Kemewahan Bukan Garansi Pernikahan Langgeng

Bismillah…

Kemewahan bukan geransi pernikahan langgeng

Kemewahan bukan geransi pernikahan langgeng

Hampir dua minggu infotaiment mengupas persiapan pernikahan artis ternama di negeri ini, penanyangan tidak disatu station televise melainkan dibeberapa TV swasta, waktu penanyangan juga hampir disetiap waktu dan cara menyanyinyapun berbeda-beda mulai dari kisah sang mantan, sisi Undangan, tamu, baju pengantin, konsep yang dipakai, rumah baru, kado yang diberikan oleh sahabat maupun keluarga dan hingga nyekar. Apa yang ditayangkan semua dipenuhi kemewahan dan kegelamoran. Siapapun yang menonton tentu terpana dan terpesona dengan konsep pernikahan para artis yang ditaburi bunga-bunga yang penuh dengan kesempurnaan. Dan bukan untuk kali ini saja para pesohor diliput oleh media saat akan menikah dan sudah teramat sering. Mungkin bagi Event Organizer pernikahan dengan paridigma mewah merupakan peluang bagi mereka sedangkan yang melaksana pernikahan tentu ini sangat merugikan.

Jika ditinjau dari sisi positif tentu sangat menginspirasi sebagian masyarakat yang akan mendesain pernikahan, bagi sisi media tentu memberi nilai kemanfaatan karena dibanjari berita, tidak perlu mencari-cari berita, dan kebanjiran iklan-iklan. Tetapi ditinjau dari perspektif sisi negative tentu sangat tidak mendidik karena mengajari masyarakat untuk melaksanakan pernikahan dengan kemerlang dunia. Bagi yang punya uang tentu hal seperti tidak masalah, wajar dan lumrah saja sedengkan bagi masyarakat tidak mampu ingin mengikuti pernikahan para artis tentu tidak masuk akal. Mendorong masyarakat untuk mendesai pesta bak para ratu dan raja. Meskipun pernikahan sekali seumur hidup, tidak juga dibenarkan menikah seperti itu yang seolah-olah membanggakan, seolah menceritakan bahwa mereka orang terpandang, seolah merupakan hal yang wajib dan seolah jika tidak melaksanakan pesta dengan tidak mewah akan mendapat kritikan jelek dari lingkungan.

Sangat terasa pengaruh media atau artis yang menikah diekspos oleh media sebab secara tidak langsung mendorong masyarakat untuk berpesta seperti itu jua dan tidak hanya itu bahkan masyarakat sekarang sudah terbiasa melakukan photo prewedding, menggunakan pakaian seragam dan konsep sudah liberalisasi. Jika boleh melihat masa lalu, sangat jarang masyarakat memakai konsep itu ketika pernikahan. Mungkin inilah nama perubahan, lain dulu lain sekarang karena saat ini sudah modern sehingga menikah harus bak artis seperti ditonton oleh mereka.

Padahal dalam islam pernikahan cukup disederhanakan tidak perlu berlebihan-lebihan yang penting rukun nikah terpenuhi, apalagi sampai memaksa diri dengan mengadai harta, meminjam kesana-kesini dan rela ambil bank demi sebuah pencitraan ditengah masyarakat. Sebab apa? Andailah ditengah masyarakat tidak melaksana pesta penuh euporia, bisa-bisa mendapat  labeling, merasa tidak enak dari masyarakat atuapun dari keluarga. Inilah bentuk kesalah pahaman masyarakat yang harus diluruskan oleh manusia beriman. Diperparah lagi pernikahan dizaman sekarang dibutuhkan financial yang mapan sebab segala barang serba mahal. Bukan tidak dibenarkan melaksanakan syukuran pernikahan, sangat diperbolehkan akan lebih elok bentuk syukuran itu di sederhanakan. Toh tujuan resepsi bukan untuk menunjuk diri bahwa kita mampu melaksana pesta pernikahan dengan kemergelapan, membeda sikaya dengan simisikin, membeda keluarga terpandang dengan keluarga biasa melainkan tujuan resepsi adalah meminta doa dari para tamu agar diberkahai keluarga sakinah mawadah waramah.

Nyatanya, begitu banyak mereka-mereka yang melaksana pernikahan dengan kemewahan dengan konsep yang sangat spektakuler tetapi apa yang terjadi? Melainkan perceraian, terjadi berselinggukan dan siap-siap membayar utang setelah menikmati pesta pora. Bahwa kemewahan tidak menjamin pernikah itu langgeng, bahagia dan sakinah. Sangat menyedihkan bukan!!! Sudah melaksana pernikahan dengan penuh kemewahan tetapi akhirnya menyedihkan. Ada pula disekitar kita menikah Cuma ijab Kabul saja tidak dimeriahkan dengan resepsi pernikahan, tetapi sungguh pernikahan mereka penuh nuansa cinta dan romansa sakinah mamawada waramah.

Apa yang membuat pernikahan penuh kebarkahaan karena dilatarbelakangi niat yang suci ingin menjaga hati agar tidak terkotori, tidak perlu dengan pesta yang wooow yang penting bagaimana memahami makna ijab Kabul, bagaimana meresapi janji-janji dilontarkan pada Allah langsung dan  tetap setia menjadi sepasang kekasih hingga maut memisah. Sebab Allah tidak melihat dan mengukur kebahagian dalam pernikahan dari pesta melainkan dari niat yang suci untuk menikah dalam rangka untuk beribadah padaNya.

Mungkin ini ada pilihan bagi yang akan menikah atau akan resepsi!!! Silahkan memilih yang sesuai dengan kesanggupan dan selera jangan memaksa apalagi sampai membebani keluarga. Akan lebih elegan pernikahan dilaksanakan diatas konsep kesederhanaan walaupun mampu berpesta pora. Tapi itu jarang ditemui diabad sekarang karena dizaman digitalisasi lebih mementing pencitraa dibanding niat yang suci.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: