Romantis Jangan di Obral


Romantis jangan di obralSetiap orang memiliki jiwa romance berbeda-beda. Ada sikap romantic ditunjuk melalui sikap, melalui perkataan, melalui tulisan dan melalui apresiasi yang lainnya. Bahkan tingkatan romance setiap insan juga berbeda. Jika menggunakan metode ilmiah yaitu skalalikers ada romance sangat tinggi sekali, tinggi, sedang dan rendah. Faktor romantisme itu juga berbeda-beda misalnya pengaruh bacaan, faktor lingkungan, dan pengaruh kebiasaan menulis. Akhirnya mengantarkan menjadi pribadi romance.

ketika sisi romance muncul dalam jiwa maka ingin menguraikan dalam sebuah tulisan. Ada beberapa tulisan yang ditulis dengan ruh romantic yang tidak berani dipublishkan diblog karena belum saat tulisan romance dibaca oleh orang dan takut salah dimaknai oleh pembaca. Padahal tulisan romance tidak ditujukan pada siapa melainkan hasil dari membaca novel yang bernuana cinta. Setiap membaca novel akan selalu ada satu atau beberapa kata yang mampu mengerakan seluruh raga untuk berimajinasi lebih jauh bahkan melebih kecapatan kedipan mata hingga batas maupun ruang.

Apalagi saat duduk diteras rumah setelah magrib dan memandang langit yang luas sering terbawa rasa jauh entah kemana. Seolah magrib menjadi ruang yang special untuk menemui imajinasi bernuansa cinta atau mungkin terpengaruh oleh pergantian waktu menuju keheningan malam. Terkadang berpikir bahwa duduk-duduk diteras rumah adalah satu cara dahsyat untuk merangkai kata menjadi sebuah kalimat romantic. Saat dalam keheningan yang diringi muratal itu pula bergegas menulis ribuan kata yang sedang menari dipikirkan untuk dituangkan dalam leptop. Sungguh berbahagialah seseorang masih bisa merasakan keindahan bumi disetiap waktu karena setiap waktu memberi pesona berbeda. Seperti pesona setelah magrib terjadi perpaduan sangat unik bagi ia yang menyukai menetap langit dimalam hari. Ketika menetap langit yang tinggi yang dihiasi sinar bulan, bintang serta diiringi suara adzan masjid merasa ada kekuataan romantic yang mengatakan bahwa dibelahan sana ia juga sedang menatap langit yang sama sedang mencari jalan bagaimana cara bisa bersua pada titik yang sama yang telah tertulis dilahu mahfuzh. Ingin tulisan romance ditulis dari hati yang sedang berbunga-bunga dibaca oleh orang special pada suatu saat nanti bukan untuk saat ini.

Antara kalimat ilmiah dan romantic memiliki suatu kelebihan masing-masing. Bagi ia menulis kalimat romantic lebih elok dibandingkan dengan ungkap romantic yang mana memiliki kekuataan sendiri karena bisa dibaca berulang-ulang, cara mendokumentasi rasa dan menjadi bukti cinta tak akan lekang oleh sang waktu. Dalam kehidupan ini terkadang ada kalanya harus menggunakan kalimat romantic dan tentu penggunaan harus disesuaikan pada orang yang tepat serta waktu yang tepat. Cukuplah kalimat romantic diutarakan pada orang yang telah dihalalkan bukan diobral-obral seperti kacang dengan harga murah meriah.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Pendidikan Memuja IQ


Pendidikan Memuja IQPendidikan di Indonesia telah menunjukkan keberhasilan sangat besar secara kuantitas, hampir setiap tahun perguruan tinggi swasta maupun negeri meluluskan para ilmuan muda Indonesia dengan berbagai jurusan dan jenjang pendidikan. Melahirkan generasi yang siap bersaing ditataran nasional maupun global, membentuk generasi memiliki jiwa ledearship berakhlak santun. Kemudian seluruh lapisan masyarakat indonesai dari kota hingga pelosok desa, dari status social terendah hingga tertinggi menyadari betapa pentingnya pendidikan (Education Awareness), hampir setiap keluarga berpendidikan sarjana hingga Doctoral. Hak untuk mendapatkan pendidikan termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang mewajibkan pemerintah menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi warga negara. Ketetapan itu menjadi prioritas kedua setelah mandat untuk mensejahterakan rakyat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan bagi kemajuan bangsa dan pribadi.

Menurut Education For All Global Monitoring Report 2012 yang dikeluarkan oleh UNESCO setiap tahunnya, pendidikan Indonesia berada di peringkat ke-64 untuk pendidikan di seluruh dunia dari 120 negara. Data Education Development Index (EDI) Indonesia, pada 2011 Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 127 negara. Bahkan pemerintah mengalokasi dana pendidikan, setiap tahun mengalami peningkatan seperti baru-baru ini pemerintah memutuskan meningkatkan anggaran sektor pendidikan. Pemerintah berjanji menaikkan anggaran pendidikan sebesar 7,5% untuk tahun 2014.

Sesungguhnya pemerintah sudah memperhatikan serius permasalahan  pendidikan  Indonesia. Namun masih ada kekurangan disana-sini, masih ada penyelewenggan dana, masih ada anak bangsa tidak merasa indahnya bangku sekolah maupun bangku perkuliahan, dan tugas terbesar pemerintah saat ini tidak hanya memperhatikan sisi kecerdasan melainkan bagaimana membentuk karakter atau tatakrama anak bangsa yang berakhlak mulia. Seperti dijelaskan John Dewey tentang pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia

Secara logika jika kualitas otak manusia semakin cerdas maka akhlaknya juga ikut berakhlak mulia. Faktanya menyedihkan, dimana kualitas otak bangsa semakin Excellent tapi tidak mempengaruhi tatakrama (etika), dan karakter diri melainkan semakin menurun. Padahal tujuan pendidikan di dalam UU Nomor 2 tahun 1989 secara jelas disebutkan Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pertanyaan menyetil muncul dalam pikiran kita? mengapa tidak adanya hubungan dan keselarasaan antara kecerdasaan otak dengan akhlak? Seharusnya gelar yang disandang sebagai Problem Solving, pada kenyataannya kaum terdidik malah sebagai Problem Maker dan primitivisme intelektual diranah publik. Senada dengan kultum Quraish Shihab mengatakan bahwa “Iman dan ilmu memiliki hubungan yang sangat erat. Ilmu mempercepat gerakan anda, sedangkan iman berada dijalan Allah SWT”. Artinya, orang yang berkualitas adalah mereka yang memiliki keseimbangan antara iman dan ilmu.

Sebagai kaum terdidik, orang tua tentu tercoreng, tertampar, dipermalukan dengan kasus anak kaum muda dan kaum terpelajar  melakukan asusila ditengah khalayak ramai bahkan menurut penelitian rata-rata pelajar maupun mahasiswa sudah tidak perawan. Terjadi bentrokan antar pelajar yang hampir setiap hari dijumpai bahkan dipertontonkan melalui televisi. Penggunaan narkoba sudah mengalami kritinisasi, penggunaan air keras, dan ngembut dijalan raya seakan-akan sudah menjadi Culture and Habbit. Bukankah itu semua berkaitan dengan tatakrama, kesantunan, karakter diri dan akhlak!!! Seharusnya sebagai kaum terdidik maupun terpelajar “sebuah keteladanan dan tatakrama yang mesti ditangkap dan nyalakan dalam kehidupan”. Namun kelulusan dari sekolah maupun kampus ternama terkadang ironi.

Itu baru sebagian contoh tatakrama anak bangsa yang tertampak. Belum lagi masalah cara anak bangsa menghargai, menghormati, penggunaan bahasa yang tidak berestetika dan pakaian yang tidak mengindikasi sebagai kaum intelektual. Seperti baru-baru ini sekolah bertaraf internasional di Indonesia dengan sengaja menghilangkan pelajaran agama. Semakin hari pendidikan di Indonesia hanya menghasil kecerdasan otak sedangkan kecerdesan emosional maupun  perilaku belum berhasil dibangun bahkan merosot dan terjun payung. Senada dengan ungkap Cak Nur “Bahwa Dia Sukses Mendidik Orang Menjadi Cerdas Tapi Tidak Sukses Mendidik Orang Menjadi Sholeh”. Sangat berbahaya jika pendidikan yang diadopsi bangsa Indonesia lebih focus pada kecerdasan otak belaka maka akan melahirkan regenerasi berpondasi pada konsep Libarlisme dan Hedonisme. Padahal jiwa seperti itu menghancurkan peradaban bangsa. Sedangkan tatakrama berkaitan erat dengan agama dan budaya. Jangan-jangan agama dan adat istiadat yang kita pahami hanya sebatas slogan, sebatas teoritis, sebatas labeling tapi hampa dalam aplikasi baik dilingkungan keluarga, lingkungan akademis, lingkungan komunitas, lingkungan interaksi social dan lingkungan publik. Sedangkan Indonesia dikenal sebagai Negara memiliki kesantunan, menjunjungi nilai agama dan budaya.

Atau bisa jadi kurikulum yang diterapkan oleh bangsa Indonesia lebih memperhatikan sisi kognitif sebab kurikulum di Indonesia selalu berubah-ubah dari tahun ketahun. Mulai dari kurikulum 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, serta 2006. Kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana menerapkan kurikulum 2013, seakan-akan bangsa yang gila terhadap kurikulum. Hitunglah jumlah kurikulum sejak merdeka hingga kini, akan didapati bahwa Indonesia adalah bangsa yang memiliki paling banyak kurikulum, tetapi tingkat mutu pendidikan tetap rendah  sedangkan sisi emosional dan akhlak diabaikan. Seperti dikatakan Bahren Nurdin (2013:25) bahwa pendidikan selama ini terlalu mendewakan IQ (Intelligence quotient) karena desing kurikulum masih menempatkan kecerdasan intelijensia paling penting.  Mungkin sisi emosional dan akhlak tidak begitu penting diterapkan dalam lingkungan pendidikan (Sekolah/kampus), jangan-jangan yang berkaitan tatakarma cukup tugas para da’I maupun da’iah, orang tua, masyarakat bukan urusan pemerintah.

Bisa jadi pendidik juga tidak memiliki tatakrama dan krakteristik sehingga wajar anak didik melakukan seperti itu. Sedangkan Karakteristik yang harus dimiliki pendidik dalam melaksanakan tugasnya dalam mendidik, yaitu (a) kematangan diri yang stabil, memahami diri sendiri, mandiri, dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan. (b) kematangan sosial yang stabil, memiliki pengetahuan yang cukup tentang masyarakat, dan mempunyai kecakapan membina kerjasama dengan orang lain. (c) kematangan profesional (kemampuan mendidik), yaitu menaruh perhatian dan sikap cinta terhadap anak didik serta mempunyai pengetahuan yang cukup tentang latar belakang anak didik dan perkembangannya, memiliki kecakapan dalam menggunkan cara-cara mendidik. Ini adalah tugas bersama bagi kita semua. Hendaknya memiliki ruh sebagai pendidik, ketika mentransfer ilmu dibarengi mentransfer akhlak dan karakter. Dengan tujuan adanya keseimbangan antara otak dan tatakrama. Kualitas manusia bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan dan keahlian. Tdak cukup manusia dinilai dari kepakaran, keterampilan dan professional saja. Oleh karena itu sesungguhnya kualitas manusia ditentukan oleh kompetensi  dan karakter (Erie Sudewo).

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Menoropong Hari Kemenangan Disisi Yang Lain


Pemuda Zaman Sekarang Lebih Sering ke Rumah Pacar Dibandingkan ke Rumah Allah

Pemuda Zaman Sekarang Lebih Sering ke Rumah Pacar Dibandingkan ke Rumah Allah

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. Al’Israa:37)

Suasana lebaran sudah usai, satu persatu sanak saudara sudah kembali kekota masing-masing untuk melanjutkan scenario kehidupan yang telah tertulis di MahfuzhNya dan mengikuti perputaran waktu entah akan berakhir dimana serta bagaimana. Terpenting dalam putaran waktu harus berusaha dan mengisi waktu-waktu dengan menghasilkan pahala serta karya. Jika tidak memanfaatkan waktu berputar begitu cepat dengan amalan, karya dan usaha maka siap-siap saja menjadi manusia yang menyesal dikemudian hari karena penyelasan selalu terakhir. Bilamana penyelasan diawal itu namanya registrasi hohohoho….

Kebersamaan dan keramaian itu hanya bisa dinikmati sesaat setelah itu keramaian dan canda akan menyendiri diperantuan. Ini lah makna lebaran secara sederhana yaitu mampu mengumbulkan kembali keluarga dari jauh untuk saling silaturahmi, saling memaafkan, saling bertatap muka dengan senyum bahagia, saling menanya kabar masing-masing dengan keluarga dikampung halaman serta kembali mengingatkan memory masa lalu. Lebih penting lagi dari lebaran yaitu begitu mudah bagi siapapun untuk meminta maaf dan memaafkan hal ini sangat sulit ditemui di sebalas bulan berikutnya. Maaf dan ibadah yang telah dijalankan insyaAllah mengantarkan kita sebagai pribadi sholeh secara sosial maupun personal karena ini tujuan dari ibadah dan bermaafan serta tidak mengulangi kembali kesalahan pernah dilakukan.

Bila boleh jujur ketika  masa kecil dulu hari lebaran terasa bermakna, begitu antusias untuk memakai baju lebaran, pagi-pagi sudah mandi biar cepat pakai baju lebaran dan bahagia yang penuh tawa. Walaupun masa itu belum dimeriahkan THR seperti saat ini tetap ada kesan sangat menyentuh hati. Entah kenapa beranjak atau bertambah usia (dewasa) seakan-akan makna lebaran itu memudar dalam qolbu. Seolah-olah lebaran bermakna ketika maaf kepada orangtua. Seakan-akan lebaran hanya terasa ketika sholat idul fitri, namun setelah bersalam-salam semua menjadi hambar. Seperti bukan ia saja merasakan hal yang serupa. Apakah ini bertanda bahwa hati sudah mulai ternodai dengan noda-noda hitam sehingga tidak merasa kemeriah lebaran. Mungkin karena kegiatan lebaran hanya mengulangi kembali runitas yang sama sehingga menibulkan kejenuhan. Apalagi sebagai manusia harus ada gerakan perubahan untuk menghilang kebosanan atau kejenuhan.

Tidak hanya itu warna-warni dari lebaran, akan tetapi ada suatu kejanggalan dihati. Mungkin ini hanya pengamatan yang tidak berarti tetapi ada suatu hikmah yang dipetik dari pengamatan melalui rutinitas lebaran yaitu kemewahan dalam berdandan. Apakah kemewahan berdandan hanya berlaku pada wanita saja atau laki-laki juga seperti itu. Misalnya bagaimana para ibu-ibu terutama memiliki kelebihan dalam harta, tahta dan jabatan betapa pakaian yang dipakai pada hari lebaran sangat lux sehingga sangat jelas perbedaan orang yang beruang, perbedaan memiliki status sosial ditengah masyarakat, sangat kentara perbedaan mereka dari kota yang sudah mencapai kesuksesaan, perbedaan berpendidikan tinggi dan sangat berbeda dengan mereka yang biasa-biasa saja. Selain itu, melihat para ibu-ibu atau wanita menggunakan perhiasaan hampir seluruh tangan sudah dihiasi dengan warna emas (perhiasan, emas). Seolah-olah hari lebaran merupakan bagian unjuk kekayaan dan secara tersirat mengatakan ini loh kekayaan gue!!! Semoga bukan seperti itu dan mungkin itu hanya analisa seorang akademis yang suka mengamati lingkungan secara diam-diam bahkan terkadang melalui analisa tersebut berharap dijadikan materi perenungan untuk bersikap lebih sederhana dan tak lupa pula sekali-kali pengamatan tersebut dicocokan dengan al-quran maupun hadist.

Lalu, yang sering didengar ketika para ibu-ibu berkumpul ketika silaturahmi atau ketemu dijalan begitu antusias menceritakan kelebihan anak mereka masing-masing. Misalnya dengan lantang menceritakan prestasi anak-anak, kerja anak-anak, kuliah dikampus grade one dan sebagainya. Padahal bila ditinjau dari perspektif islam sudah diatur secara indah bagaimana bermuamalah dan berdandan. Realitas berkata berbeda yang mana saling membanggakan kekayaan, tahta dan kesuksesaan anak. Ada baiknya apapun dimiliki tidak perlu diceritakan dan menampakan perhiasan tersebut. Tanpa diceritakan sesungguhnya orang sudah tahu segala dimiliki. Bersikaplah secara sederhana dan berbicaralah secara bijak bukan untuk menjatuhkan apalagi bertujuan untuk menyentil mereka yang belum sukses. Atau mungkin mereka yang mempamerkan apa dimiliki agar  mendapat pujian. Atau ada maksud lain!!! Bukankah diatas langit ada langit!!!

Ironinya lagi, ada perbedaan penghormatan yang berlebihan pada mereka yang memiliki tahta, kekayaan, pendidikan, dan putra-putri sudah sukses. Pada umumnya ditengah masyarakat beranggapan bahwa tahta, kekayaan, pendidikan dan kesuksesaan merupakan bagain dari media kemuliaan. Padahal bilama meminjam ungkap Quraih Shihab bahwa sesungguhnya kemulian nan abadi bukanlah tahta, kekayaan, pendidikan dan kesuksesaan karena itu berlaku didunia saja melainkan kemuliaan nan abadi adalah ketaqwaan. Tapi indikator tersebut sangat jarang dipergunakan untuk memuliakan seseorang ditengah masyarakat.  Sejak dari kecil melihat fenomena penghormatan seperti itu!!!

Berharap hasil pengamatan lingkungan menjadi panduan bagi ia untuk tidak memilah atau memilih untuk menghormati siapapun, untuk ramah pada siapapun serta tidak membanggakan apapun yang dimiliki atau diraih karena semua adalah titipan Allah maupun ujian Allah titipkan untuk sementara. Sewaktu-waktu dan Allah sudah berkehendak begitu mudah mengambil kembali titipan tersebut untuk dititipkan pada orang lain lagi karena hidup ini giliran seperti putaran roda. Bukan pemikiran dan sikap seperti itu merupakan peningkatan kebijaksanaan atau ciri-ciri orang yang memahami makna hidup yang sesungguhnya. Bukankah setiap manusia diciptakan memiliki dan kekurang masing-masing karena tidak ada yang sempurna. Maka hormati, ramah, sapa dan bersikap baiklah kepada siapapun meskipun orang tersebut sudah berlaku tidak adil pada kita. Itu cara bijak agar hidup menjadi indah, penuh syukur dah rahmaah.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

%d bloggers like this: