Jarak Mengajari Pesan Terdalam

jarakHari ini (7/11/2015) sengaja membuka jendala kamar yang hampir tiga bulan lebih tak terbuka. Jendela terbuka karena asap telah terusir oleh hujan lebat beberapa hari. Tertutupnya jendela berbulan-bulan karena jiwa ini tak sanggup menghirup asap tebal yang mengeliling kota melayu. Hastag rindu langit biru menghiasi dunia sosial media kini bisa dirasakan kembali dengan dengan senyum penuh bahagai maupun berbunga-bunga. Terimakasih sang pemilik bumi Engkau memberi pelajaran kepada manusia melalui asap untuk  bisa bersikap adil dan mengelola alam dengan bijak.  Ini salah satu bukti manusia sangat rakus dan tak pandai menjaga alam yang Allah berikan secara Cuma-Cuma pada manusia. Ini jua bukti kebesaran Engkau yang membuat hati manusia kembali sujud penuh kekhusyukan dihadapan Engkau.

Tiga bulan asap mengempung kami, InsyaAllah telah mengembalikan kesadaran betapa manusia adalah makhluk sangat kecil dihadapan Engkau. Bayangkan saja dengan asap kami di uji telah berkeluh kesah, tak berdaya, semua lumpuh dan merasa tiada harapan lagi kehidupan ini. Padahal asap itu tercipta tak lain tak bukan oleh ulah dari perbuataan manusia yang tak pandai mensyukuri dan memikir hak-hak orang lain. Alhamdulillah dengan hujan satu minggu saja bisa menghalaukan asap dan debu yang mengingap di dedaunan nan hijau. Hati pun terasa ikut disiramkan dengan cahaya tatkala sinar matahari telah tampak dengan indah dan langit biru sudah kembali membiru bak samudra biru penuh dengan ketenangan. Bilamana jendela terbuka bisa merasakan betapa hangat sinar cahaya matahari menyentuh pipi tembem dan menyengat kulit putih. Tentu hal ini pula mengerak untuk menulis berbagai rasa yang ditemui disepanjang perjalan menuju terminal hidup sesungguhnya.

Melalui jendela pula angin-angin sepoi memasuki area kamar dan mengajak pikiran, hati untuk merasakan sensasi kesegeran dalam menguraikan huruf-huruf. keterbukaan jendela menjadi alternative untuk menghilangkan kepenatan mata menatap screen. Dari kamar bisa melihat kegembiraan daun hijau yang tak lagi ditumbukin debu-debu seperti tiga bulan yang lalu. Tunas-tunas pohon mulai muncul dengan bentuk yang unik dan sesekali terdengar suara burung duduk diatas daun hijau. Sesekali binatang sejenis monyet tertampak dipohon-pohon tinggi disebalah rumah tetangga. Mungkin begitu cara binatang serupa monyet menyambut kepergian asap tebal. Kesemua yang terlihat dari balik jendela kamar dan memberi pesan tersendiri bagi ia sedang mencari sebuah ide. Tatkala menatap perpadauan itu semua dan tiba-tiba rasa ini kembali pada makna jarak yang sempat memenuhi rongga jiwa dalam melintasi langkah-langkah kehidupan yang entah akan barakhir dimana dan akan seperti apa? Terkadang berharap spasi itu tidak ada dalam kehidupan tapi secara fakta manusia tak bisa menjauhi jarak dalam nafas kehidupan. Itu menandai keseimbangan bumi dan seisinya. Terkadang jarak memberi makna positif dan tak jarang pula jarak menjadi prihara tak bermakna bagi seseorang. Bagi sedang jatuh cinta maka jarak membuat batin mereka tersiksa. Berbeda pula bagi sedang bermusuhan bahwasanya jarak bisa membuat pikiran tenang. Sementara bagi sedang mencari ketenangan jarak menjadi sarana untuk mencari hakikat kehidupan.

Bagi penuis sendiri jarak membingkai berbagai kisah terutama bingkai rasa yang terlalu sering berjarak dengan mereka (keluarga) dan jarak mengerak bulir-bulir air mata menetes begitu deras. Hanya air mata bisa mengantikan ungkapan bahwasanya sangat rindu dengan pelukan mereka. Jarak mengurung rasa dan membuat rasa rindu dihati semakin mengunung, andaikan rasa bisa meledak mungkin sudah mengeluarkan butiran rindu dengan ungkapan rasa penuh makna. Tapi energi hati tak mampu menghempaskan dan melepaskan rasa-rasa yang memenuhi aliran darah yang mengalir diseluruh organ tubuh. Rasa rindu itu hanya sanggup diuntaikan melalui doa. Doa pula telah mengerak hati untuk memaknai arti jarak dalam bingkisan semangat dan perjuangan untuk membuktikan pada mereka. Mungkin jarak ini sedang memberi pelajaran bagi ia ketika bersua dengan siapapun untuk disambut dengan keramahan rasa.

Kendati pun kita berjarak tapi doa dan emosional selalu menyimpulkan dalam suatu ikatan cinta. Dari pada berdekatan tapi tak ada kekuataan emosional yang hadir dalam jiwa. Bahkan jarak memberi pesan terdalam betapa pertemua dan bersentuhan adalah suatu kenikmatan yang tak pernah disyukuri sebagai rezki yang amat berharga oleh manusia. Jarak bisa membuat manusia untuk merenungi. Jarak mampu mengerak seseorang untuk segara kembali pada yang dirindukan kendatipun terhalang oleh berbagai rintangan. Jarak membuat manusia jujur dengan perasaannya sendiri. Jarak mampu menghancurkan rasa-rasa negative menjadi rasa optimis. Suatu saat ketika Allah telah berkehendak maka tidak akan ada lagi jarak yang memisahkan.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: