RESENSI BUKU

 

bukukuJudul Buku    :

Budaya Kerja Pustakawan di Era Digitalisasi: Perspektif Organisasi, Relasi dan Individu

Impresum        : Yogyakarta: Graha Ilmu, 2015

Kolasi              : viii, 134 hlm.; 23 cm

ISBN               : 9786022624011

Harga              : Rp. 64.800,-

 

Buku ini ditulis oleh seorang yang menekuni bidang ilmu perpustakaan yang dibuktikan dengan gelar S1 maupun S2 yang disandangnya. Sejumlah opininya telah menghiasi berbagai media khususnya di Jambi, sehingga terlihat reputasinya yang sudah piawai malang melintang di dunia penulisan.

Keberhasilan perpustakaan sangat ditentukan oleh pustakawan sehingga sebutan “agent of change” menjadi keharusan. Pustakawan menjadi figur utama untuk memotivasi masyarakat menjadi lifelong learning untuk mengajak masyarakat mencintai perpustakaan maupun buku.

Semakin mendekati Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, maka dunia perpustakaan mengalami persaingan sangat ketat. Oleh karena itu, dibutuhkan budaya kerja pustakawan yang kondusif untuk meningkatkan kinerja. Tujuannya tiada lain adalah: untuk meningkatkan produktivitas kerja, membentuk perilaku kerja, dan membantu anggota-anggota organisasi sense of belonging terhadap organisasi.

Tanpa budaya kerja yang fundamental untuk membangun sumber daya pustakawan seutuhnya, maka bisa jadi dalam mendukung misi induknya tidak akan tercapai. Perpustakaan membutuhkan budaya kerja yang bisa memberikan kemampuan dan kekuatan untuk meningkatkan kohesivitas pustakawan.

Budaya kerja yang baik akan memberikan dampak baik bagi pustakawan maupun perpustakaan. Harapannya akan memberikan perubahan positif dan perkembangan perpustakaan yang berkualitas statis menuju dinamis serta sebagai andalan daya saing bagi perpustakaan. Dengan demikian pustakawan dituntut untuk memiliki keunggulan secara internasional baik melalui perencanaan kerja maupun misi perpustakaan visioner sehingga mampu bersaing secara regional dan internasional.

Suatu budaya kerja terjadi jika: 1). Adanya dukungan dari organisasi untuk mengkoordinasikan efektifitas dan efisien kerja pustakawan dalam mencapai keberlangsungan visi dan misi perpustakaan; 2). Keberlangsungan budaya kerja yang efektif juga tergantung pada relasi yang terjadi dalam perpustakaan; 3). Untuk mencapai tujuan maka diharapkan pustakawan bersedia untuk bertanggung jawab, komitmen dan berkompetensi (hal. 14).

Budaya kerja merupakan syarat utama bagi perkembangan perpustakaan yang berskala internasional sehingga harus didukung oleh berbagai elemen. Hal ini digunakan untuk memahami isu-isu yang mempengaruhi budaya kerja pustakawan dalam mencapai tujuan organisasi.

Dalam buku ini, penulis mengadopsi karakteristik budaya kerja (hal.15 s.d. 16) dari teorinya Robbins (1998), Luthans (1995), dan Cooley (1999). Namun tidak semua karakteristik budaya kerja dalam ketiga teori tersebut digunakan oleh penulis. Penulis menambahkan konsep karakteristik budaya kerja selain dari ketiga teori tersebut, yaitu kompetensi dan komitmen.

Intisari buku ini mengupas konsep kajian teori budaya kerja dan pengalaman praktis penulis saat menyusun tesis. Jika dirinci secara garis besar studi empirisnya menggunakan 3 (tiga) parameter yaitu: organisasi, relasi, dan individu.

Organisasi meliputi: struktur (structure), norma (norm), nilai yang dominan yang menjadi ciri khas tertentu yang melekat pada organisasi (dominant value), ritual dan serimonial (ritual dan ceremonial), imbalan kerja (performance reward). Kelima indikator ini menurut penulis dianggap mempunyai pengaruh yang cukup signifikan untuk menstimulus ataupun menghambat proses keberhasilan suatu budaya kerja.

Relasi (antara organisasi dan individu), meliputi: toleransi terhadap resiko (risk tolerance), toleransi terhadap konflik (conflict tolerance). Relasi dalam budaya kerja memiliki peran sangat strategis untuk mendorong dan meningkatkan efektivitas budaya kerja dalam suatu periode tertentu. Jadi agar tercipta suatu kerjasama yang baik dalam suatu organisasi diperlukan hubungan budaya kerja yang kondusif.

Individu meliputi: otonomi pegawai untuk melaksanakan tugas organisasi (individual autonomy), kompetensi (competence), komitmen (commitment). Terkait dengan otonomi pustakawan dalam mengatur pekerjaan dengan mandiri itu akan dapat tercapai jika komponen kompetensi dan komitmen dapat terintegrasi dengan baik di dalam pribadi seorang pustakawan.

Budaya kerja pustakawan dapat memberikan identitas kepada para anggota, memfasilitasi komitmen bersama, meningkatkan stabilitas sistem sosial, maupun membentuk perilaku dengan membantu anggota mengerti lingkungan sekitarnya.

Secara tampilan fisik, warna dan disain cover buku ini bagus. Judul buku sekalipun agak panjang tapi justru membuat orang menjadi penasaran kemudian tertarik untuk membaca isi bukunya. Selain itu, kelebihannya juga belum ada buku dengan tema sejenis yang khusus menyoroti tentang budaya kerja pustakawan di dalam organisasi perpustakaan.

Namun ada sedikit kekurangan, seperti halnya yang sudah biasa terjadi pada buku-buku lainnya, yaitu salah ketik. Untuk masukan kepada penulis, misalnya: berpfikir (hlm. 13); suaut (hal. 29); tugasanya (hal. 38); meningkat (hal. 44); conflint (hal. 47); indivudu (hal. 57); mengkhawatir (hal. 59); kedalam (hal. 63); keteranpilan, pmenggunakan (hal. 64); ralasi, lingkung-an (hal. 73); dan mungkin masih ada yang lainnya.

Ada garis-garis (hal. 47) agak sedikit mengganggu pandangan pembaca, walaupun hal ini terjadi secara otomatis karena saat mengkopi kalimat atau kata dari internet. Solusinya diketik ulang agar tidak muncul garis secara otomatis.

Pada Bab VI Penutup, dijelaskan dengan rinci temuan hasil dari penelitian yang menjadi buah pikir penulis tentang budaya kerja pustakawan. Hanya saja akan lebih baik jika di judul buku ditambahkan kata “Perguruan Tinggi” setelah kata “Pustakawan”. Saya rasa biar lebih ada konsistensi, karena bahasan di dalam buku mengenai budaya kerja pustakawan yang dimaksud adalah dalam konteks Universitas dalam rangka mewujudkan Universitas Bertaraf Internasional.

Buku ini dilengkapi pula mengenai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jadi kalau buku ini dibaca oleh pembaca umum (belum tahu sama sekali tentang perpustakaan) bisa langsung membuka dan merujuk pada payung hukum yang penulis lampirkan dalam buku ini.

Pustakawan perlu membaca buku ini agar dapat menjiwai makna budaya kerja yang sesungguhnya dengan membandingkan antara teori dan prakteknya yang dalam keseharian begelut di organisasi. Selain itu, buku ini juga cocok untuk mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan yang sedang mengambil mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM).

Semoga hadirnya buku ini semakin memperkaya literatur tentang perpustakaan dan bermanfaat untuk pustakawan Indonesia. Selamat membaca buku ini.

by: Endang Fatmawati. Mahasiswa S3 Kajian Media dan Budaya. Universitas Gadjah Mada

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: