Suatu Saat Kamu Akan Tahu Arti Larangan

laranganMata masih bengkak effect tetes air mata berlinang dikeheningan malam tak sanggup menahan sakit secara tiba-tiba. Namun dipagi hari sudah disuguhi teh hangat kayu aro merupakan terbaik di Indonesia, roti sobek selalu disandingkan secangkir teh, kondisi kamar sudah tertata rapi dan tumpukan bacaan belum diselesaikan. Tumpukan buku itu adalah teman selama liburan semester, pelarian dari kesunyian dan salah satu cara mendapat good idea. Dengan menikmati alur cerita dan redaksi yang dituangkan penulis dalam buku mengantar diri untuk berpikir, berbicara dan tersenyum betapa banyak ilmu pengetahuan belum dimiliki serta tak diketahui. Sebagaimana dijelaskan sebuah hadist bahwa ilmu yang dimiliki oleh manusia ibarat setetes air. Atas dasar itu pula manusia harus terus belajar, menganalisa dan membaca disetiap waktu.

Jendela kamar sudah terbuka sehingga terlihat jelas sinar matahari sudah terang menerang dan angin pagi juga mengipas-gipas gorden putih. Sementara dari arah belakang tepatnya sekitar dapur terdengar suara motor metic sedang dihangatkan. Tidak hanya manusia yang membutuh kehangatan dipagi hari akan tetapi makhluk mati juga perlu dihangatkan dulu sebelum beroperasi.

Keadaan seperti ini merupakan tempat paling nyaman berduan dan tenang menatap leptop. Kondisi ini jua membawa terhanyut dalam samudra kata-kata, tak menyadar telah menghabiskan waktu hingga ribuan detik dan tak akan meloneh dari screen leptop hingga sangat matahari tergantikan rintihan hujan. Taktala pikiran mulai meng-Recall kembali beberapa ide untuk dituangkan didalam leptop secara selintas terpikir dengan kata larangan diperoleh dari old brothers ketika usia belasan tahun.

Ketika berseragam abu-abu teramat sering dilarang oleh old brothers terutama saat memegang bacaan seperti majalah anak gaul, majalah bintang dan bernuansa anak Muda. Kemudian dilarang duduk-duduk pinggir jalan maklum anak-anak desa bila telah sore tiba maka mulai duduk didepan rumah atau pinggir jalan. Bila sudah membaca ditegur dan diganti bacaan majalah sabili. Seandainya tertampak duduk depan rumah atau pinggir jalan mulai dapat kode untuk segara  pulang.

Syukurnya larangan itu banyak diperoleh ketika berseragam abu-abu, setelah kuliah tak dapat larangan lebih banyak diarahkan dan dipantau dari jauh. Kenapa waktu berseragam abu-abu banyak mendapat larangan dibanding waktu kuliah? Karena masa berstatus pelajar dianggap pikiran belum dewasa dan belum mempunyai tujuan hidup yang jelas. Sedangkan memasuki area perkuliahan secara berlahan-lahan larangan tak ada lagi karena mulai diberi amanah untuk mandiri, bertanggung jawab, menata hidup sendiri dan sesekali-sekali dievaluasi.

Kebebasan yang diberikan masa kuliah pada dasarnya ingin melihat apakah bisa memilih jalan hidup, kegiatan dan teman yang baik. Sebab banyak diketemui orang berstatus mahasiswa tak bisa menata pikiran, hati dan sikap lebih dewasa serta mandiri. Apabila berstatus mahasiswa tak bisa menata pikiran lebih dewasa berarti sama saja seperti anak SMA. Sebagai diketahui bersama tujuan kuliah salah satunya membentuk karakter dan pikiran bijak. Mari mengutip kalimat Dedi Cobbuser “Kuliah tidak menjamin manusia menjadi kaya akan tetapi kuliah membuat manusia menjadi banyak pilihan hidup dan berpikir bijksana”.

Waktu itu tak tahu kenapa old brothers begitu getol melarang membaca majalah tersebut dan tak mengizinkan duduk dipinggir jalan. Padahal content biasa-biasa saja dan menyambut malam dipinggir jalan Cuma menghibur hati. Setiap dilarang selalu ada rasa kesal dan protes dihati. Kini menyadari bahwa setiap larangan dari keluarga atau saudara memiliki tujuan yang baik terutama bagi  kebaikan diri sendiri. Serupa dengan Allah memberi larangan kepada manusia jangan mendekati zina, jangan meminum khamar, jangan menyebar fitnah dan jangan mencuri. Sebab dibalik pelarangan itu Allah tahu mudratnya seperti apa dan bagaimana.

Sayangnya banyak orang tak mengindahkan larangan baik larangan dari Allah maupun larangan dari orang tua serta saudara. Tetap menikmati godaan-godaan dengan terhanyut berlebihan. Disaat dilarang mungkin tak terpikir bahwa larangan itu memilki komposisi kasih dan cinta. Lebih dominan berasumsi bahwa mereka melarang tidak sayang dan sangat membatasi gerak-gerik. Berjalan dengan waktu ketika usia bertambah maka saat itu akan menyadari betapa larangan dari orang tua, keluarga dan saudara mengandung energi cinta, cahaya kebaikan serta kasih seperti dialami oleh penulis sendiri.

Sangat beruntung waktu seragam abu-abu manut dengan larangan old brothers. Andai saja waktu itu tak dilarang mungkin tak memiliki ketertarikan dengan bacaan dan mengkoleksi buku-buku. Jikalau tak memiliki hobby membaca mungkin tak mempunyai kebiasaan menulis.  Lagi pula baca dan menulis dua hal tak bisa dipisahkan dalam kehidupan. Ibarat membedakan AYAM atau TELUR lebih dahulu begitu juga dunia menulis dan membaca. Susah menentukan mana kebiasaan harus dihulukan antara MENULIS atau MEMBACA. Jika ada yang suka baca tapi tak bisa menulis perlu dipertanyakan. Begitu juga sebaliknya seandainya orang tersebut mempunyai talenta menulis tapi jarang membaca itu juga mustahil karena kesegeran ide serta proses kreatif seseorang salah satu tergerak dari kebiasaan membaca.

Maka bagi adik-adik Pelajar atau perempua jika dilarang oleh orang tua, keluarga, saudara maka ikuti larangan mereka. Jangan cepat mengatakan mereka mencontrol kalian, jangan berkesimpulan meraka tak sayang, jangan pula berasumsi mereka selalu melarang dan menindas. Padahal dibalik pelarangan itu begitu mengunung cinta dan kasi mereka agar tak tergelincir dari hal-hal negative. Kemudian yakin dan percaya dibalik pelarangan tersebut ada suatu kebaikan yang terungkap beberapa tahun kemudian.

Perlu diingatkan juga larangan seperti apa yang harus diikuti yaitu pelarangan menjauhi hal-hal negative. Seperti larang pulang malam, larang pacaran, larang berteman dengan orang tak baik dan larang membuka kerudung.  Seandainya mendapat larangan melakukan positif maka diskusi kembali dengan keluarga kenapa dilarang dan apa alasannya mereka. Jika tanpa alasan dan apa yang dilakukan itu tidak melabrak aturan Allah dan aturan hukum maka perjuangan kebaikan itu dengan maksimal bahwa apa yang dilakukan memberi hal positif bagi hidup untuk saat ini dan bermanfaat akan mendatang.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: