Rumus Menulis Cuma satu “asal mau”


Rumus Menulis Cuma satu “asal mau”Setelah menerbit beberapa buku ada beberapa orang secara langsung maupun sindiran minta diajari menulis dan di bimbing bagaimana merangkai kata. Selalu menjawab bahwa ia baru sebagai penulis pemula yang perlu belajar menulis secara terus menerus dan rasanya tidak bijak saja jika saya dijadikan sebagai tutor karena merasa jauh dari apa yang dibayangi oleh mereka. Pada dasarnya menulis tidak ada teori, tidak rumusnya dan tidak ada strateginya. Cukup dengan kamauan yang kuat, ditambahin dengan kebiasaan secara terus menerus dan pede dengan hasil tulisan. Sebenarnya itu lah rumus dan strategi menulis sesungguhnya. Yang berbeda terletak pada kriteri menulis ilmiah, opini ilmiah, essay, novel dan puisi. Sedangkan merangkai menulis terserah mau dimulai dari yang umum maupun yang khusus tergantung pribadi penulis.

Jujur awal mula juga tidak pernah tahu memiliki bakat menulis karena ketika sekolah dulu setiap pelajaran bahasa Indonesia khususnya mengarang tidak tahu bagaimana merangkai kata menjadi kalimat inspirasi, menyatukan kata menjadi kalimat mengugah rasa dan selalu tidak tahu dari mengawalii serta mengakhir. “parahkan dan kini mau dikasih nulis berapa lembar dan berjam-jam sangat siap”.

Jadi apa yang membuat saya bisa menulis sehingga bisa menghasilkan beberapa buku dan mengupdate blog secara terus menerus? Bilamana melihat sejarah perjalanan menulis bermuala hidup di kota bandung. Saat itu mengikuti pelatihan entrepreneur di ITB yang bekerjasama dengan provider terbesar di Indonesia. Biasa kalau motivator sudah berdiri di depan audiensi bermacam-macam yang ditanya mulai dari guyonan hingga seriusan. Begitulah strategi yang digunakan motivator untuk mencairkan suasana dan menggenal karakteristik audiensi. Pas di tengah acara berlangsung dengan kenikmat penuh alunan motivasi, tiba-tiba motivator bertanya! Dari sekian banyak audien hadir siapa sudah memiliki perangkat teknologi, terbiasa search engine dan memiliki blog. Betapa malunya, dari sekian banyak peserta yang hadir Cuma diri ku tidak memiliki blog. Setelah mengikuti pelatihan tersebut kembali kekosan (Jatinangor) bertekad untuk memiliki blog.

Alhahamdulilah nya kosan dilengkapi WIFI jadi bisa langsung action demi menerapi keinginan yang didorang oleh motivator di kampus ITB. Bermalam-malam hingga bergadang coba buat blog mulai dari wordpress hingga blog keroyokan. Padahal belum tahu bagaimana cara create account on wordpress dan sebagainya. Namun strategi out of box keluar dengan belajar otadidak bisa membuat blog. Setiap hari nulis asal-asal, awal mula tulisan dipublish seputar puisi cinta hohohoho….”maklum anak kuliah pikiran hanya seputar itu aja dan belum terpikir untuk menganalisa buku maupun fenomena sosial” sangat berbeda saat ini yang mana aroma cinta dalam kepenulisan mulai menipis dan lebih focus pada dunia science ataupun knowledge. Apakah pengaruh dari usia dan pekerjaan!!! Maybe no or mybe yes hohoho….

Ternyata ketika melanjuti kuliah strata dua dituntut untuk memiliki blog oleh dosen. Semakin hari semakin gila menulis. Walaupun tulisan yang dituliskan belum memiliki nilai kebermanfaatan luar biasa bagi pembaca tetapi tetap menulis meskipun tulisan akan dikritik dengan nada jelek atau tidak di baca oleh pengunjung akan terus update blog. Sehingga waktu itu punya tagline one day one publish. Cara mendorong diri agar terus menulis meskipun dalam suatu waktu kemalasan melanda untuk menulis. Berjalannya waktu tidak terasa tulisan diblog terus bertambah kunjungan juga semakin meningkat, yang comment juga sudah dari berbagai Negara dan varian tulisan juga sudah semakin berkembang.

Sejak melihat perkembangan menulis sudah mencukupi. Memberanikan diri untuk menulis essay dikrim majalah online, berita online dan karena ingin bergabung dengan komunitas opini di jambi memaksa diri untuk menulis opini. Dengan bismillah coba krim opini pada Koran ternama dijambi. Subhanallah akhir diterbit, sungguh bahagia luar biasa dan hampir setiap tulisan dikrim dimuat meskipun ada juga yang ditolak. Tapi itu adalah hal biasa terkadang diterima dan ditolak. Semakin sering opini ditolak akhirnya berpindahan haluan untuk membuat buku. Kumpulan essay yang pernah dipublish dikumpul kembali untuk disatukan menjadi sebuah buku namun ikhtiar sia-sia. Tak patah semangat terus berpikir apa yang bisa dibukukan. Mungkin sudah jalan dari Allah mempertemukan seseorang di komunitas Pelanta. Sejak bertemu semangat mulai membara. Alhamdulillah buku pertama diterima penerbit Graha Ilmu. Tidak berhenti disana terus menulis akhirnya bisa menulis 3 buku “Budaya Kerja Pustakawan Era Digital dari perspektif organisasi, relasi & individu, Perpustakaan Era keterbukaan informasi public” dan Mengenal Sumber Kebijakan Perpustakaan” diterima oleh graha ilmu. Kemudian Revolusi sumber informasi digital diterbitkan secara indie. Setelah menulis empat buku masih menantang diri untuk bisa menulis novel yang bernuansa dakwah, sejarah dan cinta dalam satu novel. Rata-rata novel yang diamati atau dibaca dari penulis ternama mereka mempadupadankan kompisi tersebut sehingga menghasilkan novel yang melekat dihati. Sebenarnya judul novel sudah ada tinggal melihat atau meninjau beberapa referensi dari penulis ternama tentang bagaimana alur penulisan novel oleh mereka. Semoga setelah lebaran memulai menulis novel dan berharap diterima penerbit.

Itu sekelumit history awal mulai mencintai dunia penulisan. Terkadang dalam satu minggu atau bulan tidak pernah sama sekali menulis karena terbawa mood dan kesibukan lainnya. Sedangkan untuk mendapat inspirasi betapa banyak media digunakan untuk memperoleh ide.  Makanya ditablet semua aplikasi yang didownload lebih cenderung pada aplikasi yang bisa menemukan ide. Apalagi bumi dan isi pada dasarnya adalah  media untuk menemui yang diberikan atau disungguhi Cuma-Cuma untuk, tinggal bagaimana jeli menangkap ide tersebut. Tapi sayang belum semua orang beranggapan dan menyadari bumi serta isi adalah media untuk memperoleh idea. Biasa paling gampang dapat ide adalah ketika membaca buku, travelling, lagu melo dan saat mendengar perdebatan. Setiap orang akan memiliki cara sendiri memperoleh ide. Apa salahnya coba meniru cara penulis lain ketika mendapat ide-ide.

Jadi kesimpulannya bahwasanya tidak ada rumus khusus untuk menulis karena menulis bukan matematika yang memerlukan formula. Asal ada kamauan dan terus memumpuk habbit writing maka akan mahir maupun professional sendiri. Jangan takut menulis, jangan takut salah teori, jangan takut dikomentar dan jangan takut tulisan dibaca. Ketika kebiasaan sudah tumbuh akan tahu sendiri teori menulis itu seperti apa dan bagaimana cara merangkai tulisan enak dibaca oleh siapapun. Agar tulisan semakin renyah maka banyak membaca dan melihat gaya penulisan oleh orang lain. Seperti kata mutiara good writing is good reading.

Menulis merupakan cara mengasah pemikiran, membentuk pribadi kritis dan bagaimana memberi solusi atau tanggapan. Yang pasti keyword menulis hanya 5W plus 1H. jika sudah  terbiasa menulis akan mengatakan bahwa nulis itu mudah, nulis nyenangi, nulis buat happi dan nulis bisa menghasilkan uang hohohoho….rasanya rumus asal mau tidak hanya berlaku dalam dunia kepenulisan melain dari segala bidang juga berlaku formula itu.

Selamat Menulis dan mencoba terus menerus.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Memenuhi: Sisi Intelektual Dan Sisi Feminisme


memenuhi: sisi intelektual dan feminismeSudah lama tak berkomunikasi dengan teman kuliah, tiba-tiba dipagi menjelang siang dihubungi melalui by phone. Percakapan didukung dengan sinar matahari yang sangat terang. Secerah rasa sedang berbunga-bunga dalam rasa. Namun rasa itu tidak tahu entah kemana muara yang tepat untuk dilapuhkan. Apakah rasa itu perlu dirangkai kepada suatu tempat atau rasa itu akan dibingkai pada satu nama???

Meskipun by phone jarang saling komunikasi tetapi by social media tetap saling menyapa. Ini kemudahan hidup era digital terjadi interaksi menarik melalui sosial media. Biasanya jika teman lama sudah lama berkomunikasi tentu banyak hal ingin dibagikan. Mulai hal tidak penting hingga guyonan tidak bermakna. Terkadang ada masa guyonan didahulukan dalam percakapan agar kebekuan suasana menjadi strategi awal untuk mengungkap sesuatu yang serius. Kali ini tema diangkat masih seputar dunia akademis karena ku dan dia memang interest dunia pendidikan.

Dunia pendidikan selalu menyuguhi dua rasa yang berbeda antara kerumitan dan pretesius reward dari masyarakat. Apalagi saat ini jika melihat berita dan realitas disekitar kita selalu PR pendidikan yang belum terselaikan. Mulai dari ijazah palsu, plagiat, biaya kuliah, aturan pendidikan yang semakin ribet dan ketidak keseimbangan tuntutan dengan reward diperoleh. Pada salah satu account social media ada memek mempaparkan bahwa artis dibayar mahal untuk merusak akhlak bangsa sedang guru memiliki tugas mulia dibayar dengan sangat murah. Ya begitu faktanya…^__^

Bila seseorang sudah passion dan mencintai dunia pendidikan meskipun dihargai dengan harga minim itu tidak akan menjadi kendala atau hambatan untuk terus menebar kebaikan kepada anak didik maupun dunia pendidikan. Akan menjadi masalah apabila tujuan mendidik hanya sebatas reward and financial. Padahal esensial dari pendidikan bukan sebatas reward sosial, reward status dan reward financial. Melainkan adalah bentuk implentasi ilmu dan sebagai amal ibadah.

Tidak hanya itu dibahas selama sekitar 1jam telphonan. Setelah mendetail satu persatu permasalahan dunia pendidikan ditinjau segala aspek. Akhirnya sampai juga pada session personal. Ketika sudah menyetuh point tersebut mulai tertawa terbahak-bahak.  Kali ini nasehatnya sangat menyentuh dan sudah teramat sering teman-teman memberi motivasi seputar feminisme. Nasehat mereka benar adanya, semakin banyak teman memberi nasehat berharap semakin hati luluh dan bergerak seperti petir mengilat bumi untuk merealisasikannya. Sehingga tidak ada lagi yang bertanya dengan pertanyaan yang sama oleh banyak orang disekitar ia. Terkadang pertanyaan tersebut menjadi motivasi dan tidak sering pula pertanyaan membuat jadi down. Bukankah manusia hanya bisa berencana dan berusaha. Sehingga pada akhirnya hasil itu semua Allah yang menentukannya.

Apakah kegairahan mengenjar intelektual ini adalah dampak dari mimpi-mimpi yang tertulis indah dalam buku pink itu. Ataukah ini adalah efek bertemen dari orang-orang yang cerdas sehingga yang diutamakan intelektual bukan feminism. Mungkinkah ini adalah sudah jalan dari Rabbi sangat penentu kehidupan manusia agar berada dijalan penuh ilmiahnya. Apakah Allah memberi jalan lain untuk memenuhi sisi feminisme tetapi ia tidak kuat menangkap sinyal-sinyal itu. Tetapi beryakinan sisi intelektual yang diseriuskan bukan berarti menyampingkan feminism melainkan ini cara bagaimana kedua sisi berjalan dengan beriringan. Meskipun tahu bahwa kedua sisi susah dipertemukan dalam satu arena karena kedua sisi tersebut memiliki metode atau aplikasi berbeda-berbeda.

Begitulah kehangat perbincangan melalui by phone. Tentu sebagai anak muda ketika dinasehati oleh usia lebih tinggi dari ia harus mendengar, menyimak dan menjadi materi kontemplasi. Doa saja semoga sisi feminism akan segara terisi oleh seseorang yang memiliki unsur kebaikan dan unsur Ke-Tuhan_an. Sehingga intelektual dan feminis mampu beriringan dalam menuju sebuah harapan tertulis dalam agenda ilaiah serta agenda nya. Pada akhirnya terimakasih teman kalian selalu menasehati dan mengingati. Itu bukti perhatian dan kasih pada nya. Hidup ini memang harus diingati terus agar tidak terlena, tergelincir dan tersiakan oleh sesuatu tidak membawa kebaikan. Tunggu saja kabar gembira….^___^ hohohoho….

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

LGBT: Jangan mengulangi kesalahan umat yang sama


LGBT: Jangan mengulangi kesalahan umat yang samaSetelah Negara Pam Sam melegalkan pernikahan lawan jenis dan hampir seluruh surat kabar maupun berita online dipenuhi isu seputar LGBT (Lesbian, gay, biseks dan transender). Sangat wajar dunia bersuara dengan pro dan kontrak karena Amerika serikat adalah acuan utama dalam segala hal. Meskipun Amerika bukan Negara pertama yang menyetujui pernikahan lawan jenis tetapi semua mata sedang berkiblat negeri adi kuasa tersebut karena apapun yang terjadi di Amerika selalu disoroti sehingga menjadi landasan Negara lainnya.

Padahal di agama manapun terutama Islam dan kristis sangat menentang LGBT. Entah apa yang membuat Amerika melegalisasikan. Apakah ini faktor politik karena kita tahui bersama sebentar lagi Amerika akan terjadi pergantian kepala pemerintah sehingga bagaimana mengambil hati atau pendukung dari pihak LGBT, entahlah. Atau bisa jadi kaum LGBT pintar diplomasi dengan cara merasa dimarginalkan oleh pemerintah maupun sosial. Seperti ditulis oleh masyarakat Indonesia sedangkan bekerja di Amerika bahkan sang penulis tersebut juga memiliki teman Gay bahwa taktik yang digunakan oleh komunitas rainbow yaitu mereka membuat diri mereka merasa terjajah, terhina, terdiskriminasi, lalu mereka terlihat seolah-olah minta dikasihani dan orang-orang yang mengasihi pun ternyata terperangkap. Meskipun mereka bukan bagian dari kaum itu, lalu orang-orang yang mengasihani pun menyemangati mereka, menyuruh untuk tegar dan pada akhirnya menyuruh mereka berbangga diri (pride) jadi kaum itu (Piyungan online, 1 Julii 2015).

Bayangkan saja binatang yang tidak memiliki pemikiran saja tidak mau sesama jenis karena tidak akan bisa terpenuhi apa yang diinginkan. Atau bisa disimpulkan kaum rainbow tidak menggunakan pemikiran dan iman mereka untuk menjauhi hal tersebut sehingga lebih mengutamakan nafsu. Andai ditinjau dari  dari psikologi dan kesahatan secara kasat mata akan ada bagian jiwa tidak bisa terpenuhi. sudah banyak kisah maupun fakta bagaiamana kisah cinta LBGT berakhir sadis dan tidak bisa saling memenuhi secara gen antara mereka sama. Allah menciptakan manusia berpasangan sudah mengetahui bahwa adam dan hawa adalah pasangan saling memenuhi dan saling melengkapi bukan sebaliknya. Jika umat berani melawan kodrat apa telah ditetakan Allah tentu ada konsekuensi yang harus diterima.

Apapun alasan atau pertimbangan ini merupakan suatu keputusan yang sangat mundur dan tidak belajar dari sejarah abad-abad yang lalu. Bukan sejarah sudah memberi hikmah bagi siapapun untuk bertindak dan mengambil keputusan. Jika melihat sejarah bagaimana kehidupan orang-orang mengadopsi LGBT memberi dampak sangat buruk. Baik dari sisi dunia maupun akhirat. Tentu tidak ingin bumi dikrim azab dari Allah swt. Apakah mereka memutuskan ligalisasi LGBT hanya melihat dari sudut HAM saja dan tidak menggunakan pendekatan agama. Biasanya ketika memutusakan sesuatu dari sisi HAM adalah orang-orang berpikir liberal. Pemikiran liberal beranggapan bahwa hak asasi lebih tinggi dari norma agama. Ini bahayanya pemikiran yang lebih menjunjung tinggi HAM dari pada kesakralan agama.

Ketika LGBT sudah dilegalisasikan di daratan jauh sana, tentu menjadi warning bagi ibu-ibu atau orang tua di Indonesia untuk lebih hati-hati lagi mendidik anak, memantau siapa teman mereka dan  memeriksa smartphone setiap saat karena begitu mudah untuk menemukan komunitas tersebut terutama di dunia maya. Semakin bertambah lagi tugas orangtua untuk memperhatikan anak-anak. Bila tidak jeli bisa jadi anak-anak penerus bangsa akan terjerumus pada hal-hal dilarang oleh Allah.

Mari kita sebagai umat Muhammad dan hamba Allah untuk menentang LGBT dengan keras. Jangan sampai di Indonesia terjadi hal serupa karena sudah ada indikasi akan terjadi di Indonesia misalnya terlihat dari dukungan dari artis yang secara terang-terangan mendukung hal yang dilarang agama. Apa jadinya bila anak-anak sudah terjerumus kesana tentu orangtua dan keluarga merasa dampaknya. Yakinlah apapun yang dilarang oleh agama demi kebaikan manusia, kedamaian dan kebahagian manusia. Sayangnya manusia lebih menyampingkan aturan tersebut akhirnya apa??? Terjadilah bencana maupun azab yang diturunkan secara tiba-tiba. Bila azab atau bencana diturunkan tentu yang akan mengalami resiko tetap Neraga dan pada akhirnya menambah beban keuangan Negara. Padahal tahu keuangan Negara sedang terseok-seok. Seharusnya keuangan Negara bisa dialihkan untuk pembangunan insprastruktur tetapi dialihkan untuk bencana. Itu baru dampak dunia belum akhir lebih menggerikan.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

%d bloggers like this: