Temaram Senja Menyentuh Relung Jiwa

Teringat dimasa kecil dan dikampung bilamana senja telah datang terlihat kelalawar berbaris dari timur menuju barat. Selalu takjub melihat barisan kelalawar menuju barat dengan kekompakkannya. Namun nuansa begitu, tidak pernah disuakan lagi. Rindu dengan suasana senja masa kecil.  Apalagi ditengah kota begini dipastikan tak akan berjumpa  seperti itu.

Senja dikota hanya menjumpai orang-orang sibuk mengejar kenikmatan dunia yang tiada akhirnya dan terkadang azan magrib pun sering tak terdengar ditengah kota. Itu lah salah satu ciri-ciri kota. Jujur lebih menyukai senja dikampung halaman, disana bisa melihat kebesaran Allah dari langit senja penuh dengan ketakjuban dan melalui langit senja pula sering berpikiran tentang masa depan.

Hati kecil sangat mendorong untuk duduk didepan rumah semari menikmati senja. Sesaat kemudian sudah berada diatas teras dengan porselin putih-putih berbentuk kotak,  berdiri tegak menghadap kearah tenggelamnya matahari, sementara dihadapan ku ada tiga batang pohon pinang cukup tinggi, diluar pagar lalu lalang motor melewati, sedangkan langit-langit senja telah dihiasi warna kuning keemasan, warna langit sudah mulai berbeda dengan warna langit disiang hari dan ini bertanda pergantian waktu akan terjadi.

Akan tetapi, belum juga tanda-tanda penggeras suara yang mengeluarkan murottal dan azan dari mushalla. Semestinya jam segini sudah selayaknya terdengar suara ngaji. Kendatipun belum terdengar tetap menunggu, sekalian menatap keindahan langit senja dan senja menjelma menjadi irama pembuka pintu hati untuk terus bertasbih kepada sang maha kuasa hingga cahaya pagi. Sebagai insan memiliki jiwa romansa dan melankolis begitu terasa bahwa senja ini adalah seni menyodorkan ketenangan serta memunculkan gagasan.

Mulai terbuai dengan langit dan aura senja yang temeram. Seolah-olah hati kecil ditarik untuk menikmati senja dengan meminjamkan mata, merasakan ada sesuatu menyentuh jiwa, teringgap pula rasa sunyi, dan ada pula rasa berbeda hadir dalam relung-relung empusan nafas, tak tahu apalah makna dari rasa tersebut. Bahkan menyusup dalam tulang sum-sum. Semakin dipejam mata, semakin terasa aura senja membawa jiwa pada tempat yang berbeda untuk menghilangkan kegundahan. Tak jarang pula tersenyum memandang senja karena beranggapan bahwa sesorang yang masih dirahasiakan Allah  juga sedang terpaku menatap syahdunya senja.

Menikmati senja terkadang sebagai alternative menghilangkan penat dunia sering menyesakkan raga. Bahkan dibawah langit senja berbicara dengan Allah secara berbisik-bisik, agar setiap harapan-harapan terangkai dalam curahan bait-bait doa diperkenaankan dengan berkaah dan muhhabah.

Manakala sedang menghanyutkan seluruh raga terdengar suara azan membalut dunia. Walaupun suara tak begitu jelas terdengar, tiba-tiba lantunan syahdu menyeruak relung jiwa. Allahu Akbar…betapa maha besar Engkau Rabbi. Betapa indah suara kemenangan ini sehingga seketika mendadak membelah dan melilit hati, ini mengambarkan betapa dahsyatnya energi azan sedang beradu dengan suara hembusan angin. Saat itu juga, tanpa terasa teringat dengan suadara laki-laki “brothers” semasa remajanya sudah rajin mengumandang azan dimesjid kampung.

Bibir pelan-pelan mulai mengikuti suara azan dikumandang oleh mua’azzim. Ya Tuhan ku, jadikan hamba mu selalu mendengar panggilan Mu. Akui lantunan azan mampu mengikis kesombongan dan menghadirkan kesyahduan bagi para pencari Tuhan. Tidak jarang suara azan mampu menghantarkan hidayah bagi orang-orang mencintai kebenaran. Sejujurnya hidayah mudah diperoleh bilamana sungguh-sungguh membuka hati mencari kebenaran. Lusa dan seterusnya tetap betah menunggu keindahan senja dari Engkau Rabbi. Entah kenapa menaruh perhatian lebih dengan senja yang dihiasi lafaz-lafaz azan.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: