Merangkul Bukan Memukul


rangkulan qoutes testiani

#TestianiPedia

Kata toleran/si adalah kata yang sedang hangat diperbincangan dijagat sosial media, kata itu bomming sejak agama islam dinistakan oleh oknum yang tak mampu menahan lisan dan tak pandai mengelola emosi. Sehingga ketidak mampuan itu, berakhir dipersidangan dengan episode cukup panjang. Melalui persidangan pula melahirkan beberapa kegaduhan baru antara yang pro dan kontra. Tidaknya sebatas pro kontra melainkan terbentuk kubu kotak-kota dan poros putih. Belum selesai kasus penistaaan agama episode pertama, lahir pula oknum penistaan agama melalui lelucon yang tak cerdas dan tak beretika. Bila episode pertama yang melakukan penistaan agama pelayan rakyat, maka sekarang adalah oknum artis. Tunggu saja bagaimana nasib sipenista agama baru apakah serupa seperti nasib sang pengdahulunya.

Dengan penistaan itu pula, lahir spirit 212 yang telah menggembar dunia dengan kekuataan yang tak pernah terpikir. Bahkan mampu mengumpulkan jutaan orang demi menyuarakan kebenaran serta izzah islam.

Tua, muda, dari pelosok desa hingga dari luar negeri tak mau tinggal serta ingin menghadir spirit 212, karena ada pesan ingin disampaikan kepada penguasa dan mereka yang telah menista atau berpotensi untuk menistakan agama islam. Jangan sampai islam jangan diperolok begitu saja dan jangan mengajari islam tentang toleransi. Toleransi bukan lah kata yang sangat asing bagi umat islam karena dalam surah Al-kafiruun secara jelas dan terang menerangkan “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. Bila dikaji kalimat tersebut hanya sebatas pada agama semata melainkan melingkup pada aspek lainnya.

Semakin tolerannya, sehingga ada ormas-ormas islam ketika ada peribadatan suatu agama lain begitu gagahnya menjaga gereja-gereja. Bisa jadi itu bukti ini menunjukkan bahwa islam adalah agama sangat toleran bukan agama radikal atau kata-kata keras lainnya yang distempelkan oleh musuh. Benar-benar tak layak kata radikal itu disatukan bahkan disandingkan dengan islam. Bila dicek satu persatu ayat-ayat al-quran tidak satupun ayat mengajari kekerasan. Melainkan mengajari cinta, kasih, menyanyangi, kelembutan dan berbagi sesuai dengan asma Allah.

Namun ada yang aneh baru-baru ini, secara kasat mata ada sebagian umat islam tidak toleran dengan sesama islam dan toleran hanya diperuntuk bagi yang berbeda agama. Salah satu contoh, seperti apa yang terjadi saat berlangsungnya pengajian akbar disuatu daerah di jawa timur terjadi penggusiran ustad. Membubarkan!! tak lain dan tak bukan umat islam yang berada pada ormas pernah menjaga gereja ketika natalan. Ini benar-benar ajaib. Kok bisa-bisa bersikap seperti itu. Sebenarnya kisah pengusiran ustad telah pada zaman nabi dan penolakan tertuangkan juga dalam al-quran. Coba cek surah al-baqarah ayat 170

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Lalu dipertegaskan kembali dalam surah Al-Maidah ayat 104 “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?”

Sesungguhnya apa yang disampaikan oleh ustad diaccount youtube pribada, menurungant beliau telah sesuai dengan al-quran dan sunnah yang mengikuti Rasul. Apa yang disampaikan de referensi yang jelas. Alasan utama kenapa harus dihentikan kajian akbar tersebut diantaranya berbeda mahzab semata dan konon apa yang disampaikan ustad selama ini gara-gara materi ceramah bertentangan dengan tradisi yang dilakukan oleh organisasi tersebut.

Seharusnya tidak terjadi begitu, apalagi sampai berteriak, mengancam, memungkul, mengusir supaya kajian tidak dilanjutkan. Padahal mengaji dan menuntut ilmu begitu ditekanan dalam islam. Dan mereka yang berkumpul untuk mendengar nasehat bukan sedangkan melakukan hal-hal dilarang agama.  Apa salahnya merangkul sesama umat islam bukan sebaliknya memungkul. Sementara berbeda keyakinan dirangkul dengan erat penuh cinta. Kenapa sama-sama bersyahdatan pada Rabbi yang sama tidak dikencangi ikatan rangkulan.  Jangan terulang kembali penolakan pada ustad-ustad gara-gara perbedaan mazhab. Dengan rangkulan abu-abu menjadi terang, melalui rangkulan berjarak menjadi ukhuwah yang kokoh, rangkulan menyelesaikan masalah bukan menambahkan beban, dan rangkulan bentuk nyatakan bahwa islam adalah rahmatan maupun rahman. Mari apapun permasalahan diselelaikan dengan rangkulan, lalu budayakan rangkulan dalam menyelesaikan masalah.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Bunda bekerja atau di Rumah


Bunda bekerja atau di RumahSeringkali wanita berumah tangga dihadapkan pada pilihan meneruskan karir atau menjadi ibu rumah tangga. Apapun pilihan yang diambil, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan harus dipertimbangkan pada Mommies dengan mendalam

Biasanya berupa alasan yang menyebabkan wanita memilih menjadi wanita karir, diantaranya adalah penghasilan suami yang belum memadai, sehingga merasa perlu bekerja agar keuangan keluarga bisa tercukupi. Atau karena berpendidikan tinggi, sehingga bekerja selain sebagai aktualisasi diri juga agar memiliki kebebesan jika ingin melakukan sesuatu beresiko pada terganggunya masalah finansial. Ingin bisa lebih memberi bagi orang tua, tanpa merepotkan suami, atau membelikan sesuatu bagi keponakan ora alasan seperti memberikan hadiah bagi diri sendiri

Bekerja sebagian perempuan juga bisa diartikan untuk menambah wawasan, menambah pengalaman, menarik juga karena nggak mau berhadapan dengan banyak manusia. Kesempatan untuk belajar terbuka lebar. Selain itu bekerja juga untuk memberi nilai tambah dimata keluarga. Dan tidak sedikit pula yang memilih menjadi wanita karir ketimbang ibu rumah tangga, lebih karena menghindari kejenuhan dan suasana rumah yang melulu itu-itu saja.

Di mata sebagian ibu rumah tangga, teman-tmean mereka sesame mommies yang berkerja dianggap lebih beruntung. Padahal ada tantangan berat bagi para ibu yang bekerja untuk bisa menambah kualitas hubungan dengan anak-anak dan suami, dalam pertumbuhan yang terbatas dan sering kali dengan sisa-sisa tenaga

Tapi alasan sebagian wanita yang memilih menjadi ibu rumah tangga pun tak kalah menariknya. Mereka memilih tinggal dirumah selain karena alasan ideologis, juga karena ingin meluangkan waktu sebaik mungkin dalam mengurus suami dan mengasuh anak-anak dengan kondisi tubuh dan pikiran tak terbagi.

Ada juga hal-hal yang berkebalikan dengan alasan wanita yang memilih berkarir atau bekerja. Seperti penghasilan suami yang sudah cukup memadai, sehingga bekerja diluar rumah adalah yang dirasa belum saatnya, dan malah sama sekali tidak perlu.

Atau bisa jadi pilihan menjadi ibu rumah tangga karena tidak suka diatur-atur oleh orang lain, atasan mislanya. Atau kemungkinan cekcok teman sekantor. Bisa juga karena suami tidak menginingkan bekerja. Atau mungkin karena alasan keseharant.

Namun intinya, menjadi ibu rumah tangga tidak perlu rasa rendah diri, apalagi hidup dengan perasaan iri hati kepada para ibu yang bekerja. Sebab hal yang tidak bisa dinilai dengan apapun adalah jika kita bisa memberi perhatian pada anak sehingga anak tumbuh dan berkembang dengan baik serta tujuan membentuk keluarga yang sakinah dapat tercapai.

Karir yang meleset dengan cepat, penghasilan besar dan kedudukan yang tinggi menjadi ukuran-ukuran yang bersifat artifisial jika kita gagal memberi pengaruh baik kepada anak atau keluarga. Tentang perasaa iri kepad ibu yang bekerja, jangan salah, tidak sedikit dari mereka yang justru sangat ingin menjadi ibu rumah tanga yang full time di rumah, sehingga bisa menemani anak-anak lebih sering.

Pun dengan perkembangan teknologi yang kian mau, jika tetap mau bekerja bahkan mengembang karir, atau mengaktualisasikan diri dan memberi kontribusi sosial, sebenarnya bisa dilakukan dari rumah. Dan semua itu dapat dilakukan tanpa mengorbankan anak dan kepentingan anggota keluarga lainnya. Buku-buku tentang bagaimana bekerja dari rumah, saat ini uga cukup banyak dipasaran. Barangkali bisa menjadi alternative bagi sesame ibu yang saat ini masih bekerja dan ingn suatu hari bisa membuka usaha di rumah, untuk mulai membuat langkah-langkah investasi/perencanaan ke arah sana.

Bagi ibu rumah tangga full time, beberapa hal yang bisa dilakukan agar menjadi ibu rumah tangga yang bahagia namun tetap cerdas adalah banyak membaca dan menyerap ilmu pengetahuan yang bersumber dari buku-buku. Atau memilih tontonan televise atau radio yang bermutu. Dengan begitu akan selalu berpikir kreatif dan bisa mengembangkan hobi-hobi baru yang inovatif, secara sendiri maupun bersama ibu-ibu lain yang tinggal dekat dengan kita.

Jangna lupa untuk selalu mensyukuri apa yang ada. Percaya bahwa Allah sudah memberi karunia terbaik, maka tugas kita untuk menjaga amanah sebaik-baiknya. Hindari membanding-bandingkan diri, anak-anak atau kondisi dan pekerjaan sumai dengan keluarga lain. Sebab yang baik dan bagus bagi orang lain belum tentu bagus dan cocok untuk diri kita.

Terakhir, bekerja atau full time di rumah, apapun jika dijalani dengan keikhlasan dan tetap dalam rambu-rambuNya semoga bernilai ibadah yang menjadi tambahan kebaikan bagi bekal kita saat menghadap-Nya…Allahuma Aamiin.

NOte: disadur dari buku Sakinah Bersama/Asma Nadia

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Didiklah Mereka Dengan Cinta


didiklah mereka dengan cintaSaat melihat berita pelantaraan anak oleh kedua orangtua, pembunahan seorang ayah pada empat anak, membuang bayi diselokan dan kekerasan fisik oleh orang tua. Seketika itu pula merasa hati tersayat-sayat, meskipun belum menjadi seorang ibu masih berstatus sebagai anak rasa tak tega melihat anak-anak diperlakukan seperti itu. Padahal anak adalah harta paling berharga, anak adalah berkah yang indah dari Allah, anak adalah generasi penerus yang akan mengharumkan nama kedua orang tuanya, anak adalah titipan ilahi yang harus diberi kenyamanan, kasih sayang dan ditanam nilai-nilai reiligius agar dalam perjalanan hidup si anak memahami makna hidup dan kemana akhir kehidupan yang sesungguhnya.

Apakah mereka-mereka sebagai orangtua yang memperlakukan anak mereka secara tidak manusiawi tak pernah berpikir bahwa begitu banyak pasang suami-istri menginginkan kehadiran anak bahkan hampir tiap hari dan tiap malam mengadahkan tangan pada Allah serta dengan ikhtiar medis agar dipercayai untuk mendidik seorang anak. Apakah meraka berbuat seperti itu karena takut tidak bisa mendidik anak dengan baik atau dipengaruhi faktor ekonomi?  Apakah saat orang tua melakukan kekarasan fisik tidak terpikir bagaimana capeknya seorang ibu mengandung, sakitnya melahirkan, ribetnya menyusui dan saat susahnya pertarungan antara sperma dengan induk telur untuk membuahkan cabang bayi.

Ketika orang tua sudah mendapat si buah hati itu bertanda Allah percaya orang tua mampu mendidik mereka, saat Allah tiupkan ruh didalam Rahim ibu saat itu pula Allah jaminkan rezki bagi anak-anak. Bayangkan saja burung-burung saja Allah jaminkan rezkinya apalagi manusia yang jelas-jelas setiap hari menyembut namaNya dan bersujud pada Allah tentu sangat dijaminkan rezkinya. Tinggal bagaimana manusiai menyikapi makna rezki.

Jika menyimpulkan dari pengamatan para pakar anak, psikolog dan psikiater bahwa faktor yang membuat orang tua melantarkan anak baik dari sisi financial, sisi fisik dan sisi kasih sayang yaitu disebabkan sisi psikologi orang tua yang tidak normal atau disebabkan trauma masa lalu dan mungkin ada faktor-faktor kedekatan dengan hal-hal dilarang oleh Allah. Misalnya ketika orang tua sudah mengkonsumsi narkoba, mabuk-mabukan dan faktor kehadiran orang ketiga pada akhirnya berdampak pada keluarga atau anak-anak.

Melihat fenomena tersebut, teringat dengan hadist bahwa siapapun hendak menikah hendaklah melihat hal berikut ini (1) keterunan, (2) akhlak/ agamanya, (3) fisiknya, dan (4) harta. Maka pilihlah calon istri atau calon suami yang memiliki akhlak  (agama) yang baik dibekali ilmu pengetahuan. Apalagi mendidik anak dizaman postmodern dibutuhkan ilmu pengetahuan yang luas karena anak-anak masa kini kritis, susah untuk dinasehati dan dipengaruhi banyak hal. Bilamana seorang ibu atau bapak minim ilmu pengetahuan bahkan agama akan mengalami depresi sendiri mengahdapi prilaku anak-anak karena tidak bisa mencari solusi-solusi dan akhirnya selalu menyalahkan si anak. Sehingga berdampak pada pelantara anak dan kehancuran rumah tangga.

Jika bagi laki-laki ingin memilih istri maka lihatlah sisi ke ibu-an, sisi agamanya, sisi kesabaran dan sisi ilmu pengetahuan. Bisa dibayangkan jika anak-anak diasuh atau disentuh oleh ibu yang penuh kelembutan, penuh keibuan, penuh kesabaran dan didukung dengan ilmu pengetahuan. Maka akan mengantar anak-anak yang bijaksana, anak-anak yang penuh cinta kasih sayang bukankah kasih sayang merupakan faktor utama yang dibutuhkan seorang anak. Kasih sayang pula akan membentuk karakter anak yang santun.

Bukankah anak-anak lebih banyak diasuh oleh ibu nya. Sikap dan kecerdasaan anak juga banyak diturunkan dari ibu nya. Dan kita bisa tumbuh seperti saat ini atas kelembutan, kasih sayang, pelukan ibu dan doa ibu. Maka beruntunglah kita yang di didik dengan unsur tersebut sehingga mengerakkan kita menjadi pribadi yang percaya diri, pribadi semangat dan pribadi takut dengan aturanNya. Mari kita sebagai anak membalas cinta mereka dengan selalu berdoa untuk mereka yang sudah ikhlas mendidik kita dengan cinta penuh warna-warni, selalu membuat mereka tersenyum dengan terus berprestasi untuk menghasilkan karya serta dihiasi akhlak baik sesuai dengan norma Ilah, dan terus menanya kabar mereka meskipun berjauhan dari orangtua.

Sedangkan perempuan ingin memilih bedamping hidup maka lihatlah agama, rasa tanggung jawab, karakter laki-laki (apakah bertipikal lembut, pemarah/tempramen dan sabar) kenapa sangat penting hal ini. Ini berpengaruh dengan pola asuh atau pola didik pada anak dan keluarga. Bisa dibayangkan jika calom imam memiliki karakater tempramen dan tidak memiliki rasa tanggung jawab maka setiap ada permasalahan selalu mengandalkan fisik bukan mendahulukan nalar.

Bagi calon ibu-ibu dan akan menikah pelajarilah ilmu-ilmu bagaimana mengrangkai keluarga yang diridho Allah, pelajari cara komunikasi suami istri, dekatkan diri pada sang khalik agar setiap permasalahan yang akan dihadapi dalam rumah tangga bisa diselaikan dengan ketenangan yang menjunjungi pola komunikasi yang terbuka.

Terakhir bagi calon ibu dan sudah menjadi ibu didiklah si buah hati dengan aturan ilah yang dikombinasikan dengan ilmu masa kini. Ingat kepercayaan Allah menitip kalian menjadi ibu dan bapak akan diminta pertanggung jawab di yaumil akhir. Untuk itu didiklah mereka dengan cinta, kasih sayang dan penuhi hak-hak mereka sesuai dengan Ajaran ilah. Perlu diingatkan ketika hendak memarahi atau menyakiti anak pikirkan bagaimana susahnya perjuangan kalian mengandung, melahirkan dan menyusuinya. Malah sudah besar seenak-enaknya kalian memperlakukan dengan tidak wajar. Semoga anak-anak yang didik dengan aturaNya dan cinta mengantar orang tua pada surge firdaus. Allahuma Aamiin.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Kekuataan Cinta Seorang Wanita


Kekuataan cinta wanitaPagi sebelum berangkat kekampus untuk sharing ilmu maupun pengalaman sama mahasiswa coba mendengar diskusi hangat disalah satu televisi swasta tepatnya acara reality show “Curahan Hati Perempuan”. Reality show tersebut merupakan acara baru karena baru sekitar satu bulan tayang tetapi banyak hikma, banyak ilmu pengetahuan baru diperoleh terutama bagi penulis. Jadi tahu apa saja menjadi faktor utama kerusakan rumah tangga. Jika disimpulkan secara sederhana kenapa terjadi cekcok dalam rumahtangga adalah hadirnya orang ketiga (perselingkuhan) apalagi di era teknologi perselingkuhan sangat mudah terjadi bahkan menurut penelitian dari barat bahwa 22% perselingkungan dari pihak pria sedangkan dampak kecil dari perselingkuhan terjadinya pusing kepala.

Apapun alasannya perselingkungan tidak pernah membawa aura positif yang ada menjadi masalah semakin bermasalah. Teringat dengan seminar yang pernah diikuti tentang pernikah bahwa perselingkuhan dan perubahan suami tidak berubah begitu saja. Maka seorang istri harus secara terus menerus untuk taruf dengan suami karena sifat, perilaku dan keinginan suami yang berubah setiap saat. Untuk itu istri harus mengikuti perubahan suami jika suami berpendidikan maka istri harus ikuti langkah untuk mencintai pendidikan dengan tujuan untuk mengimbangi.

Lalu faktor selanjutnya adalah keributan dari rumah tangga yaitu masalah ekonomi, masalah komunikasi tidak lancar maka menurut para pakar komunikasi bahwa komunikasi menjadi unsur penting terjadi keharmonisasi rumah tangga, pernikahan tidak direstui karena terjadinya eksiden diawal (hamil luar nikah/pemerkosaan) atau bisa jadi disebabkan ketidak setaraan profesi, kesataraan pendidikan, kesataraan jabatan, kesataraan latarbelakang keluarga dan kekerasan (KDR). Maka dalam islam sudah dijelaskan secara jelas dan detail bagaimana indicator-indakotor pasang istri atau suami yang patut dijadikan sebagai pasangan hidup. Sayangkan varibel tersebut jarang digunakan sebagai landasan utama untuk menikah. Mungkin dampak dari arus libralisasi dalam tatanan masyarakat sehingga aspek agama maupun akhlak dikesampingkan.

Apapun namanya faktor permasalah keluarga tetap yang dirugikan adalah perempuan seperti contoh nyata yang diceritakan di realty show “curahan hati perempuan”. Dari sekian banyak beban, kesedihan dan rasa sakit yang dialami perempuan ada sebuah hal yang sangat menarik untuk dibahas dari sisi perempuan yang mana ketika dizholomi oleh pasangannya tetap bertahan serta menjaga keutuhan rumah tangganya. Ini lah dinamakan kekuataan cinta seorang perempuan, meskipun kerap diperlakukan tidak cantik, dihargai, disayangi, dicanti dan dihianti.

Apa yang membuat kekuataan cinta seorang wanita itu begitu dahsyat!!! Teringat dengan janji suci yang diucapakan dihadapan Allah ingin menjadi istri selalu mendampingi hingga akhir hayat, selanjutnya dikarenakan mikir anak-anaknya yang tidak ingin anaknya tak mempunyai seorang ayah sehingga selalu mempertahan cintanya pada pasangan ini merupakan faktor utama yang membuat wanita menjadi tegar, lalu bentuk bakti pada suami sehinga selalu menjaga egonya jangan sampai terjadi perceraian karena perceraian bukan solusi yang terbaik. Apalagi dalam agama islam Allah sangat benci dengan perceraian meskipun islam tidak melarang. Seterusnya kesabaran wanita karena wanita begitu paham bahwa kesabaran yang membuahkan keteduhan dan Allah mencintai hamba-hambanya yang sabar serta keteguhan wanita yang tidak mau menebar aib suaminya kecuali mencerita pada Allah ketika sujud padaNya. Itu sekian faktor yang membuat wanita memiliki kekuataan cinta begitu dahsyat. Tentu untuk mendapat itu semua didasari atas rasa kekuataan cinta, keimanan, ketaqwaan dan keilmuan yang mumpuni.

Bagi wanita sedang mengalami krasak-krusuk, gejolak, hadirnya orang ketiga, permasalahan anak dan gonjang-ganjing financial. Tetaplah bersabar teruslah jalin komunikasi untuk mencari solusi, bukan setiap ikhtiar akan mendapat pencarahan, jangan lupa berdoa pada pemilik hati manusia untuk menceritakan permasalahan hidup karena Dia yang setia mendengar keluh kesah hambaNya. Yakinlah ketika wanita bersabar dan selalu dengan Ilah maka Allah akan turunkan Rahmah yang tempat pernah dikirakan seperti cerita seorang istri direality show “curahan hati perempuan” pada edisi selasa, 28 April 2015 akhirnya ibu tersebut mendapat kebahagian begitu syahdu setelah bertahun-tahun sabar dengan sikap suami nya tidak pernah menampaki cinta.

Subhanallah ketika wanita sudah mencintai maka saat itulah iya melebarkan sayap untuk mencintai dengan seutuhnya, cinta yang didasari atas kekuataan untuk meraih pahala dan cinta yang pula yang membentuk wanita untuk menjadi pribadi yang selalu melahirkan energi cinta agar keluarganya bisa merasa getar-getaran cinta yang mampu memotivasi suami dan serta anak-anaknya menjadi pribadi sukses, pribadi taqwa bahkan pribadi penuh percaya diri. Wanita bisa menjadi angin untuk menyejuki, bisa menjadi api untuk memanasi, bisa menjadi bunga agar hidup mempesona, bisa menjadi duri menusuk hati, bisa menjadi batang untuk menompang, bisa menjadi akar untuk mengokohkan dan bisa menjadi pelanggi untuk mewarnai. Bilamana dunia tanpa kehadiran wanita maka bisa rasakan bagaimana sunyi dunia karena wanita ibarat bintang yang selalu indah untuk dipadang dan memberi pesona yang tak bisa terkatakan terutama bagi laki-laki sudah merasa kekuataan cinta dari seorang wanita.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Mengajari Dan Dekat Dengan Meraka Memberi Kebahagian Tersendiri


Bismillah…

Mengajari Dan Dekat Dengan Meraka Memberi Kebahagian Tersendiri

Mengajari Dan Dekat Dengan Meraka Memberi Kebahagian Tersendiri

Dipagi hari berbagi ilmu pada mahasiswa, menyapa pendengar dan setelah magrib punya amanah sangat mulia bagi ia yaitu mengajari anak-anak perumahan mengaji dengan berbagai usia. Awal mula berniat untuk mengajari mengaji karena pernah menemui anak perumahan pulang dari mengaji jauh banget. Saat itu terbesit untuk mengajari mereka ngaji secara waktu itu juga baru berdomisili diperumahan yang dihuni sekarang.

Masih sebatas ingin saja tapi tidak pernah terbesit mengatakan pada mereka. Tiba-tiba orang tua dari anak didik main kerumah disore hari dengan segerombolan anak perumahan. Kirain sebatas mau main-main saja, ternyata ada maksud dan tujuan mereka main kerumah.

Sekitar 30menit berbincang-bincang, melontarkan niat untuk mengaji di rumah. Subhanallah bebarapa hari sebelumnya pernah terpesit untuk mengajari mereka dan sekarang mereka sendiri mengusulkan diri untuk mengaji di rumah…”Gayung pun bersambut”. Dengan senang hati mengatakan siap untuk berbagi ilmu hijaiyah, doa dan cara-cara sholat pada anak-anak perumahan. Sebaik-baiknya ilmu dipelajari dan diajari adalah mengajari membaca Al-quran.

Mengajari Dan Dekat Dengan Meraka Memberi Kebahagian Tersendiri

Mengajari Dan Dekat Dengan Meraka Memberi Kebahagian Tersendiri

Hampir satu tahun meraka mengaji dirumah, berjalannya waktu semakin bertambah yang mengaji, awalnya Cuma 5orang sekarang sudah 9 orang, banyak perubahan yang mula masih terbata-bata mengaji sekarang sudah lancar, tinggal membenarkan makroh huruf, dan berharap anak-anak perumahan lain tertarik untuk ikut bergabung.

Secara tidak langsung ada kedekatan dengan mereka atau dengan keluarga, terlihat setiap ada kegiatan dirumah mereka selalu kebagian hohoo, terkadang pulang dari mana selalu mereka teriak-teriak memanggil, dan terkadang mereka cerita-cerita lucu yang dialami saat mengaji maupun sedang main-main depan rumah. Setiap ketemu mereka selalu tertawa, walaupun terkadang ketika mengaji ributnya minta ampun, tetap memandang mereka penuh senyum dan mungkin jiwa ia penuh dengan naluri keibuan. Sehinga tidak pernah terlontar perkataan dan wajah cembrut.

Ketika menyimak mereka mengaji, melihat mereka berlari-lari pulang dan terkadang tindakan mereka mengenang kembali masa lalu yaitu waktu belajar mengenal huruf hijaiyah dengan abang-abang. Mendengar meraka mengaji ibarat mendengar irama penuh cinta, menuntun mereka membaca huruf hijaiyah dari iqro satu hingga al-quran terbawa rasa jauh kemasa depan dan seakan-akan sedang mengajari anak sendiri. Ya Rabb jika suatu nanti berharap bisa mengajari anak sholeha yang terlahir dari rahim ia, mencerita pada mereka tentang kisah Rasullah, mengajari membaca doa, mengajari sholat, dan mendengar mereka cerita tentang segala rasa….”wadduuhhh jiwa keibuan begitu kentara dalam naluri ini”.

Nikmat, maknyus, gergertan, senang dan confidancy bisa mengajari dan mengenal mereka semua. Semoga apa diajari menambah amal ibadah. Kehadiran mereka dirumah menambah kehangatan sendiri setelah seharian diluar rumah. Kelelahan terhapus dan terhibur dengan wajah-wajah penuh cinta tanpa dosa…”ilovechildren”. Terkadang ada masa semua mereka kompak tidak mau mengaji melainkan ingin kejar-kejaran disekitar halaman rumah dan terkadang membiarkan mereka seperti itu sebab anak kecil tidak bisa dipaksakan. Mungkin itu penyebab mereka nyaman mengaji dirumah karena tidak pernah memarahi dan memaksa.

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Tuhan, izinkan ia untuk menjaga pintu surga itu


Bismillah…

Tuhan, izinkan ia untuk menjaga pintu surga itu

Tuhan, izinkan ia untuk menjaga pintu surga itu

Suara aya tetangga sudah berkokok, itu pertanda sudah dikeheningan malam. Teramat sering mendengar suara merdunya ayam tetangga yang memiliki ternak ayam lumayan banyak disekitar rumahnya. Ketika ayam berkokok selalu sekitar 00.15-03.30 wib dan terkadang sekali-kali berkokok diwaktu yang lain yaitu subuh.

Setiap ayam tetangg berkokok selalu terbangun secara jarak rumah ia dengan tetangga hanya beberapa langkah. Terkadang suara ayam tentangga menjadi alaram untuk sholat tahajud maupun sholat shubuh. Apalagi ditengah kota sangat jarang menemui atau mendengar suara ayam berkokok yang ada suara pabrik, saura lalung mobil, dan suara tetangga ronda.

Keheningan malam sering teringat kampuh nan jauh dimata karena untuk menemui kampung harus menempuh berjalan 12 jam, melawati pergunungan yang berliku-liku dan hiasi dengan pemandangan indah penuh keterpukauan. Dikampung sana awal melihat awan biru penuh keajaiban, dikampung sana mengantar ia menjadi wanita sholeha…”insyallah”. Disana ia mendengar azan berkumendang setiap saat, disana pernah ia mengenal kekuasaan Allah dari alam, bencana dan manusia.

Ketika teringat tentu ada subjek yang dikangeni!!! Siapa lagi kalau bukan kangen dengan “bunda” untuk saat ini orang yang pantas dikangeni, orang yang pantas ditanyain kabarnya, orang yang pantas untuk didoain setiap sujud, orang yang pantas dapat perhatian dan orang pantas dibalas cintanya. Karena bunda telah mencintai ia tanpa syarat maupun alasan, ia telah sabar bahkan ikhlas mengajari segala isi bumi, telah menemani ia setiap nuansa kehidupan, ia telah memenuhi keinginan, dan ia telah mendidik ia tentang agama.

Rabbi…Berikanlah kesehatan pada ia untuk menjaga pintu surge itu. Ia sangat tahu dan paham bahwa surge bisa dimasuki dari pintu mana saja. Tapi izinkan ia untuk memasuki pintu surge dari memuliakan bunda. Sesungguhnya bunda adalah pintu surge terdekat bisa ia jalani dengan sungguh-sungguh.

Rabbi…limpahkan rizki yang berkah pada ia, agar bisa membalas kebaikan seorang bunda tak berhitung untuk memberi. Ia tahu, walaupun bunda tak butuh kasih maupun hadiah dari ia. Tapi izinkan ia untuk membahagia bunda dengan memberi hadiah terbaik dan halal teruntuk bunda…”limpahkan rezki hamba dan agar bisa membahagiakan orang yang mencintai ia”.

Rabbi…entah betapa sering emosional, psikomotorik and attitude mengecewakan atau menyakiti bunda. Izin hamba untuk menjaga pintu surag dengan ketulusan dan kekuataan walaupun akan terhembas oleh gelombang maupun cacian. Untuk itu panjangkan umur bunda sampai hamba benar-benar telah puas membahagian mereka.

Rabbi… jaga niat baik ini, untuk selalu menjaga pintu surge itu melalui doa, melalui perhatian, melalui sujud dan melalui financial. Ketika ia bisa menjaga pintu surge itu insyallah keberkahaan dan akan mendapat kunci surgaMu.

Rabbi…aku rindu bunda yang selalu mendoakan ia. Rindu senyum mu penuh motivasi maupun kekuataan untuk berjuangan serta berkompetitif dalam rangka meraih wanita sholeha dan cerdas. Rindu cerita bunda tentang menpaparkan tentang kekuataan dan ketegaran seorang wanita dalam membangun rumah tangga.

Selagi jiwa ini bernafas, akan selalu berusaha menjaga pintu surge yang dijamin masuk surge oleh pemilik surge. Selagi bumi berputar tak pernah berhenti memohon pada Engkau agar diriMu jadi ia jiwa-jiwa penuh cinta pada bunda

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Cerita cinta Murabbi


Bismillah…

Cerita cinta Murabbi

Cerita cinta Murabbi

Alhamdulillah akhirnya bisa kembali berada dalam lingkaran ilmu, lingkaran ukhuwah, lingkaran canda, lingkaran mengingat tentang waktu, lingkaran akan membawa kesurgaNya, Insyallah.

Sebenarnya ini pertemuan kedua setalah satu bulan setenggah kegiataan liqo di-off-kan. Ada alasan kuat kenapa kegiataan pekaan ini diberhenti sesaat karena menyambut bulan puasa tentu anggota liqo pada pulang kampung masing-masing,  kecuali alhanin dan sesuai kesepakatan bersama acara dilanjuti setelah lebaran. Walaupun kami tak bersua dalam lingkaran cinta tetap harus mengupgrade kedekatan pada Allah maka di beri tugas masing-masing. “itu tidak menjadi masalah dan itu semua cara Murabbi mengajari kami agar tetap selalu di jalan cintaNya”.

Apa hendak dikata hanya bisa hadir dipertemuan kedua. Padahal sudah siap untuk berangkat kemenuju tempat yang Insyallah akan dijaga malaikat dan digolongkan sebagai tempat sangat indah bahkan menenangkan hati jika telah berada diruangan tersebut…”it’s oke”. Tiba-tiba dapat SMS harus hadir disuatu tempat..!!! (Maklum orang sibuk gitu lohhhh, cakyo nian).

Akhirnya ketemu lagi dengan wajah-wajah perindu surga, melihat senyum meraka penuh kemesreaan walaupun hari-hari dilalui penuh rutinitas dan amanah karena kita semua adalah berstatus karyawan. Bisa lagi mendengar tilawah meraka melalui hafalan ayat, bisa mendengar rencana hidup meraka yang penuh harapan dan keyakinan pada Allah serta peduli bagaimana hebat hembasan yang menghampiri meraka untuk mewujudkan harapan mereka, harapan keluarga dan harapan umat.

Di antara kita ada yang akan melenggangkan kaki menuju anggota dewan, ada yang akan melanjuti studi Pascasarjana, ada sedang menggarap tulisan, ada yang sedang baru merubah status menjadi bidadari bagi pangerannya, ada yang sedang berusaha membangun rumah sendiri walaupun masih berstatus single, dan ada yang masih bingung untuk kemana…”inilah kisah indah yang akan dibangun” dan beruntung bisa berada dalam lingkaran nan manis itu.

Setiap selesai kegiatan pekanan selalu energy baru yang menusuk jiwa untuk tak gampang menyerah dengan hidup, tak begitu mudah rapuh dengan ujian Allah sisipkan selama nafas berhempus, tetap berada dalam suasana rahmatan lil’amin sehingga menjadi wanita sholeha dan intelektualitas. Tujuan itu semua tampak jelas menjadi akhwat pantas untuk dipilih dan disayangi…!!!

semua harapan itu sangat wajar karena setiap manusia harus memiliki harapan. Terpenting tetap saling mendukung, tetap saling mendoakan, tetap saling mengingat jika mulai loyoo dan lupa dengan mimpi. “Indah bukan seindah senyum menetap mentari pagi dipantai”.

Tumben kali ini duluan datang, biasanya selalu telat dan sesampai ditempat liqo sudah disepekati. Ternyata belum satu ukhti-ukhti yang datang, disana sudah dipenuhi para jamaah mesjid, ada beberapa yang lalu lalang sebatas untuk istirahat, ada pula komunitas berkerudung panjang di mesjid tempat kami akan melaksanakan kegiatan pekanaan. Dari sekian banyak orang disana ada beberapa wajah dikenal, ada tersenyum, ada menanya kabar dan ada pula wajah cuek walaupun saling kenal…”ekspresi wajah diamati ketika sedang menanti”.

 Rasanya ada yang aneh dengan perasaan sebab hampir seperempat jam berada disana, satupun teman yang datang, jangan-jangan kegiatan pekanaan dibatalkan secara sepihak oleh murabbi, atau jangan-jangan tempat dipindahkan. Hampir saja untuk menghubungi teman tapi meraka sudah berada dipekarangan mesjid diserta dengan senyum begitu anggun…”Emang beda senyum dibangun diatas pondasi doa kasih sayang, setiap pertemua selalu diawali dengan nama Allah serta senyum penuh gejora”

Alhamdulillah semua akhwat tangguh sudah berada dilingkaran ukhuwah, tinggal menunggu murabbi, tentu saja pertanya dalam hati dan memutar kepala keluartapi masih belum tampak wajah tenang sang murabbi. Ada apa dengan murabbi!!!

Masih tetap bertanya dengan hati kecil ku walaupun kegiataan pekanaan sudah dimulai dengan taujih begitu meninspirasi.

Subhanallah setelah setoran hafalan wajah cantik murabbi datang juga dengan gamis cantiknya dipandu dengan kerudung Ungu semakin terlihat aura cantik murabbi. Meskipun usianya sudah tak mudah lagi, secara sudah memiliki empat anak, ditambah lagi amanah yang diemban begitu berat dan sedang menyelesai pascasarjana juga. Membayangkan mungkin suatu saat nanti bisa menjalankan kegiatan seperti dilakoni murabbi setiap hari.

Wajah lelah terlihat jelas ketika murabbi menyalami kami-kami. Cukup lama melirik wajah  pucat terlukis diwajah murabbi, cukup lama untuk memahami gesture ditampilkan dan cukup lama mendengar cerita murabbi kenapa telat dalam kegiatan pekanaan.

Geleng-geleng kepala mendengar cerita murabbi yang penuh cinta, penuh amanah, penuh keikhlas dan penuh kesabaran. Sesekali-laki melembarkan saran untuk membantu terutama bagian menggarap thesis, begitupun dengan teman lain juga ingin ikut membantu.

Dari sekian banyak cerita dibahaskan, dari sekian banyak ragam masalah sedang dihadapi, dari sekian banyak harus diselesaikan segera dan dari sekian banyak perhatian harus diperhatikan.

Ternyata tak gampang menjadi istri sholeha, tak gampang menjadi ibu, tak gampang menjadi bagian masyarakat yang didikasi untuk ilmu dan tak gampang menjadi orang yang amanah. Ketika murabbi bercerita suka duka dalam menjalankan peran sebagai istri…”Berharap bisa menjalankan amanah penuh cinta dan disandari pada Ilah”. “Antara ingin dan ngeri”. Meskipun terasa berat untuk memikirkan, mau tak mau harus dijalani, insyallah waktulah akan mengsanggupkan menjalankan amanah penuh pahala tersebut.

Lansung teringat dengan bunda dikampung sana yang mendidik dengan cinta, mendidik dengan kesabaran, mendidik penuh doa, mendidik penuh motivasi, dan mendidik penuh pengorbanaan. Jujur menjadi seorang ibu, seorang istri, dan seorang pendidik tak semudah dilihat…”kita tahu itu semua”. Rabbi jadi semua apa yang meraka lakukan mendidik untuk kami menjadi pahala dan dipertemukan dengan diriMu dengan mendapat tiket langsung kesurga…”ini bukanlah berlebihan tapi suatu kepantasan”

Kuhentikan napas sesaat, saat memikir cerita cinta dari murabbi.

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

%d bloggers like this: