Memenuhi: Sisi Intelektual Dan Sisi Feminisme

memenuhi: sisi intelektual dan feminismeSudah lama tak berkomunikasi dengan teman kuliah, tiba-tiba dipagi menjelang siang dihubungi melalui by phone. Percakapan didukung dengan sinar matahari yang sangat terang. Secerah rasa sedang berbunga-bunga dalam rasa. Namun rasa itu tidak tahu entah kemana muara yang tepat untuk dilapuhkan. Apakah rasa itu perlu dirangkai kepada suatu tempat atau rasa itu akan dibingkai pada satu nama???

Meskipun by phone jarang saling komunikasi tetapi by social media tetap saling menyapa. Ini kemudahan hidup era digital terjadi interaksi menarik melalui sosial media. Biasanya jika teman lama sudah lama berkomunikasi tentu banyak hal ingin dibagikan. Mulai hal tidak penting hingga guyonan tidak bermakna. Terkadang ada masa guyonan didahulukan dalam percakapan agar kebekuan suasana menjadi strategi awal untuk mengungkap sesuatu yang serius. Kali ini tema diangkat masih seputar dunia akademis karena ku dan dia memang interest dunia pendidikan.

Dunia pendidikan selalu menyuguhi dua rasa yang berbeda antara kerumitan dan pretesius reward dari masyarakat. Apalagi saat ini jika melihat berita dan realitas disekitar kita selalu PR pendidikan yang belum terselaikan. Mulai dari ijazah palsu, plagiat, biaya kuliah, aturan pendidikan yang semakin ribet dan ketidak keseimbangan tuntutan dengan reward diperoleh. Pada salah satu account social media ada memek mempaparkan bahwa artis dibayar mahal untuk merusak akhlak bangsa sedang guru memiliki tugas mulia dibayar dengan sangat murah. Ya begitu faktanya…^__^

Bila seseorang sudah passion dan mencintai dunia pendidikan meskipun dihargai dengan harga minim itu tidak akan menjadi kendala atau hambatan untuk terus menebar kebaikan kepada anak didik maupun dunia pendidikan. Akan menjadi masalah apabila tujuan mendidik hanya sebatas reward and financial. Padahal esensial dari pendidikan bukan sebatas reward sosial, reward status dan reward financial. Melainkan adalah bentuk implentasi ilmu dan sebagai amal ibadah.

Tidak hanya itu dibahas selama sekitar 1jam telphonan. Setelah mendetail satu persatu permasalahan dunia pendidikan ditinjau segala aspek. Akhirnya sampai juga pada session personal. Ketika sudah menyetuh point tersebut mulai tertawa terbahak-bahak.  Kali ini nasehatnya sangat menyentuh dan sudah teramat sering teman-teman memberi motivasi seputar feminisme. Nasehat mereka benar adanya, semakin banyak teman memberi nasehat berharap semakin hati luluh dan bergerak seperti petir mengilat bumi untuk merealisasikannya. Sehingga tidak ada lagi yang bertanya dengan pertanyaan yang sama oleh banyak orang disekitar ia. Terkadang pertanyaan tersebut menjadi motivasi dan tidak sering pula pertanyaan membuat jadi down. Bukankah manusia hanya bisa berencana dan berusaha. Sehingga pada akhirnya hasil itu semua Allah yang menentukannya.

Apakah kegairahan mengenjar intelektual ini adalah dampak dari mimpi-mimpi yang tertulis indah dalam buku pink itu. Ataukah ini adalah efek bertemen dari orang-orang yang cerdas sehingga yang diutamakan intelektual bukan feminism. Mungkinkah ini adalah sudah jalan dari Rabbi sangat penentu kehidupan manusia agar berada dijalan penuh ilmiahnya. Apakah Allah memberi jalan lain untuk memenuhi sisi feminisme tetapi ia tidak kuat menangkap sinyal-sinyal itu. Tetapi beryakinan sisi intelektual yang diseriuskan bukan berarti menyampingkan feminism melainkan ini cara bagaimana kedua sisi berjalan dengan beriringan. Meskipun tahu bahwa kedua sisi susah dipertemukan dalam satu arena karena kedua sisi tersebut memiliki metode atau aplikasi berbeda-berbeda.

Begitulah kehangat perbincangan melalui by phone. Tentu sebagai anak muda ketika dinasehati oleh usia lebih tinggi dari ia harus mendengar, menyimak dan menjadi materi kontemplasi. Doa saja semoga sisi feminism akan segara terisi oleh seseorang yang memiliki unsur kebaikan dan unsur Ke-Tuhan_an. Sehingga intelektual dan feminis mampu beriringan dalam menuju sebuah harapan tertulis dalam agenda ilaiah serta agenda nya. Pada akhirnya terimakasih teman kalian selalu menasehati dan mengingati. Itu bukti perhatian dan kasih pada nya. Hidup ini memang harus diingati terus agar tidak terlena, tergelincir dan tersiakan oleh sesuatu tidak membawa kebaikan. Tunggu saja kabar gembira….^___^ hohohoho….

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: