Ketika Allah mewajibkan wanita menggunakan jilbab


Perempuan itu adalah aurat, maka apabila ia keluar dari rumahnya maka setanpun berdiri tegak (dirangsang olehnya) (HR. Tarmidzi)

Semoga ini Panggilan HidayahSeumur hidup dan ini untuk pertama kalinya mengujungi Lapas. Sebelum mengunjungi lapas sudah persepsi negative dengan tempat tersebut. Seakan-akan lapas adalah tempat yang seram, petugasnya yang tidak ramah dan penghuni yang sangat sadis. Jika boleh jujur tempat yang tidak disukai dan tidak ingin dikunjungi diantaranya lapas karena beranggapan orang-orang disana pasti tidak ramah setelah berkunjung dan berbagi taujih untuk ibu-ibu penghuni lapas. Persepsi itu runtuh seketika ternyata penghuni terlihat cantik, segar, tidak ada wajah surah bahkan petugas Lapas begitu akrab sehingga mampu membangun kedekatan yang begitu nyoossss. Kemudian terminal adalah tempat kedua yang tidak ingin dikunjungi sebab merasa orang-orang disekitar terminal adalah preman semua secara sudah rahasia umum bagaimana ganas preman secara pernah melihat secara langsung bagaimana gesekan antar preman terminal bahkan beranggapan orang duduk sekitar terminal adalah calo semua akan tetapi setelah menonton preman pensiunan persepsi tentang terminal mulai agak berbeda. Terakhir tempat tak ingin dikunjungi yaitu rumah sakit, padahal begitu banyak hikmah diperoleh dengan mengunjungi rumah sakit diantaranya mensyukuri betapa mahal sehat, dan disana tersadari untuk menjaga kesehatan. Entah kenapa ketiga tempat selalu diupayakan untuk dihindari.

Ternyata tempat yang dibenci, akhirnya berkunjungan kesana dalam rangka berbagi ilmu atau berbagi pengalaman sekitar jilbab untuk ibu-ibu penghuni lapas. Ini adalah scenario Allah yang sangat indah, pada akhirnya bisa bertemu ibu-ibu penghuni lapas dengan berbagai masalah Sedangkan faktor  utama membuat mereka hadir dilapas karena masalah narkoba. Nauzubillah minzaliq. Seperti data yang dipaparkan oleh pro Indonesia cabang Jambi bahwa hampir setiap hari sekitar 80 orang meninggal dunia gara-gara narkoba. Bahkan secara nasional dikatakan Narkoba adalah musuh nyata bagi masyarakat Indonesia. Selain masalah narkoba yang menjadi faktor ibu-ibu menjadi penghuni lapas masalah pembunuhan. Sungguh sadis bukan!!!

Kehadiran dilapas bukan membahas tentang narkoba melain berbagi pengalaman tentang hijab. Saat itu panitia mengangkat teman “cantik dengan jilbab”.  Dan pertama bertemu dengan ibu-ibu penghuni lapas sempat terkaget juga ternyata ada ibu-ibu sudah tua mendekam disana. Tidak hanya  itu membuat hati tersentak akan tetapi ibu penghuni lapas juga modis-modis dan cantik akan tetapi rata-rata mereka belum menggunakan hijab (kerudung, jilbab) dan masih kurang pemahaman agama.

Terlihat panitia dari Lapas mempersiapkan segala kebutuhan acara mulai mengemaskan kerudung dari donator untuk dibagikan kepada ibu-ibu penghuni, menyediakan snack, dan soundsytim lainnya. Acarapun dimulai sekitar 10.30 wib yang dimulai pembukaan dari mc, kata sambutan dari panitia pelaksana yaitu B+ be positif yang merupakan komunitas sosial yang bergerak mencari plus individu-individu terutama penghuni lapas, kemudian kata sambutan dari kepala Lapas yang sangat cool berawakan jawa dan tibalah waktu ia untuk berbagi cinta tentang jilbab.

Kehadiran ia dilapas bukan sebagai ustad, bukan sebagai guru dan sebagai anak muda yang ingin berbagi cinta melalui ilmu. Awal sempat pesimis mungkinkah ib-ibu akan menjimak apa akan disampaikan. Dengan bismillah dan meminta sama Allah semoga apa disampaikan menusuk hati ibu-ibu dan menggerakan meraka untuk segara menggunakan jilbab. Rata-rata ibu-ibu belum menggunakan jilbab, hanya sekitar 4 atau lima ibu-ibu yang sudah menggunakan jilbab selebih aduhai begitu santai menampakan aurat. Apakah mereka belum memakai jilbab dikarena tidak mengetahui hukumnya, apakah belum ada niat, apakah sudah tahu tapi tidak ingin mengaplikasikan atau ada faktor lain?

“Dari Khalid bin Duraik, dari Aisyah r.A. Asma binti Abu Bakar R.A pernah berkunjung kepada Rasullah S.A.W memakain pakaian tipis. Maka Rasullah S.A.W berpaling dari padanya seraya bersabda: Wahai Asma, sesungguhnya wanita apabila telah baligh, tidak benar terlihat dari padanya kecuali ini…dan ini… “Beliau memberi isyarat kepada wajah dan kedua tangannya.

Sekitar satu jam paparan tentang penting jilbab dalam islam, hukum berjilab, keuntungan yang diraih dengan jilbab dan pasti dengan berjilbab adalah bentuk cinta pada Allah, bentuk ketaatan pada Allah dan bentuk menjalan perintahNya. Saat mempapar ada yang menjimak dengan antutisias, ada asyik mengombrol dan mungkin ada wajah sinis karena yang memberi taujih kok usia sangat muda. Walaupun suasana begitu, ibu-ibu antusias bertanya mulai masalah bagaimana kerudung dalam islam, sejak kapan kerudung dipakai, sudah ada niat berkerudung tapi tunggu yang tepat, berkerudung hanya dipakai hari tertentu saja, berkerudung tapi jarang sholat dan kok yang berkerudung masih suka melakukan hal yang dilarang Allah. Ini adalah fenomena yang sering temui disekitar kita dan fenemona tersebut mungkin dialami kita juga. “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosam. Dan barangsiap mentaati dan Rasulnya, maka sungguh ia menang dengan kemenangan yang besar: (Al-Ahzaab: 70-71)

Semoga jawaban yang diberikan mampu menjadi panggilan hidayah bagi mereka, mau menggunakan jilbab dan istiqomah menggunakan jilbab. “Dan jangalah kamu lemah (minder, rendah diri, dll) dan jangalah bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kami beriman. (Ali-Imran: 139). Satu persatu pertanyaan dijawab dengan analogi, hadist dan ayat al-quran. Pada dasarnya pertanyaan dilontarkan sangat basic, dari sana bisa disimpulkan bahwa para ibu-ibu yang sudah memasuki usia 40 atau usia senja masih kurang pemahaman agamanya. Mungkin komunitas keagamaan (Salimah) perlu bekerjasama dengan pihak lapas untuk menjalan dakwah dilapas karena lahan dakwah dilapas harus disentuh. Meskipun pihak lapas mempunyai program kerohanian sepertinya tidak cukup hanya dilakukan sebulan sekali. Suasana semakin hangat didukungi aura sekitar lapas terlihat melo dimana sinar matahari belum menampakkan cahaya pada penduduk melayu mungkin kenapa sinar matahari belum menampakan karena sebentar lagi akan hujan lebat sebab dibulan pebruari tidak hanya identik bulan cinta malainkan bulan hujan seperti diamali masyarakat kota (Jakarta, red) kebanjiran.

Jika diamati dan realitas  masih banyak menemui yang berjilbab tapi tidak menunjuki sikap yang santun, baik yang muda maupun yang tua, jangan sampai beranggapan jilbabnya yang salah akan tetapi yang salah adalah orangnya. Mungkin kenapa bisa seperti itu dikarenakan kurang ilmu dimiliki, mungkin belum tahu dan mungkin sudah tahu tetapi tidak mau mengaplikasikannya. Masih ditemui yang memakai jilbab niat awalnya bukan atas dasar menjalan perintah Allah melainkan mengikuti trands apalagi saat trands jilbab dikalangan wanita lagi dahsyatnya meskipun awal mula menggunakan jilbab atas dasar itu dan insha allah berjalan waktu niat akan berubah ketaqwaan. Amiin. Lebih parah lagi juga menjumpai pakai jilbab tapi kewajiban melaksana sholat diabaikan. Ini adalah konsep yang salah seharusnya ketika sudah berjilbab maka sholat, tilawah, zikir dan akhlak semakin cantik dihadapan Allah jangan sampai cantik jilbab tapi tidak cantik amalannya.

Mumpung masih ada waktu atau kesempatan Allah berikan untuk memperbaiki diri terutama bagi wanita-wanita yang masih menampakkan aurat untuk segera menutup aurat dengan pakaian syari jangan terlena dengan rayuan fashion mengajak wanita untuk menampakan lekuk-lekuk tubuh atau mempertontonkan aurat. Ketika Allah mewajibkan wanita menggunakan jilbab pada dasarnya adalah demi kebaikan dan kemulian wanita. Andailah yang belum menutup aurat mengetahui bagaimana dahsyatnya pahala menutup aurat, betapa beruntung menutup aurat dan tentu akan bersegera. Jangan sampai kita termasuk manusia yang disentilkan Allah melalui ayat berikut ini

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman (Al Baqarah:6)

Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. (Yaasiin: 10)

Terakhir jilbab adalah identitas kemulian seorang wanita, jilbab adalah bentuk mencintai Allah, jilbab adalah satu cara bagaimana Allah mencintai kita dan bergegaslah untuk menutup aurat tersebut karena manfaat bukan buat siapa-siapa melainkan untuk kalian. Berharap pertemuan dengan ibu-ibu penghuni lapas adalah momentum menyembut hidayah. Semoga dengan jilbab mengantarkan kita bertemu Rasullah disurga firdaus.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Hikmah Mempublish Buku Di Social Media, Blog Dan Web


“Menulis menjalin silaturahmi, menulis mempertajam analisa, menulis menambah teman, menulis memperluas teman dan menulis bisa sebagai pintu meraup pahala”.

20150217_161226Tanggal 17 Februari 2015 Jam 16.00 Wib paket sampai dirumah yang sebelumnya dapat informasi dari expedisi bahwa ada kiriman dari graha Ilmu. Sebelum asar paker sudah dirumah, kaget dikrim buku begitu banyak ternyata royalty dibayar bentuk buku. Setelah mendapat paket tersebut coba cek tetapi belum sempat menghitung berapa eksmplar.

Setelah mendapat langsung publish dissocial media (facebook) dan tag teman-teman yang bersentuhan dengan ilmu perpustakan baik itu dosen, praktisi, pustakawan, mahasiswa dan masyarakat yang bergerak dibidang informasi. Sebelum tag coba ingat-ingat siapa saya harus ditag agar tidak salah mengtag sebab tidak semua orang senang ditag apalagi jika yang akan ditag berkaitan jualan online. Sekitar 69 sudah ditagkan berharap dengan adanya tag tersebut ada respon, tanggapan dan memesan. Untung selama ini memiliki account beberapa sosial media, aktif menulis diweb keroyokan, antusias menulis diblog dan lalulalang diweb pribadi semakin mempermudah untuk promosi karya. Sepertinya bagi penulis harus aktif atau memiliki account sosial media jika bisa harus familier dengan blog maupun web sebab mempermudah pada marketing apalagi sebagai penulis pemula diperlukan ekspos yang ekstra. Maksimal media tersebut dan ketika sudah dipublish diweb, blog dan sosial media maka sudah maju selangkah dalam promosi. Apalagi saat ini seluruh lapisan masyarakat sudah terkoneksi dengan internet dan selalu menjadi internet sebagai referensi utama ketika membutuhkan informasi.

Dua hari buku dipromosi melalui sosial media sudah sekitar 20 orang yang memesan buku terutama pustakawan dan dosen. Belum terlihat mahasiswa perpustakaan yang memesan. Selain itu ada hal yang harus disyukuri dan berdampak positif yaitu bertambah nya teman-teman terutama difacebook. Tidak hanya itu melainkan bisa sharing dengan senior-senior, menambah relasi, bertaruf dan terjalin silaturahmi. Kemudian dengan ada pesanan dari teman-teman harus cepat menanggapi atau merespon pertanyaan mereka sehingga agak terganggu beribadah padaNya karena tidak ingin ketika semakin bertambah nikmat dari Allah membuat melalaikan Rabbi. Bisa membayangkan bagaiman mereka yang jualan online yang harus menjawab pertanyaan satu para pelanggan mereka, punya kesibukan tinggi dan mengisi acara dimana-mana masih adakah waktu untuk beribadah padaNya!!! mungkin ada kesempatan akan tetapi lebih menjalankan perintah yang Wajib sedangkan yang sunnah mungkin jarang kali ya. “itu asumsi saja, apakah realitas juga begitu”.

Pertemanan baru dan silaturahmi baru melahirkan butiran-butiran cerita sekitar penulisan, penerbitan, royalty, pengalaman menulis, saling berbagi informasi dan saling menyemangati untuk menghasilkan karya. Itu adalah pertanyaan yang wajar dilontarkan karena masih banyak orang ingin menulis diluar sana tetapi belum bisa tembus penerbit nasional walaupun tembus terbit akan tetapi harus ada kesepatakan bayar diawal. Itulah pertanyaan rata-rata dipertanyakan. Semua pertanyaan yang dilemparkan pada ia dijawab sesuai pengalaman dan sepengetahuan.

Hal menarik dapat disimpulkan dengan diskusi berbagai tipikal usia, profesi dan wilayah bahwa siapapun penulis baik pemula maupun sudah penulis terkenal selalu mengatakan baru belajar menulis. Ternyata penulis sudah menghasilkan karya masih tersimpan rasa tidak pecaya diri, apakah buku tersebut diterima atau ditolak oleh masyarakat. Atau jangan-jangan rasa seperti itu hanya muncul bagi penulis pemula saja seperti ia!!! Lumrah saja ketika timbul perasaan begitu karena setiap apapun yang dihasilkan manusia akan direspon berbeda. Tetapi perasaan tersebut tidak muncul ketika menulis berbagai opini di majalah online nasional dan Koran lokal.

Lebih menariknya lagi dari hasil sharing dengan beberapa penulis bahwa yang melarbelakangi untuk menulis atas keterpaksaan, ingin meningkatkan jabatan dan menambah angka kredit. Ini bagi meraka yang bekerja sebagai abdi Negara. Semoga dengan keterpaksaan benar-benar membawa mereka untuk menjadi penulis professional. Dengan adanya kewajiban dari pemerintah bagi abdi Negara untuk menghasilkan karya merupakan cara baik untuk mendorong lahirnya tradisi tulis menulis. Ketika seluruh abdi Negara dari Timur hingga Barat sudah punya culture tersebut bisa melahirkan produktivitas keilmuan berbagai bidang. Sebab Indonesia termasuk Negara dengan pertumbuhan penulisan yang sangat rendah jika dibanding dengan Negara ASEAN padahal jumlah penduduk Indonesia dengan penduduk ASEAN lagi sangat jauh perbedaannya. Sayangnya meskipun sudah dipaksa dengan ketentuan tersebut, masih belum terlihat keantusiasan para abdi Negara untuk menghasilkan karya. Padahal angka kredit tinggi nominalnya dibandingkan dengan pekerjaan lainnya. Bagi abdi Negara memiliki jiwa menulis merupakan nilai uplause tersendiri karena banyak membawa keberkahaan.

Lain hal bagi meraka yang suka nulis, hoby nulis dan beranggapan nulis adalah goodculture tentu tujuan menulis tidak sebatas angka kredit melainkan maksud untuk menginspirasi, mencari pahala melalui tulisan, berbagi cinta dengan kalimat motivasi dan bisa menambah relasi. Sudah banyak contoh meraka-mereka yang cinta menulis membawa sebuah kejutaan-kejutaan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Bahkan setiap orang menjadi penulis memiliki tujuan berbeda ada sebatas melepaskan hobby, menjadi sebagai lahan meraih financial, menambah relasi, bertujuan untuk mengisi acara skala Nasional maupun lokal dan famous. Kesemua itu bisa menjadi niat atau tujuan bagi penulis. Ada baiknya menulis tidak hanya tujuan dunia melain menjadi menulis sebagai lahan dakwah, mengajak orang dalam kebaikan, memotivasi untuk menjadi pribadi anggun dan menyadari manusia untuk mengenal pemilik bumi.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

%d bloggers like this: