Kontradiktif Istana Putih Dengan Masyarakat

Kontradiktif Istana Putih Dengan Masyarakat

Kontradiktif Istana Putih Dengan Masyarakat

Setiap lima tahun sekali penghuni istana akan dihuni oleh orang-orang yang berbeda, pesona yang menghuni istana juga memiliki karakteristik berbeda-beda, mempunyai daya pikat yang sangat mempesona bahkan untuk menuju istana tidak begitu gampang karena membutuhk kualifikasi yang tinggi dan penghuni istana adalah mereka yang mimiliki visi serta misi untuk mensejahteraan rakyat,  mengenal negaranya pada Negara luar bahkan harus melindungi rakyat dari segala ancaman. Sejak Merdeka hingga demokrasi sudah 6 Kepala Negara yang menghuni istana dengan kemergelapannya. Apalagi beberapa hari lagi, Indonesia akan menyambut kepala Negara ke-7 yang akan dimeriahkan dengan istana rakyat hingga beberapa hari serta dipusatkan di landamark Indonesia (Monumen Nasional).

Ciri-ciri dari istana yaitu dipenuhi dengan kemewahan, ditaburi warna-warna soft, dimeriahkan dengan kenyamanan yang sangat terjamin, kebersihan yang begitu seteril dari segala hal apalagi perbaduan antara putih dan merah semakin tergambarkan budaya Indonesia yang sangat indah. Sungguh betapa cerdasnya arsitek yang mendesain istana hingga saat ini masih terlihat kokoh penuh kemilauan.

Seolah-olah istana mengambarkan kondisi masyarakat, istana menunjukkan kekuataan Negara, Istana merupakan tempat kediamana resmi bagi kepala Negara yang terpilih oleh rakyat, istana merupakan tempat perjamuan untuk menyambut kepala Negara seluruh dunia dan istana adalah tempat pertemuan-pertemuan  pejabat Negara dalam memformulasikan kebijakan atau program-progam rakyat.  Istana memberi ketajukban mari mereka yang memandang mulai dari pagar, penjaga istana, ornament yang menghiasi setiap ruangan, menu makanan yang disajikan, keindahan taman, dan photo-photo yang terpajang. Ditinjau dari segi apapun istana selalu membawa makna filosofi dan keanggunan yang begitu cetar membahana.

Untuk hadir diistina tersebut tidak sembarang orang yang bisa open access hanya masyarakat yang memiliki keistimewaan yang bisa memasuki area tersebut misalnya keistimewaan ilmu, keistimewaan profesi, keistimewaan prestasi dan keistimewaan mobil yang bermerek-merek dari Eropa. Kalau masyarakat awam atau masyarakat biasa saja jangan harap bisa hadir kesana kecuali saat open house seperti waktu lebaran.

Semoga suatu saat nanti penulis bisa hadir diruangan istana yang penuh inspirasi bagi penulis yang ingin menceritakan tentang keunikan istana. Meskipun ketika kuliah pernah lihat istina dari kejauhan yaitu sebrangan dari istina tepatnya dari Monas. Dari luar saja melihat begitu kemilau apalagi sudah memasuki area istana tentu semakin takjud dengan arsitektur maupun ornament. Tapi apakah mungkin bisa hadir di istina Negara yang begitu kokoh dan indah segala sisi!!!

Akan tetapi keindahan, kemegahan, kemewahan dan kemilauan cahaya-cahaya yang menerangi istina seolah-olah kontradiktif dengan kondisi masyarakat terutama dengan masyarakat perdesaan yang masih berada dibawah kemisikinan, masih hidup dengan kegelapan karena masih ada listrik masuk kota dan listrik dimatikan setiap saat. Hidup jauh dari kemewahan hanya bisa hidup dapat sehari habis sehari itu jua tidak hanya itu melainkan tempat yang dihuni mungkin jauh dari layak tapi masyarakat dibawah tetap mensyukuri dengan kebijakan yang ditetapkan diistina yang semakin hari semakin membuat tertindas dengan keputusan yang tidak pro rakyat. Lihat saja setelah beberapa bulan presiden ke-7 dilantik akan ada keputusan yang membuat masyarakat menjerit yaitu dengan kenaikan BBM padahal belum saja diputuskan masyarakat sudah merasakan dampak secara langsung misalnya sudah ada beberapa kebutuhan pokok dinaiki oleh pengusaha. Masyarakat hanya bisa mengelus dada, hanya bisa ngumel dalam hati sanubari karena ingin bersuara tetapi menyadari bahwa rakyat biasa tidak memiliki suara untuk bergaung dinegeri yang kaya ini. Tidak hanya itu kontradiktif yang dirasakan oleh masyarakat dengan keanggunan istina melainkan masih banyak sudut lainnya. Apakah secara implisit kemegahan istana mendeskripsikan bahwa kemakmuran atau kesajahteraan hanya dinegeri dinikmati oleh segelintir orang saja selaras dengan ilustrasi yang bisa memasuki istina hanya pejabat atau memiliki bargaining posisition.

Begitulah istana memberi nuansa positif maupun negative terkandung ingin melihat dari sisi mana. Akan lebih elegan istana tidak hanya dikunjungi oleh mereka yang berada meskipun dengan alasan keamanan agar terkesan istana tidak hanya untuk kepala Negara saja tetapi juga untuk masyarakat dengan berbagai status sosial.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: