Sang Pendiam

DiamSemester ganjil akan usai. Berada ditengah-tengah mahasiswa merasa berada dalam pusaran penuh semangat, terutama saat berdiri dihadapan regenerasi bangsa berbagi pengalaman dan teori. Melahirkan kesan yang sangat mengasyikkan sehingga tak terasa sudah menghabiskan waktu berjam-jam dalam mempaparkan segala hal. Tak jarang pula sering  keluar terlambat karena keasyikkan menjelaskan materi dan menyimak gesture mahasiswa. Entah kenapa setiap berada diruangan perkuliahan selalu antusias agar mahasiswa bisa menjadi orang cerdas, pintar dan meraih nilai istimewa. Berbagai macam makna dan sinyal diperoleh ketika berhadapan dengan mahasiswa. Bahkan ada yang beranggap terlalu rajin, terlalu semangat, terlalu sering memberi tugas dan terlalu sering melempar pertanyaan. Memberi pertanyaan pada mereka yang sering ngombrol merupakan bagian dari taktik agar mereka tak banyak ngombrol melainkan banyak menyimak dan bertanya. Ternyata cara ini ampuh membuat mereka menyimak kendati pun sedikit menimbulkan pertanyaan mengelitik. Padahal berharap dari hasil paparan dan penjelasan melahirkan berbagai pertanyaan. Dengan banyak pertanyaan maka bisa menjelaskan banyak hal dalam kelas.

Tak jarang pula terbawa pada kenangan sebagai mahasiswa beberapa tahun yang lalu, hampir setiap hari ada tugas dan makalah untuk dipresentasikan. Sekarang baru menyadari bahwa pemberian tugas, paparan dosen itu sangat penting. Sementara tujuan memberi tugas supaya mahasiswa aktif membaca dan mencari informasi. Dimana menurut analisa penulis sendiri dari survey kecil dibeberapa mahasiswa, bahwa yang membuat mahasiswa aktif mengakses informasi dan membaca buku salah satu alasan termotivasi karena tugas dari dosen. Jika tak ada tugas dari dosen dijaminkan mahasiswa jarang mengakses informasi apalagi membaca. Untuk itu keseringan memberi tugas setiap pertemuan, walaupun ada sebagian mahasiswa tak senang dengan sikap itu.

Berbagai karakter atau tipikal mahasiswa ditemui. Ada yang agresif, proaktif, senyum dan diam seribu bahasa. Mahasiswa yang diam membuat sulit untuk mengenal dan teramat sering pula memancing sang pendiam agar mau bersuara ataupun bertanya dengan paparan materi. Tapi tak pernah berhasil tetap bungkam tanpa alasan. Ngeri saja jika ada banyak mahasiswa bertipikal pendiam dikelas, padahal dikelas bukan tempat berdiam diri atau apalagi sampai mengaplikasi pepatah bahwa diam adalah emas. Ruang kelas tempat bertanya, proaktif menyagah dan berdiskusi. Melalui sikap seperti itu memudahkan dosen mengenal, menimbulkan kesan bahwa yang aktif adalah orang yang semangat kuliah dan dianggap cerdas. Atau tipikal mahasiswa sekarang lebih banyak mendengar dengan seribu bahasa dan senyum?

Kadang kehabisan cara agar sang pendiam mau bicara, tapi hingga pertemuan akhir tetap saja belum berhasil. Yang menjadi pertanyaan, apakah sang pendiam tak mengerti bahwa proaktif memiliki effect domino terhadap nilai dan persepsi dosen padanya. Mungkin juga sang pendiam tidak butuh nilai hanya sebatas ingin hadir saja diruangan perkuliahan. Bayangkan saja diruangan perkuliahan saja mahasiswa diam tak karuan apalagi diruang public, mungkin juga tak berani bersuara. Atau sebaliknya diruang public lebih vocal, lalu diruangan perkuliahan menjadi orang pendiam? Entahlah jadi bingung saja menganalisa mahasiswa pendiam dan tak mau bersuara.

Bagi siapapun yang merasa diri sebagai mahasiswa. Proaktif, sigap dan antusias bertanya diruangan perkuliahan. Yakinlah keaktifan diruangan perkuliahan diartikan positif oleh dosen. Tentu keaktifan tertuju pada hal-hal positif bukan sebatas aktif untuk berguyon atau membuat ruangan kuliah jadi riuh. Karena masih menemui mahasiswa aktif diruangan kuliah akan tetapi keaktifan hanya sebatas melahirkan banyolan-banyolan aneh belaka. Sehingga dosen menjadi tidak respect jika ada mahasiswa berani bersuara dan antusias seperti itu.

Terakhirnya manfaat waktu diruangan kuliah banyak bertanya dan proaktif mengkritis hal-hal yang disampaikan oleh dosen. Jangan hanya sebatas mendengar dengan khusyuk tanpa ada komentar. Untung mendengar khusyuk memberi pencerahan, takutnya diam membuat kebingunggan apalagi sampai ngantuk-ngantuk dikelas. Kan jadi aneh bin ajaib!!!

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: