Menoropong Hari Kemenangan Disisi Yang Lain

Pemuda Zaman Sekarang Lebih Sering ke Rumah Pacar Dibandingkan ke Rumah Allah

Pemuda Zaman Sekarang Lebih Sering ke Rumah Pacar Dibandingkan ke Rumah Allah

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. Al’Israa:37)

Suasana lebaran sudah usai, satu persatu sanak saudara sudah kembali kekota masing-masing untuk melanjutkan scenario kehidupan yang telah tertulis di MahfuzhNya dan mengikuti perputaran waktu entah akan berakhir dimana serta bagaimana. Terpenting dalam putaran waktu harus berusaha dan mengisi waktu-waktu dengan menghasilkan pahala serta karya. Jika tidak memanfaatkan waktu berputar begitu cepat dengan amalan, karya dan usaha maka siap-siap saja menjadi manusia yang menyesal dikemudian hari karena penyelasan selalu terakhir. Bilamana penyelasan diawal itu namanya registrasi hohohoho….

Kebersamaan dan keramaian itu hanya bisa dinikmati sesaat setelah itu keramaian dan canda akan menyendiri diperantuan. Ini lah makna lebaran secara sederhana yaitu mampu mengumbulkan kembali keluarga dari jauh untuk saling silaturahmi, saling memaafkan, saling bertatap muka dengan senyum bahagia, saling menanya kabar masing-masing dengan keluarga dikampung halaman serta kembali mengingatkan memory masa lalu. Lebih penting lagi dari lebaran yaitu begitu mudah bagi siapapun untuk meminta maaf dan memaafkan hal ini sangat sulit ditemui di sebalas bulan berikutnya. Maaf dan ibadah yang telah dijalankan insyaAllah mengantarkan kita sebagai pribadi sholeh secara sosial maupun personal karena ini tujuan dari ibadah dan bermaafan serta tidak mengulangi kembali kesalahan pernah dilakukan.

Bila boleh jujur ketika  masa kecil dulu hari lebaran terasa bermakna, begitu antusias untuk memakai baju lebaran, pagi-pagi sudah mandi biar cepat pakai baju lebaran dan bahagia yang penuh tawa. Walaupun masa itu belum dimeriahkan THR seperti saat ini tetap ada kesan sangat menyentuh hati. Entah kenapa beranjak atau bertambah usia (dewasa) seakan-akan makna lebaran itu memudar dalam qolbu. Seolah-olah lebaran bermakna ketika maaf kepada orangtua. Seakan-akan lebaran hanya terasa ketika sholat idul fitri, namun setelah bersalam-salam semua menjadi hambar. Seperti bukan ia saja merasakan hal yang serupa. Apakah ini bertanda bahwa hati sudah mulai ternodai dengan noda-noda hitam sehingga tidak merasa kemeriah lebaran. Mungkin karena kegiatan lebaran hanya mengulangi kembali runitas yang sama sehingga menibulkan kejenuhan. Apalagi sebagai manusia harus ada gerakan perubahan untuk menghilang kebosanan atau kejenuhan.

Tidak hanya itu warna-warni dari lebaran, akan tetapi ada suatu kejanggalan dihati. Mungkin ini hanya pengamatan yang tidak berarti tetapi ada suatu hikmah yang dipetik dari pengamatan melalui rutinitas lebaran yaitu kemewahan dalam berdandan. Apakah kemewahan berdandan hanya berlaku pada wanita saja atau laki-laki juga seperti itu. Misalnya bagaimana para ibu-ibu terutama memiliki kelebihan dalam harta, tahta dan jabatan betapa pakaian yang dipakai pada hari lebaran sangat lux sehingga sangat jelas perbedaan orang yang beruang, perbedaan memiliki status sosial ditengah masyarakat, sangat kentara perbedaan mereka dari kota yang sudah mencapai kesuksesaan, perbedaan berpendidikan tinggi dan sangat berbeda dengan mereka yang biasa-biasa saja. Selain itu, melihat para ibu-ibu atau wanita menggunakan perhiasaan hampir seluruh tangan sudah dihiasi dengan warna emas (perhiasan, emas). Seolah-olah hari lebaran merupakan bagian unjuk kekayaan dan secara tersirat mengatakan ini loh kekayaan gue!!! Semoga bukan seperti itu dan mungkin itu hanya analisa seorang akademis yang suka mengamati lingkungan secara diam-diam bahkan terkadang melalui analisa tersebut berharap dijadikan materi perenungan untuk bersikap lebih sederhana dan tak lupa pula sekali-kali pengamatan tersebut dicocokan dengan al-quran maupun hadist.

Lalu, yang sering didengar ketika para ibu-ibu berkumpul ketika silaturahmi atau ketemu dijalan begitu antusias menceritakan kelebihan anak mereka masing-masing. Misalnya dengan lantang menceritakan prestasi anak-anak, kerja anak-anak, kuliah dikampus grade one dan sebagainya. Padahal bila ditinjau dari perspektif islam sudah diatur secara indah bagaimana bermuamalah dan berdandan. Realitas berkata berbeda yang mana saling membanggakan kekayaan, tahta dan kesuksesaan anak. Ada baiknya apapun dimiliki tidak perlu diceritakan dan menampakan perhiasan tersebut. Tanpa diceritakan sesungguhnya orang sudah tahu segala dimiliki. Bersikaplah secara sederhana dan berbicaralah secara bijak bukan untuk menjatuhkan apalagi bertujuan untuk menyentil mereka yang belum sukses. Atau mungkin mereka yang mempamerkan apa dimiliki agar  mendapat pujian. Atau ada maksud lain!!! Bukankah diatas langit ada langit!!!

Ironinya lagi, ada perbedaan penghormatan yang berlebihan pada mereka yang memiliki tahta, kekayaan, pendidikan, dan putra-putri sudah sukses. Pada umumnya ditengah masyarakat beranggapan bahwa tahta, kekayaan, pendidikan dan kesuksesaan merupakan bagain dari media kemuliaan. Padahal bilama meminjam ungkap Quraih Shihab bahwa sesungguhnya kemulian nan abadi bukanlah tahta, kekayaan, pendidikan dan kesuksesaan karena itu berlaku didunia saja melainkan kemuliaan nan abadi adalah ketaqwaan. Tapi indikator tersebut sangat jarang dipergunakan untuk memuliakan seseorang ditengah masyarakat.  Sejak dari kecil melihat fenomena penghormatan seperti itu!!!

Berharap hasil pengamatan lingkungan menjadi panduan bagi ia untuk tidak memilah atau memilih untuk menghormati siapapun, untuk ramah pada siapapun serta tidak membanggakan apapun yang dimiliki atau diraih karena semua adalah titipan Allah maupun ujian Allah titipkan untuk sementara. Sewaktu-waktu dan Allah sudah berkehendak begitu mudah mengambil kembali titipan tersebut untuk dititipkan pada orang lain lagi karena hidup ini giliran seperti putaran roda. Bukan pemikiran dan sikap seperti itu merupakan peningkatan kebijaksanaan atau ciri-ciri orang yang memahami makna hidup yang sesungguhnya. Bukankah setiap manusia diciptakan memiliki dan kekurang masing-masing karena tidak ada yang sempurna. Maka hormati, ramah, sapa dan bersikap baiklah kepada siapapun meskipun orang tersebut sudah berlaku tidak adil pada kita. Itu cara bijak agar hidup menjadi indah, penuh syukur dah rahmaah.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: