkan nomor tiga. Dari jauh atau sekitar 10 langkah dari meja diskus mendengar secara sayup-sayup karena semari membimbing mahasiswa konsultasi final skripsinya. Setelah selesai langsung beranjak kemeja bundar yang berwarna biru. Secara, juga tak ingin tertinggal dari kehangatan diskusi. Semoga saja melalui diskusi mendapat hikmah |ciiiileeeeee gaya sangat hohoho|. Di meja bundar ada sekitar 7 Dosen begtu serius dan fokus membahas hasil putaran kedua. Bahkan semakin hangat. Dimeja petak atau bundar itu sering terjadi diskusi hangat dengan berbagai tema dan sudut pandang. Tak jarang pula dari meja petak itu terilham dan terinspirasi untuk melakukan sesuatu…|Heemmmm belagu huhuuuuu|

Namun dari diskusi sekitar satu jam lebih itu, ada point menarik dan ending dari diskusi sesunggahnya sudah tertuang dalam quote singkat dan terpublish di instragram Anim, sebelum terjadi diskusi. Awal mula membahas Pilkada putaran kedua tapi ujung-ujung membahas tentang toko nasional yang moderat atau aliran libral yang kembali kepada jalan kebenaran yaitu jalan islam sesuai Alquran&hadist. Jalan menuntunkan untuk menjalankan sunnah-sunnahNya. Bahkan sudah banyak contoh bagaimana heroiknya mereka yang menantang jalan Allah kembali mengakui kebenaranNya. Awalnya begitu nyinyir dan begitu antusias menabur isme-isme. Namun akhirnya tetap sadar bahwa isme yang dibanggakan selama ini hanya eutopia.

Pada hakikatnya perjalanan adalah salah satu cara untuk mentadaburi dan mencari makna hidup. Dari makna hidup akan bersua konsep “dari mana dan hendak kemana”. Dalam perjalanan bermacam diketemui dan dialami. Ada kala perjalan menanjak, menurun, berkelok dan lurus. Beragam perjalanan tersebut, membutuh rem dan gas.  Rem digunakan untuk menghentikan hal-hal tidak baik atau berunsur kehajatan serta kemaksiat. Jika tidak direm bisa bermuara pada keburukan dan kehinaan. Sementara gas digunakan untuk terus melaju melakukan kebaikan dan meraih kebenaran. bila bersua dengan kebenaran dan kebaikan maka gas sekuat mungkin. Agar bisa bersua dengan nama hidayah yang berbuah pahala bernilai keberkahaan. Kedua hal itu harus dimiliki seorang petualang untuk berjalan dan berjalan. Namun sejauh apapun perjalanan dilalui dan apapun namanya perjalan dijalankan. Tetap manusia itu dan pada dasarnya rindu dengan jalan ilahi. sebagaimana contoh nyata dan fakta disekitar Anim atau melalui bacaan. Bahwasanya sejauh-jauhnya perjalan dilalui tetap jalan Rabbi dirindukan. Kenapa!Kenapa!Kenapa!

Karena, jalan ilahiah itu umpama rindu dengan kampung, karena sejauh kita mengeliling berbagai kota tetap desa tempat dilahirkan dirindukan. Kemudian jalan iliah adalah jalan membawa kedamaian, keberkahaan dan jalan menjanjikan keselamatan dunia ataupun akhirat. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Al-Hikam bahwasanya ruh/batin manusia hanya bisa diberi nutrisi dengan kedekatan dengan Allah. Tidak bisa dipenuhi dengan harta, jabatan, apalagi dengan kekuasaan. Hal itu hanya bisa memenuhi kebutuhan fisik semata. Padahal fisik tanpa ruh hanyalah bangkai tanpa bernilai. Dengan adanya ruh dalam diri manusia menjadi manusia paripurna. Makanya ruh itu dari Allah maka akan kembali kepadaNya jua. Jadi itu lah alasan kenapa kita harus kembali pada jalan ditetapkan Allah demi memenuhi nutrisi ruh. Sebab ruh tanpa nutrisi dunia terasa sempit, hamba dan gelisah. Dan bentuk syukur serta sadar bahwa perjalan sesungguhnya jalan menujuNya.  Bagi kita belum kembali pada jalanNya, ayo bergegas dan berlari kembali pada jalan penuh tuntutan. Mumpung masih ada kesempatan untuk kembali pada jalan kebenaran.

Menabur Cinta Dan Kebaikan Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Jangan Tertipu Kehidupan Dunia


Hari ini, Anim memutuskan makan di kafe banyak digemari generasi millineal. Teramat sering melihat photo kafe ini diruang social media.  Wajar generasi millineal tertarik dan betah berada dikafe ini, karena setiap sudut kafe terdesain dengan kekinian. Hal kekinian merupakan hal sangat disukai dan dipuja-puja oleh generasi millineal. Meskipun tidak sesuai dengan konsep kearifan lokal. Siapapun berada dikafe ini tentu akan akan terpesona dan terlena keindahan dari konsep yang diusung. Kedatangan Anim dikafe ini, bukan terprovokasi oleh photo-photo millineal di ruang sosial media yang bertaburan, melainkan sudah lama berniatkan kesini namun momentum belum tepat dan tidak alasan kenapa harus berada dikafe ini.

Sampai dikafe bernuansa westten klasik, sekitar jam tiga lewat 15 waktu Indonesia bagian barat. Selama perjalanan menuju kafe, pikiran Anim terbang entah kemana-mana. Sesekali terpikir dengan bundo kandung dikampung, kemudian muncul pula dengan cita-cita besar masih berusah untuk diwujudkan. Kendatipun pikiran jauh kemana, tapi masih fokus melihat jalan yang dipadati oleh kendaraan.  Kehadiran Anim dikafe ini tak lain tak bukan untuk memenuhi janji pada dirinya, telah menyelesaikan proposal penelitian dengan nilai sangat pretesius. Mengarap proposal penelitian ketika jiwa tergoncang begitu dahsyat oleh perasaan dan saat harus bertarung dengan rasa sendiri dalam mencari solusi demi ketenangan batin.

Setelah Anim menghabiskan menu dipesan dan Satu jam kemudian…

Tiba-tiba ada tamu Kafe berombongan dan membuat mata Anim tertuju pada mereka. Sejak turun dari mobil hingga duduk ditempat yang telah mereka pesan, tak berhenti mengalih pandangan.  Bagaimana tidak Anim menoleh pandangan pada mereka, karena kehadiran mereka sangat boombastis. Apalagi yang melekat atau dibawa mereka semua membuat mata perempuan lapar mata secara serba indah dan branding. Tas lagi trands, sepatu dengan highhell begitu tipis, warna baju nan cerah, dan dihiasi kacamata. Syukurnya tak pakai celena ketat tapi kompak pakai rok levis.  Wanita mana tak suka dengan bawaan ibu-ibu couple tersebut.

Sepertinya bukan Anim saja yang melirik mereka. Akan tetapi meja nomor enam dan meja nomor satu ikut melirik. Kedua meja tersebut berjarak tiga meja dari Anim duduk. Semari menyentuh tab Anim, diam-diam menyimak pembicaraan mereka yang serba duniawi, yang tak jauh dari dunia wanita dan terdengar juga sesekali mereka membicarakan anak-anak mereka sekolah favorit.  Pembicaraan hangat mereka ditemani dengan makanan bertumpukan dimeja. Sepertinya rombongan ibu copule itu sengaja pesan makanan dengan porsi banyak. Satu orang ibu memesan 1 hingga 3 jenis makanan. Namun tak bisa terlihat jelas menu apa yang dipesan oleh ibu-ibu couple. Saat menu telah terhidang ada beberapa ibu-ibu couple minta diphotokan dengan latar menu makanan yang telah dipesan. Bahkan sampe tiga kali ketawa mereka pecah dan membuat sebagian tamu yang lain melirik pada mereka. Ntah apa yang mereka ketawakan.

Tiba-tiba hati kecil mengeluarkan pertanyaan. Beginikah ibu-ibu masa kini!!! Dan ibu-ibu hidup diperkotaan. Jujur dan sungguh Anim belum bisa memahami apalagi mengerti tingkah para rombongan ibu-ibu berbaju couple tersebut. Entahlaahhhh….mungkin dunia Anim dan Ibu-ibu couple tersebut terlalu berbeda jauh ibarat kota dengan desa. Ibarat samudra dengan sungai. Ibarat pesawat dengan bejak. Sehingga membuat Anim geleng kepala berulang-ulang.

Seusai Anim memberi pertanyaan pada diri sendiri dan belum terjawab pertanyaan sendiri. Tercenggang dan menarif nafas “uuppssss” secara pelan-pelan.

Melihat ibu-ibu rombongan tersebut berphoto gruoppi  |photo bareng| tak kalah dengan anak-anak remaja atau para gadis kekinian. Suasana kafe semakin menjadi-jadi saling lirik-melirik. Walaupun rombonga ibu-ibu diamati oleh tamu yang lain. Mereka tak hirau dan malah cuek saja dengan terus tertawa dan seolah-olah kafe ini sudah dibooking mereka semua. Terkejut saja mengamati tingkah seorang ibu. Ibu yang menjadi madrash dan tauladan bagi generasi millineal.  Tapi diruang public mempertontonkan sikap seperti anak gadis dan generasi millienal. Tidak hanya itu, ada salah satu ibu dari rombongan ibu-ibu couple tersebut, cetus minta di”tag”kan. Berarti photo mereka sudah dipublish disosial media…. MasyaAllah…Anim mengerinyik dahi sesaat dan sambil meminjamkan mata. Tak tahu mau bilang apa lagi!!! Dunia emang telah berubah dan berbeda.

Betapa bersahabat dan update nya para ibu-ibu couple dengan jejaring. Sesunggunya perilaku begini jika ditinjau tingkat generasi dalam perspektif infomrasi adalah efek dari teknologi. Hampir semua para generasi silent sudah mengikuti perilaku generasi digital native, dimanapun berada dan apapun kegiataan sepertinya wajib dipublish kesosial media. Emang benar kata teman, sangat susah mencari orang tak mau mempulish kegiataan atau photo disosial media. Mereka-mereka masih mempertahankan prinsip untuk tidak mempublish photo atau memanjang photo diruang sosial media adalah orang istimewa.  Seketika itu juga, teringat dengan mahasiswa Anim, karena gaya photo dan tingkah para ibu-ibu couple tersebut tak jauh beda dengan mahasiswa…”lagi-lagi Anim geleng kepala pelan-pelan dan terus menunduk kepala”. Ya Allah, jauhkan kami dan siapapun ingin berbaiki diri dari bersikap seperti itu, bukan kah kami adalah sebagai calon ibu dan tauladan bagi generasi Millineal.

Sehingga Anim kembali bertanya dengan diri sendiri. Siapa mereka dan apa profesi meraka? Begitu pedenya dan tak menghirau dengan lirikan mata tamu kafe yang lain. Mungkin mereka ini adalah komunitas arisan, rombongan pengajian, istri para pejabat atau meraka adalah kaum sosialita KW….|Anim berspekulasi dengan diri Sendiri|

Sebetulnya bukan kali ini saja, Anim menyumpai para ibu-ibu modern bergelayat begitu dan ini untuk kesian kali berjumpa. Apalagi Anim sudah hidup didua kota besar. Hanya saja dengan orang yang berbeda-beda dan lokasi yang berlainan. Namun kesamaan tetap saja mengedepankan keindahan dunia. Selama satu jam kurang,  Anim menyuri pembicaraan mereka dan tak ada satupun keluar kalimat atau pembicaraan bernuansa keagamaan. Semua pembahasan seputar tas branding, pakaian serba lux, dan pembicaraan seputara harta maupun jabatan. Seketika mulut Anin langsung berujar apakah ini lah dunia…. Penuh dengan permainan dan senda gurau???

Oh Tuhan, kenapa hari ini Engkau bersuakan dengan ibu-ibu modern ini!!! Hikmah apa hendak Engkau berikan pada Anim. Atau ada maksud yang lain Rabbi. Sesungguhnya ini adalah fenomena sosial. Bila Anim melihat ini dari sudut teori sosial adalah hal lumrah. Jika Anim mengamati dari sudut agama, etika dan budaya. Ini sungguh tak biasa. Setidaknya pertemuan para-para ibu-ibu couple mengingat Anim tentang dunia penuh dengan sendau gurau dan membuat manusia terlena atas keindahan-keindahan yang semu sehingga lupa kehidupan sesungguhnya. Sebagai Engkau jelaskan dalam Surah Ankabut ayat 64 “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”.

Sungguh benar Rabbi, apa yang Engkau jelaskan dalam Al-quran terjadi pada kehidupan manusia. Seperti Anim jumpai hari ini tentang dunia penuh permainan, sendau gurau dan penuh tipuan belaka. Hari ini, Anim paham bahwasanya tidak hanya ayat-ayat dalam Alquran saja harus ditaburi. Melainkan perjalanan kehidupan disekitar kita, begitu banyak mengandung pelajaran yang mengantar manusia menjadi bijak dan berpikir. Bahkan meyakini setiap perjumpaan dan pertemuan dengan siapapun selalu terkandung hikmah bagi mereka yang berpikir serta mau mengambil hikmah dari setiap perjalanan hidup.

Menabur Cinta Dan Kebaikan Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Hal Terjadi Dengan Manusia Sudah Dijelaskan Dalam Alquran


 

TestianiQoutes64Alquran ini tidak ada keraguan dan merupakan ayat yang nyata. Sesungguhnya Alquran itu adalah kitab yang mulia. Alquran adalah bacaan yang sangat mulia. Alquran adalah pentunjuk bagi orang-orang bertakwa. Alquran penerang bagi seluruh manusia. Alquran adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum meyakini. Sesungguhnya Alquran diturunkan pada malam kemulian. Janganlah ragu menerima alquran. Jika ada manusia tetap dalam keraguan tentang alquran, Allah tantang manusia buat satu surah yang semisal alquran. Jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yangg serupa Alquran, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yg serupa dengan yang lain, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.

Alquran membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Dan apabila dibaca alquran, maka dengarlah baik-baik, dan perhatikan dengan tenang agar mendapat rahmat. Ketika sekumpul jin mendengar Alquran, mereka berkata sesungguhnya kami telah mendengar Alquran yang menakjubkan. Alquran adalah pentunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Alquran itu cahaya, yang ditunjuki kepada hamba-hambaNya.

 

Sesungguhnya dalam alquran itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Alquran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat. Sesungguhnya alquran petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. Alquran petunjuk dan pembeda antara hak dan bathil.

 

Alquran menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman.alquran membawa kebenaran. Sebenarnya alquran itu adalah ayat-ayat yangg nyata didalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Alquran kecuali orang-orang zalim. Dalam Alquran bermacam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari dan saling membantah. Sesungguhnya alquran itu peringatan.sesungguhnya alquran amat banyak mengandung hikmah dan benar-benar tinggi nilainya

 

Menabur Cinta Dan Kebaikan Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

Temaram Senja Menyentuh Relung Jiwa


Teringat dimasa kecil dan dikampung bilamana senja telah datang terlihat kelalawar berbaris dari timur menuju barat. Selalu takjub melihat barisan kelalawar menuju barat dengan kekompakkannya. Namun nuansa begitu, tidak pernah disuakan lagi. Rindu dengan suasana senja masa kecil.  Apalagi ditengah kota begini dipastikan tak akan berjumpa  seperti itu.

Senja dikota hanya menjumpai orang-orang sibuk mengejar kenikmatan dunia yang tiada akhirnya dan terkadang azan magrib pun sering tak terdengar ditengah kota. Itu lah salah satu ciri-ciri kota. Jujur lebih menyukai senja dikampung halaman, disana bisa melihat kebesaran Allah dari langit senja penuh dengan ketakjuban dan melalui langit senja pula sering berpikiran tentang masa depan.

Hati kecil sangat mendorong untuk duduk didepan rumah semari menikmati senja. Sesaat kemudian sudah berada diatas teras dengan porselin putih-putih berbentuk kotak,  berdiri tegak menghadap kearah tenggelamnya matahari, sementara dihadapan ku ada tiga batang pohon pinang cukup tinggi, diluar pagar lalu lalang motor melewati, sedangkan langit-langit senja telah dihiasi warna kuning keemasan, warna langit sudah mulai berbeda dengan warna langit disiang hari dan ini bertanda pergantian waktu akan terjadi.

Akan tetapi, belum juga tanda-tanda penggeras suara yang mengeluarkan murottal dan azan dari mushalla. Semestinya jam segini sudah selayaknya terdengar suara ngaji. Kendatipun belum terdengar tetap menunggu, sekalian menatap keindahan langit senja dan senja menjelma menjadi irama pembuka pintu hati untuk terus bertasbih kepada sang maha kuasa hingga cahaya pagi. Sebagai insan memiliki jiwa romansa dan melankolis begitu terasa bahwa senja ini adalah seni menyodorkan ketenangan serta memunculkan gagasan.

Mulai terbuai dengan langit dan aura senja yang temeram. Seolah-olah hati kecil ditarik untuk menikmati senja dengan meminjamkan mata, merasakan ada sesuatu menyentuh jiwa, teringgap pula rasa sunyi, dan ada pula rasa berbeda hadir dalam relung-relung empusan nafas, tak tahu apalah makna dari rasa tersebut. Bahkan menyusup dalam tulang sum-sum. Semakin dipejam mata, semakin terasa aura senja membawa jiwa pada tempat yang berbeda untuk menghilangkan kegundahan. Tak jarang pula tersenyum memandang senja karena beranggapan bahwa sesorang yang masih dirahasiakan Allah  juga sedang terpaku menatap syahdunya senja.

Menikmati senja terkadang sebagai alternative menghilangkan penat dunia sering menyesakkan raga. Bahkan dibawah langit senja berbicara dengan Allah secara berbisik-bisik, agar setiap harapan-harapan terangkai dalam curahan bait-bait doa diperkenaankan dengan berkaah dan muhhabah.

Manakala sedang menghanyutkan seluruh raga terdengar suara azan membalut dunia. Walaupun suara tak begitu jelas terdengar, tiba-tiba lantunan syahdu menyeruak relung jiwa. Allahu Akbar…betapa maha besar Engkau Rabbi. Betapa indah suara kemenangan ini sehingga seketika mendadak membelah dan melilit hati, ini mengambarkan betapa dahsyatnya energi azan sedang beradu dengan suara hembusan angin. Saat itu juga, tanpa terasa teringat dengan suadara laki-laki “brothers” semasa remajanya sudah rajin mengumandang azan dimesjid kampung.

Bibir pelan-pelan mulai mengikuti suara azan dikumandang oleh mua’azzim. Ya Tuhan ku, jadikan hamba mu selalu mendengar panggilan Mu. Akui lantunan azan mampu mengikis kesombongan dan menghadirkan kesyahduan bagi para pencari Tuhan. Tidak jarang suara azan mampu menghantarkan hidayah bagi orang-orang mencintai kebenaran. Sejujurnya hidayah mudah diperoleh bilamana sungguh-sungguh membuka hati mencari kebenaran. Lusa dan seterusnya tetap betah menunggu keindahan senja dari Engkau Rabbi. Entah kenapa menaruh perhatian lebih dengan senja yang dihiasi lafaz-lafaz azan.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Balut diri ku dengan doa mu “Mak dan Pak”


doa ibu

#TestianiPedia

Terbangun dipertigaan malam, ini adalah waktu sebagian manusia sedang lelap dan menikmati  mimpi-mimpi indah. Tapi ku berbeda dengan sebagain yang lain, dipertigaan malam keseringan terbangun seakan-akan ada  saja yang membangun. Ketika terbangun, tatapan kosong hanya bisa memandang tumpukan buku, lemari, loteng, bantal guling, selimut, alat-alat kosmetik  dan sesekali mengusap wajah. Langsung terhubung dengan raut wajah sudah tidak muda lagi. Rindu dengan suara ngaji pak dikala magrib dan subuh. Suaranya bagaimana nada-nada yang tak bisa teruntaikan, hanya bisa dirasakan semari meminjamkan mata. Lantunan ayat al-quran yang keluar dari suaranya bagaikan angin menyentuh  sukma. Terkadang kangen mereka membuat tersiksa sendiri dan tak jarang pula rasa itu membuat khusyuk berdoa padaNya untuk mereka. Bukan untuk kali saja terbangun teringat mereka dikehening malam, sudah teramat sering. Ini adalah bentuk kedekatan dan kedalaman emosional begitu kokoh antara ku dan mereka.

Jujur, tersiksa bila tak bisa menatap wajah tembem sudah berganti kerutan dan tubuh kekar sudah mulai kerobos termakan usia. Wajah tak pernah takut disengati matahari dan tangan tak berhenti mengenggam tanah demi menggais rezki untuk dia supaya bisa meraih mimpi menjadi orang terbaik dihadapan Allah. Sehingga wajah nan teduh itu diinggap oleh bintik hitam tersenggat oleh sinar violet. Wajah yang selalu melemparkan senyum terbaiknya, baik ketika dia bahagia maupun mendapat ujian. Bahkan telah memberikan segala hal padanya. Pemberian engkau begitu tulus tak pernah meminta balasan. Kendati sudah bisa mencari rezki secara kecil-kecilan, tak pernah putus memberi uang jajan untuk diri ini. Engkau begitu paham dan mengerti apa saja kebutuhannya. Ketika mengatakan ingin melanjutkan pendidikan engkau murung, paham kenapa engkau terdiam karena tak mau jauh darinya. Secara hampir sepuluh tahun kita berpisah bersua hanya moment tertentu.

Meskipun wajahnya dipenuhi kerutan tetap rindu tidur diatas pangkuannya semari mendengar coletahnya dan ingin menatap lama, terutama menetap mereka ketika terlelap tidur. Menatap wajah telah lelah membesari ku dari tak bisa apa-apa hingga bisa mengores tinta inspirasi, mengajari ku tentang arti kerasanya kehidupan. Mungkin begitu jua mereka menatap diri ku tatkala bayi. Mereka begitu senang menikmati proses perkembangan ku. Kini anak kecil yang terus engkau timang-timang, engkau elus-elus dengan doa, engkau genggam erat-erat tangannya kemana-mana telah beranjak dewasa. Walaupun sudah dewasa, tapi ku dihadapan kalian tetap dianggap anak kecil yang terus diarah, dituntut dan dingatkan. Bahkan jika Allah Kabul doa dengan rahmanNya dan biarkan waktu membuktikan bahwa dia juga ingin menjadi seorang ibu seperti engkau. Ibu tak pernah putus henti berdoa, ibu selalu tiap pagi menyisir rambut putrinya sebelum berangkat sekola lalu diikat dengan warna_warni pita. Sehingga begitu bertumpukkan bando dan bermacam ragam warna pita dimiliki.

Mengarahi ku pada jalan yang dicintai Allah dan setia menunggu dari perantauan. Teringat, pernah pada suatu ketika balik dari perantauan tanpa membawa apapun, terutama tidak membawa jinjingan yang berisi oleh-oleh seperti biasa dibawa ketika mudik. Ku akui salah, entah kenapa bisa tak membawa jinjingan. Sesampainya dirumah betapa hati sedih dan tersentil begitu dalam, terkhusus saat ponaan-ponaan imut menanya mana jajanan yang sering dibawa saat mudik. Padahal waktu itu ponaan-ponaan kritis, berlari-lari, memanggil dan memberi salim pada dia, tapi tak satupun mereka dapat kecuali pelukan hangat. Allahu Akbar… seketika itu jua, bola mata langsung dipenuhi genangan air mata bergelombang. Entah air mata apa namanya, mungkin ini nama air mata penyeselan dan air mata menyalahkan diri. Sejak peristiwa itu, berazam ketika mudik kekampung harus membawa jinjingan terutama membeli jajanan kesukaan  mereka dan Plus yang lain.

Tatkala usia semakin bertambah, semakin jauh kaki mengelilingi bumi Allah, bertambah kepahaman terhadap agama dan dunia. Semakin ku sadar dan paham bahwa sesungguhnya dibutuhkan adalah ridho dan doa engkau. Tanpa ridho dan doa engkau betapa susahnya ku menakluknya dunia. Tanpa ridho dan doa engkau sungguh rumit tak mendapat berkah ilmu dipelajari. Tanpa ridho dan doa engkau mana mungkin ku meraih surgaNya nanti. Tanpa ridho dan doa engkau tak mungkin sanggup bersemangat meraih mimpi yang terucap dalam doa ku. Tanpa ridho dan doa engkau tak mungkin tegar menghadapi warna-warni ujian yang membuat air mata deras menetes. Sepanjang waktu tetap butuh ridho dan doa mu karena masih banyak hal ingin dicapainya.

Oleh karena itu mak dan pak balut diri ku dengan doa mu disetiap waktu. Dengan itu semua akan mempermudahkan ku dalam menjalani kehidupan dalam rangka mengumpul pundi-pundi kebaikan dan pahala sebelum berjumpa dengan sang Rabbi yang maha cinta serta menghitungkan segala ucapan bahkan tindakan diperbuat. Allah terimakasih engkau masih panjang umur mereka sehingga ku masih mendapat balutan doa-doa mustajab mereka disetiap waktu. Kalian adalah harta begitu berharga bagi ia. Hingga kapanpun nama, senyum, nasehat, dan lemah lembut menambah energi tersendiri bagi ku untuk terus melangkah serta berangkat mengampai belum tercapai.

Semoga berjalan waktu, pergantian gelap menuju terang  penuh kilauan bisa terus memberi terbaik buat mereka dan tak berhenti mengabdi. Terutama doa terbaik buat mereka dikala dpertigaan malam. InsyaAllalh tiap doa, tilawah dan zikirnya selalu terselip nama  maka dan pak. Sebagaimana kata ustad berikan hal terbaik untuk orang tua. Berharap doa dilantunkan menambah point pahala bagi mak dan pak sebagai syarat menuju surgaNya karena memasuki surgaNya memerlukan banyak point-point kebaikan.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

%d bloggers like this: