Kognitif mahasiswa semakin memudar

Kognitif mahasiswa semakin memudarUntuk pertama kali membuat soal UTS tentang analisa yang berpelit-pelit. Padahal tujuan utama dari soal tersebut focus pada satu poin. Sengaja membuat soal seperti itu untuk melihat sejauh mana mahasiswa bisa menganalisa content dan soal yang diberikan persis soal ujian psikotes. Dimana diajak berputar-putar membacanya padahal ending soal itu tetap pada point pertama. Soal UTS disebarkan satu persatu pada mahasiswa dan sebelum mereka menggerjakan tugas tersebut dirumah. Coba menjelaskan sedetail-detail mungkin dan memberi kesempatn mereka untuk bertanya agar tidak ada kebingungan sesampai dikosan karena selama ini setiap dikasih tugas dengan penjelasan yang komplik masih ada yang bertanya melalui SMS. Ketika dikasih kesempatan untuk mengeluarkan pendapat diruangan kelas rata-rata diam seribu bahasa. Itu ciria-ciri mahasiswa masa kini ketika ditanya ada dua kemungkinan (1) senyum-senyum dan (2) diam semari menduduk. Apakah dimasa dulu karakter mahasiswa juga seperti ini!!!

Pada esensinya soal yang diberikan untuk merupakan ruang bereksprimen seluas-luas mungkin, mengeluarkan ide-ide segar dan ingin melihat sejauh mana mereka bisa mengungkapkan ide melalui tulisan. Waktu pengerjaan tugas UTS satu minggu dan  waktu yang normal diberikan oleh dosen manapun.

Waktu pengumpulan tugas pun tiba, mereka mengumpul satu-satu persatu dan memeriksa satu persatu. Sungguh sangat mengecewakan, dari sekian puluhan mahasiswa dalam satu kelas hanya beberapa yang mendekati benar. Sedangkan yang lain asal buat tugas, asal ngumpul, asal selesai dan lebih parahnya lagi tidak ada yang mengumpulkan tugas dengan dalih-dalih klasik para mahasiswa. Strategi apapun dipakai mahasiswa untuk membohongi dosen, sudah bisa ditanggap secara dosen yang mengampu mata kuliah sudah bertahun-tahun kuliah dan paham bagaimana mahasiswa mencari taktik agar dikasihi dosen. Entah nilai apa yang harus diberikan dan apakah mungkin memberi nilai yang sebenarnya secara tidak memenuhi standar penilian. Padahal disisi lain petinggi fakultas selalu memberi peringatan untuk memberi mahasiswa nilai-nilai yang tinggi karena akan terpengaruhi dengan IPK. Ketika nilai mahasiswa rendah dan setelah lulus otomatis sudah kalah dulu dengan lulusan universitas lainnya. Apalagi saat ini untuk memasuki dunia kerja sebelum lulus bahan yang dilihat adalah nilai matakuliah. Dilemma dosen antara idealism dan tuntunan dari pihak petinggi. Bukan kali ini mendengar petinggi tersebut berbicara hal tersebut pada dosen-dosen agar memperhatikan sisi serapan lowongan kerja. Dan pernah juga ketika menguji ujian skripsi mahasiswa sebelum masuk ruangan ujian sudah diingatkan dulu untuk tidak memberi nilai yang tidak layak.

Ketika melihat hasil ujian mahasiswa di atas kertas lembaran jawaban, pikiran melayang entah kemana dan ada rasa kesal seakan-akan tidak mengindahkan penjelasan yang begitu detail diruangan kuliah. Apa yang membuat kognitif mahasiswa semakin mundur. Apakah tidak terbiasa beranalisa. Apakah selama ini belum pernah mendapat soal seperti itu karena kebiasaan dosen masih memberi tugas berkaitan defenisi, fungsi dan manfaat bahkan sangat jarang menemui dosen memberi soal untuk menganalisa (content, analisa gesture, analisa lingkungan). Apakah ini dampak dari mereka tidak terbiasa menulis dan membaca sehingga ide mereka sangat terbatas. Padahal keyword untuk menganalisa apapun adalah banyak membaca dan terbiasa menulis dengan menggunakan unsur 5W+1H. ketika kedua kebiasaan itu sudah menjadi habbit dan kebutuhan dapat menumbuhkan jiwa analitis yang kritis. Apakah ini dampak dari gaya hidup mahasiswa lebih mementingkan gadget (smarphone), fashionable, hedonism dan tidak tahu tujuan utama dari pendidikan. Seperti beberapa opini dibaca yang masih konsisten mengkritik sistim pendidikan Indonesia dari hulu hingga hilir bermasalah semua.  Misalnya problematika kualitas guru, pendidikan berkualitas sebatas wacana dan pendidikan sudah berubah konsep libralisme. Jangan-jangan pendidikan di Indonesia sengaja dibuat rumit begini oleh kaum tertentu agar Indonesia tetap ketinggalan dalam sector apapun dan ketika suatu bangsa masih dalam kebodohan maka siap dijajah oleh Negara maju.

Jika kognitif mahasiswa masih rendah tentu akan berdampak pada masa depan Indonesia. Mahasiswa adalah regenerasi bangsa dan bila regenerasi bangsa hidupnya lebih focus pada hedonism, fasionable dan jauh dari nuansa pendidikan serta spiritual bisa ditebak bagaimana calon pemimpin kedepan yang kosong secara intelektual maupun spiritual. Bilamana terjadi kekosongan dua unsur tersebut maka berdampak pada program Indonesia kedepan. Bukan Indonesia membutuhkan mahasiswa yang prestasi dengan kognitif yang tajam. Bukan kah Indonesia masih kekurangan orang-orang cerdas sesungguhnya yang ada cerdaskan karena sogokan maupun pencitraan media. Bukan kah Indonesia rindu dengan calon pemimpin yang membawa perubahan kebaikan. Bukan kah Indonesia telah memberi ruang inovasi bagi anak muda untuk berkretif agar bisa bersaing nanti di ajang MEA.

Wahai mahasiswa, dimana kalian letak koginitif kalian. Apakah kognitif sudah tergerus oleh postmodern dan kognitif dipergunakan untuk karoke. Jika sudah tergerus mari kembali perbaiki kognitif itu dengan membaca dan menulis seperti kata toko bangsa Indonesia bahwa “calon pemimpin” terdapat dua ciri yaitu (1) jadilah penulis seperti wartawan dan berbicara seperti orator.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

One Response

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: