Islam Keilmuan Terintragasi Dan Terkoneksi

Keilmuan islam terkoneksi dan terintegrasi

Keilmuan islam terkoneksi dan terintegrasi

Semangat luar biasa menuju Auditorium Universitas Islam di tanah melayu, walaupun datang telat ternyata acaranya belum dimulai dikarenakan Native Speaker (Narasumber) masih terkendala kondisi alam tidak bersahabat (kabut asap) yang lumayan tebal sehingga penerbangan flat Merah (Garuda) tidak berani terbang menuju daratan melayu. Secara selama ini Garuda selalu menjaga kredebilitas, akuntabilitas dan profesional skala nasional maupun Internasiona. Padahal suasana Auditorium sudah dipenuhi oleh mahasiswa, dosen, guru besar, para undangan dan panitia. Hingga acara selesai Native Speaker tidak ada kabar, itu bertanda bahwa Garuda tidak berani mengambil resiko dan otomatis narasumber diwakili pihak penyelenggara.

Walaupun para panetia sudah prepare penuh totalitas untuk mensukseskan kuliah umum, hal tidak diduga dan rencana Allah yang berlaku. Diawali serangkaian muqadimah, dilanjutin prolog dari Rektor dan penyampaian pointer sesuai dengan tema. Sebelum mempaparkan esensial dari kuliah umum, para audien disuguhi video berkaitan bersahabatan Monyet With Dog dan bagaimana binatang begitu mudah meniru perilaku manusia. Melalui video tersebut sesungguhnya ada hikmah bagi yang berpikir terutama taktik diplomasi. Meskipun video yang diputar tidak berhubungan dengan tema diangkat paling tidak menghibur audiensi, menghilang rasa kantuk, menghadirkan tawa dan menambah kahasanah berbeda bagi haus ilmu pengetahuan.

Ada beberapa pointer disampaikan selama 2 Jam, meskipun tidak dinaratifkan secara komplit tentu tidak mengurangi esensi perkuliahan. Kesimpulan dari kuliah umum bahwa tidak adalagi dikotomi ilmu pengetahuan islam dan umum. Bagaimana menyatukan dua akar yang berbeda dalam satu wadah berupa World Class University. Apakah mungkin semua akademisi maupun intelektual islam menyetujui pemikiran tersebut karena setiap orang yang menafsiran berbeda-beda.

Lihat saja selama ini sudah banyak para pemikir islam yang mengkaji akhirnya selalu bermuara (1) corak neo-modernisme yang memiliki asumsi bahwa ilmu pengetehuan islam harus dilibatkan dalam perdebatan-debatan modernitas, (2) corak sosialisme-demokrasi yakni pemikiran yang mimiliki bahwa islam pada dasarnya membawa misi sosialisme sehingga islam harus mampu memberi makna pada kehidupan sosial. Dengan pijakan semacam ini proses islamisasi dapat dilakukan dengan jalan melakukan karya-karya produktif yang berorientasi pada perubahan sosial, ekonomi dan politik menuju masyakarat yang adil dan makmur (3) corak Universalime yaitu pemikiran yang memiliki asumsi bahwa islam tidak mengenal dikotomi antara nasionalisme dan islamisasi karena islam bersifat universial, dan (4) corak modernisme merupakan pemikiran yang memiliki asumsi dasar bahwa islam sesuai dengan kondisi modern. Pijikan pemekiran modernism adalah rasional dan pembaruan pemikiran islam. Jika merujuk pada (QS. Al Mu’min: 35) Yaitu orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.

Ada pertanyaan kritis ingin diajukan disini sesuai dengan Tema kuliah umum. Persoalannya apakah benar ilmu pengetahuan islam telah dan akan mendunia? Berapa persen umat islam telah mengaplikasi dan mengkaji ilmu pengetahuan islam berakhir pada ketaqwaan maupun inovasi? Betulkah ilmu pengetahuan islam selalu sebagai referensi utama? Nyatanya selama ini, akademisi lebih menarik dan percaya diri jika rujukan dipakai adalah teori barat. Tanda-tanda sudah terlihat, baik dalam pribadi sendiri maupun dalam komunal dan seakan-akan teori barat sudah ending (final), pemikiran barat terbaik, nyatanya berapa banyak pemikiran barat tumbang, kontradiksi dengan perkembangan zaman serta tertinggal hanya ilmu pengetahuan dibawah panci Al-Quran serta Sunnah yang dikaji tiada henti. Sabda Rasullah saw: Kamu sekalian akan dikerumuni (dijarah ramai-ramai) oleh umat manusia seperti halnya santapan dikerumuni orang-orang lapar karena kamu semua ibarat buih jumlah banyak tetapi tidak memiliki kualitas.

Betapa banyak kalangan islam sendiri menolak atau meragukan ilmu pengetahuan islam berdalih ijtihad? Jangan-jangan ilmu pengetahuan islam tidak akan berkembang atau stagnan, sebenarnya islam memiliki pondasi keilmuan yang sangat terintergrasi maupun terkoneksi dalam Al-Quran dan Hadist yang bisa dipergunakan berbagai ilmu pengetahuan bahkan tujuannyapun bermuara rahmatan lil alami.  Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang dengannya, yaitu kitabullah (Al-Quran) dan sunnah Rasulllah Saw” (HR. Muslim)

Bayangkan jika pengetahuan islam hilang? Jika seperti itu kapan ilmu pengetahuan islam mendunia? Lalu bagaimana cara ilmu pengetahuan islam mendunia? Saat ini terjadi perang pemikiran antara islam dan barat. Mungkin ilmu pengetahuan islam mendunia ketika Roma ditaklukan, setelah tertakluknya Roma dan kembali berjaya ke masa awal islam (impresium islam) tetapi bukan kenabian karena kenabian telah berakhir namun kembali pada periode “Khilafah ‘ala manhaj Nubuwwah”. “Taklukkan negeri mana saja yang kalian inginkan, karena demi Dzat Abu Hurairah berada ditanganNya, tidaklah kalian menaklukkan salah satu kota hingga hari kiamat, melainkan Allah telah memberikan kunci-kuncinya kepada Muhammad Saw sebelum itu (Abu Hurairah ra.). Maka saat itu lah ilmu pengetahuan islam dipergunakan maksimal maupun dimanfaatkan segala sisi.

Jadi ingat perkataan Abdullah bin Amru bin Ash: “Bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulllah Saw untuk menulis, lalu Rasullah Saw ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, konstantinopel atau roma. Maka Rasulullah saw menjawab “kota Heraklius terlebih dahulu”, yakni konstantinopel”. (HR. Ahmad).  Rasullah kemudian membuat pernyataan berupa visi jangka panjangnya dalam sebuah hadist, “kalian pasti akan membebaskan konstantinopel. Pemimpin yang menaklukannya adalah sebaik-baik pemimpin, dan pasukan yang berada dibawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” Mungkin makna implisit dari hadist tersebut juga berkorelasi, berlaku dengan ilmu pengetahuan islam mendunia!!! Sebaik-baiknya yang mengaplikasi ilmu pengetahuan islam adalah sebaik-baiknya umat islam yang mengaplikasi, mengkaji dan menjadi Al-quran maupun sunnah menjadi rujukan ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu secara pribadi berpendapat inti sari al-quran dan sunnah adalah ilmu pengetahuan yang sangat luas (terintragasi dan terkoneksi ) yaitu  berupa menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri-cirinya. Itu sebabnya dunia islam tidak mengenal benturan antara sains dan agama sebagaimana yang pernah terjadi di Eropa. Kesemuanya dapat dikembalikan kepada hakikat menghimpun (informasi). Jadi mari mempelajari tentang  apa yang terkandung  dalam agama islam, lalu kembangkan dengan  memakai hati nurani karena sesungguhnya apa yang terdapat di dalamnya terdapat semua petunjuk segala ilmu.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: