Apakah ana sudah Islam?

Bismillah…

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” (QS. Al Baqarah: 25)

Apakah ana sudah Islam?

Apakah ana sudah Islam?

Setiap hari minggu biasanya disibukkan untuk mengisi acara, mulai mengisi kajian ibu-ibu, coach penulisan dan terkadang ada rapat organisasi. Subhanallah, bisa berbagi, diskusi dan saling tersenyum dengan banyak orang merupakan suatu anugrah sangat luar biasa sebab melalui diskusi akan lahir ide penulisan serta bagian dari sadakoh. Ilmu akan bermanfaat ketika semakin banyak berbagi pada siapapun dan ilmu bermanfaat pula akan membawa manusia pada sebuah posisi nilai tawar baik dihadapan manusia maupun Allah.

Setelah mengisi kajian ibu-ibu langsung menuju secretariat coach writing, meskipun sempat menempuh perjalan yang jauh, kesasar dan akhirnya tanjap gas. Padahal ingin lewat jalan tikus yang ada ketemu jalan tol, ya terima, nikmati aja, toh dapat lagi jalan baru. Sedangkan tujuan lewat jalan tikus agar hemat bensin secara BBM lagi langkah disebabkan pengurangan kuata subsidi dan ingin segara sampai tempat pelatihan. Sesampai sana ternyata acaranya belum dimulai dan terlihat pula ada wajah baru datang. Langsung sapa penuh senyum, genggam tangan yang kokoh dan diiringi salam karena sebagai orang islam harus membiasakan salam dengan wajah ceria.

Semari menunggu yang lain datang, coba berdiskusi dengan segala bidang dan ditinjau dari perseptif islam. Walaupun diawal sempat understeamt dengan orang baru tersebut. Semakin lama berdiskusi semakin menjerumus pada fiqih tasawuf. Walaupun dari face maupun dandan terdiskripsi orang tersebut tidak begitu memahami aturan Islam. Ternyata asumsi itu salah, malah ia lebih vocal membahas islam. Kevokal tersebut terdiam menyimak semari mencatat hal penting. Entah apa membuat kami membahas tentang qodha-qadhar, keikhlasan, zikirullah, dan takdir.  Keasyikan diskusi melupakan waktu, tidak terasa diskusi telah meninak bobo kami untuk bercerita hingga jam 2 sore dan akhirnya coach writing ditiadakan.  Ternyata diskusi tersebut banyak persamaan dengan taujih yang disampaikan pada kajian ibu-ibu tadi pagi hanya saja ilustrasi digunakan sederhana dan diaplikatif dengan realitas.

Melalui diskusi membathin diri. Apakah benar ana sudah islam? Apakah benar sudah mengenal Allah? Jika benar Allah tentu sudah paham mana yang dicintai Allah manapula yang dilarangNya. Apakah amalan yang dilakukan selama ini sudah ikhlas? Jangan amalan diperbuat begitu banyak riak-riak ria. Apakah dalam sholat sudah bisa menghadirkan wajah Rabbi? Apakah sholat sudah menjadi pondasi kehidupan? Apakah syadatan diucapkan setiap sholat benar-benar mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah? Apakah benar sholat dan hidup ku hanya untuk Allah? “Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (QS. Al Kahfi:14). Seberapa banyak zikrullah dilafazkan mulut ini? Apakah benar wudhu sudah bersih? Apakah benar tadwij sudah sesuai dengan makro huruf? Itu baru berkaitan dengan shalat (Vertikal) belum hal lainnya (muamallah) karena aturan islam mengajar manusia untuk keseimbang antara dunia dan akhirat dan sepertinya keislamanan ana belum apa-apa.

Jujur tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut? Bayangkan saja pertanyaan ana sendiri belum bisa dijawabkan! Apalagi pertanyaan dari Allah. Jadi malu sendiri bahwa ana belum mencintai islam secara kaffah? Harus banyak belajar, harus mengakui bahwa kecintaan padaNya belum sempurna dan bisakah mencintai islam secara kaffah? Apakah bisa memahami islam secara kaffah?  Seakan-akan islam melekat dalam diri hanya aksesoris belaka. Jangan-jangan islam ana hanya sebatas ucapan, jangan islam ana sebatas dandanan, jangan ana islam keterunan, dan jangan-jangan ana islam KTP.

Jika kualitas keislaman hanya begitu, layakkah ana untuk mendapat surge? Surga tidak diperoleh begitu gampang dan sepertinya tidak termasuk calon penghuni surge? Diperkuat dengan sebuah hadist “bahwa penghuni surge sebagian besar adalah umat terdahulu dan sebagian kecil umat sekarang? Meskipun surge tidak diperoleh, akan tetap terus berupaya sejalan dengan ungkapan hadist bahwa kalian masuk surge atas kebaikan dan kebarkahaan Allah kepada hambaNya. Meskipun belum sukses menjadi islam secara kaffah. Tapi bersyukur diskusi tadi siang menghadirkan jiwa untuk berkontemplasi begitu deep (dalam), berpikir begitu detail dan mendorong qolbu untuk terus mempelajari islam.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: