Ini Yang Menyalamatkan Masa Muda


anak mudaKatanya masa muda adalah masa harus dinikmati, masa yang paling indah, masa penuh kenangan dan masa coba-coba. Setiap manusia pernah mengalami muda dan bermacam kegiatan yang dilakukan dimasa muda. Ada menjalankan masa muda dengan mengikuti hal-hal positif, ada pula masa muda dihabiskan dengan kesia-siaan yaitu berteman-teman dengan mereka mengajak jauh dari Tuhan, menentang orang tua, akhirnya terjerumus dengan narkoba, jalan-jalan kemall menghabiskan uang orangtua dan masa muda keasyikan pacaran.

Setiap perabadan melahirkan kebiasaan anak muda. Jika masa orangtua kita dulu yaitu sekitar tahun enam puluhan masa muda meraka dihabiskan membantu orang tua bekerja disawah, dikebun atau masa muda mengasuh adik-adik mereka karena tahun itu komposisi keluarga hingga belasan. Berlanjut usia tante-tante kita dimana masa muda mereka masih belum tersentuh dengan teknologi yang ada tv tak berwarna masih gadis desa dan berlanjut perabadan pase-pase teknologi sudah semakin canggih yaitu ada personal computer, handphone, terkoneksi dengan internet serta sudah ada sosial media maka bentuk kebiasaan anak muda semakin bringgas tak terbendung lagi. Anak muda terbiasa dengan playstation, anak muda terbiasa dengan internet, anak muda terbiasa dengan photo-photo seronok, terbiasa menonton hal vulgar tanpa ada sensor, terbiasa dengan pergaulan bebas tanpa ada batas dan lebih bahaya lagi anak muda sampai merelakan keperawanan direnggut oleh laki-laki yang mencintainya tanpa ada ikatan nikah. Itulah gambaran dominan anak muda sekarang ini.

Meskipun terlahir sebagai genesi millineal yaitu generasi hidup di era teknologi, generasi memiliki multiskill, generasi lebih mengutama komunikasi by dunia maya, generasi yang out of box, generasi yang kurang sopan santun dan generasi memiliki ide-ide segar. Padahal kuliah di tengah kota metropolitan sangat besar peluang untuk melakukan hal-hal dilarang Allah tetapi bersyukur masa muda diselamatkan.

Andaikan mengikuti godaan anak muda tersebut tentu tidak akan seperti sekarang, bukan masa depan ditentu masa sekarang, masa sekarang dipengaruhi oleh masa lalu (masa muda). Mungkin sudah terjerumus hal-hal yang memalukan dan mungkin tidak pernah punya daya yang kuat untuk menjadi pribadi brilian sehingga akhirnya hanya menjadi orang-orang dimarginalkan. Bukankah orang-orang yang dimarginalkan dikarenakan tidak memiliki skill, tidak memliki ilmu pengetahuan, tidak memiliki relasi, tidak memilik karya!!! Ketika itu tidak ada pada diri anak muda maka mengantar pada kebodohan sedangkan kebodohan begitu dekat dengan kemiskinan. Kemiskinan selalu dipermainkan oleh pemegang kebijakan dan bila kemiskinan bersuara tidak didengar.

Bagi kalian masih tergoda dengan masa muda yang tidak produktif, masa muda yang merugikan dan muda yang jauh dari nilai ilahiah mari mencoba mengikuti langkah-langkah yang menyalamati ia dari godaan-godaan anak muda. Tips ini perlu diterapkan dengan sungguh-sungguh, diperkuatkan dengan niat yang kuat dan terus menerus berdoa padaNya agar dipertemukan teman-teman yang mengajak mengenal Ilah, mengenal potensi diri dan teman mengajak menjadi orang sukses.

Pertama yang menyelamatkan masa muda dari hal-hal negative yaitu mengikuti pengajian (ngaji). Sekarang disekolah, dikampus, diperkantoran dan diperumahan sudah terdapat komunitas pengajian sebab dilingkungan seperti itu memberi arahan pada kita untuk mengenal Allah dan ketika sudah menggenal Allah maka akan membawa manusia untuk mengenal apa tujuan hidup dibumi ini. Apabila sudah mengenal tujuan hadir dibumi, secara berlahan-lahan mengerak menjadi pribadi bermanfaat, menjadi manusia yang selalu menabur aura positif dan akhirnya terbentuk akhlak mulia (shalih/shaliha). Bukankah puncak dari behavior adalah memiliki keshalihan. Lihatlah disekitar kita berlomba-lomba membentuk diri untuk menjadi pribadi shalih/shaliha, ketika orang berlomba-lomba mendapat itu bertanda ada keistimewaan.

Selanjutnya ikuti komunitas-komunitas sesuai dengan hobby daripada menghabiskan waktu kemall-mall atau pacaran yang jelas-jelas dilarang oleh Agama. Saat ini begitu banyak komunitas-komunitas yang digerak oleh anak muda yang energrik maupun produktif. Manfaat dirasakan yaitu bisa sharing ide, mendapat informasi terupdate, termotivasi untuk menghasilkan karya, menjalin silaturahmi, menambah relasi dan membentuk pribadi memiliki harga jual.

Terakhirnya banyak baca-baca buku dan menulis. Mengutip ungkapan buya hamka bahwa hidup hanya sebatas hidup binatang juga bisa. Jangan sampai kita sebagai anak muda diberikan otak, hati dan indra yang cukup tidak dipergunakan untuk kebaikan. Pergunakan indra yang lengkap tersebut untuk membaca (al-quran/buku) dan menulis. Islam secara jelas memperhatikan dua hal tersebut. Semakin banyak membaca semakin mengetahui, semakin menambah ilmu dan semakin banyak membaca akan membawa diri menjadi freedom (bijaksana). Tidak hanya cukup membaca tetapi hasil bacaan harus dituangkan berdasarkan persepektif kita. sudah rahasia umum bahwa orang-orang yang terbiasa menulis akan menjadi analisis yang handal, meningkat daya ingat yang semakin kemilau, menjadi orang mudah menangkap ide, terciptanya pribadi yang pintar memain strategi dan menjadi orang yang mudah memberi solusi setiap permasalahan.

Itulah yang menyelematkan masa muda ia, akhirnya tidak sempat untuk berkeluh kesah atas ujian melanda, tidak sempat untuk menghujat apa yang terjadi, tidak sempat melihat hal-hal negative apa yang dilakukan orang lain karena lebih sibuk memperbaiki diri untuk menyambut hari esok yang keras, hari esok yang ditaklukkan dengan ilmu pengetahuan, hari esok harus dipersiapkan dengan skill dan hari esok juga dipersiapkan dengan amal-amal yang dahsyat. Tidak cukup hari esok dijalani seperti air mengalir dan mengikuti arus belaka. Bilamana mengikuti arus saja maka siap-siap dirimu akan dibentuk oleh lingkungan seharusnya engkau yang membentuk lingkungan.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Gumpalan Perasaan


love1Tak terasa sudah berada di bulan dua belas, tinggal dua minggu lagi akan menuju tahun baru dan selama tahun ini pula berbagai gumpalan perasaan yang dijumpai serta dirasakan. Sungguh cepat waktu berputar dan berotasi sehingga tak terasa sudah diakhir tahun. Padahal masih teringat semua segala yang terjadi dan kini telah menjadi kenangan untuk dipetik hikmahnya.

Waktu yang berjalan, berdetik, berdetak disetiap hari telah menghasilkan gumpalan perasaan seperti gumpalan awan dilangit biru nan luas. Jika gumpalan awan membawa keteduhan, maka gumpalan perasan menimbulkan kejutaan pada struktur hati maupun struktur otak agar bisa menyikapi dengan kebijaksanaan. Tak disangka gumpalan perasaan membawa kejutaan-kejutaan penuh arti dan kenangan. Gumpalan perasaan ini adalah bentukan dari kumpalan berbagai interaksi, komunikasi, bacaan dan kegiataan. Gumpalan perasaan juga kumpulan dari pertemuan dan perpisahan. Gumpalan perasaan itu menyatukan dengan hujan, panas, dan angin setiap hari. Terkadang ingin rasanya gumpalan rasa dicurahkan dengan symbol, akan tetapi tak mampu mengutarakan pada bumi atas kehadiran gumpalan perasaan. Andai saja gumpalan perasaan itu bisa ditempelkan pada tembok, mungkin akan terlihat perasaan tawa, senyum, cemberut, optimis, bahagia, kecewa dan air mata. Sayangnya gumpalan perasaan tak bisa terlihat.

Bersyukur ia dipertemukan berbagai perasaan sehingga bisa memahami setiap rasa yang hadir. Bayangkan saja bila ia tak bisa merasakan berbagai rasa tentu tak bisa tahu rasa semangat, rasa sedih, rasa bahagia, rasa kecewa, rasa duka, rasa pahit, rasa hambar dan rasa cinta. Tak jarang pula gumpalan perasaan melahirkan kesyahduan dan romansa. Hadirnya gumpalan perasaan bagaikan rahmat Allah anugrahkan pada ia. Dan kesemua rasa yang membentuk gumpalan perasaan adalah bagian dari keseimbangan kehidupan serta bertanda jiwa yang normal. Hal itu harus dijumpai oleh manusia memiliki cinta dan harapan. Lalu mengartikan gumpalan perasaan sebatas bunga-bunga perjalan hidup yang harus ditemui disetiap persimpangan jalan.

Gumpalan perasaan bersemayaman dihati bagaikan abstraksi yang susah dimaknai. Sungguh gumpalan perasaan bagaikan warna-warni dunia yang indah mengelayut dihati. Gumpalan perasaan dimaknai dengan diam dan memahami. Padahal ia tahu segala gumpalan yang hadir adalah gerak dari sang ilahiah. Gumpalan perasaan pula menarik seluruh raga menatapkan segala yang terjadi atas takdirnya. Bahkan gumpalan perasaan mengajari makna kesederhanaan, kegigihan, ketulusan dan ketundukkan pada sang maha kasih.

Ia tahu tahun depan akan kembali akan menemukan berbagai perasaan. Entah itu gumpalan perasaan membuat bijak atau gumpalan perasaan akan menjauhi ia dari kedewasaan. Gumpalan perasaan telah menyinari setiap nafas dan jiwa melihat fokus hidup yang dirihdoi Allah. Gumpalan perasaan bak rem untuk berpaju dalam lingkaran keberkahaan dan kebaikan. Sehingga membuka mata, hati dan pikiran menuju terminal kehidupan dengan keimanan serta kesabaran. Satu hal yang harus ia akui bahwasanya gumpalan perasaan ini telah melahirkan makna agak rumit dimaknai dan biarkan gumpalan perasaan membawa pada kontemplasi hidup. Terakhir biarkan gumpalan perasaan mengantar dan mengerak ia pada suatu titik pertemuan.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Sang Pendiam


DiamSemester ganjil akan usai. Berada ditengah-tengah mahasiswa merasa berada dalam pusaran penuh semangat, terutama saat berdiri dihadapan regenerasi bangsa berbagi pengalaman dan teori. Melahirkan kesan yang sangat mengasyikkan sehingga tak terasa sudah menghabiskan waktu berjam-jam dalam mempaparkan segala hal. Tak jarang pula sering  keluar terlambat karena keasyikkan menjelaskan materi dan menyimak gesture mahasiswa. Entah kenapa setiap berada diruangan perkuliahan selalu antusias agar mahasiswa bisa menjadi orang cerdas, pintar dan meraih nilai istimewa. Berbagai macam makna dan sinyal diperoleh ketika berhadapan dengan mahasiswa. Bahkan ada yang beranggap terlalu rajin, terlalu semangat, terlalu sering memberi tugas dan terlalu sering melempar pertanyaan. Memberi pertanyaan pada mereka yang sering ngombrol merupakan bagian dari taktik agar mereka tak banyak ngombrol melainkan banyak menyimak dan bertanya. Ternyata cara ini ampuh membuat mereka menyimak kendati pun sedikit menimbulkan pertanyaan mengelitik. Padahal berharap dari hasil paparan dan penjelasan melahirkan berbagai pertanyaan. Dengan banyak pertanyaan maka bisa menjelaskan banyak hal dalam kelas.

Tak jarang pula terbawa pada kenangan sebagai mahasiswa beberapa tahun yang lalu, hampir setiap hari ada tugas dan makalah untuk dipresentasikan. Sekarang baru menyadari bahwa pemberian tugas, paparan dosen itu sangat penting. Sementara tujuan memberi tugas supaya mahasiswa aktif membaca dan mencari informasi. Dimana menurut analisa penulis sendiri dari survey kecil dibeberapa mahasiswa, bahwa yang membuat mahasiswa aktif mengakses informasi dan membaca buku salah satu alasan termotivasi karena tugas dari dosen. Jika tak ada tugas dari dosen dijaminkan mahasiswa jarang mengakses informasi apalagi membaca. Untuk itu keseringan memberi tugas setiap pertemuan, walaupun ada sebagian mahasiswa tak senang dengan sikap itu.

Berbagai karakter atau tipikal mahasiswa ditemui. Ada yang agresif, proaktif, senyum dan diam seribu bahasa. Mahasiswa yang diam membuat sulit untuk mengenal dan teramat sering pula memancing sang pendiam agar mau bersuara ataupun bertanya dengan paparan materi. Tapi tak pernah berhasil tetap bungkam tanpa alasan. Ngeri saja jika ada banyak mahasiswa bertipikal pendiam dikelas, padahal dikelas bukan tempat berdiam diri atau apalagi sampai mengaplikasi pepatah bahwa diam adalah emas. Ruang kelas tempat bertanya, proaktif menyagah dan berdiskusi. Melalui sikap seperti itu memudahkan dosen mengenal, menimbulkan kesan bahwa yang aktif adalah orang yang semangat kuliah dan dianggap cerdas. Atau tipikal mahasiswa sekarang lebih banyak mendengar dengan seribu bahasa dan senyum?

Kadang kehabisan cara agar sang pendiam mau bicara, tapi hingga pertemuan akhir tetap saja belum berhasil. Yang menjadi pertanyaan, apakah sang pendiam tak mengerti bahwa proaktif memiliki effect domino terhadap nilai dan persepsi dosen padanya. Mungkin juga sang pendiam tidak butuh nilai hanya sebatas ingin hadir saja diruangan perkuliahan. Bayangkan saja diruangan perkuliahan saja mahasiswa diam tak karuan apalagi diruang public, mungkin juga tak berani bersuara. Atau sebaliknya diruang public lebih vocal, lalu diruangan perkuliahan menjadi orang pendiam? Entahlah jadi bingung saja menganalisa mahasiswa pendiam dan tak mau bersuara.

Bagi siapapun yang merasa diri sebagai mahasiswa. Proaktif, sigap dan antusias bertanya diruangan perkuliahan. Yakinlah keaktifan diruangan perkuliahan diartikan positif oleh dosen. Tentu keaktifan tertuju pada hal-hal positif bukan sebatas aktif untuk berguyon atau membuat ruangan kuliah jadi riuh. Karena masih menemui mahasiswa aktif diruangan kuliah akan tetapi keaktifan hanya sebatas melahirkan banyolan-banyolan aneh belaka. Sehingga dosen menjadi tidak respect jika ada mahasiswa berani bersuara dan antusias seperti itu.

Terakhirnya manfaat waktu diruangan kuliah banyak bertanya dan proaktif mengkritis hal-hal yang disampaikan oleh dosen. Jangan hanya sebatas mendengar dengan khusyuk tanpa ada komentar. Untung mendengar khusyuk memberi pencerahan, takutnya diam membuat kebingunggan apalagi sampai ngantuk-ngantuk dikelas. Kan jadi aneh bin ajaib!!!

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

%d bloggers like this: