Merangkul Bukan Memukul

rangkulan qoutes testiani

#TestianiPedia

Kata toleran/si adalah kata yang sedang hangat diperbincangan dijagat sosial media, kata itu bomming sejak agama islam dinistakan oleh oknum yang tak mampu menahan lisan dan tak pandai mengelola emosi. Sehingga ketidak mampuan itu, berakhir dipersidangan dengan episode cukup panjang. Melalui persidangan pula melahirkan beberapa kegaduhan baru antara yang pro dan kontra. Tidaknya sebatas pro kontra melainkan terbentuk kubu kotak-kota dan poros putih. Belum selesai kasus penistaaan agama episode pertama, lahir pula oknum penistaan agama melalui lelucon yang tak cerdas dan tak beretika. Bila episode pertama yang melakukan penistaan agama pelayan rakyat, maka sekarang adalah oknum artis. Tunggu saja bagaimana nasib sipenista agama baru apakah serupa seperti nasib sang pengdahulunya.

Dengan penistaan itu pula, lahir spirit 212 yang telah menggembar dunia dengan kekuataan yang tak pernah terpikir. Bahkan mampu mengumpulkan jutaan orang demi menyuarakan kebenaran serta izzah islam.

Tua, muda, dari pelosok desa hingga dari luar negeri tak mau tinggal serta ingin menghadir spirit 212, karena ada pesan ingin disampaikan kepada penguasa dan mereka yang telah menista atau berpotensi untuk menistakan agama islam. Jangan sampai islam jangan diperolok begitu saja dan jangan mengajari islam tentang toleransi. Toleransi bukan lah kata yang sangat asing bagi umat islam karena dalam surah Al-kafiruun secara jelas dan terang menerangkan “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. Bila dikaji kalimat tersebut hanya sebatas pada agama semata melainkan melingkup pada aspek lainnya.

Semakin tolerannya, sehingga ada ormas-ormas islam ketika ada peribadatan suatu agama lain begitu gagahnya menjaga gereja-gereja. Bisa jadi itu bukti ini menunjukkan bahwa islam adalah agama sangat toleran bukan agama radikal atau kata-kata keras lainnya yang distempelkan oleh musuh. Benar-benar tak layak kata radikal itu disatukan bahkan disandingkan dengan islam. Bila dicek satu persatu ayat-ayat al-quran tidak satupun ayat mengajari kekerasan. Melainkan mengajari cinta, kasih, menyanyangi, kelembutan dan berbagi sesuai dengan asma Allah.

Namun ada yang aneh baru-baru ini, secara kasat mata ada sebagian umat islam tidak toleran dengan sesama islam dan toleran hanya diperuntuk bagi yang berbeda agama. Salah satu contoh, seperti apa yang terjadi saat berlangsungnya pengajian akbar disuatu daerah di jawa timur terjadi penggusiran ustad. Membubarkan!! tak lain dan tak bukan umat islam yang berada pada ormas pernah menjaga gereja ketika natalan. Ini benar-benar ajaib. Kok bisa-bisa bersikap seperti itu. Sebenarnya kisah pengusiran ustad telah pada zaman nabi dan penolakan tertuangkan juga dalam al-quran. Coba cek surah al-baqarah ayat 170

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Lalu dipertegaskan kembali dalam surah Al-Maidah ayat 104 “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?”

Sesungguhnya apa yang disampaikan oleh ustad diaccount youtube pribada, menurungant beliau telah sesuai dengan al-quran dan sunnah yang mengikuti Rasul. Apa yang disampaikan de referensi yang jelas. Alasan utama kenapa harus dihentikan kajian akbar tersebut diantaranya berbeda mahzab semata dan konon apa yang disampaikan ustad selama ini gara-gara materi ceramah bertentangan dengan tradisi yang dilakukan oleh organisasi tersebut.

Seharusnya tidak terjadi begitu, apalagi sampai berteriak, mengancam, memungkul, mengusir supaya kajian tidak dilanjutkan. Padahal mengaji dan menuntut ilmu begitu ditekanan dalam islam. Dan mereka yang berkumpul untuk mendengar nasehat bukan sedangkan melakukan hal-hal dilarang agama.  Apa salahnya merangkul sesama umat islam bukan sebaliknya memungkul. Sementara berbeda keyakinan dirangkul dengan erat penuh cinta. Kenapa sama-sama bersyahdatan pada Rabbi yang sama tidak dikencangi ikatan rangkulan.  Jangan terulang kembali penolakan pada ustad-ustad gara-gara perbedaan mazhab. Dengan rangkulan abu-abu menjadi terang, melalui rangkulan berjarak menjadi ukhuwah yang kokoh, rangkulan menyelesaikan masalah bukan menambahkan beban, dan rangkulan bentuk nyatakan bahwa islam adalah rahmatan maupun rahman. Mari apapun permasalahan diselelaikan dengan rangkulan, lalu budayakan rangkulan dalam menyelesaikan masalah.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: