Jalan Rabbi Tetap Dirindukan

Bismillah….

Sehari setelah putaran kedua PILKADA DKI, diruang dosen penuh dengan diskusi dunia politik.  Bukan saja diruang dosen bahkan dunia sosial media dipenuhi pembicaraan atau tagar pilkada. Hingga saat ini masih dibahas aroma pilkada misalnya tagar move on atau gagal move on hihihihi^__^. Semua dosen yang ada dimeja petak ingin ikut berbicara dan ingin ikut mendengar. Seolah-olah sudah menjadi pengamatan politik. Tak jauh berbeda dengan analisis yang dipaparkan oleh pengamat politik dan konsultan politik, memenangkan nomor tiga. Dari jauh atau sekitar 10 langkah dari meja diskus mendengar secara sayup-sayup karena semari membimbing mahasiswa konsultasi final skripsinya. Setelah selesai langsung beranjak kemeja bundar yang berwarna biru. Secara, juga tak ingin tertinggal dari kehangatan diskusi. Semoga saja melalui diskusi mendapat hikmah |ciiiileeeeee gaya sangat hohoho|. Di meja bundar ada sekitar 7 Dosen begtu serius dan fokus membahas hasil putaran kedua. Bahkan semakin hangat. Dimeja petak atau bundar itu sering terjadi diskusi hangat dengan berbagai tema dan sudut pandang. Tak jarang pula dari meja petak itu terilham dan terinspirasi untuk melakukan sesuatu…|Heemmmm belagu huhuuuuu|

Namun dari diskusi sekitar satu jam lebih itu, ada point menarik dan ending dari diskusi sesunggahnya sudah tertuang dalam quote singkat dan terpublish di instragram Anim, sebelum terjadi diskusi. Awal mula membahas Pilkada putaran kedua tapi ujung-ujung membahas tentang toko nasional yang moderat atau aliran libral yang kembali kepada jalan kebenaran yaitu jalan islam sesuai Alquran&hadist. Jalan menuntunkan untuk menjalankan sunnah-sunnahNya. Bahkan sudah banyak contoh bagaimana heroiknya mereka yang menantang jalan Allah kembali mengakui kebenaranNya. Awalnya begitu nyinyir dan begitu antusias menabur isme-isme. Namun akhirnya tetap sadar bahwa isme yang dibanggakan selama ini hanya eutopia.

Pada hakikatnya perjalanan adalah salah satu cara untuk mentadaburi dan mencari makna hidup. Dari makna hidup akan bersua konsep “dari mana dan hendak kemana”. Dalam perjalanan bermacam diketemui dan dialami. Ada kala perjalan menanjak, menurun, berkelok dan lurus. Beragam perjalanan tersebut, membutuh rem dan gas.  Rem digunakan untuk menghentikan hal-hal tidak baik atau berunsur kehajatan serta kemaksiat. Jika tidak direm bisa bermuara pada keburukan dan kehinaan. Sementara gas digunakan untuk terus melaju melakukan kebaikan dan meraih kebenaran. bila bersua dengan kebenaran dan kebaikan maka gas sekuat mungkin. Agar bisa bersua dengan nama hidayah yang berbuah pahala bernilai keberkahaan. Kedua hal itu harus dimiliki seorang petualang untuk berjalan dan berjalan. Namun sejauh apapun perjalanan dilalui dan apapun namanya perjalan dijalankan. Tetap manusia itu dan pada dasarnya rindu dengan jalan ilahi. sebagaimana contoh nyata dan fakta disekitar Anim atau melalui bacaan. Bahwasanya sejauh-jauhnya perjalan dilalui tetap jalan Rabbi dirindukan. Kenapa!Kenapa!Kenapa!

Karena, jalan ilahiah itu umpama rindu dengan kampung, karena sejauh kita mengeliling berbagai kota tetap desa tempat dilahirkan dirindukan. Kemudian jalan iliah adalah jalan membawa kedamaian, keberkahaan dan jalan menjanjikan keselamatan dunia ataupun akhirat. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Al-Hikam bahwasanya ruh/batin manusia hanya bisa diberi nutrisi dengan kedekatan dengan Allah. Tidak bisa dipenuhi dengan harta, jabatan, apalagi dengan kekuasaan. Hal itu hanya bisa memenuhi kebutuhan fisik semata. Padahal fisik tanpa ruh hanyalah bangkai tanpa bernilai. Dengan adanya ruh dalam diri manusia menjadi manusia paripurna. Makanya ruh itu dari Allah maka akan kembali kepadaNya jua. Jadi itu lah alasan kenapa kita harus kembali pada jalan ditetapkan Allah demi memenuhi nutrisi ruh. Sebab ruh tanpa nutrisi dunia terasa sempit, hamba dan gelisah. Dan bentuk syukur serta sadar bahwa perjalan sesungguhnya jalan menujuNya.  Bagi kita belum kembali pada jalanNya, ayo bergegas dan berlari kembali pada jalan penuh tuntutan. Mumpung masih ada kesempatan untuk kembali pada jalan kebenaran.

Menabur Cinta Dan Kebaikan Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements
%d bloggers like this: