Selfie Dari Sisi Bisnis

Semester genap di tahun 2015 diamanahkan untuk memegang mata kuliah marketing dan promosi perpustakaan ini adalah mata kuliah bagaiman memberi informasi, mengajak dan mempengaruhi siapapun mau menggunakan jasa atau produk yang ditawarkan pada konsumen potensial maupun konsumen loyal yang pada akhirnya meraih posisi produk, posisi pasar dan posisi organisasi. Untuk mencapi target tersebut tentu dibutuhkan market research kemudian didukung media promosi agar sampai pada public.

Jika tinjau secara realitas begitu banyak media promosi digunakan mulai sifat konvensional hingga berbasis digital. Saat ini terjadi pergeseran media promosi yang semula lebih mengagungkan media konvensional karena sesuai dengan karakteristik generasi silent dan generasi baby boomer yaitu belum mengenal teknologi. Lalu saat komposisi demografi penduduk dunia sudah dipenuhi oleh generasi millinenal dan generasi digital natives maka media promosi pun ikut berubah yaitu lebih focus pada media digital sesuai dengan karakter generasi tersebut dimana web merupakan oksigen bagi mereka bahkan internet merupakan tools yang selalu diakses kapan dan dimanapun.

Ketika melontarkan pertanyaan kepada mahasiswa diruangan perkuliahan. Menurut mereka media apa yang paling the best dan cocok untuk promosi barang atau jasa saat ini? Beragam pertanyaan dan alasan dilontarkan. Diantara jawaban dan alasan dijawabkan oleh mereka yaitu dengan metode promosi blusukan, metode promosi internet dan metode promosi situasional. Kenapa mempertanyakan hal tersebut karena media promosi merupakan salahsatu cara untuk meningkat income perusahaan atau meningkat citra instansi.

Tapi sebagai pemimbing mata kuliah promosi saya menjawab berbeda dengan mereka. Bukan alasan dan pertanyaan tidak benar melainkan saya melihat perseptif yang berbeda. Bahwa saat ini  suatu instansi atau tempat bisnis sebaik mendesain ruangan sesuai dengan logo maupun tagline mereka. Kemudian mempersilahkan siapapun untuk berselfie ria, kalau bisa siapapun berkunjung kekantor atau tempat bisnis diwajibkan untuk berselfie dengan berbagai angel dan lebih elegan lagi membuat notifikasi diperkenaankan untuk berselfie. Meyakini dengan adanya desain dan notifikasi tersebut pengunjung atau pelanggan tidak akan sungkam-sungkam bahkan akan berkali-kali untuk berselfie dikantor atau tempat usaha anda. Jadi teringat beberapa tahun yang lalu di suatu mall dilarang berselfie dan hal tersebut juga ditemui ketika berkunjung disuatu museum dilarang untuk selfie. Mungkin masa itu kenapa dilarang berphoto belum dikenal istilah selfie, belum bummingnya sosial media dan masih banyak belum mengerti begitu dahsyatnya peran selfie sebagai ajang promosi gratis.

Ternyata pemikiran saya senada dengan bapak marketing Indonesia (Rhenal Khasali) yang tertera dikoran sindonews khususnya kolom opini yang berjudul selfie yang pada ensensinya bagi pelaku bisnis dan pihak pemerintahann jangan beranggap remeh siapapun yang berselfie ditempat usaha anda karena memiliki kekuataan promosi bagi proudk atau instansi dan selaras dengan penjelasan dibuku #TETOT tentang kekuataan media social. Dimana selfie dan sosial media suatu hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Rata-rata penikmat sosial media akan selalu mempublish photo selfie mereka melalui media sosial seperti instrgram, twiiter, facebook, path dsb. Ketika photo selfei tersebut dipublish disosmed maka begitu banyak mata yang melihat, berkomentar dan bertanya dimana tempat tersebut. Ini bertanda orang yang bertanya mulai terpengaruhi dan saat mereka sudah terpengaruhi/penasaran maka suatu saat akan mengajak orang lain kesana.

Nyatanya masih banyak menemuikan produk atau jasa yang belum menggunakan selfie dan sosial media sebagai alternative media promosi. Lalu kenapa saat ini banyak perusahaan taraf internasional dan nasional berlomba-lomba melakukan ajang kompetensi selfie dengan produk mereka kemudian diharuskan untuk upload disosial media misalnya ditwitter, sosial media atau instgram. Tujuannya jelas yaitu sebagai media promosi dibandingkan harus promosi melalui Televisi membutuhkan dana besar dan meraih posisi tranding topik disosialmedia. Bukankah suatu hal sudah menjadi tranding topik akan menjadi pembahasan di offline dan pembahasan media streaming.

Jadi, apapun bisnis dan jasa yang ditekuni saat ini hendak untuk memikir kembali media promosi yang digunakan. Kemudian jangan melarang orang ingin berphoto selfie dikantor atau ditempat bisnis anda, diperlukan menyediakan ruang selfie dan mendesain suatu ruangan dengan estetika unik. Karena generasi millineal, generasi digital native bahkan generasi baby boomer adalah generasi yang suka bernasis ria, generasi yang suka mempamerkan hasil shoot mereka di jagat raya dan genarasi yang suka sharing apapun di social media.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: