Pesta Ala Barat

Pesta ala baratLagi-lagi masyarakat dihebohkan dengan berita dari kalangan siswa-siswi yang baru selesai mengikuti Ujian nasional yang akan melaksanakan pesta bikini. Berharap dengan banyak kritikan dari berbagai kalangan dan menjadi tranding topik di Indonesia dibatalkan serta diproses secara hukum karena pesta seperti itu sangat bertantangan dengan tujuan pendidikan Indonesia, bertantangan dengan ajaran agama apapun dan moral bangsa.

Siapapun yang membaca berita tersebut tentu akan geleng kepala serta beristiqfar bahkan bertanya-tanya fenomena apalagi ini. Bukan untuk kali ini saja melihat tingkah laku para generasi bangsa berbuat tanpa estetika dan etika diruanga publik. Seakan-akan serimonial atau ritual ala barat wajib dilaksanakan karena lebih senang mengadopsi kehidupan modern ala barat yang sarat dengan kebebesan. Entah dari mana tradisi tersebut bermula sehingga sampai sekarang tradisi hura-hura tersebut begitu melekat dihati anak muda. Bahkan tanpa adanya tradisi ingar-bingar seakan-akan ada kurang dalam penyambutan kelulusan ujian. Padahal tradisi buruk dan kegiatan-kegiatan merusak moral tersebut tidak perlu dijadikan habbit maupun dicontohkan sebab tidak sesuai pondasi indosnesia lebih menjunjung tinggi atas ketuhanan yang maha esa dan dikokohkan dengan nilai-nilai kebudayaan.
Apakah ini bertanda bahwa anak muda sekarang lebih mengutamakan kesenangan sesaat? Lebih mengutamakan keinginan dibandingkan menggunakan pikiran. Atau ini bertanda anak muda lebih menyukai hal berbau happy fun dibanding menyukai hal berhubungan dengan keimanan. Mungkinkah ini bertanda budaya barat sudah diagung-agungkan oleh generasi penerus bangsa.

Padahal masalah pendidikan sebelumnya belum terselesaikan malah sekarang sudah bermunculan euporia yang berbau maksiat oleh para siswa-siswi menyambut kelulusan dengan tujuan untuk menghilangkan tekanan jiwa atas pelaksanaan ujian nasional dengan berpesta bikini. Lebih parahnya lagi pihak yang menyelenggarakan seharusnya tidak memfasilitasi kegiatan seperti itu. Secara realitas ketika ada momentum penyambutan kelulusan dan perpisahan para penyedia jasa bisnis secara ramai-ramai memberi paket pesta menarik dengan ala wastenisasi. Menjadi pelajar kedepannya, jika masih ada kafe, restoran atau hotel yang memfasilitasi kemaksiat seperti itu jangan berdiam diri dan seharusnya ditegurkan oleh pihak pemerintah atau memberi punshiment agar para pelaku bisnis tidak hanya mimikir sisi keuntungan belaka akan tetapi juga melihat sisi moral bangsa karena jelas-jelas pelanggaran norma.

Sebagai pendidik rasanya sedih, rasanya kecewa, rasanya motivasi dan nilai-nilai agama disampaikan tidak menyentuh hati mereka. Apa yang salah dengan ini semua? Apakah sistim pendidikan di Indonesia sengaja didesain untuk menciptakan generasi bangsa yang hanya cerdas secara otak tapi tidak cerdas secara emosional dan etika? Apaka ini dampak dari sedikit mata pelajar agama dipelajari di sekolah-sekolah karena lebih memetingkan pelajaran science? Apakah ini pengaruh dari budaya wastenisasi yang sudah melakat dalam pergaulan anak muda? Seharusnya nilai-nilai ketimuran yang harus dilestarikan dan aplikasikan dalam tatanan sosial. Apakah ini pengaruh didikan orang tua yang sibuk pekerja sehingga pendidikan agama dalam keluarga sudah dikesampingkan untuk diterapkan dalam lingkungan keluarga? Apakah ini bertanda cermin ketaqwaan para generasi bangsa yang rendah? Pada akhirnya berdampak pada perilaku yang tidak bertanggung jawab, pribadi lebih mengungguli pemikiran semata akan tetapi kosong secara emosional maupun attitude. Apakah ini dampak dari tekanan jiwa yang begitu dahsyat menghadapi ujian nasional lalu para pelajar coba melepaskan tekanan batin tersebut dengan berpesta pora-pora. Jika ini memang faktor dari tekanan jiwa tentu banyak cara bisa digunakan untuk menghilangkan rasa tegang, kegelisahan, hati dan pikiran tersebut misalnya dari sisi agama bisa beribadah.

Ini adalah menjadi PR dan tangungjawab siapapun untuk menginginkan generasi bangsa agar tidak dirusaki oleh budaya seronok. Sepertinya harus dicari jalan keluar atau langkah strategi secara maksimal bagaimana membuat acara penyambutan kelulusan dengan unsur-unsur positif dan bermanfaat bagi siapapun tidak hanya sebatas pesta tanpa makna dan pesta lebih memprioritaskan konsumtif. Tentu sebagai umat beragama cara elegan penyambutan kelulusan yaitu dengan kebiasaan yang memiliki nilai-nilai positif bagi personality maupun bagi khalayak umum mislanya berdoa bersama, semakin mendekati diri padaNya bukan sebaliknya. Sebagaimana firman Allah yang artinya “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: