Selamat, Penulis Calon Penghuni Surga

Selamat, Penulis Calon Penghuni Surga

Selamat, Penulis Calon Penghuni Surga

Acara Halal Bi Halal komunitas Pelanta di salah satu gedung milik swasta dikota Jambi, dihadiri oleh Anggota Pelanta sekitar belasan orang. Terlihat wajah yang hadir adalah mereka-mereka yang berpengalaman dalam kepenulisan, insan yang berkonsentrasi di bidang ilmu pengetahuan dan terpancar dari raut wajah mereka yang menandakan mereka orang-orang yang memiliki posisi strategis ditengah masyarakat karena Pelanta merupakan komunitas dari berbagai profesi, usia, suku dan agama. Tetapi memiliki tujuan sama mencerdaskan atau merubah perabadan dengan tulisan. Meminjam ungkapan Pramoedya AnantaToer “Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.” (Seno Gumira Ajidarma)

Meskipun acara tersebut dihadiri sebagian anggota Pelanta tetap acara tersebut penuh makna, tawa, ide dan kekeluargaan. Diskusi santai adalah salah satu cara memperoleh ide untuk menulis. Benar adanya dari diskusi ringan ada beberapa tema yang akan diuraikan dan inilah kenikmatan bagi mereka yang mencintai penulisan karena setiap  pergantian waktu bisa dijadikan sebagai ide menulis.

Pertemuan tersebut dibumbui keseriusan maupun tawa canda yang mencairkan jiwa untuk memahami tujuan diskusi. Setelah serangkai acara dipaparkan secara satu persatu, tibalah saatnya Pembina Pelanta Jambi memberi motivasi. Perkataan awal yang keluar dari mulut akademisi bahwa “Penulis Calon Penghuni Surga”. Terdiam, tersenyum dan langsung menulis kalimat tersebut di note berwarna hijau yang selalu dibawa kemana-mana. Apakah Quotes tersebut dikutib dari hadist, ayat Al-quran atau kutipan orang terkenal.

Dari penjelasan singkat tersebut, coba mengkonklusi bahwa kalimat indah itu diperoleh dari ayat Al-quran. Dan kalimat tersebut tidak hanya dalam satu kalimat melain ada sambungan, namun lebih tertarik mengkutip kalimat awal diucapkan oleh akademisi. ” Dalam salah satu riwayat, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash berkata, “Dulu aku menulis semua perkara yang aku dengar dari Rasulullah SAW untuk aku hafalkan. Namun, orang-orang Quraisy melarangku dan bertanya, “Kamu menulis semua yang kamu dengar dari Rasulullah SAW. Beliau adalah manusia yang berbicara ketika senang dan ketika marah?” Aku pun berhenti menulis. Lalu,aku menceritakannya kepada Rasulullah SAW. Beliau memberi isyarat ke mulutnya dengan jarinya seraya bersabda, “Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar dari mulutku kecuali kebenaran.”

Ini kabar gembira bagi mereka-mereka yang suka menulis, mereka selalu menginspirasi melalui kata dan beramal melalui kalimat. Apapun alasan bagi mereka menulis, sesungguhnya menulis adalah kegiatan sangat mulia, dipandang ditengah masyarakat dan menulis merupakan cara meraih pahala. Telah terbukti dalam sejarah, kejayaan suatu bangsa, kemajuan suatu kaum ditandai oleh kemampuan membaca dan menelaah yang diikuti dengan kemampuan menulis. Beberapa penulis yang dikenang sepanjang masa Plato, Aristoteles jejak tulisannya ada sampai sekarang. Mereka mengubah dunia juga dengan tulisan misalnya Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Muhammad bin Jarir ath-Thabari ,  Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyah, Ibnu Rusydi (Avero), Ibnu Sina (Avesina), Aljabar, Al-Ghazali adalah penulis zaman kejayaan Islam yang jejak tulisannya abadi sampai sekarang.

Bayangkan saja tulisan mampu menebak jutaan orang, lebih dahsyat dari senjata. Tulisan mampu mengairah pribadi menjadi sosok brilian.  Bahkan dari tulisan pula mengantar pribadi penulis kritis, berpikir, kontemplasi dan mencari solusi karena setiap tulisan yang diutarakan selalu mengandung unsur 5W+1H. 

Walaupun banyak yang mengetehui menulis adalah suatu kegiatan mulia, entah kenapa tidak semua manusia terdorong untuk menulis dan memiliki jiwa untuk menulis. Lebih membudayakan lisan, seperti ungkapan narasumber dalam forum ilmiah Internasional “kenapa susahnya mencari referensi suatu daerah dan kenapa tradisi indonesia kebanyakan ditulis oleh asing” dikarenakan para pendahulu tidak terbiasa mendokumentasi segala hal dalam bentuk tulisan dan mungkin kebiasaan seperti itu masih dilestarikan. Tentu tidak ingin tradisi Indonesia hilang begitu saja tanpa didokumentasi dalam bentuk tulisan. Bahkan diperkuat dengan ungkapan teman pada suatu acara yang mempaparkan bahwa minat nulis Indonesia masih rendah dibanding dengan Malaysia, sedangkan penduduk Indonesia berjuta-juta. Tetapi dari sekian juta penduduk Indonesia hanya segelintir orang tertarik menulis. Padahal menulis bisa dibentuk, diasah dengan terus menulis.

Kemudian akan bertanya lagi? Apakah mereka yang menulis dengan menghujat, menulis dengan tujuan menipu, menulis dengan kata-kata penuh penghinaan dan menulis kebohongan termasuk calon masuk surga? Mungkin bisa dijawab dengan hadist berikut ini “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik atau diam” (HR.Bukhari). “ Yang paling aku takut bagi umatku adalah orang yang munafik yang pandai bersilat  lidah (HR.Abu Ya’la). Selanjutnya diperkuat dengan hadist yang diriwayatkan HR Ad-Dailami “Apabila ada orang yang mencaci-maki tentang apa yang dia ketahui pada dirimu, janganlah kamu mencaci-maki dia tentang apa yang kamu ketahui pada dirinya karena pahalanya untuk kamu dan kecelekaan untuk dia.

Pada akhirnya melalui surat al-’Alaq ayat 1 sampai 5, Allah SWT secara implisit mengatakan: membaca dan menulislah wahai umat Islam, peradaban milik kalian! Pentingnya menulis juga ditegaskan Allah SWT dalam surat al-Qalam ayat pertama, “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tuliskan.” Selamat bagi kalian yang cinta menulis bahkan kita menyadari menulis merupakan tradisi yang melekat dalam Islam.  Setiap kata teruraikan kemudian dimanfaat jutaan orang, mencerahkan pikiran dan mengantar mereka untuk mengenal Tuhannya. Sesungguh sudah Tuhan catat sebagai amal, sebesar dzarah pun akan mendapat balasan dari ALLAH, maka berbuat walau sebesar dzarah akan menjadi bekal, dan kita tidak akan tahu sesungguhnya amal mana yang akan membawa kita kesurga-NYA, Maka menulis adalah sebentuk dzarah kebaikan yang mudah-mudahan akan berbuah surga firdaus. Meskipun surga hanya bisa diperoleh melalui amal-amal sedangkan lahan amal begitu luas termasuk menulis. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal” (QS. Al Kahfi:107)

 

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: