Lokalisasi (Bukan) Solusi

lokalisasi (bukan) solusiEkspansi dan bentuk bisnis prositusi di era digital semakin mengikuti perkembangan teknologi seperti saat ini mulai menjamur bisnis esek-esek (prositusi) di sosial media dengan cara yang sangat vulgar yaitu mendisplay picture atau mencantum content person (no Telpn/pin BB) dengan tujuan menarik hidung belang atau lelaki kesepian yang tertarik menggunakan jasa mereka maupun berlangganan. Sedangkan bentuk layanan jasa yang ditawarkan mulai sifat ringgan ( telpon sex) hingga terjadi berhubungan badan bahkan usia yang menjajaki diri di sosial media kisaran usia remaja hingga dewasa (usia produktif).
Lalu tawaran yang diberikan juga variatif tergantung dari level jasa yang diinginkan pelanggan seperti reality show disalah satu televise swasta yang secara langsung investigasi lokasi yang menawarkan jasa tersebut. Darisana terdiskripsikan bahwa harga yang ditawarkan berdasarkan waktu dan kelas yang diambil. Untuk lebih jelas bagaimana kehidupan para kupu-kupu malam bisa baca buku Jakarta Undercover. Seakan-akan prositusi di sosial media menjadi alternative bisnis mengiurkan bagi PSK karena mendapat kemudahan mencari pelanggan dan kemudahan mempromosi diri. Ini sangat membahayakan bagi genarasi bangsa Indonesia sebab penikmat atau pengakses sosial media rata-rata adalah generasi produktif, jika pemerintah tidak memblokir account/situs tersebut dan tidak bijak menggunakan sosial media. Bisa jadi terdorong untuk mengakses account prositusi. Ini pula yang mempersulit bagi pemerintah khusus menteri Kominfo untuk memblokir prositusi online khususnya di sosial media.
Protisitusi di Indonesia dianggap kejahatan terhadap kesusilaan/moral dan melawan hukum. Praktrek protitusi yang tampak yaitu pelacuran. Pelacuran adalah praktik protisitusi yang paling tampak, seringkali diwujudkan dalam kompleks pelacuran Indonesia yang dikenal dengan nama lokalikasi serta dapat ditemukan diseluruh negeri. Jika mempinjam teori dari Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Kehidupan Prostitusi di Indonesia oleh Syamsudin dijelaskan prositusi sebagai pekerja yang bersifat menyerahkan diri atau menjual jasa kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan upah sesuai apa yang diperjanjikan sebelumnya.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu lokalisasi terbesar se Asia Tenggara ada di Indonesia. Sementara mengutip dari Kementerian Sosial pada tahun 2012 mencatat ada 164 lokalisasi di Indonesia, ada 19 provinsi di Indonesia yang memiliki lokalisasi dan lebih 40 ribu lebih pekerja seks komersial (PSK) yang menghuni lokalisasi di seluruh Indonesia. Merupakan jumlah yang sangat mengcegangkan, bukan. Sementara ada beberapa daerah lokasi terkenal di Indonesia misalnya Sunan Kuning (Semarang), Dolly (Surabaya), Pasar Kembang ( Sarkem ) Yogyakarta, Tangerang yang dikenal dengan kota seribu kontrakan, bogor disebut istilah villa, batam dan Jambi sendiri berpusat di daerah pucuk. Tentu berterimakasih pada jajaran pemerintah saat ini, begitu semangat dan mengambil langkah yang tepat untuk menutupi lokalisasi tersebut. Jangan sampai pemerintah berikutnya mengizinkan ada lokalisasi ditanah melayu yang menjunjungi tinggi adat basandi syarak syarakbasandi kitabullah. Seperti yang terjadi dipemerintah Provinsi Jakarta yang coba mewacanakan kembali lokalisasi. Pada akhirnya menimbulkan pro dan kontrak ditengah masyarakat. Menjadi pertanyaan kita bersama, apakah dengan lokalisasi di jamin tidak ada prositusi ditempat yang lain? Padahal melegalalkan lokaliasi sama saja memelihara maksiat dan memberi dampak begitu luas. Apa sesungguhnya yang diharapkan dengan adanya lokalisasi? Untuk meningkat pendapatan suatu daerah, faktor perekonomian, mudah mengkontrol pelaku seks bahkan lebih ironis lagi bakal ada sertifikat bagi pelaku seks. Jika mengutip pendapat Nandang Burhanudin dalam artikel yang berjudul “Islam Indonesia Dihancurkan” bahwa sertifikat halal MUI dipermasalahan sedangkat sertifikat pelacur diperjuangkan, Asrama haji terlantarkan sedangkan asrama penjaja seks dibangungkan. Silahkan merenungi.
Legalisasi lokaliasi sangat kontras dengan hukum yang berlaku di Indonesia sebab bertantang dengan nilai-nilai keagamaan, moral serta melawan hukum. Misalnya bertentangan dengan ratifikasi perundang-undangan RI Nomor 7 Tahun 1984, perdagangan perempuan dan prostitusi dimasukan sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Menjadi dalih klasik kenapa protitusi masih bertahan karena faktor ekonomi dan kemiskinan? Apakah benar ini faktor utama prositusi makin marak? Jika memang protisutisu faktor utama adalah kemiskinan dan ekonomi sepertinya tidak relavan karena jika dikaitkan dengan di Negara-negara maju atau Negara-negara kaya meskipun tidak ada kemiskinan tetap saja prositusi eksis. Terus apa sebenar faktor utama kenapa prositusi susah untuk dibrantaskan dan hapuskan? jangan-jangan masih banyak permintaan atau ada suatu konspirasi yang sengaja ingin merusak bangsa melalui moral?
Jika boleh jujur sebagai wanita, pendidik, orang beragama menolak keras lokalisasi dengan berbagai alasan dan pada dasarnya kehadiran lokalisasi bukan sebagai solusi jangka panjang bahkan menjadi akar permasalahan yang berdampak sistemik baik bagi kesehatan lingkungan, moral, terhadap regenerasi bangsa notabane adalah penerus perabadan bangsa maupun bagi tatanan kehidupan lebih luas lagi. Ini adalah tugas bersama kita sebagai masyarakat Indonesia untuk mencari solusi bersama dengan cara cerdas, bagaimana seluruh lapisan masyarakat sama-sama partisipasi aktif menolak lokalisasi dengan mensosialiasi bahayanya prositusi dari persepktif ilmu apapun, mendesak seluruh pemerintah kota maupun wilayah membuat regulasi yang lebih ketat lagi dan lebih penting lagi menunggu peran media menyuarakan bahayanya prositiusi karena di era demokrasi media memeliki kekuataan yang tak terbantahkan membawa perubahan positif.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: