Kosmetik Kota

komestik kota

komestik kota

Sejak menyelesai sekolah Menengah kejuruan sejak itu pula merantau dan mulai menginjak hidup dikota (perantau) dalam rangka menuntut ilmu, atas dasar itu pula kenapa susah untuk kembali kedesa. Mungkin banyak alasan kenapa tidak begitu betah ditanah kelahiran meskipun banyak cerita indah lahir disana. Bukan berarti tidak kangen dengan suasana desa nan sejuk, nan penuh kedamaian, nan masih terjaga budaya timur, nan saling menyapa ketika bersua dijalan. Tapi hidup ini adalah pilihan, hidup ini harus move on menuju sebuah keabdian, hidup harus terus berubah seperti proses terjadi kupu-kupu menjadi terbaik dalam segala sector terutama sisi perubahan kedekatan diri pada sang pemilik jagad raya, dan dikota merasa ada harapan atau tempat mewujudkan mimpi-mimpi itu. Bisa jadi didesa merasa tidak ada tantangan, perubahan dalam diri atau bisa jadi didesa tidak memiliki teman lagi seperti masa-masa kecil sehingga membuat tidak betah berlama-lama disana.

Kota yang diinjak selalu membawa cerita yang mengharu biru. Kota padang merupakan kota tempat belajar memasak sebab diranah minang wanita sejatinya dilihat sejauh mana kepintaran dalam meracik bumbu apakah tradisi seperti itu masih dipegang teguh anak gadis saat ini!!! Bandung adalah kota mengenal bagaimana fashionable pada realitasnya Bandung sebagai trendster atau kiblatnya fashion di Indonesia. Sedangkan Yogya bagaikan kota menginspirasi menjadi ilmuan karena hampir setiap hari Allah menakdirkan untuk bertemu orang-orang berilmu luar biasa meskipun mereka ilmuan tetapi kesederhanaan tetap tidak pernah hilang dan religiusitas serta Jambi mendorong menjadi manusia menjadi otak agak capital. Itu semua merupakan kenangan yang selalu dirindukan untuk kembali mengukir cerita yang sama tetapi itu tidak bisa diukir kembali karena usia sudah berbeda, tujuan sudah berlainan walaupun tempat yang dikunjungi tetap sama. Terkadang kenangan bisa menjadi ide cerita atau knowledge diperoleh disetiap langkah kaki.

Kota sangat berbeda dengan desa, bahkan perbedaannya terkadang membuat hati beristiqfar dan geleng-geleng kepala. Sudah beberapa kota diinjaki semua memiliki ciri-ciri yang sama misalnya begitu mudah menemukan mereka-mereka berpakaian minim seakan-akan itu adalah kebanggaan yang harus diperlihatkan dan berlente dengan minyak wangi yang semerbak, menemukan gedung-gedung pencakar langit yang dihuni oleh mereka-mereka beruang, mall-mall yang memanjakan masyarakat untuk menikmati apapun dengan harga pretesius, disudut atau ditengah kota menemukan tempat-tempat kumpul para kaula muda menghabiskan malam dengan melabrak aturan Allah bahkan tempat itu pula menjadi ajang bisnis para pemilik modal. Begitu sedih melihat mereka yang mengadu nasib dikota tanpa dibekali skill maupun ilmu akhirnya kehidupan berakhir dikolom-kolom jembatan, pinggir jalan, dikejar penertiban kota dan minta kesana-kemari. Apakah begini hakikat kota, lembut kepada mereka yang memiliki skill/ilmu dan keras pada mereka yang tidak mempunyai expert atau faktor X. lambat laun tradisi menyapa dikota terasa asing, yang ada terbangun tradisi cuek bebek, sibuk dengan kehidupan masing-masing dan kebenaran menjadi relatif. Seakan-akan tujuan utama kehidupan kota adalah dunia bagimana tidak sibuk mengejar uang-uang. Tapi tidak bisa dimunafikan juga karena begitu lah kota.

Sangat wajar penurut pengamat kesehatan bahwa tingkat stress, gangguan jiwa dan kesehatan kota semakin meningkat. Alasan pertama kenapa bisa terjadi seperti itu yaitu standar hidup kota begitu tinggi, kemudian beban hidup yang dibebani juga tinggi terutama dalam beban kerja, hidup-hidup pekerja di kota kebanyakan menghabiskan waktu diperjalanan dan sedikitnya waktu untuk berolahraga akhir berdampak pada kesehatan. Jika merujuk dari pendapat ahli tersebut tentu berpikir kembali untuk berlama-lama dikota.

Bagi orang desa tempat seperti itu merupakan tempat yang sangat aneh karena kehidupan desa dihiasi dengan kegiatan kesawah, kekebun, berkumpul dihalaman rumah, mengaji  sedangkan untuk menikmati fasilitas seperti kota itu tidak mungkin. Listrik Masuk kekampung sudah menjadi keberkahaan. Maka sangat wajar ketika anak desa masuk kekota terbelagah melihat kosmetik kota penuh nuansa gemerlap dan terkadang kosmetik kota membuat anak desa terbawa pada arus yang salah. Entah kota mana lagi kaki akan melangkah.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: