Sisipkan kalimat ini dalam doa kita


perjalananDalam islam siapa yang tidak pernah mengadahkan tangan kepadaNya atau meminta padaNya dianggap manusia yang sombong. Bahkan kekuataan seorang muslim terdapat pada doa, maka bersyukurlah siapapun yang setiap waktu selalu memanfaatkan waktu berdoa pada Rabbi karena semakin banyak berdoa tentu semakin bertambah kekuataan dan semakin sering merengek insha allah semakin Allah mengenal keinginan serta segera di Ijabah. Walaupun dalam islam masalah qadha dan qadar sudah ditetapkan, akan tetapi  karena belum tahu konsep qadha dan qadar kapan ditentukan maka terus berusaha serta berdoa padaNya.

Sungguh beruntung dan berbahagia orang-orang beriman selalu menyembat waktu untuk berdoa. Ketika azan telah berkumandang berlari-lari menghadapkan diri pada Allah dan khusyuk berdoa. Apalagi bagi orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan, sibuk mengejar dunia, mengejar karir dan sibuk dengan jabatan mungkin terkadang sering lupa untuk berdoa padaNya. Doa diwaktu-waktu mustajab maupun dikala selesai sholat wajib ataupun sunnah dan yang perlu dipertanyakan doa apa yang sering dilafazkan ketika berdoa. Apakah doa segera kaya, doa segera dipertemukan jodoh, doa dipermudahkan segala urusan, dilancarkan rezki, doa mati dalam husnul khotimah, doa jadi anak shaliha/sholeh, doa dipertemukan dengan rasullah atau doa untuk kedua orang tua.

Tentu bisa diasumsikan bagi yang belum dipertemukan jodoh tentu doa yang selalu dilantukan agar disegarakan jodoh, belum mendapat jabatan akan terus berdoa agar segara meraih posisi pretesius, belum mendapat anak secara terus bermohon agar dipercayai untuk memiliki sibuah hati, sedang mengalami sakit akan meminta diberi kesembuhan, orang telah berada diwaktu senja melantukan untuk dipanjangkan umur, tatkala dalam kesusahan doa dipanjatkan supaya diberi kemudahan dan saat diperjalanan meminta agar dijauhkan bala.

Jadi gampang menerka doa yang sering dilafaskan oleh orang lain. Lihat saja apa kebutuhan atau keinginanya. Maka dipastikan doa itu akan selalu dilafazakan dihadapan sang pengampul keinginan. Ketika doa tersebut telah diwujudkan oleh Allah maka akan digantikan lagi dengan doa lain. Namun ada hal yang harus diperhatikan yaitu jangan egois segala doa yang disebutkan dengan khusyuk akan dikabulkan semua dan disegarakan. Karena makhlukNya bukan hanya kita saja yang diurusin oleh Allah dan dikabulkanNya akan tetapi semua makhluk di bumi meminta semua dikabulkan. Makanya ada doa langsung dikabulkan, ditunda atau pun digantikan karena Allah sedang mengambulkan keinginan orang lain.

Tapi hal terpenting dan sampai terlupakan saat berdoa padaNya yaitu agar dimatikan husnul khotimah karena kematian lebih dekat dengan manusia, mendoakan kedua orang tua yang sudah mendidik dengan cinta tanpa pernah mengeluh agar kita bisa besar seperti anak-anak yang lain, doa dijadikan anak yang shalih/shaliha, dan doa agar diberi kemudahan untuk membantu orang lain ataupun kemudahan melakukan yang kebaikan lainnya.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Jarak Mengajari Pesan Terdalam


jarakHari ini (7/11/2015) sengaja membuka jendala kamar yang hampir tiga bulan lebih tak terbuka. Jendela terbuka karena asap telah terusir oleh hujan lebat beberapa hari. Tertutupnya jendela berbulan-bulan karena jiwa ini tak sanggup menghirup asap tebal yang mengeliling kota melayu. Hastag rindu langit biru menghiasi dunia sosial media kini bisa dirasakan kembali dengan dengan senyum penuh bahagai maupun berbunga-bunga. Terimakasih sang pemilik bumi Engkau memberi pelajaran kepada manusia melalui asap untuk  bisa bersikap adil dan mengelola alam dengan bijak.  Ini salah satu bukti manusia sangat rakus dan tak pandai menjaga alam yang Allah berikan secara Cuma-Cuma pada manusia. Ini jua bukti kebesaran Engkau yang membuat hati manusia kembali sujud penuh kekhusyukan dihadapan Engkau.

Tiga bulan asap mengempung kami, InsyaAllah telah mengembalikan kesadaran betapa manusia adalah makhluk sangat kecil dihadapan Engkau. Bayangkan saja dengan asap kami di uji telah berkeluh kesah, tak berdaya, semua lumpuh dan merasa tiada harapan lagi kehidupan ini. Padahal asap itu tercipta tak lain tak bukan oleh ulah dari perbuataan manusia yang tak pandai mensyukuri dan memikir hak-hak orang lain. Alhamdulillah dengan hujan satu minggu saja bisa menghalaukan asap dan debu yang mengingap di dedaunan nan hijau. Hati pun terasa ikut disiramkan dengan cahaya tatkala sinar matahari telah tampak dengan indah dan langit biru sudah kembali membiru bak samudra biru penuh dengan ketenangan. Bilamana jendela terbuka bisa merasakan betapa hangat sinar cahaya matahari menyentuh pipi tembem dan menyengat kulit putih. Tentu hal ini pula mengerak untuk menulis berbagai rasa yang ditemui disepanjang perjalan menuju terminal hidup sesungguhnya.

Melalui jendela pula angin-angin sepoi memasuki area kamar dan mengajak pikiran, hati untuk merasakan sensasi kesegeran dalam menguraikan huruf-huruf. keterbukaan jendela menjadi alternative untuk menghilangkan kepenatan mata menatap screen. Dari kamar bisa melihat kegembiraan daun hijau yang tak lagi ditumbukin debu-debu seperti tiga bulan yang lalu. Tunas-tunas pohon mulai muncul dengan bentuk yang unik dan sesekali terdengar suara burung duduk diatas daun hijau. Sesekali binatang sejenis monyet tertampak dipohon-pohon tinggi disebalah rumah tetangga. Mungkin begitu cara binatang serupa monyet menyambut kepergian asap tebal. Kesemua yang terlihat dari balik jendela kamar dan memberi pesan tersendiri bagi ia sedang mencari sebuah ide. Tatkala menatap perpadauan itu semua dan tiba-tiba rasa ini kembali pada makna jarak yang sempat memenuhi rongga jiwa dalam melintasi langkah-langkah kehidupan yang entah akan barakhir dimana dan akan seperti apa? Terkadang berharap spasi itu tidak ada dalam kehidupan tapi secara fakta manusia tak bisa menjauhi jarak dalam nafas kehidupan. Itu menandai keseimbangan bumi dan seisinya. Terkadang jarak memberi makna positif dan tak jarang pula jarak menjadi prihara tak bermakna bagi seseorang. Bagi sedang jatuh cinta maka jarak membuat batin mereka tersiksa. Berbeda pula bagi sedang bermusuhan bahwasanya jarak bisa membuat pikiran tenang. Sementara bagi sedang mencari ketenangan jarak menjadi sarana untuk mencari hakikat kehidupan.

Bagi penuis sendiri jarak membingkai berbagai kisah terutama bingkai rasa yang terlalu sering berjarak dengan mereka (keluarga) dan jarak mengerak bulir-bulir air mata menetes begitu deras. Hanya air mata bisa mengantikan ungkapan bahwasanya sangat rindu dengan pelukan mereka. Jarak mengurung rasa dan membuat rasa rindu dihati semakin mengunung, andaikan rasa bisa meledak mungkin sudah mengeluarkan butiran rindu dengan ungkapan rasa penuh makna. Tapi energi hati tak mampu menghempaskan dan melepaskan rasa-rasa yang memenuhi aliran darah yang mengalir diseluruh organ tubuh. Rasa rindu itu hanya sanggup diuntaikan melalui doa. Doa pula telah mengerak hati untuk memaknai arti jarak dalam bingkisan semangat dan perjuangan untuk membuktikan pada mereka. Mungkin jarak ini sedang memberi pelajaran bagi ia ketika bersua dengan siapapun untuk disambut dengan keramahan rasa.

Kendati pun kita berjarak tapi doa dan emosional selalu menyimpulkan dalam suatu ikatan cinta. Dari pada berdekatan tapi tak ada kekuataan emosional yang hadir dalam jiwa. Bahkan jarak memberi pesan terdalam betapa pertemua dan bersentuhan adalah suatu kenikmatan yang tak pernah disyukuri sebagai rezki yang amat berharga oleh manusia. Jarak bisa membuat manusia untuk merenungi. Jarak mampu mengerak seseorang untuk segara kembali pada yang dirindukan kendatipun terhalang oleh berbagai rintangan. Jarak membuat manusia jujur dengan perasaannya sendiri. Jarak mampu menghancurkan rasa-rasa negative menjadi rasa optimis. Suatu saat ketika Allah telah berkehendak maka tidak akan ada lagi jarak yang memisahkan.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

RESENSI BUKU


 

bukukuJudul Buku    :

Budaya Kerja Pustakawan di Era Digitalisasi: Perspektif Organisasi, Relasi dan Individu

Impresum        : Yogyakarta: Graha Ilmu, 2015

Kolasi              : viii, 134 hlm.; 23 cm

ISBN               : 9786022624011

Harga              : Rp. 64.800,-

 

Buku ini ditulis oleh seorang yang menekuni bidang ilmu perpustakaan yang dibuktikan dengan gelar S1 maupun S2 yang disandangnya. Sejumlah opininya telah menghiasi berbagai media khususnya di Jambi, sehingga terlihat reputasinya yang sudah piawai malang melintang di dunia penulisan.

Keberhasilan perpustakaan sangat ditentukan oleh pustakawan sehingga sebutan “agent of change” menjadi keharusan. Pustakawan menjadi figur utama untuk memotivasi masyarakat menjadi lifelong learning untuk mengajak masyarakat mencintai perpustakaan maupun buku.

Semakin mendekati Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, maka dunia perpustakaan mengalami persaingan sangat ketat. Oleh karena itu, dibutuhkan budaya kerja pustakawan yang kondusif untuk meningkatkan kinerja. Tujuannya tiada lain adalah: untuk meningkatkan produktivitas kerja, membentuk perilaku kerja, dan membantu anggota-anggota organisasi sense of belonging terhadap organisasi.

Tanpa budaya kerja yang fundamental untuk membangun sumber daya pustakawan seutuhnya, maka bisa jadi dalam mendukung misi induknya tidak akan tercapai. Perpustakaan membutuhkan budaya kerja yang bisa memberikan kemampuan dan kekuatan untuk meningkatkan kohesivitas pustakawan.

Budaya kerja yang baik akan memberikan dampak baik bagi pustakawan maupun perpustakaan. Harapannya akan memberikan perubahan positif dan perkembangan perpustakaan yang berkualitas statis menuju dinamis serta sebagai andalan daya saing bagi perpustakaan. Dengan demikian pustakawan dituntut untuk memiliki keunggulan secara internasional baik melalui perencanaan kerja maupun misi perpustakaan visioner sehingga mampu bersaing secara regional dan internasional.

Suatu budaya kerja terjadi jika: 1). Adanya dukungan dari organisasi untuk mengkoordinasikan efektifitas dan efisien kerja pustakawan dalam mencapai keberlangsungan visi dan misi perpustakaan; 2). Keberlangsungan budaya kerja yang efektif juga tergantung pada relasi yang terjadi dalam perpustakaan; 3). Untuk mencapai tujuan maka diharapkan pustakawan bersedia untuk bertanggung jawab, komitmen dan berkompetensi (hal. 14).

Budaya kerja merupakan syarat utama bagi perkembangan perpustakaan yang berskala internasional sehingga harus didukung oleh berbagai elemen. Hal ini digunakan untuk memahami isu-isu yang mempengaruhi budaya kerja pustakawan dalam mencapai tujuan organisasi.

Dalam buku ini, penulis mengadopsi karakteristik budaya kerja (hal.15 s.d. 16) dari teorinya Robbins (1998), Luthans (1995), dan Cooley (1999). Namun tidak semua karakteristik budaya kerja dalam ketiga teori tersebut digunakan oleh penulis. Penulis menambahkan konsep karakteristik budaya kerja selain dari ketiga teori tersebut, yaitu kompetensi dan komitmen.

Intisari buku ini mengupas konsep kajian teori budaya kerja dan pengalaman praktis penulis saat menyusun tesis. Jika dirinci secara garis besar studi empirisnya menggunakan 3 (tiga) parameter yaitu: organisasi, relasi, dan individu.

Organisasi meliputi: struktur (structure), norma (norm), nilai yang dominan yang menjadi ciri khas tertentu yang melekat pada organisasi (dominant value), ritual dan serimonial (ritual dan ceremonial), imbalan kerja (performance reward). Kelima indikator ini menurut penulis dianggap mempunyai pengaruh yang cukup signifikan untuk menstimulus ataupun menghambat proses keberhasilan suatu budaya kerja.

Relasi (antara organisasi dan individu), meliputi: toleransi terhadap resiko (risk tolerance), toleransi terhadap konflik (conflict tolerance). Relasi dalam budaya kerja memiliki peran sangat strategis untuk mendorong dan meningkatkan efektivitas budaya kerja dalam suatu periode tertentu. Jadi agar tercipta suatu kerjasama yang baik dalam suatu organisasi diperlukan hubungan budaya kerja yang kondusif.

Individu meliputi: otonomi pegawai untuk melaksanakan tugas organisasi (individual autonomy), kompetensi (competence), komitmen (commitment). Terkait dengan otonomi pustakawan dalam mengatur pekerjaan dengan mandiri itu akan dapat tercapai jika komponen kompetensi dan komitmen dapat terintegrasi dengan baik di dalam pribadi seorang pustakawan.

Budaya kerja pustakawan dapat memberikan identitas kepada para anggota, memfasilitasi komitmen bersama, meningkatkan stabilitas sistem sosial, maupun membentuk perilaku dengan membantu anggota mengerti lingkungan sekitarnya.

Secara tampilan fisik, warna dan disain cover buku ini bagus. Judul buku sekalipun agak panjang tapi justru membuat orang menjadi penasaran kemudian tertarik untuk membaca isi bukunya. Selain itu, kelebihannya juga belum ada buku dengan tema sejenis yang khusus menyoroti tentang budaya kerja pustakawan di dalam organisasi perpustakaan.

Namun ada sedikit kekurangan, seperti halnya yang sudah biasa terjadi pada buku-buku lainnya, yaitu salah ketik. Untuk masukan kepada penulis, misalnya: berpfikir (hlm. 13); suaut (hal. 29); tugasanya (hal. 38); meningkat (hal. 44); conflint (hal. 47); indivudu (hal. 57); mengkhawatir (hal. 59); kedalam (hal. 63); keteranpilan, pmenggunakan (hal. 64); ralasi, lingkung-an (hal. 73); dan mungkin masih ada yang lainnya.

Ada garis-garis (hal. 47) agak sedikit mengganggu pandangan pembaca, walaupun hal ini terjadi secara otomatis karena saat mengkopi kalimat atau kata dari internet. Solusinya diketik ulang agar tidak muncul garis secara otomatis.

Pada Bab VI Penutup, dijelaskan dengan rinci temuan hasil dari penelitian yang menjadi buah pikir penulis tentang budaya kerja pustakawan. Hanya saja akan lebih baik jika di judul buku ditambahkan kata “Perguruan Tinggi” setelah kata “Pustakawan”. Saya rasa biar lebih ada konsistensi, karena bahasan di dalam buku mengenai budaya kerja pustakawan yang dimaksud adalah dalam konteks Universitas dalam rangka mewujudkan Universitas Bertaraf Internasional.

Buku ini dilengkapi pula mengenai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jadi kalau buku ini dibaca oleh pembaca umum (belum tahu sama sekali tentang perpustakaan) bisa langsung membuka dan merujuk pada payung hukum yang penulis lampirkan dalam buku ini.

Pustakawan perlu membaca buku ini agar dapat menjiwai makna budaya kerja yang sesungguhnya dengan membandingkan antara teori dan prakteknya yang dalam keseharian begelut di organisasi. Selain itu, buku ini juga cocok untuk mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan yang sedang mengambil mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM).

Semoga hadirnya buku ini semakin memperkaya literatur tentang perpustakaan dan bermanfaat untuk pustakawan Indonesia. Selamat membaca buku ini.

by: Endang Fatmawati. Mahasiswa S3 Kajian Media dan Budaya. Universitas Gadjah Mada

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

%d bloggers like this: